METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian
H. Teknik Pengumpulan Data
I. Teknik Pengujian Instrumen
Suatu instrumen adalah suatu pengukuran konsep, pengetahuan, keterampilan perasaan, kecerdasan, atau sikap individu dan kelompok, (Sumanto, 2014:77).
1. Uji Validitas
Validitas menguji seberapa baik suatu instrument dibuat untuk mengukur konsep tertentu yang akan diukur. Valid berarti instrumen tersebut dapat
megukur apa yang seharusnya diukur. Kriteria validitas dapat ditentukan dengan melihat pearson correlation dan sig. (2-tailed). Jika nilai pearson correlation lebih besar dari pada nilai perbandingan berupa r-kritis, maka item tersebut tidak valid. Atau jika sig. (2-tailed) kurang dari 0,05 berarti item tersebut valid dengan derajat kepercayaan 95%. (Kuncoro, 2013:181).
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan suatu instrumen, (Sunyoto, 2011:69). Suatu tes dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila tes tersebut menjalankan fungsi ukuran, atau memberikan hasil ukuran yang tepat dan sesuai dengan maksud dikenakannya tes tersebut. Pengujian validitas secara manual dilakukan dengan cara menghitung rhitung dari masing-masing pertanyaan menggunakan rumus korelasi berdasarkan pearson adalah sebagai berikut, (Sunyoto, 2011:142) :
šš„š¦ = āšš ā (āš)(āš)
ā(NāX2ā (āX)2)(NāY2ā (āY)2)
Keterangan:
N = banyaknya sampel
āXY = jumlah perkalian variabel X dan Y
āX = jumlah nilai variabel X
āY = jumlah nilai variabel Y
āš2 = jumlah pangkat dua nilai variabel X
āš2 = jumlah pangkat dua nilai variabel Y
r = koefisisen korelasi
Dalam uji validitas pertanyaaan membandingkan r hitung dengan r tabel.
a. Jika r hitung ā„ r tabel maka instrumen dianggap valid.
b. Jika r hitung < r tabel maka instrumen dianggap tidak valid.
Dengan nilai signifikan (α) = 5%, setiap butir pertanyaan dinyatakan valid apabila rhitung lebih besar dari rtabel. Dalam penelitian ini uji validitas dilakukan dengan menggunakan bantuan program SPSS19.
2. Uji Reliabilitas
Sujarweni & Endrayanto (2012:186) mengemukakan bahwa reliabilitas merupakan ukuran suatu kestabilan responden dalam menjawab hal yang berkaitan dengan kontrak-kontrak pertanyaan yang merupakan dimensi suatu variabel dan disusun dalam suatu bentuk kuesioner. Dalam penelitian ini untuk menentukan kuesioner reliabel atau tidak menggunakan alpha cronbach. Kuesioner dikatakan reliabel (layak) jika alpha cronbach ā„ 0,60 dan tidak reliabel jika < 0,60, (Sunyoto, 2011:70). Uji reliabilitas secara
manual dilakukan dengan metode Alpha Cronbach menggunakan rumus sebagai berikut, (Sumanto, 2014:83) :
šš„š„1= 1 āšš2 šš„2
Ketreangan:
šš„š„1 = koefisien reliabilitas tes
šš2 = varians perbedaan skor antara dua belahan
šš„2 = varians skor tes
a. Jika uji reliabilitas ā„ 0,60 berarti instrumen memiliki reliabilitas baik b. Jika uji reliabilitas < 0,60 berarti instrumen memiliki reliabilitas kurang
baik.
J. Teknik Analisis Data 1. Analisis deskriptif
Istilah analisis deskriptif memiliki arti yang sulit didefinisikan, karena menyangkut berbagai macam aktivitas dan proses. Salah satu bentuk analisis adalah kegiatan menyimpulkan data mentah dalam jumlah besar sehingga hasilnya dapat ditafsirkan (Kuncoro, 2013:198). Dalam penelitian
ini, analisis deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan data-data dalam penelitian.
