METODOLOGI PENELITIAN
H. Teknik Analisis Data
Teknik untuk menganalisis data memiliki beberapa tahapan, yaitu sebagai berikut: a) Uji Instrumen Penelitian
Sebelum instrumen ini digunakan untuk kepentingan pengumpulan data penelitian, terlebih dahulu dilakukan pengujian validitas isi, kemudian setelah uji coba instrumen dilakukan uji reliabilitas dan analisis butir soal yang meliputi tingkat kesukaran, daya pembeda, dan distraktor.
a. Validitas isi
Validitas isi dihitung menggunakan perhitungan persentase butir soal yang cocok dengan indikator atau tujuan. Perhitungan kecocokan terhadap validitas isi
41
Suciati Rahayu Widyastuti, 2014
PERBANDINGAN INDEKS KETIDAKWAJARAN SKOR MENGGUNAKAN METODE SHL DAN METODE DONLON-FISHER PADA TES HASIL BELAJAR MATEMATIKA SMP
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
dilakukan dengan menghitung besarnya persentase pada pernyataan cocok, yaitu ”persentase kecocokan suatu butir dengan tujuan atau indikator” berdasarkan penilaian guru/dosen atau ahli, Noer (Susetyo, 2011:92). Butir yang dinyatakan valid jika kecocokannya dengan indikator mencapai lebih dari 50%. Rumus yang digunakan adalah:
Persentase ∑ dimana:
f = frekuensi cocok menurut penilai
∑ = jumlah penilai (Susetyo, 2011:92)
Menurut Djaali dan Puji (Susetyo, 2011:90) validitas isi adalah validitas yang akan mengecek kecocokan dinatara butir-butir tes yang dibuat dengan indikator, materi atau tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Perhitungan dengan rumus persentase ini digunakan juga untuk menghitung persentase kecocokan pada uji keterbacaan soal dan uji kecocokan kompetensi dasar dengan indikator.
b. Reliabilitas
Suatu perangkat ukur yang dapat dipercaya adalah alat ukur yang hasilnya tidak berubah atau hasilnya relatif sama jika dilakukan pengetesan secara berulang-ulang dan alat ukur yang demikian dinamakan dengan reliabel. (Susetyo, 2011:105). Pengujian reliabilitas yang akan dilakukan terhadap instrumen menggunakan reliabilitas konsistensi internal, karena pengujian soal tersebut hanya satu kali. Reliabilitas konsistensi internal didasarkan pada skor yang diperoleh dari satu perangkat ukur dengan satu kali pengukuran pada peserta tes, dengan jenis Kuder-Richardson-20 (KR20). Penggunaan KR20 dikarenakan skor yang akan didapat berupa skor dikotomi. Berikut persamaan yang digunakan untuk menghitung koefisien reliablitas:
[ ∑ ] dimana;
p = proporsi jawaban benar q = proporsi jawaban salah
42
Suciati Rahayu Widyastuti, 2014
PERBANDINGAN INDEKS KETIDAKWAJARAN SKOR MENGGUNAKAN METODE SHL DAN METODE DONLON-FISHER PADA TES HASIL BELAJAR MATEMATIKA SMP
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
k = jumlah butir tes
∑ = jumlah perkalian jawaban benar dengan salah = koefisien reliabilitas
= varian skor tes = jumlah responden
∑ (∑ (Susetyo, 200) c. Tingkat Kesukaran
Tingkat kesukaran suatu butir soal dinyatakan oleh suatu indeks yang dinamakan Indeks Kesukaran Butir dan disimbolkan oleh huruf p. Indeks kesukaran butir merupakan rasio antar penjawab butir dengan benar dan banyaknya penjawab butir. (Azwar, 2011:134). Formulasi indeks kesukaran butir adalah:
p = (Azwar, 2011:134) dimana:
ni = banyaknya siswa yang menjawab butir soal dengan benar N = banyaknya siswa yang menjawab butir soal.
