E. Kerangka Teorietik
3. Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data atau informasi pada suatu aktifitas penelitian diperlukan suatu metode. Metode yang dipilih harus sesuai dengan permasalahan.
Metode-metode yang digunakan peneliti dalam mengumpulkan data, adalah sebagai berikut:
a. Metode Observasi
Menurut Burhan Bungin “Metode observasi adalah metode pengumpulan data yang di gunakan untuk menghimpun data dan penelitian melalui pengamatan dan pengindraan”.33 Metode ini di gunakan untuk menghimpun data tentang situasi dan kondisi Pesantren Ekologi Hidayatul Irpan baik mengenai situasi, kondisi, sarana prasarana, keadaan guru dan peserta didik, juga akan melihat
32Laporan KBB Komnas HAM 2016,Intoleransi Masih Tinggi, Terbanyak di Jawa Barat diakses melalui https://tirto.id/intoleransi-masih-tinggi-terbanyak-di-jawa-barat-cgSE,diakses tanggal 3 februari .
33Burhan Bungin, Penelitian Kualitatif (Komunikasi,Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainya), (Jakarta:Kencana,2008),hlm.115
17
langsung kegiatan pembelajaran serta faktor pendukung dan penghambat dalam pembelajaran di kelas.
b. Metode Wawancara
Wawancara merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat di kontruksikan makna dalam suatu topi tertentu.34 Pengumpulan data dilakukan dengan cara menanyakan langsung dengan sumber informasi, sehingga kebenaranya kongkrit dan jelas. Sumber informasi dalam penelitian ini adalah kepala sekolah, guru, orang tua dan peserta didik Pesantren Ekologi Hidayatul Irpan
c. Metode Dokumentasi
Dokumentasi merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu, dokumen biasanya berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang.35 Metode ini digunakan untuk memperoleh data yang bersifat dokumentatif, seperti keadaan guru, siswa, karyawan, sejarah berdiri, sarana dan prasarana yang ada di Pesantren Ekologi Hidayatul Irpan.
d. Uji kebasahan Data
Dalam penelitian ini, digunakan teknik keabsahan data triangulasi.
Triangulasi diartikan teknik keabsahan data yang bersifat menggabungkan diri dari berbagai tehnik pengumpulan data dan sumber data yang ada. Triangulasi tehnik pengumpulan data berarti peneliti mengunakan tehnik pengumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatkan data dari sumber yang sama.36 Peneliti mengunakan observasi partisipasif dan non partisipasif, wawancara mendalam, dan dokumentasi untuk sumber data yang sama secara serempak.37 Selanjutnya, Triangulasi sumber pengujian data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah di peroleh melalui beberapa sumber.38
34Sugiyono, Metode Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung:Alfabeta,2008), hlm.231.
35Ibid., hlm.240.
36Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,Kualitatif, dan R&D, (Bandung:Aalfabeta,2010), hlm. 373.
37Ibid.,hlm.214.
38Ibid ., hlm 373.
18 4. Teknik Analisis Data
Analisis Data adalah proses memberikan interpretasi dan arti bagi data yang telah dikumpulkan dengan cara di urutkan sesuai pola, kategori, dan satuan uraian sehingga dapat lebih mudah di gunakan untuk menjawab permasalahan permasalahan yang ada dalam penelitian.Dalam menganalisis data, digunakan teknik deskriftif kualitatif untuk memberikan interpretasi terhadap hasil penelitian atau data yang di wujudkan dengan uraian yang berbentuk kalimat yang akhirnya di tarik suatu kesimpulan untuk menunjukan fakta di lapangan.
Adapun langkah-langkah yang digunakan peneliti dalam menganalisis data sebagai berikut:
a. Pengumpulan Data
Untuk memperoleh informasi yang di butuhkan, maka peneliti mengumpulkan data dengan menggunakan informasi melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi.
b. Reduksi Data
Reduksi data merupakan Proses Pemilihan, Pemfokusan, Penyederhanaan dan Pentrasformasian data mentah dari catatan-catatan lapangan tertulis. Data yang sudah di dapatkan kemudian direduksi dengan cara mengelompokan atau memilih dan meramu data yang sesuai dengan penelitian, sesudah data itu di rangkum dan disusun supaya lebih teratur.
c. Penyajian Data
Penyajian Data adalah deskripsi penemuan dari apa yang du peroleh di lapangan. Penyajian data disini dibatasi sebagai sekumpulan informasi yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan suatu tindakan.
d. Penarikan Kesimpulan
Pengambilan kesimpulan sangat penting untuk menegaskan pokok-pokok pemahaman dan pembahasan yang tertulis serta memaparkan ini lebih komperhensif. Kesimpulan diambil setelah data-data itu tersusun secara sistematis dan rapi.
