• Tidak ada hasil yang ditemukan

(1) Rancangan peraturan daerah dapat berasal dari DPRD atau Walikota.

(2) Rancangan peraturan daerah yang berasal dari DPRD atau Walikota disertai penjelasan atau keterangan dan/atau naskah akademik.

(3) Rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan berdasarkan program legislasi daerah.

(4) Dalam keadaan tertentu, DPRD atau Walikota dapat mengajukan rancangan peraturan daerah di luar program legislasi daerah.

Pasal 102

(1) Rancangan peraturan daerah yang berasal dari DPRD dapat diajukan oleh anggota DPRD, Komisi, gabungan Komisi, atau Badan Legislasi Daerah.

(2) Rancangan peraturan daerah yang diajukan oleh anggota DPRD, Komisi, gabungan Komisi, atau Badan Legislasi Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan secara tertulis kepada Pimpinan DPRD disertai dengan penjelasan atau keterangan dan/atau naskah akademik, daftar nama dan tandatangan pengusul, dan diberikan nomor pokok oleh Sekretariat DPRD.

(3) Rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) oleh Pimpinan DPRD disampaikan kepada Badan Legislasi Daerah untuk dilakukan pengkajian. (4) Pimpinan DPRD menyampaikan hasil pengkajian Badan Legislasi Daerah

sebagaimana dimaksud pada ayat (3) kepada rapat paripurna DPRD.

(5) Rancangan peraturan daerah yang telah dikaji oleh Badan Legislasi Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (4) disampaikan oleh Pimpinan DPRD kepada

semua anggota DPRD selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari sebelum rapat paripurna DPRD.

(6) Dalam rapat paripurna DPRD sebagaimana dimaksud pada ayat (5): a. pengusul memberikan penjelasan;

b. fraksi dan anggota DPRD lainnya memberikan pandangan; dan

c. pengusul memberikan jawaban atas pandangan fraksi dan anggota DPRD lainnya.

(7) Rapat paripurna DPRD memutuskan usul rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2), berupa:

a. persetujuan;

b. persetujuan dengan pengubahan; atau c. penolakan.

(8) Dalam hal persetujuan dengan pengubahan, DPRD menugasi Komisi, gabungan Komisi, Badan Legislasi Daerah, atau panitia khusus untuk menyempurnakan rancangan peraturan daerah tersebut.

(9) Rancangan peraturan daerah yang telah disiapkan oleh DPRD disampaikan dengan surat Pimpinan DPRD kepada Walikota.

Pasal 103

(1) Rancangan peraturan daerah yang berasal dari Walikota diajukan dengan surat Walikota kepada Pimpinan DPRD.

(2) Rancangan peraturan daerah yang berasal dari Walikota disiapkan dan diajukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 104

Apabila dalam satu masa sidang Walikota dan DPRD menyampaikan rancangan peraturan daerah mengenai materi yang sama, maka yang dibahas adalah rancangan peraturan daerah yang disampaikan oleh DPRD, sedangkan rancangan peraturan daerah yang disampaikan oleh Walikota digunakan sebagai bahan untuk dipersandingkan.

Pasal 105

(1) Rancangan peraturan daerah yang berasal dari DPRD atau Walikota dibahas oleh DPRD dan Walikota untuk mendapatkan persetujuan bersama.

(2) Pembahasan rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan melalui 2 (dua) tingkat pembicaraan, yaitu pembicaraan tingkat I dan pembicaraan tingkat II.

