BAB IV DESIGN GUIDELINE KAWASAN PRIORITAS
C. Tata hijau pada Ruang Jalan
Tata hijau pada ruang jalan atau yang sering disebut landsekap ruang jalan adalah wajah dari karakter lahan atau tapak yang terbentuk pada Iingkungan jalan, baik yang terbentuk dari elemen lansekap alamiah seperti bentuk topografi lahan yang mempunyai panorama yang indah, maupun yang terbentuk dari elemen lansekap buatan manusia yang disesuaikan dengan kondisi Iahannya.
Lansekap jalan ini mempunyai ciri-ciri khas karena harus disesuaikan dengan persyaratan geometrik jalan dan diperuntukkan terutama bagi kenyamanan pemakai jalan serta diusahakan untuk menciptakan Iingkungan jalan yang indah, nyaman dan memenuhi fungsi keamanan. a. Prinsip – prinsip :
Hal-hal yang dipersyaratkan dan perlu diperhatikan dalam perencanaan lansekap jalan agar dapat memenuhi penyesuaian dengan persyaratan geometrik jalan adalah sebagai berikut :. - Pada jalur tanaman tepi
- Pada jalur tengah (median). - Pada daerah tikungan. - Pada daerah persimpangan.
Persyaratan utama yang perlu diperhatikan dalam memilih jenis tanaman lansekap jalan antara lain adalah :
- Perakaran tidak merusak konstruksi jalan - Mudah dalam perawatan
- Batang/percabangan tidak mudah patah - Daun tidak mudah rontok/gugur
b. Aturan / anjuran :
Pada jalur tanaman tepi - Fungsi peneduh
Persyaratan :
Ditempatkan pada jalur tanaman Percabangan 2 m di atas tanah. Bentuk percabangan batang Tidak merunduk.
Bermassa daun padat. Ditanam secara berbaris. Jenis tanaman :
Kiara Payung (Filicium decipiens) Tanjung (Mimusops elengi) Angsana (Ptherocarphus indicus) - Fungsi penyerap kebisingan
Persyaratan :
Terdiri dari pohon, perdu/semak. Membentuk massa.
Bermassa daun rapat. Berbagai bentuk tajuk. Jenis tanaman :
Tanjung (Mimusops elengi)
Kiara payung (Filicium decipiens)
Teh-tehan pangkas (Acalypha sp)
Kembang Sepatu (Hibiscus rosa sinensis)
Bogenvil (Bogenvillea sp)
Oleander (Nerium oleander) - Fungsi pembatas pandangPersyaratan :
Tanaman tinggi,
perdu/semak
Bermassa daun padat
Ditanam berbaris atau
membentuk massa
Jarak tanam rapatJenis tanaman
Bambu (Bambusa sp)
Cemara (Cassuarina equisetifolia) Kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis) Oleander(Nerium oleander)
Pada daerah tikungan - Fungsi pengarah pandang
Persyaratan :
Tanaman perdu atau pohon ketinggian > 2 m Ditanam secara missal atau berbaris
Jarak tanam rapat
Untuk tanaman perdu/semak digunakan tanaman yang memiliki warna daun hijau muda agar dapat dilihat pada malam hari.
