• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknik Pengolahan dan Analisis Data

Dalam dokumen PELAKSANAAN PROGRAM TAHFIZ (Halaman 78-0)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

F. Teknik Pengolahan dan Analisis Data

Pengelolaan data merupakan suatu usaha untuk mencari dan menyusun data secara sistematis catatan-catatan observasi, wawancara dan dokumentasi untuk meningkatkan pemahaman peneliti tentang fenomena yang diteliti dan menyajikannya sebagai temuan.6Dalam artian lain, data mentah yang telah dikumpulkan menjadi objek

5Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka Cipta,2006), h. 231.

6Noeng Muhajir, Metodologi Penelitian Kualitatif (Yogyakarta: Rake Sarasin, 1996), h. 67.

62

pengelolaan data berupa proses memeriksa, melengkapi, dan memperbaiki kesalahan-kesalahan atau kekuarangan percatatan melalui proses penelaahan dan penyusunan secara sistematis semua catatan lapangan hasil pengamatan, traskip wawancara, dan bahan-bahan lainnya yang dihimpun untuk memperoleh pengetahuan mengenai data tersebut dan komunikasi terhadap temuan dari sebuah penelitian. Penekanan pendekatan memungkinkan beberapa tahapan pengelolaan yaitu: 1) discovering atau penentusn topik atau masalah; 2) conducting atau mengkaji penelitian-penelitian terdahulu secara komprehensif; 3) constructing yaitu menentukan dan menelaah lokasi penelitian; 4) developing atau proses pengajukan penyataan sebagai metode pengumpulan data; 5) conducting dan recoding yaitu melakukan pendalaman atas data penelitian yang telah didapatkan oleh informan serta 6) organizing dan analyzing yaitu mengorganisasi dan menganalisi data secara utuh dan sistematis, dalam hal ini analisis pengolahan data yang peneliti lakukan adalah dengan menganalisa data hasil observasi, hasil wawancara maupun dokumentasi. Dengan demikian semua data dan informasi disimpulkan kemudian disederhanakan dan diformulasikan menjadi kesimpulan-kesimpulan singkat dan berkaitan dengan penelitian.

2. Teknik Analisis Data

Data yang telah dikumpulkan dari lapangan diolah dengan teknis analisi deskriptif kualitatif. Proses pengolahannya melalui tiga tahapan, yakni reduksi data, penyajian data dan verifikasi atau penarikan kesimpulan.7 Pengolahan dan analisis data dalam penellitian ini, dijelaskan melalui tahapan berikut: 1) Reduksi data merupakan aktivitas memilih dan memilah data yang dianggap relevan dan penting yang ada

7A. Kadir Ahmad, Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Kualitatif (Makassar: Indobs Media Centre, 2003), h. 337.

relevansinya dengan penelitian yang dipeoleh dari lapangan. Seluruh data yang diperoleh dari lapangan, baik dari catatan-catatan pribadi penulis maupun rekaman yang diputar kembali, dipilih sesuai dengan kebutuhan data yang ada kaitannya dengan penelitian.Bagian-bagian yang dianggap pokok dan penting dari wawancara yang direkam, dipilih untuk dijadikan penunjang dalam penulisan; 2) Penyajian data (display data), Agar data yang telah direduksi mudaah dipahami baik oleh peneliti maupun orang lain, maka data tersebut perlu disajikan.Adapun bentuk penyajiannya adalah naratif deskriptif (pengungkapan secara tertulis).8 Penyajian data dalam penelitian ini dilakukan dengan menyajikan hasil penelitian yang inti dan pokok yang telah dipilih sebelumnya dalam bentuk narasi dn dielaborasi dengan hasil-hasil penelitian terdahulu ataupun dari literatur yang relevan dengan data yang disajikan memberikan informasi yang akurat dan memudahkan dalam menariik kesimpulan; 3) Penarikan kesimpulan, yakni merumuskan kesimpulan dari data-data yang sudah direduksi dan disajikan dalam bentuk naratif deskriptif. Penarikan kesimpulan tersebut dilakukan dengan pola induktif, yakni kesimpulan umum yang ditarik dari pernyataan yang bersifat khusus.9 G. Pengujian Keabsahan Data

Uji keabsahan data dalam penelitian, sering hanya ditekankan pada uji validitas dan reliabilitas. Dalam penelitian kualitatif, kriteria utama terhadap data hasil penelitian adalah, valid, reliable dan obyektif. Validitas merupakan derajat ketepatan antara data yang terjadi pada obyek penelitian dengan daya yang dapat dilaporkan oleh

8Sogiyono, Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, h. 249.