(3) Pembicaraan tingkat I sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi:

a. Dalam hal rancangan peraturan daerah berasal dari Walikota dilakukan dengan kegiatan sebagai berikut:

1. penjelasan Walikota dalam rapat paripurna mengenai rancangan peraturan daerah;

2. pemandangan umum fraksi terhadap rancangan peraturan daerah; dan 3. tanggapan dan/atau jawaban Walikota terhadap pemandangan umum fraksi. b. Dalam hal rancangan peraturan daerah berasal dari DPRD dilakukan dengan

kegiatan sebagai berikut:

1. penjelasan pimpinan Komisi, pimpinan gabungan Komisi, pimpinan Badan Legislasi Daerah, atau pimpinan panitia khusus dalam rapat paripurna mengenai rancangan peraturan daerah;

2. pendapat Walikota terhadap rancangan peraturan daerah; dan 3. tanggapan dan/atau jawaban fraksi terhadap pendapat Walikota.

c. Pembahasan dalam rapat Komisi, gabungan Komisi, atau panitia khusus yang dilakukan bersama dengan Walikota atau pejabat yang ditunjuk untuk mewakilinya.

(4) Pembicaraan tingkat II sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi: a. Pengambilan keputusan dalam rapat paripurna yang didahului dengan:

1. penyampaian laporan pimpinan Komisi / pimpinan gabungan Komisi/pimpinan panitia khusus yang berisi proses pembahasan, pendapat fraksi dan hasil pembicaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf c; dan

2. permintaan persetujuan dari anggota secara lisan oleh pimpinan rapat paripurna.

b. Pendapat akhir Walikota.

(5) Dalam hal persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf a angka 2 tidak dapat dicapai secara musyawarah untuk mufakat, keputusan diambil berdasarkan suara terbanyak.

(6) Dalam hal rancangan peraturan daerah tidak mendapat persetujuan bersama antara DPRD dan Walikota, rancangan peraturan daerah tersebut tidak boleh diajukan lagi dalam persidangan DPRD masa itu.

Pasal 106

(1) Rancangan peraturan daerah dapat ditarik kembali sebelum dibahas bersama oleh DPRD dan Walikota.

(2) Penarikan kembali rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) oleh DPRD, dilakukan dengan keputusan Pimpinan DPRD dengan disertai alasan penarikan.

(3) Penarikan kembali rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) oleh Walikota, disampaikan dengan surat Walikota disertai alasan penarikan.

(4) Rancangan peraturan daerah yang sedang dibahas hanya dapat ditarik kembali berdasarkan persetujuan bersama DPRD dan Walikota.

(5) Penarikan kembali rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (4) hanya dapat dilakukan dalam rapat paripurna DPRD yang dihadiri oleh Walikota.

(6) Rancangan peraturan daerah yang ditarik kembali tidak dapat diajukan lagi pada masa sidang yang sama.

Pasal 107

(1) Rancangan peraturan daerah yang telah disetujui bersama oleh DPRD dan Walikota disampaikan oleh Pimpinan DPRD kepada Walikota untuk ditetapkan menjadi peraturan daerah.

(2) Penyampaian rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam jangka waktu paling lambat 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal persetujuan bersama.

Pasal 108

(1) Rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 107 ditetapkan oleh Walikota dengan membubuhkan tanda tangan paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak rancangan peraturan daerah tersebut disetujui bersama oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Walikota.

(2) Dalam hal rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak ditandatangani oleh Walikota paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak rancangan peraturan daerah tersebut disetujui bersama, rancangan peraturan daerah tersebut sah menjadi peraturan daerah dan wajib diundangkan dalam lembaran daerah.

(3) Dalam hal sahnya rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2), maka kalimat pengesahannya berbunyi: Peraturan Daerah ini dinyatakan sah.

(4) Kalimat pengesahan yang berbunyi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus dibubuhkan pada halaman terakhir peraturan daerah sebelum pengundangan naskah peraturan daerah ke dalam lembaran daerah.

(5) Peraturan daerah berlaku setelah diundangkan dalam lembaran daerah.

