• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

E. Teknik Pengolahan Data

Setelah data terkumpul, penulis dalam mengolah data menggunakan pendekatan deskripsi dan dijabarkan dengan menggunakan analisis statistik dengan penyajian tabel. Adapun untuk menghitung skala prosentase digunakan rumus sebagai berikut :

1. Analisis Statistik Deskriptif

Guna memperoleh data penerapan metode diskusi dan motivasi belajar siswa, setelah ditabulasikan data kemudian diolah dengan statistik deskriptif untuk memperoleh harga persentase dengan rumus sebagai berikut :

P = F

N x 100%

Keterangan :

P = Angka persentase

F = Frekuensi yang sering dicari persentasenya

N = Number of case (jumlah frekuensi/banyaknya sampel)36

Sedangkan untuk memudahkan memperoleh skala persentase digunakan dengan ketentuan sebagaimana yang dikemukakan oleh Suharsimi Arikunto sebagai berikut :37

Tabel 3.4.

Skala Persentase

No. Persentase Keterangan

1 86%-100% Sangat baik

2 76%-85% Baik

3 60%-75% Cukup baik

4 55%-59% Kurang baik

5 <54% Kurang sekali

2. Analisis Skor Ideal

Analisis Kriteria Skor ideal, yakni membuat kriteria-kriteria gambaran variabel X1 dan variabel X2 melalui pengelompokkan skor

36 Anas Sudijono, Pengantar Statistik Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001), h.

40-41

37 Suharsimi Arikunto, op.cit., h. 244

masing-masing variabel menggunakan penghitungan Kriteria Skor Ideal menurut Dahlia dalam Riduwan yaitu:

𝑍 π‘–π‘‘π‘’π‘Žπ‘™ + 𝑍 (𝑆𝐷 π‘–π‘’π‘‘π‘Žπ‘™)

Data penelitian variabel X1 dan variabel X2 dibagi menjadi tiga kategori yang didasarkan pada kriteria ideal dengan ketentuan sebagai berikut:

a. Kategori I : berada pada luas daerah kurva sebesar 27%

atau sebesar 0,73 kurva normal dengan Z=0,61.

b. Kategori II : berada pada luas daerah kurva sebesar 46%

atau letaknya terentang antara 0,72 kurva normal dengan Z=

-0,61 sampai dengan Z=+0,61.

c. Kategori III: berada pada luas daerah kurva sebesar 27%

atau 0,23 kurva normal dengan Z= -0,61.

Jika dikonversikan dengan rumus di atas, maka didapat kriteria sebagai berikut :

Xβ‰₯Xid+0,61sd adalah tinggi/baik Xid-0,61sd<X<Xid+o,61sd adalah sedang X≀Xid-0,61sd adalah kurang Dengan ketentuan:

Xid : Β½ skor maksimal Sdid : 1/3 Xid38

3. Uji Normalitas Data

Untuk uji normalitas data rumus yang digunakan adalah sebagai

f0 = Frekuensi yang diperoleh fh = Frekuensi yang diharapkan39

38 Riduwan, opcit., h. 215

b. Uji Z

𝑍 =

π‘₯ π‘›βˆ’ 𝑝

𝑝 1βˆ’π‘ 𝑛

Keterangan :

x = banyak data yang termasuk kategori hipotesis n = banyak data

p = proporsi pada hipotesis40 4. Uji Homogenitas

Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah data dalam variabel X1 dan variabel X2 bersifat homogen atau tidak. Adapun ketentuan homogen atau tidaknya adalah dengan membandingkan hasil uji Fhitung dengan Ftabel. Adapun ketentuannya adalah sebagai berikut : a. Jika Fhitung< Ftabel, berarti homogen.

b. Jika Fhitung> Ftabel, berarti tidak homogen.

Sedangkan rumus yang digunakan sebagai berikut : 𝐹 =𝑆12

𝑆22 Keterangan : S12

= Varians Kelompok Data X1 S22

= Varians Kelompok Data X2

39 Subana, dkk, Statistik Pendidikan, (Bandung: Pustaka Setia, 2000), h. 124

40 Ibid., h. 128

5. Uji T-Test

𝑑0 = 𝑀𝐷 𝑆𝐸𝑀𝐷 Keterangan :

t0 = Nilai T-Test

MD = Mean difference, dimana rumusnya adalah = 𝑀𝐷 = 𝐷

𝑁

SEMD = Standard Error (standar kesalahan) dari mean difference.

