• Tidak ada hasil yang ditemukan

TATA CARA PERTANGGUNGJAWABAN BELANJA MODAL

BAB IX BELANJA MODAL

C. TATA CARA PERTANGGUNGJAWABAN BELANJA MODAL

Pelaksanaan Belanja Sewa dapat menggunakan mekanisme UP/TUP atau LS pihak ketiga (mengikuti prosedur pengadaan melalui Unit Layanan Pengadaan) dengan melampirkan kelengkapan dokumen pertanggungjawaban sebagai berikut:

1. Nota Dinas PPK ke UKPBJ;

2. Nota Dinas UKPBJ ke Pejabat Pengadaan/Kelompok Kerja Pemilihan;

3. Dokumen Penawaran;

4. Dokumen Pemilihan;

5. Surat pesanan/surat penunjukan penyedia (Untuk Belanja diatas 50 juta rupiah melampirkan Surat Pesanan/Surat Perjanjian Kerja);

6. Pengajuan Pembebanan Anggaran/Routing Slip;

7. Kuitansi Garuda/Surat Perintah Bayar (SPBy) lengkap dengan tanda tangan PPK dan BP (untuk transaksi di Ombudsman RI atau BPP (untuk transaksi di Perwakilan Ombudsman);

8. Kuitansi/Bukti Pembayaran;

9. Dokumen serah terima barang sewa;

10. Dokumen Penyedia (SIUP/NIB/NPWP/salinan rekening PT/Salinan KTP Direktur);

11. Faktur Pajak;

12. Berita Acara Serah Terima Pekerjaan (BASTP).*

Catatan:

* tanggal yang tercantum pada BASTP adalah tanggal akhir pekerjaan/masa sewa.

Untuk pembayaran sewa dengan kontrak selama 1 tahun, namun dibayarkan dengan metode periodik (perbulan atau triwulan), dokumen yang dilampirkan dalam pertanggungjawaban minimal berupa poin 1 -poin 12 untuk bulan pertama dan poin 5 – poin 12 untuk bulan berikutnya.

- 62 -

Jika terdapat perpanjangan masa sewa, dokumen yang dilampirkan adalah sebagai berikut:

1. Nota dinas PPK ke UKPBJ berupa hasil evaluasi sewa oleh user;

2. Nota Dinas UKPBJ ke Pejabat Pengadaan/Kelompok Kerja Pemilihan;

3. Dokumen Verifikasi Penawaran;

4. Surat Pesanan/Surat Penunjukan Penyedia (untuk Belanja diatas 50 juta rupiah melampirkan Surat Perjanjian Kerja);

5. PPA/Routing Slip;

6. Kuitansi Garuda/Surat Perintah Bayar (SPBy) lengkap dengan tanda tangan PPK dan BP (untuk transaksi di Ombudsman RI) atau BPP (untuk transaksi di Perwakilan Ombudsman);

7. Kuitansi/Bukti Pembayaran;

8. Dokumen serah terima barang sewa;

9. Dokumen Penyedia (SIUP/NIB/NPWP/salinan rekening PT/salinan KTP Direktur);

10. Faktur Pajak;

11. Berita Acara Serah Terima Pekerjaan (BASTP).

D. LAIN-LAIN

Demi mewujudkan pelaksanaan Belanja Sewa yang tertib, terarah, adil, dan akuntabel, PPK atau Unit Kerja terkait melakukan inventarisasi serta melakukan reviu, monitoring dan evaluasi atas kegiatan belanja sewa yang telah dilakukan. Dalam pelaksanaan sewa barang yang dilakukan secara berulang untuk memenuhi kebutuhan barang yang sama pada setiap periode, dapat dilakukan mekanisme Kontrak Payung antara Ombudsman RI dengan Pihak Penyedia barang guna mewujudkan pengelolaan BMN yang efektif, efisien dan optimal.

