BAB III METODOLOGI
3.6 Teknik Analisis Data
Analisis data bertujuan untuk menyusun data dalam cara yang bermakna sehingga dapat dipahami. Analisis dilakukan terhadap data berdasarkan logika induktif. Analisis data akan bergerak dari sesuatu yang khusus atau spesifik yaitu yang diperoleh dilapangan kearah suatu temuan yang bersifat umum berdasarkan teori yang digunakan.
Adapun teknik analisis data yang akan dilakukan peneliti yakni : 1. Reduksi data
Reduksi data meliputi merangkum, memilih hal-hal pokok dan memfokuskan hal-hal penting dari tujuan dilakukan penelitian. Peneliti merangkum data-data yang didapatkan dari lapangan berupa data-data jaringan sosial yang terjalin diantara pedagang pengumpul/pengusaha/petani pemilik modal dengan petani keramba jaring apung dalam hal memasarkan hasil panen ikan. Serta peneliti merangkum data mengenai hubungan-hubungan sosial yang terjalin diantara mereka.
2. Penyajian data
Langkah selanjutnya yang dilakukan peneliti adalah menyajikan data dalam bentuk narasi dan juga grafik pemetaan jaringan sosial dalam memasarkan ikan keramba yang terbentuk diantara pedagang pengumpul/pengusaha/petani pemilik modal dengan petani keramba jaring apung yang kemudian peneliti menyajikan data berupa deskripsi pola jaringan yang terbentuk dari hasil pemetaan jaringan. Serta menyajikan data dalam bentuk deskripsi mengenai hubungan sosial yang terjalin diantara mereka sehingga membentuk jaringan sosial diantara mereka
3. Penarikan kesimpulan
Setelah reduksi data disajikan maka tahap selanjutnya adalah menarik kesimpulan. Penarikan kesimpulan merupakan salah satu teknik dari analisis data kualitatif yang digunakan untuk mengambil tindakan. Penarikan kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara dan akan mengalami perubahan
apabila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat dalam mendukung pada tahap pengumpulan data.
Data yang diperoleh dari hasil lapangan dalam bentuk sosiogram yakni untuk mengetahui aktor-aktor yang saling terhubung dan hubungan sosial yang terjadi dalam jaringan sosial peemasaran ikan di Haranggaol yang sudah didapatkan dari memetakan jaringan menggunakan Ucinet disimpulkan oleh peneliti untuk mendapatkan hasil lapangan dalam bentuk kesimpulan dan saran.
BAB IV
GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN
4.1. Lokasi dan Sistem Pemeritahan
Kelurahan Haranggaol adalah salah satu kelurahan dari lima kelurahan yang terdapat di Kecamatan Haranggaol Horison, Kabupaten Simalungun.
Kelurahan atau yang biasa masyarakat sebutnya dengan istilah nagori. Kecamatan Haranggaol Horison ini memiliki empat nagori lainnya selain nagori Haranggaol.
Dan berikut ini adalah lima nagori yang terdapat di Kecamatan Haraggaol Horison :
1. Nagori Haranggaol 2. Nagori Sihalpe 3. Nagori Purba Sari 4. Nagori Purba Horisan 5. Nagori Purba
Kelurahan Haranggaol berada di Kecamatan Haranggaol Horison, Kabupaten Simalungun berjarak 30 km dari ibukota Simalungun dan berjarak 152 km dari ibukota Provinsi Sumatera Utara. Kelurahan ini memiliki wilayah terluas di Kecamatan Haranggaol Horison setelah nagori Purba Harison dengan luas 9,75 km. Adapun batas-batas wilayah Haranggaol terdiri dari:
1. Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Tangga Batu.
2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Danau Toba.
3. Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Bandar Saribu.
4. Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Siboro.
Kelurahan Haranggaol terdiri dari beberapa dusun lainnya yaitu dusun Sigunggung, dusun Tangga Batu, dusun Siboro, dusun Bandar Saribu, dusun Purba Saribu, dusun Mariah Purba. Letak Haranggaol secara umum terletak pada 2°48´46´´-2°52´31´´LU dan 98° 35´ 51´´- 94° 45´ 11´´ BT dan berada pada ketinggian 751-1400 meter diatas permukaan laut dengan rata-rata suhunya adalah 28-39° dan memiliki iklim yang dingin.
