• Tidak ada hasil yang ditemukan

SUMBER-SUMBER HUKUM TATA NEGARA

2. TAP MPRS/MPR

3. UU/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang 4. Peraturan Pemerintah

5. Keputusan Presiden

6. Peraturan-peraturan pelaksanaan lainnya seperti : - Peraturan Menteri

- Instruksi /Menteri , dan lain-lainnya.

45 Maria Farida indrati S, Ilmu Perundang-undangan (dasar-dasar dan pembentukannya), kanisius,Yogyakarta,1998, hal 47

TAP MPRS No. XX/MPRS/1966 ini membawa dampak yang besar bagi penertiban peraturan perundang-undangan yang berlaku pada saat itu. Dengan keluarnya TAP MPRS ini menjadi jelas peraturan apa saja yang berlaku dalam ketatanegaraan Republik Indonesia pada masa itu. Hal ini disebabkan tata urutan tersebut menunjukkan tingkatan masing-masing bentuk peraturan tersebut, dimana aturan yang lebih tinggi tingkatannya maka kedudukannya lebih tinggi dan konsekwensi hukumnya aturan yang lebih rendah tingkatnnya tidak boleh bertentangan dengan aturan yang lebih tinggi kedudukan dan bentuknya.

Namun TAP MPRS ini masih belum lengkap disebabkan ditemukan aturan-aturan lain seperti Keputusan Menteri, Keputusan lembaga nondepartemen, Peraturan Daerah, dan keputusan Kepala Daerah. Disamping itu TAP MPRS tersebut juga memuat kata-kata “dan lain-lain” yang dapat membuat salah dalam penafsiran.46. kalau dalam kata “dan lain-lain “ termasuk pula keputusan Menteri, dan kedudukan keputusan menteri menjadi setara dengan instruksi menteri . Selanjutnya menurut Rosjidi Ranggawidjaya “ intruksi menteri” bukanlah termasuk peraturan perundang-undangan47.

Beberapa hal tentang TAP MPRS No. XX/MPRS/1966 yang perlu disempurnakan menurut Maria Farida Indrati S, antara lain sebagai berikut :48

1. Undang-Undang Dasar 1945 tidak tepat kalau dikatakan sebagai peraturan

perundang-undangan oleh karena Undang-Undang Dasar 1945 terdiri dari dua

kelompok norma hukum yakni Pembukaan UUD 1945 merupakan

Staatsfundamentalnorm atau norma Fundamental Negara. Norma fundamental negara

46 Ni‟matul huda, hukum tata negara Indonesia, op.cit hal 39

47 Rosdjidi Ranggawidjaya, Pedoman Teknik Perancangan Peraturan Perundang-undangan , Cita Bakti Akademika, Bandung,1996 hal 17

ini merupakan norma hukum tertinggi yang bersifat pre-supposed dan merupakan landasan filosofis yang mengandung kaidah-kaidah dasar bagi pengaturan negara itu lebih lanjut. Sifat norma hukumnya masih secara garis besar dan merupakan norma hukum tunggal, dalam arti belum dilekati oleh norma hukum skunder.

2. Ketetapan MPR merupakan Staatgroundgesetz atau aturan dasar negara/aturan Pokok Negara. Seperti halnya Batang Tubuh UUD 1945, Ketetapan MPR ini juga berisi garis-garis besar atau pokok-pokok kebijaksanaan negara, sifat norma hukumnya masih secara garis besar, merupakan norma hukum tunggal dan tidak dilekati oleh hukum skunder. Oleh karena itu baik UUD 1945 yang terdiri dari atas Pembukaan dan Batang Tubuhnya maupun Ketetapan MPR tidak termasuk dalam Peraturan Perundang-undangan, tetapi termasuk dalam staatsfundamentalnorm dan staatsgrundgesetz. Sehingga menempatkan keduanya kedalam jenis Peraturan Perundang-undangan adalah sama dengan menempatkannya terlalu rendah. Undang-Undang Dasar disebut juga Staatsgrundgesetz, diterjemahkan dengan Aturan Dasar negara atau aturan Pokok Negara. Sifat-sifatnya sebagai norma konstitusi ia mengatur lembaga-lembaga tertinggi negara, tata cara pembentukannya , tata hubungan sesamanya, dan lingkup tugas masing-masing serta secara dasar tata hubungan antara warga negara dengan negara secara timbal balik. Berbeda dengan norma Undang-Undang yang disebut dengan formell gesetz, selain mengatur warga negara dan penduduk secara langsung, juga dapat melekatkan sanksi pidana dan sanksi pemaksa terhadap pelanggar normanya.

