• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

F. Teknik Analisis Data

Analisis data ialah langkah selanjutnya untuk mengelola data dimana data yang diperoleh, dikerjakan dan dimanfaatkan sedemikian rupa untuk menyimpulkan persoalan yang diajukan dalam menyusun hasil penelitian. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah model analisa interakif.

Dalam model ini terdapat komponen pokok. Menurut Miles dan Huberman (1992) komponen tersebut yaitu :

1. Pengumpulan Data

Pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka penelitian tidak akan mendapat data yang memenuhi standar data yang ditetapkan

2. Reduksi data

Reduksi data merupakan komponen pertama analisis data yang mempertegas, memperpendek, membuat fokus, membuang hal yang tidak penting dan mengatur data sedemikian rupa sehingga simpulan peneliti dapat dilakukan.

3. Sajian data

Sajian data merupakan suatu rakitan informasi yang memungkinkan kesimpulan secara singkat dapat berarti cerita sistematis dan logis agar makna peristiwanya menjadi lebih mudah dipahami.

4. Penarikan simpulan

Dalam awal pengumpulan data, peneliti sudah harus mulai mengerti apa arti dari hal-hal yang ditemui dengan mencatat peraturan-peraturan sebab-akibat dan berbagai proporsi sehingga penarikan kesimpulan dapat dipertanggungjawabkan.

G. Keabsahan Data

Teknik pengumpulan data triangulasi diartikan sebagai teknik data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber yang telah ada. Menurut Sugiyono (2009:366) Ada tiga macam triangulasi:

1. Triangulasi Sumber

Membandingkan dengan cara mengecek ulang derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui sumber yang berbeda. Misalnya membandingkan hasil pengamatan dengan wawancara.

2. Triangulasi Teknik

Menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Misalnya data diperoleh dengan wawancara, lalu dicek dengan observasi dan dokumentasi

3. Triangulasi waktu

Waktu juga sering mempengaruhi kredibilitas data. Untuk itu dalam rangka pengujian kredibilitas data, dapat dilakukan dengan cara melakukan pengecekan dengan wawancara, observasi, atau teknik lain dalam waktu atau situasi yang berbeda.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Kabupaten Pinrang

Kabupaten Pinrang adalah salah satu Daerah Kabupaten di provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia.Kabupaten ini memiliki luas wilayah 1.961,77 km² dan berpenduduk sebanyak ±347.684 jiwa. Kabupaten Pinrang, cikal bakalnya berasal dari Onder Ofdeling Pinrang yang berada di bawah afdeling Pare-Pare.

yang merupakan gabungan empat kerajaan yang kemudian menjadi self bestuur atau swapraja yaitu KASSA, BATULAPPA, SAWITTO, dan SUPPA yang sebelumnya adalah anggota konfederasi kerajaan Massenrengpulu(Kassa dan Batulappa) dan Ajatappareng (Suppa dan Sawitto), ini merupakan bagian dari adu domba Kolonial untuk memecah persatuan di Sulawesi Selatan.

Pemilihan nama Pinrang sebagai nama wilayah dikarenakan daerah pinrang merupakan tempat berkumpulnya ke empat raja tadi dan sekaligus tempat berdirinya kantor onder afdelingeen (kantor residen). Selanjutnya Onder afdeling Pinrang ini, pada zaman pendudukan Jepang menjadi Bunken Kanrikan Pinrang, kemudian pada zaman kemerdekaan pada akhirnya menjadi Kabupaten Pinrang.

