BAB III METODE PENELITIAN
3.5 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan oleh peneliti adalah analisis data kualitatif yaitu menguraikan serta menginterpretasikan data yang diperoleh dilapangan. Data yang diperoleh melalui pengamatan dan wawancara akan dicatat secara sistematis,dan akan disusun berdasarkan kategori-kategori yang telah ditetapkan berdasarkan masalah penelitian. Selanjutnya data yang telah terpilah dalam kategorisasi akan dianalisis, sehingga diharapkan muncul gambaran yang dapat mengungkapkan permasalahan penelitian.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Kondisi Geografis Kelurahan Karang Berombak
Kelurahan Karang Berombak merupakan salah satu Kelurahan yang masuk dalam Kecamatan Medan Barat. Kecamatan Medan Barat terletak pada 30°30’ – 03°43’ Lintang Utara dan 98°35’˗98°44’ Bujur Timur, serta berada pada ketinggian 2,5 – 37,5 m di atas permukaan laut. Wilayah Kelurahan Karang Berombak memiliki luas 105 km². Secara administratif batas wilayah Kelurahan Karang berombak adalahdan terbagi dalam 19 lingkungan. Dulunya hanya 12 lingkungan tetapi setelah terjadi pemekaran wilayah jumlah lingkungannya bertambah hingga 19 lingkungan.
Secara administratif batas wilayah Kelurahan Karang berombak adalah:
1. Sebelah timur : Kelurahan Glugur Kota 2. Sebelah barat : Kelurahan Helvetia Timur 3. Sebelah utara : Kelurahan Labuhan Deli 4. Sebelah selatan : Kelurahan Sei Agul
Dari total luas wilayah Kelurahan Karang Berombak pemanfaatan lahannya terbagi dalam kategori sebagai berikut:
1. Luas pemukiman : 104, 7 Ha 2. Luas kuburan : 1,2 Ha 3. Luas taman : 0,4 Ha 4. Perkantoran : 0,75 Ha
4.2 Kondisi Demografis di Kelurahan Karang Berombak
Untuk mengetahui jumlah warga di Kelurahan Karang Berombak menurut jenis kelamin dan kewarganegaraan dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.1 Komposisi Warga Kelurahan Karang Berombak Berdasarkan Jenis Kelamin dan Kewarganegaraann
Sumber Data: Monografi Kelurahan Karang Berombak Tahun 2013
Berdasarkan tabel 4.1 maka disimpulkan bahwa sebagian besar warga yang tinggal di Kelurahan Karang Berombak adalah Warga Negara Indonesia (WNI). Tetapi tidak menutup kemungkinan untuk warga asing yang ingin menetap atau berkunjung ke Kelurahan Karang Berombak. Hal ini ditandai dengan adanya 1 orang warga Negara asing perempuan yang tinggal di Kelurahan Karang Berombak, warga Negara asing tersebut menikah dengan laki-laki yang memiliki domisili di Kelurahan Karang Berombak. Jika dikaitkan dengan kegiatan PPMK, maka semua peminjam merupakan Warga Negara Indonesia asli dan khusunya bagi mereka yang miskin.
Tabel 4.2 Komposisi Warga Kelurahan Karang Berombak Berdasarakan
Sumber Data: Monografi Kelurahan Karang Berombak Tahun 2013
Berdasarkan tabel 4.2 maka dapat disimpulkan bahwa mayoritas warga di Kelurahan Karang Berombak didominasi oleh warga yang masih berusia 20 -24 tahun, dimana usia tersebut merupakan usia untuk mencari atau melakukan pekerjaan. Sedangkan minoritas warga di Kelurahan Karang Berombak berada di usia 55-59 tahun, dimana pada usia tersebut kebanyakan dari mereka sudah sulit untuk mencari pekerjaan. Jika dilihat berdasarkan angkatan kerja maka adalah penduduk dengan usia produktif 15-64 tahun yang sedang bekerja maupun mencari pekerjaan. Usia peminjam dana PPMK di Kelurahan Karang Berombak rata-rata adalah 30-59 tahun. Dimana pada usia tersebut mereka sudah cukup sulit untuk terserap pada sektor-sektor formal, sehingga mereka lebih memilih untuk melakukan pekerjaan yang sesuai dengan keahlian mereka.