Interpretasi angka indeks kesukaran butir menurut Thondrike dan Hagen (Sudijono, 2009:327) mengemukakan sebagai berikut:
Tabel 3.2 Pembagian Tingkat Kesukaran
Rentang Tingkat Kesukaran
p < 0,30 Sukar
0,30 ≤ p ≤ 0,70 Sedang
p > 0,70 Mudah
d. Daya Pembeda
Daya pembeda (D) butir tes adalah kemampuan butir tes untuk mengetahui seberapa besar suatu butir tes dapat membedakan (diskriminasi) antara peserta tes yang berkemampuan tinggi dengan peserta tes yang berkemampuan rendah. Rumus yang digunakan untuk menghitung daya beda tiap butir soal adalah dengan acuan norma dan cara perhitungan daya beda kelompok tinggi-rendah, sebagai berikut:
(
43
Suciati Rahayu Widyastuti, 2014
PERBANDINGAN INDEKS KETIDAKWAJARAN SKOR MENGGUNAKAN METODE SHL DAN METODE DONLON-FISHER PADA TES HASIL BELAJAR MATEMATIKA SMP
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
dimana:
= frekuensi yang menjawab benar butir tes ke-i untuk kelompok tinggi = frekuensi yang menjawab benar butir tes ke-i untuk kelompok rendah
= jumlah seluruh peserta kelompok tinggi
= jumlah seluruh peserta kelompok rendad (Susetyo, 2011)
Dalam melakukan perhitungan daya beda ini, kemampuan siswa dikelompokkan menjadi kelas tinggi, kelas sedang, dan kelas rendah. Pembagiannya menggunakan cara, kelompok tinggi sebesar 27% dan kelompok rendah 27%, sisanya sedang 46%.
Pada umumnya kriteria penerimaan yang digunakan adalah D 0,2, butir dinyatakan memiliki daya beda dan dapat digunakan sebagai butir tes pada suatu perangkat ukur. (Susetyo, 2011:167)
Menurut Hopkins dalam Naga (2013, 292) pembagian daya beda sebagai berikut: Tabel 3.3 Pembagian Daya Beda Butir
Indek Daya Beda (D)
Interpretasi
0,40 atau lebih Butir memiliki daya beda sangat baik 0,30 – 0,39 Butir memiliki daya beda baik
0,11 – 0,29 Butir memiliki daya beda sedang
0,00 – 0,10 Butir memiliki daya beda kurang
negatif Butir ada kekeliruan
e. Distraktor
Analisis pengecoh atau distraktor tujuannya adalah mengetahui kemampuan responden yang sebenarnya dengan jalan memberikan pilihan alternatif yang memungkinkan untuk dipilih terutama responden yang tidak memahami butir tes tersebut. Kemiripan pilihan jawaban dapat dilihat dari penyebaran frekuensi jawaban peserta pada pilihan jawaban yang disediakan. Pengecoh yang tergolong baik adalah pengecoh yang dipilih oleh peserta tes minimum sebesar 5%. Keberadaan pengecoh digunakan untuk menjebak terutama bagi mereka yang berkemampuan rendah untuk memilih jawaban yang salah. Sedangkan mereka yang berkemampuan tinggi tidak terkecoh oleh jawaban yang salah dan mencegah
44
Suciati Rahayu Widyastuti, 2014
PERBANDINGAN INDEKS KETIDAKWAJARAN SKOR MENGGUNAKAN METODE SHL DAN METODE DONLON-FISHER PADA TES HASIL BELAJAR MATEMATIKA SMP
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
peserta tes melakukan tebakan. Berikut merupakan rumus untuk perhitungan mengecek keberfungsian pengecoh yaitu analisis distraktor proporsi presentase:
(Budi Susetyo, 2011:171) dimana;
M = jumlah responden
= proporsi masing-masing pilihan jawaban suatu butir tes = frekuensi masing-masing jawaban suatu butir tes
b) Pengolahan Data dengan Statistik Deskriptif
Semua data yang telah terkumpul nantinya akan diolah dengan statistik deskriptif, karena untuk mengetahui perbedaan indeks ketidakwajaran skor. Sebelum dapat mendeteksi ketidakwajaran skor, terlebih dahulu dilakukan perhitungan skor setiap responden, kemudian dihitung secara deskriptif hasil perhitungan skor tersebut. Pada pendeteksian ketidakwajaran skor menggunakan metode Donlon-Fisher skor yang akan dideteksi perhitungan indeksnya menggunakan rumus korelasi biserial dengan taraf kesukaran ditransformasikan ke distribusi probabilitas normal baku serta nilai y adalah probabilitas pada distribusi probabilitas normal baku di titik yang dibagi oleh pit maka sebelumnya data yang akan dideteksi diuji normalitasnya terlebih dahulu, karena metode Donlon-Fisher akan efektif bila digunakan pada data yang berdistribusi normal. Uji normalitas juga digunakan sebagai persyaratan penggunaan statistika parametrik.
a. Deskirpsi Data Sebelum dilakukan Pendeteksian Ketidakwajaran Skor.