Secara keseluruhan jumlah penduduk yang berjenis kelamin perempuan lebih banyak daripada penduduk yang berjenis kelamin laki-iaki. Hal ini tercermin dari angka rasio jenis kelamin yang lebih kecil dari 100 yakni hanya 92,00 persen saja. Penduduk Kabupaten pinrang berdasarkan data Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Pinrang berjumlah 367.340 jiwa atau sekitar 3,1 % Luas Wilayah

37

Daratan Sulawesi Selatan yang tersebar di 12 kecamatan, dengan kepadata Penduduk adalah 170 Jiwa per-Km2 yang terdiri dari:

Laki-laki = 189.785 jiwa

Perempuan = 200.362 jiwa

Jumlah kepala keluarga = 130.147 jiwa

Mengawali hasil penelitian lapangan yang dilakukan pada lembaga legislatif daerah, perlu diberikan gambaran deskriptif tentang kondisi DPRD Kabupaten tahun 2014 dapat ditelusuri dari segi keanggotaan DPRD Kabupaten Pinrang sebagai wakil rakyat hasil pemilu 2014.

Pemilihan Umum anggota legislatif daerah tahun 2014 Kabupaten Pinrang yang terdiri dari 12 kecamatan dibagi menjadi 4 daerah pemilihan, masing-masing sebagai berikut :

Daerah Pemilihan I : Kecamatan Lembang Kecamatan Duampanua Kecamatan Batulappa Daerah Pemilihan II : Kecamatan Patampanua

Kecamatan Mattoro Sompe

Kecamatan Cempa

Daerah Pemilihan III : Kecamatan Watang Sawitto

Kecamatan Paleteang Kecamatan Tiroang Daerah Pemilihan IV : Kecamatan Suppa

Kecamatan Mattiro Bulu

Kecamatan Lanrisang

Berdasarkan jumlah penduduk Kabupaten Pinrang menurut data statistik tahun 2014 sebanyak 340.945 jiwa, maka jumlah anggota legislatif daerah dalam DPRD yaitu 40 kursi yang diperebutkan oleh 38 partai politik yang terdaftar sebagai peserta Pemilihan Umum Tahun 2014. Perolehan kursi partai politik peserta Pemilihan Umum Tahun 2014 menurut daerah pemilihan di Kabupaten Pinrang, disajikan pada tabel berikut :

Tabel 1. Perolehan Suara Partai Politik Berdasarkan Daerah Pemilihan pada Pemilu Legislatif Tahun 2009 di Kabupaten Pinrang

DP Wilayah Pemilihan Nama Partai Politik Jumlah Kursi I Kecamatan Lembang

PKB 1

Kecamatan Mattiro Bulu

Sumber : Sekretariat DPRD Kabupaten Pinrang Tahun 2014

B. Fraksi DPRD Kabupaten Pinrang

Para anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Pinrang tahun 2009-2014 dibagi menjadi lima fraksi, perinciannya pada tabel sebagai berikut :

Tabel 2. Fraksi-fraksi Dalam Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Pinrang Tahun 2009-2014

No. Nama Fraksi Nama Anggota DPRD Jabatan

1 Fraksi Golkar Drs. Herman Sakka, SH (PG)

H. Ramadhan AZ. Rachman, SE (PSI) H. Sirajuddin Rasjid, SE (PG)

2

Dr. Ir. Sahabuddin Thoaha, M.Agr (PKS) H. Bahran Jafar. S (PKS)

H. Andi Palewai (Hanura) Drs. H. Hasyim Padu (PAN)

H. Faisal Thahir Syarkawi, SE, M.Si Erna Andi Pallawagau (PKPI)

5 Fraksi Kebangkitan Sumber : Sekretariat DPRD Kabupaten Pinrang Tahun 2014

D. Visi dan Misi DPRD Kabupaten Pinrang

Sebagai lembaga legislatif daerah yang mewakili rakyat yang berdomisili dalam wilayah/daerah Kabupaten Pinrang, maka Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Pinrang tahun 2014-2019 memiliki visi dan misi yang dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Visi DPRD Kabupaten Pinrang

Menjadikan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Pinrang sebagai lembaga yang partisipatif, responsif, dan akuntabel, dengan pengarusutamaan nilai-nilai demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan umum masyarakat.