Tabel 4.3 Komposisi Warga Kelurahan Karang Berombak Berdasarkan
Sumber Data: Monografi Kelurahan Karang Berombak Tahun 2013
Berdasarkan tabel 4.3 maka dapat disimpulkan bahwa mayoritas agama yang dianut oleh warga Kelurahan Karang Berombak adalah agama Islam.
Sedangkan untuk agama yang paling sedikit dianut oleh warga Kelurahan Karang Berombak adalah agama Hindu. Namun demikian walaupun mereka mempunyai agama yang berbeda-beda, warga di Kelurahan Karang Berombak masih menganut nilai-nila kebersamaan, demokratis, dan saling tolong menolong hal ini terlihat dari organisasi masyarakat yang di kelurahan antara lain : PKK, STM (Serikat Tolong- Menolong), Perwiritan, LPM (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat). Karena cukup banyaknya organisasi masyarakat di Kelurahan Karang Berombak, maka diawal masuknya PNPM Mandiri Perkotaan di kelurahan fasilitator menggunakan organisasi masyarakat ini untuk mensosialisasikan kegiatan yang ada di PNPM Mandiri Perkotaan.
Tabel 4.4 Sarana dan Prasarana di Kelurahan Karang Berombak
Sumber Data : Monografi Kelurahan Karang Berombak Tahun 2013
Berdasarkan tabel 4.5 maka dapat disimpulkan bahwa Kelurahan Karang Berombak mempunyai sarana dan prasarana yang cukup lengkap yang dapat digunakan oleh seluruh warga Karang Berombak.
4.3 Permasalahan Kemiskinan dan Potensi
Permasalahan kemiskinan di Kelurahan Karang Berombak sampai saat ini masih merupakan masalah yang cukup besar. Indikasi banyaknya masalah kemiskinan di Kelurahan ini terlihat dari masih banyaknya masyarakat yang tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya secara layak. Berbagai fenomena kemiskinan secara mudah dapat terlihat di Kelurahan ini. Fenomena tersebut antara lain adalah lingkungan yang kumuh, rumah tidak layak huni, adanya anak usia sekolah yang tidak bersekolah, angka pengangguran yang cukup tinggi dan
tidak memadai kondisi sarana prasarana dasar. Upaya untuk mengatasi masalah tersebut selama ini sudah ada dari berbagai pihak-pihak peduli.
Program Penanggulangan Kemiskinan dari Pemerintah Pusat, Pemprov, dan Pemkot seperti BLT, JPS, Raskin sudah pernah masuk ke Kelurahan Karang Berombak, namun demikian program-program tersebut masih belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Kegagalan upaya-upaya tersebut disinyalir karena beberapa sebab, antara lain adalah tidak disertakannya masyarakat secara aktif dalam setiap tahapan, sehingga peran partisipasi masyarakat minim dalam program tersebut.
Upaya penanggulangan kemiskinan di kelurahan ini tidak mudah.
Berbagai hambatan akan di hadapi oleh pihak-pihak yang akan melaksanakan program penanggulangan kemiskinan. Berbagai hambatan tersebut antara lain adalah budaya instan yang sudah begitu kuat, individualisme yang cukup tinggi, etos kerja yang melemah dan rasa frustasi yang cukup kuat. Oleh karena itu, untuk menanggulangi kemiskinan di kelurahan ini perlu dilakukan secara terpadu dan dukungan dari berbagai pihak yang peduli dengan program penanggulangan kemiskinan. Terlepas dari hambatan yang ada, masalah kemiskinan di Kelurahan Karang Berombak perlu segera ditanggulangi. Karena itu, kebersamaan dari seluruh komponen masyarakat mutlak diperlukan untuk keberhasilan program penanggulangan kemiskinan. Tanpa rasa kebersamaan yang tinggi , maka upaya penanggulangan kemiskinan dapat dipastikan akan menghadapi banyak kendala bahkan dapat diduga akan gagal sama sekali.