3. keputusan Presiden di dalam Ketetapan MPRS No. XX/MPRS/1966 merupakan peraturan perundang-undangan yang bersifat einmahlig, pada dasarnya keputusan

Presiden dapat bersifat einmahlig maupun bersifat deurhaftig. Keputusan Presiden yang bersifat einmahlig adalah yang bersifat ketetapan (beschikking) , dimana sifat normanya individual, konkret dan sekali selesai (einmahlig), sedangkan norma dari suatu Peraturan perundang-undangan selalu bersifat umum, abstrak, dan berlaku terus-menerus (deurhaftig) . dengan demikian, sebenarnya yang termasuk peraturan perundang-undangan adalah justru Keputusan Presiden bersifat deurhaftig (berlaku terus menerus).

4. Peraturan Menteri sebaiknya diganti menjadi Keputusan Menteri oleh karena itu penyebutan Keputusan Menteri di sini dapat berarti secara luas, yaitu baik peraturan (regeling) maupun yang berisi penetapan (beschikking). Selain itu Keputusan menteri konsisten dengan Keputusan Presiden

5. penyebutan instruksi menteri sebagai Peraturan Perundang-undangan adalah tidak tepat karena suatu instruksi bersifat individual,konkret, serta harus ada hubungan atasan dan bawahan secara organisatoris,sedangkan sifat dari suatu norma hukum dalam peraturan perundang-undangan adalah umum, abstrak, dan berlaku terus menerus

6. dalam Ketetapan MPRS No. XX/MPRS/1966 ini tidak sisebutkan tentang Peraturan Daerah sebagai Peraturan Perundang-undangan, padahal Peraturan Daerah juga tearmasuk dalam jenis Peraturan Perundang-undangan dan tidak hanya merupakan peraturan pelaksana saja.

Seiring dengan perkembangan sistem pemerintahan daerah dengan otonomi daerah dan dalam upaya pembaharuan hukum maka diperlukan penataan kembali susunan herarkis

peraturan perundang-undangan , melalui sidang Tahunan MPR RI mengeluarkan TAP MPR No. III/MPR/2000 tentang Sumber Hukum dan Tata Urutan Perundang-undangan. Dengan ditetapkannya Ketetapan MPR tersebut maka Ketetapan MPRS No. XX/MPRS/1966 tentang Memorandum DPR-GR mengenai Sumber Tertib Hukum RI dan Ketetapan MPR RI No. IX/MPR/1978 tentang Penyempurnaan yang termaktub dalam Pasal 3 ayat (1) Ketetapan MPR RI No.V/MPR/1973 dicabut adinyatakan tidak berlaku lagi.

Tentang Tata Urutan Peraturan perundang-undangan mengandung beberapa prinsip sebagai berikut49 :

1. peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi kedudukannya dapat dijadikan landasan atau dasar hukum bagi peraturan perundang-undangan yang lebih rendah atau berada di bawahnya.

2. peraturan perundang-undangan tingkat lebih rendah harus bersumber atau memiliki dasar hukum dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi tingkatannya.

3.isi atau muatan peraturan perundang-undangan yang lebih rendah tiding boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi tingkatannya.

4. peraturan perundang-undangan hanya dapat dicabut apabila ada peraturan perundangan-undangan yang baru setara tingakatannya menyatakan mencabut atau telah ditetapkan atau peraturan yang lebih tinggi tingkatannya.

5. peratuan yang sejenis apabila mengatur hal yang sama maka peraturan yang baru harus diberlakukan walaupun tidak secara tegas dinyatakan peraturan yang lama dicabut.

6. peraturan yang materinya khusus lebih diutamakan dari peraturan perundang-undangan yang bersifat umum.

