• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tahap III. Uji Model

E. Analisis dan Keabsahan Data Penelitian

2. Teknik Analisis Data Kuantitatif dan Keabsahan Data (KUAN)

Model yang telah dikembangkan perlu diuji secara kuantitatif dengan mengungkap dampaknya terhadap prestasi akademik dan pengembangan diri. Targetnya, mengetahui dampak model terhadap prestasi akademik masing-masing responden dengan membandingkan rata-rata skor prestasi akademik awal (pra-perlakuan model) dengan akhir (pasca-(pra-perlakuan model). Sebelum itu, data kedua variabel tersebut dideskripsikan profilnya menggunakan cara pandang Milgram (1991) yang membagi kategori keberbakatan menjadi tiga tingkat (level), yaitu profoundly gifted, moderately gifted dan mildly gifted. Tiga tingkat kaberbakatan tersebut dikategorisasi dengan melihat komposisi skor rata-rata perolehan individu dan kelompok. Termasuk skor perolehan individu permata pelajaran dengan kriteria sebagai berikut:

Rentang skor Kategori (level) > rata rata skor tertinggi profoundly gifted

> skor median moderately gifted > skor rata-rata kelas mildly gifted.

skor rata-rata non-gifted

Pada bagian selanjutnya, dilakukan pengujian model dengan one group pretest-posttest design (Freankel,et.el.2012). Desain ini digambarkan sebagai berikut:

01 X 02

Pretest Treatment Posttest

Dimana 01 mengacu pada observasi pertama (sebelum) terhadap kelompok atau pretest; X adalah penanganan (implementasi model) dan 02 mengacu pada observasi kedua (sesudah) atau posttest. Kasus terdiri dari dua kelompok data yang berhubungan satu sama lain, yaitu memperoleh pengukuran yang sama (sebelum dan sesudah). Data terdiri dari 15 responden (kurang dari 30) sehingga dianggap tidak diketahui distribusi datanya (berdistribusi bebas), maka digunakan uji non-parametrik dengan dua sampel yang dependen (Santoso, 2002; Nugroho, 2005). Dilakukan Uji Non-Parametrik Dua Sampel Berhubungan (Dependen).

Analisis statistik menggunakan model Uji Peringkat-Bertanda Wilcoxon (Wilcoxon Signed Ranks Test). Adapun hipotesis yang diajukan: Ho: Median populasi beda-beda adalah sama atau lebih besar dari nol, atau dapat dikatakan Model tidak mempunyai dampak nyata yang berarti pada perkembangan prestasi akademik (dilihat dari masing-masing responden). Hi: Median populasi beda-beda lebih kecil dari nol, atau Model mempunyai dampak nyata yang berarti pada perkembangan prestasi akademik (dilihat dari masing-masing responden). Analisis statistik berikutnya menggunakan model Uji McNemar. Berbeda dengan Uji Wilcoxon atau Sign test, Uji McNemar mensyaratkan adanya skala pengukuran data nominal atau kategori. Kategori umum penilaian sikap siswa pada aspek pengembangan diri terdiri dari dua kategori, yaitu A (excellent) dan B (show potential). Pengolahan data ditujukan untuk menjawab apakah implementasi Model mampu mengubah diri anak dalam pencapaian pengembangan diri (perilaku dan potensi). Uji statistik menggunakan bantuan SPSS ver. 11.