- 63 -

Selain itu, terdapat alternatif lain dalam rangka memenuhi kebutuhan gedung kantor di Ombudsman RI selain menggunakan mekanisme sewa, yaitu dengan menggunakan mekanisme pinjam pakai. Adapun penjelasan mengenai pinjam pakai merupakan penyerahan penggunaan barang antar instansi pemerintahan dalam jangka waktu tertentu tanpa menerima imbalan dan setelah jangka waktu tersebut berakhir diserahkan kembali kepada Pengelola Barang/Pengguna Barang.

Khusus sewa gedung kantor, Ombudsman RI dapat melakukan pemeliharaan pada barang tersebut dengan kriteria sebagai berikut:

1. Pemeliharaan dapat dilakukan oleh Ombudsman RI sepanjang tercantum dalam Surat Perintah Kerja.

2. Dilakukan dengan tujuan untuk menjaga/mempertahankan gedung kantor agar tetap dalam kondisi semula.

3. Tingkat kerusakan kurang dari atau sama dengan 2% (dua persen) dari nilai aset atau dibawah nilai kapitalisasi per tahun.

- 64 -

SIMULASI 2

1. Pertanyaan:

Perwakilan Ombudsman X melakukan belanja sewa berupa printer guna menunjang pelaksanaan kegiatan di Perwakilan Ombudsman tersebut. Periode masa sewa aset sudah habis dan pihak ketiga menghibahkan printer tersebut kepada Perwakilan Ombudsman X.

Bagaimana perlakuan atas aset tersebut?

Jika aset tersebut masih digunakan oleh Perwakilan Ombudsman X di periode berikutnya dan mengalami kerusakan, apakah dapat dilakukan pemeliharaan atas aset tersebut?

Jawaban:

Aset tersebut dapat diakui sebagai BMN apabila terdapat Berita Acara dari pemilik/penyedia barang dan disampaikan ke bagian PRTLP untuk diakui sebagai aset BMN dengan mempertimbangkan unsur masa manfaat dan kondisi dari aset tersebut. Pemeliharaan dapat dilakukan setelah aset tersebut sudah menjadi aset BMN.

2. Pertanyaan:

Perwakilan Ombudsman Y melakukan mekanisme pinjam pakai untuk mendapatkan gedung kantor di Provinsi Y. Kondisi gedung tersebut rusak ringan. Bagaimana perlakuan atas aset tersebut jika dilakukan pemeliharaan?

Jawaban:

Sepanjang aset tersebut disebutkan dalam Perjanjian Kerja Sama (PKS) untuk dilakukan pemeliharaan (523131), maka aset tersebut dapat dilakukan perbaikan/pemeliharaan dengan melihat efektif, efisiensi, dan ekonomis dari pemeliharaan atas aset tersebut.

Jika pemeliharaan melebihi dari 2% (dua persen) dari nilai aset atau nilai kapitalisasi aset maka diperlukan persetujuan dari Direktorat Jenderal Kekayaan Negara untuk dilakukan pemeliharaan.

- 65 -

BAB VII

BELANJA ALAT TULIS KANTOR

- 66 -

BAB VII

BELANJA ALAT TULIS KANTOR

A. PENGERTIAN ALAT TULIS KANTOR

Menurut Pernyataan Standar Akuntasi Pemerintahan (PSAP) Nomor 05, Persediaan adalah aset lancar dalam bentuk barang atau perlengkapan yang dimaksudkan untuk mendukung kegiatan operasional pemerintah dan barang-barang yang dimaksudkan untuk dijual dan/atau diserahkan dalam rangka pelayanan kepada masyarakat.

Salah satu bentuk dari barang persediaan berupa Alat Tulis Kantor (ATK). ATK merupakan perlengkapan kantor yang digunakan setiap saat dan masa pemakaiannya kurang dari satu tahun dan termasuk barang habis pakai. ATK salah satu dari komponen persediaan yang merupakan aset lancar dalam bentuk barang atau perlengkapan yang diperoleh, disimpan dan didistribusikan untuk mendukung kegiatan operasional kantor, dan barang-barang yang dimaksudkan untuk diserahkan dalam rangka pelayanan kepada masyarakat.

