• Tidak ada hasil yang ditemukan

turn over

OBAT JAKARTA

3. METODE PENELITIAN

3.5 Teknik analisis Data

Analisis data ini untuk mengetahui adanya pengaruh antara variabel-variabel dalam penelitian mengenai jumlah perputaran persediaan terhadap peningkatan pendapatan RS. Ketergantungan Obat Jakarta yang terdiri dari :

a. Analisais Perputaran Persediaan

Analis ini menunjukkan berapa kali suatu perusahaan dapat memesan barang persediaannya dalam suatu periode. Analisis ini juga ditunjukkan untuk mengetahui berapa variabel x.

Perputaran Persediaan =

(Inventory turn over)

Harga Pokok Penjualan

112 b. Analisis Statistik

1. Analisis Regresi Linear

Analisis ini untuk mengetahui adanya pengaruh positif antara Perputaran Persediaan Barang Dagangan Farmasi terhadap Peningkatan Pendapatan pada RS. Ketergantungan Obat Jakarta.

Penulis melakukan proses persamaan dengan rumus:

Keterangan :

a = y pintasan (nilai y bila x = 0)

b = koefisien regresi yang mengukur besarnya pengaruh x terhadap y jika x naik satu unit

x = Perputaran Persediaan (variable bebas atau Independent) y = Jumlah Pendapatan (Variabel terikat atau Dependent)

Regresi linear sederhana untuk populasi sebuah variable bebas, regresi dengan x merupakan variable bebasnya dinamakan regresi y atas x sebaliknya adalah x atas y.

2. Analisis Koefisien Korelasi

Merupakan alat analisis yang menyatakan kuat tidaknya hubungan antara variabel x dan y Rumus :

r =

∑XY √ ∑X² Y² Ketergangan :

y = Variabel Terikat r = Koefisien Korelasi

x = Variabel Bebas n = Banyaknya data yang diobservasi

Dalam menentukan kuat atau tidaknya nilai dari koefisien korelasi dapat digunakan juga Pedoman Penentuan Interval Koefisien terhadap hubungan:

Interval Koefisien Tingkat Hubungan

0,00 – 0, 199 Sangat Lemah

0,20 – 0,399 Rendah

0,40 – 0,599 Sedang

0,60 – 0,799 Kuat

0,80 – 1,000 Sangat Kuat

Sumber :Buku Statistik penelitian oleh Prof.DR, Sugiono Persediaan rata-rata berada digudang =

(Average day's inventory )

Persediaan Rata-rata x 360 Harga Pokok Penjualan

Ŷ = a + bx

a = ∑y – b(∑x) n

b = n(xy) – (∑x)( ∑y)

113

3. Analisis Koefisien Determinasi

Analisa ini untuk mengetahui besar atau pengaruh antara variabel x, terhadap variabel y atau pengaruh perputaran persediaan barang farmasi terhadap peningkatan pendapatan

Koefisien determinasi berguna untuk mengukur besarnya sumbangan variabel bebas secara keseluruhan terhadap variabel terikatnya. r² mempunyai nilai antara 0 dan 1 (0≤r² ≤1). Jika nilai r² semakin mendekati 1, maka hasil regresi akan semakin baik. Yang berarti bahwa keseluruhan variable bebas secara bersama-sama mampu menerangkan variable terikatnya.

4. Pengujian Hipotesis

Hipotesis akan diuji dengan menggunakan uji-t dengan tujuan memberikan kepastian tentang kesempurnaan hubungan antara Perputaran Persediaan Barang dagangan terhadap Peningkatan Pendapatan. Berikut ini perhitungan dengan menggunakan rumus dan besarnya t-tabel pada signifikasi 5%. Uji-t merupakan pengujian hipotesis tentang parameter berdasarkan perhitungan data sampel, dengan tujuan memberikan kepastian tentang kesempurnaan suatu hubungan ariabel bebas terhadap terikat.

Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut : t = r

√n-2 √1- r²

Dimana : r² = nilai koefisien determinasi n = jumlah sampel

Langkah-langkah yang dilakukan uji-t adalah :

1. Untuk menerima atau menolak hipotesis tersebut dilakukan dengan membandingkan t-hitung dan t-tabel. Nilai t-tabel digunakan taraf signifikan sebesar α = 5%, yakni

t

a/2(n-2), n = jumlah sampel dengan grafik pengujian dua arah.