Kesenjangan sosial merupakan salah satu masalah yang terdapat di Kelurahan Karang Berombak, berdasarkan hasil PS (Pemetaan Swadaya) oleh tim relawan. Tim PS yang terdiri dari unsur warga masyarakat, tim fasilitator PNPM Mandiri Perkotaan dan aparat kelurahan ditemukan berbagai masalah di Kelurahan ini. Cakupannya kompleks, mulai dari permasalahan infrastruktur dasar sampai pada masalah sosial kemasyarakatan. Akan tetapi Tim PS mengklarifikasikannya ke dalam beberapa komponen yaitu komponen lingkungan, sosial dan ekonomi. Hal ini sesuai dengan anjuran dan petunjuk yang diberikan Fasilitator PNPM Mandiri Perkotaan kepada relawan dan masyarakat Kelurahan Karang Berombak.
Adapun masalah-masalah yang ditemukan pada saat PS (Pemetaan Swadaya) dan Lokakarya PJM (Perencanaan Jangka Menengah) Pronangkis di Kelurahan Karang Berombak adalah sebagai berikut :
a. Masalah pada sektor lingkungan 1. Jalan Lingkungan yang rusak
Pada umumnya akses menuju perumahan warga miskin sudah ada, akan tetapi kondisi jalan tersebut sebagian besar tidak layak, baik gang maupun gang besar. Hal tersebut sangat menghambat mobilitas warga dalam melakukan aktifitasnya sehari-hari.
2. Saluran air (parit)
Permasalahan yang banyak ditemukan yaitu masalah saluran air yang biasanya pada waktu hari hujan selalu terjadi banjir disebabkan oleh
saluran air yang tidak lancar (mampet) serta berdampak buruk pada warga sekitarnya,
3. Tempat Pembuangan Sampah
Di Kelurahan Karang Berombak kesadaran warga untuk membuang sampah pada tempatnya masih rendah. Hal ini disebabkan oleh sangat terbatasnya fasilitas pembuangan sampah di lingkungan warga sehingga sampah tidak terurus yang pada akhirnya jadi sumber panyakit.
b. Masalah Pada Sektor Sosial 1. Orang-orang Jompo
Di Kelurahan Karang Berombak jumlah orang jompo (lansia) masih cukup banyak, sayangnya saranan dan fasilitas untuk mengurus dan menampung mereka belum ada. Kondisi mereka mayoritas sangat memperihatinkan karena keluarganya tergolong tidak mampu.
2. Yatim Piatu
Yatim Piatu merupakan fenomena yang sangat umum dan mereka pada umumnya tergolong masyarakat miskin sehingga kebutuhan dasar anak yatim ini masih terabaikan dan terus terpuruk.
3. Anak terancam putus sekolah
Jumlah anak terancam putus sekolah masih terdapat di Kelurahan Karang Berombak yang disebabkan oleh ketidakmampuan orang tua untuk menyekolahkan anaknya, walaupun telah ada program pemerintah pada sektor pendidikan, akan tetapi sebahagian besar warga miskin masih
merasakan sulit untuk membiayai anaknya sekolah. Padahal pendidikan adalah modal dasar bagi setiap individu untuk mendapatkannya.
4. Pelatihan Sumber Daya Manusia (SDM)
Sebagian besar warga Kelurahan Karang Berombak tidak pernah mengenal apalagi mendapatkan pelatihan SDM yang dapat membuat mereka lebih mengembangkan diri. Mereka selalu tersisihkan oleh warga yang sudah mampu. Pelatihan ini sangat pentng dilakukan dalam upaya pemberdayaan warga miskin agar terus dapat memperbaiki kondisi hidupnya.
c. Masalah pada Sektor Ekonomi 1. Tidak punya modal
Warga miskin yang menjadi sasaran PNPM Mandiri Perkotaan rata-rata berprofesi sebagai pedagang-pedagang kecil dan usaha-usaha lain yang tidak begitu besar. Kucuran modal sangat diharapkan agar dapat menekan jumlah pengangguran.
2. Kurang Modal
Selain warga yang tidak punya modal ada juga warga yang telah mempunyai modal usaha tetapi terancam bangkrut karena kekurangan modal. Hal ini disebabkan karena kebutuhan ekonomi keluarga hingga mengalami kemunduran dalam bidang ekonominya.