2. Misi DPRD Kabupaten Pinrang

Untuk mencapai visi tersebut, DPRD Kabupaten Pinrang mengemban misi yaitu : Menanamkan nilai-nilai demokrasi dalam setiap aspek kehidupan berbagsa dan bermasyarakat di Kabupaten Pinrang, sebagai berikut :

a. Mendorong penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan masyarakat yang partisipatif, aspiratif, akuntabel, dan bertanggungjawab.

b. Mengutamakan prinsip partisipatif dalam setiap tahapan dan proses perumusan, penyusunan dan penetapan kebijakan publik.

c. Mengintensifkan penyelenggaraan pengawasan, menjadi mediator dan fasilitator dalam penyelesaian masalah, kendala pelaksanaan dan implementasi peraturan daerah, peraturan bupati, dan kebijakan pemerintah daerah.

d. Menata dan merevitalisasi lembaga DPRD melalui peningkatan kapasitas pimpinan dan anggota DPRD.

B. Perilaku Elit Politik Lokal Pasca Pemilihan Umum Legislatif Tahun 2014 di Kabupaten Pinrang

Guna mengetahui perilaku elit politik lokal pasca Pemilu Legislatif Tahun 2014, maka penulis memilih informan yang akan menjadi subyek penelitian. Dari 40 anggota legislatif dari 4 Dapil yang mendapatkan kursi di DPRD Kabupaten Pinrang, maka penulis memilih 5 anggota legislatif dari 3 Dapil. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel Daftar Nama Anggota DPRD Kabupaten Pinrang 2014-2019

No Nama Dapil Partai Pendukung Perolehan Suara 1 Drs.H.Rukman Aliata I Nasional Demokrat 1.802

2 H. Erwin Mugni, A.Md II PKS 1.945

3 H.Sirajuddin Rasyid,SE II Partai Golkar 835

4 H.A. Mukhtar IV PPP 2670

5 Syukriadi IV Partai Hanura 2396

Jumlah 5 orang

Sumber: Hasil olahan data primer Desember 2014

1. Perilaku Politik Radikal

Perilaku Politik Radikal adalah perilaku warga negara yang tidak puas terhadap keadaan yang ada serta menginginkan perubahan yang cepat dan mendasar. Orang yang bersifat radikal biasanya tidak mengenal kompromi dan tidak mengindahkan orang lain serta cenderung mau menang sendiri. Perilaku politik radikal dapat dilakukan oleh pihak masyarakat luas (bangsa) maupun pihak penguasa Negara. Sikap politik radikal adalah sikap seseorang yang menghendaki perubahan terhadap sesuatu yang ada secara cepat. Sikap radikal menghendaki perubahan semua tatanan atau semua aspek kehidupan masyarakat sampai akar-akarnya, dan jika perlu dengan kekerasan

Ketika penulis menanyakan tentang adanya perubahan yang cepat pada semua aspek kehidupan masyarakat meskipun dengan kekerasan, Bapak RA selaku anggota DPRD dari partai Nasdem memberikan tanggapan:

“Kita semua pasti menginginkan perubahan pada semua aspek, apalagi jika perubahan itu ke arah yang positif dan demi kesejahteraan masyarakat, tapi jika perubahannya seolah-olah sangat dipaksakan, apalagi dengan menggunakan kekerasan, Demonstrasi yang anarkis, tentunya akan memakan korban. saya sangat tidak setuju karena hal ini bertentangan dengan ideologi negara kita.”(Hasil wawancara RA, tanggal 18 Desember 2014)

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan di atas maka dapat dianalisis bahwa Bapak RA tidak setuju dengan adanya perubahan secara cepat namun terkesan dipaksakan dan cenderung memakai kekerasan karena tidak sesuai dengan ideolagi negara kita. penulis menyimpulkan bahwa Bapak RA tidak setuju dengan perilaku radikal.

