Taman Hutan Raya. Pada Pasal 34 UU Nomor 5/1990 dinyatakan penge-lolaan Taman Hutan Raya dilaksanakan oleh Pemerintah. Tahura berfungsi sebagai : (a) kawasan yang dapat dimanfaatkan potensi alamnya untuk koleksi tumbuhan dan/atau satwa baik yang alami atau buatan, jenis asli atau bukan asli, dan wisata alam; (b) sebagai kawasan perlindungan sistem penyangga kehidupan; dan (c) sebagai kawasan pengawetan keragaman jenis tumbuhan, satwa, dan keunikan alam. Di dalam zona pemanfaatan Tahura dapat dibangun sarana kepa-riwisataan berdasarkan rencana pengelolaan. Untuk kegiatan kepakepa-riwisataan dan rekreasi. Pemerintah dapat memberikan hak pengusahaan atas zona pemanfaatan Tahura dengan mengikut sertakan rakyat.
Hutan Lindung. Pengelolaan HL mengacu pada UU Nomor 41 Tahun 1999 dan aturan pelaksana turunannya. Pada Pasal 26 UU Nomor 41 Tahun 1999 dinyatakan pemanfaatan HL dapat berupa pemanfaatan kawasan, pemanfaatan jasa lingkungan, dan pemungutan hasil hutan bukan kayu, melalui pemberian izin usaha pemanfaatan kawasan (kepada perorangan dan koperasi), izin usaha peman-faatan jasa lingkungan (kepada perorangan, koperasi, Badan Usaha Milik Swasta Indonesia, Badan Usaha Milik Negara atau Badan Usaha Milik Daerah) dan izin pemungutan hasil hutan bukan kayu (perorangan dan koperasi). Dalam kawasan hutan lindung diperkenankan adanya kegiatan pemanfaatan tradisionil berupa hasil hutan non-kayu dan jasa lingkungan. Sesuai fungsinya, dalam kawasan HL dapat ditempatkan alat pengukur klimatologi, misalnya penakar hujan dan stasiun pengamat aliran sungai (SPAS) dan dapat dibangun sarana dan prasana pengelolaan, penelitian, dan wisata alam secara terbatas. Namun dalam kawasan HL tidak dapat dilakukan kegiatan yang bersifat merubah bentang alam.
Jika dijumpai adanya kerusakan vegetasi dan penurunan populasi satwa
yang dilindungi undang-undang, dalam hutan lindung dapat dilakukan kegiatan (a) rehabilitasi kawasan dengan jenis tumbuhan yang cocok dengan kondisi dan
tipe tanah; (b) pembinaan habitat dan pembinaan kawasan untuk kepentingan peningkatan fungsi lindung; (c) pengurangan atau penambahan jumlah populasi suatu jenis, baik asli atau bukan asli ke dalam kawasan hutan lindung. Pada Pasal 42 UU Nomor 41/1999 dinyatakan penyelenggaraan rehabilitasi hutan dan lahan diutamakan pelaksanaannya melalui pendekatan partisipatif dalam rangka
ngembangkan potensi dan memberdayakan masyarakat. Peningkatan peran serta masyarakat secara positif, aktif dan saling menguntungkan dalam rangka peningkatan pemanfaatan hutan lindung dititikberatkan pada pengembangan usaha ekonomi masyarakat dengan memanfaatkan potensi yang ada dalam hutan lindung sepanjang tidak mengganggu fungsinya.
Pada Pasal 43 UU Nomor 41Tahun 1999, dinyatakan bahwa setiap orang yang memiliki, mengelola, dan atau memanfaatkan hutan yang kritis atau tidak produktif, wajib melaksanakan rehabilitasi hutan untuk tujuan perlindungan dan konservasi. Dalam pelaksanaan rehabilitasi, setiap orang dapat meminta pendam-pingan, pelayanan dan dukungan kepada LSM, pihak lain atau pemerintah.
Kegiatan perlindungan hutan diatur pada Pasal 48 UU Nomor 41 Tahun 1999, yang menyatakan Pemerintah mengatur perlindungan hutan, baik di dalam maupun di luar kawasan hutan. Perlindungan hutan pada hutan negara dilaksana-kan oleh pemerintah. Perlindungan hutan pada hutan hak dilakudilaksana-kan oleh peme-gang haknya. Untuk menjamin pelaksanaan perlindungan hutan yang optimal, masyarakat diikutsertakan dalam upaya perlindungan hutan.
