• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODOLOGI PENELITIAN

III.6. Teknik Analisis Data

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang akan mempelajari unit-unit isi berita secara keseluruhan yang membentuk sebuah wacana serta konteks sosial masyarakatnya. Seluruh hasil penelitian dalam bab ini dijabarkan dengan menggunakan pendekatan analisis wacana Norman Fairclough. Model analisis wacana ini memusatkan perhatian pada tiga level, yaitu pertama, analisis teks; kedua, analisis praktik diskursus atau kognisi sosial dari pembuat teks; dan ketiga, analisis mengenai praktik sosiokultural tempat dimana teks tersebut dibuat. Di samping itu, penelitian ini juga menggunakan teori intertekstualitas yang juga merupakan sub-bagian dari teori analisis wacana Norman Fairclough. Berikut ini adalah tabel yang menjelaskan bagaimana data ditelaah beserta metodenya.

TEKS METODE

Teks Kajian linguistik kritis Praktik diskursus

(discourse practice)

Wawancara mendalam dan observasi di ruang kerja

Praktik sosiokultural Studi Kepustakaan; Penelusuran di masyarakat

a. Teks

Analisis teks bertujuan untuk mengungkap makna yang terkandung dalam teks, dan dilakukan dengan menganalisis bahasa secara kritis. Teks di sini dipandang sebagai hasil praktik penggunaan bahasa yang melibatkan unsur semantik, pemilihan kosakata, dan tata bahasa. Pada tahap analisis teks, terdapat tiga aspek utama yang akan ditelaah, yaitu representasi, relasi, dan identitas. Berikut tabulasi yang menjelaskan bagian-bagian dari analisis teks.

Selanjutnya pada bagian representasi, terdapat tiga pengelompokkan uraian yang diteliti, yaitu representasi dalam anak kalimat, representasi dalam kombinasi anak kalimat, dan representasi dalam rangkaian antarkalimat. Representasi dalam anak kalimat menjelaskan bagaimana seorang penulis atau pemakai bahasa dihadapkan pada dua aspek, yaitu kosakata (vocabulary) dan tata bahasa (grammar). Pemakaian kosakata tertentu akan menunjukkan bagaimana

suatu keadaan, peristiwa, atau seseorang dipandang. Sedangkan tata bahasa menentukan apakah suatu keadaan, seseorang, kelompok, atau kegiatan ditampilkan sebagai sebuah proses atau partisipan. Proses yang dimaksud adalah apakah seseorang, kelompok, atau kegiatan dipandang sebagai tindakan, peristiwa, atau keadaan. Sebaliknya partisipan menjelaskan bagaimana aktor ditampilkan di dalam teks; apakah sebagai pelaku (subjek) atau korban (objek).

Sementara itu, di dalam representasi yang melibatkan kombinasi antar anak kalimat, akan diketahui bahwa antara satu anak kalimat dengan anak kalimat yang lain dapat digabungkan sehingga dapat membentuk suatu pengertian tertentu yang dapat dimaknai. Misalnya, ada peristiwa tentang kelangkaan BBM di suatu tempat, dan ada fakta lain dimana lalu lintas lancar. Kedua fakta tersebut dapat digabung sehingga membentuk suatu pemaknaan tertentu. Misalnya, keadaan lalu lintas di sebuah kota lancar disebabkan sedikitnya kendaraan yang tidak dapat keluar rumah akibat langkanya BBM.

Dan dalam representasi dalam rangkaian antarkalimat, akan tampak bagaimana dua atau lebih kalimat dirangkai sehingga membentuk suatu pengertian tertentu. Di dalam susunan beberapa kalimat yang dirangkai, akan tampak sebuah bagian yang paling menonjol dari bagian-bagian yang lain. Salah satu tujuannya adalah untuk menjelaskan apakah partisipan dianggap mandiri ataukah ditampilkan memberi reaksi dalam teks berita. Misalnya Menteri Jero Wacik mengusulkan agar menaikkan harga BBM bersubsidi untuk pengguna mobil pribadi sebesar dua ribu rupiah. Usul Jero Wacik mendapatkan tanggapan dari kalangan pengusaha yang mengatakan bahwa kenaikan harga BBM akan menyebabkan terjadinya inflasi.

Adapun relasi merujuk pada bagaimana kontruksi hubungan di antara wartawan dengan pembaca, apakah teks disampaikan secara formal atau informal, terbuka atau tertutup. Media di sini dipandang sebagai suatu arena sosial, tempat di mana kelompok, kelas, atau golongan masyarakat saling berhubungan dan menyampaikan pendapatnya masing-masing. Titik perhatian utama dalam analisis relasi ini adalah pada bagaimana pola hubungan di antara partisipan yang terlibat ditampilkan di dalam teks: seperti antara wartawan dengan khalayak, antara

politisi, tokoh, atau pengusaha dengan khalayak, dan antara wartawan dengan partisipan publik.

