• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

3.5 Teknik Analisis Data

Analisis data adalah proses menjadikan data memberikan pesan kepada pembaca. Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik analisis kualitatif, yaitu dengan mengkaji data yang dimulai dengan menelaah seluruh data yang terkumpul, mempelajari data, menelaah, menyusun dalam satu kesatuan, yang kemudian dikategorikan pada tahap berikutnya dan memeriksa keabsahan data serta mendefenisikannya dengan analisis sesuai dengan kemampuan daya peneliti untuk membuat kesimpulan penelitian (Moelong, 2004 : 247)

BAB IV

DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN A. Temuan Umum

4.1 Letak Geografis Kelurahan Harjosari II

Kelurahan Harjosari II merupakan salah satu dari 151 Kelurahan di wilayah Kota Medan yang memiliki luas wilayah 459 hektar dan terdiri dari 17 lingkungan dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:

1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kelurahan Suka Maju

2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kelurahan T.Deli Marendal-I/ Kelurahan Kampung Durian

3. Sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Harjosari-I/ Desa Marendal 4. Sebelah Barat berbatasan dengan Kelurahan Durian/ Kelurahan Suka Maju.

4.2 Sketsa Kelurahan Harjosari II

Gambar 4.1 Sketsa Kelurahan Hrjosari II

4.3 Profil Kelurahan Harjosari II

Kelurahan Harjosari II merupakan daerah yang sebagian besar adalah pusat perdagangan, perkantoran, dan pemukiman penduduk. Lokasinya terletak di pinggiran kota dan berbatasan dengan Deli Serdang, membuat Kelurahan ini menjadi tempat ideal bagi penduduk asli maupun pendatang untuk bermukim dan berdagang.

Luas Wilayah : 459 Ha

Jumlah Lingkingan : 17 Lingkungan Jumlah penduduk : 37.795 jiwa Jumlah Penduduk Laki-Laki : 18.838 jiwa Jumlah Penduduk Perempuan: 18.957 jiwa Jumlah Kepala Keluarga : 8.322K

Jumlah Kepala Keluarga Kelurahan Harjosari II yang tersebar dalam 17 lingkungan sejumlah 8.322 KK dengan seluruhnya menjadi 37.795 jiwa. Secara lengkap berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat dalam tabel berikut ini :

Tabel 4.1 Komposisi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin

No . Jenis Kelamin Jumlah Jiwa

1. Laki laki 18.838 Jiwa

2. Perempuan 18.957 Jiwa

Total 37.795 Jiwa

Sumber Data: Data Kependudukan Kelurahan Harjosari II Tahun, 2017

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa di Kelurahan Harjosari II lebih banyak jumlah penduduk dengan jenis kelamin perempuan dibanding dengan jumlah penduduk berjenis kelamin laki-laki.

Tabel 4.2 Komposisi Penduduk Berdasarkan Kepala Keluarga Per Lingkungan Sumber Data: Data Kependudukan Kelurahan Harjosari II, 2017

Tabel 4.3 Komposisi Penduduk Berdasarkan Agama Sumber Data: Data Kependudukan Kelurahan Harjosari II, 2013

Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa mayoritas penduduk Kelurahan Harjosari II beragama Islam dan yang paling sedikit beragama Hindu.

Penduduk Berdasarkan Etnis

Tabel 4.4 Komposisi Penduduk Berdasarkan Etnis di Kelurahan Harjosari II No. Etnis Laki-Laki Perempuan Sumber Data: Data Kependudukan Kelurahan Harjosari II, 2013

Penduduk Berdasarkan Ekonomi Masyarakat

Tabel 4.5 Komposisi Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian

No. Mata Pencaharian Jumlah Sumber Data: Data Kependudukan Kelurahan Harjosari II, 2013

Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Tabel 4.6 Komposisi Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan No. Tingkat Pendidikan Laki-Laki Perempuan Sumber Data: Data Kependudukan Kelurahan Harjosari II, 2013

Penduduk Berdasarkan Tingkat Kesejahteraan Keluarga

Tabel 4.7 Komposisi Penduduk Berdasarkan Tingkat Kesejahteraan Keluarga No. Tingkat Kesejahteraan Jumlah

1. Pra Sejahtera 900

Sumber Data: Data Kependudukan Kelurahan Harjosari II, 2013

Dari tabel di atas dapat diketahui mayoritas penduduk Kelurahan Harjosari II berada pada tingkat Keluarga Sejahtera III.

