BAB I PENDAHULUAN
1.7. Metodologi Penelitian
1.7.3. Teknik Analisa Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik analisis kualitatif dan kuantitatif .
1. (Metode Kualitatif) menekankan pada aspek pemahaman secara mendalam terhadap suatu masalah daripada melihat permasalahan untuk penelitian generalisasi. Metode penelitian ini lebih menggunakan teknik analisis mendalam ( in-depth analysis ), yaitu mengkaji masalah secara kasus perkasus karena metodologi kulitatif yakin bahwa sifat suatu masalah satu akan berbeda dengan sifat dari masalah lainnya. Tujuan dari metodologi ini bukan suatu generalisasi tetapi pemahaman secara mendalam terhadap suatu masalah. Penelitian kualitatif berfungsi memberikan kategori substantif dan hipotesis penelitian kualitatif.
2. (Metode Kuantitatif) metode yang lebih menekankan pada aspek pengukuran secara obyektif terhadap fenomena . Untuk dapat melakukan pengukuran, setiap fenomena social di jabarkan kedalam beberapa komponen masalah, variable dan indicator. Setiap variable yang di tentukan di ukur dengan memberikan symbol – symbol angka yang berbeda – beda sesuai dengan kategori informasi yang berkaitan dengan variable tersebut. Dengan menggunakan symbol – symbol angka tersebut, teknik perhitungan secara kuantitatif matematik dapat di lakukan sehingga dapat menghasilkan suatu kesimpulan yang berlaku umum di dalam
suatu parameter. Tujuan utama dati metodologi ini ialah menjelaskan suatu masalah tetapi menghasilkan generalisasi.
Generalisasi ialah suatu kenyataan kebenaran yang terjadi dalam suatu realitas tentang suatu masalah yang di perkirakan akan berlaku pada suatu populasi tertentu. Generalisasi dapat dihasilkan melalui suatu metode perkiraan atau metode estimasi yang umum berlaku didalam statistika induktif. Metode estimasi itu sendiri dilakukan berdasarkan pengukuran terhadap keadaan nyata yang lebih terbatas lingkupnya yang juga sering disebut “sample” dalam penelitian kuantitatif.25
Disini penulis akan menggunakan Metode Penelitian Kombinasi (MIXED METHODS ) , dengan metode penelitian gabunganantara metode penelitian kuantitatif dan kualitatif yang artinya metode kombinasi dan akan dapat memperoleh pemahaman yang paling baik. Dapat diartikan bahwa penelitian kombinasi adalah merupakan penelitian dimana penelitian mengumpulkan dan menganalisis data mengintegrasikan temuan dan menarik kesimpulan secara inferensial dengan menggunakan dua pendekatan atau metode penelitian kualtatif dan kuantitaif dalam satu studi. Metode kombinasi digunakan untuk menjawab pertanyan penelitian pada satu penelitian26
Data yang dikumpulkan bersifat deskriptif dalam bentuk kata-kata atau gambar.Artinya pada penelitian ini dibutuhkan pengutamaan pemahaman dan
25Drs.Sumanto.M.A. , 1995 , Metodologi Penelitian Sosial Dan Pendidikan , Yogyakarta : Andi Offset.
26Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan, Penelitian Kuantitatif ,Kualitatif danR&D,2013,Penerbit CV.Alfabeta,Bandung.
berusaha memahami factor peristiwa dalam situasi tertentu menurut pandangan peneliti. Lalu kemudian setelah data tersusun teratur dan sistematis, akan melakukan analisis data yang selanjutnya menghasilkan suatu kesimpulan terhadap data yang diteliti .
1.8 Sistematika Penulisan
Untuk mendapatkan gambaran yang terperinci dan untuk mempermudah isi daripada skripsi ini, maka penulis membagi sistematika penulisan ke dalam 4 bab, yaitu :
BAB I : PENDAHULUAN
Dalam hal ini berisi tentang latar belakang masalah, pokok permasalahan yang akan dibahas, pembatasan masalah yang akan diteliti , tujuan mengapa melakukan penelitian tersebut, manfaat penelitian dan metode penelitian serta kerangka teori yang akan menjadi landasan pembahasan masalah.
