• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

C. Teknik Pemanfaatan pohon Suren

Pemanfaatan pohon suren yang efektif dapat menambah pendapatan maupun nilai guna dari pohon suren tersebut, disamping fungsinya sebagai pengoptimalan penggunaan lahan. Teknik pemanfaatan bagian-bagian pohon suren yang dilakukan oleh masyarakat di Kelurahan Siolha Horison, Kecamatan Pematang Sidamanik, memanfaatkan bagian batang pohon suren, daun suren dan buah pohon suren.

a. Teknik pemanfaatan dari batang pohon suren

Masyarakat di Kelurahan Sipolha Horison, Kecamatan Pematang Sidamanik pada umumnya memanfaatkan batang pohon Suren menjdi bahan baku bangunan rumah, seperti : papan, broti dan kusen dan juga diolah sebagai bahan baku kapal dan sampan.

1. Sebagai bahan baku rumah (papan dan broti)

Masyarakat setempat secara umum memakai hasil kayu ataupun panen batang suren untuk diolah menjadi papan dan broti. Dan dibentuk sebagai pintu, jendela, tiang rumah, dinding rumah untuk pembangunan rumah sendiri. Pemanenan dilakukan dengan mesin gergaji pohon pada saat musim gugur atau pergantian daun. Setelah pemanenan, kayu langsung diolah menjadi papan atau broti. Hampir seluruh rumah yang ada di Kelurahan Sipolha Horisan, Kecamatan Pematang Sidamanik menggunakan kayu Suren sebagai bahan bakunya. Hal ini dikarenakan sifat dari kayu pohon suren yang tahan terhadap air dan serangan rayap, yang dapat meningkatkan nilai guna dan ketahanannya. Jayusman (2006) menyatakan

bahwa suren memiliki kandungan bahan surenon, surenin dan surenolakton yang berperan sebagai penghambat pertumbuhan terhadap larva serangga. Bahan-bahan tersebut juga terbukti merupakan repellant (pengusir atau penolak) serangga, termasuk nyamuk. Selain itu motif dari kayu suren pun bagus, sehingga masyarakat hanya perlu menambah vernis dalam pembuatannya.

2. Sebagai bahan baku kapal dan sampan

Selain dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan rumah, pohon suren juga digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan kapal dan sampan. Masyarakat menjual pohon suren mereka kepada pembuat kapal yang akan digunakan sebagai bahan baku kapal dan sampan. Bapak Manatar Silalahi merupakan pelaku usaha kapal yang membeli pohon suren dari masyarakat di kelurahan Sipolha Horison, beliau menyampaikan bahwa alasan untuk memilih menggunakan kayu suren sebagai bahan baku untuk pembuatan kapal dan sampan karena sifatnya yang tahan terhadap air dan tidak mudah membusuk. Disamping itu, juga dikarenakan pohon suren merupakan pohon yang umum ditanam oleh masyarakat Kelurahan Sipolha Horison sehingga penyediaannya pun mudah didapatkan.

b. Teknik Pemanfaatan Daun Suren

Selain dari batang pohon suren masyarakat juga memanfaatkan daun dari pohon suren, meskipun pemanfaatannya masih tergolong sedikit dan baru, adapun daun dimanfaatkan sebagai: obat gatal-gatal, pestisida/insektisida organik dan lalapan. Berikut dijelaskan teknik pemanfaatannya:

1. Obat Gatal-gatal

Daun dimanfaatkan masyarakat Di Kelurahan Sipolha Horison sebagai obat tradisional alami untuk menyembuhkan penyakit gatal-gatal. Daun suren yang

berwarna hijau direbus hingga mendidih, didinginkan hingga hangat kuku lalu kemudian dimandikan. Obat ini dipakai selain untuk manusia, masyarakat

juga memakainya untuk hewan ternak masyarakat .

2. Pestisida/insektisida Organik

Pemanfaatan ini masih tergolong baru dan masyarakat yang memanfaatkannya pun masih tegolong sedikit. Dalam pemanfaatannya teknik yang digunakan masih sederhana dan menggunakan alat-alat sederhana. Daun suren dicampur dengan daun mindi dan daun jihor dengan perbandingan 1:1:1. Lalu direndam didalam sebuah ember berukuran sedang selama 2 hari. Setelah perendaman, air disiram disekitar tanaman.