B. KODE AKUN (MAK) PEMBELIAN ATK

Kode Akun (MAK) yang digunakan untuk belanja ATK terdiri atas beberapa:

1. Belanja Barang Persediaan Barang Konsumsi (521811)

Digunakan untuk mencatat belanja barang yang menghasilkan barang persediaan berupa barang konsumsi seperti: ATK, bahan cetakan, alat-alat rumah tangga, dll. Untuk pembelian barang yang menggunakan akun berikut wajib dimasukkan ke dalam gudang persediaan/ruang penyimpanan untuk dicatat posisi masuk-keluar barang.

- 67 -

2. Belanja Keperluan Perkantoran (521111)

Digunakan untuk mencatat belanja keperluan sehari-hari perkantoran yang secara langsung menunjang kegiatan operasional Kantor, namun tidak menghasilkan barang persediaan (barang habis pakai) seperti: pembelian makan/minum kecil untuk rapat, biaya jamuan penerimaan tamu, dan pengadaan/pengganti inventarisasi yang berhubungan dengan penyelenggaraan administrasi kantor/satker dibawah nilai kapitalisasi.

3. Belanja Bahan (521211)

Digunakan untuk mencatat pengeluaran yang digunakan untuk pembayaran biaya bahan pendukung kegiatan (barang habis pakai) seperti: konsumsi rapat, dokumentasi, spanduk, biaya fotokopi, yang diperlukan untuk pelaksanaan kegiatan non operasional.

C. JENIS-JENIS ATK MENURUT FUNGSINYA

No Kategori Item kas, buku ekspedisi, dll.

3 Kategori Kertas HVS, folio, kuitansi, nota, surat jalan, amplop, map, kertas warna, continuous form, kertas foto, kertas printer, kertas fax, dll.

4 Kategori File organizer, rak surat susun, expanding file, business file, box kartu, box file, binder clip, dll.

5 Kategori Pendukung

stapler, kalkulator, cutter, stempel, bak stempel, gunting, penggaris, lem, lakban, isolasi, dll.

- 68 -

D. TATA CARA PERTANGGUNGJAWABAN BELANJA ATK

Pembelian ATK dapat menggunakan prosedur uang muka UP/TUP atau LS pihak ketiga (mengikuti prosedur pengadaan lewat ULP). Jika prosedur yang digunakan adalah Uang Muka UP/TUP, maka Staf Subbbagian Rumah Tangga/Staf Perwakilan Ombudsman mengajukan permintaan Uang Muka UP kepada BP/BPP sebelum pelaksanaan pembelian ATK dengan melampirkan dokumen berikut:

1. Form Routing Slip (harus diisi tanggal pertanggungjawaban);

2. Kuitansi Garuda/Surat Perintah Bayar (SPby) lengkap dengan tanda tangan PPK dan BP/BPP;

3. Jika pembelian ATK menggunakan mekanisme reimbursment, maka pertanggungjawaban dengan melampirkan dokumen tagihan lengkap:

a. Surat Dinas/Form Permintaan ATK yang ditandatangani oleh Kepala Unit Kerja/Kepala Biro/Inspektur/Kepala Perwakilan atau Kepala Bagian/Koordinator kepada Biro SDM Umum;

b. Naskah Dinas surat permintaan Pengadaan ATK dari Bagian PRTLP kepada PPK;

c. Bukti Pembayaran (Kuitansi, Bon, Nota, Struk)*/**; dan d. Dokumentasi.

Catatan:

* Nama Toko, Alamat, Tanggal Transaksi, dan Nomor Telepon

** Kuitansi dan Nota menyertakan bukti stempel pihak ketiga 4. Pengajuan pertanggungjawaban atau reimbursment untuk

Perwakilan, belanja ATK disampaikan langsung kepada PPK Perwakilan.

