• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tantangan dan Peluang Pengembangan Pelayanan Dinas

Dalam dokumen RENCANA STRATEGIS (Halaman 47-0)

BAB II. GAMBARAN PELAYANAN OPD

2.4 Tantangan dan Peluang Pengembangan Pelayanan Dinas

Untuk meningkatkan kinerja pelayanan Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Batam terdapat tantangan dan peluang yang dihadapi untuk mewujudkan pelayanan OPD yang lebih baik. Adapun Tantangan dan peluang tersebut adalah sebagai berikut :

1. Tantangan dibidang pemberdayaan Koperasi dan Usaha Mikro adalah : a. Kebanyakan SDM Koperasi dan Usaha Mikro berpendidikan kurang

memadai dengan keahlian teknis, kompetensi, kewirausahaan dan manajemen yang seadanya.

b. Terbatasnya akses Koperasi dan Usaha Mikro kepada sumber daya produktif, terutama terhadap bahan baku, permodalan, teknologi, sarana pemasaran serta informasi pasar.

c. Jumlah aparatur yang ada tidak sebanding dengan cakupan jumlah Koperasi dan Usaha Mikro. Di sisi lain berkembangnya kebutuhan masyarakat terhadap pengetahuan dan ketrampilan bidang

d. Permasalahan teknis UKM yang dihadapi oleh UKM adalah seputar proses produksi,teknik pemasaran, promosi produk.Permasalahan teknis tersebut padaumumnya kurang diperhatikan oleh pelakuUKM sehingga menjadi tantangan bagi Dinas Koperasi dan Usaha MikroKotaBatam dalam melakukan pemberdayaandan tentunya perlu menerapkan strategi khusus dalam pemberdayaanUKM, dan koperasi dengan cara melakukan mengidentifikasiterlebih dahulu terhadap UKM berdasarkantingkat keberdayaannya, berdaya dantidaknya diidentifikasi agarmemaksimalkan pemberdayaan yangdilakukan oleh DinasKoperasi dan Usaha Mikro Kota Batam agar dalam prosesnya tidaksalah sasaran dan lebih terarah.

2. Peluang dibidang pemberdayaan Koperasi dan Usaha Mikro adalah :

a. Komitmen dan dukungan Pemerintah pusat, Daerah serta lembaga legislatif terhadap pemberdayaan ekonomi rakyat melalui perkuatan Koperasi dan Usaha Mikro.

b. Koperasi dan Usaha Mikro dapat didorong menjadi motor penggerak perekonomian, sebab pada umumnya bergerak di sektor padat karya yang memerlukan investasi relative rendah, ditunjang dengan tersedianya keragaman bahan baku bagi produk inovatif Koperasi dan Usaha Mikro.

c. Dibidang permodalan, potensi masih terbuka luas, untuk menjadikan Lembaga Keuangan Mikro (LKM) sebagai kekuatan pembiayaan bagi usaha mikro.

d. Pemanfaatan teknologi dalam mengolah data dan informasi terkait UKM yang ada untuk mengembangkanusahanya dalam memasarkan produkmerekadan mengembangkanpotensi dari Koperasi dan Usaha Mikro.

1. Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi Pelayanan SKPD 1. Permasalahan yang dihadapi Koperasi dan Usaha Mikro antara lain

adalah :

a. Lemahnya SDM Pengelola Koperasi dan Usaha Mikro

b. Masih kurangnya kualitas kelembagaan dan organisasi Koperasi

c. Terbatasnya akses sumberdaya produktif terutama terhadap bahan baku

2. Permasalahan yang dihadapi Aparatur Pembina Koperasi dan UMKM antara lain adalah :

a. Jumlah dan kemampuan pegawai belum sepenuhnya sesuai dengan perkembangan IPTEK dan Dunia Usaha.

b. Kualitas sarana dan prasarana penunjang kegiatan Dinasyang belum memadai.

BAB III

ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI

3.1 IDENTIFIKASI PERMASALAHAN BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI PELAYANAN DINAS KOPERASI DAN USAHA MIKRO.