Dimana rumusnya adalah : 𝑆𝐸𝑀𝐷 = 𝑆𝐷𝐷

𝑁 βˆ’ 1

SDD = Deviasi standart dari perbedaan antara skor variabel X1 dan skor variabel X2 yang dapat diperoleh dengan rumus :

𝑆𝐷𝐷 = 𝐷2

𝑁 βˆ’ 𝐷 𝑁

2

N = Number of cases (jumlah sampel)41 6. Uji Hipotesis

Untuk pengujian hipotesis menggunakan kriteria sebagai berikut:

a. Jika thitung> ttabel, maka H0 ditolak artinya signifikan.

b. Jika thitung< ttabel, maka H0 diterima artinya tidak signifikan.

41 Moh Hariyadi, Statistik Pendidikan, (Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher, 2009), h. 182-183

45 A. Deskripsi Data

Penelitian ini berusaha menjawab masalah tentang apakah terdapat perbedaan kemampuan berbicara anak di Kelompok A RA Al-Falah Karangwangi Kecamatan Depok Kabupaten Cirebon sebelum dan sesudah penerapan metode bercerita? Hasil penelitian merupakan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan penelitian yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, hasil penelitian ini diawali dengan deskripsi dari gambaran setiap variabel (variabel X1 dan Variabel X2) yang dilanjutkan dengan deskripsi tentang hasil analisis data.

1. Gambaran Variabel X1 (Kemampuan Berbicara Anak di Kelompok A RA Al-Falah Karangwangi Kecamatan Depok Kabupaten Cirebon Sebelum Penerapan Metode Bercerita)

Data variabel X1 yaitu kemampuan berbicara anak di Kelompok A RA Al-Falah Karangwangi Kecamatan Depok Kabupaten Cirebon sebelum penerapan metode bercerita diperoleh dari hasil observasi terhadap 25 anak. Proses observasi dilaksanakan ketika proses pembelajaran berlangsung. Hanya saja dalam proses pembelajaran ini, peneliti belum menggunakan metode bercerita dalam menyampaikan materi pembelajaran di hadapa anak-anak.

Proses pembelajaran yang diterapkan pada tahap ini adalah pembelajaran dengan menggunakan media gambar yang terdiri dari gambar hewan, tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan. Peneliti pada tahap ini hanya meminta anak-anak untuk menyebutkan dan menunjukkan nama-nama gambar tersebut satu persatu di depan kelas dan sikapnya dalam menyampaikan informasi tersebut kepada teman yang lainnya sehingga teman yang lainnya memahami maksud dari informasi yang disampaikannya. Alasannya, dengan menyampaikan informasi di depan kelas anak-anak terbiasa berkomunikasi yang merupakan bentuk dari kemampuan berbicara anak.

Tes kemampuan berbicara anak pada awal sebelum menggunakan metode bercerita peneliti buat dalam bentuk tes sebagai berikut :

Tabel 4.1.

Tes Kemampuan Berbicara Sebelum Menggunakan Metode Bercerita

b. Anak menyebutkan nama-nama gambar yang di tempel di papan kelas yang terdiri dari :

1) Gambar buah-buahan nama-namanya yang tertulis di bawah!

Anak mencocokkan dan

menempelkan nama-nama gambar berdasarkan gambar yang sudah ditempelkan.

b. Sambil menunjukkan gambar anak menyebutkan nama gambar yang ditunjukkan kepada teman-temannya.

Ketika tes kemampuan berbicara sebagaimana soal tes yang digunakan tersebut berjalan, pada saat bersamaan peneliti juga melakukan observasi terhadap kemampuan berbicara anak berdasarkan indikator-indikator yang telah ditentukan. Adapun hasilnya sebagai berikut :

Tabel 4.2.

Kemampuan Berbicara Anak di Kelompok A RA Al-Falah Karangwangi Kecamatan Depok Kabupaten Cirebon Sebelum

Penerapan Metode Bercerita (Pre-Test)

No. Nilai Indikator Kemampuan Berbicara A B C D E F G H I J Jml

20 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 20

A. Menjawab pertanyaan yang lebih kompleks.

B. Berkomunikasi secara lisan.

C. Memiliki perbendaharaan kata.

D. Menggabungkan bunyi bahasa.

E. Menyusun kalimat sederhana dalam struktur lengkap.

F. Dapat berpartisipasi dalam suatu percakapan.

G. Dapat menggunakan kalimat secara sederhana.

H. Mengenalkan kalimat melalui cerita dan nyanyian.

I. Menanggapi pembicaraan orang lain.

J. Menungkapkan ide-ide secara sederhana.

Skor 1 : Jika aspek perkembangan anak belum berkembang (BB).

Skor 2 : Jika aspek perkembangan anak mulai berkembamg (MB).

