• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

J. Teknik Analisis Data

1. Analisis Data Deskriptif Kualitatif

Pada penelitian ini data kualitatif yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan teknik analisis deskriptif induktif yang berarti proses berpikir yang digunakan dalam penelitian ini adalah proses pengambilan keputusan yang bersifat umum menuju kepada peristiwa yang bersifat khusus. Pada penelitian ini data yang dianalisis adalah data yang berkaitan langsung dengan kegiatan pembelajaran peserta didik di dalam kelas yang diperoleh dari kegiatan observasi.

2. Analisis Data Persepsi Peserta Didik

Analisis data pada persepsi peserta didik ini menggunakan perhitungan kelas interval. Analisis data berupa deskripsi dari persepsi peserta didik dilakukan melalui dua cara yaitu:

1) Mencari nilai tertinggi dan terendah

Dalam penelitian ini terdapat 26 item pernyataan dengan menggunakan skala likert sebanyak 4 pilihan, sehingga dapat

Nilai Cronbach’s Alpha Kriteria Interprestasi 0,933 Reliabel Sangat Tinggi

diperoleh perhitungan nilai terendah dan tertinggi yaitu sebagai berikut:

Nilai tertinggi 26 Γ— 4 = 104 Nilai terendah 26 Γ— 1 = 26 2) Mencari nilai interval kelas

Dalam penelitian ini untuk mencari nilai interval kelas yaitu menggunakan rumus sebagai berikut:

π‘…π‘Žπ‘›π‘”π‘’ = π‘›π‘–π‘™π‘Žπ‘– π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘‘π‘–π‘›π‘”π‘”π‘– βˆ’ π‘›π‘–π‘™π‘Žπ‘– π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘’π‘›π‘‘π‘Žβ„Ž π‘—π‘’π‘šπ‘™π‘Žβ„Ž π‘˜π‘’π‘™π‘Žπ‘ 

π‘…π‘Žπ‘›π‘”π‘’ = 104 βˆ’ 26

5 = 16

Maka besarnya nilai interval kelas adalah 16. Kelas interval tersebut dikategorikan sebagai berikut:

Tabel 3.6

Kategori Nilai Interval Persepsi Peserta Didik Nilai Interval Kategori

89 – 104 Sangat baik

73 – 88 Baik

57 – 72 Cukup baik 41 – 56 Kurang baik 26 – 40 Sangat Kurang baik Sumber: data primer, diolah 2021

Adapun makna yang terkandung dalam kategori tersebut yaitu:

a) Kategori sangat baik dimaknai bahwa peserta didik mempersepsikan model pembelajaran problem based learning berbasis higher order thinking skills dapat membantu peserta didik dalam proses peningkatan kemampuan berpikir kritis, dan dapat memudahkan peserta

didik dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi serta membantu peserta didik dalam berpikir secara rasional.

Selain itu juga membantu peserta didik untuk dapat membuat kesimpulan terhadap setiap kejadian berdasarkan fakta dan disertai dengan argumentasi yang mendukung.

b) Kategori baik dimaknai bahwa peserta didik mempersepsikan model pembelajaran problem based learning berbasis higher order thinking skills dapat membantu peserta didik dalam proses peningkatan kemampuan berpikir kritis. Selain itu dapat membantu peserta didik dalam menyelesaikan persoalan terhadap permasalahan yang dihadapi.

c) Kategori cukup baik dimaknai bahwa peserta didik mempersepsikan model pembelajaran problem based learning berbasis higher order thinking skills dapat membantu peserta didik dalam pemahaman materi dan informasi yang ada serta membantu peserta didik dalam membuat sebuah kesimpulan.

d) Kategori kurang baik dimaknai dengan peserta didik mempersepsikan model pembelajaran problem based learning berbasis higher order thinking skills kurang dapat membantu proses peningkatan kemampuan berpikir kritis

peserta didik, dengan model pembelajaran ini peserta didik merasa kesulitan dalam menangkap pelajaran dengan baik.

e) Kategori sangat kurang baik dimaknai dengan peserta didik mempersepsikan model pembelajaran problem based learning berbasis higher order thinking skills tidak dapat membantu proses peningkatan kemampuan berpikir kritis, dikarenakan dengan model pembelajaran tersebut peserta didik tidak dapat memahami pelajaran dengan baik.

3. Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik

Pada penelitian ini analisis yang digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir kritis peserta didik yaitu melalui pretest dan posttest pada saat proses pembelajaran. Setiap tes yang diberikan kepada peserta didik terdiri dari 5 soal essay. Berdasarkan hasil tes tersebut masing-masing peserta didik memperoleh skor total untuk mengetahui kategori tingkat kemampuan berpikir kritis. Hasil skor total peserta didik diperoleh berdasarkan hasil penskoran sesuai dengan indikator kemampuan berpikir kritis peserta didik, yaitu sebagai berikut:

Tabel 3.7

Skala Penskoran Kemampuan Berpikir Kritis

Untuk memperoleh skor akhir dilakukan perhitungan sebagai berikut:

π‘†π‘˜π‘œπ‘Ÿ π‘Žπ‘˜β„Žπ‘–π‘Ÿ = π‘—π‘’π‘šπ‘™π‘Žβ„Ž π‘ π‘˜π‘œπ‘Ÿ π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π‘‘π‘–π‘π‘’π‘Ÿπ‘œπ‘™π‘’β„Ž

π‘ π‘˜π‘œπ‘Ÿ π‘šπ‘Žπ‘˜π‘ π‘–π‘šπ‘Žπ‘™ Γ— 100 = π‘ π‘˜π‘œπ‘Ÿ π‘šπ‘Žπ‘˜π‘ π‘–π‘šπ‘Žπ‘™ = 30

Setelah mengetahui skor akhir yang diperoleh oleh peserta didik, selanjutnya skor tersebut dikategorikan ke dalam tingkatan kemampuan berpikir kritis, sebagai berikut:

Skala/

Tabel 3.8

Kategori Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik Konversi Nilai

Akhir (Skala 0-100) Kategori 81 – 100 Sangat Kritis

66 – 80 Kritis

51 – 65 Cukup Kritis

0 – 50 Kurang Kritis

Adapun makna yang terkandung dalam kategori tersebut yaitu:

a. Sangat kritis, dimaknai bahwa peserta didik sangat paham dan sangat mampu membuat sebuah kesimpulan dengan tepat terhadap permasalahan yang terjadi di lingkungan sekitar, disertai dengan argumentasi yang kuat berdasarkan pada informasi-informasi yang diperoleh peserta didik dari berbagai sumber, sehingga peserta didik mampu untuk memberikan bukti yang faktual untuk mendukung kesimpulan yang telah dibuat peserta didik. Selain itu peserta didik juga memiliki kemampuan untuk menjelaskan maksud dari kesimpulan yang telah dibuatnya.

b. Kritis, dimaknai bahwa peserta didik paham dan mampu membuat kesimpulan dengan tepat terhadap permasalahan yang terjadi di lingkungan sekitar disertai dengan argumentasi yang kuat berdasarkan pada informasi-informasi yang diperoleh peserta didik dari berbagai sumber, sehingga peserta didik mampu memberikan bukti yang faktual untuk mendukung kesimpulan yang dibuat oleh peserta didik.

c. Cukup kritis, dimaknai bahwa peserta didik mampu dalam membuat kesimpulan terhadap permasalahan yang terjadi di lingkungan sekitar, disertai dengan argumentasi yang didukung berdasarkan informasi-informasi yang diperolehnya.

d. Kurang kritis, dimaknai bahwa peserta didik kurang mampu dalam membuat sebuah kesimpulan terhadap permasalahan yang terjadi di lingkungan sekitar, serta peserta didik juga kurang mampu dalam memberikan argumentasi yang kuat terhadap kesimpulan yang telah dibuat.

Setelah dikategorikan berdasarkan kategori kemampuan berpikir kritis peserta didik, dilanjutkan dengan pengujian nilai N-Gain.

Pengujian nilai N-Gain dilakukan untuk melihat selisih antara nilai pretest dan posttest dari peserta didik. Perhitungan rumus N-Gain yaitu sebagai berikut:

πΊπ‘Žπ‘–π‘› π‘ π‘˜π‘œπ‘Ÿ π‘π‘œπ‘ π‘‘π‘‘π‘’π‘ π‘‘ βˆ’ π‘ π‘˜π‘œπ‘Ÿ π‘π‘Ÿπ‘’π‘‘π‘’π‘ π‘‘ π‘ π‘˜π‘œπ‘Ÿ π‘–π‘‘π‘’π‘Žπ‘™ βˆ’ π‘ π‘˜π‘œπ‘Ÿ π‘π‘Ÿπ‘’π‘‘π‘’π‘ π‘‘

Setelah nilai N-Gain diperoleh, nilai tersebut diklasifikasikan berdasarkan klasifikasi nilai N-Gain menurut Meltzer (2002:140), yaitu sebagai berikut:

Tabel 3.9

Klasifikasi Nilai N-Gain Besarnya g Interprestasi

G > 0,7 Tinggi 0,3 < g ≀ 0,7 Sedang

g ≀ 0,3 Rendah