Namun dalam penerapan prinsip-prinsip tersebut tentu perlu adanya mekanisme untuk menjaga dan menjamin agar prinsip tersebut tidak disimpangkan atau dilanggar, yaitu melalui sistem pengujian secara yudicial atas setiap peraturan perundang-undangan, kebijakan, ataupun tindakan pemerintahan lainnya terhadap peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi tingkatannya yaitu UUD 194550.

Selanjutnya perkembangan dinamika ketatanegaraan RI, dengan terjadinya pergolakan di era reformasi pada tanggal 21 Mei 1998, Presiden Soeharto mengundurkan diri dan menyerahkan kepemimpinanya kepada wakil presiden yaitu Prof. Dr.Ing Bacharuddin Jusuf Habibie untuk menggantikannya. Seiiring dengan pergantian presiden terjadi proses euphoria politik yang luar biasa termasuk muncul gagasan untuk melakukan amandemen terhadap UUD 1945.

Tahun 2000, MPR mengeluarkan TAP No. III/MPR/2000 tentang Sumber Hukum dan Tata Urutan Peraturan Perundang-undangan. Dalam Pasal 3 Ketetapan MPR ditegaskan bahwa 51:

1. UUD 1945 merupakan hukum Dasar tertulis yang memuat dasar dan garis besar hukum dalam penyelenggaraan negara

2. ketetapan MPR merupakan putusan MPR sebagai pengemban kedaulatan rakyat yang ditetapkan dalam sidang MPR

3. Undang-Undangdibuat oleh DPR bersama Presiden untuk melaksanakan UUD 1945 dan Ketetapan MPR

4. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang dibuat oleh dalam hal kegentingan yang memaksa dengan ketentuan Peraturan Pemerintah Pengganti

50 Ni‟matul Huda, Hukum Tata negara…,opcit hal 47

Undang-Undang tersebut harus diajukan pada persidangan berikutnya kepada DPR, dan apabila DPR tidak setuju maka Peraturan pemerintah Penggati Undang-Undang tersebut harus dicabut,

5. Peraturan Pemerintah dibuat oleh pemerintah untuk melaksanakan perintah Undang-Undang

6. Keputusan Presiden yang sifatnya mengatur dibuat oleh Presiden untuk melaksanakan fungsi dan tugasnya berupa pengaturan pelaksanaan administrasi negara dan administrasi pemerintah

7. peraturan daerah merupakan peraturan untuk melaksanakan aturan hukum di atasnya dan menampung kondisi khusus dari daerah yang bersangkutan , dalam hal peraturan daerah propinsi maka dibuat oleh DPRD Propinsi bersama-sama dengan gubernur dan Peraturan Daerah Kabupaten/kota dibuat oleh DPRD kabupaten/kota bersama bupati/walikota.

Keluarnya TAP MPR No. III/MPR/2000 diharapkan dapat menyempurnakan TAP MPRS XX/MPRS/1966, disebabkan Tata susunan norma lebih jelas kedudukannya dan Peraturan daerah juga telah ditetapkan menjadi salah satu produk hukum, namun dapat dikritisi bahwa apakah sesuai dalam tata susunan norma Peraturan Pemerintah Pengganti UU terletak di bawah Undang-Undang?

Menurut Ni‟matul Huda , tata susunan TAP MPR No. III/MPR/2000 yang menempatkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang di bawah Undang-Undang52, hal ini sesuai dengan penjelasan Pasal 22 UUD 1945 menegaskan bahwa pasal ini mengenai “noodverordeningrecht” Presiden . Aturan sebagai inti memang perlu diadakan agar keadaan yang semakin genting atau yang memaksa pemerintah untuk bertindak cepat dan tepat.

Meskipun demikian, pemerintah tidak akan terlepas dari pengawasan DPR. Oleh karenanya peraturan pemerintah dalam pasal ini yang kekuatannya sama dengan undang-undang harus disyahkan pula oleh DPR.

