TINJAUAN PUSTAKA
C. Pajak Penghasilan Pasal 21 (PPh Pasal 21) 1. Pengertian PPh Pasal 21
10. Tata Cara Penghitungan Pemotongan PPh Pasal 21
9. Tarif Pemotongan PPh Pasal 21 Bagi Penerima Penghasilan yang Tidak Mempunyai Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)
Sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor
252/PMK.03/2008 Bab VIII Pasal 20 dan Peraturan Direktur Jenderal
Pajak Nomor PER-31/PJ/2009 Bab VII Pasal 20, bagi penerima
penghasilan yang Dipotong PPh Pasal 21 yang tidak memiliki NPWP,
dikenakan pemotongan PPh Pasal 21 dengan tarif lebih tinggi 20% (dua
puluh persen) daripada tarif yang diterapkan terhadap Wajib Pajak yang
memiliki NPWP. Jumlah PPh Pasal 21 yang harus dipotong adalah sebesar
120% (seratus dua puluh persen) dari jumlah PPh Pasal 21 yang
seharusnya dipotong dalam hal yang bersangkutan memiliki NPWP.
10.Tata Cara Penghitungan Pemotongan PPh Pasal 21
Tata cara penghitungan pemotongan PPh Pasal 21 berdasarkan
Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-31/PJ/2009 adalah sebagai
berikut:
a. PPh Pasal 21 atas Penghasilan Teratur Bagi Pegawai Tetap
1) Menghitung besarnya Penghasilan Neto
Besarnya penghasilan neto pegawai tetap ditentukan berdasarkan
penghasilan bruto dikurangi dengan:
a) Biaya jabatan yaitu biaya untuk mendapatkan, menagih dan
memelihara penghasilan sebesar 5% dari penghasilan bruto
Rp6.000.000,00 atau Rp500.000,00 sebulan (sesuai Peraturan
Menteri Keuangan No: 250/PMK.03/2008).
b) Iuran yang terkait dengan gaji yang dibayar oleh pegawai
kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh
Menteri Keuangan atau Badan penyelenggara tabungan hari tua
atau jaminan hari tua yang dipersamakan dengan dana pensiun
yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan.
2) Menghitungan besarnya Penghasilan Kena Pajak
Besarnya Penghasilan Kena Pajak (PKP) dihitung sebagai berikut:
a) Bagi pegawai tetap dan penerima pensiun berkala, sebesar
Penghasilan Neto setelah dikurangi dengan PTKP.
b) Bagi pegawai tidak tetap, pemagang, dan calon pegawai adalah
penghasilan bruto dikurangi dengan PTKP.
3) Menghitung besarnya PPh Pasal 21 terutang
Pajak terutang dihitung setelah penghasilan neto dikurangi dengan
PTKP kemudian dikalikan dengan tarif pasal 17 Undang-Undang
No.36 tahun 2008.
Berikut contoh penghitungan PPh Pasal 21 bagi Pegawai Tetap,
baik yang memiliki NPWP maupun yang tidak memiliki NPWP,
namun telah memperoleh penghasilan teratur berdasarkan Peraturan
Contoh:
Ahmad Zakaria pada tahun 2009 bekerja pada perusahaan PT Zamrud
Abadi dengan memperoleh gaji sebulan Rp2.500.000,00 dan
membayar iuran pensiun sebesar Rp100.000,00. Ahmad manikah
tetapi belum mempunyai anak (K/0). Penghitungan PPh Pasal 21
adalah sebagai berikut:
Gaji sebulan Rp2.500.000,00 Pengurang: Biaya Jabatan: 5% x Rp2.500.000,00 Rp125.000,00 Iuran Pensiun Rp100.000,00 (Rp225.000,00)
Penghasilan neto sebulan Rp2.275.000,00
Penghasilan neto setahun 12 x Rp2.275.000,00 Rp27.300.000,00
PTKP setahun:
Untuk Wajib Pajak sendiri Rp15.840.000,00
Tambahan WP kawin Rp1.320.000,00
(Rp17.160.000,00)
PKP setahun Rp10.140.000,00
PPh Pasal 21 terutang
PPh Pasal 21 terutang sebulan
Rp507.000,00 : 12 = Rp42.250,00
Catatan:
Contoh di atas berlaku apabila pegawai yang bersangkutan sudah
memiliki NPWP. Dalam hal pegawai yang bersangkutan belum
memiliki NPWP, maka jumlah PPh Pasal 21 yang harus dipotong
adalah sebesar : 120% x 5% x Rp10.140.000,00 = Rp50.700,00
b. PPh Pasal 21 untuk Pegawai Tidak Tetap
Seperti yang telah diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal
Pajak Nomor PER-31/PJ/2009 Bab V Pasal 12 tentang pemotongan
PPh bagi pegawai tidak tetap atau tenaga kerja lepas adalah sebagai
berikut:
Ayat (1)
Atas penghasilan bagi pegawai tidak tetap atau tenaga kerja
lepas yang tidak dibayar secara bulanan atau jumlah kumulatifnya
dalam 1 (satu) bulan kalender belum melebihi 1.320.000,00 (satu juta
tiga ratus dua puluh ribu rupiah), berlaku ketentuan sebagai berikut:
1) Tidak dilakukan pemotongan PPh Pasal 21, dalam hal penghasilan
sehari atau rata-rata penghasilan sehari belum melebihi
Rp150.000,00 (seratus lima puluh ribu).