BAB V

SIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI

A. Simpulan

Merujuk pada tujuan dan tahapan pengembangan penelitian disimpulkan BK Komprehensif anak berbakat melalui model struktur keberbakatan Milgram dalam setting akselerasi-inklusi yang applicable adalah model yang dikembangkan berdasarkan profil unik anak berbakat, konteks empiris pembelajaran akselerasi-inklusi dan BK terintegrasi. Aplikabilitas model sangat terkait dengan dukungan kepemimpinan kepala sekolah, peran aktif konselor dan wakasek bidang kurikulum dan kesiswaan, termasuk wali kelas/guru dalam membangun sinergi dengan orang tua dan komunitas. Secara individual, model terbukti memberi dampak terhadap optimalisasi potensi akademik dan pengembangan diri, sehingga meskipun anak berbakat sudah dipuncak prestasi, ternyata potensinya masih bisa ditingkatkan, apalagi bagi anak berbakat yang tergolong “underachiever”(si kuda hitam). Hal ini ditunjukan oleh perubahan dari mildly gifted ke moderately gifted, dan dari moderatetly gifted ke profoundly gifted, bahkan dilihat dari aspek mata pelajaran, ada yang melejit dari level mildly gifted ke level provoundly gifted. Perubahan juga terjadi dari kategori show potential ke kategori excellent baik pada aspek behavior maupun potential.

Profil unik anak berbakat berkaitan dengan learning characteristic, motivation characteristics, creativity characteristics, dan leadership characteristics. Dalam konteks prestasi akademik, keunikan tersebut ditunjukan oleh tidak adanya anak yang unggul pada semua aspek. Meskipun memiliki skor diatas rata-rata kelas (mildly gifted, moderately gifted) dan diatas rata-rata skor tertinggi (profoundly gifted), tetapi pada pelajaran tertentu skornya ada yang dibawah rata-rata, bahkan dibawah rata-rata skor terendah. Sedangkan dari aspek pengembangan diri, anak berbakat berada dalam kategori ecxcellent dan show potential, tetapi variasi terjadi pada aspek dan sub-aspeknya. Sedangkan aspek kunci pembelajaran akselerasi-inklusi, dan BK terintegrasi di SD Al-Mabrur, terdapat dalam konteks pembelajaran yang mendidik dan BK yang memandirikan, yang dilaksanakan secara tersendiri melalui pengembangan diri oleh konselor BK dan pembelajaran bernuansa bimbingan serta pengembangan kreativitas

oleh guru melalui kemitraan sekolah, rumah dan komunitas yang berlangsung dalam kultur inklusif. Hal ini memberi keyakinan keunikan anak berbakat ini alamiah dan sangat individual, sehingga tidak sepantasnya pemenuhan akan program akselerasi dieksklusifkan dengan kelas khusus atau sekolah khusus, sebab esensinya bukan pada setting kelas khusus atau sekolah khusus, tetapi ada pada penyiapan pengalaman dengan diversifikasi program yang tidak mencerabut anak berbakat dari lingkungan perkembangan alamiah. Hal itu hanya dapat dipenuhi dalam setting inklusi.

Aspek kunci aplikabilitas Model ada pada asesmen kesetaraan serta peran guru BK sebagai leader dalam konteks promote succes4 all”, dan upaya mengembangkan diversifikasi program pengembangan diri secara langsung oleh konselor, dan BK terintegrasi melalui penerapan prinsip-prinsip pembelajaran bernuansa bimbingan dan pengembangan kreativitas oleh guru, melintasi waktu (awal semester, tengah semester, akhir semester), dan tempat atas berbagai aktivitas optimalisasi peran orang tua dan komunitas seperti; konsultasi, seminar mini, workshop dan pengembangan independen study melalui katalis activity report, buku panduan guru BK, panduan guru/wali kelas, panduan orang tua dan komunitas, serta my independen studi bagi anak berbakat. Prinsip-prinsip model dapat diaplikasikan di SD Al-Mabrur dengan catatan selain aspek dukungan kepala sekolah dan peran konselor juga secara spesifik peran wakasek bidang kurikulum yang menonjol, menambah keyakinan model ini dapat diaplikasikan di sekolah sejenis SD Al-Mabrur dengan bertumpu pada peran wakasek bidang kurikulum dan wali kelas, model ini dapat dikembangkan dalam konteks sumber daya terbatas (tidak memiliki guru BK) seperti kebanyakan SD yang ada.

