1.3. TANTANGAN DAERAH
1.3.1. Tantangan Ekonomi Daerah
Sepanjang tahun 2019 perekonomian Provinsi Lampung mengalami pasang surut yang dipengaruhi oleh faktor perekonomian nasional dan global. Perekonomian global berada dalam fase perlambatan seiring adanya konflik perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Perlambatan ekonomi global berdampak pada perlambatan pertumbuhan ekspor Lampung tahun 2019 dibandingkan tahun 2018. Bahkan pada triwulan I dan III ekspor Provinsi Lampung mengalami kontraksi. Namun demikian, kuatnya konsumsi domestik membawa perekonomian Provinsi Lampung pada tahun 2019 masih mampu tumbuh positif dan diprediksi masih berada di atas pertumbuhan tahun 2018 dalam kisaran 5,1-5,5% (yoy).
Masih berlangsungnya beberapa proyek strategis nasional di Provinsi Lampung serta beberapa rencana pembangunan proyek daerah dapat menjadi penopang ekonomi Provinsi Lampung pada tahun 2020, meskipun nilai realisasi investasinya diperkirakan akan menurun seiring telah selesainya pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS). Untuk menghadapi perlambatan dan ketidakpastian global serta untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Provinsi Lampung semakin tinggi, maka hilirisasi dan penciptaan sumber pertumbuhan baru perlu terus dilakukan.
Di sisi lain, berbagai hambatan dari segi produksi, peraturan dan perdagangan yang menghambat perkembangan hilirisasi perlu diselesaikan. Selain itu, potensi kekayaan alam dan budaya, letak strategis serta kemudahan akses transportasi, Provinsi Lampung berpotensi menjadi daerah tujuan wisata unggulan. Pengembangan sektor pariwisata diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Provinsi Lampung hendaknya diimbangi dengan upaya memajukan dan mempromosikan wisata Lampung, khususnya akses ke lokasi wisata, atraksi wisata dan amenitas.
Upaya pengembangan komoditas unggulan Provinsi Lampung dilakukan dengan berbagai program seperti penyelenggaraan festival-festival komoditas, pariwisata budaya dan alam. Langkah penting lainnya yang perlu ditempuh dalam jangka pendek ialah menarik investasi swasta sebanyak-banyaknya Provinsi Lampung dengan cara
KANWIL DITJEN PERBENDAHARAAN 9 PROVINSI LAMPUNG
KAJIAN FISIKAL REGIONAL TAHUN 2019
regulasi, aspek komunikasi dan infrastruktur dasar yang handal.
Di sektor usaha kecil dan menengah, pengembangan UMKM go digital akan terus dijalankan untuk meningkatkan potensi UMKM sebagai penggerak ekonomi Provinsi Lampung di tengah era perkembangan ekonomi digital yang semakin pesat.
Dengan upaya-upaya tersebut dan semangat untuk bersinergi, bertransformasi, dan terus mengembangkan inovasi diharapkan prospek ekonomi Provinsi Lampunglebih baik, inflasi stabil dan terkendali, serta kesejahteraan masyarakat Provinsi Lampung akan semakin meningkat.
1.3.2. Tantanagan Sosial Kependudukan
Berdasarkan Sensus Penduduk tahun 2010, jumlah penduduk Provinsi Lampung berjumlah 7.596.115 jiwa. Bila dibandingkan dengan hasil sensus tahun 2000 yang tercatat sebesar 6.730.751 jiwa, dalam kurun waktu 10 tahun jumlah penduduk Provinsi Lampung bertambah 13,42 persen dengan laju pertumbuhan rata-rata pertahuan 1,24 persen. Pada tahun 2019 penduduk Provinsi Lampung diproyeksikan jumlahnya menjadi 8.447.737 jiwa. Dilihat dari distribusi penduduk antar kabupaten/
kota, terdapat tiga wilayah yaitu Kabupaten Lampung Tengah, Kota Bandar Lampung dan Kabupaten Lampung Timur tercatat sebagai daerah dengan penduduk terbanyak yang masing-masing berjumlah 1.281.310 jiwa, 1.051.500 jiwa, dan 1.044.320 orang.