2) Dilakukan pemotongan PPh Pasal 21, dalam hal penghasilan sehari
atau rata-rata penghasilan sehari melebihi Rp150.000,00 (seratus
puluh ribu) tersebut merupakan jumlah yang dapat dikurangkan
dari penghasilan bruto.
Ayat (2)
Rata-rata penghasilan sehari sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) adalah rata-rata upah mingguan, upah satuan atau upah borongan
untuk setiap hari kerja yang digunakan.
Ayat (3)
Dalam hal pegawai tidak tetap telah memperoleh penghasilan
kumulatif dalam 1 (satu) bulan kalender melebihi Rp 1.320.000 (satu
juta tiga ratus dua puluh ribu rupiah), maka jumlah yang dapat
dikurangkan dari penghasilan bruto adalah sebesar PTKP yang
sebenarnya.
Ayat (4)
PTKP yang sebenarnya sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
adalah sebesar PTKP untuk jumlah hari kerja yang sebenarnya.
Ayat (5)
PTKP sehari sebagai dasar untuk menetapkan PTKP yang
sebenarnya adalah sebesar PTKP tahun sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 11 ayat (1) atau dalam UU PPh Nomor36 Tahun 2008 Pasal 7
ayat (1) dibagi 360 (tiga ratus enam puluh) hari.
Ayat (6)
Dalam hal berdasarkan ketentuan di bidang ketenagakerjaan
tenaga kerja lepas dalam program jaminan hari tua atau tunjangan hari
tua, maka iuran jaminan hari tua atau iuran tunjangan hari tua yang
dibayar sendiri oleh pegawai tidak tetap kepada badan penyelenggara
jaminan sosial tenaga kerja atau badan penyelenggara tunjangan hari
tua, dapat dikurangkan dari penghasilan bruto.
Berikut contoh penghitungan PPh Pasal 21 bagi pegawai lepas
atau tidak tetap yang menerima upah harian, upah mingguan, upah
satuan, upah borongan, dan upah saku harian berdasarkan Peraturan
Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-31/PJ/2009.
Contoh:
Yana bekerja sebagai seorang penjahit di perusahaan konveksi. Upah
dibayarkan atas dasar satuan yang dihasilkan, yaitu Rp20.000,00 per
potong pakaian yang dihasilkan. Dalam 1 minggu (6 hari) dapat
menyelesaikan 50 potong baju.
Penghitungan PPh Pasal 21 adalah sebagai berikut:
Upah satuan (Rp20.000,00 x 50)
Rp1.000.000,00
Upah per hari (Rp1.000.000,00 : 6 hari)
Rp166.000,00*
PTKP Rp150.000,00
PKP
(Rp166.000,00 - Rp150.000,00) Rp16.000,00
5% x Rp (Rp16.000,00 x 6) = Rp4.800,00
*pembulatan ribuan ke bawah.
c. PPh Pasal 21 atas Penghasilan Tidak Teratur Bagi Pegawai Tetap
Sesuai dengan yang telah diatur dalam Peraturan Direktur
Jenderal Pajak Nomor PER-31/PJ/2009, penghasilan Pegawai Tetap
yang bersifat Tidak Teratur adalah penghasilan bagi pegawai tetap
selain penghasilan yang bersifat teratur, yang diterima sekali dalam
satu tahun atau periode lainnya, antara lain berupa bonus, Tunjangan
Hari Raya (THR), jasa produksi, tantiem, gratifikasi, atau imbalan
sejenis lainnya dengan nama apapun.