Jenis tanaman :
o Pohon :
Cemara (Cassuarina equisetifolia) Mahoni (Switenia mahagoni) Hujan Mas (Cassia glauca)
Kembang Merak (Caesalphinia pulcherima) Kol Banda (pisonia alba)
o Perdu
Akalipa hijau Runing (Acalypha wilkesiana macafeana) Pangkas Kuning (Duranta sp)
Pada daerah persimpangan Persyaratan :
Untuk daerah bebas pandang ini ada ketentuan mengenai letak tanaman yang disesuaikan dengan kecepatan kendaraan dan bentuk persimpangannya. (lihat buku "Spesifikasi Perencanaan Lansekap Jalan Pada Persimpangan” No. 02/T/BNKT/1992). Sebagai-contoh dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel IV.1
Penataan Tanaman Pada Daerah Persimpangan
Sumber : Spesifikasi Perencanaan Lansekap Jalan pada Persimpangan Jenis tanaman :
o Daerah bebas pandang tidak diperkenankan ditanami tanaman yang menghalangi pandangan pengemudi. Sebaiknya digunakan tanaman rendah berbentuk tanaman perdu dengan ketinggian <0.80 meter, dan jenisnya merupakan berbunga atau berstruktur indah, misalnya :
Ixora stricata (soka berwarna-warni) Lantana camara (lantana)
Duranta sp (pangkas kuning)
o Penggunaan tanaman tinggi berbentuk tanaman pohon sebagai tanaman pengarah, digunakan Tanaman berbatang tunggal seperti jenis palem Contoh :
Oreodoxa regia (Palem raja) Areca Catechu (Pinang jambe) Borassus Flabellifer (Lontar/Siwalan)
o Tanaman pohon bercabang > 2 meter Contoh :
Khaya Sinegalensis (Srikaya) Lagerstromea Loudonii (Bungur) Mimusops Elengi (Tanjung)
Sumber : Spesifikasi Perencanaan Lansekap Jalan pada Persimpangan
Gambar 4.10
Contoh Rencana Skematik Penataan Tanaman pada Daerah Persimpangan 4.4. GUIDELINEPENATAAN SARANA, PRASARANA, DAN UTILITAS
4.4.1 Arsitektur Bangunan
1. Arahan KDB dan KLB Kawasan Desa Ngraji Prinsip-Prinsip :
KDB dan KLB mengatur setiap pembangunan dan sebagai acuan guna membangun pemukiman sehingga didapat sebuah pemukiman yang aman dan nyaman baik secara fisik maupun visual.
Ketentuan :
- Maksimal KDB : 40%-60%
- KLB : 0.8
- Ketinggian bangunan : 1-2 lantai (maksimal 10 m)
- GSB : Rumah yang berhadapan dengan jalan dusun min 2 m Rumah yang berhadapan dengan jalan desa min 3 m - Ketinggian Pagar : maksimal 1,5 m
2. Arahan Tata Bangunan Kawasan
Bangunan tradisional dan rumah adat merupakan suatu perwujudan budaya yang bersifat konkrit. Setiap bagian/ruang dalam rumah adat sarat dengan nilai dan norma yang berlaku pada masyarakat pemilik kebudayaan tersebut termasuk juga rumah tradisi Jawa. Konstruksi bangunan yang khas dengan fungsi setiap bagian yang berbeda satu sama lain mengandung unsur filosofis yang yang sarat
dengan nilai-nilai religi, kepercayaan, norma, dan nilai budaya adat etnis Jawa. Selain itu, rumah tradisi Jawa memiliki makna historis yang perlu dipelihara dan dilestarikan.
Peraturan mengenai persyaratan arsitektur didasarkan pada tujuan untuk membentuk suatu estetika visual arsitektur kawasan yang sebelumnya terbentuk secara organik. Selain itu diharapkan dapat mempertahankan identitas dan citra kawasan yang menjadi elamen spesifik yang membedakan dengan kawasan-kawasan lainnya.
Kondisi masyarakat yang sebagian berprofesi sebagai petani dengan bentuk bangunan sebagian besar berupa bangunan tradisional Jawa, yaitu kampung menjadi salah satu elemen yang dapat memperkuat karakter khas kawasan pedesaan.
Untuk itu ada beberapa poin yang menjadi penentu diantaranya yaitu : A. Langgam Arsitektur dan Dekoratif
Salah satu karakteristik umum bangunan di pedesaan yaitu pada ragam hias dan elemen dekoratif yang tetap mempartahankan elemen-elemen yang sering dijumpai pada bangunan tradisional jawa khususnya jawa tengah. Elemen-elemen tersebut terdapat pada keseluruhan bangunan mulai dari atap kolom, ukiran pada badan bangunan dan lain-lain.
Material bangunan yang digunakan yaitu material yang umum digunakan pada langgam bangunan seperti dinding tembok, kayu, genteng.
Selain itu skala dan ketinggian juga adalah faktor penting untuk diperhatikan untuk membentuk keseragaman danskyline/garis ketinggian bangunan dalam kawasan yang baik.
a. Prinsip-prinsip
Mempertahankan langgam khas dan menggunakan elemen khas yang sudah ada. Pembuatan bangunan baru dan renovasi memperhatikan aturan-aturan anjuran.