4.4 Visi dan Misi Kelurahan Harjosari II Visi Kelurahan Harjosari II

Visi Kelurahan Harjosari II yang diadopsi dari Kecamatan Medan Amplas adalah “Terwujudnya Pelayanan Prima yang Profesional dan Kredibel di Kelurahan Harjosari II yang Madani dan Religius”.

Misi Kelurahan Harjosari II

Dalam mewujudkan Visinya diperlukan beberapa misi yang merupakan titik konsentrasi kegiatan sekaligus menjadi pedoman dalam melaksanakan tugas-tugas Pemerintahan.

Adapun Misi Kelurahan Harjosari II yaitu :

1. Meningkatkan kualitas Pemerintahan yang demokratis, berkeadilan, transparan dan akuntabel

2. Mendorong terciptanya pembangunan

3. Meningkatkan Profesionalisme aparatur di dalam menyelenggarakan organisasi

4. Mendorong peran aktif masyarakat dalam budaya gotong royong dan swadaya masyarakat.

4.5 Struktur Organisasi Kelurahan Harjosari II

Gambar 4.2 Struktur Organisasi Kelurahan Harjosari II

Keterangan :

Lurah : A.Fansiska Ayu S.STP, M.Si Sekretaris : Vindika Batubara SSTP, MSP Kasi Pemerintahan : Elvi Rahma

Kasi Pembangunan : Henny Lestari.SH

Kasi TERANTIB : Mangontang Sabar Manalu,SE

Staf : Tiar Romatua Tambunan,SP

Staf : Juliana Tambunan

Staf : Irpan Hendrik

Staf : Astuti Zuraidah Harahap

Staf : Diarina Tionauli Sianturi, A.md

Staf : Gordon Gultom

Honor : Muhammad Hasrul

Kepling I : H. Fatwa Pujangga

Kepling II : Delfismart Agusman, ST

Kepling III : Muslim

Kepling IV : A. Dayan Banurea

Kepling V : Dwi Nanto Herlambang

Kepling VI : Thohiruddin S.

Kepling VII : M.Muhady S.AG

Kepling VIII : Supendi

Kepling IX : Gustianawati

Kepling X : Suhendro

Kepling XI : Maulana Edy Syahputra

Kepling XII : Sumar Heryatmo Kepling XIII : Roinal Sinulingga

Kepling IV : Suardi

Kepling XV : Dedi Kesuma

Kepling XVI : Hardianto Kepling XVII : Sri Pangestuty

4.6 Kondisi Umum Tentang Informan Penelitian

Informan yang dijadikan narasumber oleh peneliti terdiri dari 7 orang yaitu satu orang informan kunci, 4 orang informan utama, dan dua orang informan tambahan. Adapun informan kunci dalam penelitian ini adalah Kepala Seksi Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas yang mengetahui sekaligus bertanggung jawab atas Program ASPDB di Kelurahan Harjosari II.

Adapun informan utama dalam penelitian ini adalah Pendamping program ASPDB yang memang terlibat langsung selama proses implementasi program ASPDB di Kelurahan Harjosari II, dan tiga orangtua dari penerima program ASPDB di Kelurahan Harjosari II.

Informan tambahan dalam penelitian ini adalah satu orang Kepala Lingkungan yang mengetahui tentang Program ASPDB di Kelurahan Harjosari II dan satu orang warga yang bertetangga dengan penerima program ASPDB tersebut.

4.7 Kondisi Umum Tentang Petugas

Berikut akan disajikan tabel berupa gambaran umum tentang petugas di Kelurahan Harjosari II.