9Muhammad Arif Tiro, Masalah dan Hipotesis Penelitian Sosial-Keagamaan (Cet. I;

Makassar: Andira Publiser, 2005), h. 95.

64

peneliti. Dengan demikian data yang valid adalah Data yang tidak berbeda. Maka dari itu kriteria pengujian keabsahan data meliputi:

1. Perpanjangan pengamatan

Perpanjangan pengamatan akan dapat meningkatkan kepercayaan atau kredibilitas data. Dengan perpanjangan pengamatan berarti peneliti kembali kelapangan, melakukan pengamatan, wawancara lagi dengan sumber data yang pernah ditemui maupun yang baru. Dengan perpanjangan ini berarti hubungan peneliti dengan narasumber akan semakin terbentuk rapport, semakin akrab (tidak ada jarak lagi), semakin terbuka, saling mempercayai sehingga tidak ada informasi yang disembunyikan lagi.10 hal yang peneliti lakukan terkait perpanjangan pengamatan yaitu mengumpulkan data tambahan terkait hal yang di teliti oleh naasumber masing-masing untuk penguatan data awal yang sudah di dapatkan

2. Menggunakan bahan referensi

Referensi yang dimaksud disini adalah pendukung untuk membuktikan data yang telah ditemukan oleh peneliti. Sebagai contoh, Data hasil wawancara perlu didukung dengan adanya rekaman wawancara. Data tentang interaksi manusia atau gambaran suatu keadaan perlu didukung oleh foto-foto, alat bantu perekam data dalam penelitian kualitatif, seperti kamera, alat rekam suara yang sangat diperlukan untuk mendukung kredibilitas data yang telah ditemukan oleh peneliti.11

10Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitaif, Kualitatif, dan R&D ,(Bandung: Alfabeta, 2018), h.271.

11Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitaif, Kualitatif, dan R&D, h.275.

Selain itu, proses pengujian keabsahan berfokus data keakuratan, keabsahan, dan kebenaran data yang dikumpulkan dan dianalisis sejak pertama penelitian akanmenentukan kebenaran dan ketetapan hasil penelitian sesuai dengan masalah dan fokus penelitian.12 Agar penelitian yang dilakukan mempunyai hasil yang tepat dan benar sesuai konteksnya dan latar budaya yang sesungguhnya, maka peneliti dalam penelitian kualitatif dapat mempergunakan cara lainnya, seperti meningkatkan ketentuan pengamatan dan melakukan triangulasi sesuai aturan.

12A.Muri Yusuf, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif & Penelitian Gabungan, (Jakarta:

Kencana, 2014) h.394.

66 BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

1. Sejarah Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal-Irsyad) Mattoanging Kabupaten Bantaeng

DDI Mattoanging merupakan salah satu Pondok Pesantren (Ponpes) di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Ponpes DDI berdiri secara formal sejak tahun 1994 di Kampung Mattoanging, Kelurahan Lamalaka, Kecamatan Bantaeng, Kabupaten Bantaeng. Pada awal berdirinya, diinisiasi oleh empat ulama besar di Bantaeng pada tahun 1947 yang mengajar kajian tentang ilmu dalam Islam di kolong rumah dan masjid. empat ulama itu yakni, Abdurrahim (Ambo Tekkeng Guru Baco'), KH Minhaj Benuaj, Abu Daud, dan Ustazah Maryam.