Sedangkan wilayah dengan kepadatan penduduk terbesar adalah Kota Bandar Lampung dan Kota Metro.
Secara adat istiadat, bentuk masyarakat dibedakan menjadi dua kelompok besar yaitu masyarakat adat Saibatin yang berkediaman di sepanjang pesisir termasuk adat Krui, Ranau Komering, sampai Kayu Agung, dan masyarakat adat Pepadun yang berkediaman di daerah pedalaman Lampung terdiri dari masyarakat adat Abung (Abung Siwo Migo), Pubian (Pubian Telu Suku), Menggala/Tulang Bawang (Migo Pak) dan Buai Lima (Marga Bunga Mayang Sungkai).
Dalam kehidupan sehari-hari, corak kehidupan masyarakat Lampung dapat disimpulkan dalam 5 (lima) prinsip yaitu : (1) Pi’il Pesengiri (2) Sakai Sembayan (3) Nemui Nyimah (4) Nengah Nyapur dan (5) Bejuluk Beadek. Pi’il Pesengiri diartikan sebagai segala sesuatu yang menyangkut harga diri, prilaku, dan sikap hidup yang dapat menjaga dan menegakkan nama baik, memberi sesuatu yang diperlukan bagi pihak lain tidak terbatas pada yang sifatnya materi saja, tetapi juga dalam arti moril termasuk sumbangan pikiran. Sakai Sambayan meliputi beberapa pengertian yang
KANWIL DITJEN PERBENDAHARAAN 10 PROVINSI LAMPUNG
KAJIAN FISIKAL REGIONAL TAHUN 2019
saling memberi sesuatu yang diperlukan bagi pihak lain tidak terbatas pada yang sifatnya materi saja, tetapi juga dalam arti moril termasuk sumbangan pikiran. Nemui Nyimah berarti bermurah hati dan ramah tamah terhadap semua pihak baik terhadap orang dalam kelompoknya maupun terhadap siapa saja yang berhubungan dengan mereka. Nengah Nyappur adalah sebagai tata pergaulan masyarakat Lampung dengan kesediaan membuka diri dalam pergaulan masyarakat umum dan berpengetahuan luas. Bejuluk Beadek adalah didasarkan kepada Titei Gemattei yang diwariskan turun temurun dari zaman dahulu. Tata ketentuan pokok yang selalu diikuti (Titei Gemattei) tersebut antara lain menghendaki agar seseorang disamping mempunyai nama yang diberikan orang tuanya, juga diberi gelar oleh orang dalam kelompoknya sebagai panggilan terhadapnya. Bagi orang yang belum bekeluarga diberi juluk (Bejuluk) dan setelah ia kawin makan diberi adek (Beadek).
1.3.3. Tantangan Geografi Wilayah
Provinsi Lampung dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1964 tentang Pembentukan Daerah Tingkat I Lampung tanggal 18 Maret 1964. Secara geografis Provinsi Lampung terletak pada 103040’ sampai 105050’ BT dan 3045’
sampai 6045’ LS. Provinsi Lampung meliputi areal daratan seluas 35.288,35 km² (Lampung dalam angka, BPS, 2013) termasuk 188 pulau disekitarnya. Provinsi Lampung juga memiliki wilayah lautan sepanjang 12 mil laut dari garis pantai kearah laut lepas dengan luas perairan diperkirakan lebih kurang 24.820 km2 dan panjang garis pantai lebih kurang 1.105 km (atlas Sumber daya Pesisir Lampung, 1999). Garis pantai perairan Lampung secara garis besar terdiri atas empat wilayah pesisir, yaitu Pantai Barat (210 km), Teluk Semangka (200 km), Teluk Lampung dan Selat Sunda (160 km), dan Pantai Timur (270 km). Provinsi Lampung terletak pada bagian paling ujung selatan Pulau Sumatera dengan batas-batas sebagai berikut:
Sebelah utara berbatasan dengan Provinsi Sumatera Selatan dan Bengkulu.