Tabel 4.8 Kondisi Umum Petugas Sumber Data: Data Kependudukan Kelurahan Harjosari II, 2017

4.8 Keadaan Sarana dan Prasarana Lokasi Penelitian Sarana Peribadatan

Adapun sarana peribadatan yang tersedia di Kelurahan Harjosari II sebagai berikut:

Adapun prasaran pendidikan yang tersedia di Kelurahan Harjosari II sebagai berikut:

1. TK : 8 Unit

2. SD/Mi : 9 Unit

3. SMP/MTS : 6 Unit 4. SMA Sederajat : 4 Unit 5. Perguruan Tinggi : 1 Unit

Prasarana Kesehatan

Adapun prasarana kesehatan yang tersedia di Kelurahan Harjosari II sebagai berikut:

1. Klinik : 6 Unit 2. Balai Pengobatan : 1 Unit 3. Praktek Dokter : 3 Unit 4. Praktek Bidan : 6 Unit

5. Apotek : 6 Unit

Sarana Ekonomi

Adapun sarana ekonomi yang ada di Kelurahan Harjosari II hanya tersedia pasar modern atau plaza-swalayan yang berjumlah 7 unit.

BAB V

HASIL PENELITIAN 5.1 Deskripsi Data Hasil Penelitian

Berikut ini akan dideskripsikan hasil wawancara yang telah dilakukan oleh peneliti kepada narasumber, yang mana narasumber dalam penelitian adalah satu orang informan kunci, empat orang informan utama, dan dua orang informan tambahan.

5.1.1 Informan Kunci

Nama : Liat Silalahi, S.E Tempat Tanggal Lahir : Parapat, 5 April 1964

Umur : 54 Tahun

Alamat : Jalan Ngalengko Gang Keluarga No. 27 Jenis Kelamin : Laki-Laki

Agama : Kristen Protestan Suku Bangsa : Batak Toba Pendidikan Terakhir : S1

Jabatan : Kepala Seksi Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas

Bapak Liat merupakan Staf yang bekerja di Dinas Sosial Provinsi Sumatera Utara sejak tahun 1986. Pada tahun 1986, Pak Liat bekerja di bagian Penyuluhan, tahun 1990 ditugaskan di Kecamatan Medan Timur, tahun 1993 di Kecamatan Medan Area, pada tahun 2000 masuk Linjamsos, tahun 2007 ke Bidang Pemberdayaan Sosial, tahun 2013 kembali ke Linjamsos, terakhir tahun 2017 ke bidang Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas. Sejak tahun 2017, Pak

Liat menjadi Kepala Seksi Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas yang bertanggung jawab sekaligus yang paling mengetahui tentang program ASPDB ini. Saat wawancara, peneliti menanyakan apakah pernah dilakukan sosialisasi program ASPDB di Kelurahan Harjosari II dan bagaimana prosesnya. Pak Liat mengatakan tidak pernah dilakukan sosialisasi secara khusus, hanya diinformasikan kepada pihak Dinas Sosial Kota Medan kemudian berkoordinasi dengan pendamping ASPDB di Kelurahan Harjosari II. Berikut hasil wawancara peneliti dengan Pak Liat :

“Sosialisasi program ASPDB ini dari awal bukan secara khusus di Harjosari II, cuma kita informasikan ke Dinas Sosial Kota Medan bahwa ada bantuan jaminan sosial bagi penyandang disabilitas berat, karna tidak mampu untuk mandiri supaya bisa terbantu dari segi kesehatan, bantuan tambahan pemenuhan kebutuhan dasar namanya atau bantuan penambahan gizi. Dulu itu pake brosur ada dia dari Kementerian Sosial, itulah yang kita berikan kepada Dinas Sosial Kota Medan. Setelah itu, supaya lebih mudah ditunjuklah seorang pendamping, pendamping inilah yang memberikan informasi kepada masyarakat. Sosialisasinya dilaksanakan sejak tahun 2011 sampai sekarang, tujuan dan kriteria penerima bantuan ini juga sudah disampaikan dengan cukup jelas apalagi pendamping langsung turun kerumah-rumah”.