- 69 -

E. KELENGKAPAN TAGIHAN BELANJA ATK

Biaya pembelian ATK dapat dicairkan dengan memenuhi kelengkapan sebagai berikut:

A. Surat Dinas/Form Permintaan ATK yang ditandatangani oleh Kepala Unit Kerja/Kepala Biro/Inspektur/Kepala Perwakilan atau Kepala Bagian/Koordinator kepada Biro SDM dan Umum.

B. Naskah Dinas surat permintaan Pengadaan ATK dari Bagian PRTLP kepada PPK.

C. Bukti Pembayaran/Kuitansi/Bon/Nota/Struk*:

1. Jika belanja kurang dari Rp5.000.000 Atribut:

a. Stempel Toko

b. Nama jelas dan tanda tangan PPK

c. tanda tangan Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan atau Unit Kerja terkait yang menyatakan bahwa barang telah diterima.

2. Jika belanja lebih dari Rp5.000.000 Atribut:

a. Materai 10.000 b. Stempel Toko

c. Nama jelas dan tanda tangan PPK

d. tanda tangan Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan atau Unit Kerja terkait yang menyatakan bahwa barang telah diterima.

Catatan:

* Terdapat Identitas Toko (nama, alamat, nomor telepon) dan Tanggal Transaksi

F. PENATAUSAHAAN MASUK DAN KELUAR ATK

ATK yang sudah dibeli harus dicatat dan disimpan dalam satu tempat ruangan penyimpanan. Pengelola BMN/Pegawai yang ditunjuk diberikan tugas untuk mencatat, menatausahakan serta menyusun

- 70 -

laporan posisi barang ATK dilakukan secara tertib dan teratur dan disampaikan kepada Bagian Perlengkapan, Rumah Tangga dan Layanan Pengadaan (PRTLP).

Tiap barang ATK yang disimpan dalam ruang penyimpanan dibuatkan kartu barang untuk mencatat jenis-jenis ATK dan transaksi masuk-keluarnya ATK. Disamping itu dibuatkan Buku Persediaan secara elektronik dalam bentuk Spreadsheet untuk mencatat/membukukan ATK yang masuk dan keluar dari gudang/tempat penyimpanan barang ATK oleh petugas gudang atau staf yang ditunjuk untuk mengelola barang ATK.

Catatan:

* Pencatatan transaksi masuk – keluar barang minimal termuat tanggal transaksi, kuantitas dan penerima barang.

G. PELAPORAN PERSEDIAAN/ATK

Pengelola BMN dibantu oleh Petugas Gudang/staf yang ditunjuk wajib membuat pelaporan setiap bulan (minggu pertama bulan berikutnya) disampaikan kepada Bagian PRTLP, khusus di Perwakilan Ombudsman disampaikan tembusan kepada Koordinator Kelompok Fasilitasi Keuangan Perwakilan. Untuk di Ombudsman RI pengelolaan dan penatausahaan persediaan khususnya ATK langsung dibawah koordinasi Bagian PRTLP karena sudah satu pintu.

H. LAIN-LAIN

Apabila petugas gudang atau staf yang ditunjuk tidak melaporkan persediaan setiap minggu pertama bulan berikutnya kepada Bagian PRTLP selama 2 (dua) bulan berturut-turut maka Bagian PRTLP berkewajiban untuk berkoordinasi dan memberikan teguran tertulis kepada petugas gudang atau staf yang ditunjuk.

- 71 -

SIMULASI 3 1. Pertanyaan:

Pada awal tahun, Bagian PRTLP melakukan pembelian 20 unit kalkulator dengan total harga sebesar Rp1.000.000 dengan menggunakan akun 521811. Atas transaksi tersebut, apakah kalkulator tersebut masuk dan dicatat sebagai BMN?

