• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

D. Pembahasan

4. Tanggung Jawab Keluarga Katolik terhadap Pendidikan

Hal yang paling utama dalam keluarga Kudus adalah pendidikan kerohanian, doa bersama, melakukan kewajiban agama. Hal itulah yang mondorong Yusuf dan Maria untuk mengajak Yesus ke Yerusalem pada hari raya paskah. Hidup Yesus sendiri dibaktikan bagi pelayanan kepada kehendak Bapa yaitu pewartaan kerajaan Allah. Pewartaan Injil-Nya terungkap nyata dalam pelayanan kepada sesama manusia, terutama bagi yang miskin dan tersingkir dari masyarakat. Dikatakan bahwa “Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan dan menurut kebiasaan-Nya pada hari sabat Ia masuk ke rumah-rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab (Komisi Kerasulan Kitab Suci KAS 2016:15).

Sementara pendidikan tidak terbatas pada pendidikan formal di sekolah tetapi dapat juga dalam bentuk didikan dari orangtua sebagaimana dalam (Ams., 13:1) bahwa “anak yang bijak mendengarkan didikan ayahnya (KGK Art.2216). Oleh karena itu, kewajiban orangtua adalah mengupayakan pendidikan anak karena hal itu adalah begitu penting sehingga sulit untuk digantikan (GE 3). Hak maupun kewajiban orangtua mendidik anak bersifat kakiki (KGK Art.2221). Orangtua adalah orang-orang pertama yang bertanggungjawab atas pendidikan anak-anaknya. Bapa suci Yohanes Paulus II berkata, keluarga merupakan tempat pertama panggilan kristiani dinyatakan. Keluarga adalah tempat partisipasi orang tua dalam misi imamat Kristus sendiri dinyatakan dalam derajatnya yang paling tinggi (Eminyan, 2001:236). Di samping itu, keluarga Katolik merupakan

lingkungan pendidikan primer bagi setiap orang Kristiani, di mana anak memperoleh dasar-dasar keterampilan (sensomotorik), dasar-dasar kecerdasan (bahasa, alam pikiran) dan dasar-dasar nilai hidup (agama, adat, tata kelakuan). Keluarga memberikan penghiburan, perlindungan serta pertolongan. Penghiburan setelah pulang dari sekolah atau pekerjaan. Perlindungan dan keamanan terhadap ancaman dari luar (Hommes, 2009:137).

Dari hasil penelitian di Lingkungan St. Yohanes Kentungan umumnya para informan mengatakan, ‘...pendidikan dan kemajuan iman anak merupakan hal yang penting. Oleh sebab itu, mengembangkan iman anak telah dimulai sejak TK dan SD dengan cara mendorong anak-anak untuk mengikuti sekolah minggu, mendampingi secara langsung saat belajar. Selain itu, perhatian pada pendidikan anak di usia dini dan pendampingan dalam pengembangan iman juga dilakukan dengan cara membiasakan mereka untuk berdoa bersama, ke gereja bersama, aktif dalam doa lingkungan. Semua yang dilakukan pada informan bertujuan agar anak-anaknya dapat sekolah dan sukses serta menjadi orang yang bertakwa pada Tuhan’. Hal ini diperkuat lagi melalui uji validitas dengan meminta pendapat beberapa informan lain, ‘...meskipun anak-anak kami masih kecil tetapi sejak dini sudah ditanamkan nilai-nilai Kristiani. Kami selalu melatih anak-anak untuk mengikuti perayaan misa di gereja’.

Dari hasil penelitian, ada hal unik yang diperoleh dari informan yang merupakan keluarga sederhana di lingkungan itu. Berangkat dari persoalan keterbatasan ekonomi, maka anak-anak dari keluarga ini disekolahkan di sekolah negeri yang terdekat dengan pertimbangan biaya yang lebih murah. Ia

mengatakan, ‘....anak kami disekolahkan di SD Negeri karena lebih murah. Di sekolah itu semua siswa beragama Islam. Namun anak kami sangat berani untuk memimpin doa secara Katolik ketika diberi kesempatan oleh guru. Hal ini sudah ditanamkan oleh keluarga sejak dini semangat dan hidup iman dengan melatih berdoa, membacakan cerita-cerita orang kudus, mengajak berdoa bersama dan mengajak ke Gereja’.