Adapun historitas Kelembagaan/Organisasi Pondok Pesantren Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal-Irsyad) Mattoanging Kabupaten Bantaeng yaitu:

a. Tahun Pelajaran 1994 sebagai Tahap Awal

Awal berdirinya pada Tahun Pelajaran 1994/1995, Pondok Pesantren DDI(Darud Da’wah Wal Irsyad) Mattoanging Bantaeng telah membuka jenjang Pendidikan Formal diantaranya Taman Kanak-Kanak Al-Qur’an (TKA), Madrasah Diniyah (MADIN) sekarang MDT dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), sedangkan Pendidikan Non Formal yakni Pengajian Kitab Kuning dan Majelis Ta’lim.

b. Tahun 1996 sebagai Proses Pengembangan Tahap ke-II

Pada tahun pelajaran 1996/1997, para Pengurus Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal Irsyad) Mattoanging Bantaeng bersama Pihak Yayasan berinisiatif membuka jenjang pendidikan baru yakni Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Aliyah (MA)

c. Tahun 2009 sebagai Proses Pengembangan Tahap ke-III

Pada tahun pelajaran 2009/2010, para pengurus Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal Irsyad) Mattoanging Bantaeng kembali melakukan terobosan dengan membuka jurusan baru lagi yaitu Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS).

2. Visi, Misi dan Tujuan a. Visi

Visi Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal Irsyad) Mattoanging Bantaeng adalah: “Maju Dalam Kebersamaan, Unggul Dalam Prestasi, Bermoral Dalam Aktifitas”

b. Misi

1) Mencetak kader muballigh/muballighah handal

2) Melahirkan santri/santriwati terampil berbahasa Arab dan Inggeris, fashih dalam membaca, menghafal dan menerjemahkan Al-Qur’an

3) Membentuk Insan yang berkepribadian pancasila, berakhlaqul karimah serta bertanggungjawab terhadap bangsa, negara dan agama.

c. Tujuan

Tujuan Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal Irsyad) Mattoanging Bantaeng adalah:

68

1) Menjadikan Bantaeng sebagai Kota Santri dan lumbung Mubhalligh/Muballighah;

2) Melahirkan santri/santriwati terampil berbahasa Arab dan Inggris;

3) Menciptakan santri/santriwati fashih dalam membaca, menghafal dan mampu menerjemahkan Al-Qur’an;

4) Membentuk karakter insan yang berkepribadian pancasila, berakhlaqul karimah serta bertanggungjawab terhadap bangsa, negara dan agama

3. Kualifikasi Pendidikan dan Ciri Khas Kepesantrenan a. Pendidikan Formal dan Non Formal

1) Pendidikan Formal

Kegiatan pendidikan formal (Pagi-Siang) yang di laksanakan oleh Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal Irsyad) Mattoanging Bantaeng adalah:

a) Taman Kanak-kanak Al-Qur’an b) Madrasah Ibtida’iyah Swasta (MIS) c) Madrasah Tsanawiyah (MTs)

d) Sekolah Menengah Pertama Swasta (SMPs) e) Madrasah Aliyah (MA)

2) Pendidikan Non Formal

Kegiatan pendidikan non formal (Sore – Malam) yang di laksanakan oleh Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal Irsyad) Mattoanging Bantaeng adalah Pengajian Kitab Kuning dan Halaqah

b. Ciri Khas Pondok Pesantren

Ciri khas Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal Irsyad) Mattoanging Bantaeng adalah Pengajian Kitab Kuning (Halaqah) atau Pondokan yang dilaksanakan setiap malam antara Magrib dan Isya serta setelah sholat subuh, Pembinaan Ilmu Da’wah, Penggunaan Bahasa Arab dan Inggris sebagai bahasa sehari-hari.

4. Pengembangan Kompetensi Akademik, Keagamaan dan Keterampilan Santri

a. Pengembangan Kompetensi Akademik

1) Tahun pelajaran 1996/1997 pada tingkat Mad. Aliyah dibuka Porgram Study Bahasa;

2) Tahun pelajaran 1998/1999 pada tingkat Mad. Aliyah dibuka Porgram Study IPS;

3) Tahun pelajaran 2002/2003 pada tingkat Mad. Aliyah dibuka lagi Porgram Study baru yakni IPA;

4) Program Kampus Bahasa Arab dan Inggris dilaksanakan sekali dalam 1 tahun pelajaran;

5) Program pelatihan peserta Olimpiade MIPA dilaksanakan sekali dalam 1 tahun pelajaran

b. Pengembangan Kompetensi Keagamaan

1) Program Pelayanan Pengabdian pada Masyarakat diantaranya: dilaksanakan Tilawatil Qur’an, Tilawah Barazanji, Khotbah Jum’at dan Ceramah serta Penasihatan Perkawinan