Berikut merupakan teknik perhitungan ketidakwajaran skor masing-masing metode:
1) Deskripsi Data Hasil Belajar Siswa Kelas VII
Data yang telah dikumpulkan kemudian dihitung mean, median, modus, simpangan baku, nilai terbesar dan nilai terkecilnya, yang merupakan deskripsi dari data hasil pengerjaan siswa kelas VII terhadap tes hasil belajar bidang studi matematika dengan pokok bahasan Transformasi. Perhitungan mean, median, modus, simpangan baku, nilai terbesar, dan nilai terkecil dibantu dengan SPSS.16.
45
Suciati Rahayu Widyastuti, 2014
PERBANDINGAN INDEKS KETIDAKWAJARAN SKOR MENGGUNAKAN METODE SHL DAN METODE DONLON-FISHER PADA TES HASIL BELAJAR MATEMATIKA SMP
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
b. Deskripsi Data Hasil Pendeteksian Ketidakwajaran Skor
1) Deskripsi Hasil Pendeteksian Ketidakwajaran Skor Menggunakan Metode SHL
Metode SHL menggunakan istilah indeks kehati-hatian untuk menyatakan kewajaran skor peserta tes. Dari data yang sudah didapat kemudian dihitung masing-masing indeks kehati-hatian setiap peserta tes. Berikut merupakan rumus menghitung indeks kehati-hatian:
(http://file.upi.edu) dengan
Ag =sekor jawaban salah
∑( )
Bg = sekor jawaban benar
∑ ( ) ∑ ∑
Tabel 3.4. Kisi Pensekoran Peserta Tes No. Peserta Nomor Butir ft cg 1 2 3 4 ... j ... N 1 X11 X12 X13 X14 ... X1j ... X1N ft1 cg1 2 X21 X22 X23 X24 ... X2j ... X2N ft2 cg2 3 X31 X32 X33 X34 ... X3j ... X3N ft3 cg3 4 X41 X42 X43 X44 ... X4j ... X4N ft4 cg4 ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... i Xi1 Xi2 Xi3 Xi4 ... Xij ... XiN fti cgi ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... M XM1 XM2 XM3 XM4 ... XMj ... XMN ftM cgM fgi
Setelah indeks kehati-hatian semua peserta tes dihitung, dari data tersebut dapat akan dihitung mean, median, modus, standar deviasi, indeks kehati-hatian terbesar, dan indeks kehati-hatian terkecil, kemudian diklasifikasikan skor responden yang wajar dan tidak wajar, kemudian dilihat peserta yang wajar berasal dari kelas VII C, D, F, G, H, atau I. Sedangkan untuk responden yang
46
Suciati Rahayu Widyastuti, 2014
PERBANDINGAN INDEKS KETIDAKWAJARAN SKOR MENGGUNAKAN METODE SHL DAN METODE DONLON-FISHER PADA TES HASIL BELAJAR MATEMATIKA SMP
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
skornya dinyatakan tidak wajar akan diklasifikasikan menjadi tiga kategori yaitu indeks ketidakwajaran skor besar, sedang, dan kecil. Untuk melihat penyebaran skor peserta tes yang dinyatakan wajar berdasarkan kategori kemampuan peserta tes maka dilakukan pengklasifikasian terhadap kemampuan peserta tes, yaitu akan dikategorikan menjadi peserta tes dengan kemampuan tinggi, sedang, dan rendah.