2. Dasar pengambilan keputusan untuk pengujian hipotesis yang disajikan adalah sebagai berikut :

a. Jika nilai t-hitung > t-tabel maka Ho ditolak artinya Perputaran Persediaan barang dan Pengaruh positif terhadap Peningkatan Pendapatan.

b. Jika nilai t-hitung < t-tabel maka Ho diterima artinya Perputaran Persediaan Barang tidak ada pengaruh positif terhadap peningkatan pendapatan.

KD = r²

114 Pengujian 2 arah (Upper & Lower Tail Test)

Daerah Penolakkan Ho

Sumber : Buku Statistik Oleh J. SUPRANTO

3.6 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada tanggal 03 maret 2011 hingga selesai di Rumah Sakit Ketergantungan Obat Jakarta, Jl. Lapangan Tembak no.75 Jakarta Timur.

4.PEMBAHASAN 4.1.Analisis Data

4.1.2.Analisis data Penelitian

a. Analisa Perputaran Persediaan

Analisa ini menunjukkan berapa kali perusahaan dapat memesan kembali barang persediaannya dalam suatu periode tertentu.

Tabel 4.1 : Perhitungan Persediaan rata-rata Barang Farmasi RS. Ketergantungan Obat Jakarta tahun 2008, 2009 dan 2010

Tahun Persediaan awal (01 Jan) Persediaan Akhir (31 Des) Persediaan Rata-rata 2008 623.102.406 674.889.417 648.995.911,5 2009 674.889.417 573.382.625 624.136.021 2010 573.382.625 812.054.025 692.718.325 Tabel 4.2 : Perhitungan Persediaan rata-rata dan Harga Pokok Penjualan RS.

Ketergantungan Obat Jakarta tahun 2008, 2009 dan 2010 Tahun Persediaan Rata-rata Harga Pokok Penjualan

2008 648.995.911,5 2.123.671.765 2009 624.136.021 2.703.200.543 2010 692.718.325 3.821.961.832 Ho diterima Ho ditolak Ho ditolak

115 a.1. Perhitungan Perputaran Persediaan :

Perputaran Persediaan = (Inventory turn over)

Harga Pokok Penjualan Persediaan Rata-rata Tahun 2008 : 2.123.671.765 = 3,27 kali 648.995.911,5 Tahun 2009 : 2.703.200.543 = 4,33 kali 624.136.021 Tahun 2010 : 3.821.961.832 = 5,51 kali 692.718.325

Penjelasan analisis rasio perputaran persediaan barang dagangan farmasi :

Tahun 2008 menunjukkan bahwa perusahaan melakukan 3,27 kali persediaan diganti atau dijual dalam waktu satu tahun, dan pada tahun 2009 melakukan 4.33 kali. Pada tahun 2010 RS. Ketergantungan Obat Jakarta dapat menjual atau mengganti barang dagangannya 5,51 kali, ini menunjukkan adanya peningkatan setiap tahunnya dalam perputaran persediaan, karena semakin cepat atau semakin tinggi tingkat perputaran persediaan akan memperkecil resiko terhadap kerugian yang disebabkab karena penurunan harga, atau karena exfierdate obat, disamping itu akan menghemat ongkos penyimpanan dan pemeliharaan terhadap persediaan tersebut.

a.2. Perhitungan rata-rata persediaan tersimpan digudang

Persediaan rata-rata berada digudang = (Average day's inventory )

Persediaan Rata-rata x 360 Harga Pokok Penjualan

Persediaan rata-rata berada digudang th = 648.995.911,5 x 360 = 110 hari

Th 2008 2.123.671.765

Persediaan rata-rata berada digudang th = 624.136.021 x 360 = 83,11 hari

Th 2009 2.703.200.543

Persediaan rata-rata berada digudang th = 692.718.325 x 360 = 59,31 hari

Th 2010 3.821.961.823

Tabel 4.3 : Perhitungan Rata-rata barang tersimpan di gudang pada RS. Ketergantungan Obat Jakarta.