Peneliti kemudian menanyakan kepada Pak Liat mengenai bagaimana proses pendataan penerima program ASPDB di Kelurahan Harjosari II. Pak Liat mengatakan pendataannya melalui formulir seleksi penerima ASPDB yang diajukan oleh Pendamping ke Dinas Sosial Kota Medan. Kemudian, Dinas Sosial Kota Medan yang menginformasikan ke Dinas Sosial Provinsi. Dinas Sosial Provinsi yang mengajukan langsung ke Kementerian Sosial. Setelah itu Kementerian Sosial mengeluarkan Surat Ketetapan nama-nama penerima Program

ASPDB yang layak sesuai kriteria. Jadi, disposisinya tetap dari bawah. Berikut hasil wawancara Peneliti dengan Pak Liat:

“Pengajuannya ini langsung ke Kementerian Sosial, dulunya ada formulir seleksi penerima ASPDB yang diajukan oleh Dinas Sosial Kota Medan ke Dinas Sosial Provinsi.Yang terlibat di pendataan ini yang pertama itu Dinas Sosial Kota Medan, mereka yang mengajukan bantuan untuk disabilitas berat kepada Pemerintah. Dulukan belum ada pendamping, pendamping ini ada setelah ada bantuan. Terus ada lagi pembaharuan baru, bagi pendamping harus bisa menilai orang yang layak dibantu.

Dulu juga udah dikasih bekal kriteria penyandang disabilitas berat itu seperti apa, kalau tidak layak, dia akan digantikan dengan orang yang lebih layak. Laporan dari pendampinglah itu, ada penerima yang tidak sesuai kriteria maka kita turun ke lapangan untuk monitoring langsung, lalu kita buat pergantian penerima yang dievaluasi oleh Dinas Sosial Kota, Provinsi dan Pendamping. Tetap pengajuannya dari bawah dia.

Kadangkan kita monitoring juga, ada disbilitass berat ini yang kesehatannya meningkat kalo dia sudah meningkat sudah bisa makan sendiri berarti tidak sesuai kriteria lagi dan akan diganti.

Perekonomiannya semakin meningkat, misalnya dulu orang tuanya tukang becak sekarang sudah jadi pemborong nah itu juga akan diganti.

pokoknya dari segi kesehatan atau ekonomi.”.

Selanjutnya Peneliti menanyakan kepada Pak Liat sejauh ini apakah penerima ASPDB sudah tepat sasaran atau sesuai kriteria. Pak Liat mengatakan sejauh ini masih tepat sasaran, saat monitoring dan evaluasi juga semua penyandang disabilitas berat sudah sesuai kriteria. Berikut hasil wawancara Peneliti dengan Pak Liat:

“Sampai sekarang penerima itu masih tepat sasaran, justru kita mengharapkan kuota penerima ditambah karna masih banyak yang belum pernah menerima bantuan. Sejauh ini, semua disabilitas berat juga sudah

sesuai kriteria. Pada saat monitoring dan evaluasi kita datang kerumah mereka untuk melihat langsung bagaimana kondisinya”.

Kemudian peneliti menanyakan kepada Pak Liat apa saja tugas/tanggungjawab Pak Liat dalam Implementasi program ASPDB di Kelurahan Harjosari II. Pak Liat mengatakan menginformasikan kepada pendamping dan Dinas Sosial Kota Medan dan menegaskan untuk selalu mengikuti perkembangan penerima program ASPDB. Berikut hasil wawancara peneliti dengan Pak Liat:

“Hanya menginformasikan kepada pendamping, menginformasikan kepada Dinsos Kota Medan atau menegaskan supaya selalu mengikuti perkembangan si penerima apakah ada peningkatan dari uang yang diterima dari bantuan sosial ini”.

