• Tidak ada hasil yang ditemukan

TANTANGAN BESAR BERNAMA

Dalam dokumen Edisi Desember Edit_OK.indd 1 12/01/ :52:01 (Halaman 52-55)

“PEMELIHARAAN” (baca : MAINTENANCE)

Oleh :

Kolonel Kav Eko Susetyo (Aslog Kasdam IX/Udayana)

multi laras (MLRS) Avibras, meriam 155 mm Caesar dan helikopter serang Fennex serta kemungkinan helikopter

Apache dan Blackhawk yang negosiasi pembeliannya

masih terus berlangsung.

Dari sudut pandang pengadaan (procurement), tentu hal ini merupakan keberhasilan tersendiri. Sudah cukup lama TNI AD tidak mendapatkan program peremajaan Alutsista dalam jumlah besar. Demikian juga dengan metode pengadaan yang sedang dilaksanakan dengan seminimal mungkin menggunakan jasa rekanan untuk efisiensi anggaran.

Sebagai lanjutan dari siklus logistik militer, keberhasilan dalam fase pengadaan tersebut, harus diikuti juga dengan keberhasilan dalam fase penggudangan (penyimpanan), fase distribusi dan fase penggunaan Alutsista di satuan, sebelum akhirnya memasuki fase penghapusan (disposition). Dari semua fase tersebut, fase penggunaan di satuan merupakan fase yang sangat penting dimana dalam fase tersebut terdapat elemen kegiatan pemeliharaan (maintenance). Alutsista modern yang akan melengkapi kemampuan

(capability) TNI AD kedepan tidak bisa dipelihara dengan

cara amatiran. Diperlukan langkah-langkah terobosan dalam pelaksanaan pemeliharaan materiil agar materiil tersebut mampu mempertahankan performa puncaknya dalam durasi waktu selama mungkin. Tulisan ini akan menjelaskan minimal 2 langkah penting dalam aspek pemeliharaan guna mewujudkan kesiapan materiil TNI AD.

PEMELIHARAAN DI TNI AD.

Pemeliharaan materiil merupakan salah satu kegiatan untuk menjamin/menjaga kesiapan tempur yang dimiliki oleh suatu sistem senjata. Dari perspektif anggaran, pemeliharaan dapat diartikan sebagai kegiatan penting untuk mengamankan belanja modal (investasi) yang telah dikeluarkan dalam bentuk pengadaan perlengkapan dan sistem tempur untuk pencapaian tugas pokok.1 Pengadaan Alutsista memerlukan anggaran dalam jumlah besar dan karenanya Alutsista tersebut selalu berada dalam performa terbaiknya. Itulah “roh” kegiatan pemeliharaan.

Kegiatan pemeliharaan didisain sedemikian rupa sesuai dengan kebutuhan dan kondisi nyata yang Pengendalian kegiatan pemeliharaan harus

dilaksanakan dengan bantuan sistem informasi yang dapat diakses oleh para pemangku kepentingan

mulai dari tingkat Mabesad sampai dengan satuan pengguna. Content dalam sistem informasi ini sudah

mengakomodasi sistem kodifikasi materiil, sehingga terminologi yang digunakan merupakan

dihadapi oleh organisasi militer di tiap negara. Sistem pemeliharaan materiil TNI AD membagi tingkat pemeliharaan kedalam 5 tingkat yakni : tingkat Harcegah/organik (0), tingkat I, II, III dan IV.2 Tingkat organik dilaksanakan oleh satuan pemakai, tingkat I dan II dilaksanakan oleh instalasi pemeliharaan daerah dan satuan, tingkat III oleh instalasi pemeliharaan pusat dan daerah, serta tingkat IV oleh instalasi pemeliharaan pusat.