Untuk mempermudah cara menghitung indeks kehati-hatian, berikut merupakan contoh perhitungan indeks kehati-hatian yang tersaji pada tabel 3.5.
a) Langkah pertama adalah penyusunan butir dari mudah ke sukar yang dalam hal ini oleh skor butir fgi dari tinggi ke rendah. Banyaknya butir adalah N = 5. b) Langkah kedua membuat pemisah di antara bagian pertama dan bagian kedua
melalui banyaknya jawaban betul. Responden 1 dan 2 dengan 4 jawaban betul terpisah pada ft = 4. Responden 3 dan 4 dengan 3 jawaban betul dipisah pada ft
= 2. Dengan Xgi = 1 untuk jawaban betul dan Xgi = 0 untuk jawaban salah, semua data untuk rumus 2.1. sudah tersedia sehingga indeks kehati-hatian dapat dihitung. Pada contoh ini, indeks kehati-hatian responden lainnya dapat dihitung dari data yang tersedia untuk dimasukkan ke dalam rumus.
Tabel 3.5. Kisi Pensekoran 5 Peserta yang Mengerjakan 10 Butir dalam Penentuan Kehati-hatian. No Peserta Nomor Butir ft 1 2 3 4 5 1 1 1 1 1 0 4 2 1 1 1 0 1 4 3 1 1 1 0 0 3 4 1 1 0 1 0 3 5 1 0 0 0 1 2 fgi 5 4 3 2 2 (Naga, 2013:400) Sekor butir fgi : 5 4 3 2 2
47
Suciati Rahayu Widyastuti, 2014
PERBANDINGAN INDEKS KETIDAKWAJARAN SKOR MENGGUNAKAN METODE SHL DAN METODE DONLON-FISHER PADA TES HASIL BELAJAR MATEMATIKA SMP
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Sudah diurut dari besar ke kecil Jumlah butir N = 5
Responden 1 dan 2 : ft = 4 Responden 3 dan 4 : ft = 3 Responden 5 : ft = 2
c) Perhitungan indeks kehati-hatian untuk peserta tes ke-5: ∑( ) ∑( ) (( ) (( ) ∑ ( ) ∑( ) [( ( ( ] ∑ ∑ 5 + 4 ∑ ∑ 2 +2 Dari perhitungan di atas didapat nilai dari:
A5 = 4 C = 9
B5 = 2 D = 4
48
Suciati Rahayu Widyastuti, 2014
PERBANDINGAN INDEKS KETIDAKWAJARAN SKOR MENGGUNAKAN METODE SHL DAN METODE DONLON-FISHER PADA TES HASIL BELAJAR MATEMATIKA SMP
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Jadi diapat indeks kehati-hatian peserta tes ke-5 sebesar 0,40.
d) Didapat indeks kehati-hatian peserta ke-5 sebesar 0,40, ini artinya skor peserta ke-5 tidak wajar. Untuk menghitung indeks kehati-hatian peserta lainnya dapat digunakan jalan yang sama.
2) Deskripsi Hasil Pendeteksian Ketidakwajaran Skor Menggunakan Metode Donlon-Fisher
Metode Donlon-Fisher menggunakan istilah indeks kewajaran skor untuk menyatakan koefisien korelasi biserial. Dari data yang sudah didapat kemudian dihitung masing-masing indeks kewajaran skor setiap peserta tes. Berikut merupakan rumus menghitung indeks kewajaran skor:
(Naga, 1998:450) dimana:
= koefisien korelasi biserial
= rata-rata kesukaran butir dalam skala delta untuk butir yang terkerjakan oleh peserta ujites
= rata-rata kesukaran butir dalam skala delta untuk butir yang dijawab dengan benar oleh peserta ujites ke-i
= simpangan baku kesukaran butir di dalam skala delta untuk smua butir yang dikerjakan
= proporsi jawaban benar terhadap butir yang dikerjakan
= probabilitas pada distribusi probabilitas normal baku di titik yang dibagi oleh
Tabel 3.6 Kisi Penentuan Kewajaran Skor menurut Metode Donlon-Fisher Butir P Skala A B ... i ... n 1 P1 Skala X1A X1B ... X1i ... X1n 2 P2 Skala X2A X2B ... X2i ... X2n 3 P3 Skala X3A X3B ... X3i ... X3n 4 P4 Skala X4A X4B ... X4i ... X4n 5 P5 Skala X5A X5B ... X5i ... X5n ... ... ... ... ... ... ... ... ...