2. Analisis Regresi Linier Berganda
Agar data dihimpun atau dikumpulkan tersebut berguna maka teknik analisis data yang digunakan adalah regresi linier berganda. Untuk menjamin ketelitian dan keakuratan hasil perhitungan analisis regresi, maka digunakan alat bantu program SPSS. Adapun persamaan regresi linier berganda adalah sebagai berikut:
Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4
Keterangan:
Y = kinerja karyawan
a = konstanta
b1,2,3,4 = koefisisen regresi
X1 = persepsi atas pelatihan kerja
X2 = persepsi atas fasilitas kantor
X3 = disiplin kerja
X4 = motivasi kerja
3. Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik adalah persyaratan statistik yang harus dipenuhi pada analisis regresi linier berganda yang berbasis ordinary least square (OLS). Uji asumsi klasik digunakan untuk menguji apakah model regresi menunjukkan hubungan yang signifikan. Ada tiga pengujian dalam asumsi klasik, yaitu:
a. Uji Normalitas
Tujuan dilakukannya uji normalitas terhadap serangkaian data adalah untuk mengetahui apakah populasi data berdistribusi normal atau tidak (Siregar, 2013:153). Metode yang digunakan untuk melakukan uji normalitas dalam penelitian ini adalah metode Kolmogrov-Smirnov.
Berdasarkan metode ini, data dalam penelitian dikatakan berdistribusi normal apabila nilai Sig. ā„ 0,05 dan tidak berdistribusi normal apabila nilai Sig. < 0,05.
b. Uji Multikolinieritas
Menurut Sumanto (2014:165-166) uji multikolinieritas dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan (korelasi) yang signifikan antara variabel bebas (independen). Jika terdapat hubungan yang cukup tinggi (signifikan), berarti ada aspek yang sama diukur pada variabel
bebas. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel penelitian. Pada penelitian ini, uji multikolinieritas dilihat dari nilai tolerance dan inflation factor (VIF). Jika tolerance lebih dari 0,1 dan VIF kurang dari 10 maka tidak terjadi multikolinieritas. Uji multikolinieritas dengan SPSS dilakukan dengan uji regresi, dengan patokan nilai VIF dan koefisien korelasi antar variabel bebas. Kriteria yang digunakan adalah:
1) Jika nilai VIF di sekitar angka 1 atau memiliki tolerace mendekati 1, maka dikatakan tidak terdapat masalah multikolinieritas dalam model regresi.
2) Jika koefisien korelasi antar variabel bebas kuarang dari 0,5, maka tidak terdapat masalah multikolinieritas
c. Uji Heteroskedastisitas
Heteroskedastisitas adalah keadaan dimana terjadinya ketidaksamaan varian dari residual pada model regresi. Model regresi yang baik mensyaratkan tidak adanya masalah heteroskedastisitas.
Metode pengambilan keputusan pada uji heteroskedastisitas dengan melihat scatterplot yaitu titik-titik menyebar dengan pola yang tidak jelas di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu y maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi masalah heteroskedastisitas pada model regresi.
4. Uji F
Menurut Wiratna dan Endrayanto (2012:10) uji F adalah pengujian signifikan persamaan yang digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel independen secara bersama-sama terhadap variabel dependen. Uji F dilakukan dengan membandingkan š¹āšš”š¢šš dengan nilai š¹š”šššš pada taraf nyata α = 0.05. Uji F mempunyai pengaruh signifikan apabila š¹āšš”š¢ššlebih besar dari š¹š”šššš atau probabilitas kesalahan kurang dari 5% (P < 0,05), untuk melakukan pengujian pada distribusi F pada model regresi berganda adalah sebagai berikut:
a. Menentukan tingkat signifikan (α)
Tingkat signifikan α = 5% (signifikan 5% atau 0,05 adalah ukuran yang standar yang sering digunakan dalam penelitian).