Skor 3 : Jika aspek perkembangan anak berkembang sesuai harapan (BSH).

Skor 4 : Jika aspek perkembangan anak berkembang sangat baik (BSB).

Nilai rata-rata pada tabel 4.2. yang dicantumkan sebelumnya diperoleh berdasarkan hasil penghitungan dari jumlah total nilai kemampuan berbicara anak Kelompok A RA Al-Falah Karangwangi Kecamatan Depok Kabupaten Cirebon sebesar 186 yang dibagi dengan jumlah sampel (anak) yaitu sebesar 25 anak, sehingga hasilnya adalah : 432 : 25 = 17,28.

Guna menjawab pertanyaan penelitian pertama yakni kemampuan berbicara anak di Kelompok A RA Al-Falah Karangwangi Kecamatan Depok Kabupaten Cirebon sebelum penerapan metode bercerita digunakan Analisis Kriteria Skor ideal, yakni membuat kriteria-kriteria gambaran variabel X1 melalui pengelompokkan skor masing-masing variabel menggunakan Kriteria Skor Ideal yaitu :

𝐙 𝐒𝐝𝐞𝐚π₯ + 𝐙 (𝐒𝐃 𝐒𝐝𝐞𝐚π₯)

Data penelitian dibagi menjadi tiga kategori yang didasarkan pada kriteria ideal dengan ketentuan sebagai berikut :

Kategori I : berada pada luas daerah kurva sebesar 27% atau sebesar 0,73 kurva normal dengan Z=0,61.

Kategori II : berada pada luas daerah kurva sebesar 46% atau letaknya terentang antara 0,72 kurva normal dengan Z= -0,61 sampai dengan Z=+0,61.

Kategori III : berada pada luas daerah kurva sebesar 27% atau 0,23 kurva normal dengan Z= -0,61.

Jika dikonversikan dengan rumus di atas, maka didapat kriteria sebagai berikut:

Xβ‰₯Xid+0,61sd adalah tinggi/baik Xid-0,61sd<X<Xid+o,61sd adalah sedang/cukup X≀Xid-0,61sd adalah kurang

Dengan ketentuan :

Xid : Β½ skor maksimal Sdid : 1/3 Xid

Berdasarkan rumus-rumus kategori di atas, maka asumsi statistik untuk variabel X1 (Kemampuan berbicara anak di Kelompok A RA Al-Falah Karangwangi Kecamatan Depok Kabupaten Cirebon sebelum penerapan metode bercerita) perhitungannya adalah sebagai berikut:

Skor ideal : 10 x 4 = 40 Xid : Β½ X 40 = 20 Sdid : 1/3 X 20 = 6,7

Berdasarkan hasil perhitungan di atas selanjutnya dilakukan perhitungan, maka kategori-kategori untuk variabel kemampuan berbicara anak di Kelompok A RA Al-Falah Karangwangi Kecamatan Depok Kabupaten Cirebon sebelum penerapan metode bercerita adalah sebagai berikut :

Kategori dirasakan tinggi = Xβ‰₯20 + 0,61(6,7)=Xβ‰₯24,1 Kategori cukup dirasakan = 20 - 0,61(6,7)<X<20 + 0,61(6,7)

= 15,9 – 24,1

Kategori kurang dirasakan = X≀20 - 0,61(6,7)= X≀ 15,9

Berdasarkan kategorisasi di atas, maka gambaran variabel kemampuan berbicara anak di Kelompok A RA Al-Falah Karangwangi Kecamatan Depok Kabupaten Cirebon sebelum penerapan metode bercerita sebagai berikut:

Tabel 4.3

Kemampuan Berbicara Anak di Kelompok A RA Al-Falah Karangwangi Kecamatan Depok Kabupaten Cirebon Sebelum

Penerapan Metode Bercerita (Pre-Test)

Kategori Rentang Skor f %

Tinggi X β‰₯ 24 4 16%

Cukup Tinggi 16 – 23 9 36%

Kurang Tinggi X ≀ 15 12 48%

Jumlah 25 100%

Berdasarkan Tabel di atas, maka dapatlah disimpulkan bahwa 16%

anak yang memiliki kemampuan berbicara termasuk dalam kategori tinggi. Sebanyak 36% anak memiliki kemampuan berbicara dalam kategori cukup tinggi. Dan sisanya yakni 48% anak memiliki kemampuan berbicara termasuk kategori kurang.

Apabila dilihat dari Mean (rata-rata) data variabel X1 yang mencapai angka 17,28 maka berdasarkan hasil kategori analisis skor ideal di atas adalah kurang karena sebagian besar (48%) kemampuan berbicara anak masih berada pada kategori kurang tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan berbicara anak di Kelompok A RA Al-Falah Karangwangi Kecamatan Depok Kabupaten Cirebon sebelum penerapan metode bercerita termasuk dalam kategori kurang tinggi.