Evaluasi hasil pembinaan Koperasi dan Usaha Mikro di Kota Batam dalam kurun waktu 5 (lima) tahun yaitu tahun 2011-2016,

masih terbatasnya alokasi dana untuk pembinaan dan pengembangan koperasi berpengaruh terhadap rendahnya presentase koperasi aktif. Permasalahan Koperasi dan Usaha Mikro yang belum tuntas, antaralain :

1. Sumber Daya Manusia,

Kualitas sumber daya manusia Koperasi dan Usaha Mikro masih banyak yang belum mempunyai pandangan luas dan modern khususnya dalam hal manajemen danmeningkatkan kualitas produk serta pengembangan usahanya sehingga masih memerlukan dorongan dan fasilitasi dari Pemerintah yang berupa diklat teknis maupun manajemen.

2.Pemasaran

Permasalahan pemasaran produk Koperasi dan Usaha Mikro masih terbatas dan tergantungkualitas produk (a.l : Ketersediaan bahan baku, pengolahan, kemasan dan legalitas ), jaringan, akses pasar dan pemanfaatan teknologi.

3. Permodalan,

Kurangnya permodalan Koperasi dan pelaku Usaha Mikro untuk mengembangkan usahanya, perlu dukungan permodalan baik melalui pemerintah, perbankan dan lembaga keuangan lainnya.

4. Aksesibilitas

Adanya kesenjangan pembangunan sektor ekonomi di wilayah hinterland dengan mainland, di mana para pelaku ekonomi di mainland sangat mudah dalam mengakses sumber daya, fasilitas, kemudahan lainnya, sedangkan di sisi lain pelaku ekonomi di hinterland sangat terbatas, diakibatkan antara

lain kurangnya kemampuan sumber daya manusia, sulitnya aksesbilitas kepada sumber daya ekonomi.

3.2 TELAAH VISI, MISI DAN PROGRAM WALIKOTA DAN WAKIL WALIKOTA TERPILIH

Selaras dengan Visi dan Misi Provinsi Kepulauan Riau yang bertujuan untuk memaksimalkan potensi yang ada di wilayah Kepri baik dari sisi sumber daya alam, sumber daya manusia, sosial kemasyarakatan, kelurahan bangsa serta kearifan lokal. Maka Visi, Misi, dan Program Kerja Walikota dan Wakil Walikota Batam yang disusun berdasarkan pertimbangan komprehensif dan analisis yang cermat atas berbagai kondisi dan realitas yang dihadapi Batam saat ini, yang dipandang akan mempengaruhi arah dan perkembangan Batam ke depan. Beberapa hal yang menjadi pertimbangan, antara lain sembilan agenda prioritas Nawa Cita Presiden RI, Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Provinsi dan Kota Batam 2005 – 2025, kondisi eksisting Batam sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas, Penetapan Batam sebagai salah satu dari 13 Kota MICE di Indonesia, serta pemberlakuan Masyarakat Ekonomi Asean yang mulai diterapkan akhir tahun 2015 ini. Disamping itu, Visi, Misi, dan Program Kerja ini, disusun atas pertimbangan yang mendalam berdasarkan analisis SWOT, sehingga tergambar dengan jelas kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan yang dihadapi Batam, sekarang dan di masa depan.

Visi Pemerintah Kota Batam

Visi adalah kondisi yang diinginkan pada akhir periode perencanaan yang dipresentasikan dalam sejumlah sasaran hasil pembangunan yang dicapai melalui program - program pembangunan dalam bentuk rencana kerja.

Sebagai motovasi utama bagi Pemerintah Kota Batam untuk menentukan ke arah pembangunan Kota Batam dan sekaligus merupakan konsensus bersama Pemerintah Kota Batam dengan seluruh perangkat Pemerintah yang berada

dalam koordinasinya dalam upaya mereflesikan tujuan yang ingin dicapai baik jangka pendek maupun jangka panjang, maka dirumuskan Visi Kota Batam yaitu :

“Terwujudnya Batam sebagai Bandar Dunia Madani yang Berdaya Saing, Maju, Sejahtera, dan Bermartabat”.

Kota Batam yang berada dilokasi strategis, baik untuk lingkup regional yaitu sebagai salah satu pintu masuk dan keluar di wilayah Provinsi Kepulauan Riau maupun untuk lingkup internasional karena lokasinya yang berada diperbatasan dan relatif dekat dengan beberapa Negara tetangga.Faktor geografis tersebut telah mendorong kembalinya Kota Batam untuk berperan sebagai “Pusat pertumbuhan ekonomi” serta sekaligus sebagai pusat kegiatan transit barang (perdagangan) dan penumpang.Fungsi tersebut ditanggung oleh keberadaan sarana dan prasarana infrastruktur yang memadai untuk melayani.