(6) Peraturan daerah yang berkaitan dengan APBD, pajak daerah, retribusi daerah, dan tata ruang daerah sebelum ditetapkan harus dievaluasi oleh Gubernur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(7) Peraturan daerah setelah diundangkan dalam lembaran daerah harus disampaikan kepada Gubernur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Bagian Kedua

Penyusunan dan Penetapan, serta Penyebarluasan Prolegda Paragraf 1

Penyusunan dan Penetapan Pasal 109

(1) Penyusunan Prolegda antara DPRD dan pemerintah daerah dikoordinasikan oleh Badan Legislasi Daerah.

(2) Penyusunan Prolegda di lingkungan DPRD dikoordinasikan oleh Badan Legislasi Daerah.

Pasal 110

(1) Badan Legislasi Daerah Daerah dalam menyusun Prolegda di lingkungan DPRD dilakukan dengan mempertimbangkan usulan dari fraksi , Komisi, dan/atau masyarakat.

(2) Badan Legislasi Daerah meminta usulan dari fraksi , atau Komisi paling lambat 1 (satu) masa sidang sebelum dilakukan penyusunan Prolegda sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

(3) Usulan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan oleh fraksi , atau Komisi paling lambat 20 (dua puluh) hari kerja dalam masa sidang sebelum dilakukan penyusunan Prolegda.

(4) Usulan dari fraksi atau Komisi disampaikan oleh Pimpinan fraksi atau Pimpinan Komisi kepada Pimpinan Badan Legislasi Daerah .

(5) Usulan dari masyarakat disampaikan kepada Pimpinan Badan Legislasi Daerah. (6) Usulan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan secara tertulis dengan

menyebutkan judul rancangan peraturan daerah disertai dengan alasan yang memuat:

a. urgensi dan tujuan penyusunan; b. sasaran yang ingin diwujudkan;

c. pokok pikiran, lingkup, atau obyek yang akan diatur; dan d. jangkauan serta arah pengaturan.

(7) Judul sebagaimana dimaksud pada ayat (6) diinventarisasi oleh Sekretaris Badan Legislasi Daerah, selanjutnya dibahas dan ditetapkan oleh Badan Legislasi Daerah untuk menjadi bahan koordinasi dengan sekretaris daerah.

Pasal 111

Dalam penyusunan Prolegda sebagaimana dimaksud dalam pasal 110 ayat (1), Badan Legislasi Daerah Daerah dapat mengundang pimpinan fraksi , pimpinan Komisi, dan/atau masyarakat.

Pasal 112

(1) Badan Legislasi Daerah Daerah melakukan koordinasi dengan sekretaris daerah guna menyusun dan menetapkan Prolegda untuk jangka waktu tertentu.

(2) Prolegda untuk jangka waktu tertentu terdiri atas: a. Prolegda jangka panjang 20 (dua puluh) tahun; b. Prolegda jangka menengah 5 (lima) tahun; dan c. Prolegda prioritas tahunan.

(3) Penyusunan dan penetapan Prolegda jangka panjang dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

(4) Penyusunan dan penetapan Prolegda jangka menengah dilakukan pada awal masa keanggotaan DPRD sebagai pelaksanaan Prolegda jangka panjang.

(5) Prolegda jangka menengah dapat dievaluasi setiap akhir tahun bersamaan dengan penyusunan dan penetapan Prolegda prioritas tahunan.

(6) Penyusunan dan penetapan Prolegda prioritas tahunan sebagai pelaksanaan Prolegda jangka menengah dilakukan setiap tahun sebelum penetapan rancangan peraturan daerah tentang anggaran pendapatan dan belanja daerah.

(7) Penyusunan dan penetapan Prolegda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan kegiatan:

a. rapat kerja;

b. rapat panitia kerja;

c. rapat tim perumus; dan/atau d. rapat tim sinkronisasi.