Sebelah selatan berbatasan dengan selat Sunda
Sebelah timur berbatasan dengan laut Jawa.
Sebelah barat berbatasan dengan samudra Indonesia.
Berdasarkan kondisi topografi, Provinsi Lampung dapat dibagi ke dalam 5 (lima) satuan ruang, yaitu :
1. Daerah berbukit sampai bergunung, dengan ciri khas lereng-lereng yang curam/
terjal dengan kemiringan berkisar 25% dan ketinggian rata-rata 300 meter di atas
KANWIL DITJEN PERBENDAHARAAN 11 PROVINSI LAMPUNG
KAJIAN FISIKAL REGIONAL TAHUN 2019 sebelah timur Bukit Barisan serta Gunung Rajabasa.
2. Daerah berombak sampai bergelombang, yang dicirikan oleh bukit-bukit sempit, kemiringan antara 8% hingga 15%, dan ketinggian antara 300 meter sampai 500 meter d.p.l. Kawasan ini meliputi wilayah Gedong Tataan, Kedaton, Sukoharjo, Pulau Panggung, Adirejo, dan Bangunrejo.
3. Dataran alluvial mencakup kawasan yang sangat luas meliputi Lampung Tengah hingga mendekati pantai sebelah timur. Ketinggian kawasan ini berkisar antara 25 hingga 75 meter d.p.l., dengan kemiringan 0% hingga 3%.
4. Rawa pasang surut disepanjang pantai timur dengan ketinggian 0,5 hingga 1 meter d.p.l.
5. Daerah aliran sungai yaitu Tulang Bawang, Seputih, Sekampung, Semangka, dan Way Jepara.
Sebagian besar lahan di Provinsi Lampung merupakan kawasan hutan yang luasnya mencapai 1.004.735 ha (28,47%) dari luas daratan Provinsi Lampung. Selain itu, Provinsi juga merupakan daerah perkebunan (20,92%); tegalan/ladang (20,50%);
daerah pertanian, dan perumahan.
Dari aspek geografis, Provinsi Lampung mempunyai posisi yang strategis yaitu di ujung selatan Pulau Sumatera, sehingga menjadi pintu gerbang Pulau Sumatera dari arah Pulau Jawa. Agar posisi yang strategis tersebut berdampak optimal bagi kepentingan daerah dan kesejahteraan masyarakat, maka Pemerintah Provinsi Lampung pada tahun 2010 menerbitkan Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Lampung Tahun 2009-2029.
Pola ruang Provinsi Lampung meliputi:
1. Kawasan andalan adalah bagian dari kawasan budidaya di darat maupun laut yang pengembangannya diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi bagi kawasan tersebut dan kawasan sekitarnya. Kawasan andalan yang diproyeksikan adalah Mesuji, Bandar Lampung dan Metro, Kotabumi, dan Liwa-Krui;
2. Pola pemanfaatan ruang pada kawasan lindung mencakup 5 (lima) fungsi perlindungan sebagai berikut:
a. Kawasan hutan lindung yang tersebar di Lampung Selatan, Lampung Timur, Lampung Barat, Lampung Tengah, Tanggamus dan Way Kanan.
b. Kawasan suaka alam untuk melindungi keanekaragaman hayati, ekosistem, dan keunikan alam. Kawasan ini meliputi cagar alam Kepulauan Krakatau, kawasan Bukit Barisan yang membentang dari utara ke selatan termasuk
KANWIL DITJEN PERBENDAHARAAN 12 PROVINSI LAMPUNG
KAJIAN FISIKAL REGIONAL TAHUN 2019
sekitar Gunung Betung, Gunung Rajabasa dan kawasan perlindungan satwa Rawa Pacing dan Rawa Pakis, serta ekosistem mangrove dan rawa di pantai timur dan selatan.
c. Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan dibawahnya, terutama berkaitan dengan fungsi hidrologis untuk pencegahan banjir, menahan erosi dan sedimentasi, serta mempertahankan ketersediaan air. Kawasan ini berada pada ketinggian diatas 1.000 mdpl dengan kemiringan lebih dari 40%, curah hujan tinggi, atau mampu meresapkan air kedalam tanah. Yang termasuk kawasan ini adalah sebagian besar kawasan Bukit Barisan bagian timur dan barat yang membentang dari utara ke selatan, Pematang Sulah, Kubu Cukuh, dan kawasan hutan lainnya.
d. Kawasan rawan bencana alam seperti letusan gunung berapi, gempa bumi, longsor, banjir, tsunami dan sebagainya. Yang termasuk dalam kawasan ini adalah bencana tanah longsor (Lampung Utara, Tanggamus, Lampung Barat, Pesawaran, dan Lampung Selatan), kebakaran hutan (Mesuji, Way Kanan, Lampung Barat, Tanggamus, Lampung Selatan, dan Lampung Timur), tsunami dan gelombang pasang (sepanjang pesisir pantai wilayah Provinsi Lampung), dan banjir (Pesawaran, Mesuji, Tulang Bawang, Lampung Timur, Pringsewu, Tanggamus, Lampung Barat, Lampung Utara, Lampung Selatan, Bandar Lampung dan Metro).
e. Kawasan perlindungan setempat yang berfungsi melindungi komponen lingkungan tertentu dan kegiatan budidaya. Fungsi ini berlaku secara setempat di sempadan sungai, sempadan pantai, sekitar mata air, dan sekitar waduk/danau untuk melindungi kerusakan fisik setempat, seperti Bendungan Batu Tegi, Bendungan Way Rarem, Bendungan Way Umpu, Bendungan Way Jepara dan Bendungan Way Bumi Agung.
f. Kawasan perlindungan laut/zona inti di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil (PPK) adalah kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil dengan ciri khas tertentu yang dilindungi untuk mewujudkan pengelolaan wilayah pesisir dan PPK secara berkelanjutan. Konservasi pesisir dan laut sangat terkait dengan ekosistem pesisir dan laut, yaitu ekosistem terumbu karang dan ekosistem mangrove.
BAB II
PERKEMBANGAN DAN ANALISIS EKONOMI
REGIONAL
KANWIL DITJEN PERBENDAHARAAN 13 PROVINSI LAMPUNG
KAJIAN FISIKAL REGIONAL TAHUN 2019
BAB II PERKEMBANGAN DAN ANALISIS EKONOMI REGIONAL
2.1 INDIKATOR MAKROEKONOMI FUNDAMENTAL 2.1.1 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
Salah satu indikator untuk mengetahui dan mengukur perkembangan ekonomi suatu daerah adalah pertumbuhan ekonomi yang mencakup besaran dan kualitas pertumbuhannya. Pertumbuhan ekonomi seharusnya tidak hanya diukur dari angka besaran pertumbuhan saja, tetapi juga memperhatikan kualitas pertumbuhan itu sendiri.
Pertumbuhan ekonomi yang berkualitas juga akan mampu untuk menciptakan lapangan kerja, mengurangi kemiskinan, serta memperbaiki kualitas pendapatan masyarakat.
Kebijakan fiskal pemerintah daerah Lampung yang dituangkan dalam APBD maupun alokasi dana APBN di daerah (DIPA kewenangan kantor pusat K/L, dan dana transfer ke daerah) merupakan salah satu variabel pendorong pertumbuhan ekonomi (PDRB), berupa belanja pemerintah (goverment spending). Berbagai kebijakan fiskal pemerintah yang dituangkan dalam APBN dan APBD harus mampu untuk menjadi pendorong sekaligus penarik bagi komponen pertumbuhan ekonomi lainnya dan berbagai sektor ekonomi sehingga masing-masing berperan optimal dalam menggerakkan perekonomian Lampung khususnya dan nasional pada umumnya.
a. Pertumbuhan Ekonomi (PDRB)
Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga pasar adalah jumlah nilai tambah bruto (gross value added) yang timbul dari seluruh sektor perekonomian di suatu wilayah. Nilai tambah adalah nilai yang ditambahkan dari kombinasi faktor produksi dan bahan baku dalam proses produksi. Penghitungan nilai tambah adalah nilai produksi (output) dikurangi biaya antara. Nilai tambah bruto di sini mencakup komponen-komponen pendapatan faktor (upah dan gaji, bunga, sewa tanah dan keuntungan), penyusutan dan pajak tidak langsung neto. Jadi dengan menjumlahkan nlai tambah bruto dari masing-masing sektor dan menjumlahkan nilai tambah bruto dari seluruh sektor tadi, akan diperoleh Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga pasar.