Terkait perilaku politik radikal, Hal yang sama ditanyakan oleh penulis kepada Bapak EM selaku anggota DPRD dari Partai Keadilan Sejahtera, tanggapan beliau adalah sebagai berikut:

“Sebagai wakil rakyat, tentu saja kami menghendaki adanya perubahan yang positif terhadap semua aspek kehidupan masyarakat, tapi sebaiknya perubahan tersebut dilakukan secara bertahap dengan pendekatan persuasif dan tidak bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945 dan nilai-nilai budaya serta agama. Tidak perlu terburu-buru, apalagi dengan menggunakan kekerasan.”(Hasil wawancara EM, tanggal 18 Desember 2014)

Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak EM di atas, maka penulis menganalisis bahwa Bapak EM juga tidak setuju dengan adanya perubahan yang terburu-buru meski dengan menggunakan kekerasan. Beliau mengharapkan perubahan tersebut dilakukan secara bertahap dengan pendekatan persuasif.

Terkait kekerasan dalam demonstrasi atau demonstrasi yang anarkis, Bapak EM lebih lanjut menanggapi sebagai berikut:

“Demonstrasi merupakan instrumen atau cara menyampaikan aspirasi kepada pemerintah atas ketidakpuasan masyarakat atas kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah, namun demonstrasi yang anarkis tentunya akan menimbulkan persoalan lain seperti persoalan ekonomi, keamanan, sosial, budaya, politik, yang tentunya akan menyengsarakan masyarakat juga.”(Hasil wawancara EM, tanggal 18 Desember 2014)

Hasil wawancara dengan informan di atas dapat dianalisis bahwa demonstrasi dilakukan karena ketidakpuasan masyarakat terhadap perubahan baru atau kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah, namun demonstrasi yang anarkis tentunya akan menimbulkan persoalan lain seperti persolan ekonomi, keamanan, sosial, budaya, politik dan lain-lain yang akan membuat rakyat menjadi sengsara.

Selanjutnya penulis menannyakan hal yang sama kepada Bapak H.AM selaku anggota DPRD Kabupaten Pinrang dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) terkait perilaku politik Radikal. Sebagaimana tanggapan dari dua informan sebelumnya yang mengatakan tidak setuju dengan perilaku politik radikal yang menginginkan perubahan secara cepat meskipun dengan cara kekerasan atau demonstrasi yang anarkis, tanggapan dari Bapak H.AM adalah sebagai berikut:

“Kami sangat merespon segala perubahan apalagi yang menyangkut kesejahteraan masyarakat sepanjang cara mendapatkan perubahan itu sesuai dengan norma-norma aturan dan regulasi. Kami sebagai anggota DPRD akan selalu memperjuangkan perubahan sesuai dengan perkembangan yang ada dalam masyarakat, baik perubahan dari sektor sosial, politik, budaya, dan ekonomi kerakyatan, tapi tentunya bukan dengan cara kekerasan.”(Hasil wawancara H.AM, tanggal 18 Desember 2014)

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan di atas, maka dapat dianalisis bahwa Bapak H.AM setuju dengan sebuah perubahan asalkan sesuai

dengan dengan norma-norma aturan dan regulasi, bukan dengan cara kekerasan.

ketika ditanyakan tentang demonstrasi yang anarkis, Bapak H.AM mengatakan:

“Kami selaku anggota DPRD tidak menginginkan adanya demonstrasi yang anarkis, disisi lain demonstrasi itu ada aturannya, disinilah fungsi legislatif dan fungsi eksekutif diperlukan untuk memberikan pemahaman dan mensosialisasikan kebijakan-kebijakan pemerintah yang kurang dipahami oleh masyarakat sehingga tidak terjadi tindakan anarkis.”(Hasil wawancara tanggal, H.AM, 18 Desember 2014)

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Bapak H.AM tidak setuju dengan adanya tindakan demonstrasi yang anarkis demi mewujudkan sebuah perubahan yang cepat. hal ini menunjukkan bahwa Bapak H.AM tidak menyetujui perilaku politik Radikal.