Dalam implementasinya, TNI AD telah membentuk satuan-satuan pemeliharaan mulai dari Bengkel Lapangan (Peralatan), Detasemen pemeliharaan (Denpal, Denhub), Bengkel Daerah di tiap Kodam serta Bengkel Pusat pada tingkat Mabesad.3 Namun secara jujur harus diakui bahwa organisasi satuan pemeliharaan seperti yang tergelar sekarang ini ternyata masih belum mampu menyiapkan materiil TNI AD secara optimal. Kelemahan dari pelaksanaan sistem pemeliharaan selama ini dapat dilihat dari kondisi kesiapan kendaraan ringan, kendaraan tempur, senjata, alat komunikasi dan berbagai peralatan tempur yang dimiliki TNI AD.

Salah satu aspek penyebab tidak maksimalnya hasil pemeliharaan materiil ini adalah karena memang secara organisasi, satuan-satuan pemeliharaan tidak diberikan kemampuan untuk mengerjakan tugas-tugasnya secara maksimal. Sebagai contoh : Denpal dan Denhub di Kupang (NTT) dalam tugasnya harus melayani 1 Brigif (Brigif 21) dan 1 Korem (Korem 161) dengan kondisi geografis wilayah berupa kepulauan

dengan infrastruktur jalan yang terbatas. Satuan TNI AD di wilayah NTT sendiri tersebar di beberapa pulau : Timor, Sumba, Flores, Rote dan Alor. Ironisnya, Denpal dan Denhub sendiri adalah satuan yang tidak mengelola anggaran dan hanya merupakan satuan pelaksana dari Paldam dan Hubdam, sehingga pergerakan antar pulau yang harus mereka laksanakan untuk melaksanakan pemeliharaan menjadi kesulitan tersendiri.

Kondisi seperti itu, menjadi lebih sulit bagi satuan-satuan pemeliharaan yang memiliki tanggung jawab lebih besar yakni Denpal/Denhub yang harus merawat satuan Infanteri mekanis, Kavaleri, Armed dan Arhanud dengan personel dan peralatan yang terbatas. Dalam organisasi Denpal Tipe A, hanya ada 4 personel yang menangani pemeliharaan tingkat I dan II untuk kendaraan tempur (Bamon Utama, madya dan Tabanmon serta Turmon). Sedangkan untuk senjata berat juga ditangani oleh 4 orang (Bamon Utama, madya dan Tabanmon serta Turmon).4

Kendala berikutnya adalah manajemen pengelolaan suku cadang yang masih konvensional. Komandan-komandan satuan pasti berkeinginan untuk menyiapkan satuannya dan untuk mencapai hal itu, kadang-kadang mereka harus bekerja dengan mengabaikan prosedur. Misalnya : karena lambatnya dukungan suku cadang, seorang Dansat kadang-kadang harus menempuh jalan pintas (shortcut), berhubungan langsung dengan pegawai di gudang pusat dan mengambil suku cadang dengan sumber daya yang dimiliki oleh satuan itu

sendiri. Gambaran ini menjelaskan kondisi tentang lambatnya proses birokrasi dukungan suku cadang sampai ke satuan.

DESENTRALISASI KEWENANGAN.

Modernisasi materiil TNI AD seperti yang akan terjadi dalam beberapa tahun kedepan harus diikuti dengan modernisasi kualitas pemeliharaan materiil. Investasi berupa kemampuan tempur TNI AD yang telah dilakukan oleh pemerintah dengan pengadaan Alutsista berharga mahal tidak boleh hanya bertahan dalam beberapa tahun saja. Alutsista tersebut harus berada dalam kondisi puncaknya minimal sesuai dengan durasi waktu yang telah ditetapkan oleh pembuatnya. Jika mungkin usia produktifnya bisa diperpanjang.

Belajar dari pengalaman, langkah terobosan dengan merombak organisasi satuan pemelihara merupakan pilihan yang harus dipertimbangkan. Ide pokok dari perubahan ini adalah bagaimana mempercepat pengambilan keputusan tentang pemeliharaan, termasuk didalamnya penggantian suku cadang. Jika selama ini seorang komandan satuan hanya menunggu proses perbaikan (karena memang kewenangannya hanya melaksanakan pemeliharaan organik) sementara disisi lain dia juga harus menjamin kesiapan satuannya, sudah waktunya komandan satuan diberikan otoritas yang lebih menentukan dalam bidang penyiapan materiil.