2) Pengembangan Takhassus Bidang Qira’atul Kutub

70

3) Pengembangan Tajwid, Tilawah dan Tahfiz} Al-Qur’an c. Pengembangan Keterampilan Santri

1) Program Bina Bakat Bidang Bahasa Arab dan Inggris 2) Program Bina Bakat Bidang Kaligrafi

3) Program Bina Bakat Bidang Olahraga dan Seni 5. Dena dan Struktur Organisasi

a) Dena Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal-Irsyad) Mattoanging Kabupaten Bantaeng

Gambar 4.1 Dena Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal-Irsyad) Mattoanging Kabupaten Bantaeng

b) Struktur Organisasi Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal-Irsyad) Mattoanging Kabupaten Bantaeng

Gambar 4.2 Struktur Organisasi Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal Irsyad) Mattoanging Kabupaten Bantaeng

B. Program Tahfiz} AQur’an pada Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal-Irsyad) Mattoanging Kabupaten Bantaeng

Program Tahfiz} Al-Qur’an di Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal-Irsyad) Mattoanging Kabupaten Bantaeng merupakan program pendampingan dan pembinaaan Tahfiz} Al-Qur’an yang senantiasa dilakukan sebagai wadah dalam: 1) Mewujudkan generasi pengamal Al-Qur’an di tengah masyarakat melalui proses kecintaan dan menghafal Al-Qur’an ; 2) Memberikan pelatihan dan pendidikan bagi

72

santri maupun satriwati berupa ilmu khitabah, kepemimpinan dan kepribadian yang religius serta didukung dengan wawasan keilmuan, motivasi pengembangan diri dan keterampilab; 3) Mempersiapkan maupun mencetak tenaga ahli dalam penghafalan Al-Qur’an yang profesional, handal, berahlak dan memiliki daya saing; 4) Berupaya membimbing santri dan satriwati hingga dapat melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi; 5) Menghasilkan para kader imam, khatib dan dai-dai yang senantiasa peduli dengan persoalan kemasyarakatan serta memberi solusi bijak, adil dan cerdas.

Di Pondok Pesantren terdapat tiga macam golongan santri, yaitu: santri yang hanya menghafal Al-Qur’an saja, santri yang hanya sekolah saja, serta santri yang menghafal Al-Qur’an dan sambil sekolah. Mayoritas yang menghafal Al-Qur’an tidak sedang dalam keadaan sambil sekolah, tetapi mereka hanya menghafal Al-Qur’an saja dan ada banyak juga anak mondok yang hanya sekolah saja tanpa menghafal Al- Qur’an. Hal ini dikarenakan dapat mengurangi kuantitas dan kualitas hafalan mereka serta dapat mempengaruhi belajar mereka. Ketiga macam golongan satri tersebut, tentu memiliki perbedaan yang mencolok salah satunya adalah perbedaan kefasihan Al- Qur’an. Perbedaan santri yang masuk program Tahfiz} dengan santri yang tidak masuk program tersebut maupun pendidikan biasanya, sesuai yang diamatinya bahwa santri yang masuk program Tahfiz} Al-Qur’an lebih fasih caranya membaca Al-Qur’an dan bisa mengaji dimana saja walaupun tidak melihat mushab Al-Qur’an .1

1Arifin, Pembina atau Guru Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal-Irsyad) Mattoanging Kabupaten Bantaeng, Wawawancara, Bantaeng, 5 Juli 2021.

Sejalan dengan itu, Pondok Pesantren DDI Mattoanging Kabupaten Bantaeng sebagai wadah yang menyediakan program Tahfiz} memiliki beberapa prasyarat dan metode yang digunakan dalam menciptakan hafidz-hafizah yang berkompeten. Namun demikian, pelaksanaan program Tahfiz} pada Pondok Pesantren DDI Mattoanging Kabupaten Bantaeng dilakukan dalam dua kelompok yaitu kelompok takhssus dan kelompok non takhanassus. Pelaksanaan Tahfiz} di ponpes dibagi kedalam 2 kriteria yaitu kreteria takhassus dan non takhassus.Santri yang masuk Kreteria takhassus merupakan wajib hukumnya menghafal satu halaman dalam satu hari atau satu bulan satu juz sedangkan santri yang non takhassus hanya semampunya saja karena mereka pengikuti proses pembelajaran di kelas2

