• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VII PENUTUP

Foto 9 Tanaman Obat-Obatan Yang Akan diminum Pasien

Tanaman obat-obatan yang akan diminum pasien.

Sumber : Dokumen pribadi 2016

Dalam melakukan pengobatnnya, akar pinang dan pisang sirias dicuci bersih agar tidak ada tanah-tanah dan getah dari kulit bisang yang nantiknya akna terminum oleh pasien, setelah itu kedua bahan ini dipotong-potong panjang, selanjutnya dalam memasak obat jumlah dari akar pinang dan juga pisang sirias tidak diperboleh kan genap selalu ganjil seperti 3, 5, 7. Semua badan tadi dicampur dalam satu tempat dan ditambah dengan air dan dimasak bersama-sama. Banyaknya air tidak menjadi masalah ketika memasak obat, asalkan setiap harinya obat yang dimasak selalu habis dan untuk rasa dari semua bahan obat, boleh ditambahkan pasien sedikit garam agar minuman memiliki rasa. Tetapi, jika pasien juga tidak mau menambahkannya tidak menjadi masalah dalam minuman obat yang diresepkan oleh roh opung. Minuman yang dibuat ini harus dikonsumsi selama seminggu dan harus diminum 3x sehari dan jika tidak ada perubahan yang berarti menurut si pasien, pasien dapat datang minggu depan.

Dari banyaknya pasien yang datang dan pulang hari, ada beberapa pasien yang tidak lagi datang selama waktu seminggu seperti yang disyaratkan oleh roh opung, tetapi tidak semua pasien yang seperti itu, ada beberapa pasien yang kembali datang kembali untuk berobat dan meminta obat tambahan kepada Inang Hotang karena menurut pasien penyakit yang dirasakannya mengalami perubahan, sehingga ia datang kembali untuk berobat.

Peneliti menyimpulkan bahwa pasien yang tidak datang lagi berarti mengalami kesembuhan penyakit yang menjadi keluhannya, meskipun ada beberapa pasien yang datang kembali karena penyakit yang menjadi keluhan pasien menurutnya mengalami sedikit perubahan dan meminta obat lanjutan agar penyakit pasien sembuh total. Biasanya jika pasien yang datang dua sampai tiga kali pangobati akan memberikan obat melalui makanan.

4.6.3 Obat Yang Dimakan (Si Panganon)

Dalam melakukan pengobatannya ada beberapa pasien yang ketika sembuh memerlukan tambahan obat selain obat yang diminum. Biasanya tambahan obat yang diberikan Inang Hotang kepada pasien adalah jenis makanan. Makanan yang harus dimakan pasien ketika berobat biasanya berupa ayam. Ayam yang dimaksudkan oleh roh opung adalah ayam kampung yang memiliki 23taji. Makanan ini wajib dikonsumsi pasien dan seluruh anggota keluarga secara bersama-sama selama seminggu sekali. Taji ayam biasanya terdapat pada kaki

ayam jantan, taji melambangkan kekuatan dari ayam tersebut dan roh opung memiliki kekuatan seperti taji yang sangat keras pada kaki ayam. Sehingga, ketika pasien dan keluarganya memakan ayam yang memiliki taji pasien akan kuat seperti ayam tersebut, kekuatan sehat sudah diberikan roh opung atau leluhur ke dalam makanan yang pasien makan sehingga pasien diharapkan tidak lagi mengalami sakit penyakit seperti yang dialaminya saat ini. Tujuan seluruh anggota memakan ayam bertaji seperti yang disyaratkan di awal secara bersama- sama agar seluruh anggota keluarga pasien sehat secara bersamaan dan diharapkan tidak lagi mengalami sakit seperti yang diderita oleh pasien. Ayam ini dimakan pasien dan keluarga cukup selama sebulan dengan waktu seminggu sekali.Jika dirasa pengobatan yang dilakukan oleh roh opung sudah batas maksimal, apalagi pemberian obat melalui makanan biasanya adalah tahap pemberian obat terakhir yang setiap harinya pasien selalu sembuh tetapi dengan pasien yang berbeda tidak sembuh berarti pengobatan yang dilakukan tidak sesuai dengan si pasien atau tidak cocok dan Inang Hotang tidak dapat melakukan apa- apa. Menurut Inang Hotang, mereka hanya berupaya sekuat tenaga untuk menolong orang yang sakit. Hanya, apakah pasien itu dapat di sembuhkan, itu semua tergantung kuasa Tuhan. Inang Hotang juga selalu mengingatkan kepada pasien bahwa, yang mengobati mereka adalah Tuhan, artinya, kesembuhan hanya dapat terjadi apabila ada keyakinan atau iman yang kuat dari diri pasien bahwa Tuhan akan menyembuhkan dan pabila tidak ada keyakinan, penyembuhan akan sulit terjadi, karena menunjukan tidak adanya keyakinan akan kuasa Tuhan.