Keputusan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam Nomor : 129/Kpts/DJ-VI/1996 tentang Pola Pengelolaan Kawasan Suaka Alam, Kawasan Pelestarian Alam, Taman Buru dan Hutan Lindung menyatakan penge-lolaan HL melalui prinsip pendayagunaan potensi HL untuk kegiatan pemanfaatan air, pemuliaan, pengkayaan, dan penangkaran, penyediaan plasma nutfah untuk kegiatan budidaya oleh masyarakat setempat, wisata alam, pembangunan sarana dan prasarana pengelolaan, penelitian dan wisata alam, diupayakan sedemikian rupa agar tidak mengurangi luas dan tidak merubah fungsi kawasan.
Terkait dengan potensi pengembangan PES, maka pemanfaatan jasa lingkungan hutan juga diatur dalam PP Nomor 6 Tahun 2007 tentang Tata Hutan, Rencana Pengelolaan Hutan dan Pemanfaatan Hutan pada Bab IV tentang Pemanfaatan Hutan, yang menyatakan bahwa pemanfaatan hutan bertujuan untuk memperoleh manfaat hasil dan jasa hutan secara optimal, adil, dan lestari bagi kesejahteraan masyarakat, yang dilakukan melalui kegiatan : pemanfaatan kawasan; pemanfaatan jasa lingkungan; pemanfaatan hasil hutan kayu dan bukan kayu; dan pemungutan hasil hutan kayu dan bukan kayu. Pada Pasal 25 (hutan
Lindung) dan Pasal 31 (hutan produksi) dinyatakan bahwa pemanfaatan jasa lingkungan pada hutan lindung dan hutan produksi dilakukan melalui kegiatan usaha : pemanfaatan jasa aliran air; pemanfaatan air; wisata alam; perlindungan keanekaragaman hayati; penyelamatan dan perlindungan lingkungan; atau penyerapan dan/atau penyimpanan karbon. Kegiatan usaha pemanfaatan jasa lingkungan pada hutan lindung/hutan produksi, dilakukan dengan ketentuan tidak mengurangi, mengubah, atau menghilangkan fungsi utamanya; atau tidak mengubah bentang alam; dan tidak merusak keseimbangan unsur-unsur lingkungan. Pemegang izin, dalam melakukan kegiatan usaha pemanfaatan jasa aliran air dan pemanfaatan air pada hutan lindung/hutan produksi, harus membayar kompensasi kepada Pemerintah. Ketentuan lebih lanjut mengenai kegiatan usaha pemanfaatan jasa lingkungan pada hutan lindung/produksi tersebut diatur dengan Peraturan Menteri. Pada bagian penjelasan dikatakan bahwa yang dimaksud dengan "kompensasi" dalam ketentuan ini adalah membayar dengan sejumlah dana atas pemanfaatan air dan jasa aliran air untuk pemeliharaan dan rehabilitasi daerah tangkapan air. Dana kompensasi yang berasal dari pemanfaatan air dan jasa aliran air disetor ke Kas Negara dan diatur sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Termasuk yang diatur dalam peraturan Menteri, antara lain, adalah kriteria, pedoman, tata cara pemanfaatan jasa lingkungan dan pengenaan serta pemungutan dana kompensasi.
Norma-norma Adat Minangkabau dalam Pengelolaan SDA
Adat Minangkabau, sebelum Islam masuk, menjadikan alam sebagai guru, tempat belajar tentang kehidupan. Terdapat fatwa adat yang menegaskan alam sebagai guru bagi orang Minangkabau (Navis 1984), yaitu:
“Panakiak pisau sirauik, ambiak galah batang lintabuang, Salodang ambiak ka
nyiru, Nan satitiak jadikan lauik, Nan sakapa jadikan gunuang, Alam takambang
jadikan guru.” (Penakik pisau seraut, ambil galah batang lintabung, Selodang jadikan nyiru. Yang setitik jadikan laut, yang sekepal jadikan gunung, Alam terkembang jadikan guru).