Untuk mencapai tempat ini diperlukan waktu sekitar 3-4 jam dan 5 jam dari kota Medan. Ada dua rute perjalanan yang dilakukan untuk mencapai tempat ini melalui Pematang Siantar dan Berastagi. Rute yang ditempuh melalui Pematang Siantar melewati beberapa daerah meliputi Medan-Tebing Tinggi- Pematang Siantar- Tigaras- Haranggaol, waktu tempuh 2 jam lebih lama dari rute Medan- Berastagi yang hanya memakan waktu selama 3-4 jam.
Adapun daerah yang biasanya dilewati melalui rute Medan-Berastagi yakni Medan- Berastagi- Kabanjahe- Merek- Saribu Dolok- Haranggol. Sangat disayangkan transportasi umum yang langsung ke daerah ini tidak ada sehingga perjalanan dilakukan dengan beberapa kali naik transportasi umum baik itu melalui rute dari Pematang Siantar maupun rute dari daerah Berastagi. Perjalanan yang ditempuh pun tidak setiap hari bisa dilakukan dengan menggunakan transportasi umum karena transportasi umum hanya dilakukan pada hari Senin melalui Berastagi dan pada hari Rabu serta Jumat melalui Pematang Siantar.
Perjalanan menuju ke daerah ini tidak sepenuhnya jalan diaspal apalagi mulai memasuki daerah Saribu Dolok menuju Simpang Haranggol, jalanannya sangatlah tidak bagus. Jalan yang aspalnya sudah hancur dan sebagian tak beraspal ditumbuhi dengan ilalang disepanjang tepi jurang. Terutama perjalanan
yang dilakukan ketika musim hujan maka harus ekstra berhati-hati karena jalanan licin. Bagi para pengunjung yang datang ketempat ini akan disambut dengan aroma khas ikan keramba penduduk setempat terlebih jika terjadi gagal panen yang diakibatkan matinya ikan keramba maka akan lebih terasa lagi aroma amis dari bangkai ikan tersebut yang tentunya akan mengganggu indera penciuman.
Secara administratif kelurahan Haranggol dipimpin oleh kepala lurah (pangulu) dan tingkat nagori ( perangkat desa ). Di nagori juga dibentuk maujana nagori sebagai badan perwakilan daerah. Pangulu yang terpilih saat ini di kelurahan/nagori Haranggaol karena menggantikan posisi kepala lurah yang sudah pensiun yakni dari sekretaris lurah menjadi kepala lurah. Pangulu bertanggungjawab kepada bupati melalui maujana nagori. Pangulu dapat diberhentikan oleh bupati berdasarkan penilaian maujana nagori, sedangkan keanggotaan maujana nagori merupakan hasil musyarawarah tokoh-tokoh adat, agama, organisasi sosial politik, gabungan profesi dan unsur pemuka masyarakat.
Dalam Darwan Madja Purba (2007:8) menerangkan keanggotan maujana nagori adalah hasil mekanisme namun walaupun demikian kedudukan maujana nagori adalah sejajar dengan pangulu. Dalam kegiatan tahunan, pemerintah menyusun anggaran pendapatan dan belanja nagori untuk dimusyawarahkan dengan maujana nagori. Anggaran ini mengatur mengenai penerimaan dan pengeluaran nagori selama satu tahun. Tugas dan fungsi maujana nagori antara lain adalah menjaga dan melestarikan adat istiadat yang ada di nagori sepanjang menunjang pembangunan. Bersama pemerintahan nagori menetapkan peraturan nagori yakni mengawasi pelaksanaan peraturan nagori dan menampung aspirasi masyarakat serta menyampaikannya kepada pejabat atau instansi yang berwenang.
Maujana nagori memiliki kewenangan termasuk diantaranya menerima laporan pertanggungjawaban pangulu serta mengusulkan pemberhentian pangulu apabila laporannya ditolak untuk kedua kalinya. Tidak hanya maujana nagori , ditingkat nagori dibentuk lembaga kemasyarakatan nagori yang bertugas membantu pangulu dalam bidang perencaan pembangunan. Hubungan lembaga kemasyarakatan nagori dengan pangulu adalah sebagai mitra pangulu khusus dalam perencanaan pembangunan.