3. Pengangguran
Pengangguran merupakan fenomena krusial baik itu pengangguran asli maupun terselubung. Hal ini perlu mendapatkan penanganan yang serius
karena mempunyai akses yang cukup luas baik dari segi keamanan, tingkat kriminalitas maupun ketentraman warga.
4.4 Peningkatan Penghidupan Masyarakat Berbasis Komunitas di Kelurahan Karang Berombak
Peningkatan penghidupan masyarakat berbasis komunitas (PPMK) pertama kali dilaksanakan dilaksanakan di Kelurahan Karang Berombak pada tahun 2012, sebelum kegiatan ini, untuk kegiatan ekonomi sudah ada kegiatan regulernya yaitu kegiatan pinjaman bergulir. Kegiatan PPMK ini merupakan kelanjutan dari kegiatan pinjaman bergulir. Salah satu syarat untuk mendapatkan dana PPMK ini adalah KSM yang mempunyai pengembalian yang baik dari kegiatan pinjama bergulir sebelumnya. Alokasi dana BLM untuk PPMK adalah Rp. 100 juta untuk setiap kelurahan begitu juga dengan kelurahan Karang Berombak yang yang mendapat alokasi BLM sebesar Rp. 100 juta.
Tahun 2012 hanya ada 10 kelurahan yang menjadi sampel untuk kegiatan PPMK termasuk salah satunya adalah Kelurahan Karang Berombak. Dana BLM PPMK dibagi menjadi 2 tahap pencairan yaitu tahap I 60% dan tahap II 40%. %.
Pertama kali pencairan ke KSM di kelurahan Karang Berombak itu pada bulan November 2012 dan diserahkan kepada 2 KSM, dan selanjutnya pada pencairan kedua di bulan Februari 2013 dan diserahkan lagi kepada 2 KSM. Proses pinjaman PPMK sama dengan pinjaman dana bergulir, karena tingkat pengembalian dari 4 KSM sebelumnya itu lancar dan bagus dan masih ada sisa dana BLM PPMK maka diserahkan kepada 1 KSM lagi melalui dana yang
digulirkan oleh KSM PPMK pada bulan Juli 2013. Sehingga ada 5 KSM yang menerima dana program PPMK. Dasar penentuan KSM yang menerima dana PPMK d Kelurahan Karang Berombak adalah KSM yang memiliki tingkat pengembalian pinjaman yang lancar dan sudah pernah meminjam di UPK minimal sudah sampai pada pinjaman yang kedua.
Adapun 5 KSM yang menerima dana PPMK di Kelurahan Karang Berombak, disajikan pada tabel berikut:
Tabel 4.5 Daftar KSM, Nama Anggota KSM, Usaha yang Dikelola, Jumlah Pinjaman yang Diperoleh, serta Tahun Menerima Dana PPMK
No Nama KSM Nama Anggota 1 Sakura Suryaningsih Warung Kopi 3.996.000
2012 Sumarni Bubut Besi 3.996.000
Sumiati Kedai Peni Elvida Menjual Pulsa 3.996.000 Ishartati Menjual Fahrizal Tukang Jahit 4.014.000
Maisyarah Jual Es Kelapa 3.006.000 Sarman Tukang Sepatu 4.014.000 Rajiloso Ternak
Jangkrik
4.014.000
4 Mawar Zainab Kue Kering 3.006.000
2013 Siti Maryam Kue Basah 4.014.000
Astuti Es Tebu 4.014.000
Rika Menjual Mie 4.014.000 Lispurwanti Meubel 3.006.000
5 Tanjung Mardiah Menjual
Coklat
4.014.000
2013 Rahmaniar Menjual Kue 4.014.000
Yusriani Menjual Sayur Lindawati Menjual Serabi 4.014.000
Sumber: UPK Karang Berombak 2015
Prinsip utama pelaksanaan kegiatan PPMK di tingkat masyarakat adalah proses penyadaran, pemahaman, pembelajaran dan pelembagaan kegiatan peningkatan penghidupan masyarakat miskin melalui pengembangan usaha ekonomi produktif dan kreatif. Siklus kegiatan masyarakat adalah siklusnya masyarakat, yang menempatkan masyarakat miskin, KSM, relawan-relawan dan UPK-BKM sebagai pelaku utama atau subyek dari pelaksanaan kegiatan. Dalam siklus ini, masyarakat sendiri yang menentukan sendiri ciri dan kriteria masyarakat miskin di kelurahan mereka. Sehingga diharapkan melalui siklus masyarakat ini, masyarakat dapat secara mandiri menyelesaikan masalah-masalah yang ada di kelurahan masing-masing, tentunya dengan adanya partisipasi dari masyarakat itu sendiri. Posisi fasilitator bersama perangkat kelurahan setempat hanya ‘memfasilitasi’ untuk mendorong dan menjamin masyarakat mampu melaksanakan kegiatannya sesuai kaidah pembangunan partisipatif dan ketentuan pelaksanaan kegiatan PPMK.