Jawaban:

Sesuai pengertian tentang ATK yang merupakan komponen dari barang persediaan, yaitu barang atau perlengkapan yang diperoleh, disimpan dan didistribusikan untuk mendukung kegiatan operasional kantor, dan barang-barang yang dimaksudkan untuk diserahkan dalam rangka pelayanan kepada masyarakat. Berdasarkan pengertian tersebut, pembelian kalkulator yang dilakukan oleh Bagian PRTLP termasuk kategori aset lancar berupa barang persediaan sehingga perlu dicatat ke dalam aplikasi persediaan.

2. Pertanyaan:

Apakah untuk belanja barang yang tidak menghasilkan barang persediaan dapat menggunakan akun 521811?

Jawaban:

Tidak. Untuk belanja barang yang tidak menghasilkan barang persediaan menggunakan akun 521111 (Belanja Keperluan Perkantoran). Akun tersebut digunakan untuk mencatat belanja barang keperluan sehari-hari perkantoran yang tidak menghasilkan persediaan. Apabila suatu belanja direncanakan akan menghasilkan persediaan, maka sebaiknya menggunakan akun 521811 (Belanja Barang Persediaan Barang Konsumsi) yang digunakan untuk mencatat belanja barang yang menghasilkan persediaan.

3. Pertanyaan:

Untuk menyambut perayaan HUT RI, Ombudsman RI melakukan persiapan dengan membeli alat-alat ATK yang dibutuhkan untuk

- 72 -

keperluan perayaan di Ombudsman RI. Bagaimanakah Pertanggungjawaban belanja ATK dalam rangka persiapan HUT RI tersebut?

Jawaban:

Pada Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2013 tentang Tata Cara Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, tidak secara eksplisit melarang kegiatan dimaksud. Meskipun demikian, pelaksanaan anggaran dan tagihan kepada negara tetap harus mengedepankan prinsip ekonomis, efektif, dan efisien. Tata cara pencairan dan pertanggungjawaban tetap berpedoman pada PMK Nomor 190/PMK.05/2012 tentang Tata Cara Pembayaran dalam Rangka Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara sebagaimana diubah dengan PMK Nomor 178/PMK.05/2018 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 190/PMK.05/2012 tentang Tata Cara Pembayaran dalam Rangka Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

Berdasarkan Keputusan Dirjen Perbendaharaan Nomor KEP-211/PB/2018 tentang Kodefikasi Segmen Akun Pada Bagan Akun Standar, maka disampaikan hal sebagai berikut:

Belanja seminar kit atau tool kit untuk kegiatan seminar, sosialisasi dan sejenisnya yang masuk kedalam kegiatan non operasional (dalam hal ini perayaan HUT Kemerdekaan), dapat dibebankan pada akun 521211 (Belanja Bahan);

• Bentuk belanja boleh apa saja, sepanjang digunakan untuk pembayaran biaya bahan pendukung kegiatan (yang habis pakai), yang diperlukan dalam pelaksanaan kegiatan non operasional seperti pameran, seminar, sosialisasi, rapat, diseminasi dan lain-lain yang terkait langsung dengan output suatu kegiatan dan tidak menghasilkan barang persediaan; dan

• Seminar kit berbentuk pakaian diperbolehkan sepanjang pakaian tersebut memang diperuntukkan untuk dikenakan pada saat

- 73 -

acara kegiatan berlangsung dan mendukung output kegiatan, semisal dalam kegiatan tersebut dimaksudkan untuk mencapai tujuan sinergi yang kuat, salah satu bentuknya menggunakan seragam saat kegiatan berlangsung.