Struktur bangunan utama yang bersifat semi permanen diarahkan menuju bangunan permanen dengan standarisasi tahan gempa.
b. Aturan / Anjuran Atap
Menurut Heinz Frick arti dan fungsi konstruksi atap adalah sebagai pelindung manusia terhadap cuaca, baik pelindung terhadap panas maupun hujan. Curah hujan di Indonesia cukup besar, sehingga air hujan yang jatuh di permukaan atap harus cepat disalurkan ke dalam tanah. Untuk itu dibutuhkan kemiringan bidang atap yang cukup besar, yaitu 30o. Dengan ini, diharapkan, air hujan dapat langsung dibuang dari permukaan atap. Yang membedakan atap tradisional jawa tengah (joglo dan limasan) dengan bangunan modern atau bangunan tradisional yang lain yaitu pada material, bentuk, corak pada bubungannya.Konstruksi rangka atap joglo terdiri dari beberapa tiang yang disebut soko. Konstruksi atap joglo wajib memiliki tiang-tiang yang disebut soko guru. Pada konstruksi atap joglo murni yang diterapkan pada rumah tinggal, soko yang berfungsi sebagai
penyokong atap dengan kemiringan atap cukup curam tidak boleh dihilangkan. Masing-masing jenis tiang tersebut menyokong atap yang memiliki kemiringan yang berbeda-beda. Semakin ke arah luar, kemiringan atap akan semakin landai.
Bentuk atap yang dianjurkan untuk digunakan yaitu jenis atap joglo, limasan dan perisai. Kemiringan atap yang digunakan berdasarkan aturan yang berlaku di masyarakat mengenai konstruksi rumah joglo.
Struktur rangka atap menggunakan rangka baja, aluminium atau kayu. Material atap yang digunakan yaitu genteng (genteng tanah liat, keramik, metal)
Warna atap dianjurkan memakai warna coklat tua atau merah.
Motif elemen-elemen yang digunakan pada atap mengadopsi bentuk yang umum digunakan pada kawasan
4.4.2 Badan Bangunan
Ketinggian badan bangunan perlantai antara 320 cm – 350 cm. Persentase bukaan (pintu dan jendela) pada fasade bangunan utama yang menghadap ke jalan antara 40% - 75%. Ketinggian bukaan pada fasade bangunan yang menghadap ke jalan maksimal 250 cm diukur dari lantai bangunan terendah.
Material pada badan bangunan yang dianjurkan yaitu pasangan batu bata, kayu dan material sebagai elemen estetika seperti batu alam, dan ragam ukiran.
4.4.3 Struktur Bangunan
Struktur bangunan (sloof, kolom, ringbalk, balok) yang dianjurkan untuk bangunan permanen yaitu beton bertulang dan rangka baja.
Struktur bangunan pendukung yang bersifat semi permanen dapat menggunakan bahan dasar kayu dengan klasifikasi minimal jenis kayu kelas 2.
Struktur dasar bangunan untuk bangunan berlantai 1 menggunakan pondasi batu kali/batu gunung dengan kedalaman antara 30 cm – 70 cm dengan pertimbangan jenis dan kondisi tanah.
Struktur dasar bangunan untuk bangunan berlantai minimal 2 dianjurkan menggunakan pondasi foot dikombinasikan dengan pondasi baru kali/batu gunung.
4.4.4 Pagar
Konsep dasar yang digunakan dalam penataan pagar bangunan pada kawasan juga didasarkan pada tujuan untuk membentuk suatu identitas dan karakter pada kawasan tanpa mengesampingkan fungsi utama pagar sebagai pengaman dan pembatas zona privat dan zona umum. Jadi pada kasus ini pagar juga difungsikan sebagai elemen estetika kawasan.
a. Prinsip-prinsip :
Pagar sebagai elemen pembentuk karakter dan identitas.
Selain sebagai pembatas, pagar juga difungsikan sebagai elemen estetika.