Pengalaman hidup para informan di atas setidaknya selaras dengan pernyataan Paus Paulus II di atas yang bermakna bahwa pendidikan merupakan hal krusial bagi anak-anak di jaman modern ini. Pendidikan tidak semata-mata berhubungan dengan kehadiran anak di lembaga sekolah tetapi mulai dari rumah bersama orangtua dan seisi keluarga. Hal ini memungkinkan seorang anak bertumbuh menjadi pribadi yang unggul, yang diharapkan menjadi orang yang mampu untuk berinteraksi dengan lingkungan secara baik di kemudian hari, termasuk dalam urusan dengan membangun hidup yang mandiri penuh iman kepada Allah. Dengan kata lain, setiap orang berhak untuk mendapatkan pendidikan guna mencapai eksistensinya sebagai manusia yang mandiri dan dapat menyumbangkan pikiran maupun karya nyata kepada kemajuan masyarakat ataupun gereja.

Sementara tantangan bagi keluarga Katolik di Lingkungan St. Yohanes Kentungan dalam mengembangkan iman anak muncul setelah anak-anak mulai sekolah SMP sampai kuliah. Berdoa atau makan bersama semakin sulit bagi orangtua untuk diwujudkan karena anak-anak semakin sulit diatur. Kemudian pergaulan dengan teman-teman di sekitar lingkungan juga menjadi faktor yang

menghambat upaya orangtua untuk menghidupkan kembali tradisi doa sebagaimana diajarkan oleh keluarga Kudus Nasaret.

Dari hasil pembahasan pada bagian ini dapat dipahami bahwa pada umumnya keluarga Katolik di Lingkungan St. Yohanes Kentungan memiliki kesadaran akan pentingnya pendidikan dan perkembangan iman anak. Hal ini kemudian diimplementasikan melalui tindakan nyata, yakni mendorong dan mendampingi anak-anak untuk sekolah dan mengikuti kegiatan rohani di gereja. Khusus untuk keluarga yang memiliki penghasilan yang cukup, cenderung memilih sekolah favorit bagi anaknya. Sementara keluarga yang tidak memiliki penghasilan yang besar lebih memilih sekolah yang murah. Dari hasil pengamatan sepintas penulis bahwa ada sebagian keluarga di Lingkungan St. Yohanes Kentungan menjadikan pilihan sekolah kepada anak sebagai indikator keberhasilan keluarga dalam membangun rumah tangga. Bahkan ada keluarga yang cenderung memilih sekolah anaknya pada lembaga yang terkenal dengan asumsi bahwa lembaga tersebut akan membantu perkembangan anak menjadi lebih cepat, khususnya dalam berinteraksi dengan lingkungan. Namun demikian, dalam konteks spiritualitas keluarga Kudus bahwa perhatian para orangtua sudah selaras dengan apa yang dilakukan Santu Yosef dan Maria di Nasaret, yang mana telah mendidik dan mendampingi Yesus selama masa kecil hingga remaja. Hal ini menandakan bahwa semangat keluarga Kudus, terutama dalam hubungannya dengan pengembangan pendidikan dan iman anak sudah dihayati hampir semua keluarga di lingkungan tersebut.

Selain hal posistif, keluarga Katolik di Lingkungan St. Yohanes Kentungan tidak jarang dihadapkan dengan tantangan yang membutuhkan kesabaran dan penyerahan kepada kehendak Allah. Di satu sisi, para orangtua menginginkan anak-anak harus sukses. Namun di sisi lain, anak-anak sendiri lebih memilih untuk tidak sekolah karena sibuk dengan pekerjaan lain yang dianggapnya lebih sesuai dengan minatnya. Salah satu pengalaman menarik dari salah satu informan yang adalah seorang pensiunan salah satu Perguruan Tinggi Swasta terkenal di Jogja, justru mengeluh bahwa ada sebagian anaknya tidak mau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi karena pengaruh pergaulan dengan teman yang kebanyakan adalah remaja putus sekolah. Meski demikian, hampir semua keluarga Katolik di Lingkungan St. Yohanes memiliki kesadaran untuk menyekolahkan anak dan mengupayakan pengembangan iman anak. Bahkan bagi mereka bahwa pendidikan dan perkembangan iman anak merupakan bagian penting yang harus dipenuhi setiap keluarga Katolik, terutama dalam mempersiapkan generasi muda menjadi generasi yang berkualitas dan berguna bagi bangsa dan gereja.

5. Komunikasi Keluarga Katolik dengan Sesama Anggota Keluarga dan

Dokumen terkait