Perekonomian Lampung tahun 2019 mengalami pertumbuhan sebesar 5,27 persen.
Laju pertumbuhan ekonomi di Lampung ini lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2018 sebesar 5,25 persen. Pertumbuhan ekonomi Lampung tahun 2019 juga lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,02 persen.
Namun, laju pertumbuhan ekonomi Lampung tahun 2019 ini masih dibawah target
KANWIL DITJEN PERBENDAHARAAN 14 PROVINSI LAMPUNG
KAJIAN FISIKAL REGIONAL TAHUN 2019
laju pertumbuhan ekonomi yang ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Lampung 2015-2019, dimana laju pertumbuhan ekonomi tahun 2019 ditetapkan sebesar 7,00-7,50 persen.
Kondisi perekonomian di Lampung yang tumbuh relatif baik tersebut tentu saja tidak lepas dari peran berbagai pihak dalam mengelola berbagai kebijakan baik sektor riil, sektor moneter maupun sektor fiskal.
Grafik 2.1. Laju Pertumbuhan PDRB Lampung dan PDB Nasional Tahun 2017-2019 y to y (dalam persen)
Sumber : BPS
Pertumbuhan ekonomi di Lampung dipengaruhi oleh semua faktor pembentuk PDRB selama kurun waktu 2019. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi di dukung dari tiga lapangan usaha, yaitu lapangan usaha pengadaan listrik dan gas, penyediaan akomodasi makanan dan minuman, jasa pendidikan. Lapangan usaha penyediaan akomodasi makanan dan minuman menjadi penyumbang tertinggi bila di lihat dari sisi produksi per tahun.
Grafik 2.2. Laju Pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Lampung dan Nasional Triwulan I - IV Tahun 2019 (dalam persen)
Sumber : BPS
KANWIL DITJEN PERBENDAHARAAN 15 PROVINSI LAMPUNG
KAJIAN FISIKAL REGIONAL TAHUN 2019
Secara spasial struktur perekonomian Nasional tahun 2019 masih didominasi oleh kelompok provinsi di Pulau Jawa yang memberikan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto sebesar 59,00 persen, kemudian diikuti oleh Pulau Sumatera sebesar 21,32 persen, Pulau Kalimantan 8,05 persen, Pulau Sulawesi 6,33 persen, dan sisanya 5,30 persen di pulau-pulau lainnya.
Sementara itu PDRB se-Sumatera tahun 2019 mengalami pertumbuhan 4,57 persen dibandingkan tahun 2018. Pertumbuhan tertinggi terjadi di Provinsi Sumatra Selatan sebesar 5,71 persen dan terendah di Provinsi Riau dengan pertumbuhan sebesar 2,84 persen. Provinsi Lampung menempati posisi kedua dengan pertumbuhan sebesar 5,27 persen.
Grafik 2.3. Pertumbuhan Ekonomi pada Regional Sumatera tahun 2019 (dalam persen)
Sumber : BPS Nasional ,5.71
,5.27 ,5.22 ,5.05 ,4.96 ,4.89
,4.40 ,4.15
,3.32
,2.84
Sumatera
Selatan Lampung Sumatera
Utara Sumatera
Barat Bengkulu Kepulauan
Riau Jambi Aceh Ke. Bangka Belitung Riau
Sumatera 4.57 Gambar 2.1 Peranan/kontribusi Pulau dalam Pembentukan PDB Nasional Tahun 2019 (persen)
Sumber : BPS Nasional
KANWIL DITJEN PERBENDAHARAAN 16 PROVINSI LAMPUNG
KAJIAN FISIKAL REGIONAL TAHUN 2019 b. Nominal PDRB
Produk Domestik Regional Bruto atau PDRB merupakan jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu daerah tertentu. Pertumbuhan ekonomi Provinsi Lampung tahun 2019 berdasarkan harga berlaku sebesar Rp360,6 miliar atau mencapai 5,27 persen. Ekonomi Provinsi Lampung sedikit menguat dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang tumbuh sebesar 5,25 persen.