Tahun Rata-rata barang tersimpan digudang (hari)

2008 110

2009 83,11

2010 59,31

116 Penjelasan analisis rasio rata-rata persediaan barang dagangan farmasi tersimpan digudang :

Dalam perhitungan diatas bahwa tahun 2008 RS. Ketergantungan Obat menyimpan barangnya digudang selama 110 hari, tahun 2009 selama 83,11 hari dan pada tahun 2010 selama 59,31 hari persediaan barang dagangan farmasi tersimpan digudang. b. Analisis Pendapatan

Jenis pendapatan yang terdapat pada RS. Ketergantungan Obat Jakarta adalah Pendapatan Rawat Jalan, Pendapatan Rawat Inap, UGD, Pendapatan Penunjang dan Pendapatan Non Operasional.

Pendapatan farmasi merupakan bagian dari pendapatan penunjang, dimana pendapatan farmasi untuk tahun 2008, 2009,2010 adalah sebagai berikut :

Tabel 4.4 : Tabel Pendapatan Farmasi tahun 2008, 2009 dan 2010

Tahun Pendapatan Farmasi

2008 2.123.671.765 2009 2.703.200.543 2010 3.821.961.832

Pada tahun 2009 Pendapatan Farmasi mengalami kenaikan sebesar Rp 579.528.788,- atau 27,2% dibandingkan pada tahun 2008, hal ini disebabkan adanya peningkatan penjualan obat dari Rp 2.123.671.765,- menjadi Rp 2.703.200.543,-

Sedangkan pada tahun 2010 Pendaptan Farmasi mengalami kenaikan sebesar Rp 1.118.761.289,- atau 41,3% dibandingkan tahun 2009, hal ini disebabkan adanya peningkatan penjualan obat pada RS. Ketergantungan Obat Jakarta dari Rp 2.703.200.543,- menjadi Rp3.821.961.832,-

Pendapatan dari tahun 2008 hingga tahun 2010 mengalami kenaikan atau peningkatan, dimana peningkatan pendapatan tertinggi adalah pada tahun 2010 dan pendapatan terendah adalah pada tahun 2008. pendapatan terendah diakibatkan belum adanya penambahan produk/obat sedangkan pendapatan meningkat disebabkan adanya penambahan produk/ obat seperti suboxon pada tahun 2010 dimana obat suboxon ini dapat dibawa pulang oleh pasien kerumah, sesuai dengan dosis yang dianjurkan oleh dokter kepada sipecandu.

Pada obat suboxon si pasien/ pencandu tidak mendapatkan efek samping seperti obat sebelumnya, dimana pecandu bila sudah meminum obat suboxon dapat konsentrasi bekerja atau dapat menjalani aktivitas sehari-hari tanpa rasa nyeri dan gangguan pada dirinya, selain itu satu-satunya Rumah Sakit yang boleh menjual suboxon adalah RS. Ketergantungan Obat jakarta sehingga banyak pecandu beralih ke RS. Ketergantungan Obat Jakarta untuk mendapatkan suboxon.

Sebelum ada suboxon pasien meminum obat Methadon, dimana Methadon hanya boleh diminum ditempat atau di RS. Ketergantungan Obat jakarta dan diawasi, tidak bisa dibawa pulang sehingga sipasien terikat setiap hari harus ke RS. Ketergantungan Obat jakarta, Methadone mempunyai efek samping sehingga pecandu tidak dapat menjalani aktivitas sehari-hari, Methadone juga dijual di tempat-tempat rehabilitasi lain selain RS. Ketergantungan Obat jakarta. inilah yang menyebabkan pasien beralih ke suboxon.

117 4.2.Analisis Statistik

a. Analilis Regresi Linear

Dalam pengolahan data dengan regresi linier sederhana dilakukan beberapa tahap untuk mencari hubungan antara variable independent dan variable dependent yakni melalui perputaran persediaan barang dagangan terhadap pendapatan.