Pelayaran antar wilayah dan antar pulau serta beberapa pelabuhan (komoditi) khusus lainnya, serta Bandar Udara Hang Nadim, yang melayani penerbangan lokal ke beberapa kota besar Indonesia bahkan internasional. Dinamika arus barang dan penumpang yang cukup tinggi menjadikan Kota Batam sebagai sentral akhir dan transit yang berdampak pada peningkatan aktivitas perdagangan dan aktivitas ekonomi masyarakat di Kota Batam.

Misi Pemerintah Kota Batam

Untuk mewujudkan Visi Kota Batam tersebut, maka dirumuskan Misi Kota Batam sebagai berikut :

Misi Pertama : Mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik, bersih, transparan, akuntabel, dan mengayomi,

Misi Kedua : Mewujudkan SDM Daerah yang bertaqwa, berdayasaing dan masyarakat yang sejahtera,

Misi Ketiga : Mewujudkan tata ruang kota yang berwawasan lingkungan, infrastruktur kota yang modern, serta

sesuai nilai budaya bangsa,

Misi Keempat : Mewujudkan penguatansektor industri dan peningkatan peran sektor jasa, perdagangan, pariwisata, alihkapal, maritim dan pertanian/ perikanan dalam menopang perekonomian daerah,

Misi Kelima : Mewujudkan penguatan ekonomi kerakyatan berbasis UMKM dan Koperasi yang bersinergi dengan kebutuhan industri dan pasar domestik, serta

Misi Keenam : Mewujudkan percepatan pembangunan di daerah kepulauan sebagai penopang dan penyangga perekonomian Kota Batam.

Dari beberapa misi Kepala Daerah Kota Batam tersebut yang sesuai dengan tugas pokok dan fungsi Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Batam adalah misi ke 5 yaitu

“Mewujudkan penguatan ekonomi kerakyatan berbasis UMKM dan Koperasi yang bersinergi dengan kebutuhan industri dan pasar domestik”.

Ada beberapa faktor penghambat dan pendorong yang mempengaruhi

tercapainya pelaksanaan program pada Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Batam, antara lain :

1. Faktor Penghambat

a. Mayoritas Usaha Mikro bergerak dalam berbagai sektor usaha, belum memiliki legalitas usaha sehingga sulit bersaing dalam mekanisme pasar.

b. Sulitnya Koperasi dan Usaha Mikro untuk mendapatkan lokasi usaha yang sesuai dengan peruntukannya.

c. Terbatasnya akses Koperasi dan Usaha Mikro terhadap sumberdaya produktif, terutama permodalan, bahan baku, teknologi, sarana prasarana dan informasi pasar.

d. Kurang tumbuhnya penciptaan wirausaha baru disebabkan pola pikir dan peluang usaha terhadap jiwa kewirausahaan masih rendah.

e. Masih rendahnya kompetensi para pengelola Koperasi dan Usaha Mikro.

f. Kecintaan masyarakat terhadap produk daerah sendiri masih kurang.

2. Faktor Pendorong

a. Tersedianya dukungan peningkatan kualitas SDM Koperasi dan Usaha Mikro baik dari APBD Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau dan Pemerintah Pusat.

b. Adanya bantuan peralatan bagi Usaha Mikro dalam mengembangkan usaha dengan tujuan menjadi Usaha Mikro yang sehat tangguh dan mandiri.

c. Memfasilitasi pengenalan produk melalui pameran yang diselenggarakan baik di dalam maupun luar daerah dengan tujuan dapat dikenalnya produk Koperasi dan Usaha Mikro secara luas.

d. Adanya fasilitasi klinik konsultasi bisnis bagi Koperasi dan Usaha Mikroyang inginberkonsultasi terhadap permasalahan yang dihadapi sepertipermodalan,jaringan pemasaran, produksi dan bahan.