Kemudian penulis menanyakan kepada informan ke empat yaitu Bapak H.SR selaku anggota DPRD Kabupaten Pinrang dari Partai Golkar terkait perilaku politik radikal, yaitu perilaku yang menginginkan perubahan secara cepat meskipun menggunakan kekerasan seperti demonstrasi yang anarkis. Adapun tanggapan beliau adalah sebagai berikut:

“Sebagai wakil rakyat, kami menghendaki suatu perubahan di masyarakat khususnya terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat melalui tahapan-tahapan dengan skala prioritas tanpa melalui kekerasan atau pemaksaan, apalagi dengan cara demonstrasi yang anarkis, tentunya akan menimbulkan kerusakan-kerusakan yang menyebabkan kerugian-kerugian dan korban jiwa. Kami lebih menghargai dan mendukung jika demonstrasi itu dilakukan secara beradab dan saling memuliakan.”(Hasil wawancara H.SR, tanggal 18 Desember 2014)

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa Bapak H.SR menghendaki perubahan melalui tahapan-tahapan skala prioritas dan tidak menginginkan adanya tindakan kekerasan

ataupun demonstrasi yang anarkis. Hal ini menunjukkan bahwa Bapak H.SR juga tidak setuju dengan perilaku politik radikal.

Hal yang sama ditanyakan pula oleh penulis kepada informan ke lima, yaitu Bapak SY selaku anggota DPRD Kabupaten Pinrang terkait perilaku politik radikal, yaitu perilaku politik yang menginginkan perubahan secara cepat dan mendasar meskipun dengan menggunakan tindakan kekerasan maupun demonstrasi yang anarkis. Berikut tanggapan dari Bapak SY:

“Tentu saja kami menghendaki perubahan terhadap semua tatanan atau aspek kehidupan masyarakat jika hal itu mengarah pada keadaan yang lebih baik atau positif tanpa ada pihak lain yang merasa dirugikan dan harus sesuai dengan hukum dan aturan yang berlaku. Namun perilaku radikal atau kekerasan boleh saja dilakukan oleh pihak pemerintah jika memang urgen atau diperlukan, misalnnya dalam hal penggusuran yang dilakukan oleh pihak pemerintah yang telah diatur dalam Perda, namun masyarakat tetap menentang dan menolak kebijakan pemerintah.”(Hasil wawancara tanggal SY, 18 Desember 2014)

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan di atas, dapat dianalisis bahwa Bapak SY menganggap bahwa tindakan kekerasan boleh saja dilakukan oleh pihak pemerintah jika memang diperlukan untuk perubahan ke arah yang lebih baik, asalkan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Hal ini menandakan bahwa Bapak SY setuju dengan adanya perilaku politik radikal.

Berdasarkan hasil wawancara yang merupakan jawaban dari ke lima informan di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa Bapak RA, Bapak EM, Bapak H.AM, Bapak H.SR, tidak memiliki perilaku politik radikal. Hal ini terlihat dari jawaban-jawaban mereka yang hampir senada, yang menginginkan perubahan pada semua aspek dan tatanan yang tujuannya untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat, tetapi proses untuk memperoleh perubahan itu bukan dengan cara

menggunakan kekerasan ataupun demonstrasi yang anarkis. Sedangkan karakteristik dari perilaku politik radikal itu sendiri adalah perilaku warga negara yang tidak puas terhadap keadaan yang ada serta menginginkan perubahan yang cepat dan mendasar. Namun berbeda dengan pendapat Bapak SY yang setuju dengan adanya perilaku politik radikal.