Perencanaan pembangunan yang telah disusun lembaga kemasyarakatan nagori disampaikan kepada maujana nagori melalui pangulu sebagai bahan pertimbangan dalam menetapkan kebijakan pembangunan daerah tersebut. Selain organisasi-organisasi formal pemerintah diatas, nagori juga membentuk lembaga adatnya yang berfungsi untuk menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat yang menyangkut tentang adat istiadat, hukum adat serta kebiasaan-kebiasaan yang berlaku secara umum dalam masyarakat yang menyangkut pemberdayaan, pelestarian dan pengembangan adat istiadat dalam rangka memperkaya budaya daerah dan memberdayakan masyarakat untuk menunjang penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan dan pembinaan kemasyarakatannya.
Dibawah nagori terdapat gamot yang merupakan perpanjangan tangan dari pangulu dan bertugas untuk membantu pelaksaanaan tugas pangulu dalam wilayah kerjanya dan mempertanggungjawabkan pelaksanaannya kepada pangulu.
Gamot dapat disamakan dengan jabatan setingkat kepala dusun.
Sedangkan struktur organisasi kelurahan merupakan perangkat kecamatan yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada camat. Kelurahan dipimpin
oleh seseorang lurah yang dibantu oleh seorang sekretaris sebagai unsur staff dan beberapa seksi sebagai unsur pelaksana.
4.2. Asal Usul
Seperti desa-desa lainnya yang memiliki sejarah asal-usul pemberian nama akan desa tersebut, Haranggaol juga memiliki asal-usul sejarah sehingga nama tersebut menjadi salah satu desa di Kabupaten Simalungun. Haranggaol merupakan daerah yang dikeliling oleh pegunungan dan danau nan indah di Sumatera Utara dimana dahulunya bukanlah bernama Haranggaol.
Dahulunya kelurahan/nagori Haranggaol merupakan desa dengan sebutan Tiga Langgiung yang mempunyai arti pasar di pinggir danau. Menurut penuturan penduduknya yang merupakan pemuda setempat, desa ini dahulunya merupakan daerah tempat perdagangan dari berbagai hasil pertanian dari penduduk sekitar danau. Namun pada tahun 1960, nama desa Tiga Langgiung ini diubah menjadi Haranggaol. Jika dipisahkan dari suku katanya Harang artinya ladang sedangkan Gaol artinya pisang.
Dengan begitu Haranggaol sendiri mempunyai arti ladang pisang. Ini dikarenakan pada saat itu penduduk desa ini bermata pencaharian sebagai petani pisang. Hasil panen pisang masyarakat Haranggaol ini dipasarkan keberbagai daerah sekitar Simalungun sehingga pisang ini dikenal hingga kepelosok-pelosok daerah di Kabupaten Simalungun.
Hasil panen ladang pisang yang sampai kedaerah-daerah pelosok kabupaten Simalungun membawa perubahan nama pada desa ini menjadi nama Haranggaol sebagai pertanda bahwa penduduk daerah inilah yang menghasilkan
pisang yang terkenal itu di kabupaten Simalungun tersebut. Pada tahun 1976 Haranggaol yang berbentuk desa dan dipimpin oleh kepala desa sebagai sistem pemerintahannya diubah menjadi kelurahan yang dipimpin oleh kepala lurah.
4.3. Jumlah Penduduk
Jumlah penduduk kelurahan Haranggaol dalam data statistik tahun 2017 yang diperoleh dari kantor kelurahan Haranggaol adalah 916 kepala keluarga dengan jumlah penduduk 3202 jiwa. Dengan jumlah jenis kelamin laki-laki sebanyak 1402 jiwa dan kuantitas perempuan sebanyak 1800 jiwa. Jumlah penduduk pada masyarakat kelurahan Haranggaol tersebar dalam 11 RT (Rukun Tetangga) dengan tujuh dusun yang tersebut. Ada dua dusun yang dusunnya terbagi menajdi beberapa RT (Rukun Tetangga) dan dusun tersebut ialah dusun Haranggaol dan dusun Bandar Saribu.