2. Gambaran Variabel X2 (Kemampuan Berbicara Anak di Kelompok A RA Al-Falah Karangwangi Kecamatan Depok Kabupaten Cirebon Sesudah Penerapan Metode Bercerita)

Data variabel X2 yaitu kemampuan berbicara anak di Kelompok A RA Al-Falah Karangwangi Kecamatan Depok Kabupaten Cirebon sesudah penerapan metode bercerita diperoleh dari hasil observasi kepada 25 anak.

Proses observasi dilaksanakan ketika proses pembelajaran berlangsung.

Dalam proses pembelajaran ini, peneliti menggunakan metode bercerita dalam menyampaikan materi pembelajaran di hadapan anak-anak selain itu anak-anak diminta untuk bercerita di depan kelas yaitu menceritakan kembali isi cerita yang peneliti sampaikan sebelumnya. Ketika anak-anak bercerita di depan kelas akan diketahui tingkat kemampuan berbicaranya berdasarkan indikator-indikator yang telah disesuaikan.

Bentuk soal tes bercerita yang digunakan peneliti untuk mengetahui kemampuan berbicara anak adalah sebagai berikut :

Tabel 4.4.

Anak menunjukkan gambar buah, tumbuhan atau hewan yang berhubunan dengan judul cerita.

a. Gambar bawang merah dan bawang putih.

b. Gambar si Kancil

c. Gambar Timun Mas 3

Sampaikanlah isi cerita berdasarkan judul

a. Memberikan penjelasan ringkas isi cerita yang disampaikan.

b. Memberikan tujuan dari cerita yang disampaikan.

5

Tutuplah cerita yang disampaikan!

a. Memberikan salam penutup.

b. Mengucapkan terima kasih kepada pendengar.

Sebagaimana dikemukakan sebelumnya bahwa ketika anak-anak bercerita di depan kelas dengan cara sebagaimana yang tercantum dalam soal tes bercerita tersebut, maka pada saat bersamaan juga peneliti melakukan observasi (penilaian) terhadap kemampuan berbicara anak yang terkandung dalam unsur-unsur bercerita yang sedang dilakukan anak berdasarkan indikator-indikator kemampuan yang sudah ditentukan sebelumnya. Dan adapun hasilnya sebagai berikut:

Tabel 4.5.

Kemampuan Berbicara Anak di Kelompok A RA Al-Falah Karangwangi Kecamatan Depok Kabupaten Cirebon

Sesudah Penerapan Metode Bercerita (Post-Test)

No. Nilai Indikator Kemampuan Berbicara A B C D E F G H I J Jml

8 2 2 2 2 2 1 1 1 4 4 21

A. Menjawab pertanyaan yang lebih kompleks.

B. Berkomunikasi secara lisan.

C. Memiliki perbendaharaan kata.

D. Menggabungkan bunyi bahasa.

E. Menyusun kalimat sederhana dalam struktur lengkap.

F. Dapat berpartisipasi dalam suatu percakapan.

G. Dapat menggunakan kalimat secara sederhana.

H. Mengenalkan kalimat melalui cerita dan nyanyian.

I. Menanggapi pembicaraan orang lain.

J. Menungkapkan ide-ide secara sederhana.

Skor 1 : Jika aspek perkembangan anak belum berkembang (BB).

Skor 2 : Jika aspek perkembangan anak mulai berkembamg (MB).

Skor 3 : Jika aspek perkembangan anak berkembang sesuai harapan (BSH).

Skor 4 : Jika aspek perkembangan anak berkembang sangat baik (BSB).

Nilai rata-rata pada tabel 4.5. yang dicantumkan sebelumnya diperoleh berdasarkan hasil penghitungan dari jumlah total nilai kemampuan berbicara anak Kelompok A RA Al-Falah Karangwangi Kecamatan Depok Kabupaten Cirebon sebesar 755 yang dibagi dengan jumlah sampel (anak) yaitu sebesar 25 anak, sehingga hasilnya adalah : 755 : 25 = 30,2.