Tahapan kegiatan di tingkat masyarakat terdiri dari 4 (empat) tahapan sebagai berikut:
a. Tahapan Persiapan Program, serangkaian kegiatan mulai dari seleksi lokasi hingga sosialisasi PPMK tingkat kelurahan kepada seluruh lapisan masyarakat di lokasi terseleksi.
b. Tahapan Perencanaan, serangkaian kegiatan pelatihan tentang orientasi dan perencanaan PPMK bagi KSM, BKM, Pengawas, UPK, relawan dan perangkat kelurahan, serta pelatihan keterampilan usaha bagi anggota KSM.
c. Tahapan Pencairan dan Pemanfaatan BLM, serangkaian kegiatan mulai dari pencairan dana BLM PPMK ke rekening BKM sampai akad kredit UPK-BKM dengan KSM.
d. Tahapan Penguatan dan Pengembangan, serangkaian kegiatan pelatihan dan pendampingan yang mendukung penguatan dan pengembangan keberlanjutan KSM dan UPK-BKM serta penyiapan KSM untuk peserta PPMK selanjutnya.
4.5 Efektivitas Pelaksananaan Peningkatan Penghidupan Masyarakat Berbasis Komunitas PNPM Mandiri Perkotaan
4.5.1 Tingkat Kualitas Pelaksanaan Peningkatan Penghidupan Masyarakat Berbasis Komunitas PNPM Mandiri Perkotaan
Berdasarkan segi kualitas ada beberapa indikator terkait kegiatan peningkatan penghidupan masyarakat berbasis komunitas yaitu, mulai dari tahap sosialisasi, kemudahan anggota mendapatkan akses pinjaman yang dilihat dari
tahapan persiapan sampai pencairan dana, indikator pengembangan kapasitas dalam hal ini pengembangan kapasitas kelembagaan yaitu KSM, BKM/UPK dan indikator sasaran penerima manfaat yaitu peminjam dari kegiatan PPMK.
Indikator-indikator tersebut selanjutnya dikembangkan melalui pertanyaan yang dilakukan dari wawancara terhadap informan untuk mengetahui tanggapan mengenai efektifitas pelaksanaan kegiatan PPMK berdasarkan tingkat kualitas.
a. Sosialisasi kegiatan PPMK
Salah satu kunci keberhasilan suatu kegiatan dilatarbelakangi dengan kegiatan sosialisasi yang dilaksanakan secara baik. Karena dengan sosialisasi, diharapkan suatu program semakin dipahami oleh masyarakat, sehingga efeknya adalah masyarakat dapat berpartisipasi untuk menyukseskan program yang direncanakan, dalam hal ini adalah kegiatan PPMK. Kegiatan sosialisasi dimaksudkan untuk memperkenalkan program serta mendiskusikan manfaat-manfaat yang diperoleh dari kegiatan PPMK bagi peningkatan penghidupan masyarakat. Proses sosialisasi dapat menentukan keterlibatan masyarakat secara aktif dalam sebuah program. Jika suatu sosialisasi dilakukan dengan baik maka dapat menciptakan partisipasi dari masyarakat terkait pelaksanaan kegiatan.
Selain itu, sosialisasi dapat dilakukan dengan memafaatkan pertemuan-pertemuan yang difasilitasi oleh BKM.
