• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODOLOGI PENELITIAN

F. Teknik Analisis Data

Analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data (Moleong, 1990: 103).

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan analisis kualitatif. Dalam metode kualitatif kesimpulan terakhir digunakan logika dan penalaran hal tersebut didasarkan pada penemuan di lapangan (Sumantri, 2004:36).

Berdasarkan tujuan penelitian maka peneliti bermaksud untuk menganalisis :

1. Tingkat Bahaya Longsor dan Karakteristik Tipe Longsor

Teknik analisis data untuk penentuan Tingkat Bahaya Longsor dilakukan dengan teknik skoring, yaitu dengan memberikan pengharkatan terhadap faktor

commit to user

penentu longsor. Pengharkatan dilakukan secara bertingkat, dimana harkat terkecil (dalam hal ini adalah 1) menunjukan bahwa peranannya terhadap longsor paling kecil, sedangkan harkat terbesar (dalam hal ini adalah 5) menunjukan peranannya yang paling besar terhadap terjadinya longsor. Pembobotan disusun atas dasar pemahaman faktor penyebab dan faktor pemicu longsor. Faktor yang menyebabkan terjadinya longsor adalah gaya gravitasi yang bekerja pada suatu massa tanah dan atau batuan. Di lapangan, besarnya pengaruh gaya gravitasi tersebut ditentukan oleh besarnya kemiringan lereng. Oleh karena itu dalam penilaian Tingkat Bahaya Longsor, faktor kemiringan lereng diberikan bobot yang paling tinggi (bobot 5,5) dibandingkan faktor-faktor lain.

Tingkat Bahaya Longsor selanjutnya diklasifikasikan berdasarkan total skor dari parameter di setiap satuan lahan. Penentuan kelas interval ditentukan sebagai berikut : n b a X Keterangan:

X = nilai interval a = harkat tertinggi N = jumlah kelas b = harkat terendah

Sedangkan untuk parameter yang dilakukan penskoran untuk menentukan Tingkat Bahaya Longsor (TBL) dapat disajikan pada tabel 5. sebagai berikut:

commit to user

Tabel 5. Pengharkatan Parameter Penentu Longsor

No Parameter Kriteria Harkat

1. Kemiringan lereng (%) 0 – 8 Datar 1 8 – 15 Landai 2 15 – 25 Agak curam 3 25 – 45 Curam 4 > 45 Sangat curam 5 2. Curah hujan (mm/hr) 0 – 13,6 Sangat rendah 1 13,6 – 20,7 Rendah 2 20,7 – 27,7 Sedang 3 27,7 – 34 Tinggi 4 > 34 Sangat tinggi 5 3. Penggunaan lahan Hutan - 1

Tegalan berteras + kebun campuran berteras - 2

Permukiman + semak belukar - 3

Tegal + kebun campuran tak berteras - 4

Sawah - 5 4. Kedalaman pelapukan (cm) <50 Dangkal 1 50 – 75 Agak dangkal 2 75 – 100 Sedang 3 100 – 150 Dalam 4 >150 Sangat dalam 5 5. Solum tanah (cm) 0 – 25 Sangat dangkal 1 25 – 50 Dangkal 2 50 – 90 Sedang 3 90 – 120 Dalam 4 >120 Sangat dalam 5

6. Permeabilitas tanah (cm/jam)

>12,5 Cepat 1 6,25 – 12,5 Agak cepat 2 2,0 – 6,25 Sedang 3 0,5 – 2,0 Agak lambat 4 < 0,5 Sangat lambat 5 7. Tekstur tanah Geluh (loam) - 1 Pasir (sand) - 2

geluh lempungan (clay loam), geluh lempung pasiran (sandy clay loam), geluh lempung debuan (silty clay loam)

-

3 geluh debuan (silt loam), debu (silt), pasir geluhan (loamy sandy) - 4 lempung (clay), lempung pasiran (sandy clay) - 5 Sumber: Sunarto Goenadi, dkk (2003), Kuswaji (2006), dengan modifikasi

commit to user

Sementara itu untuk menentukan tipe longsornya dilihat berdasar ciri dari longsoran yang terjadi di lapangan dan yang termasuk ke dalam kelas TBL.

2. Tingkat Kerentanan dan Risiko Longsor

Analisis kerentanan yang diakibatkan oleh kejadian longsor adalah analisis yang memanfaatkan salah satu aspek kebencanaan yaitu berdasarkan pada pertimbangan Tingkat Bahaya Longsor (TBL) dikaitkan dengan aspek kependudukan dimana sering timbul korban jiwa pada saat terjadinya longsoran.