4.7 Pantangan

Pantangan atau Tabu adalah suatu pelarangan sosial yang kuat terhadap kata, benda, tindakan, atau orang yang dianggap tidak diinginkan oleh suatu kelompok, budaya, atau masyarakat. Kata “tabu” (taboo) diambil dari bahasa Tongan, merupakan rumpun bahasa Polynesia yang diperkenalkan oleh Captain James Cook kemudian masuk ke dalam bahasa Inggris dan bahasa-bahasa Eropa lainnya yang artinya tindakan yang dilarang atau dihindari. Istilah “tabu” dapat dibagi menjadi dua dilihat dari efek yang ditimbulkannya yaitu tabu positif, karena yang dilarang itu memberi efek kekuatan yang membahayakan dan tabu negatif, disebabkan larangan tersebut dapat memberikan kekuatan yang mencemarkan atau merusak kekuatan hidup seseorang (Harimurti, 1983 : 233). Sejalan dengan itu pantangan mempunyai sifat sakral atau keramat, hal tersebut tidak boleh dihadapi dengan secara sembarangan, karena hal yang keramat itu kalau tidak dihadapi dengan hati-hati, mungkin menimbulkan bahaya, orang yang berhadapan dengan hal-hal keramat harus mengindahkan berbagai macam larangan dan pantangan atau dalam bahasa asing mengindahkan aturan-aturan tabu (Koentjaraningrat, 1985 : 249).

Dalam pengobatan, pantangan merupakan hal yang sering terjadi, bukan hanya terjadi dalam pengobatan non medis tetapi sering juga terjadi dalam pengobatan medis. Pantangan dalam penyembuhan penyakit pasien menjadi bagian yang tidak luput dari pengobatan, seperti halnya pengobatan yang dilakukan oleh orang Sakai di Riau yang merupakan masyarakat terasing dalam

masyarakat Indonesia, dalam melakukan pengobatan yang sering dinamakan orang Sakai “mematikan obat” juga memiliki pantangan dan akibat yang terjadi bila pantangan dilanggar sewaktu berobat. Pengobatan orang Sakai memiliki pantangan seperti, selama tiga hari lamanya anggota-anggota keluarga tidak boleh bertengkar diantara sesama mereka maupun dengan orang lain. Selama masa itu juga mereka tidak boleh memecahkan sesuatu alat rumah tangga pun, kalau pantangan itu dilanggar maka penyakit si sakit akan berlipat ganda (Parsudi Suparlan, 1993 : 206)

Cara pengobatan yang diterapkan Inang Hotang, melalui penelitian ini sama hal nya seperti yang dikatakan oleh para ahli diatas. Penerapan dalam pemberian obat kepada pasien yang diobati Inang Hotang mengenal pantangan atau larangan yang dilakukan selama masa pengobatan. Pantangan yang diterapkan dalam pengobatan ini menurut peneliti adalah hal yang tidak terlalu sulit dilakukan oleh setiap pasien yang berobat.

“Alai molo mangalang obatton adong do pantanganna, pantanganna dang boi mangalang jagal babi dohot jagal biang. I ma si ingoton mu. Pangobation dang boi mangalang jagal alana opung marsubang do tujagal sian najolo” (Inang Hotang, 54 tahun)”.

Pantangan dalam pengobatan Inang Hotang, termasuk pantangan yang cukup terbilang yang sederhana. Setiap pasien hanya memiliki pantangan untuk tidak memakan daging babi dan anjing selama masa pengobatannyaberlangsung atau pasien merasa keadaannya sudah baik atau penyakit sudah ditakan sembuh. Hal itu harus diingat dan dilakukan oleh pasien. Pelarangan dalam memakan daging tersebut terjadi, karena roh yang masuk ke dalam tubuh tidak memakan

daging yang dipantangkan tersebut sejak dahulu. Begitu juga dengan penghuni rumah keluarga Inang Hotang, mereka sekeluarga ikut melaksakanakan pantangan untuk tidak memakan daging tersebut karena adanya larangan dari roh leluhur yang menyebabkan mereka semua menjadi 24parsubang semenjak Inang Hotang mampu mengobati orang lain.

“Ia Nang, kami semua juga mana ada lagi makan daging kek danging babi dan anjing yang dilarang opung itu semenjang Inaguda bisa mengobati orang. Pokoknya kalau di rumah ini harus bersih dari makan daging kek gitu, makanya pasien juga sama pantangannya. Alasannya ya itu lah Nang, roh opung-opung kami terdahulu gadak yang makan daging itu” (Inang Hotang, 54 tahun).

Menurut Inang Hotang, larangan terhadap keluarganya ikut berlaku sebab, mereka merupakan keturunan dari roh tersebut dan roh opung yang merupakan leluhur keluarganya terdahulu, masuk ke dalam tubuh Inang Hotang tidak memakan daging tersebut sebelumnya.