Berdasarkan hasil wawancara penulis tentang pelaksanaan sosialisasi kegiatan PPMK di Kelurahan Karang Berombak dengan senior fasilitator, Bapak Welly Syahputra , adalah sebagai berikut:
“Awal mula munculnya program PPMK dimulai pada tahun 2012.
Ketika itu, kami diberitahu oleh koordinator kota bahwa Kelurahan
Karang Berombak akan mendapatkan tambahan kegiatan ekonomi yaitu Peningkatan Penghidupan Masyarakat Berbasis Komunitas atau disingkat dengan PPMK. Untuk itu kami diperintahkan untuk segera melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Media sosialisasi yang kami gunakan yaitu melalui papan informasi PNPM Mandiri yang ada di seketariat BKM dan juga melalui poster dan spanduk yang kami tempatkan di beberapa tempat yang strategis, seperti kantor kelurahan, ataupun jalan-jalan yang sering dilalui masyarakat.Sosialisasi ini dilakukan bersama dengan teman-teman fasilitator, relawan, tokoh masyarakat, dan aparatur Kelurahan. Kami mengumumkan informasi tersebut kepada masyarakat setelah itu, kami mengundang masyarakat untuk datang mengikuti sosialisasi, di dalam sosialisasi akan dijelaskan tentang tujuan program, hal-hal apa saja yang harus dilakukan masyarakat untuk mendapatkan pinjaman, serta dijelaskan juga manfaat dari program PPMK.”
Sosialisasi yang dilakukan oleh pihak BKM dan fasilitator di Kelurahan Karang Berombak mengenai kegiatan PPMK kurang berjalan dengan baik, hal ini dikarenakan jumlah masyarakat yang mengikuti sosialisasi hanya dihadiri oleh beberapa orang, sehingga sebagian dari mereka mendapatkan informasi mengenai kegiatan PPMK melalui orang lain yang mengikuti sosialisasi.
Wawancara penulis dengan salah satu anggota KSM Dahlia, Bapak Rajiloso yang menyatakan sebagai berikut:
“Saya mengetahui adanya kegiatan PPMK ini dari anggota KSM yang lain, dan setelah itu saya langsung menanyakan hal ini kepada pihak BKM, dan ternyata memang benar bahwa kelurahan kami mendapatkan tambahan dana untuk kegiatan PPMK. Modal yang diberikan juga jauh lebih besar daripada pinjaman bergulir.”
Apa yang disampaikan oleh anggota KSM tersebut ternyata sejalan dengan apa yang disampaikan oleh pihak BKM, yaitu Bapak Harun
“Kami sudah mencoba melakukan sosialisasi dengan maksimal, tetapi kita tau juga bahwa melakukan sosialisasi tidak semudah apa yang kita pikirkan. Kami sudah mengundang masyarakat untuk menghadiri sosialisasi ini, tetapi kenyataannya mereka tidak hadir dalam sosialisasi tersebut. Selain itu mungkin juga dikarenakan keterbatasan jumlah anggota BKM dalam melakukan sosialisasi sehingga informasi yang diberikan tidak sampai kepada semua masyarakat.
Selain itu, keterbatasan jumlah anggota BKM menyebabkan banyak masyarakat Kelurahan Karang Berombak tidak mengetahui tentang adanya sosialisasi kegiatan PPMK di kelurahan mereka, mengingat cukup luasnya wilayah Kelurahan Karang Berombak selain itu peran fasilitator dalam melakukan sosialisasi juga masih kurang, padahal masyarakat masih sangat membutuhkan pinjaman melalui kegiatan PPMK dan mereka mempunyai potensi untuk mengembangkan usaha dan mereka juga memenuhi persayaratan untuk dapat menerima pinjaman PPMK. Pada dasarnya proses sosialisasi menentukan ketertarikan masyarakat untuk berperan secara aktif atau tidak dalam suatu program. Sosialisasi yang dilakukan dengan baik akan menciptakan partisipasi yang tinggi di masyarakat terkait dengan pelaksanaan program. Selain itu, dalam melakukan sosialisasi tidak harus dari pihak-pihak yang terkait langsung dengan program saja, tetapi juga dibutuhkan juga partispasi dari pihak-pihak di luar program yang mempunyai rasa peduli dan kemauan yang kuat agar program tersebut dapat berhasil dalam pelaksanaannya.