Sumber : BPS Provinsi Lampung
Komponen Pengeluaran pembentuk PDRB terdiri atas Konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah dan ekspor netto (ekspor dikurangi impor). Data PDRB di Lampung yang ditampilkan Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) 2010 dan Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB).
Tabel 2.1. PDRB Provinsi Lampung Menurut Pengeluaran Atas Dasar Harga Berlaku dan Harga Konstan 2018 dan 2019 (dalam miliar rupiah)
Komponen PDRB Harga Berlaku Harga Konstan 2010
2018 2019 2018 2019
(1) (2) (3) (4) (5)
1. Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga
201.202,58 221.157,56 139.801,87 147.695,55 2. Pengeluaran
Konsumsi LNPRT 5.503,54 6.157,82 3.439,33 3.788,40 3. Pengeluaran
Konsumsi Pemerintah 27.878,52 29.270,11 17.973,78 18.428,33 4. Pembentukan Modal
Tetap Bruto 109.613,82 120.195,14 79.145,39 82.804,96 5. Perubahan Inventori 1.734,47 424,92 718.45 (13,74) 6. Ekspor Barang dan
Jasa 136.756,57 142.655,44 100.101,12 104.509,35 7. Dikurangi Impor
Barang dan Jasa 149.018,61 159.197,39 108.972,27 112.776,05 Produk Domestik
Regional Bruto (PDRB) 333.670,88 360.663,62 232.207,68 244.436,79 Sumber : BPS Lampung
Grafik 2.4 Sumber Pertumbuhan PDRB Provinsi Lampung Tahun 2019 menurut Lapangan Usaha (persen)
KANWIL DITJEN PERBENDAHARAAN 17 PROVINSI LAMPUNG
KAJIAN FISIKAL REGIONAL TAHUN 2019
Struktur PDRB Provinsi Lampung tahun 2019 menurut pengeluaran tidak menunjukkan perubahan yang berarti. Aktivitas permintaan akhir masih didominasi oleh Komponen PK-RT yang mencakup lebih dari separuh PDRB Provinsi Lampung yaitu sebesar 61,32 persen, dikuti Komponen Ekspor Barang dan Jasa (39,55 persen), dan Komponen PMTB (33,33 persen). Komponen Impor Barang dan Jasa sebagai pengurang dalam PDRB Provinsi Lampung memiliki peran sebesar 44,14 persen.
1) PDRB Sisi Pengeluaran
Dari sisi pengeluaran, komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Non Profit Rumah Tangga (PK-LNPRT) merupakan komponen yang mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 10,15 persen, diikuti komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PK-RT) sebesar 5,65 persen, dan Komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 4,62 persen.
Tabel 2.2. Laju Pertumbuhan PDRB Provinsi Lampung Menurut Pengeluaran (Persen)
Komponen PDRB
Pertumbuhan terjadi di seluruh komponen PDRB, pada komponen Ekspor Barang dan Jasa sebesar 27,44 persen, diikuti Komponen PK-LNPRT (6,73 persen), dan komponen PK-RT (5,32 persen). Komponen Impor Barang dan Jasa sebagai faktor pengurang tumbuh sebesar 16,05 persen.
2) PDRB Persektor Lapangan Usaha
Pertumbuhan positif dicapai oleh semua lapangan usaha dengan laju tertinggi pada Lapangan Usaha Pengadaan Listrik dan Gas (9,57 persen). Selanjutnya Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum tumbuh cukup pesat (9,10 persen).