Dalam menentukan kelas kerentanan ini terlebih dahulu dilakukan penghitungan terhadap jumlah penduduk pada tiap desa yang dimungkinkan rentan terkena bahaya longsoran. Perhitungan ini dilakukan untuk menentukan kepadatan penduduk pada masing-masing desa. Kemudian dilakukan pengkelasan terhadap masing-masing kelas kerentanan yang dalam hal ini hanya memfokuskan terhadap korban jiwa saja.

Penentuan tingkat risiko longsor didasari oleh keterkaitan antara tingkat bahaya dan tingkat kerentanan dengan kemungkinan besarnya kerugian yang berupa korban jiwa. Korban jiwa disini dilihat berdasarkan kepadatan penduduk pada satu desa. Dengan demikian dapat diperoleh tingkat risiko pada saat terjadi bencana longsor.

3. Penanggulangan Longsor dan Tindakan Konservasi Lahan

a. Analisis untuk penanggulangan longsor dapat disajikan melalui tabel. 6 sebagai berikut:

Tabel 6. Metode Penanggulangan Longsor Berdasarkan Tipe Longsor

Tipe-tipe Longsor Metode Penanggulangan

x (pengurangan gaya pendorong) o (menambah gaya penahan)

I. RUNTUHAN

1. Batuan * Pelandaian lereng * Penanggaan (Benching) * Tata Salir (salur permukaan) * Perbaikan permukaan lereng

* Bronjong

2. Tanah * Pelandaian lereng * Penanggaan (Benching) * Tata Salir (salur permukaan) * Perbaikan permukaan lereng * Menanam Tumbuhan

commit to user

3. Bahan Lepas

* Pelandaian lereng * Penanggaan (Benching) * Tata Salir (salur permukaan) * Perbaikan permukaan lereng * Menanam Tumbuhan * Bronjong II. GELINCIRAN 1. Rotasi Batuan * Pemotongan Kepala * Pelandaian lereng * Penanggaan (Benching) * Tata Salir (salur permukaan) * Perbaikan permukaan lereng

* Penyalir parit pencegat (interceptor drain) * Bronjong

* Dinding penopang isian baru (butters)

2. Rotasi Tanah

* Pelandaian lereng * Penanggaan (Benching) * Pemotongan habis

* Tata Salir (salur permukaan) * Perbaikan permukaan lereng * Menanam Tumbuhan

* Timbunan pada kaki lereng

* Penyalir parit pencegat (interceptor drain) * Bronjong

* Dinding penopang isian baru (butters)

3. Translasi Batuan

* Penanggaan (Benching) * Tata Salir (salur permukaan) * Perbaikan permukaan lereng * Menanam Tumbuhan

* Penyalir parit pencegat (interceptor drain) * Bronjong

* Dinding penopang isian baru (butters)

4. Translasi Tanah

* Penanggaan (Benching) * Tata Salir (salur permukaan) * Perbaikan permukaan lereng * Menanam Tumbuhan

* Penyalir parit pencegat (interceptor drain) * Bronjong

* Dinding penopang isian baru (butters)

III. ALIRAN

1. Batuan * Pelandaian lereng

* Tata Salir (salur permukaan) * Perbaikan permukaan lereng

* Bronjong

* Dinding penopang isian baru (butters)

2. Tanah * Pelandaian lereng

* Tata Salir (salur permukaan) * Perbaikan permukaan lereng

* Dinding penopang isian baru (butters)

3. Bahan Lepas

* Tata Salir (salur permukaan) * Perbaikan permukaan lereng * Menanam Tumbuhan

* Bronjong

* Dinding penopang isian baru (butters)

4. Lumpur * Tata Salir (salur permukaan) * Perbaikan permukaan lereng * Menanam Tumbuhan

* Dinding penopang isian baru (butters)

b. Arahan Konservasi Lahan

Arahan konservasi lahan ini dilakukan secara normatif dan tidak mutlak serta didasarkan pada kondisi fisik setiap satuan lahan dalam hal ini adalah mempertimbangkan faktor kemiringan lereng, kedalaman solum dan kedalaman tanah serta kelas Tingkat Bahaya Longsor (TBL) yang diperoleh berdasarkan hasil skoring yang telah dilakukan sebelumnya.

commit to user

Pelaksanaan konservasi lahan untuk masing-masing satuan lahan harus mempertimbangkan persyaratan karakteristik fisik pada masing-masing satuan lahan yang telah disebutkan diatas. Persyaratan itu antara lain:

3) Konservasi Lahan Secara Vegetatif dapat disajikan melalui Tabel 7. sebagai berikut.