Ditinjau dari sisi kekuatan hukum Undang-Undang dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang memiliki kekuatan yang sama , namun Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang hanya berlaku sementara sesuai dengan penjelasan di atas , Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang harus diajukan kepada DPR pada persidangan berikutnya dan apabila tidak disetujui maka Peraturan Pemerintah Pengganti Undang harus di cabut, dan apabila disetujui maka akan ditetapkan menjadi Undang-Undang oleh DPR . Dari proses tersebut menunjukkan bahwa Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang kedudukannya di bawah Undang-Undang disebabkan karena bersifat sementara dan dibentuk oleh Presiden sebagai pemegang kekuasaan Pemerintah53 bukan dibentuk oleh DPR sebagai lembaga pemegang kekuasaan membentuk Undang-Undang tanpa disetujui DPR , Undang-Undang tidak akan terbentuk54.

Pada tanggal 24 mei 2004, dalam peraturan perundang-undangan terjadi babak baru dimana DPR dan Pemerintah menyetujui Rancangan Undang-Undang tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan menjadi Undang-Undang yaitu Undang tentang Herarki Peraturan Perundang No. 10 Tahun 2004. Adapun herarki peraturan perundang-undangan menurut Undang-Undang ini sebagai berikut :

1. UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945

2. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti UU 3. Peraturan Pemerintah

53 UUD 1945 , pasal 4 (1)

4. Peraturan Presiden

5. Peraturan Daerah : (1). Perda Propinsi

(2). Perda Kabupaten/Kota

(3). Perdes/ Peraturan yang setingkat

Dalam UU tersebut Ketetapan MPR dihapuskan dan mengembalikan kedudukan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang setingkat dengan Undang-Undang.

Selanjutnya pada tanggal 12 Agustus 2011, kembali DPR bersama-sama dengan Pemerintah mengundangkan peraturan perundang-undangan tentang Pembentukan Peraturan perundang-undangan No. 12 Tahun 2011. Sehingga dengan keluarnya UU ini maka UU No. 10 tahun 2004 dicabut dan tidak berlaku lagi.

Dalam UU No. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan di Indonesia , yaitu sebagai berikut :

a.Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; b. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat;

c. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang d. Peraturan Pemerintah;

e. Peraturan Presiden;

f. Peraturan Daerah Propinsi ; dan g. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota.

Dari uraian perkembangan susunan peraturan perundang-undangan , yang perlu difahami bahwa hukum tatanegara memiliki ciri khas bahwa norma-norma atau aturan-aturan hukum tatanegara adalah mengenai struktur pemerintahan dan mekanisme aparatur

pemerintahan negara, baik pada tingkat Pemerintahan Pusat maupun pada tingkat Pemerintahan Daerah.55

Undang-Undang Dasar 1945 , merupakan dasar dari hukum tertulis di negara

Kesatuan Republik Indonesia yang memuat tentang dasar dan tujuan negara dalam pembukaannya, mengatur struktur pemerintahan, membagi tugas alat-alat perlengkapan negara (lembaga-lembaga tinggi negara dan lembaga independen lainnya) serta meletakkan dasar hukum bagi Pemerintahan Pusat dan Pemerintahan Daerah, dan sebagainya.

Sudah menjadi suatu ketentuan umum bahwa apabila ingin mengenal suatu pemerintahan di suatu negara maka dapat dipelajari melalui Konstitusi ataupun UUD negara yang bersangkutan. Namun mempelajari isi UUD ataupun Konstitusi saja tidak lah cukup karena pada umumnya UUD hanya mengatur secara garis-garis besarnya saja, maka hal-hal yang sifatnya lebih terinci akan diatur dalam bentuk peraturan yang tingkatannya lebih rendah dari UUD, seperti Ketetapan MPR, undang, Peraturan PemerintahPengganti Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Keputusan Presiden, Peraturan Mentri, Peraturan-Peraturan Daerah dan lainnya.(khusus tentang Undang-Undang Dasar Negara Republik Indoesia Tahun 1945 akan diatur di dalam Bab tersendiri)

Ketetapan MPR adalah bentuk putusan Majelis Permusyawaratan Rakyat yang

bersifat penetapan (beschikking) 56. Produk perundang-undangan ini sebahagian ahli hukum tatanegara menganggap bukan merupakan peraturan perundang-undangan disebabkan tidak disebutkan secara tegas didalam UUD 194557, namun sebagian menganggap termasuk dalam tata susunan norma hukum karena MPR merupakan salah satu lembaga tinggi negara dalam sistem ketatanegaraan Indonesia.