Selain itu lapangan usaha yang juga tumbuh cukup besar adalah Jasa
KANWIL DITJEN PERBENDAHARAAN 18 PROVINSI LAMPUNG
KAJIAN FISIKAL REGIONAL TAHUN 2019
Pendidikan, Industri Pengolahan, Jasa Lainnya serta Transportasi dan Pergudangan yang masing-masing tumbuh dengan laju di kisaran angka 8 persen.
Tabel 2.3. Laju Pertumbuhan PDRB Provinsi Lampung Menurut Lapangan Usaha (persen)
Q Jasa Kesehatan, dan Kegiatan
Sosial 3.65 1.05 7.77 6.85 6.81 0.07
Sedangkan bila dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhan ekonomi Provinsi Lampung tahun 2019, sumber pertumbuhan tertinggi berasal dari Industri Pengolahan sebesar 1,54 persen, diikuti Perdagangan Besar-Eceran dan Reparasi Mobil-Sepeda Motor sebesar 0,88 persen, serta Konstruksi sebesar 0,59 persen. Sementara pertumbuhan ekonomi dari lapangan usaha Transportasi dan pergudangan sebesar 0,42 persen.
c. PDRB per Kapita
Pendapatan per kapita adalah besarnya pendapatan rata-rata penduduk di suatu negara. Pendapatan per kapita didapatkan dari hasil pembagian pendapatan nasional suatu negara dengan jumlah penduduk negara tersebut. Pendapatan per
KANWIL DITJEN PERBENDAHARAAN 19 PROVINSI LAMPUNG
KAJIAN FISIKAL REGIONAL TAHUN 2019
kapita juga merefleksikan PDRB per kapita dan menggambarkan rata-rata pendapatan yang diterima oleh setiap penduduk selama satu tahun di suatu wilayah/daerah.
Pendapatan per kapita sering digunakan sebagai tolak ukur kemakmuran dan tingkat pembangunan sebuah negara/daerah, semakin besar pendapatan per kapitanya, maka semakin besar juga kemungkinan negara itu memiliki tingkat pembangunan dan pendapatan rata-rata penduduk yang tinggi.
PDRB per kapita Provinsi Lampung dibandingkan dengan PDB Nasional atas dasar harga berlaku sejak tahun 2017 sampai dengan tahun 2019 adalah sebagai berikut
Grafik 2.5. PDRB Per Kapita Lampung 2017-2019 ADHB (dalam Juta Rupiah)
Sumber : BPS Nasional dan Lampung
Disamping laju pertumbuhan ekonomi Lampung tahun 2019 mencapai capaian sebesar 5,27 persen, PDRB per kapita juga mengalami kenaikan. PDRB per kapita Lampung tahun 2019 sebesar Rp42,69 juta, lebih tinggi dibandingkan PDRB per kapita tahun 2018 sebesar Rp39,86 juta atau naik sebesar 7,10 persen. Dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir (2017-2019) PDRB Per Kapita memiliki tren yang positif (terus meningkat). Peningkatan pendapatan per kapita diikuti dengan turunnya angka gini ratio pedesaan, serta gini ratio pedesaan dan perkotaan, yang menjadi indikasi awal bahwa ekonomi tumbuh dan semakin banyak dinikmati oleh masyarakat bawah.
2.1.2 Suku Bunga
Bank Indonesia dalam lamannya resminya menyatakan bahwa, Kebijakan BI 7-day Reverse Repo Rate Bank Indonesia dilakukan untuk penguatan kerangka operasi moneter dengan mengimplementasikan suku bunga acuan atau suku bunga kebijakan baru yaitu BI 7-Day (Reverse) Repo Rate, yang berlaku efektif sejak 19 Agustus 2016, menggantikan BI Rate.
37.00 39.86 42.69
51.90 56.00 59.10
0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00
2017 2018 2019
Lampung Nasional
KANWIL DITJEN PERBENDAHARAAN 20 PROVINSI LAMPUNG
KAJIAN FISIKAL REGIONAL TAHUN 2019
Penguatan kerangka operasi moneter ini merupakan hal yang lazim dilakukan di berbagai bank sentral dan merupakan best practice internasional dalam pelaksanaan operasi moneter.