Sedangkan esensi efektivitas model terdapat pada perubahan yang terjadi di level individu, seperti perubahan dari mildly gifted menjadi moderately gifted, dari moderately gifted menjadi profoundly gifted, bahkan dari mildly gifted menjadi profoundly gifted. Termasuk perubahan pada aspek behavior dan potential, dari sebelumnya yang tergolong show potential menjadi excellent. Hal tersbut diperkuat dengan testimony orang tua dan guru serta anak ittu sendiri berkenaan dengan makna model terhadap perubahan terhadap prestasi akademik dan pengembangan diri.

B.Implikasi

Merujuk temuan-temuan penelitian yang bersifat konseptual yang mengindiksikan masih adanya miskonsepsi berkaitan dengan anak berbakat, akselerasi dan inklusi serta kesimpulan sebagaimana telah dipaparkan berkaitan aplikabilitas dan efektivitas model, maka dalam bagian ini dikemukakan beberapa implikasi sebagai berikut:

1. Secara teoretis, dalam konteks pengembangan keilmuan, temuan yang dihasilkannya berupa profil anak berbakat, konteks pembelajaran akselerasi-inklusi serta BK Komprehensif melalui model struktur keberbakatan Milgram bagi anak berbakat dalam setting akselerasi-inklusi, dapat dijadikan basis pengembangan program BK untuk memenuhi kebutuhan pendidikan khusus anak berbakat pada jenjang sekolah dasar, terutama di SD AL-Mabrur. Implementasi lebih lanjut sesuai konsensus guru pada setiap jenjang, model dapat diimplementasikan secara menyeluruh untuk semua jenjang dan semua anak dengan beberapa catatan terutama pada optimalisasi keterlibatan unsur-unsur yang relevan dengan kondisi emfiris di SD Al-Mabrur, sepert: kepala sekolah, konselor, guru/wali kelas, orang tua, komunitas, anak berbakat dan teman sebaya, mitra pakar, potensi dan peluang yang dimiliki SD AL-Mabrur. Keberhasilan pelaksanaan program berkaitan dengan karakteristik full day school yang memiliki tingkat aktivitas tinggi dan karakteristik sekolah mandiri dengan dinamika sumber daya manusianya yang khas. Dari satu sisi karakteristik ini menjadi kelebihan dan merupakan faktor pendukung, namun disisi lain menjadi faktor penghambat, berkaitan dengan kesinambungan program. Hasil penelitian ini dapat mendorong komitmen guru untuk memberi pembelajaran terbaik untuk semua anak, mendoorong motivasi untuk memenuhi kebutuhan semua anak dan percaya bahwa semu anak apapun kondisinya bisa ditantang untuk belajar. Kepala sekolah memastikan sumber daya tersedia untuk melakukannya. Upaya menciptakan harapan tinggi semua anak dilakukan dengan melibatkan semua pihak, mengembangkan visi sekolah, menetapkan standar tinggi. Penekanan terhadap peran serta dan pemberdayaan

orang tua dan komunitas seyogyanya disertai prinsip kehati-hatian. Perlu diantisipasi adanya perbedaan persepsi anatara sekolah dan orang tua dan komunitas. Keinginan, kebutuhan dan harapan satuan pendidikan, masyarakat dan stakeholders pendidikan. Apa yang dianggap oleh sekolah sebagai program yang baik, belum tentu bentul-betul dibutuhkan, diinginkaan dan diharapkan oleh setiap pengelola satuan pendidikan, masyarakat daan stakeholders pendidikan.Penerapan model ini akan berkaitan dengan perilaku dan kebiasaan manajerial, sangat erat kaitannya dengan komponen setting manajemen yang berlaku di lingkungan. Karena itu, penerapan model ini membutuhkan putusan dan keberanian. Validasi empiris menunjukan bahwa model ini memiliki keunggukan kompetitif yang dapat di benchmark dan ditransfer ke komitmen bersama.