(8) Dalam pembahasan Prolegda, penyusunan daftar Rancangan Peraturan Daerah didasarkan atas :

a. perintah undang-undang; b. perintah peraturan pemerintah; c. perintah peraturan daerah lainnya;

d. sistem perencanaan tahunan pembangunan Daerah; e. rencana pembangunan jangka panjang Daerahl; f. rencana pembangunan jangka menengah; g. rencana kerja pemerintah daerah; dan h. mengakomodasi aspirasi masyarakat

(9) Penyusunan dan penetapan Prolegda prioritas tahunan, selain berdasarkan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (8) dilakukan dengan memperhatikan: a. pelaksanaan Prolegda tahun sebelumnya;

b. tersusunnya naskah rancangan peraturan daerah; dan/atau c. tersusunnya naskah akademik.

(10) Hasil penyusunan Prolegda antara Badan Legislasi Daerah Daerah dan Sekretaris Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (7) disepakati menjadi Prolegda dan selanjutnya dilaporkan oleh Badan Legislasi Daerah dalam rapat paripurna untuk ditetapkan.

(11) Prolegda sebagaimana dimaksud pada ayat (10) ditetapkan dengan Peraturan DPRD.

Paragraf 2 Penyebarluasan

Pasal 113

(1) Prolegda sebagaimana dimaksud dalam pasal 112 ayat (11) disampaikan kepada Walikota, dan masyarakat.

(2) Prolegda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan oleh:

a. Badan Legislasi Daerah kepada anggota, fraksi , Komisi, dan masyarakat; b. Sekretaris daerah kepada satuan kerja perangkat Daerah dan masyarakat. (3) Penyebarluasan Prolegda kepada masyarakat dilakukan melalui media cetak,

Paragraf 3

Rancangan Peraturan Daerah yang diajukan di luar Prolegda Pasal 114

(1) Rancangan Peraturan Daerah yang diajukan di luar Prolegda disertai dengan konsepsi pengaturan Rancangan Peraturan Daerah yang meliputi:

a. urgensi dan tujuan penyusunan; b. sasaran yang ingin diwujudkan;

c. pokok pikiran, lingkup, atau obyek yang akan diatur; dan d. jangkauan serta arah pengaturan.

(2) Konsepsi pengaturan Rancangan Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam naskah akademik.

(3) Rancangan Peraturan Daerah yang diajukan di luar Prolegda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:

a. perjanjian kerjasama antar daerah;

b. prjanjian kerjasama dengan pihak ketiga;

c. mengisi kekosongan hukum akibat putusan Mahkamah Agung dan putusan Mahkamah Konstitusi;

d. mengatasi keadaan luar biasa, keadaan konflik, atau bencana alam; atau e. keadaan tertentu lainnya yang memastikan adanya urgensi atas suatu

rancangan peraturan daerah yang dapat disepakati oleh Badan Legislasi Daerah dengan sekretaris daerah.

(4) Rancangan peraturan daerah yang diajukan di luar Prolegda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terlebih dahulu disepakati oleh Badan Legislasi Daerah dan selanjutnya Badan Legislasi Daerah melakukan koordinasi dengan sekretaris daerah untuk mendapatkan persetujuan bersama, dan hasilnya dilaporkan dalam rapat paripurna untuk ditetapkan.

Bagian Ketiga

Penyusunan Rancangan Peraturan Daerah Pasal 115

(1) Rancangan peraturan daerah dapat diajukan oleh anggota, Komisi, gabungan Komisi, atau Badan Legislasi Daerah sebagai usul inisiatif.

(2) Rancangan peraturan daerah yang diajukan oleh 1 (satu) orang anggota atau lebih. (3) Rancangan peraturan daerah yang diajukan oleh anggota sebagaimana dimaksud

pada ayat (1), dapat didukung oleh anggota lain, dengan membubuhkan tanda tangan.

(4) Rancangan peraturan daerah yang diajukan oleh Komisi, gabungan Komisi, atau Badan Legislasi Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan terlebih dahulu dalam rapat Komisi, rapat gabungan Komisi atau rapat Badan Legislasi Daerah.

Rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 115 disusun berdasarkan Prolegda prioritas tahunan.