Kerangka operasi moneter senantiasa disempurnakan untuk memperkuat efektivitas kebijakan dalam mencapai sasaran inflasi yang ditetapkan. Instrumen BI 7-day (Reverse) Repo Rate digunakan sebagai suku bunga kebijakan baru karena dapat secara cepat memengaruhi pasar uang, perbankan dan sektor riil. Instrumen BI 7-Day Repo Rate sebagai acuan yang baru memiliki hubungan yang lebih kuat ke suku bunga pasar uang, sifatnya transaksional atau diperdagangkan di pasar, dan mendorong pendalaman pasar keuangan, khususnya penggunaan instrumen repo.
Grafik 2.6. BI 7-day (Reverse) Repo Rate 2016-2018
Sumber : Bank Indonesia
Dengan penggunaan instrumen BI 7-day (Reverse) Repo Rate sebagai suku bunga kebijakan baru, terdapat tiga dampak utama yang diharapkan. Pertama, menguatnya sinyal kebijakan moneter dengan suku bunga (Reverse) Repo Rate 7 hari sebagai acuan utama di pasar keuangan. Kedua, meningkatnya efektivitas transmisi kebijakan moneter melalui pengaruhnya pada pergerakan suku bunga pasar uang dan suku bunga perbankan. Ketiga, terbentuknya pasar keuangan yang lebih dalam, khususnya transaksi dan pembentukan struktur suku bunga di pasar uang antarbank (PUAB) untuk tenor 3-12 bulan.
2.1.3 Inflasi
Inflasi adalah indikator untuk melihat tingkat perubahan, dan dianggap terjadi jika proses kenaikan harga berlangsung secara terus-menerus dan saling pengaruh-memengaruhi.
Istilah inflasi juga digunakan untuk mengartikan peningkatan persediaan uang yang kadangkala dilihat sebagai penyebab meningkatnya harga.
0.00%
1.00%
2.00%
3.00%
4.00%
5.00%
6.00%
7.00%
21-Apr-16 16 Juni 2016 19 Agustus 2016 20 Oktober 2016 15 Desember 2016 16 Februari 2017 20-Apr-17 15 Juni 2017 22 Agustus 2017 19 Oktober 2017 14 Desember 2017 15 Februari 2018 19-Apr-18 30 Mei 2018 19 Juli 2018 27-Sep-18 15 Nopember 2018 17 Januari 2019 21 Maret 2019 16 Mei 2019 18 Juli 2019 19-Sep-19 21 Nopember 2019
KANWIL DITJEN PERBENDAHARAAN 21 PROVINSI LAMPUNG
KAJIAN FISIKAL REGIONAL TAHUN 2019
Target Inflasi yang ditetapkan dalam Kebijakan Umum Anggaran (KUA) Provinsi Lampung yakni 3,5 s.d 4,5 persen. Sampai dengan akhir Desember 2019, inflasi Kota Bandar Lampung menempati peringkat ke-9 dari 90 kota yang diamati perkembangan harganya.
Tabel 2.4. Laju Inflasi Lampung 2017-2019 (dalam persen)
Sumber : BPS Lampung
Laju inflasi di Lampung ini dipicu oleh naiknya beberapa harga kebutuhan pokok menjelang hari Natal dan Tahun Baru. Selain itu, periode libur sekolah juga turut mendorong terjadinya inflasi, khususnya pada sub kelompok transportasi.
2.1.4 Nilai Tukar
Perkembangan Nilai Tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika Lampung pada tahun 2018 mengalami naik turun (mengacu pada nilai kurs nasional). Pada umumnya rupiah terhadap Dollar Amerika melemah seiring dengan timpangnya neraca perdagangan
Perkembangan Nilai Tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika Lampung pada tahun 2018 mengalami naik turun (mengacu pada nilai kurs nasional). Pada umumnya rupiah terhadap Dollar Amerika melemah seiring dengan timpangnya neraca perdagangan