Santri yang masuk dalam kelompok takhassus ini wajib hukumnya menghafal Al-Qur’an dan mendapat izin untuk tidak mengikuti pembelajaran di kelas. Sedangkan santri non takhassus tidah diwajibkan menghafal Al-Qur’an karena mereka wajib mengikuti proses pembelajaran dikelas.3 Konsekuensi logis dari program Tahfiz} Al-Qur’an takhassus manakala target tidak tercapai, yaitu sikap pimpinan dan guru Tahfiz}

akan mengeluarkan santri dari program Tahfiz} tersebut dan mencabut surat izin untuk tidak ikut belajar dikelas. Artinya santri yang yang dikeluarkan dari program Tahfiz}}

tersebut wajib kembali mengikuti proses Pembelajaran dikelas dan tidak wajib lagi untuk menghafal Al-Qur’an. Sejalan dengan itu, target hafalan bagi santri yang masuk

2ril Parela, Pembina atau Guru Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal-Irsyad) Mattoanging Kabupaten Bantaeng, Wawawancara, Bantaeng, 5 Juli 2021.

3KH. Abd Aris, Lc,Pimpinan Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal-Irsyad) Mattoanging Kabupaten Bantaeng, Wawawancara, Bantaeng, 5 Juli 2021.

74

program Tahfiz} Al-Qur’an yaitu satu halaman setiap hari atau satu juz dalam satu bulan kecuali pada hari libur dan ketika mengikuti kegiatan lain yang berkaitan dengan kegiatan sekolah seperti mengikuti kegiatan semester dan kegiatan lomba.

Adapun persentasi atau jumlah halafan santri baik kelompok takhassus dan non takhassus adalah sebagai berikut:

a. Kelompok Takhassus

Tabel 4.1 Jumlah Hafalan Kelompok Takhassus No Nama Satri Jumlah Hafalan

b. Kelompok Non Takhassus

Tabel 4.2 Jumlah Hafalan Kelompok Non Takhassus No Nama Satri Jumlah Hafalan 6 Andi Nur Fahri Hidayatullah Setengah Juz (Juz 1) 7 Nabil Arkan Setengah Juz (Juz 30)

8 Adel Setengah Juz (Juz 30)

9 Syahrul Setengah Juz (Juz 1)

10 Andika Pratama Setengah Juz (Juz 1) 11 Alif Akbar Setengah Juz (Juz 1) 12 Haikal Faiz Setengah Juz (Juz 1) 13 Hauqil Daim Setengah Juz (Juz 1) 14 Safta Miftahul Fauzi Setengah Juz (Juz 1) 15 Muh Asrar Arham Setengah Juz (Juz 1) 16 Muh Adam Khaliq Setengah Juz (Juz 1) 17 Andi Rehan Faturahman Setengah Juz (Juz 1)

18 Faisal Setengah Juz (Juz 1)

19 Adriansyah Setengah Juz (Juz 1)

Data di atas menunjukkan jumlah santri program takhassus yang terdiri dari santri MTS dan MA dalah 15 orang, sedangkan jumlah santri non takhassus adalah 19 orang. Pada hafalan santri program takhassus bervariasi ada yang 3 juz, 5 juz, 6 juz, 9 Juz dan kebanyakan masih 1 juz dan 2 juz, berbeda dengan hafalan santri non takhassus yaitu rata rata setengah juz atau paling tinggi hafalannya 1 juz yaitu hanya mengfapal juz 30 (juz amma).

Para santri sebelum memulai menghafal mereka hendak berwudhu dan mendapatkan nasehat atau wejangan dari para pembina agar dapat menjadi spirit atau kekuatan untuk tetap istiqamah dalam menghafal Al-Qur’an. Lebih lanjut, waktu untuk menghafal Al-Qur’an bagi santri yang takhassus itu mempunyai jam wajib yaitu pukul 08.00 pagi sampai jam 11.30 wita. Selain itu, diwaktu malam jam wajibnya yaitu pukul 20.00 sampai jam 22.00 wita. Santri sebelum menghafal Al-Qur’an meraka masing-masing berwudhu kemudian menuju ke masjid, ada yang langsung menghafal, ada yang mendaras hafalannya sambil menunggu pembina Tahfiz} nya datang. Dan terkadang sebelum program Tahfiz} dimulai pada malam hari, pembina Tahfiz}