b. Menentukan F hitung dengan menggunakan SPSS atau rumus F hitung
š¹ =š 2(š ā š ā 1) š(1 ā š 2)
Keterangan:
š 2 = koefisien determinasi
K = banyaknya variabel independen
n = jumlah anggota sampel
c. Menentukan F tabel
Df 1 = jumlah variabel -1 dan df 2 = n-k Keterangan:
n = jumlah sampel
K = jumlah variabel independen Df = derajat kebebasan
d. Kriteria Pengujian
H0 ditolak (Ha diterima) apabila š¹āšš”š¢šš> pada š¹š”šššš pada α 0,05, artinya variabel persepsi atas pelatihan kerja, persepsi atas fasilitas kantor, motivasi dan disiplin kerja secara bersama-sama berpengaruh padap kinerja karyawan.
H0 diterima (Ha ditolak) apabila š¹āšš”š¢šš < š¹š”šššš pada α 0,05 artinya variabel persepsi atas pelatihan kerja, persepsi atas fasilitas kantor, motivasi dan disiplin kerja secara bersama-sama tidak berpengaruh padap kinerja karyawan
e. Menarik Kesimpulan
Jika H0 ditolak dan Ha diterima maka persepsi atas pelatihan kerja, persepsi atas fasilitas kantor, motivasi dan disiplin kerja secara
bersama-sama berpengaruh padap kinerja karyawan. Jika H0 diterima dan Ha ditolak maka persepsi atas pelatihan kerja, persepsi atas fasilitas kantor, motivasi dan disiplin kerja secara bersama-sama tidak berpengaruh padap kinerja karyawan.
5. Uji t
Uji t digunakan untuk menguji pengaruh variable independen secara masing-masing pada variabel dependen, (Priyanto, 2012:58). Uji t digunakan untuk mengetahui apakah secara masing-masing terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel independen (pengaruh persepsi atas pelatihan kerja, persepsi atas fasilitas kantor, motivasi dan disiplin kerja) pada variabel dependen (kinerja karyawan). Pengujian melalui uji t adalah dengan membandingkan thitung dengan ttabel pada taraf nyata α= 0,05. Uji t berpengaruh signifikan apabila hasil perhitungan thitung lebih besar dari ttabel (thitung > ttabel) atau probabilitas kesalahan lebih kecil dari 5% (p < 0,05), dan nilai B pada hasil uji regresi bernilai positif.
Berikut tahapan-tahapan pengujian uji t:
a. Menentukan taraf nyata α = 0,05 dengan, df = n-k dimana:
df= derajat kebebasan
n = jumlah sampel
k = banyaknya koefisien regresi+konstanta b. Menentukan š”āšš”š¢šš dan š”š”šššš
Rumus š”āšš”š¢šš
š”āšš”š¢šš = šāšāšā2ā1āš2
Keterangan
R = koefisisen korelasi parsial K = jumlah variabel independen N = jumlah data
c. Kriteria penguajian
Ho ditolak dan Ha diterima, jika thitung > ttabel atau jika tingkat sig ⤠5% dan nilai B positif
Ho diterima dan Ha ditolak, jika thiting < ttabel atau jika tingkat sig > 5%
d. Kesimpulan
Jika nilai sig yang diperoleh ⤠5% dan nilai ttabel yang diperoleh dibandingkan dengan nilai thitung, apabila thitung lebih besar dari ttabel, dan nilai B pada hasil analisis regresi bernilai positifmaka Ho ditolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel persepsi atas pelatihan kerja, persepsi atas fasilitas kantor, motivasi dan disiplin kerja berpengaruh positif secara parsial
pada kinerja karyawan. Jika nilai sig > 5% dan thitung lebih kecil dari ttabel, maka Ho diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel persepsi atas pelatihan kerja, persepsi atas fasilitas kantor, motivasi dan disiplin kerja tidak berpengaruh positif secara parsial pada kinerja karyawan.
52 BAB IV
GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN