• Tidak ada hasil yang ditemukan

4) Interaksi Akibat Perubahan Ekskresi Ginjal

1.2 Peran Apoteker dalam Penanganan Interaksi Obat

2.3.3 Tatalaksana terapi

Menurut Depkes RI (2005) penatalaksanaan diabetes mempunyai tujuan akhir untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas diabetes melitus, yang secara spesifik ditujukan untuk mencapai 2 target utama, yaitu menjaga agar kadar glukosa plasma berada dalam kisaran normal dan mencegah atau meminimalkan kemungkinan terjadinya komplikasi. Penatalaksanaan terapi menurut Depkes RI (2005) ada dua jenis terapi yaitu terapi tanpa obat dan terapi obat:

a. Terapi tanpa obat 1. Pengaturan diet

Diet yang baik merupakan kunci keberhasilan penatalaksanaan diabetes. Diet yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisi yang seimbang dalam hal karbohidrat, protein dan lemak, sesuai dengan kecukupan gizi baik sebagai berikut:

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 1) Karbohidrat : 60-70%

2) Protein : 10-15% 3) Lemak : 20-25%

Jumlah kalori disesuaikan dengan pertumbuhan, status gizi, umur, stres akut, dan kegiatan fisik, yang pada dasarnya ditujukan untuk mencapai dan mempertahankan berat badan ideal. Dalam salah satu penelitian dilaporkan bahwa penurunan 5% berat badan dapat mengurangi kadar HbA1c sebanyak 0,6% (HbA1c adalah salah satu parameter status DM), dan setiap kilogram penurunan berat badan dihubungkan dengan 3-4 bulan tambahan waktu harapan hidup.

Masukan serat sangat penting bagi penderita diabetes, diusahakan paling tidak 25 gram perhari. Disamping akan menolong menghambat penyerapan lemak, makanan berserat yang tidak dapat dicerna oleh tubuh juga dapat membantu mengatasi rasa lapar yang kerap dirasakan penderita DM tanpa risiko masukan kalori yang berlebih. Disamping itu, makanan sumber serat seperti sayur dan buah-buahan segar umumnya kaya akan vitamin dan mineral.

2. Olah raga

Berolah raga secara teratur dapat menurunkan dan menjaga kadar gula darah tetap normal. Saat ini ada dokter olah raga yang dapat dimintakan nasihatnya untuk mengatur jenis dan porsi olah raga yang sesuai untuk penderita diabetes. Prinsipnya, tidak perlu olah raga berat, olah raga ringan asal dilakukan secara teratur akan sangat bagus pengaruhnya bagi kesehatan. Olah raga akan memperbanyak jumlah dan meningkatkan aktivitas reseptor insulin dalam tubuh dan juga meningkatkan penggunaan glukosa.

b. Terapi Obat

Apabila penatalaksanaan terapi tanpa obat (pengaturan diet dan olahraga) belum berhasil mengendalikan kadar glukosa darah penderita, maka perlu dilakukan langkah berikutnya berupa penatalaksanaan terapi obat, baik

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam bentuk terapi obat hipoglikemik oral, terapi insulin, atau kombinasi

keduanya.

1. Terapi insulin.

Terapi insulin merupakan satu keharusan bagi penderita DM Tipe-1.Pada DM Tipe-1, sel-sel β Langerhans kelenjar pankreas penderita rusak, sehingga tidak lagi dapat memproduksi insulin. Sebagai penggantinya, maka penderita DM Tipe 1 harus mendapat insulin eksogen untuk membantu agar metabolism karbohidrat di dalam tubuhnya dapat berjalan normal.

Walaupun sebagian besar penderita DM Tipe 2 tidak memerlukan terapi insulin, namun hampir 30% ternyata memerlukan terapi insulin di samping terapi hipoglikemik oral.