Seperti yang dijelaskan dalam Modul Short Cours Perpajakan
Brevet A dan B Tahun 2009, apabila kepada pegawai tetap diberikan
jasa produksi, tantiem, gratifikasi, bonus, premi, Tunjangan Hari Raya,
dan penghasilan lain semacam itu yang sifatnya tidak tetap dan
biasanya dibayarkan sekali setahun, maka PPh Pasal 21 dihitung dan
dipotong dengan cara sebagai berikut:
1) Dihitung PPh Pasal 21 atas penghasilan teratur yang disetahunkan
ditambah dengan penghasilan tidak teratur berupa tantiem, jasa
produksi, THR, dan sebagainya.
2) Dihitung PPh Pasal 21 atas penghasilan teratur yang disetahunkan
3) Selisih antara PPh Pasal 21 menurut penghitungan huruf a dan
huruf b adalah PPh Pasal 21 atas penghasilan tidak teratur berupa
tantiem, jasa produksi, THR, dan sebagainya.
Berikut contoh penghitungan Pajak Panghasilan Pasal 21 atas
penghasilan tidak teratur berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal
Pajak Nomor PER-31/PJ/2009.
Contoh:
Joko Qurnain (tidak kawin) bekerja pada PT. Qolbu Jaya dengan
memperoleh gaji sebesar Rp2.000.000,00 sebulan. Dalam tahun yang
bersangkutan Joko menerima THR sebesar Rp5.000.000,00. Setiap
bulannya Joko membayar iuran pensiun ke dana Pensiun yang
pendirianya telah disahkan oleh Menteri Keuangan sebesar
Rp60.000,00.
Cara menghitung PPh Pasal 21 atas THR adalah:
1) PPh Pasal 21 atas Gaji dan THR (penghasilan setahun):
Gaji setahun (12 x Rp2.000.000,00) Rp24.000.000,00
Tunjangan Hari Raya (THR) Rp5.000.000,00
Penghasilan Bruto setahun Rp29.000.000,00
Pengurangan:
Biaya Jabatan
5% x Rp29.000.000,00 = Rp1.450.000,00
Iuran Pensiun setahun
Penghasilan neto setahun Rp26.230.000,00
PTKP setahun:
Untuk Wajib Pajak sendiri (Rp15.840.000,00)
PKP setahun Rp10.990.000,00
PPh Pasal 21 terutang
5% x Rp10.990.000,00 = Rp549.500,00
PPh Pasal 21 terutang seandainya WP tidak memiliki NPWP
120% x 5% x Rp10.990.000,00 = Rp659.400,00
2) PPh Pasal 21 atas Gaji Setahun:
Gaji setahun (12 x Rp2.000.000,00) Rp24.000.000,00
Pengurangan:
Biaya Jabatan
5% x Rp24.000.000,00 = Rp1.200.000,00
Iuran Pensiun setahun
12 x Rp60.000,00 =Rp720.000,00 (Rp1.920.000,00)
Penghasilan neto setahun Rp22.080.000,00
PTKP setahun:
Untuk Wajib Pajak sendiri (Rp15.840.000,00)
PKP setahun Rp6.240.000,00
PPh Pasal 21 terutang
5% x Rp6.240.000,00 = Rp312.000,00
PPh Pasal 21 terutang seandainya WP tidak memiliki NPWP
3)PPh Pasal 21 atas THR:
PPh Pasal 21 atas THR adalah sebesar:
Rp549.500,00 - Rp312.000,00 = Rp237.500,00
PPh Pasal 21 atas THR seandainya WP tidak memiliki NPWP
adalah sebesar:
Rp659.400,00 - Rp374.400,00 = Rp285.000,00
D. Pegawai