55 M.solly Lubis, Hukum Tatanegara, Mandar maju, Bandung, 2008, hal 38

56 Ejournal.unsrat.ac.id

Berdasarkan UU No. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan, Tap MPR kembali dicantumkan keberadaannya sebagai salah satu sumber hukum di Indoesia, dan sesuai dengan Herarkhinya , maka Tap MPR merupakan peraturan perundang-undangan yang kekuatan hukumnya lebih tinggi dari Undang-undang.

Tujuan pembentukan TAP MPR adalah untuk meninjau materi dan status hukum setiap TAP MPRS dan TAP MPR , menetapkan keberadaan (eksistensi)dari TAP MPRS dan TAP MPR untuk saat ini dan masa yang akan datang serta untuk memberi kepastian hukum. Dalam hal ini merujuk kepada TAP MPR No. I/MPR/2003 , TAP yang masih dinyatakan berlaku (1). TAP MPRS No. XXV/MPRS/1966 tentang membubarkan Partai Komunis Indonesia(PKI) dan melarang setiap kegiatan menyebarkan paham komunis, marxisme, dan leninisme; (2) TAP MPR No. XVI/MPR/1998 tentang Politik Ekonomi dalam rangka Demokrasi Ekonomi; (3) TAP MPR no. XVI/MPR/1998 tentang Penentuan Pendapat di Timur Timor.

Dalam Penjelasan Pasal 7 ayat (1) UU No. 12 Tahun 2011 ini disebutkan bahwa “ yang dimaksud dengan Ketetapan MPR adalah Ketetapan MPRS dan Ketetapan MPR yang masih berlaku sebagaimana Pasal 2 dan )Pasal 4 TAP MPR No. I/MPR/2003 tentang Peninjauan terhadap materi dan status hukum TAP MPRS dan TAP MPR Tahun 1960 sampai Tahun 2002”.

Undang-undang ialah suatu peraturan negara yang mempunyai kekuatan hukum yang

mengikat diadakan dan di pelihara oleh penguasa negara. Menurut Buys, undang-undang itu mempunyai dua arti, yakni :

1. Undang-undang dalam arti formal : ialah setiap keputusan pemerintah yang merupakan undang-undang karena cara pembuatannya (misalnya : dibuat oleh pemerintah bersama-sama dengan parlemen).

2. Undang-undang dalam arti materiil : ialah setiap keputusan pemerintah yang menurut isinya mengikat langsung setiap penduduk.

Syarat-syarat berlakunya suatu undang-undang

Syarat mutlak untuk berlakunya suatu undang-undang ialah diundangkan dalam lembaran negara (LN) oleh menteri/sekretaris negara (dahulu : menteri kehakiman).

Tanggal mulai berlakunya suatu undang-undang menurut tanggal yang ditentukan dalam undang-undang itu sendiri. Jika tanggal berlakunya itu tidak disebutkan dalam undang-undang, maka undang-undang itu mulai berlaku 30 hari sesudah diundangkan dalam LN untuk dan Madura, dan untuk daerah-daerah lainnya baru berlaku 100 hari setelah pengundangan dalam LN. Sesudah syarat tersebut dipenuhi, maka berlakulah suatu fictie dalam hukum : “setiap orang mengetahui adanya suatu undang-undang”. Hal ini berarti jika ada seseorang yang melanggar undang-undang tersebut, ia tidak diperkenankan membela atau membebaskan diri dengan alasan :” saya tidak tahu menahu adanya undang-undang itu”.

Berakhirnya kekuatan berlaku suatu undang-undang

Suatu undang-undang tidak berlaku lagi jika :

1. jangka waktu berlaku telah ditentukan oleh undang-undnag itu sudah lampau. 2. keadaan atau hal untuk mana undang-undang itu diadakan sudah tidak ada lagi,

3. undang-undang itu dengan tegas dicabut oleh instansi yang membuat atau instansi yang lebih tinggi,

4. telah diadakan undang yang baru yang isinya bertentangan dengan undang-undang yang dulu berlaku.

Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang adalah suatu peraturan

perundang-undangan ditetapkan oleh Presiden berdasarkan hal ikhwal kegentingan yang memaksa yang harus segera diatur karena pada saat itu Presiden tidak dapat mengaturnya dengan Undang-Undang yang membutuhkan waktu yang relative lama dan melalui prosedur yang bermacam-macam.

Pengertian “hal ikhwal yang memaksa” tersebut sebagaimana dalam Penjelasan Pasal 22 UUD 1945 mengenai noodverordeningsrecht atau “hak Presiden mengatur dalam kegentingan yang memaksa “. Lebih luas pengertian tersebut tidak selalu dihubungkan dengan hal bahaya, tetapi cukup kiranya apabila menurut keyakinan Preside nada keadaan yang mendesak, dan keadaan itu perlu segera diatur dengan peraturan yang mempunyai derajat Undang-Undang58.

Perbedaan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang dengan Undang-Undang adalah bahwa Undang-Undang dibentuk oleh DPR bersama-sama dengan Presiden dan dalam keadaan normal, sedangkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang dibentuk oleh Presiden dalam keadaan kegentingan yang memaksa. Selanjutnya PERPU juga harus dibicarakan dalam sidang berikutnya dan apabila disetujui maka PERPU berubah menjadi UU sedangkan apabila tidak disetujui maka PERPU harus dicabut.

Peraturan Pemerintah adalah peraturan perundang-undangan yang dibentuk

berdasarkan perintah Pasal 5 ayat (2) UUD 1945, yang berbunyi sebagai berikut :

“Presiden menetapkan peraturan Pemerintah untuk menjalankan UU sebagaimana mestinya “.

Peraturan pemerintah ini berisi peraturan-peraturan untuk menjalankan undang-undang, atau dengan kata lain Peraturan Pemerintah merupakan Peraturan-peraturan yang dibuat untuk melaksanakan Undang-Undang (delegatie van wetgevings) , sehingga apabila Undang-Undangnya belum ditetapkan maka tidak mungkin ada Peraturan Pemerintahnya, namun Peraturan Pemerintah dapat dibentuk meskipun di dalam Undang-Undang tidak secara tegas disebutkan diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah.

Peraturan Presiden adalah peraturan perundang-undangan yang ditetapkan Presiden

untuk menjalankan perintah Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi atau dalam menyelenggarakan kekuasaan pemerintahan. dalam penyusunan peraturan Presiden sesuai dengan Undang-Undang No. 12 Tahun 2011 , Presiden membentuk pemrakarsa yang berasal dari Kementrian Departemen maupun non departemen.

Peraturan daerahPropinsi adalah Peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Propinsi dengan Persetujuan bersama Kepala Daerah (Gubernur). Materi muatan Perda Propinsi berisi materi muatan dalam rangka penyelenggara otonomi daerah dan tugas pembantuan serta menampung kondisi khusus daerah dan/atau penjabaran lebih lanjut Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi.

Peraturan daerah Kabupaten/Kota adalah peraturan yang berlaku di Kabupaten/Kota

tersebut yang dibentuk oleh DPRD kabupaten/Kota dengan Persetujuan Bersama Bupati/Walikota. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota tidak subordinat terhadap Peraturan Daerah Propinsi. Materi muatan Peraturan daerah Kabupaten/Kota berisi materi muatan dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan serta menampung kondisi khusus daerah dan/atau penjabaran lebih lanjut Peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi .

Latihan :

1. jelaskan hal-hal apa saja yang menjadi sumber hukum Tata negara di Indonesia!

2. jelaskan pengertian sumber hukum formil, sumber hukum materil, sumber hukum sosiologis, berikan contohnya!

3. jelaskan tata urutan perundang-undangan menurut Undang-undang no 12 Tahun 2011 dan jelaskan materi muatan dari peraturan perundang-undangan tersebut!

4. jelaskan kapan suatu undang-undang itu berakhir !

BAB III

UUD 1945 SEBAGAI SUMBER HUKUM KETATANEGARAAN REPUBLIK