2. Secara praktis, hasil penelitian ini berimplikasi terhadap pentingnya melakukan evaluasi mendasar terhadap kebijakan program akselerasi yang eksklusif dan merubah paradigma pendidikan anak berbakat agar lebih berdasar pada konsep yang benar. Apa yang pernah/sedang dikembangkan pemerintah rmelalui projek Akselerasi CI+BI dan sekolah keberbakatan yang sporadis yang berdampak terhadap kebingungan dilapangan mendesak ditata ulang. Panduan penyelenggaraan akselerasi/pendidikan anak berbakat dalam terminologi CI+BI, cenderung menyesatkan, karena dikembangkan tanpa mempertimbangkan aspek filosofi, historis dan konteks parktis keunikan anak berbakat dan konteks empiris pendidikan di Indonesia. Termasuk implikasi terhadap perlu pembekalan kompetensi konselor, guru dan orang tua dalam upaya memenuhi kebutuhan BK anak berbakat yang memandirikan dan pembelajaran bernuansa bimbingan serta pengembangan kreativitas yang mendidik.

3. Pemecahan Masalah dilapangan

Berdasarkan temuan anak berbakat sebaiknya dihadapkan pada beragam aktivitas berkelanjutan dalam bidang yang sesuai dengan minatnya. Penekanannya pada aktivitas yang di pilih dimana masing-masing anak mengerjakannya untuk kesenangan sebagai indevenden study melalui bebergai bentuk, yang didukung dengan berbagai aktivitas bersama keluarga dan komunitas yang dilaporkan

sebagai bagian dari pertofolio. Dalam rangka kerjasama, konselor dan guru/wali kelas sesuai dengan peran masing–masing dapat memberi orang tua informasi kemajuan anaknya, dan oang tua memberi informasi mengenai situasi di rumah sehingga bersama-sama mengembangkan program pembelajaran yang dapat dilakukan dalam setting sekolah, rumah dan komunitas. Sekolah dengan ekspektasi dan standar akademik tinggi, serta dukungan emosional dan akademik memadai, membuat anak termotivasi untuk berprestasi. Karena itu anak berbakat sebaiknya dihadapkan pada beragam aktivitas berkelanjutan. Penekanannya pada aktivitas yang di pilih secara bebas, pada aktivitas di waktu senggang, berupa proyek intelektual. Peran orang tua dan komunitas perlu diorgansir secara optimal. Dalam rangka kemitraan, guru seyogyanya memberi orang tua informasi kemajuan anaknya, dan oang tua memberi informasi mengenai situasi di rumah. Di sekolah mereka menginginkan pendidikan yang sesuai yang diberikan oleh guru kreatif, yang mendorong produktivitas. Pada tingkatan pribadi, mereka menginginkan penerimaan diri, yaitu pencitraan diri positif, dan diterima teman sebayanya. Konselor dan guru membagi tujuan dan sasaran ini. Pertemuan rutin orang tua, menyediakan kesempatan bagi orang tua, guru dan konselor untuk bekerjasama mewujudkannya melalui program sekolah

4. Lembaga Pendidikan Guru

Miskonsepsi berkaitan dengan anak berbakat, akselerasi dan inklusi menantang berbagai kalangan untuk berperan sesuai kapasitasnya untuk menata ulang strategi dan kembali ke filosofi pendidikan dan hakikat inklusi itu sendiri. Lembaga pendidikan guru, misalnya adalah kunci penting dalam merubah paradigm pendidikan melalui agen perubahan dilapangan yaitu guru. Setiap periode , memiliki sejarahnya sendiri. Guru guru dilapangan adalah produk sejarah masa lalu dari konsep pendidikan yang tidak menghargai perbedaan (diversitas) dan tidak memperhatikan aspek equitas ( keadilan), Hal ini menjadi pembenaran guru dilapangan memiliki resistensi terhadap segala inovasi yang mengancam kenyamanan dan aspek lainnya yang bersifat individual ditambah filosofi pendidikannya yang sudah ketinggalan, sehingga tidak mampu “membaca” persoalan tantangan guru abad 21 dan tantangan

diversitas dan equitas ini. Implikasinya Lembaga pendidikan guru dihadapkan pada pilihan untuk manta ulang kembali bagaimana guru disiapkan, dipproses dan diproduk untuk masuk keranah diversitas dan ekuitas dalam pendidikan.