Guna menjawab pertanyaan penelitian kedua yakni gambaran kemampuan berbicara anak di Kelompok A RA Al-Falah Karangwangi Kecamatan Depok Kabupaten Cirebon sesudah penerapan metode bercerita digunakan Analisis Kriteria Skor Ideal, yakni membuat kriteria-kriteria gambaran variabel X2 melalui pengelompokkan skor masing-masing variabel menggunakan Kriteria Skor Ideal yaitu:

𝐙 𝐒𝐝𝐞𝐚π₯ + 𝐙 (𝐒𝐃 𝐒𝐝𝐞𝐚π₯)

Data penelitian dibagi menjadi tiga kategori yang didasarkan pada kriteria ideal dengan ketentuan sebagai berikut :

Kategori I : berada pada luas daerah kurva sebesar 27% atau sebesar 0,73 kurva normal dengan Z=0,61.

Kategori II : berada pada luas daerah kurva sebesar 46% atau letaknya terentang antara 0,72 kurva normal dengan Z= -0,61 sampai dengan Z=+0,61.

Kategori III : berada pada luas daerah kurva sebesar 27% atau 0,23 kurva normal dengan Z= -0,61.

Jika dikonversikan dengan rumus di atas, maka didapat kriteria sebagai berikut:

Xβ‰₯Xid+0,61sd adalah tinggi/baik Xid-0,61sd<X<Xid+o,61sd adalah sedang/cukup

X≀Xid-0,61sd adalah kurang

Dengan ketentuan :

Xid : Β½ skor maksimal Sdid : 1/3 Xid

Berdasarkan rumus-rumus kategori di atas, maka asumsi statistik untuk variabel X2 (kemampuan berbicara anak di Kelompok A RA Al-Falah Karangwangi Kecamatan Depok Kabupaten Cirebon sesudah penerapan metode bercerita) perhitungannya adalah sebagai berikut:

Skor ideal : 10 x 4 = 40 Xid : Β½ X 40 = 20 Sdid : 1/3 X 20 = 6,7

Berdasarkan hasil perhitungan di atas selanjutnya dilakukan perhitungan, maka kategori-kategori untuk variabel kemampuan berbicara anak di Kelompok A RA Al-Falah Karangwangi Kecamatan Depok Kabupaten Cirebon sesudah penerapan metode bercerita adalah sebagai berikut :

Kategori dirasakan tinggi = Xβ‰₯20 + 0,61(6,7)=Xβ‰₯24,1 Kategori cukup dirasakan = 20 - 0,61(6,7)<X<20 + 0,61(6,7)

= 15,9 – 24,1

Kategori kurang dirasakan = X≀20 - 0,61(6,7)= X≀ 15,9

Berdasarkan kategorisasi di atas, maka gambaran variabel kemampuan berbicara anak di Kelompok A RA Al-Falah Karangwangi

Kecamatan Depok Kabupaten Cirebon sesudah penerapan metode bercerita adalah sebagai berikut :

Tabel 4.6

Kemampuan Berbicara Anak di Kelompok A RA Al-Falah Karangwangi Kecamatan Depok Kabupaten Cirebon

Sesudah Penerapan Metode Bercerita (Pre-Test)

Kategori Rentang Skor f %

Tinggi X β‰₯ 24 19 76%

Cukup Tinggi 16 – 23 3 12%

Kurang Tinggi X ≀ 15 3 12%

Jumlah 25 100%

Berdasarkan Tabel di atas, maka dapatlah disimpulkan bahwa 76%

anak memiliki kemampuan berbicara termasuk dalam kategori tinggi.

Sebanyak 12% anak memiliki kemampuan berbicara dalam kategori cukup tinggi. Dan sisanya yakni 12% anak memiliki kemampuan berbicara termasuk kategori kurang tinggi.

Apabila dilihat dari Mean (rata-rata) data variabel X2 yang mencapai angka 30,2 maka berdasarkan hasil kategori analisis skor ideal di atas adalah tinggi dikarenakan sebagian besar (76%) kemampuan anak berada pada kategori kemampuan yang tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan berbicara anak di Kelompok A RA Al-Falah Karangwangi Kecamatan Depok Kabupaten Cirebon sesudah penerapan metode bercerita termasuk dalam kategori tinggi.

B. Pengujian Persyaratan Analisis

Tahap analisis pengolahan data dilakukan dengan statistik komparasi (perbandingan), khususnya untuk menjawab pertanyaan penelitian ke tiga, yaitu seberapa besar perbedaan kemampuan berbicara anak di Kelompok A RA Al-Falah Karangwangi Kecamatan Depok Kabupaten Cirebon sebelum dan sesudah penerapan metode bercerita? Sesuai dengan karakteristik hipotesis nol (Ho) penelitian ini yang menyatakan bahwa, β€œTidak terdapat perbedaan kemampuan berbicara anak di Kelompok A RA Al-Falah Karangwangi Kecamatan Depok Kabupaten Cirebon sebelum dan sesudah penerapan metode bercerita”, maka analisis statistik yang digunakan adalah menggunakan analisis uji β€œt test”. Analisis ini menuntut prasyarat analisis seperti: datanya bersifat interval atau ratio, data dipilih secara acak, datanya berdistribusi normal, dan data yang dihubungkan mempunyai pasangan yang sama sesuai dengan subjek yang sama. Oleh karena itu di bawah ini berturut-turut dilakukan pengolahan data statistik yang meliputi: Analisis Uji Normalitas Distribusi Data; dan kemudian dilanjutkan dengan analisis uji β€œt test”.