3.3 TELAAH RENSTRA DINAS KOPERASI DAN USAHA MIKRO DAN RENSTRA PROVINSI.

Mengacu pada Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor : 47 tahun 2009 tentang Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara, bahwa Kementerian Koperasi dan UKM adalah menangani Urusan Pemerintahan DalamRangka Penajaman, Koordinasi, dan Sinkronisasi Program Pemerintah BidangKoperasi dan Usaha Mikro. Sesuai dengan kedudukan, tugas dan

“Menjadi Kementerian yang Kredibel Guna Mewujudkan Koperasi dan UMKM yang Tangguh dan Mandiri sebagai Soko Guru Perekonomian Nasional”.

Untuk mencapai visi di atas berikut dijabarkan ke dalam misi Kementerian Koperasidan UKMRI, yaitu :

1. Mengimplementasikan good governance (tata kelola pemerintahan yang baik);

2. Menumbuhkan dan rnengembangkan kewirausahaan Koperasi dan UMKM;

3. Meningkatkan daya saing Koperasi dan UMKM;

4. Mengembangkan pembiayaan dan penjaminan bagi Koperasi dan UMKM;

5. Meningkatkan kualitas kelembagaan Koperasi dan kesadaran berkoperasi.

Sedangkan tujuan Kementerian Koperasi dan UKM RIadalah sebagai berikut : 1. Peningkatan jumlah dan peran Koperasi dan UMKM dalam

perekonomian Nasional, melalui :

- Meningkatkan jumlah Koperasi yang sehat, kuat dan dipercaya.

- Meningkatkan peran dan kontribusi Koperasi dan UMKM dalam perekonomian Nasional.

2. Peningkatan Pemberdayaan Koperasi dan UMKM, melalui:

o Mengembangkan kebijakan dan programprogram pemberdayaan Koperasi dan UMKM berdasarkan hasil kajian.

o Meningkatkan kualitas pengelolaan dan keterampilan 5DM Koperasi dan UMKM.

3. Peningkatan Daya Saing Produk Koperasi dan UKM melalui meningkatkan kemampuan Koperasi dan UKM dalam mengembangkan produk - produk kreatif, inovatif, berkualitas dan berdaya saing.

4. Peningkatan Pemasaran Produk Koperasi dan UKM melalui meningkatkan kelembagaan dan jaringan pemasaran serta pangsa pasar produk Koperasi dan UKM.

5. Meningkatkan Akses Pembiayaan dan Penjaminan Koperasi dan UMKM melalui penyediaan skema dan memperluas akses pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan Koperasi dan UMKM.

6. Pengembangan Wirausaha Koperasi dan UMKM baru melalui : - Menumbuhkan wirausaha baru yang inovatif.

- Meningkatkan kesadaran berwirausaha sebagai budaya dan mengembangkan kewirausahaan dikalangan masyarakat.

7. Perbaikan Iklim Usaha yang lebih berpihak kepada Koperasi dan UMKM melalui:

o Meningkatkan kuatitas layanan publik yang transparan, akuntabel dan kredibel.

o Menyediakan peraturan perundang-udangan yang lebih berpihak pada Koperasi dan UKM.

Dari tujuan tersebut, maka disusun sasaran strategis Kementerian Koperasi dan UKM RI sebagai berikut :

1. Peningkatan jumlah dan peran Koperasi dan UMKM dalam perekonomian Nasional dengan :

a. Meningkatkan Koperasi berkualitas (10%) dan tumbuhnya (5%) jumlah Koperasi aktif secara Nasional.

b. Meningkatnya jumlah Koperasi aktif (55%) yang melaksanakan RAT.

c. Meningkatnya produktifitas UMKM (5%) per tahun.

d. Meningkatnya sumbangan UMKM dalam pembentukan PDB (6%) pertahun.

e. Meningkatnya rata-rata jumlah penyerapan tenaga kerja Koperasi dan UMKM sebesar (5%) per tahun.

f. Meningkatnya rata-rata nilai investasi Koperasi dan UMKM sebesar 10% per tahun.

g. Meningkatnya nilai ekspor produk UMKM (15%) per tahun.

2. Peningkatan Pemberdayaan Koperasi dan UMKM dengan:

a. Meningkatnya jumlah SDM Koperasi dan UMKM yang mengikuti Diklat.

b. Terselenggaranya diklat kewirausahaan bagi para sarjana calon wirausaha.

c. Meningkatnya jumlah tempat praktek keterampilan usaha pada lembaga pendidikan pedesaan.

d. Tumbuh dan berkembangnya Lembaga diklat bagi Koperasi danUMKM.

e. Tersedianya model-model praktek terbaik (best practices) Internasional bagi pemberdayaan Koperasi.

f. Berkembangnya Koperasi dan UMKM dalam penerapan Informasi Teknologi dan teknologi tepat guna.

g. Pengembangan kemitraan Koperasi dan UMKM dengan pelaku usaha melalui Meningkatnya jumlah dan kualitas kemitraan usah.