2. Terapi obat Hipoglikemia oral

Obat-obat hipoglikemik oral terutama ditujukan untuk membantu penanganan pasien DM Tipe II. Pemilihan obat hipoglikemik oral yang tepat sangat menentukan keberhasilan terapi diabetes. Bergantung pada tingkat keparahan penyakit dan kondisi pasien, farmakoterapi hipoglikemik oral dapat dilakukan dengan menggunakan satu jenis obat atau kombinasi dari dua jenis obat. Pemilihan dan penentuan rejimen hipoglikemik yang digunakan harus mempertimbangkan tingkat keparahan diabetes (tingkat glikemia) serta kondisi kesehatan pasien secara umum termasuk penyakit-penyakit lain dan komplikasi yang ada. Berdasarkan mekanisme kerjanya, obat-obat hipoglikemik oral dapat dibagi menjadi 3 golongan, yaitu:

1. Obat-obat yang meningkatkan sekresi insulin, meliputi obat hipoglikemik oral golongan sulfonilurea dan glinid (meglitinid dan turunan fenilalanin).

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2. Sensitiser insulin (obat-obat yang dapat meningkatkan sensitifitas sel

terhadap insulin), meliputi obat-obat hipoglikemik golongan biguanid dan tiazolidindion, yang dapat membantu tubuh untuk memanfaatkan insulin secara lebih efektif.

3. Inhibitor katabolisme karbohidrat, antara lain inhibitor α-glukosidase yang bekerja menghambat absorpsi glukosa dan umum digunakan untuk mengendalikan hiperglikemia post-prandial (post-meal

hyperglycemia). Disebut juga “starch-blocker”.

Menurut Dipiro (2009) algoritma pelaksanaan terapi diabetes melitus agar terapi berjalan optimal adalah sebagai berikut:

Target Tercapai Pantau HbA1C tiap

3-6 bulan

Pilihan monoterapi lain: Pioglitazon, Rosiglitazone,

Repaglinid, Nateglinid, Acarbose, Insulin/Insulin

Analog

Tambahkan terapi insulin Intervensi Awal Edukasi/Diet/Olahraga Target: HbA1C: ≤6,5-7,0% GDS: <110-130 mg/dl GDPP: <140-180 mg/dl

Target tidak Tercapai setelah 1 bulan Monoterapi/kombinasi

ADO

Sulfonilurea dan/Metformin

Pilihan kombinasi lain:  Metformin/Sulfonilurea +

Pioglitazon/Rosiglitazon atau Akarbose/Miglitol

 Metformin + Nateglinid atau Repaglinid atau

Insulin/Insulin Analog Target tidak Tercapai

setelah 3 bulan Kombinasi Sulfonilurea dan

Metformin

Target tidak Tercapai setelah 3-6 bulan Target Tercapai

Lanjutkan Terapi Pantau HbA1C tiap

3-6 bulan

Target Tercapai Lanjutkan Terapi Pantau HbA1C tiap

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2.4 Pengertian Polifarmasi

Polifarmasi merupakan penggunaan obat dalam jumlah yang banyak dan tidak sesuai dengan kondisi kesehatan pasien. Meskipun istilah polifarmasi telah mengalami perubahan dan digunakan dalam berbagai hal dan berbagai situasi, tetapi arti dasar dari polifarmasi itu sendiri adalah obat dalam jumlah yang banyak dalam suatu resep (dan atau tanpa resep) untuk efek klinik yang tidak sesuai. Jumlah yang spesifik dari suatu obat yang diambil tidak selalu menjadi indikasi utama akan adanya polifarmasi akan tetapi juga dihubungkan dengan adanya efek klinis yang sesuai atau tidak sesuai pada pasien (Rambadhe dkk 2012, dalam Dewi et al 2014). Adapun menurut Bjerrum et al (2003) seorang individu yang mengalami polifarmasi diidentifikasi dimana apabila menggunakan secara bersamaan dari dua atau lebih obat.

Polifarmasi yang didefinisikan sebagai penggunaan bersamaan beberapa obat, dapat menimbulkan risiko kesehatan seperti reaksi obat merugikan (adverse

drug reaction), interaksi obat-obat (drug-drug interaction), kesalahan

pengobatan (medication error) dan kepatuhan yang buruk (poor compliance). Jumlah obat yang di konsumsi merupakan prediktor dari komplikasi ini, dan penggunaan bersamaan dari lima atau lebih menyebabkan risiko dari kejadian masalah terkait obat (Bjerrum, 1998).

Dokumen terkait