76

memberikan arahan-arahan , nasehat, motivasi kepada para santri.4 Waktu yang paling baik untuk menghafal Al-Qur’an adalah setelah shalat subuh. Namun hal ini tergantung dari pribadi masing-masing santri.Akan tetapi, Pondok Pesantren tetap menetukan waktu wajib menghafal dimulai dari 08.00 sampai jam 11.30 AM hingga di waktu malam dari jam 20.00 sampai jam 22.00 WIT.5

Prinsipnya ketika jam wajib berlangsung semua santri harus masuk dalam program takhassus yang berada di masjid atau tempat yang diindahkan jika menyetor hafalan. Pelaksanaan Tahfiz} biasanya dilaksanakan di masjid atau di sekitar taman pemondokan dengan cara bimbingan tahsin, setoran hafalan tambahan dan melakukan murajaah atau mengulang–ngulang hafalan6

Secara umum, proses pelaksanaan kegiatan Tahfiz} yaitu Pertama. Kegiatan binnadzar/tahsin Al-Qur’an, dimana semua santri yang masuk proram Tahfiz} wajib mengikuti bImbingan binnadzar/tahsin Al-Qur’an artinya inilah santri mendapatkan bimbingan dari pembina dan guru terkauit ilmu tajwid tentang cara membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar. Dimulai dari perbaikan makhraj, ahkamul huruf, ahkam waqaf wal-ibtida, sifat huruf, dan ahkamul mad-nya. Santri tidak diperkanangkan menghafal sebelum dia dianggap lulus dari kegiatan binnadzar tersebut. Ketika santri sudah tuntas binnadzarnya barulah ia mendapat izin dari guru Tahfiz} untuk mengikuti kegiatan yang kedua yaitu bilghaib. Kemampuan santri membaca Al-Qur’an sebelum masuk program Tahfiz} di ponpes DDI mattoanging itu berbeda-beda, ada yang sudah mahir membaca Al-Qur’an, baik dari segi makharijul huruf, mad, dan lain-lainnya.ada

4Angga Saputra, Pembina atau Guru Tahfidz Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal-Irsyad) Mattoanging Kabupaten Bantaeng, Wawawancara, Bantaeng, 5 Juli 2021.

5Andi, Pembina atau Guru Tahfidz Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal-Irsyad) Mattoanging Kabupaten Bantaeng, Wawawancara, Bantaeng, 5 Juli 2021.

6Ardiansyah, Santri Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal-Irsyad) Mattoanging Kabupaten Bantaeng, Wawawancara, Bantaeng, 5 Juli 2021.

yang masih butuh bimbingan tajwid, hal itu dikarenakan mereka berasal dari guru mengaji yang berbeda-beda. Metode yang digunakan yang pertama adalah metode binnadzar (memperhadapkan bacaan Al-Qur’an ke pembina Tahfiz} sebelum menghafal), ini berlaku bagi santri pemula yang belum menguasai tajwid.7 Kemampuan santri membaca Al-Qur’an sebelum bergabung di Tahfiz} ada yang sudah bagus bacaannya dan ada juga yang belum bahkan ada yang hanya bisa mengenali huruf hijaiyah saja.8

Kedua.Kegiatan bilghaib (menghafal) atau Ziadah (menambah hafalan).

Kegiatan berlanjut apabila santri dinyatakan bacaannya sudah bagus, dengan kata lain telah diperbolehkan menghafal Al-Qur’an yang dimulai dari juz 30. Setelah juz 30 sudah dihafal yaitu dari surah an-Naba’ sampai surah an-nas kemudian ia melanjutkan hafalannya ke surah al-Baqarah sampai seterusnya. Dalam kegiatan ini santri diwajibkan untuk menyetor ayat-ayat yang telah dihafalkannya kepada guru Tahfiz}

menimal tiga kali dalam sepekan. Yang kedua metode yang digunakan santri lama adalah dengan cara mereka menghafal sendiri-sendiri kemudian di hadapkan ke pembina Tahfiz}.9

Ketiga, Kegiatan muraja’ah/takrir yaitu kegiatan untuk mengulang-ngulang hafalan yang telah dihafal. Tujaannya adalah agar ayat-ayat yang telah dihafal mampu terpelihara dengan baik didalam dada para santri yang ikut program Tahfiz} tersebut.