Tabel 4.5 : Data input perhitungan regresi linier

Dalam (000000) Tahun x (x) y (rp) x² y² xy 2008 3,27 2.123 10,69 4.507.129 6.942,21 2009 4,33 2.703 18,74 7.306.209 11.703,99 2010 5,51 3.821 30,36 14.600.041 21.053,71 n = 3 13,11 8.647 59,79 26.413.379 39.699,91

Sumber : data diolah oleh penulis

Persamaan regresi berdasarkan perhitungan dengan menggunakan rumus hasil analisis diatas adalah sebagai berikut :

Persamaan regresi linier sederhana adalah : Ŷ = a + bx

Berdasarkan persamaan diatas dapat diperoleh : a = ∑(y)( ∑x²) – (∑x)(xy) n ∑ x² – (∑x) ² a = (8.647) (59,79) – (13,11)(39.699,91) 3(59,79) – (13,11)² a = (517.004,13) – (520.465,82) 179,37 – 171,87 a = - 3461.69 7.50 a = - 461,56 b = n ∑xy – (∑x)(∑y) n∑x² – (∑x)² b = 3 (39.699,91) – (13,11) (8.647) 3(59,79) – (13,11)² b = 119.099,73 – 113.362,17 179,37 – 171.87 b = 5.737,56 7.5 b = 765

jadi persamaan regresi liniernya berdasarkan rumus diatas adalah : Ŷ= -461,56 + 765x

Persamaan ini menunjukkan pengaruh variable x atau perputaran persediaan barang farmasi terhadap variable y atau pendapatan adalah Positif

Hal ini menunjukkan bahwa setiap kenaikan perputaran persediaan barang dagangan sebesar 1 kali akan berpengaruh terhadap peningkatan pendapatan sebesar Rp 765.000.000,-

118 b. Analisis Koefisien Korelasi

Setelah dilakukan pengujian model, maka langkah selanjutnya adalah dilakukan perhitungan korelasi untuk mengetahui eratnya hubungan antara variable-variabel yang dianalisis.

Adapun perhitungan untuk mencari nilai koefisien korelasi adalah sebagai berikut :

r = 39.699,91 √(59,79)(26.413.379) r = 39.699,91

39.739,85 r = 0,99

Dari perhitungan diatas diperoleh nilai r sebesar 0,99 artinya hubungan antara perputaran persediaan barang farmasi terhadap peningkatan pendapatan dinyatakan sangat kuat. Dapat dilihat berdasarkan penentuan Interval Koefisien terhadap keeratan hubungan.

Tabel 4.6 Penentuan Interval Koefisien Terhadap Keeratan Hubungan

Interval Koefisien Tingkat Hubungan

0,00 – 0, 199 Sangat Lemah

0,20 – 0,399 Rendah

0,40 – 0,599 Sedang

0,60 – 0,799 Kuat

0,80 – 1,000 Sangat Kuat

Sumber :Buku Statis penelitian oleh Prof.DR, Sugiono 2. Analisis Koefisien Determinasi

Analisis ini untuk menghitung besarnya kontibusi atau pengaruh antara variable x atau perputaran persediaan terhadap variable y, atau peningkatan pendapatan.

Dari perhitungan koefisien diatas diperoleh nilai koefisien determinasi dengan nilai : kd = r²

kd = 0,99²

kd = 0,98 atau 98%

Besarnya pengaruh atau kontribusi antara variable x atau perputaran persediaan barang farmasi terhadap variable y atau pendapatan sebesar 98 %, sedangkan 2% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain misalnya pendapatan Rawat Jalan, Rawat Inap, UGD, dan Pendapatan Operasional.

3. Hasil Pengujian Hipotesis

Hipotesis akan diuji dengan menggunakan uji-t dengan tujuan menberikan kepastian tentang kesempurnaan pengaruh antara perputaran persediaan barang farmasi terhadap peningkatan pendapatan. Berikut ini perhitungan dengan menggunakan rumus dan besarnya t-tabel pada signifikasi

r = ∑xy √∑ x² y²

119 Berikut ini hasil hipotesis dalam penelitian yang dirumuskan antara lain :

1) Ho : β = 0, artinya tidak ada pengaruh antara variabel x terhadap variabel y, atau tidak ada pengaruh antara perputaran persediaan barang farmasi terhadap peningkatan pendapatan.

2) Ha : β = 0, ada pengaruh antara variabel x terhadap variabel y, atau perputaran persediaan barang farmasi terhadap peningkatan pendapatan.