Pasal 117

(1) Anggota, Komisi, gabungan Komisi, dan Badan Legislasi Daerah Daerah dalam mempersiapkan Rancangan Peraturan Daerah terlebih dahulu menyusun naskah akademik mengenai materi yang akan diatur dalam rancangan peraturan daerah. (2) Rancangan peraturan daerah tentang APBD, atau rancangan peraturan daerah yang

hanya terbatas mengubah beberapa materi, dapat disertai naskah akademik.

(3) Naskah akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun sekurangkurangnya memuat : a. Judul b. Bab I 1) Pendahuluan. 2) Latar belakang. 3) Identifikasi masalah. 4) Tujuan dan kegunaan. 5) Metode penelitian.

c. Bab II Asas-asas yang digunakan dalam penyusunan norma.

d. Bab III Materi muatan rancangan peraturan daerah dan keterkaitannya dengan hukum positif.

e. Bab IV Penutup.

(4) Naskah akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilengkapi dengan lampiran draf awal rancangan peraturan daerah.

Pasal 118

(1) Dalam penyusunan rancangan peraturan daerah, Komisi, gabungan Komisi, atau Badan Legislasi Daerah dapat membentuk panitia kerja.

(2) Keanggotaan panitia kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh alat kelengkapan DPRD yang membentuknya dengan sedapat mungkin didasarkan pada perimbangan jumlah anggota tiap-tiap fraksi .

(3) Panitia kerja yang ditetapkan oleh alat kelengkapan DPRD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling banyak berjumlah separuh dari jumlah anggota alat kelengkapan yang bersangkutan.

(4) Anggota, Komisi, gabungan Komisi, atau Badan Legislasi Daerah dalam penyusunan rancangan peraturan daerah dibantu oleh tim ahli.

Pasal 119

Dalam penyusunan Rancangan Peraturan Daerah, anggota, Komisi, gabungan Komisi, atau Badan Legislasi Daerah dapat meminta masukan dari masyarakat sebagai bahan bagi panitia kerja untuk menyempurnakan konsepsi rancangan peraturan daerah.

Bagian Keempat

Pengharmonisasian, Pembulatan, dan Pemantapan Konsepsi Rancangan Peraturan Daerah

Pasal 120

Pengharmonisasian, pembulatan, dan pemantapan konsepsi rancangan peraturan daerah meliputi aspek teknis, substansi, dan asas-asas pembentukan peraturan daerah.

Pasal 121

(1) Pengharmonisasian, pembulatan, dan pemantapan konsepsi rancangan peraturan daerah dilakukan dalam jangka waktu paling lama 10 (sepuluh) hari masa sidang sejak rancangan peraturan daerah diterima Badan Legislasi Daerah Daerah.

(2) Dalam hal rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan pada akhir masa sidang kurang dari 10 (sepuluh) hari, sisa hari dilanjutkan pada masa sidang berikutnya.

(3) Dalam hal rancangan peraturan daerah disampaikan pada masa reses, 10 (sepuluh) hari dihitung sejak pembukaan masa sidang berikutnya.

Pasal 122

(1) Untuk melakukan pengharmonisasian, pembulatan, dan pemantapan konsepsi rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud dalam pasal 121, Badan Legislasi Daerah dapat membentuk panitia kerja.

(2) Dalam hal Badan Legislasi Daerah menemukan permasalahan yang berkaitan dengan teknis, substansi, dan/atau asas-asas pembentukan peraturan daerah , Badan Legislasi Daerah membahas permasalahan tersebut dengan mengundang pengusul. (3) Dalam hal rancangan peraturan daerah diusulkan oleh Komisi atau gabungan

Komisi, pengusul diwakili oleh unsur pimpinan dan/atau anggota.

(4) Dalam hal rancangan peraturan daerah diusulkan oleh anggota, pengusul diwakili oleh paling banyak 4 (empat) orang.

