97 Sulistyo-Basuki, Metode Penelitian…, 172
6. Teknik Analisis Data
Analisis dan penyajian data dalam penelitian ini berusaha memaknai data yang diperoleh kemudian dianalisis untuk memperdalam pemahaman data ter-sebut.107 Penelitian fenomenologis menggunakan analisis statemen yang signifikan, unit yang memaknai arti dan mengembangkan deskripsi esensi. Teknik analisis data yang digunakan berdasarkan teori Creswell. Dalam karyanya yang berjudul
Research Design, Creswell menjelaskan teknik analisis data untuk penelitian
fenomenologi, yaitu:108
Pertama, mengolah dan mempersiapkan data untuk dianalisis yang ber-sumber dari hasil transkripsi wawancara, kemudian memilah-milah dan menyusun
101
Sugiyono, Metode Penelitian Manajemen…, 396.
102
Creswell, Research Design; Qualitative, Quantitative and Mixed Methods Approaches, 42.
103Chi-shiou Lin, ―Revealing the ‗ Essence ‘ of Things : Using Phenomenology in LIS Research,‖
ISAST, 2013, 1, http://www.qqml.net/papers/December_2013_Issue/2413QQML_Journal_2013_ChiShiouL
In_4_469_478.pdf. (diakses 10 Desember 2018)
104Clive Erricker, ―Pendekatan Fenomenologi,‖ dalam Aneka Pendekatan Studi Agama (Yogyakarta: LKiS, 1999), 110.
105K. Bertens, Filsafat Barat Kontemporer Inggris-Jerman (Semarang: Gramedia, 2002), 110.
106Muhadjir, Metodologi Penelitian Kualitatif…, 19.
107John W Creswell, Research Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, Dan Mixed, 3rd ed. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), 274.
data tersebut ke dalam jenis-jenis yang berbeda tergantung dari sumber informasi. Kedua, membaca keseluruhan dan mencatat data yang diperoleh. Peneliti melakukan beberapa hal, diantaranya: mendeskripsikan secara general data yang diperoleh dari informan, memahami kedalaman dan kredibilitas atas informasi yang diperoleh, melakukan pencatatan hasil wawancara atau hasil observasi, dan melakukan perekaman data yang dibutuhkan. Disini mulai terbentuk visual data.
Ketiga, menganalisis dengan memberi kode dengan deskripsi singkat untuk mempermudah peneliti dalam memberi gambaran tentang penilaian arsip yang tercipta di masjid. E. Kristi memberikan uraian kerja dalam pengkodean, yakni dimulai menyusun transkripsi verbatim (kata demi kata) atau catatan lapangannya sedemikian rupa sehingga ada kolom kosong yang cukup besar di sebelah kiri dan kanan transkrip. Tujuannya pertama adalah memudahkan dalam membubuhkan kode-kode atau catatan-catatan tertentu di atas transkrip tersebut. Kemudian kedua, peneliti secara urut dan continue melakukan penomoran pada baris-baris transkrip dan atau catatan lapangan tersebut.109
Keempat, peneliti mulai memproses pengkodean untuk menghasilkan deskripsi yang telah diatur (setting) sesuai kategori yang akan dianalisis terhadap orang atau tema. Peneliti merefleksikan latar dan keadaan yang mana fenomena tersebut dialami informan. Kelima, peneliti melakukan narasi untuk menganalisis temuan-temuan. Di sini dibutuhkan diskusi secara mendalam berkenaan dengan tema (berikut dengan sub-temanya, ilustrasi khusus, pelbagai persepktif dari informan dan mengkaji literatur pada saat analisa data) atau diskusi berkenaan dengan tema yang berhubungan (interconnecting themes). Keenam, terakhir adalah membuat kesimpulan terakhir, saat data di lapangan sudah mencapai titik jenuh. G. Sistematika Penulisan
Hasil penelitian dalam disertasi ini dikelompokkan menjadi enam bab. Masing-masing bab dibahas dalam beberapa sub-bab yang saling berkaitan dengan satu dan lainnya. Adapun sistematika penulisan ini sebagai berikut:
Bab pertama berisi tentang pendahuluan, meliputi: latar belakang masalah yang memuat permasalahan penting yang akan dikaji. Kemudian menginventarisir identifikasi masalah yang ada. Selanjutnya perumusan masalah dan pembatasan masalah, tujuan penelitian, signifikansi dan manfaat penelitian, penelitian terdahulu yang relevan, metode penelitian dan terakhir sistematika penulisan.
Bab kedua, merumuskan diskursus arsip keagamaan dalam konsep pemi-kiran manajemen rekod dan arsip oleh para ahli kearsipan modern dan post-modernisme. Melengkapi konsepsi kearsipan dalam dunia Islam, untuk itu menganalogkan konsep kearsipan dalam penyusunan lembaran al-Quran. Kemudian memaparkan masjid sebagai lembaga keagamaan secara umum dan tata kelola arsip masjid yang telah dilakukan para pendahulu.
Bab ketiga ini menjelaskan sejarah perjalanan ketiga Masjid (Syuhada Yogyakarta, Istiqlal dan Luar Batang Jakarta) yang dimulai dari masa lahirnya, kepengurusan, kiprahnya di masyarakat melalui pendidikan dan keagamaan dan asal dana yang berasal dari masyarakat dan negara untuk memakmurkan dan
mensejahterakan masjid sebagai sumber informasi kegiatan keislaman. Dari hasil kegiatan masjid ini akan terlihat produksi arsip yang dicipta oleh masjid sebagai proses dan perkembangan perjalanan masjid.