Dusun Haranggaol dengan 3 RT (Rukun Tetangga) dan dusun Bandar Saribu dengan 2 RT (Rukun Tetangga), dusun Purba Saribu dengan 2 RT dan Mariah Purba dengan 1 RT. Untuk lebih jelasnya mengenai penyebaran penduduk pada masyarakat kelurahan Haranggaol dapat di lihat pada tabel berikut ini.
Tabel 4.1
Pembagian Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW) Kelurahan Haranggaol
Jumlah penduduk kelurahan Haranggaol diklasifikasikan menjadi beberapa bagian yang meliputi jenjang usia, mata pencaharian, jenjang pendidikan, suku, dan agama.
4.3.1. Komposisi Penduduk Berdasarkan Umur
Pada data statistik kependudukan di kelurahan Haranggaol jumlah penduduk berdasarkan jenjang usia didominasi dengan jenjang usia produktif yakni jenjang usia 18-60 tahun. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.2
Komposisi Penduduk Berdasarkan Umur
No. Umur Laki-laki Perempuan Jumlah
1. 0-12 bulan 23 35 58
2. 1-4 tahun 59 62 121
3. 5-6 tahun 87 90 177
4. 7-12 tahun 105 109 214
5. 13-15 tahun 98 110 208
6. 16-18 tahun 123 185 308
7. 19-25 tahun 142 213 355
8. 26-35 tahun 207 265 472
9. 36-45 tahun 218 228 46
10. 46-50 tahun 125 210 335
11. 51-60 tahun 155 185 340
12. 61-75 tahun 50 89 139
13. > 76 tahun 10 19 29
Jumlah 1402 1800 3202
Sumber: Kantor Kelurahan Haranggaol, 2017
4.3.2. Komposisi Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian
Berdasarkan letak geografisnya, Haranggaol yang dikelilingi oleh pengunungan dan Danau Toba, membentuk masyarakatnya untuk menjadi petani tanaman dan petani ikan. Petani merupakan mata pencaharian terbesar terlebih pada petani ikan. Hal ini dapat dilihat dari rutinitas penduduknya mulai dari
matahari terbit hingga matahari mulai terbenam adalah menyebar benih ikan, memberi makan ikan, memanen ikan keramba mereka.
Petani ikan adalah mata pencaharian utama penduduk kelurahan Haranggaol yang mencapai lebih dari 80%. Namun keakuratan jumlah masyarakatnya yang bermata pencaharian sebagai petani ikan keramba tidak tercantum secara rinci di data statistik kependudukan kelurahan Haranggaol. Data tersebut digabungkan dengan mata pencaharian petani tanaman atau dikenal dengan petani ladang. Hal ini disebabkan karena hingga sampai saat ini tidak ada izin dari pemerintah akan keramba jaring apung milik penduduknya, keramba jaring apung bersifat illegal.
Disamping jenis mata pencaharian sebagai petani baik itu petani ikan maupun petani ladang, juga terdapat jenis mata pencaharian hidup yang lainnya antara lain : pedagang/wirausaha. Selain sebagai petani ikan dan petani berladang, masyarakatnya juga berwirausaha terlebih yang bergerak dalam hal pariwisata.
Seperti membuka tempat penginapan, membuka rumah makan dan menyewakan alat permainan di danau. Terdapat juga masyarakatnya bermata pencaharian sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Kebanyakan masyarakat sebagai Pegawai Negeri Sipil menjadikan pekerjaannya tersebut sebagai sampingan. Karena bagi mereka pekerjaan utama dan yang lebih menghasilkan adalah berkeramba. Untuk lebih jelasnya, persentase mata pencaharian di kelurahan Haranggaol ini dapat dilihat melalui tabel berikut ini:
Tabel 4.3
Komposisi Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian
No. Mata Pencaharian Jumlah Persentase
1. Pegawai Negeri Sipil (PNS) 32 1%
2. Petani Ladang 838 26%
3. Petani Ikan 864 27%
4. Supir 48 1.5%
5. Pedagang/Wirausaha 192 6%
6. Pensiunan 17 0.5%
7. Usia Sekolah 1184 37%
8. Lain-lainnya 32 1%
Jumlah 3202 100%
Sumber: Kantor Kelurahan Haranggaol, 2017
Jumlah penduduk yang mempunyai mata pencaharian hidup sebagai petani ladang ada sebanyak 1702 jiwa. Sektor pertanian ada dua dalam hal mata pencaharian masyrakat Haranggaol yakni petani ladang dan petani ikan. Sektor pertanian khususnya sebagai petani ikan merupakan employment bagi kelurahan Haranggaol namun karena bersifat illegal petani ikan tidak dikenakan pajak penghasilan dari mata pencaharian mereka yang seharusnya bisa membangun daerah ini lebih baik lagi terutama dalam hal pembangunan jalan raya dan pendidikan.