Pagar diharapkan memberi kontribusi positif terhadap kawasan. b. Aturan anjuran :
Material pagar
Material pagar yang dianjurkan menggunakan tata vegetasi sebagai bahan utama. Bisa berupa penggunaan tanaman perdu dan semak serta jenis tanaman merambat yang dikombinasikan dengan media tanam atau media rambat. Selain itu untuk bahan pendukung bisa digunakan dinding bata, kayu, besi dan batu alam yang difungsikan sebagai konstruksi pagar dan aksen. Ketinggian pagar
Ketinggian pagar pada jalan utama yang dianjurkan antara 120 cm – 150 cm. hal ini ditujukan agar penggunaan pagar dapat berfungsi juga sebagai buffer terhadap suara dan polusi kendaraan dan debu. Ketinggian pagar pada jalan-jalan lingkungan yang dianjurkan antara 80 cm -120 cm. hal ini ditujukan agar pagar tidak menutupi fasad bangunan sekaligus memberi ruang pandang dan membentuk interaksi secara visual.
4.4.5 Fasilitas Infrastruktur A. Street Furnitures
“Elemen-elemen ruang pada ruang publik yang dapat memberikan kenyamanan bagi pengguna, seperti: tempat duduk, pohon peneduh dan tempat parkir” (Shirvani, 1985).
Dalam kasus kawasan Desa Ngraji inistreet furnitureselain fungsional, juga sebagai elemen estetika dan memberi warna terhadap kawasan.
Beberapa jenisstreet furniture yang akan dibuatkan anjuran yaitu diantara lain lampu jalan, tempat sampah, tempat duduk, papan pengumuman dan pos jaga/ poskamling.
Prinsip-prinsip :
- Berfungsi sebagai elemen pembentuk karakter dan identitas.
- Keberadaanstreet furnituredansignagetidak menghambat keberlangsungan aktifitas lain.
- Signage hendaknya mudah dipahami dan bersifat memberi penerangan, jelas dan memberi kontribusi positif pada kawasan.
- Perletakan sesuai dengan kebutuhan.
B. Landmark dan Node
Landmark dapat diartikan sebagai bentuk-bentuk visual yang mencolok pada suatu ruang lingkup kawasan yang juga berfungsi sebagai penanda orientasi kawasan. Keberadaan landmark ini juga tergantung pada skala kawasan. Pada beberapa kasus, landmark dapat berfungsi dalam skala yang
luas seperti keberadaan tower atau bangunan tinggi. Dalam skala yang lebih kecil landmark dapat berupa taman, air mancur, tugu atau patung, jam dan lain-lain.
Sedangkan node adalah sebuah pusat aktivitas dalam sebuah kawasan. Node juga merupakan salah satu tipe dari landmark yang dalam penggunaannya lebih bersifat aktif dan mewadahi kegiatan. Dalam kawasan desa Ngraji ada beberapa titik pada kawasan yang akan difungsikan sebagai landmarkdannodekawasan.
Di kawasan Desa Ngraji tujuan utama dari landmark dan node adalah sebagai penanda dan wayfindingdalam memperjelas orientasi terhadap lingkungan. Balai Desa Ngraji adalah salah satu titik yang potensial sebagainodeyang dapat diarahkan sebagailandmarkkawasan. Penataan pada titik ini akan menguatkan fungsi sehingga citra fungsi sebagai landmark atau penanda kawasan dapat terbentuk. Selain itu sarana olahraga dan persimpangan jalan merupakan potensi yang dapat diangkat.
C. Gate
Gate sebagai gerbang masuk dan keluar dari kawasan juga akan memberi kejelasan mengenai orientasi.
Penataan terhadap gate nantinya dilakukan dengan tujuan menciptakan kognisi dan pembentukan karakter visual kawasan. Gate utama terletak sebagai pintu gerbang dan pintu keluar kawasan. Pada setiap dusun juga dianjurkan memiliki gate sebagai batas wilayah sehingga membentuk kejelasan teritorial setiap dusun tetapi tetap membuat suatu kesatuan dalam lingkup desa Ngraji.
4.4.6 Fasilitas Utilitas 1. Persampahan
A. Pengelolaan sampah rumah tangga Prinsip-prinsip :
Sampah merupakan masalah yang menjadi beban bagi sebuah kota maupun kawasan. Dengan pengelolaan yang serius diharapkan dapat menanggulangi masalah ini.
Sistem pengelolaan sampah di desa Ngraji dibagi menjadi 2 macam, yaitu komunal dan individu. Pengelolaan komunal dilakukan secara bersama dalam sebuah fasiltas yang disediakan oleh pemerintah maupun swadaya masyarakat setempat. Sedang untuk pengelolaan individu dikelola secara skala rumahan. Konsep pegembangan persampahan perlu peningkatan melalui peningkatan pelayanan pengangkutan sampah dari unit lingkungan terkecil yaitu rumah tangga menuju dusun kemudian desa dan selanjutnya kota.