Apabila t-hitung lebih besar dari t-tabel maka Ho = ditolak dan Ha = diterima dan sebaliknya apabila t-hitung lebih kecil dari t-tabel maka Ha = diterima han Ho = ditolak

Untuk menguji hipotesis di atas, terlebih dahulu kita hitung berapa besar t-hitung dan kemudian t-tabelnya. Mencari hitung t :

t = r √4-2

√ 1-r²

t = 0.99 √4-2

√1-0.99)² = 1.4 0.14 = 10,00 t-tabel dk = n-2 = 4-2 =7.04

Maka pada t-tabel diperoleh nilai = 12,706 untuk tingkat kesalahan 5 %

Dari uji kedua tersebut ternyata didapat harga hitung 49,50 lebih besar dari t-tabel = 12,706 sehingga Ho ditolak sedang Ha diterima, hal ini berarti terdapat pengaruh yang positif antara perputaran persediaan barang dagangan farmasi terhadap pendapatan.

Berikut ini adalah tabel yang menunjukkan hasil uji-t dengan perhitungan menggunakan rumus (lampiran) dan besarnya t-tabel pada signifikasi 5 %

Pengujian 2 arah (Upper & Lower Tail Test)

Daerah Penolakkan Ho

Sumber : Buku Statistik Oleh J. SUPRANTO Ho diterima Ho ditolak Ho ditolak 12.,706 -12.,706 49,50

120 5. Kesimpulan dan Saran

5.1. Kesimpulan

Setelah melakukan pembahasan mengenai pengaruh perputaran persediaan barang farmasi terhadap peningkatan pendapatan pada RS. Ketergantungan Obat Jakarta maka kesimpulan yang dapat diambil oleh penulis adalah sebagai berikut :

1. Berdasarkan data-data yang ada pada RS.Ketergantungan Obat Jakarta telah mengelola persediaannya denga baik. Pengelolaan ini dapat dilihat dari perolehan perputaran persediaan pada RS. Ketergantungan Obat Jakarta mengalami peningkatan dari tahun ketahun disebabkan karena keberhasilannya dalam menjual obat-obatan. Dapat dijelaskan bahwa bahwa perputaran persediaan pada tahun 2008 adalah 3,27 kali, lalu terjadi peningkatan pada tahun 2009 adalah 4,33 kali dan pada tahun 2010 menjadi 5,51 kali. Maka sudah jelas dari tahun 2008 sampai dengan 2010 terjadi peningkatan.

2. Begitu pula dengan pendapatan farmasi pada RS. Ketergantungan Obat Jakarta mengalami peningkatan. dapat dilihat pada tahun 2008 pendapatan farmasi Rp2.123.671.765 pada tahun 2009 meningkat menjadi Rp2.703.200.543 dan pada tahun 2010 terjadi peningkatan Rp3.821.961.832 sudah terlihat jelas pendapatan di RS. Ketergantungan Obat dari tahun ketahun mengalami peningkatan.

3. a. Berdasarkan Analisis Regresi dapat menunjukkan persamaan Ŷ= -460,71 + 765x yang berarti hubungan antara perputaran persediaan barang farmasi terhadap peningkatan pendapatan adalah positif. Hal ini menunjukkan setiap kenaikkan perputaran perputaran persediaan farmasi dalam 1 kali akan berpengaruh terhadap peningkatan pendapatan Rp 765.000.000,-

b. Sedangkan Analisis Koefisien Korelasi r = 0,99 artinya terdapat pengaruh yang sangat kuat antara perputaran persediaan barang farmasi terhadap peningkatan pendapatan.

c. Analisis Koefisien Determinan menggambarkan bahwa Perputaran Persediaan barang farmasi memiliki kontribusi 98% terhadap pendapatan dan sisanya sebesar 2% dipengaruhi dari faktor lain misalnya pendapatan rawat jalan, pendapatan rawat inap, UGD, dan pendapatan operasional.

d. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa nilai untuk t-hitung lebih besar dari t-tabel (7,07 < 12,7), maka Ho diterima hal ini berarti Ha ditolak, menyatakan tidak ada pengaruh positif antara perputaran persediaan barang farmasi terhadap peningkatan pendapatan.