3.Daya Saing Produk Koperasi dan UMKM dengan:

a. Meningkatnya penggunaan produk Koperasi dan UMKM dalamnegeri.

b. Menjaga 65% pangsa pasar Koperasi dan UMKM di bidang bisnisretail.

c. Meningkatnya ekspor non migas UMKM sehingga pangsa terhadap ekspornon migas nasional minimal sebesar 20% pertahun.

4. Peningkatan pemasaran produk Koperasi dan UMKM dengan:

a. Tumbuh dan berkembanganya trading house di seluruh Provinsi.

b. Meningkatnya kualitas sarana dan prasarana produksi dan pemasaran.

c. Meningkatnya promosi produk Koperasi dan UMKM.

d. Meningkatnya jumlah dan kualitas warung retail modern milik Koperasi dan UMKM.

e. Memperkuat pemasaran produk Koperasi dan UMKM di sentra-sentra termasuk daerah tertinggal, terisolir dan perbatasan.

f. Mewujudkan Smesco UKM menjadi Icon Industri Kreatif danpemberdayaan Koperasi dan UMKM Nasional.

5. Penyediaan akses pembiayaan dan penjaminan bagi Koperasi dan UMKM dengan:

a. Tersedianya SKIM pembiayaan yang mudah, terjangkau dan cepat, dan penjaminan bagi Koperasi dan UMKM.

b. Meningkatnya jumlah dan kualitas KSP/USP dan Lembaga pembiayaan lainnya.

c. Meningkatnya penyelenggaraan, pengembangan dan pengawasanKSP/USP.

d. Memperkuat permodalan bagi produk Koperasi dan UMKM di sentra-sentra termasuk daerah tertinggal, terisolir dan perbatasan.sentra-sentra termasukdaerah tertinggal, terisolir dan perbatasan.

6. Perbaikan iklim usaha yang lebih berpihak pada Koperasi dan UMKM dengan:

a. Terselenggaranya penataan birokrasi dan tata pemerintahan yangefektif, efisien dan bertanggung jawab.

b. Tersedia dan terlaksananya peraturan perundang-undangan dan kebijakan yang berpihak pada pemberdayaan Koperasi dan UMKM.

c. Terciptanya keselarasan program dan kegiatan dalam pemberdayaan Koperasi dan UKM melalui koordinasi lintas sektoral di tingkat pusat,Provinsi, Kabupaten dan Kota.

d. Tersedianya kajian dasar, kebijakan dan terapan yang prospektif dalam pemberdayaan Koperasi dan UMKM.

7. Pengembangan wirausaha Koperasi dan UKM baru dengan:

a. Terciptanya 5.000 wirausaha baru dan kalangan sarjana.

b. Tersedianya modul-modul untuk meningkatkan kesadaran berwirausaha

3.4 TELAAH RENCANA TATA RUANG WILAYAH DAN KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS

Kegiatan industri di Kota Batam dalam jangka waktu 20 tahun mendatang diarahkan untuk mendorong pertumbuhan wilayah Batam lebih pesat.

Kegiatan industri secara simultan direncanakan mempunyai kontribusi terhadap:

a. Perkembangan perekonomian masyarakat Batam melalui penyerapan tenaga lokal.

b. Mendorong diversifikasi kegiatan yang mendorong berkembangnya potensi lokal khususnya di sektor pariwisata,Industri Galangan dan Industri Elektronik serta Kemaritiman di Kota Batam.

c. Memberikan dampak berganda terhadap kegiatan di sektor perdagangan dan transportasi.

Struktur kegiatan industri di Kota Batam meliputi : a.IndustriGalangan Kapal merupakan industri besar b.IndustriElektronik

c.Industri Pariwisata

1. Industri Skala Menengah Dan Besar

Pengembangan kegiatan industri berdasarkan skala kegiatan meliputi kegiatanindustri kecil, menengah dan besar.Kegiatan industri skala menengah hingga besar diarahkan dalam beberapa kawasan.