- 74 -

BAB VIII

BELANJA PENANGANAN

PANDEMI COVID-19

- 75 -

BAB VIII

BELANJA PENANGANAN PANDEMI COVID-19

A. BELANJA BARANG PENANGANAN PANDEMI COVID-19 (521131) Digunakan untuk mencatat Belanja Barang Operasional sebagaimana diatur dalam PMK mengenai Pelaksanaan Kebijakan Keuangan Negara untuk Penanganan Pandemi COVID-19 dan/atau menghadapi ancaman yang membahayakan perekonomian nasional dan/atau stabilitas Sistem Keuangan. Contoh pembelian menggunakan akun 521131 sebagai berikut:

1. Biaya Komunikasi

Biaya komunikasi dalam bentuk pulsa telepon dan/atau paket data internet dapat diberikan kepada Insan Ombudsman yang dibutuhkan untuk menunjang pelaksanaan tugas dan fungsi dengan melampirkan kelengkapan pertanggungjawaban:

a. Kuitansi dari pihak ketiga/struk pembelian*;

b. Undangan rapat virtual/screenshoot rapat virtual (min. 10 undangan);

c. Dokumentasi bukti kehadiran rapat.

Besaran biaya komunikasi dapat diberikan kepada Insan Ombudsman dengan batasan maksimal sebagai berikut:

a. Pelaksanaan rapat virtual sebanyak 10-20 rapat diberikan Rp200.000 untuk Es.II keatas dan Rp100.000 untuk Es.III kebawah

b. Pelaksanaan rapat virtual sebanyak 20 keatas rapat diberikan Rp400.000 untuk Es.II keatas dan Rp200.000 untuk Es.III kebawah

Catatan:

* Kuitansi pembayaran menggunakan nomor handphone pegawai bersangkutan untuk 1 (satu) nomor.

- 76 -

2. Pengadaan lisensi aplikasi video conference.

3. Pembelian masker, handsanitizer, cairan disinfektan dalam rangka mendukung kegiatan operasional.

B. BELANJA JASA - PENANGANAN PANDEMI COVID-19 (522192) Digunakan untuk mencatat Belanja Jasa sebagaimana diatur dalam PMK mengenai Pelaksanaan Kebijakan Keuangan Negara Untuk Penanganan COVID-19 dan/atau Menghadapi Ancaman Yang Membahayakan Perekonomian Nasional dan/atau Stabilitas Sistem Keuangan. Contoh pembelian menggunakan akun 522192 sebagai berikut:

1. Pembayaran biaya jasa penyemprotan disinfektan menggunakan jasa pihak ketiga yang berkompeten.

2. Biaya Tes COVID-19.

Biaya tes COVID-19 (Rapid Test Antibody, Rapid Test/Swab Antigen, atau Test PCR) dengan menggunakan jasa pihak ketiga yang berkompeten menggunakan tarif tertinggi mengikuti aturan yang telah ditetapkan oleh Kementerian terkait.

Kelengkapan Pertanggungjawaban:

1) Surat dinas dari kantor; dan

2) Kuitansi/Tagihan dari pihak ketiga (Rumah Sakit, Puskesmas, Klinik, dst).

- 77 -

SIMULASI 4

1. Pertanyaan:

Akun apa yang digunakan untuk pembelian peralatan seperti webcam, soundcard, video card, kamera, beberapa mic condenser dan expansion mic dalam rangka Penanganan Dampak Pandemi COVID-19?

Jawaban:

Berdasarkan Kepdirjen Perbendaharaan Nomor 211/PB/2018 tentang Kodefikasi Segmen Akun pada Bagan Akun Standar dan Kepdirjen Perbendaharaan Nomor 135/PB/2020 tentang Pemutakhiran Kodefikasi Segmen Akun pada Bagan Akun Standar, pembelian peralatan seperti webcam, soundcard, video card, kamera, beberapa mic condenser, expansion mic dan yang lainnya yang dapat dikenali dengan BMN tersendiri merupakan perolehan aset tetap bagi suatu entitas sehingga apabila memenuhi kriteria sebagai aset tetap dan satuan minimum kapitalisasi maka dapat dialokasikan dan dibebankan dengan menggunakan akun perolehan aset tetap berupa peralatan dan mesin yaitu akun 532111 (bukan menggunakan akun khusus COVID-19). Namun apabila nilainya tidak memenuhi satuan minimum kapitalisasi maka pengalokasian dan pembebanannya menggunakan akun 521111 (Belanja Keperluan Perkantoran).