49
Suciati Rahayu Widyastuti, 2014
PERBANDINGAN INDEKS KETIDAKWAJARAN SKOR MENGGUNAKAN METODE SHL DAN METODE DONLON-FISHER PADA TES HASIL BELAJAR MATEMATIKA SMP
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
j Pj Skala XjA XjB ... Xji ... Xjn
Setelah indeks kewajaran semua peserta tes dihitung, dari data tersebut dapat akan dihitung mean, median, modus, standar deviasi, indeks kehati-hatian terbesar, dan indeks kehati-hatian terkecil, kemudian diklasifikasikan skor responden yang wajar dan tidak wajar, kemudian dilihat peserta yang wajar berasal dari kelas VII C, D, F, G, H, atau I. Sedangkan untuk responden yang skornya dinyatakan tidak wajar akan diklasifikasikan menjadi tiga kategori yaitu indeks ketidakwajaran skor besar, sedang, dan kecil. Untuk melihat penyebaran skor peserta tes yang dinyatakan wajar berdasarkan kategori kemampuan peserta tes maka dilakukan pengklasifikasian terhadap kemampuan peserta tes, yaitu akan dikategorikan menjadi peserta tes dengan kemampuan tinggi, sedang, dan rendah.
Untuk mempermudah cara menghitung indeks kewajaran peserta tes, berikut merupakan contoh perhitungan indeks kewajaran yang tersaji pada tabel 3.6. a) Langkah pertama adalah penyusunan proporsi jawaban benar setiap butir dari
mudah ke sukar.
b) Langkah ke dua adalah mentransformasi proporsi jawaban benar setiap butir dalam skala delta. Banyaknya butir adalah N = 10.
Tabel 3.7 Jawaban Peserta yang Mengerjakan sepuluh butir tes dalam penentuan kewajaran menurut Metode Donlon-Fisher
Butir P Skala A B 1 0,80 9,64 1 0 2 0,75 10,32 1 1 3 0,65 11,44 1 1 4 0,60 11,96 1 0 5 0,50 13,00 1 1 6 0,40 14,04 1 1 7 0,35 14,56 0 1 8 0,30 15,08 1 0
50
Suciati Rahayu Widyastuti, 2014
PERBANDINGAN INDEKS KETIDAKWAJARAN SKOR MENGGUNAKAN METODE SHL DAN METODE DONLON-FISHER PADA TES HASIL BELAJAR MATEMATIKA SMP
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
9 0,25 15,68 0 1 10 0,20 16,36 0 1 (Hulin et al:1983)
dimana:
P = proporsi jawaban benar A dan B = peserta tes.
c) Perhitungan indeks kewajaran peserta A dengan metode Donlon-Fisher. Peserta A mengerjakan semua butir, sehingga rata-rata dan simpangan baku kesukaran butir di dalam skala delta untuk semua butir yang dikerjakannya, yakni dari 1 sampai 10 adalah masing-masing:
Rata-rata: = ∑ dimana:
= rata-rata kesukaran butir dalam skala delta untuk butir yang terkerjakan oleh peserta ujites
∑ = jumlah semua skala pada butir soal 1 sampai N N = banyaknya butir soal
=
Simpangan Baku:
√∑ ( ̅ dimana:
= simpangan baku kesukaran butir di dalam skala delta untuk smua butir yang dikerjakan
= nilai skala ke-i ̅ = rata-rata nilai skala
51
Suciati Rahayu Widyastuti, 2014
PERBANDINGAN INDEKS KETIDAKWAJARAN SKOR MENGGUNAKAN METODE SHL DAN METODE DONLON-FISHER PADA TES HASIL BELAJAR MATEMATIKA SMP
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
√∑ ( ̅ =
2,81
Rata-rata kesukaran butir di dalam skala delta dari butir soal yang berhasil dijawab benar oleh peserta A, yaitu 1, 2, 3, 4, 6, dan 8, serta proporsi jawaban benar adalah sebagai berikut:
= ∑
= =0,7
Pada tabel distribusi probabilitas normal baku, proporsi = 0,7 terletak pada nilai z = 0,52 sehingga dari tabel distribusi probabilitas normal baku pada Lampiran C.5 halaman 388, kita temukan:
= 0,92
Jadi diapat indeks kewajaran peserta tes A sebesar 0,92.
d) Didapat indeks kehati-hatian peserta A sebesar 0,92, ini artinya skor peserta A wajar. Untuk menghitung indeks kewajaran peserta lainnya dapat digunakan jalan yang sama.