BAB II : MASYARAKAT EKONOMI ASEAN DAN INDUSTRI OTOMOTIF TAHUN 2014-2017
Pada bab ini akan diuraikan tentang gambaran dan bagaimana Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dan Industri otomotif di Asia tenggara.
BAB III : PENGARUH PASAR TUNGGAL MEA TERHADAP INDUSTRI OTOMOTIF STUDI : KOMPARASI INDONESIA DAN THAILAND TAHUN 2014-2017
Pada bab ini akan membahas tentang gambaran dan bagaimana era Pasar Tunggal MEA(Masyarakat Ekonomi ASEAN) mempengaruhi Industri Otomotif Indonesia dan Thailand.
BAB IV : KESIMPULAN
Bab ini merupakan bab terakhir dari penulisan skripsi ini, yang berisi kesimpulan yang diperoleh dari hasil-hasil pengamatan yang telah dilakukan.
Pada bab ini juga akan menguraikan tentang apa yang dilihat dalam penelitian yang dilakukan, serta berisi saran-saran, baik yang bermanfaat bagi penulis secara pribadi maupun bagi pihak-pihak yang terkait secara umum.
BAB II
MASYARAKAT EKONOMI ASEAN DAN INDUSTRI OTOMOTIF 2014-2017
2.1 Awal Kemunculan Industri Otomotif Di Asia Tenggara
Industri otomotif bukanlah hal baru bagi negara-negara Asia Tenggara.Tercatat industri ini mulai bergulir bahkan sebelum Perang Dunia II.
Tercatat bahwa Indonesia telah memiliki basis perakitan kendaraan milik General Motors (GM) di tahun 1938, di mana kendaraan GM sudah banyak digunakan di Indonesia sejak 1920- an meski kemudian penjualan terus menyusut hingga akhirnya ditutup pada 1950-an.27
Kondisi tersebut mulai berubah sejalan dengan perubahan arah kebijakan masingmasing negara yang berupaya untukmemperbaiki kondisi nasionalnya.Pada awal era 1950, Filipina merupakan salah satu negara yang cukup berani dalam menerapkan strategi Industri Substitusi Impor (ISI).Filipina melarang segala jenis impor terhadap barang jadi (termasuk kendaraan yang diimpor utuh).Dengan ketatnya kontrol terhadap impor dan ditambah dengan tingginya bea tarif masuk
Kondisi serupa juga dihadapi oleh pasar dan industri otomotif di kawasan, mengingat Asia Tenggara juga terkena dampak akan PD II dan dengan kemerdekaan negaranegara setelahnya menimbulkan instabilitas ekonomi dan politik yang berdampak luas bagi segala sektor.
27Kasali, Rhenald. 1998. Membidik Pasar indonesia: Segmentasi, Targeting, Positioning. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
barang pada perkembangannya berhasil mendorong pertumbuhan sektor industri nasional di masa itu. Hal ini tentu saja berdampak pada industri otomotif nasional, di mana memaksa prinsipal otomotif untuk mendirikan basis produksi di negara tersebut, walau pada perkembangannya produk yang dihasilkan masih belum dapat memenuhi target kandungan lokal yang diinginkan pemerintah28
Kebijakan ketat juga dijalankan oleh Malaysia, di mana negara tersebut mengarah ke kebijakan yang lebih ekstrim, yaitu dengan pengembangan industri otomotif secara mandiri. Pengembangan ini terlihat dari pengembangan perusahaan otomotif Proton yang awal pengembangannya menggandeng Mitsubishi untuk melakukan transfer teknologi ke negara tersebut. Pengembangan industri tersebut tidak berhenti pada jalur produksi saja, namun hingga pengembangan komponen dan sukucadang kendaraan guna memastikan kemandirian industrinya. Malaysia bahkan mendirikan perusahaan otomotif kedua yang bernama Perodua untuk meningkatkan kompetitivitasan produk otomotif nasionalnya29
Kebijakan yang lebih bersahabat diimplementasikan oleh Thailand.Pemerintah Thailand mulai membuka diri terhadap investor asing pada awal 1960 melalui Program Pembangunan Ekonomi dan Sosial pertamanya (1961-1966). Salah satu pernyataan menarik di dalam program tersebut adalah tertulisnya komitmen pemerintah untuk tidak mengembangkan industri yang telah