5. Peneliti Selanjutnya

Penelitian ini disadari memiliki keterbatasan, implikasinya memerlukan penelitian lanjutan. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai studi awal, dan road map untuk untuk lebih mengeksplorasi variable-variabel esensial dan memanipulasinya dalam tru-exaperimen yang lebih dapat mengontrol variable sehingga hasil penelitiannya dapat mengungkap konteks efekktivitas model terhadap variable-variabel yang relevan dan menjadi target dan indikator dari kesuksesan pembelajaran yang mendidik dan BK yang memandirikan. Aspek esensial lainnya yang penting di teliti adalah berkaitan dengan pengembangan program pembelajaran individual yang sejalan dengan materi pelajaran dan keunggulan anak berbakat sehingga konteks diversifikasi program ini betul betul dapat dieksplorasi dan dikembangkan menjadi model-model yang tepat guna. Riset ini jauh lebih menyentuh hal-hal substantif kearah model-moel materi , metode, media dan evaluasinya. Termasuk bagaimana model keberlanjutan program dan kesinambungan pendidikan anak berbakat ke jenjang berikutnya (sekolah menengah).

C. Rekomendasi

Berdasarkan pada implikasi diatas, direkomendasikan sebagai berikut: 1. Diprolehnya formulasi BK komprehensif anak berbakat melalui model struktur

keberbakatan Milgram dalam setting akselerasi-inklusi yang applicable pada jenjang sekolah dasar (SD Al-Mabrur) hendaknya dipandang sebagai sebuah inovasi untuk menjadi landasan pemecahan masalah pemenuhan kebutuhan pembelajaran yang mendidik dan BK yang memandirikan bagi anak berbakat dalam konteks towards inclusive education. Secara praktis model ini dapat mengoptimalkan BK terintegrasi di SD Al-Mabrur sehingga dapat dijadikan rujukan bagi sekolah penyelenggara inklusi dan program akselerasi. Melalui panduan-panduan yang ada dan potensi sumber belajar yang dimiliki SD Al-Mabrur, layanan BK hendaknya diarahkan untuk mengoprtimalkan pemanfaatan momentum aktivitas di SD Al-Mabrur yang telah tersedia seperti di awal tahun ajaran baru, kemudian pada saat pembagian laporan kemajuan studi tengah

semester dan laporan kemajuan studi akhir semester serta momentum acara ekstrakurikuler dan perayaan keagamaan yang puncaknya adalah momentum perpisahan atau kelulusan kelas 5. Momentum tersebut dapat dimanfaatkan sebagai media berbagi pengalaman orang tua, guru dan konselor.

2. Bagi para pengambil kebijakan dan pengelola program akselerasi serta pendidikan inklusif pada jenjang sekolah dasar, meskipun ekspektasinya berbeda dengan BK jenjang sekolah menengah, BK pada jenjang SD tetap penting. Karena berkaitan dengan keutuhan pendidikan. Model BK Komprehensif anak berbakat membuktikan kebutuhan itu ada dan dapat dipenuhi melalui BK komprehensif yang memandirikan baik secara tersendiri dalam konteks pengembangan diri oleh guru BK/Konselor maupun secara terintegrasi dalam pembelajaran oleh guru melalui penerapan prinsif-prinsif pembelajaran bernuansa bimbingan dan pengembangan kreativitas, sehingga apa yang menjadi kehawatiran berkaitan dampak negatif program akselerasi di kelas regular dapat dieliminir, dan program akselerasi ini dapat berhasil guna sesuai harapan ideal dan alamiah, yaitu dikembangkan dalam setting inklusi.