B. Pengelolaan sampah permukiman di sumber
Yang dimaksud sumber adalah sampah dari rumah, sekolah, industri kecil, Hal-hal yang dilakukan adalah :
Memilah sampah organik dan anorganik dan menempatkan pada wadah yang terpisah
Melakukan pengkomposan sampah organik sesuai dengan kondisi tanah masing-masing rumah Menghindari pembuangan sampah dengan dibakar karena menimbulkan pencemaran
lingkungan
C. Pengelolaan sampah non perumahan disumber
Pengelolaan sampah non perumahan disumber seperti di pasar, sampah penyapuan jalan yang dilakukan dengan pengumpulan langsung.
Pengumpulan dan pengangkutan
Sampah hasil rumahan dikumpulkan di dalam kantong/bak sampah. Sampah rumahan tidak boleh diletakkan di luar rumah kecuali dalam bak sampah umum. Sampah dikumpulkan petugas minimal 1x sehari dan dibawa ke TPS desa untuk diangkut petugas TPS kota.
Hal ini dimaksudkan agar kawasan selau bersih dari pemandangan sampah maupun bau yang timbul akibat adanya timbunan sampah.
Rencana Strategi Sistem Persampahan Terpadu (RSSPT):
Memilih sampah organik dan anorganik yang ditempatkan pada wadah yang berbeda dan ditandai. Bahan Tong sampah dari bahan yang tidak mudah rusak dan menimbulkan pencemaran serta diberi
penutup seperti: tong plastic/fiber, tong dari ban bekas atau tong sampah dari seng.
Melakukan komposisasi dalam skala lingkungan, Hal ini untuk meningkatkan peran masyarakat dalam pengeloaan sampah dan dapat meingkatkan pendapatan dengan penjualan kompos atau minimal dapat dimanfaatkan untuk pemupukan tanaman pribadi.
Memilah sampah anorganik sesuai dengan jenisnya, misalnya plastik, kaca, besi untuk kemudian dapat dimanfaatkan dan diolah sebagai barang daur ulang yang memiliki nilai ekonomis. Pelaksanaan pengelolaan sampah non-organik ini dapat dikelola oleh ibu-ibu PKK setempat.
2. Sistem Jaringan Drainase Prinsip-prinsip :
Jaringan drainase adalah jaringan yag menampung air hujan, terutama yang berasal dari jalan dan sekitarnya yang dilarikan ke sungai sungai. Jaringan drainase mengikuti pola jalan dan topografi kawasan. Jaringan drainase juga dapat dimanfaatkan untuk air limbah rumah tangga.
3. Sistem Jaringan Air Bersih
Penyediaan sumber air bersih dikelola oleh PDAM dan masyarakat yang tidak berlangganan dapat mengunakan air yang berada pada sekitar kawasan, berupa:
- Mata Air
- Air permukaan (Sungai)
Aturan / Anjuran :
Untuk memenuhi kebutuhan air bersih maka diperlukan peningkatan pengadaan air besih. Tujuan perencanaan air bersih adalah untuk meminimalisir pengambilan air dangkal oleh masyarakat agar keseimbangan terjaga.
Untuk memenuhi hal tersebut, maka:
Meningkatkan cadangan volume air bersih melalui sumur-sumur resapan, sumur resapan untuk menyimpan air kedalam tanah yang berasal dari air hujan dengan dimensi resapan 1 m dan kedalaman 2 m.
Pengendalian kedalaman sumur pompa pada wilayah tertentu guna pengendalian sumber air bersih. Pengendalian lingkungan sekitar sumber air dari pencemaran dengan ditetapkan sebagai area
konservasi.
Untuk meningkatkan jumlah air tanah maka disetiap rumah/lingkungan dibuat lubang peresapan biofori. Setiap lahan 100 m2 jumlah ideal LRB (Lubang Resapan Biofori) dibuat sebanyak 30 titik dengan jarak antar lubang 0,5–1 m
Sumber :Biofori dalam google.com, 2009
Gambar 4.11