Tabel 7.Usaha Konservasi Lahan Vegetatif No

Soil Conservation measures Teknis Konservasi Tanah Lereng

(%)

Solum (cm)

1. pasture or grassland penanaman rumput semua > 15 2. multiple crooping, including crop

rotation, relay crooping mixed crooping and intercrooping

pertanaman campuran termasuk pergiliran tanaman, tumpang gilir, pertanaman campuran, tumpang sari

< 60 > 15

3. contour crooping, strip crooping, alley crooping

penanaman menurut kontur penanaman menurut strip pertanaman lorong

< 60 > 15

4. reduced tillage, including minimum tillage and no till (zero tillage)

pengolahan tanah minimum tanpa olah tanah

< 60 > 15

5. grass strip/barrier strip rumput < 60 > 15 6. cover crooping penanaman penutup tanah < 60 > 15 7. organic matter management, including

use of mulch and intercorporation of compost, animal manure, green manure and croop residues

manjemen bahan organik termasuk mulsa, pencampuran kompos, pupuk kandang, pupuk hijau dan sisa tanaman

< 60 > 15

8. hedge row, live fence tanaman pagar, pagar hidup < 60 > 15 9. protection forest, including recreational

forest, forest park and forest research

hutan lindung, hutan kemasyarakatan, suaka alam dan hutan wisata

> 80 > 15

10. production forest including limited production forest and community forest

hutan produksi termasuk hutan produksi terbatas dan hutan rakyat

< 60 > 15

11. permanent vegetation crops including industrial and estate crop, orchards

vegatasi permanen termasuk tanaman industri, perkebunan, kebun

< 60 > 15

12. agroforestry including mixed gardens and home garden

agroforestri termasuk kebun campuran,kebun rumah

< 80 > 15

13. replanting or clear felled forest penanaman kembali semua > 15 14. regeneration of clear felled forest suksesi alami semua > 15 15. protection of rivers and springs perlindungan sungai dan mata air semua > 15

16. silvopasture silvopasture < 80 > 15

17. planting of trees, shurbs and grasses primaliry for soil conservation purposes

Penanaman pohon, rumput untuk tujuan konservasi tanah

semua > 15

Sumber: Departemen Kehutanan, (1998:83).

4) Konservasi Lahan Secara Teknik dapat disajikan melalui Tabel 8. sebagai berikut.

commit to user

Tabel 8.Usaha Konservasi Lahan Teknik No

Soil Conservation measures Teknis Konservasi Tanah Lereng

(%)

Kedalaman Tanah Min

(cm)

1. ridge terrace including gradded contour bund

teras guludan termasuk pematang kontur

15 - 60 > 30

2. credit terrace teras kredit 5 - 30 > 30

3. bench terrace, includes level bench terrace, reverse sloping bench terrace, forward sloping bench terrace, garden terrace, stone wall terrace, interupted bench terrace

teras bangku, termasuk teras bangku datar, teras bangku belakang, teras bangku miring, teras kebun, teras batu, teras bangku putus

10 - 40 > 30

4. individiual terrace teras individu 15 - 60 > 30 5. hiilside ditch or interception ditch teras gunung atau saluran pegelak 10 - 60 > 15 6. waterway saluran pembuangan air (SPA) > 15 7. trash line barisan sisa tanaman 8-30 > 15 8. silt pit with or without sloth mulch rorak, mulsa tanaman semua > 15 9. drop structure ussualy of stone or

bamboo supported by grasses, ( as part of water disposal in a terrace system)

bangunan terjunan biasanya bangunan terjunan dari batu atau bamboo

> 8 > 15

10. sediment control uncluding check dams and detection dams

kontrol sedimen termasuk dam pengendali dan dam penahan

semua > 0

11. gully control including gully head structures (flumes and chutes), gully plugs, check dams

sumbat jurang termasuk gully head structures

semua > 10

12. flood control and/or river bank protection

kontrol banjir dan atau perlindungan tepi sungai

semua > 0

13. road protection perlindungan jalan semua > 0 14. control of erotion and runoff from

settlement areas including use of soak pits, absorbtion well, drop structures, drain

Pengendalian erosi dan banjir dari area permukiman termasuk pembuatan sumur resapan, drainase

> 15

Sumber: Departemen Kehutanan, (1998:84).

Dokumen terkait