Oleh karena alam dijadikan guru oleh masyarakat Minangkabau, maka banyak fenomena alam dijadikan sebagai tuntunan kehidupan dalam masyarakat
Minangkabau. Dengan demikian, adat Minangkabau merupakan nilai, norma, simbol dan tuntunan hidup yang dikonstruksikan dari realitas alam. Alam terkembang jadi guru merupakan falsafah hidup yang muncul dari proses belajar pada alam. Sebagai guru bagi yang belajar kepadanya, alam tidak pernah berbohong atau berdusta kepada muridnya. Alam menyampaikan banyak pesan mulia, bijaksana, dan kearifan tentang segala aspek kehidupan, termasuk aspek ekologi atau lingkungan hidup yang terkait erat dengan pengelolaan DAS. Alam menyampaikan pesan hidup damai, harmonis, selaras, seimbang, lestari, saling bekerjasama dan saling menguntungkan di antara sesama makhluk hidup. Pesan yang disampaikan oleh alam tersebut dirangkai dalam untaian kata yang indah jalinannya seperti pada pepatah petitih, pantun, gurindam serta petuah adat.
Adat Minangkabau memberi tuntunan kepada masyarakatnya untuk menge-lola SDA secara lestari tanpa merusak lingkungan untuk mendapatkan manfaat ekonomi bagi kesejahteraan lahir dan bathin12. Ini tertera dalam petuah adat :
Bumi sanang (Bumi senang/menunjukkan lingkungan yang lestari); Padi masak (Padi menguning baik/menunjukkan manfaat ekonomi); Jaguang maupiah (Jagung bernas/mengacu pada manfaat ekonomi); Taranak bakambang biak (Ternak berkembang/ manfaat ekonomi); Bapak sati (Bapak sakti/menunjukkan adanya kepemimpinan); Mande batuah (Ibu bertuah/menunjukkan adanya kepemimpinan);
Mamak disambah urang (Penghulu dihormati dan disegani masyarakat/ menunjukkan adanya kepemimpinan);
Kamanakan dipinang urang pulo (Anak kemenakan dipinang orang pu-la/menunjukkan adanya masyarakat yang berkualitas);
Nagari aman santoso (Nagari aman sentosa/menunjukkan adanya kamtib-mas/sadar hukum)
Para pemangku adat (Ninik Mamak ampek jinih dan jinih nan ampek di bawah payung Kerapatan Adat Nagari) bertanggung jawab untuk mewujudkan petuah
12
Wawancara dengan Dr. Yuzirwan Rasyid Datuak Gajah Nan Tongga, Ketua IV Lembaga Kera-patan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumatera Barat
adat ini dalam kehidupan nagari secara berkelanjutan bersama-sama dengan pe-merintah.
Bila dicermati lebih lanjut, pada aspek ekologi atau pengelolaan SDA, khususnya pengelolaan lahan / tanah, hutan dan air, ternyata tuntunan adat Minangkabau tersebut terbukti sangat berkesesuaian dengan teori-teori ilmiah dalam pengelolaan SDA yang berkelanjutan, yang banyak dibicarakan saat ini. Bahkan konsep-konsep adat ini terbukti lebih adaptif bagi masyarakat lokal, karena sistem pengetahuan yang dimiliki masyarakat lokal bersumber dari pengetahuan-pengetahuan lokal yang diperoleh dari interaksi mereka dengan lingkungannya yang membentuk sistem pengetahuan tersebut, sebagai hasil pengalaman dari generasi ke generasi, diwariskan secara turun temurun dan ber-kembang secara dinamis bersama interaksi dari dunia luar.
Secara umum, norma-norma adat yang berlaku pada masyarakat Nagari Koto Tangah, Limau Manih dan Lubuk Kilangan, khususnya dalam pengelolaan SDA (lahan, hutan dan air), dapat dikatakan sama karena masih satu rumpun. Dari hasil wawancara dengan Narasumber (Ketua KAN dan Niniak Mamak pada ke tiga Nagari), sejak zaman nenek moyang, masyarakat pada nagari-nagari tersebut telah memiliki kearifan dalam mengelola SDA lahan, hutan, dan air. Kearifan-kearifan tersebut jika diuji secara ilmiah ternyata telah terkandung di dalamnya kaidah-kaidah konservasi dan pelestarian SDA, sekaligus tidak mengabaikan fungsi SDA itu sendiri sebagai sumber kehidupan bagi masyarakat yang mengelolanya. Kearifan lokal telah menuntun masyarakat untuk mengambil manfaat dari SDA tanpa merusak kelestarian dan keseimbangan ekologisnya.
Berikut ini beberapa potensi kearifan lokal yang dapat diungkap dari hasil wawancara dengan para Narasumber dan barangkali bisa direvitalisasi untuk menyempurnakan tatanan hidup bernagari dalam konteks kekinian sehingga bisa mendukung pengelolaan DAS, khususnya pengelolaan lahan, hutan dan air.