Kegiatan industri skala menengah dan besar direncanakan berupa industri Galangan dan Industri Pariwisata.Pengembangan kegiatan industri skala besar diarahkan di Kecamatan Sagulung, Batu Ampar Dan Kecamatan Nongsa

Kegiatan industri Elektronik menengah diarahkan di Kecamatan Sekupang, Batam Kota, Sungai Beduk, Lubuk Baja dan Batu Ampar

2. Rencana Pengembangan Kegiatan Industri

Rencana pengembangan kegiatan industri yang tergolong dalam kegiatan pendukung sektor Pariwisata dan Kemaritiman di Kecmatan Galang, Nongsa, Bulang dan Belakang Padang.

3. Kegiatan Industri Kecil

Beberapa industri kecil manufaktur yang dapat merambah pasar luar negeri dannasional kembali didorong.

a. Industri kecil yang merambah pasar luar negeri adalah industri kerajinan Tangan

b. Industri kecil lain yang dipasarkan di tingkat nasional antara lain adalah, anyaman tas, batik, kerupuk, makanan ringan dll

4. Pengembangan Kegiatan Industri

Pengembangan kegiatan industri berdasarkan sifatnya adalah sebagai berikut:

kegiatan Industri kimia polutif dan kegiatan industri lain yang memberikan dampak limbah yang mengganggu lingkungan diarahkan masuk di kawasan industrial estate, dengan pengelolaan limbah secara terpadu.

Struktur kegiatan sektor perdagangan di Kota Batam meliputi : a.PerdaganganJasa

b.Perdagangan Umum

Kegiatan sektor perdagangan yang dikembangkan di wilayah Kota Batam berdasarkan jenis kegiatannya meliputi perdagangan khusus Jasa dan perdagangan Umum.

3.5 PENENTUAN ISU-ISU STRATEGIS

Dalam hal penentuan isu-isu strategis Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Batam, perlu dicermati beberapa persoalan yang dihadapi dalam menjalankan tugas dan fungsi dinas, terkait beberapa persoalan yang ada dapat ditentukan isu-isu strategis yang meliputi:

Isu Strategis Bidang Koperasi.

Guna meningkatkan daya saing Koperasi perlu dilakukan usaha-usaha sebagai berikut :

1. Mengembangkan usaha koperasi yang berbasis komputerisasi. Hal ini akan mendukung kelancaran kegiatan Koperasi dalam administrasinya, baik sector usaha simpan pinjam maupun Waserdanya. Dengan demikian pengelolaan administrasi bisa terarah, seperti perusahaan profesional lainnya, yang pada akhirnya akan dapat menggairahkan anggota untuk terus berminat pada Koperasi.

2. Mengurangi kredit macet koperasi, dengan pengelolaan pengurus yang

memahami hakikat berkoperasi, dan bisa mengayomi anggota secara utuh, sehingga anggota merasa ada kepemilikan terhadap koperasi, dan bersama-sama membangun koperasi.

3. Meningkatkan kemampuan pegawai koperasi dalam hal manajemen, akuntansi dan kemapuan lainnya yang menunjang keberlangsungan koperasi.

4. Meningkatkan pemahaman anggota koperasi akan nilai-nilai kebaikan dan keuntungan berkoperasi.

Isu Strategis Bidang UMKM

1. Rendahnya tingkat pengetahuan pelaku UMKM akan pemasaran,manajemen, teknologi, kesehatan lingkungan, dan akses kredit.

2. Rendahnya tingkat promosi yang di lakukan UMKM baik dalam daerah sendiri maupun luar daerah, di mana UMKM hanya mengharapkan promosi yang di kakukan pemerintah daerah, padahal Pemerintah pun memiliki anggaran terbatas dalam rangka promosi ini. Hal ini menyebabkan perkembangan produk UMKM di Kota Batam hanya berkembang dari mulut ke mulut saja.

3. Rendahnya akses UMKM terhadap Modal khususnya Perbankan, adapun Program KUR (Kredit Usaha Rakyat) yang seharusnya memudahkan UMKM dalam akses dana ternyata tidak dapat menjangkau seluruh lapisan usaha kecil menengah, khususnya usaha mikro. Dimana KUR masih meminta jaminan pinjaman (agunan), sementara kita ketahui karena tidak punya agunanlah, makanya akses mereka terhadap modal tidak ada. Selain itu tingkat bunga yang di tawarkan KUR masih tinggi (7%) pertahun, yang jelas

lebih tinggi dari program Dana Bergulir yang di tawarkan BLUD Kota Batam (6%) pertahun, sehingga masyarakat tidak berminat pada KUR, dan rela mengantri Dana Bergulir, yang nota bene memiliki modal yang terbatas.

