Muhammad Syahidul Mubarok
pukul 19.00 tanggal 30 september 2014)
Adegan pada episode diatas menunjukan aktifi tas antara
Nayla dan Sissy. Namun, dialog dalam adegan ini Sissy berkata saat berbicara menggunakan bahasa isyarat KEMAL dengan arti “kepo maksimal” dan menggunakan suara dengan nada oktaf
yang tinggi bilang “OMG hellow” untuk menyindir Nayla dengan ekspresi yang menggambarkan disini bahwa Sissy merendahkan Nayla. Dalam adegan Ganteng-ganteng Serigala ini sudah jelas melanggar regulasi dari Komisi Penyiaran Indonesia pada Standar Program Siaran pasal 37 ayat 4 huruf (a) yang berbunyi, menetapkan muatan yang mendorong remaja belajar tentang prilaku yang tidak pantas dan/atau membenarkan prilaku yang tidak pantas tersebut sebagai hal yang lumrah dalam kehidupan sehari-hari. Pedoman Perilaku Penyiaran bab XIII pasal 17 ayat 2 yang berbunyi Lembaga penyiaran tidak boleh menyajikan program yang menertawakan, merendahkan, dan/atau menghina orang lain dan/atau kelompok masyarakat. Dan Standar Program Siaran bab XIII bagian kedua pasal 24 ayat 1 yang berbunyi Program siaran dilarang menampilkan ungkapan kasar dan makian, baik secara verbal maupun non verbal, yang mempunyai kecenderungan menghina atau merendahkan martabat manusia, memiliki makna jorok, mesum, cabul,dan atau menhina agama Tuhan dan agama.
(Gambar 4.19 dan gambar 4.20 Adegan yang sangat jelas menunjukan unsur kekerasan, yang tayang pada Episode 134 pukul 19.00 tanggal
28 Agustus 2014)
Adegan pertarungan antara bangsa vampir dan bangsa serigala, dalam adegan ini terlihat sangat jelas ada gerakan menonjok dan menendang dalam pertarungan antara bangsa vampire dan bangsa serigala. Identitas yang ditunjukan dalam
adegan ini bahwa diantara bangsa vampire dan bangsa serigala mereka saling menunjukan bahwa bangsa mereka yang menang berarti yang kuat. Adegan ini dapat menimbulkan efek yang sangat buruk kepada masyarakat, karena adegan tendang dan pukulan yang dicontohkan sinetron Ganteng-ganteng Serigala ini dapat sangat rentan dicontoh oleh anak-anak dan bisa merusak moral norma kehidupan sosial.
Adegan Ganteng-ganteng Serigala ini melangar P3 dan SPS Komisi Penyiaran Indonesia seperti Pedoman Perilaku Penyiaran bab pasal 17 yang berbunyi lembaga penyiaran wajib tunduk pada ketentuan pelarangan dan atau pembatasan program siaran bermuatan kekerasan dan Standar Program Siaran bab XIII bagian kedua pasal 24 ayat 1 yang berbunyi program siaran dilarang menampilkan ungkapan kasar dan makian, baik secara verbal maupun non verbal, yang mempunyai kecenderungan menghina atau merendahkan martabat manusia, memiliki makna jorok, mesum, cabul,dan atau menghina agama Tuhan dan agama. Serta melanggar Standar Program Siaran pasal 37 ayat 4 huruf (a) yang berbunyi, Menetapkan muatan yang mendorong remaja belajar tentang prilaku yang tidak pantas dan/atau membenarkan prilaku yang tidak pantas tersebut sebagai hal yang lumrah dalam kehidupan sehari-hari.
(Gambar 4.21 Adegan kemesraan Digo dan Sissy yang tayang pada Episode 134 pukul 19.00 tanggal 28 Agustus 2014)
Adegan diatas menunjukan aktifi tas sepasang kekasih
yaitu Digo dan Sisy yang berpelukan dan bertapapan bahkan menunjukan adegan ciuman, sehingga dalam adagean ini juga dapat disimpulkan bahwa mengandung unsur yang sangat tidak edukatif. Sehingga, beberapa pelanggaran yang ada dalam adegan ini terdapat pada Standar Program Siaran pasal 37 ayat 4 huruf (a) yang berbunyi, menetapkan muatan yang mendorong remaja belajar tentang prilaku yang tidak pantas dan/atau membenarkan prilaku yang tidak pantas tersebut sebagai hal yang lumrah dalam kehidupan sehari-hari dan pada peraturan KPI tentang Standar Program Siaran bab XII pasal 28 point b dan k adalah program siaran yang memuat adegan seksual dilarang menampilkan adegan yang menggambarkan aktifi tas seks atau persenggamaan
dan mengesankan ciuman bibir.
Mendidik atau Membodohi ?
Dari beberapa contoh adegan diatas dapat disimpulkan bahwa stasiun televisi dan rumah produksi berlomba-lomba menaikkan
rating sinetron guna meraup keuntungan yang sebesar-besarnya, tanpa memperhatikan kualitas tayangan dan konten tayangan.
(Infografi s 4.5. Kekerasan Verbal dan Non verbal sinetron Ganteng-
Penjelasan di atas secara jelas menggambarkan jumlah unsur kekerasan verbal dan kekerasan non verbal seperti mengancam, berantem dan adu mulut di sinetron Ganteng-ganteng Serigala dalam beberapa episode. Dari gambar itu pula dapat dianalogikan, dalam beberapa episode saja sudah banyak mengandung unsur- unsur yang dapat berpengaruh buruk terhadap masyarakat, terutama anak-anak. Media televisi bisa diartikan berperan sebagai pemberi efek yang sangat besar kepada masyarakat khalayak. Dalam proses komunikasi massa, model jarum suntik atau
Hypodermic Needle Model menjelaskan efek dari tayangan televisi kepada media massa.
(Bagan 4.1 Proses Model Jarum Suntik)
Aspek-aspek yang menarik dalam Hypodermic Needle Model
(Model Jarum Suntik) media massa memiliki kekuatan yang luar biasa, sanggup meninjeksikan secara mendalam ide-ide kedalam benak orang yang tak berdaya dan Mass audience dianggap seperti atom-atom yang terpisah satu sama lain, tidak saling berhubungan, dan hanya berhubungan dengan media massa. Media massa dipandang sebagai jarum suntik raksasa yang mampu merobohkan
mass audience yang pasif dan tidak berdaya (Wiryanto, 2004 : 82). Dari model di atas bisa diartikan betapa media televisi sangat berperan sebagai wadah suntikan, konten dan unsur dalam sinetron ganteng-ganteng serigala yang dapat berdampak buruk bagi masyarakat. Sehingga, dari model ini kita dapat ketahui bahwa media memiliki kekuatan yang sangat perkasa dan komunikan dianggap pasif dan tidak tahu apa-apa. Di sisi lain, masyarakat juga merasa terpuaskan dengan tayangan yang disuguhkan, tanpa memikirkan sebab akibat yang ditimbulkan dari tayangan- tayangan tersebut. Sehingga, bisa dilihat kini perdebatan mengenai dampak televisi pada anak-anak, permasalahan budaya, dunia politik, dan masyarakat menjadi semakin banyak, dan meluas.