Pasal 123

(1) Apabila dalam pengharmonisasian, pembulatan, dan pemantapan konsepsi rancangan peraturan daerah memerlukan perumusan ulang, perumusan dilakukan oleh Badan Legislasi Daerah bersama dengan unsur pengusul dalam panitia kerja gabungan, yang penyelesaiannya dilakukan dalam jangka waktu 2 (dua) kali dalam masa sidang.

(2) Penentuan mengenai perumusan ulang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dalam rapat Badan Legislasi Daerah.

(3) Pengusul sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling banyak berjumlah 4 (empat) orang.

(4) Rapat Badan Legislasi Daerah mengambil keputusan terhadap hasil perumusan ulang rancangan peraturan daerah.

(5) Pada setiap lembar naskah rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dibubuhkan paraf Pimpinan Badan Legislasi Daerah dan satu orang yang mewakili pengusul.

Pasal 124

(1) Rancangan peraturan daerah yang telah dilakukan pengharmonisasian, pembulatan, dan pemantapan konsepsi, diajukan oleh pengusul kepada Pimpinan DPRD dengan dilengkapi keterangan pengusul dan/atau naskah akademik untuk selanjutnya disampaikan dalam rapat paripurna.

(2) Rancangan peraturan daerah yang diajukan oleh Badan Legislasi Daerah dianggap telah dilakukan pengharmonisasian, pembulatan, dan pemantapan konsepsi rancangan peraturan daerah.

Bagian Kelima

Penyempurnaan Rancangan Peraturan Daerah Pasal 125

(1) Rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud dalam pasal 101 dan pasal 115 ayat (1) diputuskan menjadi rancangan peraturan daerah dari DPRD dalam rapat paripurna, setelah terlebih dahulu fraksi memberikan pendapatnya.

(2) Keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa: a. persetujuan tanpa perubahan;

b. persetujuan dengan perubahan; atau c. penolakan.

(3) Rapat paripurna dengan tegas mengambil keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), sesuai dengan tata cara pengambilan keputusan.

(4) Dalam pendapat fraksi secara tegas menyatakan persetujuan, persetujuan dengan perubahan atau penolakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2).

(5) Dalam hal pendapat fraksi menyatakan persetujuan tanpa perubahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a, rancangan peraturan daerah langsung disampaikan kepada Walikota.

(6) Dalam hal fraksi menyatakan persetujuan dengan perubahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b, usul perubahan tersebut dengan tegas dimuat dalam pendapat fraksi .

(7) Perubahan sebagaimana dimaksud pada ayat (6) dimaksudkan untuk penyempurnaan rumusan rancangan peraturan daerah.

(8) Dalam hal keputusan rapat paripurna tidak tegas menyatakan persetujuan dengan perubahan, rancangan peraturan daerah dianggap disetujui tanpa perubahan dan langsung disampaikan kepada Walikota.

(9) Rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dan ayat (8) disampaikan oleh Pimpinan DPRD kepada Walikota dengan permintaan agar Walikota menunjuk satuan kerja perangkat daerah yang akan mewakili Walikota untuk melakukan pembahasan rancangan peraturan daerah tersebut bersama DPRD.

Pasal 126

(1) Untuk penyempurnaan rumusan rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud dalam pasal 125 ayat (7), Badan Musyawarah menugaskan kepada Komisi, gabungan Komisi, Badan Legislasi Daerah atau panitia khusus.

(2) Penyempurnaan rumusan rancangan peraturan daerah yang ditugaskan kepada Komisi, gabungan Komisi, Badan Legislasi Daerah Daerah, atau panitia khusus dilakukan dengan memperhatikan pendapat fraksi yang disampaikan dalam rapat paripurna.

Pasal 127

(1) Penugasan sebagaimana dimaksud dalam pasal 126 ayat (1) didasarkan atas pertimbangan usul rancangan peraturan daerah dan materi muatan rancangan peraturan daerah dengan ruang lingkup Komisi.

