• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teacher’s Ability to Think Abstracly (kemampuan guru berpikir abstrak)

Seorang guru dapat dikatakan memiliki kemampuan berpikir abstrak yang baik apabila dia mempunyai kemampuan dan dapat menunjukkan sikap dan perilaku dalam melaksanakan tugas profesinya (melaksanakan pembelajaran) sebagai berikut:

a. Guru memiliki kemampuan dalam melaksanakan proses pembelajaran secara baik (tepat menggunakan metode, media, strategi dan evaluasi belajar beserta tindak lanjutnya dan sebagainya).

b. Guru memiliki kemampuan mengidentifikasi masalah belajar siswa, masalah-masalah dalam pembelajaran serta mampu menganalisis masalah-masalah tersebut.

c. Guru memiliki kemampuan membuat alternatif pemecahan masalah baik masalah pembelajaran yang dia lakukan. Seorang guru yang mampu mengidentifikasi, menganalisis dan membuat alternatif pemecahan masalah berarti guru tersebut mempunyai kemampuan berpikir ilmiah dalam arti berpikir sesuai dengan prosedur dan langkah- langkah ilmiah. Kemampuan ini memberikan indikasi bahwa seorang guru sudah

DUMMY

seharusnya dapat melakukan kegiatan-kegiatan penelitian praktis dan sederhana di dalam kelasnya guna menunjang keberhasilan proses pembelajaran yang dia lakukan.

Hunt dan Joce (1967) menambahkan bahwa guru yang memiliki abstraksi tinggi ini adalah guru yang menunjukkan sikap dan perilaku sebagai berikut: a. Dalam mengajar ia selalu berperilaku fleksibel, artinya tidak kaku dalam

komunikasinya dengan siswa dan staf lainnya.

b. Jarang mengalami stres dan mempunyai hubungan yang lebih positif dengan rekan sejawat, artinya perilaku sehari-hari selalu gembira, bergairah dan rileks.

Sementara Glasberg (1979) melengkapi lagi ciri-ciri tersebut di atas dengan:

a. Guru memiliki daya adaptasi gaya mengajar yang fleksibel dan lebih supel serta mampu menggunakan berbagai model mengajar. lni berarti guru selalu tampil dengan variasi metode, pendekatan dan strategi belajar mengajar, sehingga dapat mendorong aktivitas yang tinggi bagi siswa dalam belajar.

b. Guru dapat melihat berbagai kemungkinan dan mampu menggunakan berbagai cara dalam mencari alternatif model mengajar serta lebih konsekuen dan efektif dalam menghadapi murid-muridnya.

Dari uraian di atas jelaslah bahwa seorang guru yang profesional harus dapat merefleksikan dirinya sebagai seorang profesional yang ditunjukkan dalam bentuk komitmen terhadap profesi dan kemampuan berpikir abstrak. Untuk itulah peranan pendidikan baik sebelum menjadi guru (pre service) maupun setelah menjadi guru (inservice) memegang peranan yang sangat penting dan strategis dalam usaha membentuk guru yang memiliki komitmen yang tinggi terhadap profesi dan abstraksi yang tinggi. Upaya ini sejalan dengan arah kebijaksanaan sekarang di mana pemerintah berusaha selalu akan terus berusaha meningkatkan kualitas sumber daya manusia (pada hakikatnya adalah peningkatan ability to think abstractly). Dalam dunia pendidikan konsistensi upaya pemerintah meningkatkan kualitas sumber daya tenaga kependidikan (termasuk guru) ditunjukkan dengan peningkatan jenjang pendidikan guru, yaitu D2/Akta II untuk guru SD (dulu hanya lulusan SPG), D3/Akta III untuk SLTP dan S1 /Akta IV untuk SLTA. Peningkatan ini dilakukan melalui pendidikan pra jabatan (pre service) maupun melalui jalur penyetaraan, yaitu guru yang sudah mengajar/lama bekerja sekalipun diminta untuk menempuh pendidikan/kuliah pada jenjang tertentu (inservice edu cation).

DUMMY

Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, serta Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 tentang Pendidik serta Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 18 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Pendidik. Landasan yuridis tersebut di atas sangat jelas memberikan posisi kepada guru sebagai unsur pendidik yang merupakan tenaga profesional dengan kewenangannya sebagai pendidik, yang harus dibuktikan dengan kualifikasi akademik dan sertifikasi.

Sertifikasi guru adalah upaya untuk mengevaluasi kinerja guru dalam rangka menuju guru yang profesional, karena itu bentuk penghargaan yang diberikan kepada pemegang kompetensi profesional adalah reward dalam bentuk tunjangan 1 kali gaji pokok. Glickman (2002) menyatakan bahwa: guru yang profesional tersebut paling tidak diindikasikan oleh beberapa faktor seperti: Level of abstraction thinking, Level of commitment. Oleh Carier (dalam Suriansyah, 2000) level of commitment ini dibagi dalam dua aspek, yaitu komitmen kepada profesi (commitment for profession) dan komitmen untuk siswa (commitment for student).

Tingkat kemampuan berpikir abstrak ditunjukkan pada kemampuan guru menganalisis proses belajar mengajar, merumuskan alternatif pemecahan masalah pembelajaran dan memilih alternatif terbaik dalam memecahkan masalah pembelajaran secara mandiri. Di samping itu, perilaku berpikir abstrak ini juga mencakup kemampuan guru untuk melakukan hal-hal inovatif dan kreatif dalam melaksanakan tugas profesinya sebagai guru (Glickman, 2002). Salah satu unsur kreativitas yang harus ditunjukkan guru dalam pembelajaran adalah melakukan penelitian tindakan kelas atau PTK sebab dalam PTK kemampuan guru untuk berpikir abstrak terimplementasikan pada semua langkah yang harus dilakukan oleh guru, mulai dari identifikasi masalah pembelajaran, merumuskan masalah pembelajaran, menyusun alternatif rencana pemecahan masalah, membuat skenario pemecahan masalah serta menemukan alternatif pemecahan terbaik. Di samping itu, pada saat PTK dilakukan, dituntut kreativitas guru dalam memilih strategi pemecahan, memperbaiki bahkan memodifikasi strategi yang dipakai apabila dirasakan strategi utama yang dipilih belum mencapai tujuan yang diinginkan, atau dalam PTK disebut belum mencapai indikator keberhasilan.

Sementara Surya, Hasyim dan Suwarno, (2010) menyatakan bahwa indikator guru profesional dengan tiga pilar yaitu: excellent, professionalism dan

DUMMY

and the best you can be dan continuous improvement. Sedangkan profesionalisme

mencakup: passion of knowledge (semangat, keinginan), passion for business (melaksanakan tugas sesuai misi secara sempurna), passion for service dan

passion for people. Sedangkan ethical mencakup: karakter yang sesuai dengan

norma, nilai dan budaya yang berlaku. Sesuai dengan kebijakan Kementerian Dikbud karakter minimal yang harus dimiliki sekarang adalah: kejujuran (truthworthiness), tanggung jawab (responsibility), saling menghormati (respect), konsisten (fairness), kepedulian (care) dan citizenship.

Sementara itu Margaret (1989), jauh sebelumnya telah menyatakan bahwa salah satu indikator guru yang efektif (effective teachers) adalah: using

innovative curricula and teaching method, continually expanding one’s repertoire of teaching method and using teacher group planning to create alternatif teaching method.

Semua indikator guru profesional, guru berkualitas atau guru yang efektif menurut Davis di atas menggambarkan bagaimana pentingnya indikator guru yang inovatif, guru yang kreatif dan guru yang mampu memecahkan permasalahan secara mandiri (level of abstraction thinking yang tinggi).

Dari uraian tersebut, dapatkah kita memiliki calon guru yang memenuhi syarat tersebut...? Kita memiliki keyakinan akan dapat dipenuhi sejauh pengakuan terhadap profesi guru mampu diwujudkan oleh masyarakat dan pemerintah.

Untuk lebih memperjelas dapat dilihat pada ilustrasi berikut ini yang menggambarkan sehat fisik.

E. Organisasi Guru dan Kode Etik Guru Indonesia

Guru sebagai salah satu pilar pelaksana pembangunan khusus pembangunan manusia Indonesia melalui proses pendidikan dituntut untuk memiliki integritas dan kemampuan profesional yang tinggi sehingga dapat berperan aktif serta efektif dalam menghasilkan manusia Indonesia yang dapat membangun bangsa dan negara menjadi bangsa yang sejahtera dan berkarakter. Untuk itu maka guru harus memiliki integritas dan karakter yang baik sehingga dapat menjadi contoh teladan bagi murid-muridnya. Karakter ini diwujudkan etika yang harusnya menjadi kepribadian sehari-hari oleh para guru. Bagi tenaga guru di Indonesia etika tersebut dirumuskan dalam bentuk kode etik yang menjadi pedoman bagi guru Indonesia dalam melaksanakan tugasnya sebagai guru.

DUMMY