5.2 Saran

Setelah mempelajari, menganalisis dan menarik kesimpulan maka penulis akan memberikan beberapa saran yang mungkin dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan antara lain :

1. Perputaran persediaan barang dagangan farmasi pada RS. Ketergantungan Obat Jakarta dari tahun ketahun Sangat baik, jadi diharapkan RS. Ketergantungan Obat Jakarta dapat mempertahankan dan meningkatkan sistem pemasaran atau penjualan yang sudah ada serta adanya pengawasan yang ketat oleh pihak manajemen preusan terhadap persediaan obat agar tidak terdapat stok obat yang berlebihan yang dapat mengakibatkan kerugian.

2. Stok Opname fisik barang farmasi Belum dibuat secara rutin, sehingga dapat mengakibatkan perbedaan hasil perhitungan antara di kartu stok (hasil perhitungan barang) dengan perhitungan atau laporan mutasi barang. Bagian farmasi diharapkan membuat laporan stok opname fisik barang pada setiap bulannya sehingga dapat diketahui barang-barang yang rusak atau hilang dimana dalam mencari jejak

121 perbedaan pada stok barang atau laporan mutasi tidak terlalu sulit untuk diselusuri, dibandingkan stok opname dibuat per semester yang dapat mengakibatkan kehilangan jejak dalam mencari barang, dimana waktu yang begitu lama

3. Rumah Sakit Ketergantungan Obat Jakarta dilihat dari Laporan Aktivitas (Laboran Keuangan) tahun 2008, 2009, dan 2010 mengalami kerugian atau minus, diharapkan potensi pendapatan lebih ditingkatkan agar pendapatan bertambah, potensi pelayanan lebih diutamakan dengan melayani pasien dengan ramah, tidak mengoper-oper pasien, membuat pasien menunggu lama yang dapat membuat si pasien enggan berobat atau kembali ke RS. Ketergantungan Obat Jakarta. Serta meningkatkan sistem penagihan piutang, agar piutang tidak lambat dibayar jika perlu membuat perjanjian dalam penagihan piutang, Manajemen aset pada RS. Ketergantungan Obat harus diperbaiki yaitu dengan cara membuat daftar barang rusak dan barang yang masa manfaatnya sudah lewat tetapi barang tersebut masih bisa digunakan sebaiknya dilelang sehingga dapat menghasilkan pendapatan.

122 DAFTAR PUSTAKA.

Baridwan, Zaki, Intermediate Accounting, Penerbit BPFE, Yogyakarta, 2001 Harahap. Sofyan Safri, Teori akuntansi, Penerbit Bumi Aksara, Jakarta, 2001

Horngren, et al, Analisis Kritis atas laporan keuangan, Penerbit Erlangga, Jakarta, 2002 Kam, Vernon, Accounting Theory,Edisi keempat, terjemahan, Penerbit Erlangga, Jakarta,

2002

Kementerian KesehatanRepublik Indonesia, Pedoman Akuntansi Rumah Sakit, Jakarta, 2003 Kementerian KesehatanRepublik Indonesia, Standar Akuntansi Keuangan, Jakarta, 2002 Kementerian Kesehatan Republik Indonesi, Surat keputusan Menteri Kesehatan R.I

No.732/Men.Kes/SK/VI/2001, tentang Organisasi dan tata kerja Rumah Sakit Ketergantungan Obat, Jakarta,2002

Kieso, Donald. E.Teori Akuntansi, jilid tiga, Penerbit Erlangga, Jakarta, 2002

Munawir, Analisa Laporan Keuangan, Edisi keempat,Penerbit Liberty, Yogyakarta, 2007 Rianto, Bambang, Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan, Cetakkan Ketujuh, Penerbit

BPFE, Yogyakarta, 2001

Sugiono, Metode Penelitian Bisnis, Edisi Kelima, Penerbit CV.Alfabeta, Bandung, 2003 Supranto, J., Statistik Teori dan Aplikasi, Jilid I, Penerbit Erlangga, Jakarta, 2001

123 Evaluasi Atas Biaya Standar Sebagai Alat Perencanaan dan Pengendalian

Biaya Produksi Pada PT Toa Galindra Electronics. Maruly Poltas

Dosen Tetap Akuntansi STIE Pertiwi

1. PENDAHULUAN