Perubahan organisasi diimplentasikan dengan menambahkan satuan pemelihara/Sathar (maintenance

unit) di tiap satuan dan berada dibawah kendali

komandan satuan. Hal ini untuk menjamin kecepatan dan ketepatan dalam kegiatan pemeliharaan. Sebagai ilustrasi akan pentingnya kecepatan dan ketepatan ini dapat digambarkan sebagai berikut. Bahwa memelihara peralatan tempur modern seperti tank Leopard misalnya, diperlukan pemeliharaan berkala yang pelaksanaannya dapat dianalogikan dengan kondisi jika kita membeli mobil baru. Ada pemeliharaan 1000 kilometer pertama, pemeliharaan setelah 10.000 km dan seterusnya. Dari sudut pandang pembagian tingkat pemeliharaan, pemeliharaan berkala ini termasuk dalam pemeliharaan yang bukan pemeliharaan organik (tingkat-0), sehingga harus dikerjakan oleh satuan pemelihara. Jika satu batalyon tank memiliki kurang lebih 50 unit tank, maka kegiatan perawatan berkala ini akan menjadi salah satu kegiatan yang hampir harus dilaksanakan setiap hari, karena ada 3 sub-sistem yang harus dipelihara: otomotif, komunikasi dan senjata (berbeda dengan pemelharaan mobil baru yang hanya berfokus pada satu aspek saja : otomotif). Dengan kata lain, diperlukan personel ahli dari ketiga sub-sistem yang harus selalu berada di satuan. Tidak bisa lagi

personel pemelihara berada jauh dari satuan, apalagi berada di pulau yang lain. Yang paling tepat adalah personel tersebut menjadi anggota organik satuan, berada dibawah kendali komandan satuan.

Selanjutnya, pemeliharaan berkala tidak semata-mata memerlukan keahlian tetapi juga memerlukan peralatan dan suku cadang yang cukup. Sebagaimana mobil baru, dalam pemeliharaan berkala terdapat tahapan dimana diperlukan penggantian minyak pelumas, penggantian filter bahan bakar, pembersihan filter tertentu yang harus dikerjakan dengan kompresor, penggantian karet seal, gasket, penggantian komponen elektronik untuk radio komunikasi maupun sistem senjata dan sebagainya. Identik dengan personel, peralatan dan suku cadang untuk kegiatan pemeliharaan ini mutlak juga harus berada di satuan dan dalam pengendalian komandan satuan. Kewenangan penyimpanan dan pemakaian suku cadang ini juga harus didesentralisir dengan memberikan kewenangan kepada komandan satuan.

Implementasi dari pemikiran ini adalah, bahwa didalam organisasi Yonkav, Yonarmed, Yonarhanud, Yonif Mekanis diperlukan adanya Pleton atau Kompi Pemeliharaan yang anggotanya terdiri dari personel-personel yang mahir dalam memelihara Alutsista. Personel ini bisa berasal dari korps Peralatan, Perhubungan, atau korps yang lain. Pengisian personel Satuan Pemelihara ini diserahkan pada Pusat Korps masing-masing (Ditpal, Dithub), namun status penugasan mereka adalah menjadi anggota organik satuan tempur/Banpur dimana mereka ditugaskan. Satuan juga harus mempunyai cadangan suku cadang yang cukup, paling tidak untuk keperluan pemeliharaan berkala. Dan penggunaan suku cadang ini mutlak menjadi otoritas komandan satuan dengan asistensi teknis dari unit pemeliharaan di satuan. Selebihnya baru disimpan di gudang-gudang daerah maupun pusat.

Konsekuensi dari desentralisasi wewenang penggunaan suku cadang kepada komandan satuan adalah pengawasan terhadap kemungkinan penyalahgunaan harus diperketat. Tidak boleh terjadi

Kodifikasi dapat dikatakan sebagai

Dalam dokumen Edisi Desember Edit_OK.indd 1 12/01/ :52:01 (Halaman 52-55)

Dokumen terkait