Alur, M.& Tinmons,V.(2009). Inclusive Education A Cross Cultures Crossing Boundaries Saharing Ideas, Los Angeles: SAGE

Arend, R. (2008). Learning To Teach, Belajar untuk Mengajar, Alih bahasa Helly Prajitno, dkk, Yogyakarta; Pustaka Pelajar

Alnabhan,M.(2011). How Does Moral Judgement Change With Age and Giftedness?. Gifted Talented International: The Journal of The World Council for Gifted and Talented Children, 26 (2), 25-29.

Awamleh,et.al.(2013). The Intelligence’s Level of Gifted and Ordinary Students In

Seventh and Eighth Grades, in Accordance with the Raven’s Advanced Matrices Test in Irbid Governorate in Relation to Same Vanables (Sex, Mothers Qualificationa). American International Journal of Contemporary, Research, 3 (5),26-36.

Ainscow,M.,Booth,T.&Dyson,A.(2006). Inclusion and The Standars Agenda: Negotiating Policy Pressures in England. International Journal of Inclusive Education,10(4),295-308.

Baska,V.T,J. & Little, C.(eds).(2011).Content-Based Curriculum for Gifted Learners. Waco,Tx: Prufrock Press.

Bracken,B.A.& Brown,E.F.(2006). Behavior Identification and Assesment of Gifted and Talented Students. Journal of Psychoeducational,24 (2),112-122.

Bain,S.K.et.al.(2007).Serving Children Who Are Gifted Perceptions of Undergraduates Planing to Become Teacher. Journal for the Education of the Gifted, 30 (4),450-478.

Basca,J.V.T. (2006). Effective Curriculum and Instructional Models for Talented Students. Gifted Child Quarterly, 30(4), 164-169.

Creswell,J.W.(2010). Research Design, Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed, alih Bahasa Achmad Fawaid, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Creswell,J.W. & Clak,V.L.P.(2007). Designing and Conducting Mixed Methods Research, California: Sage Publication, Inc.

Chagas,J.F & Fleith,D.S.(2006). Development of Gifted Behavior: A Study With Families of Socioeconomically Disadvantaged Environmente. Gifted Education International, 20(1), 10-18.

Cross,T.L.(2009). Social and Emotional Development of Gifted Child: Straight Talk. Gifted Child Today, 33 (2), 40-66.

Cross,T.L.& Coleman,L.J.(2014).School-Based Conception of Giftedness. Journal for the Education of Gifted, 37(1), 94-103.

Coleman,L.J & Cross,T.L.(2014). Is Being Gifted a Social Handicape?. Journal for The Education of The Gifted, 37 (1) 5-17.

Cottle,D.N.(2006). Establishing, Managing and Evaluating an Elementary/Middle School Math Acceleration Program. The Journal of The National Association for Gifted Children,10(1), 29-32.

Donndly,V.(2010). Teacher Education for Inclusion,International Literature Review, Denmark: European Agency for Development in Special Needs Education.

Depdiknas.(2007). Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Khusus Bagi Peserta Didik yang Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa, Jakarta: Direktorat Jenderal PSLB.

Depdiknas.(2007). Penataan Pendidikan Profesional Konselor dan Layanan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal, Jakarta : Depdiknas.

Dryden, G. & Vos, J.(2004). Revolusi Cara Belajar: The Learning Revolution, Sekolah Masa Depan, Bandung: Kaifa.

Dubus, L.& Fromer, J. (2006). A Parents Guide to Special Education in New York City and The Metropolitan Area, New York: Teacher College Press.

Danovan,M.S.& Cross,C.T.Ed.(2002). Minority Students in Special and Gifted Education,Washington: National Academy Press.

Departement for Education and Skills . (2004).Pedagogy and Practice: Teaching and Learning in Secondary Schools, Unit 4.Lesson Design for Inclusion, Canbridge University Press

David, H.(2011). The Importance of Teachers Attitude in Nurtuning and Educating Gifted Children. The Journal of The World Council for Gifted and Talented Children, 26 (1),71-89.

Dijkstra,P & Bareld, D.et.al.(2011). Human Styles and Their Relationship to Well-Being Among the Gifted. The Journal of The World Council for Gifted and Talented Children, 26 (1), 89-97.

