C. Unsur Religius Pertunjukan Tayub Sredeg sebagai Sarana Upacara Ritual di Desa Karangsari
1. Tayub dalam Upacara Bersih Desa di Desa Karangsari
Masyarakat Desa Karangsari selalu mempertunjukan Tayub Sredeg sebagai rangkaian acara bersih desa yang biasanya dilaksanakan dua tahun sekali, karena di tahun pertama diadakan upacara sederhana yang disebut paesan. Acara bersih desa ini biasanya dilaksanakan pada Bulan Ruwah, pada hari jumat legi (Kalau tidak ada hari Jumat Legi pada Bulan Ruwah, biasanya diadakan pada minggu ke-3 pada hari Jumat di Bulan Ruwah tersebut) . Upacara bersih desa di Desa Karangsari biasanya selalu menghadirkan kesenian Tayub Sredeg pada rangkaian acaranya, karena upacara tersebut berperan penting dalam kehidupan masyarakat Desa Karangsrai. Tayub diselenggarakan sebagai ungkapan rasa syukur dan keselamatan dalam kaitannya dengan keberhasilan bercocok tanam yang diwujudkan dalam melimpahnya hasil pertanian penduduk.
Tayub Sredeg sendiri dianggap religius karena sebagai media penghubung dunia spiritual antara masyarakat serta kekuatan gaib penunggu Desa Karangsari.
Oleh karena itu, masyarakat masih menyelenggarakan upacara ritual dengan mempertunjukan Tayub Sredeg sebagai syarat penting dalam rangkaian upacara bersih desa, dengan tujuan agar harapan masyarakat mendapatkan kesuburan tanah dan hasil panen yang melimpah akan terwujud. Pandangan masyarakat terkait Tayub Sredeg adalah bahwa Tayub Sredeg telah berhasil membawa mereka menuju kehidupan sejahtera, tanpa kehadiran Tayub Sredeg ditengah-tengah masyarakat Desa Karangsari dirasa ada yang kurang dan seperti menjadi hal wajib bagi masyarakat Desa Karangsari untuk mempertontonkan Tayub Sredeg pada saat upacara ritual bersih desa.
commit to user
Pelaksanaan upacara bersih desa dengan mempertunjukan Tayub Sredeg terkait erat dengan mitos yang masih diyakini oleh masyarakat di Desa Karangsari. Mitos yang selama ini diyakini adalah, bahwa penari Tayub Sredeg dianggap sebagai perantara antara masyarakat dengan Dewi Sri (Dewi Kesuburan). Mitos itu masih dipercayai dikalangan masyarakat Desa Karangsari, masyarakat beranggapan kalau mereka mementaskan Tayub Sredeg hasil panen mereka melimpah. Masyarakat Desa Karangsari tidak berani melanggar ketentuan yang sudah ada untuk mementaskan Tayub Sredeg dikarenakan masyarakat tidak mau ambil resiko, mereka hanya menjalankan dan memelihara tradisi yang sudah ada sejak zaman dahulu.
Pertunjukan Tayub Sredeg dalam upacara adat bersih desa berperan sangat penting bagi masyarakat Desa Karangsari karena dipercayai sebagai upacara kesuburan yang diharapkan berpengaruh terhadap kesuburan tanah, melimpahnya hasil panen, terhindar dari berbagai hama tanaman dan keselamatan serta kesejahteran masyarakat desa setempat. Masyarakat Desa Karangsari sendiri masih percaya perlunya upacara bersih desa, karena takut mendapatkan musibah atau malapetaka, juga takut untuk manyalahi tradisi dari nenek moyang yang selama ini sudah menjadi kewajiban dan harus dilakukan.
Tujuan masyarakat Desa Karangsari menyelenggarakan upacara bersih desa dengan pertunjukan Tayub Sredeg pada dasarnya adalah suatu aktifitas religius untuk mencari ketenangan dengan memahami tatanan alam dan kehidupan yang harmonis dengan alam. Aktifitas religius ini menjadi proses untuk lebih memahami dan menghayati kehidupan dan lebih mendekatkan diri dengan alam, yang pada akhirnya dapat muncul kesadaran bahwa mereka adalah bagian
commit to user
dari alam dan Tuhan Yang Maha Esa. Makna yang hakiki yang disampaikan adalah manusia menjadi sumber daya alam untuk tujuan keharmonisan alam, manusia, dan Tuhan. Untuk itu Tayub Sredeg sebagai tari ritual yang memiliki aktifitas religius diharapkan mampu menumbuhkan budaya spiritual di masyarakat dengan harapan dapat menjadi sarana meruwat desa agar tentram dan terwujud kemakmuran yang dicita-citakan masyarakatnya.