Berdasarkan pengujian yang dilakukan oleh Suhaendah et al., (2007) dijelaskan bahwa perlakuan larutan daun suren terhadap ulat kantong menunjukkan tingkat kematian 100%, hal ini menunjukkan bahwa daun suren mempunyai sifat insektisida. Dalam Kurniawan, 2013 dijelaskan bahwa larutan daun suren tidak sepenuhnya langsung dapat membunuh, tetapi mempunyai sifat menghambat daya makan ulat kantong yang pada akhirnya berakibat pada kematian.

Dalam Lestari (2014) menyampaikan bahwa mortalitas dan kematian pada larva yang disemprot ekstrak suren, ditandai dengan perubahan warna ulat yaitu dari hijau segar menjadi kekuning kuningan. Perubahan warna tersebut seiring dengan perubahan perilaku ulat, yaitu ulat cenderung tidak aktif / tidak bergerak, sehingga aktivitas makan pun mulai menurun.

Ekstrak daun suren terdapat senyawa – senyawa metabolit sekunder yang beracun bagi serangga, yaitu alkaloid, flavonoid, steroid/triterpenoid, dan saponin.

Proses pembuatan larutan daun suren mudah dilakukan serta tidak memiliki dampak negatif berupa pencemaran lingkungan (Kurniawan, 2013).

3. Lalapan

Selain untuk obat daun pohon suren juga dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai lalapan, dimana daun yang dipergunakan adalah daun yang masih muda, yang berada pada ujung cabang pohon suren. Dalam pemanfaatan ini, yang melakukannya adalah masyarakat pendatang yang memang telah mengetahui dari daerah Tanah Karo. Daun yang akan dikonsumsi dapat direndam air panas dahulu ataupun dapat dikonsumsi langsung. Berdasarkan informasi narasumber, rasa daun suren sama seperti jengkol.

Komponen fitokimia yang terdapat dalam daun pohon suren di antaranya adalah alkaloid, triterpenoid, flavonoid, tanin, fenol, dan steroid. Asam galat adalah salah satu komponen fenolik yang merupakan senyawa bioaktif terbesar yang ada ddalam daun suren. Senyawa ini memiliki aktivitas anti kanker dan antioksidan.(Falah, 2015).

c. Teknik Pemanfaatan Buah Suren

Selain batang dan daun pohon suren, buah pohon suren juga dapat digunakan, yaitu sebagai bibit. Buah pohon suren dimanfaatkan dalam proses pembibitan/perbanyakan baik oleh masyarakat sebagai perbanyakan dalam penanaman dilahan sendiri ataupun pengusaha pembibitan. Buah suren dimanfaatkan oleh Bapak Manontu Damanik dalam usaha pembibitannya, dimana bibit akan dijual ke luar daerah dan kepada pihak kehutanan Aek Nauli.

Persemaian bibit suren dilakukan oleh beliau di halaman/pekarangan rumah. Petak semai yang digunakan berukuran 1x5 m. Beliau menyampaikan

bahwa, pada saat musim kemarau benih untuk persemaian diambil dari buah yang telah masak di pohon suren. Karena buah suren ringan dan mudah diterbangkan angin, sehingga sulit mengumpulkan buah dari bawah pohon pilihan, yaitu pohon suren yang pertumbuhannya cepat dengan batang lurus.

Beliau menyampaikan ciri ciri buah suren masak, yaitu warnanya coklat tua. Hal ini sesuai dengan pernyataan Jayusman (2006) yang menyampaikan bahwa buah suren yang telah masak ditandai dengan warna kulit buah berubah dari hijau menjadi coklat tua kusam dan kasar, apabila pecah akan terlihat seperti bintang. Jika pohon suren beliau tidak memiliki buah saat ada pemesanan bibit.

Buah akan dibeli oleh beliau dari masyarakat pemilik pohon suren, dengan harga Rp. 50.000/karung dan diambil sendiri oleh beliau.

Dokumen terkait