3) Hasil Pendeteksian Ketidakwajaran Skor menggunakan metode SHL dan metode Donlon-Fisher
Tabel 3.8 Hasil Pendeteksian Ketidakwajaran Skor menggunakan metode SHL dan metode Donlon-Fisher
52
Suciati Rahayu Widyastuti, 2014
PERBANDINGAN INDEKS KETIDAKWAJARAN SKOR MENGGUNAKAN METODE SHL DAN METODE DONLON-FISHER PADA TES HASIL BELAJAR MATEMATIKA SMP
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Wajar Tidak Wajar Jumlah
SHL fw1 ftw1 n
Donlon-Fisher fw2 ftw2 n
Keterangan:
fw1 : frekuensi peserta tes yang memiliki skor wajar dideteksi dengan menggunakan metode SHL.
fw2 : frekuensi peserta tes yang memiliki skor wajar dideteksi dengan menggunakan metode Donlon-Fisher.
ftw1 : frekuensi peserta tes yang memiliki skor tidak wajar dideteksi dengan menggunakan metode SHL.
ftw2 : frekuensi peserta tes yang memiliki skor tidak wajar dideteksi dengan menggunakan metode Donlon-Fisher.
n : Jumlah seluruh siswa yang dideteksi ketidakwajarannya
4) Transformasi Indeks Ketidakwajaran Skor ke Dalam Skor Baku T
Semua indeks ketidakwajaran peserta tes yang sudah dihitung menggunakan metode SHL maupun metode Donlon-Fisher, kemudian ditransformasi ke dalam skor baku T, terlebih dahulu ditranformasikan ke dalam skor baku z. Skor z dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:
̅ ( (Sudjana,1995:116) dimana: z = skor baku z X = skor ̅ = rata-rata skor S = simpangan baku T = skor baku T
53
Suciati Rahayu Widyastuti, 2014
PERBANDINGAN INDEKS KETIDAKWAJARAN SKOR MENGGUNAKAN METODE SHL DAN METODE DONLON-FISHER PADA TES HASIL BELAJAR MATEMATIKA SMP
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Uji persyaratan digunakan untuk menentukan data yang telah didapat akan dianalsis menggunakan statistika parametrik atau statistika nonparametrik. Uji persyaratan analisis menggunakan uji normalitas saja tanpa ada uji homogenitas, karena dua kelompok data yang didapat berasal dari sampel yang sama.
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data yang diperoleh berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas dilakukan untuk uji prasyarat. Uji normalitas dilakukan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov
dibantu dengan program SPSS.16 .
Pengujian normalitas pada taraf signifikansi 5% dengan pengujian hipotesis sebagai berikut:
H0 : data tidak berdistribusi normal H1 : data berdistribusi normal Kriteria pengujian:
I. Jika P-value < 0.05, maka data tidak berdistribusi normal, maka tolak H0. II. Jika P-value≥ 0.05, maka data berdistribusi normal, maka terima H0.
3. Hipotesis Statistik Hipotesis statistik: H0 : = 0
H1 : 0
Pengujian dua perbedaan rata-rata sampel yang berpasangan menggunakan teknik analisis statistika nonparametrik yaitu menggunakan uji Wilcoxon karena data tidak berdistribusi normal. Berikut merupakan rumus dari uji Wilcoxon tersebut:
T = nilai terkecil dari ∑ ∑
̅ merupakan nilai yang didapat dari perhitungan atau formula ( merupakan nilai dari formula √ ( (
merupakan nilai dari formula ̅ ES merupakan nilai dari formula | |
54
Suciati Rahayu Widyastuti, 2014
PERBANDINGAN INDEKS KETIDAKWAJARAN SKOR MENGGUNAKAN METODE SHL DAN METODE DONLON-FISHER PADA TES HASIL BELAJAR MATEMATIKA SMP
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
Pengujian hipotesis menggunakan uji dua perbedaan rata-rata populasi yang berhubungan pada taraf signifikansi 5% atau 0,05.
Kriteria pengujian:
i. Jika P-value 0,05 maka terima H0
76
Suciati Rahayu Widyastuti, 2014
PERBANDINGAN INDEKS KETIDAKWAJARAN SKOR MENGGUNAKAN METODE SHL DAN METODE DONLON-FISHER PADA TES HASIL BELAJAR MATEMATIKA SMP
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
BAB V