7Andi, Pembina atau Guru Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal-Irsyad) Mattoanging Kabupaten Bantaeng, Wawawancara, Bantaeng, 5 Juli 2021

8Aril Parela, Pembina atau Guru Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal-Irsyad) Mattoanging Kabupaten Bantaeng, Wawawancara, Bantaeng, 5 Juli 2021

9Andi, Pembina atau Guru Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal-Irsyad) Mattoanging Kabupaten Bantaeng, Wawawancara, Bantaeng, 5 Juli 2021

78

Metode yang paling utama kami lakukan adalah adalah dengan membaca secara berulang ulang sampai ayat itu dihafal10

Keempat, Kegiatan simaan, kegiatan simaan ini dilaksanakan setiap malam Jum’at dan hari Jum’at. Kegiatan simaan ini dilakukan dengan cara santri membaca Al-Qur’an tanpa melihat mushab dengan disimak oleh guru/santri. Kemudian ditemukan alternatif lain, di Pondok Pesantren juga telah dilakukan Dauroh/pelatihan satu kali dalam setahun yaitu tepatnya pada bulan ramadhan. Dauroh ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas bacaan dan hafalan santri. Cara yang digunakan dalam menghafal Al-Qur’an adalah metode mengulangi bacaan pada ayat yang akan dihafal, dan melakukan takrir atau murajaah, dan juga juga simaan antar sesame teman.11

Metode yang digunakan dalam pelaksanaan Tahfiz} Al-Qur’an pada Pondok Pesantren DDI Mattoanging Kabupaten Bantaeng adalah: a) Talqin atau tasmi. Talqin berarti seorang ustadz atau seorang guru membacakan Al-Qur’an untuk kemudian diikuti oleh para muridnya. Sedangkan metode tasmi’ berarti seorang santri membaca Al-Qur’an untuk didengarkan oleh guru Tahfiz}nya; b) Metode Tikrar. Tikrar berarti mengulang-ulangi bacaan hingga hafal dan c) Metode Muraja’ah.Muraja’ah berarti mengulang-ulangi ayat-ayat telah dihafal untuk melekatkan hafalan secara lebih kuat kedalam benak santri.12

Realitanya, perilaku santri yang program takhassus dalam pembelajaran dan kesehariannya mereka antusias untuk memperbanyak atau menambah hafalan untuk

10Ardiansyah. Santri Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal-Irsyad) Mattoanging Kabupaten Bantaeng, Wawawancara, Bantaeng, 5 Juli 2021

11Atmim Sair, SantriPondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal-Irsyad) Mattoanging Kabupaten Bantaeng, Wawawancara, Bantaeng, 5 Juli 2021

12KH. Abd Haris, Lc, Pimpinan Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal-Irsyad) Mattoanging Kabupaten Bantaeng, Wawawancara, Bantaeng, 5 Juli 2021.

memenuhi target yang yang telah ditentukan oleh pembina Tahfiz} yaitu 1 juz dalam satiu bulan. Sedangkan santri yang non takhassus mereka juga bersemangat untuk menhafal Al-Qur’an walaupun mereka mengikuti proses sejumlah pembelajaran di kelas. Kemampuan santri dalam membaca Al-Qur’an setelah menghafal, saya melihat bacaannya semakin bagus dan fasih karena biasa santri yang menjadi imam shalat berjamaah di mesjid ketika para pembina berhalangan adalah santri dari kalangan

memenuhi target yang yang telah ditentukan oleh pembina Tahfiz} yaitu 1 juz dalam satiu bulan. Sedangkan santri yang non takhassus mereka juga bersemangat untuk menhafal Al-Qur’an walaupun mereka mengikuti proses sejumlah pembelajaran di kelas. Kemampuan santri dalam membaca Al-Qur’an setelah menghafal, saya melihat bacaannya semakin bagus dan fasih karena biasa santri yang menjadi imam shalat berjamaah di mesjid ketika para pembina berhalangan adalah santri dari kalangan

Dalam dokumen PELAKSANAAN PROGRAM TAHFIZ (Halaman 78-0)

Dokumen terkait