Penyelenggaraan upacara bersih desa bagi masyarakat Desa Karangsari juga dapat dimaknai sebagai cara untuk menyampaikan rasa syukur terhadap alam dan Tuhan Yang Maha Esa atas melimpahnya hasil panen yang didapatkan. Hal ini didasari pula oleh adanya pandangan, bahwa terjadi hubungan yang erat antara kehidupan manusia, alam dan Tuhan. Pertunjukan Tayub Sredeg pada dasarnya mempunyai konsep manunggaling kawula Gusti, bagi masyarakat Desa Karangsari yang penting dalam menari tayub itu adalah hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa yang merupakan aktifitas religius dalam pementasan Tayub Sredeg.
Upacara bersih desa selalu melibatkan seluruh anggota masyarakat dalam rangkaian kegiatan, dari perencanaan, persiapan, sampai dengan pelaksanaan.
Rangkaian kegiatan bersih desa di Desa Karangsari biasanya terdiri dari: (1) kerja bakti atau membersihkan jalan, pundhen atau sendhang; (2) sredegan; (3) tirakatan; dan (4) sedekahan. Kerja bakti untuk membersihkan jalan-jalan utama di Desa Karangsari dan pundhen atau sendhang yang dikeramatkan dilakukan oleh seluruh warga Desa Karangsari untuk mengawali upacara bersih desa. Hal itu sebagai partisipasi masyarakat terhadap penyelamatan sumber daya alam,
commit to user
terutama pelestarian terhadap sumber mata air selain penghormatan terhadap dhanyang desa tersebut.
Tahap kedua dari upacara bersih desa di Desa Karangsari adalah sredegan, tentunya dengan pementasan Tayub Sredeg pada rangkaian acaranya. Acara tersebut dimulai pada pukul 20.00 WIB di halaman rumah Kadus Desa Karangsari. Pada acara tersebut, pertama-tama dimulai dengan pembacaan Al-faatihah sebagai doa kepada Tuhan Yang Maha Esa oleh modin yang bertugas selanjutnya Mbah Sredeg bertugas memimpin jalannya ritual bersama kepala desa dan sesepuh desa meminta kepada dhanyang (roh halus penunggu) desa sekitar untuk meminta perlindungan agar Desa Karangsari terhindar dari bencana, hal tersebut sebagai aktifitas religius masyarakat Desa Karangsari kepada dhanyang Desa Karangsari. Pada acara sredegan masyarakat harus menghadirkan Tayub Sredeg hal itu dipercayai seluruh masyarakat Desa Karangsari, sehingga pelaksanaan acara sredegan dengan mementaskan Tayub Sredeg menjadi hal wajib walaupun hanya dilakukan dua tahun sekali.
Pada acara sredegan, masyarakat Desa Karangsari mulai dari yang masih anak-anak hingga orang dewasa berbondong-bondong menghadiri acara tersebut dikarenakan acara tersebut merupakan acara puncak dalam pelaksanaan upacara bersih desa di Desa Karangsari. Pada Acara tersebut Mbah Sredeg juga memercikan air putih yang dimasukan kedalam gelas yang berisi bunga setaman, setelah pembacaan doa usai, air tersebut dipercikan Mbah Sredeg kepada warga Desa Karangsari dengan menggunakan daun salam, tujuannya agar mendapat berkah lewat air tersebut. Setelah acara sredegan selesai seluruh warga Desa Karangsari diberikan hidangan dan makan bersama-sama sambil melihat
commit to user
pertunjukan Tayub Sredeg yang dihadirkan Mbah Sredeg sebagai acara puncak karena diyakini pertunjukan tayub dapat menghadirkan Dewi Sri (Dewi Kesuburan) untuk memberikan kesuburan dan kemakmuran bagi masyarakat yang menyelenggarakan upacara itu. Sredegan menjadi acara yang wajib dihadiri oleh seluruh masyarakat dikarenakan sebagai ajang berkumpul dan silahturahmi diantara masyarakat Desa Karangsari agar tercipta keharmonisan diantara masyarakatnya.