Kemudian peneliti menanyakan kepada Pak Liat, apakah implementor program ASPDB sudah mencukupi. Pak Liat mengatakan belum dan berharap Dinas Kesehatan, Kecamatan dan Kelurahan juga harus berperan dalam meningkatkan kesehatan penyandang disabilitas berat ini. Berikut hasil wawancara peneliti dengan Pak Liat:

“Sebenarnya supaya bagusnya, harus ada penambahan paling tidak ada penambahan bantuan yang diterima karna terlalu kecil tidak mencukupi untuk dia selama satu bulan karna namanyapun bantuan tambahan pemenuhan kebutuhan dasar. Itupun mereka sudah sangat bersyukur dengan adanya program ini dan kita juga berharap, Dinas Kesehatanpun berperan, kalau sekedar periksa kesehatan di Puskesmas masih belum cukup. Penerimanya juga dari keluarga miskin, Dinsoskan gak punya keahlian dalam bidang kesehatan semestinya harus ada secara rutin seperti terapi, akhirnya bisa dia berkembang dan semakin berkembang dan tidak tergantung pada orang lain. Maunya Kecamatan juga dari segi identitas, misalnya KTP masih banyak yang belum punya. Kelurahan juga bisalah merujuk ke Dinkes atau harus sangat berperanlah ke sektor lain agar diadakan program untuk disabilitas berat ini”.

Kemudian peneliti menanyakan kepada Pak Liat, apakah pernah terjadi pelanggaran oleh pihak implementor dalam proses implementasi program ASPDB di Kelurahan Harjosari II. Pak Liat mengatakan tidak pernah. Berikut hasil wawancara peneliti dengan Pak Liat:

“Di Medan belum pernah. Sampai saat ini belum ada laporan pelanggaran ke Kementerian Sosial. Dinsos Kota Medan ataupun Pendamping belum ada yang seperti-seperti itu. Pendamping juga rutin memberikan laporan perkembangan si penerima bantuan, selama triwulan atau 4 bulan sekali jadi tiga kali setahun”.

Kemudian Peneliti menanyakan kepada Pak Liat, apakah dana sudah mencukupi secara keseluruhan termasuk untuk implementor dalam Program ASPBD di Kelurahan Harjosari II. Pak Liat mengatakan masih kurang. Karena banyak disabilitas berat yang harus didampingi dan Pendamping juga berperan sebagai Peksos. Berikut hasil wawancara Peneliti dengan Pak Liat:

“Sebenarnya masih kuranglah karna dari sekian banyak disabilitas berat yang didampingi dengan honor yg kecil. Sehingga kadang bisa tidak terjangkau disabilitas berat ini untuk didampingi . Karna pendampingan ini banyak, ada dampingan untuk mengambil uang jaminan sosial, dampingan bagaimana keluaga mendampingi disabilitas berat, dampingan apakah dana yang diterima benar-benar digunakan untuk kebutuhan mereka. Pendamping ini juga sekalian peksosnya jadi kalau dihitung-hitung dananya sangat kecil”.

Kemudian Peneliti menanyakan kepada Pak Liat bagaimana proses penyaluran dana ASPDB di Kelurahan Harjosari II. Pak Liat mengatakan Pendamping yang memberikan langsung dana ASPDB ini ke rumah disabilitas berat. Berikut hasil wawancara Peneliti dengan Pak Liat:

“Dulu ditransfer di kantor pos, jadi keluarga/wali yang menerima dana

bawa, tetapi dengan kelengkapan administrasi, misalnya harus ada KK, ada keterangan dari Kepala Desa juga bahwa dia walinya. Tapi sejak tahun 2017 itu disalurkan melalui BNI di Jalan Pemuda. Jadi hanya Pendamping yang mengambil uang bantuan ini ke BNI, dengan syarat surat kuasa dari wali harus ditunjukkan sebelum ia menerima dana. Lalu si Pendamping juga yang akan memberikan langsung uang sebesar Rp.300.000,00 ke rumah-rumah Penyandang Disabilitas Berat. Itupun harus ada tanda terima dari wali dan dokumentasi. Penyaluran dana ini juga, tetap dia tiga kali dalam setahun selama sepuluh bulan ”.

Peneliti juga menanyakan kepada Pak Liat, apakah dana yang diterima Penyandang Disabilitas Berat sudah mencukupi. Pak Liat mengatakan masih kurang. Apalagi si penerima bantuan ini dari keluarga kurang mampu dan masih banyak penyandang disabilitas berat yang belum pernah menerima bantuan ini.