Uji Normalitas Distribusi frekuensi dilakukan untuk mengetahui normal atau tidaknya distribusi data yang menjadi persyaratan untuk menggunakan analisis uji β€œtest”. Data yang diuji adalah data tentang variabel X1 dan variabel X2 yang pengujiannya menggunakan rumus Chi-kuadrat sebagai berikut :

1. Uji Normalitas Distribusi Variabel X1

Untuk mengetahui apakah variabel X1 berdistribusi normal atau tidak maka perlu diuji menggunakan rumus Chi-Kuadrat, dengan kriteria keputusan jika πœ’2hitung≀ πœ’ 2tabel maka sebaran data berdistribusi normal.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada langkah-langkah berikut : a. Range (R) = Skor Tertinggi – Skor Terendah Berdasarkan tabel tersebut di atas selanjutnya ditentukan:

d. M = Ζ’ixiΖ’i = 388.525 = 15,54 e. π‘€π‘œ = 𝑏 + 𝑝 𝑏1

𝑏1+𝑏2

= 11,5 + 2 8

Menghitung Kenormalan Data Variabel X1

Kelas Interval Batas Z skor Batas

-0.8875 3.8875 15.11266 -17.02834507 13.5 -0.09107143 0.0359

3 14-15 -0.0359 4

-0.8975 4.8975 23.98551 -26.72479805 15.5 -0.00178571 0 19.5 0.176785714 0.0714

6 20-21 -0.035 8 -0.875 8.875 78.76563 -90.01785714

21.5 0.270417423 0.1064

7 22-23 -0.0342 2 -0.855 2.855 8.151025 -9.533362573

23.5 0.361161525 0.1406

25 -4.35 19.35 117.7797 -144.3694252

Berdasarkan tabel di atas didapat harga ChiKuadrat hitung sebesar --144,37, sedangkan harga Chi-Kuadrat tabel pada Ξ± = 5% dengan dk = 7-1 = 6 yaitu sebesar 7-12,59. Dengan demikian Ο‡2hitung < Ο‡2tabel, yaitu -144,37

< 12,59, hasil ini dapat disimpulkan bahwa skor variabel X1 berasal dari populasi yang berdistribusi normal.

Tabel 4.9.

Hasil Uji Normalitas Data Variabel X1

Uji Normalitas 𝝌2hitung 𝝌2tabel Keputusan Variabel X1 -144,37 12,59 Berdistribusi

Normal 2. Uji Normalitas Distribusi Variabel X2

Untuk mengetahui apakah variabel X2 berdistribusi normal atau tidak maka perlu diuji menggunakan rumus Chi-Kuadrat, dengan kriteria keputusan jika πœ’2hitung ≀ πœ’2tabel maka sebaran data berdistribusi normal.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada penjelasan sebagai berikut : a. Range (R) = Skor Tertinggi – Skor Terendah

= 40 - 30 = 10

b. Banyak Kelas (BK) = 1 + 3,3 log n

= 1 + 3,3 log 25

= 5,6

c. Panjang Interval (P) 𝑃 = 𝑅

𝐡𝐾 = 10

5,6= 1,78 (π‘‘π‘–π‘π‘’π‘™π‘Žπ‘‘π‘˜π‘Žπ‘› = 2)

Tabel 4.10. Berdasarkan tabel tersebut di atas selanjutnya ditentukan:

d. M = Ζ’ixi

Tabel 4.11.

Menghitung Kenormalan Data Variabel X2

Kelas Interval Batas Z skor Batas

35.5 0.068558584 0.4404

4 36-37 0.4364 7 10.91 -3.91 15.2881 1.401292392

37.5 0.124754144 0.004

5 38-39 0.0674 3 1.685 1.315 1.729225 1.026246291

39.5 0.180949705 0.0714

6 40-41 0.0234 2 0.585 1.415 2.002225 3.422606838

41.5 0.237145266 0.0948

8.44 25 27.69 -2.69 168.0289 -0.621793185

Berdasarkan tabel di atas didapat harga ChiKuadrat hitung sebesar -0,623, sedangkan harga Chi-Kuadrat tabel pada Ξ± = 5% dengan dk = 6-1

= 5 yaitu sebesar 11,07. Dengan demikian Ο‡2hitung < Ο‡2tabel, yaitu -0,623 <

11,07, hasil ini dapat disimpulkan bahwa skor variabel X2 berasal dari populasi yang berdistribusi normal.