BAB IV

VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN STRATEGI DAN KEBIJAKAN SASARAN DAN PROGRAM

4.1 VISI DAN MISI DINAS KOPERASI DAN USAHA MIKRO KOTA BATAM

Dalam rangka mendukung Visi dan Misi Pemerintah Kota Batam tersebut, maka Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Batam merumuskan dan menetapkan Visi dan Misi sebagai berikut.

Visi Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Batam

Dalam rangka mendukung Visi dan Misi Pemerintah Kota Batam tersebut, maka Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Batam merumuskan dan menetapkan Visi sebagai berikut :

“Terwujudnya Koperasi dan Usaha Mikro yang Tangguh, Mandiri, serta berdaya saing dalam memperkuat ketahanan ekonomi kerakyatan .”

Misi Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Batam

Visi ini dimaksudkan untuk mewujudkan pemberdayaan, pengembangan dan pertumbuhan ekonomi kerakyatan yang tangguh, mandiri serta berdaya saing.

Untuk mewujudkan Visi Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Batam, dirumuskan dan ditetapkan Misi yang akan di laksanakan oleh OPD sebagai berikut :

1. Mewujudkan Sumber Daya aparatur yang bertakwa, berdaya saing dan professional.

2. Mewujudkan Koperasi dan Usaha Mikroyang memiliki daya saing dalam pasar domestik maupun regional.

3. Menumbuhkembangkan Wirausaha baru, perluasan kesempatan kerja dan meningkatkan keunggulan kompetitif melalui fasilitasi sarana dan prasarana serta perluasan jaringan usaha bagi Koperasi dan Usaha Mikro.

4. Meningkatkan kapabilitas kelembagaan, kualitas SDM serta Struktur Permodalan dan Fasilitasi Pembiayaan Koperasi dan Usaha Mikro sehingga menjadi pelaku usaha yang kuat, sehat, tangguh,dan mandiri.

4.2 TUJUAN DAN SASARAN JANGKA MENENGAH DINAS KOPERASI DAN USAHA MIKRO KOTA BATAM

Tujuan Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Batam

Tujuan Dinas Koperasi dan Usaha Mikro adalah Meningkatkan Pemberdayaan ekonomi masyarakat yang tangguh & mandiri dengan jiwa kewirausahaan yang tinggi melalui pemberdayaan usaha mikro, kecil, menengah dan koperasi serta sektor informal lainnya.

Adapun Sasaran jangka menengah Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kota Batam adalah:

Berkembangnya sentra industri potensial, industri kreatif, industri kecil menengah dan UMKM serta terjaganya stabilitas harga dan ketersediaan pangan

4.3. STRATEGI DAN KEBIJAKAN DINAS KOPERASI DAN USAHA MIKRO KOTA BATAM

Sehubungan dengan kualitas sumber daya manusia kemampuan dan pemahamam terhadap persoalan-persoalan dalam usaha koperasi dan usaha mikro tingkat pengangguran dan kemiskinan merupakan kendala pembangunan perekonomian. Kondisi semacam ini akan berubah pada kehidupan sosial dan budaya masyarakat, di kota Batam sendiri mempunyai kekuatan sebagai modal karena letak geografis kota Batam sebagai pintu masuk arus perekonomian, keragaman budaya dan jumlah tenaga kerja yang cukup.

Sehubungan dengan kualitas sumber daya manusia kemampuan dan pemahamam terhadap persoalan-persoalan dalam usaha koperasi dan usaha mikro tingkat pengangguran dan kemiskinan merupakan kendala pembangunan perekonomian. Kondisi semacam ini akan berubah pada kehidupan sosial dan budaya masyarakat, di kota Batam sendiri mempunyai kekuatan sebagai modal karena letak geografis kota Batam sebagai pintu masuk arus perekonomian, keragaman budaya dan jumlah tenaga kerja yang cukup.

Dalam dokumen RENCANA STRATEGIS (Halaman 47-0)

Dokumen terkait