4.3.3. Komposisi Penduduk Berdasarkan Jenjang Pendidikan
Bila ditinjau dari pendidikannya penduduk kelurahan Haranggaol sudah sadar akan pentingnya pendidikan. Hal ini dilihat dari para orangtua yang
menyekolahkan anak-anaknya hingga kejenjang SMA (Sekolah Menengah Atas) bahkan sampai pada bangku perkuliahan. Dari hasil penuturan beberapa pemuda setempat yang kebanyakan dari mereka ditanya hanyalah tamatan SMA. Hal ini disebabkan karena mereka harus melanjutkan usaha keramba ikan milik keluarga.
Prinsip mereka bahwa mencari uang lebih penting daripada melanjutkan kuliah yang pastinya akan mengganggu rutinitas keramba jaring apung mereka. Karena bagi mereka usaha keramba ikan lebih menjanjikan daripada kuliah dan belum tentu dapat kerja setelah selesai kuliah. Dan sebahagian berpendapat mereka malas lanjut kuliah karena kurangnya ekonomi keluarga.
Tabel 4.5
Komposisi Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan
No. Tingkat Pendidikan Jumlah
1. Tidak/Belum Sekolah 185
2. Tamat Sekolah Dasar (SD) 30
3. Tamat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SMP) 500
4. Tamat Sekolah Menengah Atas (SMA) 1324
5. Sedang duduk dibangku SD 391
6. Sedang duduk dibangku SLTP 208
7. Sedang duduk dibangku SMA 308
8. Perguruan Tinggi/Lulus Perguruan Tinggi 256
Jumlah 3202
Sumber: Kantor Kelurahan Haranggaol, 2017
Data ini menunjukan bahwa tingkat pendidikan masyarakat Haranggaol sudah tergolong masyarakat yang berpendidikan. Walau masih ada penduduk
yang hanya tamat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP), namun mereka ini adalah penduduk yang sudah lansia. Berkembangnya pendidikan di daerah ini tidak terlepas dari sarana sekolah yang ada di kelurahan Haranggaol dan juga semakin majunya pola pikir para kaula mudanya serta keinginan orangtua agar anaknya mendapat pendidikan yang lebih tinggi. Dengan pendidikan yang tinggi berharap dapat memberikan sumbangsih tenaga dan pikiran untuk membangun Haranggaol ke arah yang lebih baik lagi. Dan terkhususnya untuk pegangan anak mereka dalam mencari pekerjaan yang lebih baik. Ini terbukti dengan adanya penduduk yang duduk dibangku perkuliahan diluar desa ini bahkan diluar provinsi Sumut.
4.3.4. Komposisi Penduduk Berdasarkan Suku
Penduduk kelurahan Haranggaol di dominasi oleh suku Simalungun. Suku Simalungun adalah salah satu bagian dari suku Batak. Suku Simalungun adalah suku asli daerah ini. Selain suku Simalungun, ada beberapa penduduk yang juga masih sama dari bagian suku Batak yakni dari suku Batak Toba, Karo, Jawa, Padang yang menikah dengan penduduk setempat maupun sebagai pendatang untuk meraup rezeki. Penduduk pendatang ini didomansi oleh penduduk yang datang dari Tobasa dan Siantar. Penduduk Tobasa dan Siantar yang datang untuk mencari pekerjaan di penginapan-penginapan dan pekerja keramba.