b. Kemudahan anggota dalam mendapatkan pinjaman
Proses anggota KSM mendapatkan dana pinjaman dimulai dari tahap pengajuan pinjaman sampai tahap persetujuan pemberian pinjaman. Tahap-tahap
yang harus dilewati oleh anggota KSM yang ingin meminjam adalah tahap pengajuan pinjaman, tahap pemeriksaan pinjaman, tahap putusan pinjaman dan yang terakhir adalah tahap pemberian pinjaman Pada tahap awal, KSM diberikan formulir ususlan pinjaman sebagai proposal untuk mengajukan pinjaman. Setelah proposal diterima oleh UPK, UPK dan BKM (Badan Keswadayaan Masyarakat) kemudian menjadwalkan verifikasi baik itu verifikasi adminitrasi (formulir/proposal) dan verifikasi lapangan (penyesuaian proposal dengan kenyataan di lapangan).
Menurut salah satu dari anggota KSM Tanjung, Ibu Yusriani mengenai proses pengajuan pinjaman adalah sebagai berikut:
“Kami tidak terlalu sulit untuk mendapatkan pinjaman ini. Kata UPK kami ibu Nora, kami diberitahukan untuk membawa fotocopy KTP, fotocopy KK, pas photo sama foto usaha kami. Dan setelah itu, kami disuruh mengisi formulir untuk mengajukan pinjaman”.
Verifikasi yang pertama dilakukan adalah verifikasi proposal kelayakan usaha, dimana UPK dan BKM melakukan verifikasi pada kelengkapan dokumen, jika ada yang kurang akan dikembalikan kepada KSM untuk dilengkapi kembali.
Dalam verifikasi proposal kelayakan usaha, kelayakan calon peminjam juga diperhatikan hal ini dilakukan untuk mengetahui usaha dari calon peminjam dan melihat kemampuan calon peminjam dalam mengembalikan pinjaman. Jika dokumen sudah lengkap maka UPK dan BKM melakukan verifikasi lapangan untuk dilihat apakah mereka mempunyai usaha atau tidak, artinya UPK dan BKM mencocokkan proposal dengan kenyataan di lapangan. Setelah itu, UPK dan BKM mengadakan rapat verifikasi untuk memusyawarahkan KSM mana yang
akan menerima dana PPMK tahap pertama. Verifikasi yang dilakukan oleh UPK-BKM juga dilihat dari tingkat pengembalian pinjaman yang dilakukan oleh KSM pada pinjaman reguler (pinjaman bergulir). Di aturan yang berlaku bahwa setiap KSM boleh mengajukan pinjaman yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan usaha masing-masing dengan ketentuan maksimal Rp 30.000.000 untuk setiap KSM dan maksimal Rp 5.000.000 untuk setiap anggota KSM.
Hal yang sama juga disampaikan oleh salah satu anggota KSM Tanjung, Ibu Mardiah tentang proses pengajuan pinjaman sebagai berikut:
“Sebelum kami mengajukan pinjaman kami KSM disuruh membuat pengajuan pinjaman dalam bentuk proposal dan disini kami sangat terbantu oleh BKM karena mereka mengajari kami untuk membuat proposal usaha.
Dan setelah proposal usaha kami selesai, proposal kami dicek kembali oleh BKM.”
Selanjutnya UPK dan BKM mengadakan rapat verifikasi, dimana rapat ini khusus mengkaji mengenai hasil lapangan, yaitu melihat kesesuaian antara proposal dengan kenyataan. Kemudian di musyawarahkan, KSM mana yang berhak mendapatkan dana. Setelah rapat verifikasi lalu hasil rapat dibuat dalam berita acara rapat BKM. KSM yang berhak menerima pinjaman PPMK adalah
Selanjutnya UPK dan BKM mengadakan rapat verifikasi, dimana rapat ini khusus mengkaji mengenai hasil lapangan, yaitu melihat kesesuaian antara proposal dengan kenyataan. Kemudian di musyawarahkan, KSM mana yang berhak mendapatkan dana. Setelah rapat verifikasi lalu hasil rapat dibuat dalam berita acara rapat BKM. KSM yang berhak menerima pinjaman PPMK adalah