David,H.(2014).Droup Out Preventing of Gifted Youth: Case Study. Gifted Eucation Press Quarterly,28(1),9-15

Feldhusen,J.F.( 2002) Synthesis of Research on Gifted Youth,EBSCO publishing.

Finnan,C & Swanson,J.D. (2000). Accelerating the Learning of All Students. Cultivating Culture Cahange in school, Classrooms,and Individuals,Colorado: Westview Press.

Freeman,J.(2006). The Emotional Development of Gifted Talented Children. Gifted and Talented International, 21 (2), hlm.20-28.

Gagne,F.(2008) A Differentiated Model of Giftedness and Talent (DMGT), Canada: Universite du Queebac an Montreal.

Gray,B & Fow.(2005). Discovering and Developing Talent in Schools, An Inclusive Approach, London :David Fulton Publishers, Ltd.

Grace, Sue.at.al. (2009). Inclusion and Diversty, Meeting The Needs of All Students, New York: Routledge.

Gelder,L.V.(1988). Een Orientation in de Orthopedagogik, Suatu Orientasi Tentang Orthopedagogik, alih bahasa Soedjadi.S, Jakarta: Danau Singkarak.

Gagne,I.(2007).Ten Commandments for Academic Talent Development. Gifted Child Quarterly, 51(2),93-118.

Geake,J.(2006). Mathematical Brains Gifted and Talented. The Journal of the National Association for Gifted Children,10 (1),2-6.

Gallagher,S.et.al. (2011). Teachers’ Perceptions of The Socioemotional Development of Intellectually Gifted Primard Primary Aged Students and Their Attitudes Try Aged Students and Their Attitudes Towards Ability Grouping and Acceleration. Gifted and Talented International: The Journal of The World Council for Gifted and Talented Children, 26 (20), 11-24.

Ganiron,J.R.T.U.(2013). Application of Accelerated Learning in Teaching Environmental Control System in Qassim University. International Journal of Education and Learning, 2(2), 27-38.

Hardjanatawiyoga, S & Purwanta,E.(1996). Bimbingan dan Konseling Anak Luar Biasa, Jakarta: Depdikbud Dirjen Dikti.

Heller, Kurt.A. at.al. (2000 ). International Handbook of Giftedness and Talent, 2nd Edition, Amsterdam: Elsevier Science, Ltd.

Hawadi,R.A.(2002). Identifikasi Keberbakatan Intelektual Melalui Metode Non-Tes Dengan Pendekatan Konsep Keberbakatan Renzulli, Jakarta: Grasindo.

Heppner, P.P.at.al. (2008). Research Design in Counseling, Third Edition. Australia: Thomson Brooks/cole.

Hannell,G.(2008). Succes With Inclusion,1001 Teaching Stratagies and Activities that Really Work, Canada: Routledge.

Hong,E.& Milgram,R.M.(2008). Preventing Talent Loss, New York: Routledge.

Illeris, Knud (2011). Contemporary Theories of Learning, Teori-Teori Pembelajaran Kontemporer, Alih bahasa M.Khozim, Bandung: Nusa Media.

Herrmann, A & Neno,B.(2011). Gifted Education in German-Speaking Countries. The Journal of The World Council for Gifted and Talented Children, 26 (1), 47-61.

Hindal,H.,Reid,N.,& Whitehead,R.(2013). High Ability and Learner Characteristics. International Journal of Instruction, 6(1),50-76

Hamour,B.A.& Al-Hmouz,H.(2013).A Study of Gifted High, Moerate,an Low Achieveers in Their Personal Characteristics and Attitudesntoward School and Teachers. International Journal of Special Education, 28 (3), 5-15.

Johnsen,B.H & Skjorten,M.D.(2003). Education Special Needs Education An Introduction, Pendidikan Kebutuhan Khusus Sebuah Pengantar, alih bahasa Susi Septaviana Rachmawati, Bandung: PPS UPI.

Dokumen terkait