Hal ini dapat terlihat dari beberapa rumah makan/ warung makanan yang didirikan oleh penduduk suku Padang dan Jawa. Penduduk yang didominasi suku Simalungun berjumlah 2242 jiwa, Batak Toba berjumlah 640, Karo berjumlah 160 jiwa, Jawa 96 jiwa dan Padang 64 jiwa. Sebagian suku Batak Toba tidak lagi mau disebut sebagai penduduk pendatang dikarenakan mereka sudah
turun-temurun tinggal ditempat ini. Merekalah yang merupakan hasil pernikahan campuran antar suku Simalungun. Untuk lebih jelasnya, komposisi penduduk kelurahan Haranggaol berdasarkan suku dapat dilihat dalam tabel berikut :
Tabel 4.6
Komposisi Penduduk Berdasarkan Suku
No. Suku Jiwa Persentasi
1. Simalungun 2242 70 %
2. Batak Toba 640 20 %
3. Karo 160 5 %
4. Jawa 96 3 %
5. Padang 64 2 %
Jumlah 3202 100 %
Sumber: Kantor Kelurahan Haranggaol, 2017
4.3.5. Kompisisi Penduduk Berdasarkan Agama
Penduduk Haranggaol didominasi oleh agama Kristen Protestan sejumlah 2081 jiwa, Katolik 1057 dan Islam 64. Dengan jumlah Kristen, baik Protestan dan Katolik yang lebih banyak dibandingkan dengan agama lainnya tidak membuat agama minoritas tidak bebas merayakan perayaan besar keagaamaan mereka.
Penduduk saling menghargai dan menjaga kerukunan antar umat yang berbeda agama.
Hal ini dapat dilihat ketika hari besar keagamaan, mereka yang sedang merayakan hari besar keagamaannya ikut membagikan makanan kepada mereka yang tidak merayakan hari besar agamanya, begitu juga sebaliknya. Hal ini terbukti ketika peneliti menanyakan kerukunan yang terjadi didaerah ini saat-saat
situasi yang sedang dialami negara akan krisis agama yakni belum pernah mayoritas menyinggung secara signifikan minoritas.
Data stastistik penduduk berdasarkan agamanya dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.7
Kompisisi Penduduk Berdasarkan Agama
No. Agama Jiwa Persentasi
1. Kristen Protestan 2081 70 %
2. Katolik 1057 33 %
3. Islam 64 2 %
4. Budha - -
5. Hindu - -
6. Kong Hucu - -
Sumber: Kantor Kelurahan Haranggaol, 2017
4.4. Pola Pemukiman Penduduk
Pola pemukiman penduduk Haranggaol mengelompok memadat, bangunan tempat tinggal yang keseluruhannya sudah berupa bebatuan (beton) seperti dikota-kota. Sudah tidak ditemukan lagi rumah-rumah yang berbentuk gorga suku batak. Rumah-rumah yang ada di kelurahan Haranggaol saling berhadapan, dikarenakan pemukiman diapit oleh danau Toba dan pegunungan, terkhususnya yang berada di pasar besarnya. Rumah yang berada diselatan membelakangi danau dan yang menghadap di timur membelakangi pegunungan.
Menurut informasi yang peneliti kumpulkan di lapangan, kondisi rumah
rumah berganti menjadi rumah semi permanen hingga saat ini sudah menjadi rumah beton permanen dan juga ada yang bertingkat. Perubahan bentuk rumah ini disebabkan oleh perkembangan zaman dan kemajuan teknologi yang diiringi dengan perekonomian masyarakatnya yang semakin membaik. Anak-anak penduduk desa Haranggaol yang mengadu nasib di kota kemudian membenahi rumahnya seperti bentuk-bentuk rumah di kota. Banyak diantara penduduk yang merubah rumahnya disebabkan pendapatan dari sektor perikanan dalam keramba jaring apung di danau.