Sedangkan identitas merujuk pada konstruksi tertentu dari identitas wartawan atau penulis dan pembaca, serta bagaimana kepribadian atau identitas ini hendak ditampilkan. Dalam analisis identititas ini, akan diketahui bagaimana wartawan menempatkan dan mengidentifikasi dirinya pada suatu permasalahan atau kelompok sosial yang terlibat. Misalnya, dalam pemberitaan mengenai kontroversi kemenangan Borussia Dortmund atas Malaga di perempat final liga Champions Eropa musim 2012-2013. Apakah wartawan mengidentifikasi dirinya sebagai pihak yang setuju dengan kemenangan Dortmund atau sebaliknya, ataupun mandiri.

Di samping itu, masih dalam tahap analisis teks, penelitian ini juga akan melihat teks lewat teori intertekstualitas. Intertekstualitas adalah sebuah istilah dimana teks dan ungkapan dibentuk oleh teks yang datang sebelumnya, saling menanggapi dan salah satu bagian dari teks tersebut mengantisipasi lainnya. Setiap ungkapan dihubungkan dengan rantai komunikasi. Semua pernyataan didasarkan oleh pernyataan yang lain, baik secara eksplisit maupun implisit. Dalam hal ini, kata-kata yang pernah diungkapkan sebelumnya dievaluasi, diasimilasi, dan diekspresikan kembali dalam bentuk ungkapan yang lain. Setiap teks, diungkapkan berdasarkan atas dan mendasari teks yang lain.

Seluruh unsur dalam analisis teks diuraikan dalam tabulasi berikut ini.

UNSUR HAL YANG DILIHAT

Representasi dalam anak kalimat

bagaimana seseorang, kelompok, tindakan, atau kegiatan ditampilkan dalam teks lewat pilihan kosakata dan penggunaan tata bahasa. Representasi dalam

kombinasi anak kalimat

bagaimana seseorang, kelompok, tindakan, atau kegiatan ditampilkan dalam teks lewat rangkaian antar anak kalimat.

Representasi dalam rangkaian antarkalimat

bagaimana seseorang, kelompok, tindakan, atau kegiatan ditampilkan dalam teks lewat rangkaian beberapa kalimat.

Relasi bagaimana pihak-pihak yang terlibat dalam proses produksi dan konsumsi teks

(wartawan, khalayak, dan partisipan publik) ditampilkan dalam teks.

Identitas bagaimana identitas pihak-pihak yang terlibat dalam proses produksi dan konsumsi teks (wartawan, khalayak, dan partisipan publik) ditampilkan dalam teks.

Intertekstualitas bagaimana suatu ungkapan atau teks dari suara-suara yang lain yang telah

ada/diungkapkan sebelumnya ditampilkan kembali ke dalam teks.

b. Praktik Diskursus

Pada level kedua, yakni praktik diskursus (discourse practice), akan dilihat adanya suatu dimensi yang berhubungan dengan proses produksi dan konsumsi teks. Sebuah teks berita, khususnya yang dihasilkan oleh suatu media, pada dasarnya dihasilkan melewati suatu proses yang meliputi pola kerja, bagan kerja, serta rutinitas dalam struktur media tersebut. Setiap media sangat mungkin memiliki pola kerja dan kebisaan yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Sebuah hasil liputan berupa teks oleh wartawan, akan diolah kembali oleh editor di ruangan redaksi.

Di dalam media, proses produksi teks berita melibatkan praktik diskursus yang rumit dan kompleks. Praktik wacana inilah yang menentukan bagaimana sebuah teks dibentuk. Praktik wacana melibatkan dua komponen yaitu produksi teks (oleh pihak media) dan konsumsi teks (oleh khalayak). Kedua komponen tersebut berhubungan dalam suatu jaringan yang kompleks yang melibatkan berbagai aspek praktik diskursif.

c. Praktik sosiokultural

Dan pada level ketiga, praktik sosiokultural (sociocultural practice), akan dilihat adanya hubungan antara teks berita dengan konteks di luar yang menyertainya. Ruang redaksi maupun wartawan bukanlah sesuatu yang berangkat dari ruang hampa, melainkan sangat dipengaruhi oleh faktor di luar dirinya.

Sociocultural practice memang tidak berhubungan langsung dengan produksi teks, tetapi ia sangat menentukan bagaimana teks diproduksi dan dipahami. Misalnya sebuah teks yang memarjinalkan posisi para pemain judi. Teks semacam ini merepresentasikan ideologi yang memarjinalkan para pemain judi dalam bentuk teks. Konteks di sini memasukkan banyak hal, yang mencakup konteks situasi, konteks dari praktik institusi dari media yang bersangkutan dalam hubungannya dengan masyarakat atau budaya atau politik tertentu.

BAB IV