Tabel 4.12.

Hasil Uji Normalitas Data Variabel X2

Uji Normalitas 𝝌 2hitung 𝝌 2tabel Keputusan Variabel X2 -0,623 11,07 Berdistribusi

Normal 3. Uji Homogenitas Data

Pengujian homogenitas dimaksudkan untuk memberikan keyakinan bahwa sekumpulan data yang dimanipulasi dalam serangkaian analisis

memang berasal dari populasi yang tidak jauh berbeda keragamannya.

Khusus untuk studi korelatif yang sifatnya prediktif, model yang digunakan harus fit (cocok) dengan komposisi dan distribusi datanya.

Goodness of fit model tersebut secara statistika dapat diuji setelah model

prediksi diperoleh dari perhitungan. Model yang sesuai dengan keadaan data adalah apabila simpangan estimasinya mendekati 0. Untuk mendeteksi agar penyimpangan estimasi tidak terlalu besar, maka homogenitas variansi kelompok-kelempok populasi dari mana sampel diambil, perlu diuji. Adapun proses penghitungan datanya adalah sebagai berikut :

a. Uji Varians Data X1

Berdasarkan data variabel X1 di ketahui bahwa jumlah data (n)

= 25, dan (n-1) = 24. Selanjutnya dapat dihitung komponen untuk rumus varian sebagai berikut :

Tabel 4.13.

Penolong Penghitungan Varians Data X1

No. Xi Xi2

14 20 400

Dari tabel tersebut diketahui : π‘₯𝑖 = 376 hasilnya adalah sebagai berikut :

𝑠2 = 𝑛 𝑛𝑖=1π‘₯𝑖2βˆ’ 𝑛𝑖=1π‘₯1 2

Dari penghitungan, diperoleh nilai varian X1 sama dengan 22,04.

b. Uji Varians Data X2

Berdasarkan data variabel X2 di ketahui bahwa jumlah data (n)

= 25, dan (n-1) = 24. Selanjutnya dapat dihitung komponen untuk rumus varian sebagai berikut :

Tabel 4.14.

Penolong Penghitungan Varians Data X2

No. Xi Xi2

Dari tabel tersebut diketahui : hasilnya adalah sebagai berikut :

𝑠2 = 𝑛 𝑛𝑖=1π‘₯𝑖2βˆ’ 𝑛𝑖=1π‘₯2 2

Dari penghitungan, diperoleh nilai varian X2 sama dengan 8,04.

c. Langkah Pengujian

Varians dari setiap kelompok sampel adalah sebagai berkut : 1) Varians dari kelompok data X1, S12

= 5,27 dengan dk=25–1 =24.

2) Varians dari kelompok data X2, S22

= 121,25 dengan dk=25–1

=24.

Selanjutnya adalah menghitung nilai Fhitung, sebagai berikut : 𝐹 =𝑆12

𝑆22 =5,37

8,04= 0,668

Melihat nilai Ftabel, dengan dk1 =24 dan dk2 =24 pada =5% yaitu:

Ftabel (0,05; 25; 24) = 2,02.

Karena Fhitung < Ftabel (0,05; 24; 24) yaitu 0,668 < 2,02, maka Terima Ho. Hal ini bermakna, bahwa varians skor data kepercayaan diri anak sebelum penerapan metode bercerita (X1) dengan varians skor data kepercayaan diri anak sesudah penerapan metode bercerita (X2) homogen pada taraf kepercayaan 95%.

C. Pengujian Hipotesis (Test β€œt”)

Analisis ini digunakan untuk mengetahui perbedaan hasil (perbandingan) antara variabel X1 dengan variabel X2. Lambang dalam T-Test adalah β€œt”

atau t0, dan rumus yang digunakan dalam mencarinya adalah : 𝑑0 = 𝑀𝐷

𝑆𝐸𝑀𝐷 Keterangan :

t0 = Nilai T-Test

MD = Mean difference, dimana rumusnya adalah = 𝑀𝐷 = 𝐷

𝑁

SEMD = Standard Error (standar kesalahan) dari mean difference.