28Ofreneo, Rene E. 2015. Auto and Car Parts Production: Can the Philippines Catch Up with Asia?.ERIA Discussion Paper Series 2015, 09. Diakses dari http://www.eria.org/ERIA-DP-2015-09.pdf
29Rosli, Mohd.. 2006. The Automotive Industry and Performance of Malaysian Auto Production. Journal of Economic Cooperation 27, I (2006). Diakses dari http://www.library.sesrtcic.org/files/article /28.pdf
didirikan dan dikembangkan oleh pihak swasta(The National Economic Development Board, 1967). Hal ini menunjukkan adanya perbedaan pendekatan yang dilakukan Thailand dibandingkan dua negara sebelumnya.Dengan kebijakan tersebut dan ditambah dengan disinsentif berupa tarif impor yang sangat tinggi bagi importasi kendaraan bermotor akhirnya membuat banyak prinsipal otomotif yang mendirikan basis produksinya di negara ini.
Sedang untuk Indonesia sendiri, pembukaan pasar industri Indonesia baru terbuka lebar pada era Presiden Soeharto melalui program Pembangunan Lima Tahun/Repelita (1966-1974), yang manamemiliki kemiripan dengan program pembangunan Thailand. Perbedaan di antara keduanya terletak pada fokus pemerintah, di mana bila Thailand berfokus untuk tidak akan mengembangkan sektor industri yang telah dikelola swasta, Indonesia lebih berfokus pada penjaminan tidak akan adanya lagi pengambilan alih perusahaan swasta oleh pemerintah seperti yang pernah dilakukan oleh rezim pemerintahan sebelumnya (Departemen Keuangan Republik Indonesia 1967).
Meski begitu, Indonesia pun tetap menganut norma yang umum diimplementasikan negara berkembang pada periode tersebut: pelarangan impor kendaraan utuh guna mendorong perkembangan industri otomotif nasional.Serupa dengan negara Asia Tenggara lainnya, para produsen otomotif pun mulai mendirikan basis produksinya di negara ini guna memenuhi ketentuan pemerintah.
Yang berbeda adalah Indonesia juga sempat berupaya mendirikan perusahaan otomotif nasional, seperti yang dilakukan oleh Malaysia. Prototype berupa mobil
Maleo yang didesain oleh Prof. Habibie merupakan pionir pengembangan kendaraan pribadi pertama secara mandiri di Indonesia, walau pada akhirnya Presiden Soeharto pada masa itu memilih strategi lain dengan menggunakan perusahaan Timor yang menggunakan basis kendaraan KIA Sephiadari Korea Selatan untuk kemudian dirakit dan diperjualbelikan di pasar domestik. Strategi ini sempat mendapatkan sambutan hangat dari pasar domestik hingga akhirnya harus terhenti dikarenakan krisis 1997 serta peranan WTO untuk menghentikan operasinya dikarenakan ketidakadilan perlakuan yang diberikan pada Timor yang tidak diberikan pada prinsipal otomotif lainnya30
30Sachari, Agus. 2007. Budaya Visual Indonesia: Membaca makna Perkembangan Gaya Visual Karya Desain di indonesia Abad ke-20. Jakarta: Erlangga.
Perbedaan-perbedaan kebijakan itu pada perkembangannya menjadi salah satu faktor pembentuk keunikan pasar dan industri otomotif Asia Tenggara.Keunikan yang pertama adalah dorongan produsen otomotif untuk memproduksi tipe kendaraan tertentu sesuai dengan karakter konsumen di masing-masing negara. Beberapa contohnya adalah basis produksi di Indonesia akan cenderung digunakan untuk merakit MPV (Multi-Purpose Vehicle), sedang perakitan di Malaysia cenderung digunakan untuk merakit kendaraan kecil, dan Thailand cenderung digunakan untuk merakit pick-up truck.mengingat masih tidak adanya kewajiban terhadap pemenuhan standar global dan masih dininya adaptasi teknologi industri ini di masing-masing negara.
2.1.1Industri Otomotif di Era Krisis Asia dan Setelahnya
Krisis 1997 merupakan salah satu pukulan keras bagi perekonomian kawasan Asia Tenggara.Tidak hanya menghadapi krisis ekonomi, bahkan Indonesia mengalami krisis politik yang memperburuk kondisi domestiknya.Kondisi ini memaksa negara-negara tersebut untuk memangkas anggaran, melakukan pengetatan keuangan, hingga beberapa memerlukan asistensi dari IMF guna membantu pemulihan kondisi perekonomian negara.Industri otomotif secara otomatis juga terdampak dari krisis ini.
Penjualan domestik jatuh bebas dikarenakan jatuhnya nilai tukar mata uang dan pertumbuhan ekonomi domestik. Hal ini memaksa para supplier komponen dan suku cadang untuk menurunkan level produksinya, atau bahkan menutup jalur produksi sama sekali. Tidak hanya supplier, basis perakitan pun juga terdampak dan beberapa diantaranya tidak dapat bertahan di kondisi tersebutWalau begitu, pada kenyataannya negara ASEAN 5 mampu bertahan dari krisis tersebut.
Hal menarik yang terjadi adalah strategi untuk bertahan adalah dengan meliberalisasi pasar.Hal ini ditunjukkan terutama oleh Thailand dan Indonesia yang secara harfiah dipaksa membuka pasarnya melalui skema asistensi IMF.
Malaysia yang pada saat itu memilih untuk tidak bekerja sama dengan IMF juga menjalankan strategi serupa dengan pengurangan tarif impor (walau kemudian diikuti dengan peningkatan pajak bagi kendaraan impor).Liberalisasi itu sendiri juga mulai mendapat sambutan positif dari industri otomotif.Toyota sebagai salah
satu produsen otomotif terbesar di Asia Tenggara juga mulai mengintegrasikan jaringan produksinya di Asia Tenggara menjadi satu jaringan produksi regional.Sesaat setelah AFTA dimulai pada tahun 2000, Toyota mengumumkan proyek IMV (Innovative Multi-Purpose Vehicle) pada 2002.
Proyek ini memungkinkan beberapa jenis kendaraan untuk berbagi platform (dalam kasus ini Toyota Innova, Fortuner, dan Hilux) dengan didukung kegiatan produksi komponen berbasis keuntungan komparatif regional. Di sini contohnya pabrik di Thailand akan difokuskan untuk produksi mesin diesel, pabrik Indonesia difokuskan untuk produksi mesin bensin,dan Filipina sebagai basis produksi transmisi. Basis produksi kendaraan pun disesuaikan dengan basis pasar masingmasing negara. Indonesia sebagai basis pasar MPV didaulat memproduksi Innova, sedang Thailand sebagai basis pasar pickup truck memproduksi Hilux dan Fortuner31
Dengan semakin membaiknya kondisi perekonomian regional, industri otomotif juga merasakan dampak positif.Tidak hanya dari membaiknya kondisi penjualan dan produksi dari sektor ini saja, namun prospek positif tersebut juga mendorong investasi lebih lanjut dari prinsipal otomotif ke kawasan ini.Bahkan insiasi upaya penggabungan ASEAN menjadi satu jaringan produksi regional telah dimanfaatkan dengan cukup baik oleh sektor ini dengan memanfaatkan skema AFTA untuk membuat distribusi komponen dan suku cadang ke masingmasing basis produksi menjadi lebih efisien.
31Toyota Global. IMV Project Commenced. Diakses dari
http://www.toyotaglobal.com/company/history_of_toyota/75y ears/text/leaping_forward_as_a_global_co rporation/chapter4/section3/item1_b.html Diakses 9 Juni 2018 Pkl 13:32.
2.2 Blue Print ASEAN Economic Community (AEC/MEA) dan Industri Otomotif
Pencapaian Komunitas ASEAN semakin kuat dengan ditandatanganinya
”Cebu Declaration on the Estabilishment of an ASEAN Community by 2015”
oleh para pemumpin ASEAN pada KTT ke-12 ASEAN di Cebu Filiphina, 13 Januari 2007. Dengan ditandatanganinya deklarasi ini, para pemimpin ASEAN menyepakati percepatan pembentukan Komunitas ASEAN/ASEAN Community dari tahun 2020 menjadi 2015.
Lalu komimen tersebut, khususnya di bidang ekonomi, dilanjutkan dengan penandatanganan ASEAN Charter/Piagam ASEAN beserta cetak biru AEC 2015 pada KTT ASEAN ke-13 di Singapura, pada tanggal 20 November 2007.
Penandatanganan Piagam ASEAN beserta cetak birunya AEC adalah merupakan babak baru dalam kerjasama ASEAN di bidang ekonomi diusianya yang kempat puluh tahun.
KTT ke-12 ASEAN di Cebu bulan Januari 2007 telah menyepakati
”Declaration on the Acceleration of the Establishment of an ASEAN Community by 2015”. Dalam konteks tersebut, para Menteri Ekonomi ASEAN telah menginstruksikan Sekretariat ASEAN untuk menyusun ”Cetak Biru ASEAN Economic Community (AEC)”. Industri Otomotif merupakan sector prioritas yang diintegrasikan .
Cetak Biru AEC tersebut berisi rencana kerja strategis dalam jangka pendek, menengah dan panjang hingga tahun 2015 menuju terbentuknya integrasi ekonomi ASEAN, yaitu32
1. Menuju pasar tunggal dan basis produksi (arus perdagangan bebas untuk sektor barang, jasa, investasi, pekerja terampil, dan modal) 2. Menuju penciptaaan kawasan regional ekonomi yang berdaya saing
tinggi (persaingan politik regional , IPRs action plan, pembangunan infrastruktur, ICT, kerjasama energi, perpajakan, dan pengembangan UKM)
3. Menuju suatu kawasan dengan pembangunan ekonomi yang merata (region of equitable economic development) melalui pengembangan UKM dan program-program Initiative for ASEAN Integration (IAI) dan
4. Menuju integrasi penuh pada ekonomi global (pendekatan yang koheren dalam hubungan ekonomi eksternal serta mendorong keikutsertaan dalam global supply network).
Pada KTT ASEAN Ke-13 di Singapura, bulan Nopember 2007, telah disepakati Blueprint for the ASEAN Economic Community (AEC Blueprint) yang akan digunakan sebagai peta kebijakan (roadmap) guna mentransformasikan ASEAN menjadi suatu pasar tunggal dan basis produksi, kawasan yang kompetitif dan terintegrasi dengan ekonomi global. AEC Blueprint juga akan mendukung
32Ibid., hal 33.
ASEAN menjadi kawasan yang berdaya saing tinggi dengan tingkat pembangunan ekonomi yang merata serta kemiskinan dan kesenjangan sosial-ekonomi yang makin berkurang. Sebagai upaya untuk memfasilitasi perdagangan di tingkat nasional dan ASEAN sebagaimana tertuang dalam AEC Blueprint 2015, Indonesia telah melakukan peluncuran National Single Window (NSW) dalam kerangka ASEAN Single Window (ASW) pada tanggal 17 Desember 2007.
Menurut rencana ASEAN Single Window (ASW)akan diimplementasikan pada tahun 2009. Pada tahun 2003, para pemimpin ASEAN sepakat bahwa Masyarakat ASEAN harus terbentuk pada tahun 2020.Pada tahun 2007, para pemimpin menegaskan komitmen kuat mereka untuk mewujudkan Masyarakat ASEAN dan mempercepat target waktunya menjadi tahun 2015. Masyarakat ASEAN terdiri dari tiga pilar yang terkait satu dengan yang lain: Masyarakat Politik Keamanan ASEAN, Masyarakat Ekonomi ASEAN dan Masyarakat Sosial Budaya ASEAN.
Dengan demikian, para pemimpin sepakat untuk mentransformasi ASEAN menjadi suatu kawasan yang ditandai oleh pergerakan bebas barang, jasa, investasi, tenaga kerja terampil, dan arus modal yang lebih bebas.Selanjutnya Cetak Biru Masyarakat Ekonomi ASEAN disusun dan disahkan pada tahun 2007.Cetak Biru MEA berfungsi sebagai rencana induk yang koheren yang mengarahkan pembentukan MEA. Cetak Biru tersebut mengidentifikasikan karakteristik dan elemen MEA dengan target dan batas waktu yang jelas untuk pelaksanaan berbagai tindakan serta fleksibilitas yang disepakati untuk
mengakomodasi kepentingan seluruh negara anggota ASEAN. Dengan mempertimbangkan pentingnya perdaganganeksternal bagi ASEAN dan kebutuhan Masyarakat ASEAN secara keseluruhan untuk tetap berpandangan terbuka, MEA memiliki karakteristik utama sebagai berikut:
1. pasar tunggal dan basis produksi
2. kawasan ekonomi yang berdaya saingtinggi
3. kawasan pengembangan ekonomi yang merata dan,
4. kawasan yang secara penuh terintegrasi ke dalam perekonomian global.33 Keempat karakteristik ini saling berkaitan dan saling mendukung antara satu dengan yang lainnya. ASEAN sebagai pasar tunggal dan basis produksi kemudian dibagi lagi menjadi lima unsur inti yakni:
1. aliran bebas untuk barang 2. aliran bebas untuk jasa 3. aliran bebas untuk investasi 4. aliran bebas untuk modal
5. aliran bebas untuk pekerja terampil.
Sektor integrasi dan makanan serta pertanian dan kehutanan juga merupakan dua komponen penting dalam pelaksanaan ASEAN sebagai pasar tunggal dan basis produksi. Selain itu, untuk mewujudkan ASEAN sebagai kawasan yang berdaya saing tinggi, KTT juga menetapkan sektorsektor prioritas yang akan diintegrasikan, yaitu: produk-produk pertanian, otomotif, elektronik, perikanan,
33 ASEAN Economic Community Blueprint, hal. 6.
produk-produk turunan dari karet, tekstil dan pakaian, produk-produk turunan dari kayu, transportasi udara, e-ASEAN (ITC), kesehatan, dan pariwisata.
Sementara untuk mengintegrasi seluruh sektor okonomi, ASEAN telah menyadari besarnya tantangan yang akan dihadapi dan sejak semula telah memfokuskan upaya pengintegrasian pada sebagian sektor prioritas dalam skala terbatas sebagai katalisator bagi proses integrasi ekonomi ASEAN secara menyeluruh.. Sebanyak dua belas sektor prioritas ekonomi dan sector industry otomotif telah diidentifikasi untuk mempercepat integrasi ekonomi. Beberapa Negara Anggota telah memainkan peran sebagai koordinator untuk setiap sektor.
Setiap sektor integrasi prioritas tersebut memiliki peta jalan yang mengkombinasikan inisiatif-inisiatif sektor tertentu dengan inisiatif sektor yang lebih luas secara lintas sektoral seperti kebijakan fasilitas perdagangan.
Peningkatkan efisien sektor-sektor utama ini akan memungkinkan ASEAN untuk bersaing dalam memperoleh modal dan mempertahankan aktivitas ekonomi yang memiliki nilai tambah dan pembukaan lapangan kerja di kawasan.
Pendekatan sektoral memungkinkan kawasan untuk memfokuskan sumberdaya yang terbatas pada upaya pengintegrasian secara mendalam dan cepat pada sektor-sektor penting, sementara memberikan kesempatan kapada Negara-Negara Anggota untuk mengkaji dan menangani dampak integrasi serta menggembangkan secara bersama-sama komitmen yang lebih kuat terhadap integrasi ekonomi sebelum bergerak lebih jauh.