(2) Penugasan penyempurnaan diserahkan kepada Komisi, gabungan Komisi, atau Badan Legislasi Daerah sebagai pengusul rancangan peraturan daerah.

(3) Dalam hal materi muatan rancangan peraturan daerah termasuk dalam ruang lingkup satu Komisi, penyempurnaan ditugaskan kepada Komisi tersebut.

(4) Dalam hal materi muatan rancangan peraturan daerah termasuk dalam ruang lingkup 2 (dua) Komisi, penyempurnaan ditugaskan kepada gabungan Komisi. (5) Dalam hal materi muatan rancangan peraturan daerah termasuk dalam ruang

lingkup lebih dari 2 (dua) Komisi, penyempurnaan ditugaskan kepada Badan Legislasi Daerah atau panitia khusus.

Pasal 128

(1) Komisi, gabungan Komisi, Badan Legislasi Daerah, atau panitia khusus melakukan penyempurnaan rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud dalam pasal 127 ayat (2) dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari masa sidang.

(2) Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dapat dipenuhi, Badan Musyawarah dapat memperpanjang waktu penyempurnaan rancangan peraturan daerah berdasarkan permintaan tertulis pimpinan Komisi, pimpinan gabungan Komisi, pimpinan Badan Legislasi Daerah, atau pimpinan panitia khusus.

(3) Perpanjangan waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan untuk jangka waktu 20 (dua puluh) hari masa sidang.

(4) Apabila setelah perpanjangan waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (3) penyempurnaan rancangan peraturan daerah yang belum selesai, rancangan peraturan daerah hasil keputusan rapat paripurna dianggap telah disempurnakan dan selanjutnya dikirimkan kepada Walikota.

Pasal 129

Dalam hal diperlukan masukan untuk penyempurnaan rancangan peraturan daerah, Komisi, gabungan Komisi, Badan Legislasi Daerah, atau panitia khusus dapat mengadakan rapat dengar pendapat umum.

Pasal 130

(1) Komisi, gabungan Komisi, Badan Legislasi , atau panitia khusus menyampaikan rancangan peraturan daerah hasil penyempurnaan dengan surat kepada Pimpinan DPRD.

(2) Rancangan peraturan daerah hasil penyempurnaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan oleh Pimpinan DPRD kepada Walikota dengan permintaan agar Walikota menunjuk satuan kerja perangkat daerah yang akan mewakili Walikota dalam melakukan pembahasan rancangan peraturan daerah tersebut dengan Komisi, gabungan Komisi, Badan Legislasi, atau panitia khusus.

Pasal 131

(1) Paling lama 60 (enam puluh) hari kerja sejak diterimanya surat tentang penyampaian rancangan peraturan daerah dari DPRD sebagaimana dimaksud dalam pasal 115 ayat (4), Walikota menunjuk satuan kerja perangkat daerah yang ditugasi mewakili Walikota untuk membahas rancangan peraturan daerah bersama DPRD. (2) Apabila dalam jangka waktu 60 (enam puluh) hari kerja sebagaimana dimaksud

pada ayat (1) Walikota belum menunjuk satuan kerja perangkat daerah untuk membahas rancangan peraturan daerah bersama DPRD, Pimpinan DPRD melaporkan dalam rapat paripurna untuk menentukan tindak lanjut.

Pasal 132

(1) Komisi, gabungan Komisi, Badan Legislasi Daerah, panitia khusus, atau Badan Anggaran membahas rancangan peraturan daerah berdasarkan penugasan Badan Musyawarah.

(2) Penugasan pembahasan rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diputuskan setelah mempertimbangkan:

a. pengusul rancangan peraturan daerah;

b. penugasan penyempurnaan rancangan peraturan daerah;

c. keterkaitan materi muatan rancangan peraturan daerah dengan ruang lingkup tugas komisi; dan

d. jumlah rancangan peraturan daerah yang ditangani oleh Komisi atau Badan Legislasi Daerah.