Pendapatan dari sektor jaring apung juga mengambil alih dalam perubahan yang terjadi di Haranggaol. Menurut beberapa informan ketika bertani, berdagang dan berpariwisata, pendapatan mereka hanya cukup untuk sekolah anak, dan kebutuhan sehari-hari. Hingga kemudian saat beralih pada mata pencaharian keramba jaring apung mereka mendapat keuntungan yang besar dan mulai biasa membangun rumah mereka, membeli kendaraan dan menambah aset lainnya. Saat ini, seluruh rumah di desa Haranggaol telah memakai jasa Perusahaan Listrik Negara (PLN). Untuk mendapatkan air dahulu masyarakat langsung memanfaatkan air sekitar danau untuk kebutuhan mandi dan menyuci pakaian dan perabotan rumah. Namun, saat ini masyarakat tidak perlu kesusahan untuk mendapatkan air bersih tersebut.Sebab, di kelurahan ini telahmemiliki sarana air bersih yang dikelola oleh Perusahaan Air Minum (PAM) dan dialiri kerumah-rumah penduduk.
Dahulu penduduk desa ini memanfaatkan lahan perbukitan sebagai pertanian bawang dan pisang serta mangga. Hingga pada tahun 2000-an pemanfaatan lahan berkurang hampir 70%. Penurunan ini terjadi setelah serangan
hama pada tanaman pertanian dan berkurangnya kesuburan tanah. Saat ini pemanfaatan ruang di Desa Haranggaol adalah memanfaatkan Danau Toba menjadi sentral perikanan ikan nila. Desa Haranggaol ini merupakan sebuah perkampungan yang bersifat geneologis teritorial. Selain dihuni oleh suku Simalungun, Haranggaol dihuni oleh penduduk pendatang seperti suku Batak Toba, Karo, dan Jawa. Dengan demikian mayoritas suku di Haranggaol ini adalah suku Batak Simalungun dengan Marga Saragih, Sinaga, Purba dan sedikit bermarga Silalahi, Aritonang, Sirait, Nainggolan dan lain-lain.
4.5. Sarana dan Prasarana
1. Jalan Umum dan Transportasi
Jalan yang terdapat di daerah kelurahan Haranggaol berada dalam kondisi yang baik dimana jalan-jalannya sudah pada di aspal. Dan jalan-jalan menuju dusun-dusunnya juga dikategorikan baik walaupun jalannya tidak diaspal seperti jalan umum di kelurahan ini. Jalannya semi aspal yang walaupun hujan tidak akan menyebabkan jalannya digenangi air hujan sehingga tidak licin saat berjalan dijalan ini.
Akan tetapi jalan dari simpang Haranggaol menuju Haranggaol kurang bagus karena pada lokasi ini terdapat sejumlah lubang aspal dan bebatuan yang membahayakan pengendara. Itulah sebabnya para pengendara diharuskan berhati-hati jika melewati lokasi ini. Namun demikian kelurahan Haranggaol telah memiliki jalan yang menghubungkan satu kelurahan ke kelurahan lain, satu desa menuju desa lain, bahkan dari desa menuju kota.
Transportasi yang tersedia ditempat ini sangatlah minim, angkutan yang ada hanya tersedia pada hari-hari tertentu terutama pada saat hari pekan/onan yakni hari Senin. Transportasi yang digunakan ke Haranggaol adalah angkutan umum berupa angkot, bis, dan taksi. Merk angkutan CV. Sinar Sepadan lintas Saribu Dolok- Haranggaol tersebut digunakan untuk mengangkut penumpang menuju Saribu Dolok - Haranggaol. Jadi penumpang dari berbagai daerah diluar Seribu Dolok - Haranggaol dengan tujuan ke Haranggaol hanya sampai di simpang Haranggaol, harus melanjutkan perjalanan dengan angkutan sepadan
Transportasi yang tersedia ditempat ini sangatlah minim, angkutan yang ada hanya tersedia pada hari-hari tertentu terutama pada saat hari pekan/onan yakni hari Senin. Transportasi yang digunakan ke Haranggaol adalah angkutan umum berupa angkot, bis, dan taksi. Merk angkutan CV. Sinar Sepadan lintas Saribu Dolok- Haranggaol tersebut digunakan untuk mengangkut penumpang menuju Saribu Dolok - Haranggaol. Jadi penumpang dari berbagai daerah diluar Seribu Dolok - Haranggaol dengan tujuan ke Haranggaol hanya sampai di simpang Haranggaol, harus melanjutkan perjalanan dengan angkutan sepadan