Adapun untuk penggunaaan BMN tersebut yang ditujukan bagi pegawai yang sedang melakukan Work From Home (WFH), pelaksanaannya berpedoman pada ketentuan mengenai penatausahaan BMN.

Dapat disampaikan pula, pengeluaran yang memenuhi pengertian dampak pandemi adalah yang berkaitan langsung dengan dampak penanganan pandemi, misalnya pemberian sembako bagi masyarakat yang terkena dampak (pengeluaran ini hanya dapat dilaksanakan oleh Satker KL tertentu).

- 78 -

2. Pertanyaan:

Dalam rangka pencegahan COVID-19, Perwakilan Ombudsman F sudah melakukan penyemprotan disinfektan seluruh area kantor namun menggunakan akun biaya fumigasi (pembasmi hama) di 521111. Apakah sudah tepat?

Jawaban:

Akun yang digunakan belum tepat. Pembelian cairan disinfektan dalam rangka pencegahan COVID-19 di lingkungan kantor, dapat menggunakan akun 521131 (Belanja Barang Operasional – Pencegahan Pandemi COVID-19).

Penyemprotan disinfektan menggunakan jasa pihak ketiga merupakan pekerjaan yang dikategorikan sebagai jasa, dimana komponen yang tercantum didalamnya meliputi pengadaan bahan baku disinfektan, alat yang digunakan untuk penyemprotan serta jasa orang yang melakukan penyemprotan. Akun yang digunakan adalah akun 522192 (Belanja Jasa – Penanganan Pandemi COVID-19) sesuai dengan BAS. Apabila pada satker Saudara tidak terdapat akun tersebut, Saudara dapat melakukan revisi penambahan akun 522192 sesuai ketentuan pada PMK tentang Tata Cara Revisi Anggaran tahun anggaran berkenaan.

3. Pertanyaan

Bagaimana ketentuan dalam Anggaran dan batasan biaya swab test?

Jawaban

Sesuai Surat Dirjen Perbendaharaan Nomor S-308/PB/2020 tanggal 09 April 2020 tentang penegasan Biaya/Belanja yang dapat dibebankan pada DIPA Satker dalam Masa Darurat COVID-19 dan S-369/PB/2020 Tgl 27 April 2020 hal Pemutakhiran Akun Dalam Rangka Penanganan Pandemi COVID-19, bahwa Satker dapat melakukan swab test terhadap pegawai melalui jasa pihak ketiga dan dapat dibebankan pada APBN dengan ketentuan bahwa KPA/Kepala

- 79 -

Satker melakukan penilaian kewajaran dan pengendalian atas biaya pelaksanaan swab test dimaksud serta memperhatikan prinsip efisiensi, efektivitas dan ketersediaan anggaran pada DIPA Satker.

Pembebanan swab test tersebut pada akun 522192 (Belanja Jasa - Penanganan Pandemi COVID-19). KPA bertanggung jawab terhadap penggunaan DIPA.

Tidak ada batasan maksimal penggantian biaya swab test dan rapid test, namun demikian KPA/Kepala Satker melakukan penilaian kewajaran dan pengendalian atas biaya pelaksanaan swab test dimaksud serta memperhatikan prinsip efisiensi, efektivitas dan ketersediaan anggaran pada DIPA Satker. Atau dapat mengikuti aturan tentang tarif tertinggi biaya tes COVID-19 yang telah ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan.