2. Perilaku Politik Moderat

Perilaku Moderat adalah sikap perilaku politik masyarakat yang telah cukup puas dengan keadaan dan bersedia maju, tetapi tidak menerima sepenuhnya perubahan apalagi perubahan yang serba cepat seperti kelompok radikal. Dari segi lain, sikap politik moderat dapat melakukan upaya-upaya seperti: a) Memberikan solusi atas berbagai masalah nasional; b) Menjadi perantara antara berbagai pihak yang konflik; c) Tidak memihak (Netral); d) Terbuka dalam menerima saran atau pendapat orang lain; e) Mendukung atas perubahan-perubahan baru secara baik; f) Berhati-hati dan bijaksana dalam mengambil keputusan.

Ketika penulis menanyakan kepada Bapak H.SR tentang karakteristik perilaku politik moderat yaitu keadaan yang cukup puas dengan keadaan sekarang dan bersedia maju, tetapi tidak menerima sepenuhnya perubahan apalagi perubahan yang serba cepat, Bapak H.SR memberikan tanggapan sebagai berikut:

“Saya merasa sudah cukup puas dengan keadaan sekarang, tapi perubahan jangan juga kita hentikan. Mengenai pihak yang berkonflik tentu saja kami harus jadi penengah mendamaikan pihak yang bertikai. Kemudian kami juga terbuka dalam menerima masukan dari orang lain, apalagi kritikan yang membangun. Cara kami mendukung perubahan-perubahan yang baru tentunya kami berusaha membantu pemerintah memberikan penjelasan kepada masyarakat tentang perubahan yang terjadi dan tujuan-tujuan pemerintah serta dampak positif dan negatif yang ditimbulkan oleh kebijakan pemerintah.”(Hasil wawancara H.SR, tanggal 18 Desember 2014)

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan di atas, dapat dianalisis bahwa Bapak H.SR sudah cukup puas dengan keadaan sekarang, meskipun tidak ingin juga menghentikan perubahan-perubahan yang ada, bersedia menjadi penengah bagi pihak yang bertikai, terbuka dalam menerima masukan, pendapat, dan kritikan yang membangun, serta bersedia membantu pemerintah dalam memberikan penjelasan kepada masyarakat tentang tujuan dan dampak perubahan baru atau kebijakan baru dari pemerintah. Hal ini menunjukkan bahwa Bapak H.SR termasuk dalam karakteristik perilaku politik moderat.

Pertanyaan yang sama kemudian ditanyakan kembali oleh penulis kepada Bapak SY terkait karakteristik perilaku politik moderat. berikut tanggapan beliau:

“Saya merasa sudah cukup puas dengan keadaan sekarang, karena masih banyak hal yang perlu dibenahi,khususnya dalam inefisiensi anggaran yang diakibatkan oleh sistem dan organisasi pemerintahan yang terlalu besar serta sumber daya manusia yang belum mumpuni, baik dalam hal kemampuan individu (Hard Skill) maupun kemampuan moral (Soft Skill).”(Hasil wawancara SY, tanggal 18 Desember 2014)

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Bapak SY merasa sudah puas dengan keadaan sekarang meskipun masih banyak hal yang perlu dibenahi terkait dengan sumber daya manusia dalam organisasi pemerintahan.

Ketika penulis menanyakan tentang upaya-upaya yang sering dilakukan oleh perilaku politik moderat yaitu Menjadi penengah antara berbagai pihak yang konflik, Tidak memihak (Netral), Terbuka dalam menerima saran atau pendapat orang lain, Mendukung atas perubahan-perubahan baru secara baik, dan

Berhati-hati dan bijaksana dalam mengambil keputusan, berikut tanggapan dari Bapak SY:

“Sebagai pihak yang netral, saya selalu bersedia menjadi penengah dalam menangani pihak yang berkonflik. saya akan menganggap pihak yang berkonflik tersebut sebagai keluarga atau saudara sendiri hingga konflik tersebut dapat diselesaikan secara kekeluargaan dan bertindak secara adil.

saya juga sebagai wakil rakyat dengan tangan terbuka menerima saran, pendapat, atau kritikan dari kalangan manapun,apalagi yang sifatnya membangun.”(Hasil wawancara SY, tanggal 18 Desember 2014)