“Kami ga boleh makan daging-daging itu kan Nang, karena ada sejarahnya itu. Daging babi gak boleh kami makan karena dulu daging babi itu gakjadi binatang peliharan opung-opung kami, babi ini kan hidupnya liar dulu di hutan-hutan, makannya bebas gatau apa ajah yang dimakan, jadi karena gak termasuk binatang peliharaan, babi enggak termasuk binatang yang disayang dan dimakan orang itu. Jadi, kalau dulu-dulunya, kalomarpesta, orang dulu makannya pakai 25sigagat duhut. Beda lagi dengan anjing, anjing jadi makanan yang tidak boleh dimakan, karena dulu anjing merupakan hewan peliharaan dan juga hewan kesayangan para raja-raja dulu. Anjingkandulu binatang yang dikutkan raja-raja batak ketika hendak berperang. Makanya, karena ikut pdalam kegiatan perang raja anjing itu binatang kesayangan raja dan tidak boleh dimakan” (Pak Sitinjak, 56 tahun).

Selama masa pengobatan Inang Hotang dan keluarganya belum pernah melanggar pantangan dari roh opung, sebab mereka takut menimbulkan kemarahan bagi roh opung.

24

Parsubang atau subag adalah haram, pantang, terlarang atau tidak boleh dikonsumsi.

Yalah Nang, belumpernah juga sejak bisa mengobati kami makan daging itu lagi, takut kami marah opung ini. Orang-orang yang diobati juga dilarang kok makan daging itu dan sejauh ini juga belum ada yang langgar selama masa pengobatan yang dilakukan pasien, ketika berobat opung juga tau kok mana yang langgar mana yang enggak namanya juga pangobati, jadi sejauh ini belum ada yang gak dengar perintah opung” (Inang Hotang, 54 tahun dan Pak Sitinjak 56 tahun)

Setiap pasien yang berobat harus mengikuti setiap persyaratan dalam pantangan dan jika pasien tidak mengikuti, pengobatan penyembuhan penyakit akan sulit untuk dilakukan lagi dan memungkinkan proses penyembuhan membutuhkan waktu yang lama dan bisa saja proses pengobatan tidak dapat lagi dilanjutkan.

“Namanya juga pantangan Nang, pasti ada akibatnya, ya mungkin ajah pengobatan jadi lama sembuh dan bisa ajah pengobatan diberentikan opung karena opung gamau mengobati lagi karena pasiennya bandal. Tapi sampai hari ini belum ada sih Nang opung marah kepasien karena hal itu, berantikan pasien dengar nasehat opung” (Inang Hotang, 54 tahun dan Pak Sitinjak 56 tahun).

4.8 Ucapan Terimakasih/Hamauliateon

Dalam pengobatannya, Inang Hotang tidak pernah mematok tarif khusus dalam mengobati orang lain. Meskipun begitu, ada kebiasaan pasien untuk selalu memberikan uang atau hadiah-hadiah seperti beras, sarung, pakaian, dan lain-lain kepada beliau sebagai bentuk tanda balas jasa karena pangobati telah mau memeriksa dan menyembuhkan penyakitnya.

“Ya gak mungkin lah dek kita gak kasih tanda makasih sama Inang itu orang penyakit kita udah dilihatnya dan disembuhkan, masak kita gak mau bayar, ya walaupun Inang itu gak minta langsung tapi kita mestinya tau bersikap, apa bedanya kalau berobat kerumah sakit? Sama juganya dokter itu kita bayar, bahkan sering dengan jumlah yang sangat mahal, ini tengoklah seikhlas hati kita kok, gadak tuntutan rupiahnya, jadi ya kita

buat ajah kedalam dengan seikhlasnya sebagai tanda terimakasih kita” (Pak Sabar, 63 tahun)”.

Pengobatan yang dilakukan oleh Inang Hotang, dalam memanggil roh tidak pernah gagal. Roh opung atau leluhur yang beliau panggil, ketika melakukan doa pemanggilan roh selalu datang dan masuk ketubuh beliau setiap dipanggil. Didalam melakukan pengobatan, gagal atau tidaknya pengobatan yang dilakukan oleh Inang Hotang menurut beliau itu semua kehendak dari Tuhan. Tidak berhasilnya menyembuhkan penyakit seseorang, meskipun penyakit yang dialami orang pasien pernah dialami orang lain atau pasien lain yang berhasil disembuhkan semua kerena kehendak Tuhan.

“Mana bisa kita lawan Nang kuasa Tuhan, gimana pun ceritanya tetap dianya yang menentukan. Opung itukan perantara Tuhan nya itu dan aku juga perantara dari mereka jadi semua terserah yang di Atas sana”(Inang Hotang, 54 tahun).

Biasanya, setiap pasien yang datang berobat tidak pernah absen dalam meletakkan uang sebagai tanda terimakasih kepada sang pangobati yang dianggap sudah selesai membantunya. Ucapan terimakasih atau hamauliateon yang diberikan oleh pasien biasanya tidak langsung diberikan kepada pangobati, melainkan ada tempat khusus berupa 26tandok yang sudah disediakan oleh Inang Hotang dan suaminya untuk setiap hamauliateon dari pasien. Tandok ini diletakkan di dekat pintu ruang kamar pengobatan, sehingga memudahkan pasien ketika keluar atau sudah selesai berobatdan mereka dapat meletakkkan Hamuuliateon di tandok tersebut dengan mudah.

Dokumen terkait