- 80 -

BAB IX

BELANJA MODAL

- 81 -

BAB IX BELANJA MODAL

A. UMUM

1. PENGERTIAN

Belanja modal merupakan pengeluaran yang dilakukan untuk pembentukan modal seperti pembelian, pengadaan atau pembangunan aset tetap berwujud atau barang inventaris yang mempunyai nilai manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan serta melebihi batasan minimal kapitalisasi aset tetap atau aset lainnya yang ditetapkan oleh pemerintah yang mana aset tersebut digunakan untuk operasional kegiatan sehari-hari dan tidak untuk dijual.

Belanja modal, termasuk di dalamnya menambah belanja yang bersifat rutin seperti biaya pemeliharaan yang sifatnya mempertahankan kondisi aset dalam keadaan normal dan tidak menambah masa manfaat, meningkatkan kapasitas dan kualitas aset.

Bentuk belanja modal seperti pembelian tanah, peralatan mesin, pembangunan gedung, bangunan, jalan, irigasi dan pembelian aset tetap lainnya.

Pengeluaran yang dikapitalisasi merupakan biaya minimum atas perolehan suatu aset tetap yang dapat dikapitalisasi. Batasan minimal nilai kapitalisasi aset untuk belanja modal peralatan dan mesin adalah Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah) tiap unit aset dan untuk belanja modal gedung dan bangunan adalah Rp25.000.000,00 (dua puluh lima juta rupiah) tiap pekerjaan sampai dengan aset tersebut siap digunakan. Pengeluaran setelah perolehan awal suatu aset tetap dapat dilakukan kapitalisasi apabila memenuhi salah satu kriteria sebagai berikut:

1. Menambah masa manfaat/umur ekonomis; atau

- 82 -

2. Memberi manfaat ekonomi dimasa yang akan datang dalam bentuk kapasitas, mutu produksi, atau peningkatan standar kinerja.

Jika nilai belanja tidak mencapai batas nilai kapitalisasi, maka aset tersebut tidak dapat diakui sebagai belanja modal yang menambah nilai aset tetap dalam laporan keuangan.

2. KRITERIA BELANJA MODAL

Suatu belanja masuk dalam kategori belanja modal apabila memenuhi syarat sebagai berikut:

a. Pengeluaran tersebut mengakibatkan adanya perolehan aset tetap atau aset lainnya yang menambah masa umur, manfaat dan kapasitas.

b. Pengeluaran tersebut melebihi minimum kapitalisasi aset tetap atau aset lainnya yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

c. Perolehan aset tetap tersebut diniatkan bukan untuk dijual.

d. Pengeluaran tersebut dilakukan sesudah perolehan aset tetap atau aset lainnya dengan syarat pengeluaran mengakibatkan masa manfaat, kapasitas, kualitas dan volume aset yang dimiliki bertambah serta pengeluaran tersebut memenuhi batasan minimum nilai kapitalisasi aset tetap/aset lainnya.

3. JENIS BELANJA MODAL

Jenis belanja modal adalah sebagai berikut:

NO JENIS URAIAN

a. Belanja Modal Tanah

Digunakan untuk pengadaan, pembebasan atau penyelesaian balik nama dan sewa tanah, pengosongan, pengurugan, perataan, pematangan tanah, pembuatan sertifikat dan pengeluaran lainnya yang berhubungan dengan perolehan hak atas tanah sampai dengan tanah

- 83 -

yang dimaksud dalam kondisi siap pakai.

Contoh: Pengurugan tanah yang nantinya akan dibangun gedung/bangunan.

b. Belanja Modal Peralatan dan Mesin

Digunakan untuk pengadaan, penambahan atau penggantian dan peningkatan kapasitas peralatan mesin serta inventaris atau aset kantor yang memberikan manfaat lebih dari satu periode akuntansi 12 (dua belas) bulan sampai dengan peralatan dan mesin yang dimaksud dalam kondisi siap pakai.

Contoh: belanja laptop, komputer, printer, meja, kursi, lemari, kendaraan, dll.

Contoh: belanja laptop, komputer, printer, meja, kursi, lemari, kendaraan, dll.