Gambar 9. Perebutan Air Suci
Sumber: Upacara Bersih Desa di Desa Karangsari (6 Juli 2012)
Tahap ketiga adalah tirakatan, tirakatan dilaksanakan pada hari yang sama setelah acara sredegan. Tirakatan biasanya hanya dilakukan oleh kaum laki-laki biasanya bapak-bapak dan pemuda desa dikarenakan ibu-ibu dan anak-anak capek apabila diharuskan untuk mengahdiri acara tersebut. Tirakatan biasanya dilakukan dengan cara berkumpul bersama di rumah Kadus Desa Karangsari. Acara tersebut biasanya dilaksanakan sampai matahari terbit. Pada acara Tirakatan aktifitas religius yang dilakukan masyarakat Desa Karangsari adalah menjaga desa mereka dari gangguan dhanyang yang mengganggu. Rangkaian acara tirakatan tersebut commit to user
juga ada sambutan dan doa, akan tetapi lebih terkesan santai dan kekeluargaan.
Apabila masyarakat menghendaki agar acaranya rame maka menghadirkan campursari untuk menghibur.
Tahap keempat atau terakhir dalam upacara bersih desa di Desa Karangsari adalah sedekahan. Acara sedekahan dilaksanakan keesokan harinya di rumah Bapak Hartono sekitar pukul 06.00 WIB. Pada kegiatan ini setiap warga hadir dengan membawa hidangan berupa tumpeng dan panggang sebagai simbol ungkapan rasa syukur atas rejeki yang telah didapat. Acara ini sebagian besar dihadiri ibu-ibu dan anak-anak dikarenakan bapak-bapak sudah lelah dengan kegiatan tirakatan. Kegiatan sedekahan ini dilakukan masyarakat Desa Karangsari dengan saling berbagi tumpeng dan panggang antara warga satu dengan warga yang lain sehingga masyarakat dapat saling merasakan hidangan yang dibawa oleh masing-masing dari mereka.
Pada rangkaian acara sedekahan yang dilakukan di rumah Bapak Hartono, selanjutnya dilakukan di pundhen, masyarakat Desa Karangsari menyebutnya dengan Pundhen Mertosejati. Masyarakat Desa Karangsari meyakini bahwa Punden Mertosejati dihuni oleh Eyang Singowijoyo, Eyang Singowijoyo diyakini sebagai penunggu Desa Karangsari yang membantu masyarakat untuk hidup mencapai sejahtera dan menjaga mereka dari segala macam bahaya. Menurut cerita Masyarakat Desa Karangsari, sosok Eyang Singowijoyo adalah macan putih yang menunggu disekitar pundhen tersebut.
Sedekahan yang dilaksanakan di Pundhen Mertowijaya, masyarakat menyiapkan berbagai macam sesaji (bawang merah, bawang putih, daun sirih, injet, bunga setaman, beras, uang receh, telur, dan tambir) dan bambu bekas tusuk
commit to user
panggang yang dibakar di Pundhen Mertosejati sebagai penghormatan terhadap Eyang Singowijoyo sebagai penunggu pundhen yang dipercayai masyarakat menjaga Desa Karangsari dari segala ancaman bahaya.
Dari seluruh uraian diatas, unsur religius pada upacara bersih desa di Desa Karangsari adalah keyakinan dan kepercayaan masyarakat akan sosok Mbah Sredeg yang telah mampu membawa mereka hidup sejahtera, jauh dari bencana, dan hasil panen melimpah. Niat doa dari Mbah Sredeg dirasa menjadi kesukaan dhanyang desa setempat. Tampaknya upacara bersih desa di Desa Karangsari
merupakan peninggalan ajaran agama Hindu, akan tetapi setelah masyarakat mengenal agama Islam, terjadi sinkritisme sehingga ajaran atau tradisi yang berlaku sebelumnya tetap diadopsi oleh masyarakat. Hal ini tampak jelas dalam acara bersih desa pada acara selamatan yang diawali dengan doa-doa sesuai ajaran agama Islam. Setelah doa dengan agama Islam selesai, dilanjutkan menyampaikan mantera-mantera yang isinya memanggil roh-roh yang menjaga tanah tempat berpijak dan bekerja. Tradisi yang kadang-kadang dianggap syirik oleh sebagian kalangan muslim itu, menjadi bagian dari tradisi masyarakat Desa Karangsari yang sampai saat ini masih terjaga kelestariannya.
Tayub dalam upacara bersih desa bukan sekedar masalah kepercayaan, melainkan masalah budaya yang terkait dengan pertanian, karena mereka adalah masyarakat agraris. Oleh karena itu tayub bukan hanya milik agama tertentu, melainkan milik semua warga masyarakat desa yang hidup dari bertani. Tradisi bersih desa dengan rangkaian kegiatannya mengutamakan kerukunan antar umat beragama, kebersamaan, kegotongroyongan, dan sarana silahturahmi antar warga
commit to user
desa. Hal itu merupakan kearifan lokal yang perlu dipertahankan oleh masyarakat Desa Karangsari.