Lebih lanjut Bapak SY memberikan tanggapan Mengenai cara Memberikan solusi atas berbagai masalah nasional:

“Persoalan yang paling penting untuk diatasi adalah persoalan generasi sebagai pelajar. Pembangunan negara indonesia tidak bisa dibangun hanya dengan satu generasi, tetapi harus dibangun bersama-sama dengan waktu yang panjang dan secara bertahap, sehingga terlibat dalam perbaikan dan pembangunan generasi adalah salah satu cara yang ditempuh dalam menyelesaikan masalah nasional. Kemudian cara untuk mendukung perubahan baru secara baik adalah terlibat proaktif dalam pembangunan, sedangkan cara yang bijaksana dalam mengambil keputusan yaitu mempelajari permasalahan dengan banyak mendengar, membaca, dan pendekatan persuasif. ”(Hasil wawancara SY, tanggal 18 Desember 2014) Berdasarkan hasil wawancara dengan informan di atas maka dapat disimpulkan bahwa Bapak SY selalu terlibat dengan upaya-upaya yang dilakukan oleh perilaku politik moderat, sebagai pihak netral bersedia menjadi penengah dalam konflik dan menyelesaikan dengan cara kekeluargaan, juga selalu terbuka menerima saran atau masukan dari luar apalagi kritikan yang sifatnya membangun, serta selalu memberikan solusi dalam mengatasi masalah-masalah nasional

Pertanyaan yang sama ditanyakan oleh penulis kepada Bapak H.AM terkait perilaku politik moderat, berikut tanggapan beliau:

“Saya selaku anggota DPRD 3 periode dengan jabatan ketua fraksi Partai Persatuan Pembangunan merasa sudah puas dengan keadaan sekarang dan selalu mengikuti perkembangan. Sudah menjadi tugas kami berkoordinasi dengan mitra kerja dalam segala aspek sepanjang tidak melanggar aturan yang ada. Sebagai pihak yang netral, Kami anggota DPRD selalu melihat obyek sengketa dan mempelajari kemudian melihat aturan yang ada sehingga kami menjadi netral dalam menghadapi konflik. Terbuka dalam menerima saran sepanjang itu tidak menyalahi aturan yang ada kami terbuka menerima saran atau pendapat orang lain. Dalam memberikan solusi atas berbagai masalah nasional Kami tentu tidak terlepas dari aturan yang ada sehingga berbagai masalah baik tingkat nasional maupun tingkat kabupaten/provinsi sehingga solusi dapat terpecahkan atau terselesaikan..”(Hasil wawancara H.AM, tanggal 18 Desember 2014) Berdasarkan hasil wawancara dengan informan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Bapak H.AM dalam menjalankan tugasnya sebagai wakil rakyat merasa sudah puas dengan keadaan sekarang dan selalu mengikuti perkembangan. Tugasnya adalah berkoordinasi dengan mitra kerja dalam segala aspek sepanjang tidak melanggar aturan yang ada atau perundang-undangan yang berlaku. Sebagai pihak yang netral, selalu melihat obyek sengketa dan mempelajari kemudian melihat aturan yang ada sehingga menjadi netral dalam menghadapi konflik. Terbuka dalam menerima saran sepanjang itu tidak menyalahi aturan yang ada dan terbuka menerima saran atau pendapat orang lain.

Dalam memberikan solusi atas berbagai masalah nasional tentu tidak terlepas dari aturan yang ada sehingga berbagai masalah baik tingkat nasional maupun tingkat kabupaten/provinsi sehingga solusi dapat terpecahkan atau terselesaikan.

Dalam memberikan solusi atas berbagai masalah nasional tentu tidak terlepas dari aturan yang ada sehingga berbagai masalah baik tingkat nasional maupun tingkat kabupaten/provinsi sehingga solusi dapat terpecahkan atau terselesaikan.

Dokumen terkait