(3) Badan Anggaran Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) membahas rancangan peraturan daerah tentang anggaran pendapatan dan belanja daerah.

(1) Komisi, gabungan Komisi, atau Badan Legislasi Daerah sebagai pengusul rancangan peraturan daerah, diprioritaskan untuk ditugaskan membahas rancangan peraturan daerah.

(2) Komisi, gabungan Komisi, Badan Legislasi, atau panitia khusus yang mendapat tugas penyempurnaan rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud dalam pasal 130 ayat (1) langsung bertugas membahas rancangan peraturan daerah.

Pasal 134

(1) Rancangan Peraturan Daerah yang materi muatannya termasuk dalam ruang lingkup satu Komisi, penugasan pembahasannya diserahkan kepada Komisi tersebut.

(2) Pembahasan Rancangan Peraturan Daerah ditugaskan kepada Badan Legislasi Daerah atau panitia khusus, dengan ketentuan:

a. jumlah Rancangan Peraturan Daerah yang ditangani Komisi telah melebihi jumlah maksimal;

b. Komisi sedang menangani Rancangan Peraturan Daerah yang mengandung materi muatan yang kompleks dan memerlukan waktu pembahasan yang lama; atau

c. sebagian besar anggota Komisi menjadi anggota pada beberapa panitia khusus.

(3) Rancangan Peraturan Daerah yang materi muatannya termasuk dalam ruang lingkup 2 (dua) Komisi, pembahasannya ditugaskan kepada gabungan Komisi. (4) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berlaku terhadap penugasan

pembahasan Rancangan Peraturan Daerah kepada gabungan Komisi.

(5) Rancangan Peraturan Daerah yang materi muatannya termasuk dalam ruang lingkup lebih dari 2 (dua) Komisi, pembahasannya ditugaskan kepada Badan Legislasi Daerah atau panitia khusus.

(6) Ketentuan mengenai jumlah maksimal penugasan pembahasan Rancangan Peraturan Daerah tetap berlaku terhadap Badan Legislasi Daerah.

Pasal 135

(1) Dalam hal penugasan pembahasan Rancangan Peraturan Daerah diserahkan kepada Komisi, gabungan Komisi, atau Badan Legislasi Daerah yang bukan pengusul atau panitia khusus, maka Komisi, gabungan Komisi, Badan Legislasi Daerah, atau panitia khusus yang mendapatkan penugasan tersebut berkewajiban mengundang pengusul untuk memberikan penjelasan atau keterangan atas rancangan Peraturan Daerah.

(2) Keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan dalam rapat Komisi, rapat gabungan Komisi, rapat Badan Legislasi Daerah, atau rapat panitia khusus sebelum pembahasan dengan Pemerintah Daerah, atau pada setiap rapat apabila dipandang perlu oleh Komisi, gabungan Komisi, Badan Legislasi Daerah, atau panitia khusus.

(3) Pengusul sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diwakili oleh Pimpinan alat kelengkapan pengusul atau anggota pengusul paling banyak 4 (empat) orang.

Paragraf 4

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Pasal 136

Dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf c, DPRD mengadakan kegiatan sebagai berikut:

a. Pembicaraan Pendahuluan dengan Pemerintah Daerah dalam rangka menyusun RAPBD;

b. Pembahasan dan penetapan APBD yang didahului dengan penyampaian Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD beserta Nota Keuangannya oleh Walikota;

c. Pembahasan:

1) Laporan Realisasi Semester I dan prognosis enam bulan berikutnya;

2) Penyesuaian APBD dengan perkembangan dan/atau perubahan dalam rangka penyusunan perubahan atas APBD tahun anggaran yang bersangkutan, apabila terjadi:

a) perkembangan yang tidak sesuai dengan asumsi kebijakan umum APBD;

Dokumen terkait