Kemudian dilengkapi dengan perumusan sektor prioritas integrasi yakni:
produk-produk berbasis pertanian, otomotif, elektronik, perikanan, poduk berbasis karet, tekstil dan pakaian, produk berbasis kayu, perjalanan udara, e-ASEAN, kesehatan, pariwisata, dan logistik.34
34 sektor prioritas integrase ekonomi ASEAN ini ada 12 sektor, yaitu produk pertanian, angkutan udara, otomotif, e-ASEAN, elektronik, perikanan, kesehatan, produk karet, tekstil dan apparel, pariwisata, produk kayu, dan jasa logistik. Lihat, Joko Siswanto dan Aditya Rachmanto, “Menuju Kawasan Bebas Aliran Barang ASEAN 2015” dalam Rahmat Dwi Saputra, dkk,
dan kerjasama di bidang moneter lain. Semua hal tersebut merupakan perwujudan dari usaha mencapai MEA.
2.3 Kondisi Pasar & Industri Otomotif
Industri otomotif berperan penting di dalam perekonomian nasional.Selain menyediakan angkutan orang dan barang untuk transportasi, industri otomotif juga membuka lapangan kerja. Data Kementerian Perindustrian menunjukkan, sektor otomotif menyerap tenaga kerja hingga 1,3 juta orang. Ini mencakup industri perakitan, komponen, showroom, bengkel, dan purna jual.Belum lagi bidang industri pendukung, misalnya pendanaan kredit dan asuransi kendaraan.ini menjadikan industri otomotif masuk dalam kelompok industri masa depan yang akan terus dikembangkan.
Salah satu program strategis yang akan dilakukan pemerintah dalam menentukan arah pengembangan industri otomotif ke depan adalah mengimbangi kompetisi dan impor kendaraan, khususnya di ASEAN. Bahkan pemerintah menargetkan menjadikan Indonesia basis industri otomotif di kawasan ASEAN.
Thailand dan Indonesia menjalankan strategi yang hampir sama, yaitu dengan mengeluarkan skema investasi bagi kendaraan bermesin ramah lingkungan.Untuk Indonesia kebijakan ini disebut dengan LCGC (PP No.41 Tahun 2013), sedang di Thailand dengan eco-car(Thailand Board of Investment, 2007). Keduanya memberikan skema kemudahan pengajuan perijinan dan pengurangan pajak yang cukup signifikan bagi investasi yang mampu memenuhi syarat jumlah produksi minimal per tahun dan presentase kandungan lokal yang cukup tinggi35
Dari sepuluh negara anggota ASEAN, hanya empat negara yang tercatat sebagai basis produksi yaitu Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Viet Nam.
Produsen terbesar kendaraan bermotor roda empat adalah Thailand dengan penguasaan pasar pada tahun 2017 mencapai 58%, disusul Indonesia sebesar 25,1%, Malaysia sebesar 13,4% dan Viet Nam 1,7%. Pangsa pasar Indonesia meningkat dari kisaran 18,6% pada tahun 2013 menjadi 25,1% pada tahun 2017 sedangkan pada periode yang sama Malaysia dan Viet Nam mengalami penurunan
.
Dalam upaya penciptaan rantai produksi kawasan tersebut, terlihat bahwa aktor perusahaan bukanlah satu-satunya yang berperan dalam pergeseran ini.Peran aktor negara juga terlibat aktif guna memungkinkan penciptaan rantai produksi kawasan ini berjalan.Hal ini terutama dapat dilihat dari arah kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah guna mendorong arah pengembangan jaringan produksi sesuai dengan perencanaan negara ke depannya.
35Implementasi AEC dalam Peningkatan Jaringan Produksi Regional Asean: Studi Kasus Industri OtomotifEnggar Furi Herdianto Program Studi Hubungan Internasional, Universitas Islam Indonesia Hal 13
masingmasing dari 19,9% menjadi 13,4% dan 3,4% menjadi 1,7%. Namun demikian, hanya Thailand satu-satunya negara di ASEAN yang mengalami
masingmasing dari 19,9% menjadi 13,4% dan 3,4% menjadi 1,7%. Namun demikian, hanya Thailand satu-satunya negara di ASEAN yang mengalami