Berikut hasil wawancara Peneliti dengan Pak Liat:

“Kuota untuk penerima ASPDB ini sebenarnya sudah ditentukan oleh Kementerian Sosial, jatah untuk Sumatera Utara sekian. Itulah yang 203 orang mereka yang tentukan. Hanya segitulah kemampuan Kementerian Sosial. Di samping belum semua terbantu, kita berharap bantuan itu di perbesar sedikit, karna itu terlalu kecil untuk masyarakat yang tidak bisa melakukan apa-apa belum lagi keluarganya miskin”.

Kemudian Peneliti menanyakan kepada Pak Liat, apakah ada Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam mengimplementasikan program ASPDB di Kelurahan Harjosari II. Pak Liat mengatakan secara tertulis belum ada. Berikut hasil wawancara Peneliti dengan Pak Liat:

“Memang belum ada, cuma kalau SOPnya pendamping harus melakukan pendampingan terhadap wali dalam penerimaan ASPDB, juga mendampingi keluarga dalam mempergunakan uang bantuan itu.

Keluarga tidak boleh menggunakan dana untuk keperluan keluarga, khusus untuk disabilitas berat”.

Kemudian Peneliti menanyakan kepada Pak Liat, hambatan/permasalahan dan upaya yang dilakukan dalam implementasi Program ASPDB di Kelurahan Harjosari II. Pak Liat mengatakan sangat sulit mencari Bank Penyalur karena tidak mempunyai biaya operasional sehingga menyebabkan keterlambatan penyaluran dana. Berikut hasil wawancara Peneliti dengan Pak Liat:

“Sebenarnya anggarannya sudah ada dari Kemensos, tinggal penyalurnya begitu mau proses pembayaran harus mencari dulu, biaya operasionalnyakan tidak ada, dulu kantor pos ada, setiap penyaluran dia dapat Rp.75.000,00 per orang sekarang sudah tidak ada. Murni dia bantuan ke penerima sehingga kantor pos mundur. Sehingga dibuat permintaan itupun dari Kementerian Luar Negeri, jadi Kemenlu yang menunjuk BNI, itu yg buat keterlambatan penyaluran. Upayanya, berkoordinasi dengan pemerintah supaya menunjuk bank pemerintah menjadi salah satu penyalur.

Terakhir peneliti menanyakan kepada Pak Liat, harapan untuk program ASPDB ini. Berikut hasil wawancara Peneliti dengan Pak Liat:

“Kita berharap program ini terus berlanjut dan masyarakat yang menerima ASPDB dapat mempergunakan bantuan ini secara benar”

5.1.2 Informan Utama 5.1.2.1 Informan Utama I

Nama : Gustinawati S,Pd

Tempat Tanggal Lahir : Medan, 17 Agustus 1976

Umur : 42 Tahun

Alamat : Jalan Bajak II H Gang Bersama No. 118 Lingkungan IX

Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Suku Bangsa : Jawa Pendidikan Terakhir : S1

Ibu Gustinawati merupakan pendamping Program ASPDB di Kelurahan Harjosari II sejak tahun 2009. Bu Tina mendampingi 15 orang yang mendapatkan program ASPDB di Kelurahan Harjosari II.

Tabel 5.1 Daftar Penerima program ASPDB di Kelurahan Harjosari II No. Nama Penerima program ASPDB Usia

Pada saat wawancara, peneliti menanyakan kepada Bu Tina apakah pernah dilakukan sosialisasi program ASPDB di Kelurahan Harjosari II dan bagaimana prosesnya. Bu Tina mengatakan dari awal tidak ada sosialisasi hanya pendataan saja langsung turun lapangan. Berikut hasil wawancara peneliti dengan Bu Tina:

“Kalau dari awal tidak ada sosialisasinya tapi kami sebagai pendamping mendata ke lapangan langsung, turun ke lapangan mencari mana yang ada disabilitasnya di semua Lingkungan dan Kelurahan masing-masing.

Kita pendataan tidak ada sosialisasi”.

Kemudian peneliti menanyakan kepada Bu Tina bagaimana proses

mengatakan awal pendataan tahun 2008. Untuk berkas harus ada KK, dan Surat Keterangan Orang tua/Wali yang mengurus dan foto seluruh badan disabilitas berat. Bagi yang tidak punya KTP, pendamping yang mengisi kuisioner sesuai kebutuhan. Berikut hasil wawancara peneliti dengan Bu Tina:

“Kalau itukan awalnya 2008 tuh pendataannya realisasinya 2011. Untuk kemaren itukan kuota untuk Kota Medan 203 ya. Kamilah sebagai pendamping ke Kepling-kepling dimana ada anak penyandang disabilitas.

Kalo dulu namanya cacat berat. Disable itukan dihaluskan cacat kasar tu bahasanya. Jadi karna Kepling mengasih tau di sana tu ada tempat saya ada, jadi saya pendamping mencari ke lingkungannya, bener gak, ada.

Kalo pendataan itusih yang kita butuhin pertama Kartu Keluarga, KTP, Wali orang tua atau siapa yang mengurus dia. Kadangkan ada disabilitas ini yang gak sama orangtuanya sama neneknya, sama uwaknya. Itu ajasih gak dipersulit terus kalo gak ada KTP, kan kami isi kuesioner. Kita isi, kita sesuaikan dengan apa yang ditanya apa yang jadi kebutuhan dilengkapi dengan foto anaknya satu badan penuh. Untuk sosialisasi selanjutnya itu tidak ada, tapi setiap tahun selama anaknya itu masih ada, masih tetap terdata janjinya dari Kemensos awal itu, bantuan itu seumur hidup dengan catatan kalo seandainya dia ada perubahan, satu sudah bisa berjalan itu di stop, dua karna dia sudah pindah yang kita tidak tau dimana alamatnya itu di stop, satu lagi kalo orangtuanya menginginkan dalam pendataan ini. Bu Tina mengatakan Kasi Sosial dari Kessos di Kecamatan dan Pendamping. Berikut hasil wawancara Peneliti dengan Bu Tina:

“Kami pendamping, terus dari pertama itu dari Kessos, Kasi Sosial di

data tetap sampek ke mereka untuk rekapan di Medan amplas ini misalnya berapa, dikasi taulah kesitu. Orang kecamatan juga tau karna kalo dari Lurah, Camat karna ini programnya dari sosial jadi gak terlalu mencampurin. Tapi kamilah sebagai pendamping yang laporan”.

Kemudian Peneliti menanyakan kepada Bu Tina, apakah tujuan dan sasaran program ASPDB sudah disampaikan. Bu Tina mengatakan sudah.

Berikut hasil wawancara Peneliti dengan Bu Tina:

“Tujuan dan kriterianya harus dikasih tau, kitala masing-masing asal kita mendata kita sosialisasikan tujuannya yang pertama untuk dapat bantuan karna itu jelas memang bantuan kan khusus untuk anak ibu, jadi disitukan misalnya apanya itukan pengganti uang vitamin. Itupun pengambilannya Rp.300.000,00 dia gak setiap bulan, per empat bulan. Tiap ambil duit ibu dampingi kan orangtu datang langsung antri sendiri kita mendampingi menceklis aja udah datang apa belum. Kan ditanyak juga tuh ini dari mana, memang dijelasin ni programnya dari Kemensos untuk anak-anak

“Tujuan dan kriterianya harus dikasih tau, kitala masing-masing asal kita mendata kita sosialisasikan tujuannya yang pertama untuk dapat bantuan karna itu jelas memang bantuan kan khusus untuk anak ibu, jadi disitukan misalnya apanya itukan pengganti uang vitamin. Itupun pengambilannya Rp.300.000,00 dia gak setiap bulan, per empat bulan. Tiap ambil duit ibu dampingi kan orangtu datang langsung antri sendiri kita mendampingi menceklis aja udah datang apa belum. Kan ditanyak juga tuh ini dari mana, memang dijelasin ni programnya dari Kemensos untuk anak-anak

Dokumen terkait