Dimana rumusnya adalah : 𝑆𝐸𝑀𝐷 = 𝑆𝐷𝐷

𝑁 βˆ’ 1

SDD = Deviasi standart dari perbedaan antara skor variabel X1 dan skor variabel X2 yang dapat diperoleh dengan rumus :

𝑆𝐷𝐷 = 𝐷2

𝑁 βˆ’ 𝐷 𝑁

2

N = Number of cases (jumlah sampel)

Adapun langkah-langkah yang harus ditempuh untuk mengetahui analisis komparasi (perbandingan) tersebut di atas adalah sebagai berikut:

1. Mencari perbedaan antara nilai variabel X1 dan nilai variabel X2 dengan rumus D=X1-X2.

2. Menjumlahkan semua perbedaan D sehingga menjadi βˆ‘ D.

3. Kemudian mengkuadratkan nilai perbedaan (D =) atau (X1-X2).

4. Menjumlahkan semua D2 menjadi βˆ‘ D2.

Hasilnya penghitungannya dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 4.15.

Perbedaan Kemampuan Berbicara anak di Kelompok A RA Al-Falah Karangwangi Kecamatan Depok Kabupaten Cirebon Sebelum dan

Sesudah Penerapan Metode Bercerita

No.

Kemampuan Berbicara D D2 Sebelum

15 10 32 -22 484

5. Mencari mean perbedaan (D) 𝑀𝐷 = 𝐷

𝑁 𝑀𝐷 = βˆ’500

25 = βˆ’20

6. Mencari deviasi standart perbedaan (D)

𝑆𝐷𝐷 = 𝐷2

7. Mencari standar error dari MD 𝑆𝐸𝑀𝐷 = 𝑆𝐷𝐷

𝑁 βˆ’ 1

𝑆𝐸𝑀𝐷 = 5,514 25 βˆ’ 1 𝑆𝐸𝑀𝐷 = 5,514

24 𝑆𝐸𝑀𝐷 = 5,514

4,898 𝑆𝐸𝑀𝐷 = 1,126 8. Mencari T-Test (t0)

𝑑0 = 𝑀𝐷 𝑆𝐸𝑀𝐷 𝑑0 = βˆ’20 1,126

𝑑0 = βˆ’17,762 (tanda min diabaikan)

Memperhatikan hasil penghitungan t0 = 17,762 yang kemudian dibandingkan dengan ttabel pada db = N-2 = 25-2 = 23 pada taraf signifikan 5% (0,05) didapatkan nilai ttabel = 1,714. Dengan demikian jika membandingkan t0 yang dihitung sebesar 17,762 dan ttabel yang telah baku sebesar 1,714, maka dapat diketahui bahwa t0 lebih besar dari ttabel (t0 > ttabel) yaitu 17,762 > 1,714. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan kemampuan berbicara anak di Kelompok A RA Al-Falah Karangwangi Kecamatan Depok Kabupaten Cirebon sebelum dan sesudah penerapan metode bercerita. Adapun besar perbedaannya adalah dengan membuat selisih prosentase kemampuan berbicara anak sesudah dan sebelum penerapan metode bercerita yaitu : 100% - 40% = 60%. Dengan demikian dapat dibuat kesimpulan berdasarkan besar perbedaan kemampuan berbicara anak sebelum

dan sesudah penerapan metode bercerita, ternyata kemampuan berbicara anak lebih baik ketika metode bercerita diterapkan dalam proses pembelajaran.

Hasil ini juga sekaligus membuktikan bahwa penerapan metode bercerita lebih efektif dalam meningkatkan kemampuan berbicara pada Kelompok A RA Al-Falah Karangwangi Kecamatan Depok Kabupaten Cirebon.

D. Pembahasan Hasil Penelitian

Setelah dilakukan penelitian terhadap perbedaan kemampuan berbicara anak di Kelompok A RA Al-Falah Karangwangi Kecamatan Depok Kabupaten Cirebon sebelum dan sesudah penerapan metode bercerita maka hasil dari penelitian tersebut sebagaimana dijelaskan berikut :

Pertama, kemampuan berbicara anak di Kelompok A RA Al-Falah

Karangwangi Kecamatan Depok Kabupaten Cirebon sebelum penerapan metode bercerita berdasarkan hasil analisis data diperoleh rata-rata nilai sebesar 17,28. Sedangkan berdasarkan hasil analisis skor ideal didapatkan prosentase sebesar 48% pada kategori kemampuan berbicara anak kurang

Karangwangi Kecamatan Depok Kabupaten Cirebon sebelum penerapan metode bercerita berdasarkan hasil analisis data diperoleh rata-rata nilai sebesar 17,28. Sedangkan berdasarkan hasil analisis skor ideal didapatkan prosentase sebesar 48% pada kategori kemampuan berbicara anak kurang

Dokumen terkait