Bab keempat merupakan bab inti dari penelitian ini, membahas karakteristik arsip keagamaan yang ada di ketiga Masjid (Syuhada Yogyakarta, Istiqlal dan Luar Batang Jakarta) dengan menganalisis praktik arsiparis masjid dalam mengkonstruksi penyelamatan arsip yang melihat aktivitas utama masjid: kegiatan idarah, imarah dan riayah. Kemudian menganalisis kegiatan pengelola arsip masjid yang dimulai dari merancang perencanaan, penciptaan, seleksi, akuisisi dan disposal. Kemudian menganalisis pula preservasi arsip yang dilakukan masjid. Pada bab ini membahas pula prinsip kearsipan respect des fonds, untuk melihat proses pengelola masjid dalam menjaga keamanan dan keotentikan arsip melalui provenance, original order dan respect des fonds.
Bab kelima juga merupakan bab inti yang secara khusus membahas kebermanfaatan arsip keagamaan masjid dengan menggunakan pemikiran filosofis, sekaligus membahas peran pemerintah dalam bentuk kehadiran negara dalam mennyelamatkan arsip masjid. Selanjutnya bab keenam merupakan penutup bagian akhir dari penelitian, yang memuat kesimpulan, saran dan rekomendasi. Kesimpulan berdasarkan temuan penelitian di lapangan dan saran dapat dijadikan rekomendasi untuk ditindaklanjuti baik secara teoritis maupun praktis.
BAB VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian Bab-bab terdahulu penelitian ini berkesimpulan bahwa semakin kuat integrasi antara arsip negara dan arsip keagamaan di masjid, akan semakin besar jaminan terpeliharanya arsip keagamaan di masjid. Karakteristik arsip keagamaan di masjid secara konten, konteks dan struktur sudah ada, bahkan secara struktur tidak hanya berupa kertas tapi terdapat pula berupa digital, misalnya e-mail bahkan mereka sudah menggunakan media sosial, instagram, facebook, youtube dan lain-lain, tetapi sangat kurang dalam sistem penyimpanan dan preservasi.
Dalam praktik pengelolaan arsip, pada masa penciptaan banyak mempro-duksi arsip, kelemahannya mereka pasif dalam mengakuisisi, menseleksi, menilai dan memusnahkan arsip. Walau terdapat kelemahan-kelemahan pengelolaan arsip di masjid, tidak dapat dikatakan suatu kekurangan atau kesalahan, karena pandangan postmoderisme mengatakan bahwa pengelolaan arsip tidak dapat dikatakan baik atau buruk, tergantung dari pandangan subyektivitas dari sisi aturannya.
Menjawab permasalahan minor yang diajukan pada bab pendahuluan, kesimpulan penelitian ini dapat disusun sebagai berikut:
1. Karakteristik arsip keagamaan meliputi konten, konteks dan struktur. Peneliti menemukan bahwa pada masjid karakteristik tersebut terwujud pada idarah, imarah, dan riayah. Karakteristik arsip keagamaan juga meliputi perencanaan, penciptaan, seleksi, penilaian, akuisisi dan disposal atau pemusnahan. Peneliti menemukan pada masjid akuisisi dan disposal tidak dan belum dilakukan dalam pengelolaan arsip keagamaan. Jadi, masjid masih lemah dalam penilaian, penyimpanan dan pemusnahan.
2. Praktik pengelolaan arsip keaagaman idealnya memiliki rekod di Masjid yang memiliki berbagai kebijakan yaitu seleksi, penilaian dan disposal. Peneliti menemukan bahwa di masjid arsip yang tercipta tidak diseleksi, dinilai dan didisposal atau dimusnahkan. Semua arsip hanya disimpan. Seperti Masjid Syuhada arsip hanya disimpan, yang dilakukan turun temurun, penelitiannya sangat subjektif dan berdasarkan perintah atasan. Kemudian, Masjid Luar Batang hampir sama dengan Masjid Syuhada namun manajemen pengelolaan-nya tidak terorganisasi dengan baik. Kemudian, Masjid Istiqlal arsip ke-agamaan dikelola dengan baik dan dikelola oleh pengurus tetap masjid. Peneliti menemukan bahwa untuk pusat arsip ketiga masjid yang diteliti tidak memiliki dalam bentuk idelanya, namun ketiga masjid ini memiliki tempat untuk menyimpan arsip mereka.
3. Pandangan Postmodernisme dalam penelitian ini adalah teori Michel Faucault dan Jaques Derrida. Peneliti menganalisis sebagaimana teori Faucault cara individu atau suatu komunitas menyimpan arsip adalah yang paling benar. Jadi, pengelolaan arsip di Masjid Syuhada, Luar Batang dan Istiqlal dalam teori Faucoult dapat diterima. Kemudian, dalam cara pengurus masjid meng-arsipkan menurut Derrida seharusnya tidak hanya di simpan tetapi seharusnya dapat diakses. Ketika peneliti melakukan observasi arsip ketiga masjid tersebut
dapat diakses. Berikutnya, Masjid Istiqlal sebagai masjid negara maka negara wajib memelihara arsipnya dan membina lembaganya, berbeda dengan Masjid Luar Batang dan Masjid Syuhada bahwa negara tidak berhak memaksa masyarakat menyerahkan arsipnya, tetapi jika masyarakat menyerahkan arsip-nya maka negara wajib memelihara arsip tersebut.
B. Saran