19 G. Sistematika Pembahasan
Peneliti menguraikan bagian-bagian laporan ini dalam beberapa bab. Bab I berisi Pendahuluan yang berupa latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuandan manfaat penelitian, kajian pustaka, metode penelitian, kerangka teoritik, dan sistematika pembahasan.
Bab II merupakan Tinjauan Umum tentang Pondok Pesantren dan Pendidikan Multikultral yang berisi pengertian pondok pesantren, unsur-unsurpondok pesantren, klasifikasi pondok pesantren, sistem pendidikan pondok pesantren, peran pondok pesantren, pengertian pendidikan multikultural, sejarahpendidikan multikultural, paradigma dan prinsip pendidikan multikultural, kurikulum dan pembelajaran pendidikan multikultural, nilai-nilai pendidikan multikultural, urgensi pendidikan multikultural aspek-aspek pendidikan multikultural, dan pendidikan multikultural di pondok pesantren.
Uraian berikutnya adalah Bab III yang berisi Gambaran Umum Lokasi Penelitian seperti setting geografis dan sosio-budaya kota Pangandaran, sejarah berdirinya Pondok Pesantren Ekologi Hidayatul Irpan , visi, misi, dan motto Pondok Pesantren Ekologi Hidayatul Irpan, program pendidikan Pondok Pesantren Ekologi Hidayatul Irpan, kurikulum Pondok Pesantren Ekologi Hidayatul Irpan, keadaan pendidik dan peserta didik, sarana dan prasarana.
Bab IV memuat hasil penelitian tentang Pendidikan Multikultural di Pondok Pesantren Ekologi Hidayatul Irpan yaitu implementasi pendidikan multikultural, peranan pimpinan pondok pesantren dalam implementasi pendidikan multikultural, dan nilai-nilai pendidikan multikultural yang diterapkan.Uraian terakhir berisi kesimpulan dan saran dibahas pada Bab V Penutup. Laporan penelitian ini juga memuat lampiran dan referensi yang menjadi rujukan peneliti yang dapat dilihat pada bagian daftar pustaka.
170 PENUTUP
BAB V
A. Kesimpulan
Dari gambaran penelitian di atas dapat disimpulkan beberapa hal sesuai dengan rumusan penelitian yaitu:
1. Implementasi pendidikan multikultural di PEHI telah berjalan dengan baik, yang terintegrasi dalam situasi dan kondisi aktivitas keseharian pondok pesantren. Aspek-aspek yang mengandung implementasi pendidikan multilultural meliputi kurikulum, pembelajaran, kepemimpinan pesantren, kegiatan pengembangan diri dan penerapan tatatertib pondok. Dalam penyelengaraan pendidikan (pendidikan multikultural) terdapat beberpa hambatan yang bersifat internal. Berikut beberapa segi dalam pendidikan multikultural:
a. Kurikulum melibatkan yayasan dan pengurus pesantren. Desain kurikulum bedasarkan pada penyususnan kurikulum yang mengkombinasikan dua orientasi yakni bedasar pada keadaan santri yang beragam dan bedasar pada kebutuhan perkembangan zaman yang berubah pesat.
b. Dalam pembelajaran, pendidikan multicultural dilakukan melalui penyisipan materi pembelajaran yang menekankan pentingnya kesadaran dan kesediaan untuk berfikiran luas dan terbuka serta tidak terjebak pada pemikiran dan prilaku yang bersifat radikal. Pembelajaran yang dilakukan dengan menggunakan metode yang umum digunakan seperti ceramah, tanya jawab, penugasan, hafalan dan praktek langsung di sertai dengan startegi tertentu
171
mengunakan infokus atau persentasi mengunakan media kertas yang telah disediaka. Namun hanya beberapa pengajar yang menerapkan strategi demikian.
c. Kepemimpinan pondok pesantren yang demokrtasi, terbuka dan mengakomodir keragaman pengurus maupun pengajar.
d. Pondok yang terbuka bagi masyarakat dan penerapan tatatertib pondok yang dilandasi prinsip kemanusiaan dan keadilan.
2. Peran pimpinan pondok pesantren dalam mengimplementasikan pendidikan multicultural meliputi peran sebagai mudir (leader, yaitu dengan melaksanakan roses pembelajaran yang di dalamnya ada kelas aktif yang bertujuan mengajak santri untuk membuka diri pada lingkungan belajar, melakukan upaya-upaya aktif dan berakhir pada saling mempengaruhi iklim pembelajaran.Implentasi kurikulum tertuang dalam konsep Pendidikan perdamaian ini untuk menghilangkan kegagapan akan perbedaan, apalagi sampai berperang dengan bangsa sendiri. Pendidikan perdamaian ini dimulai dari berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan lingkungan sekitar. Dalam melaksanakan kepengasuhan santri berkesempatan langsung bertemu dan berelasi dengan berbagai pihak. Pertemanan lintas daerah merupakan modal utama untuk membantu santri membiasakan diri dalam membuka diri dengan berkomunikasi dengan santri dari berbagai daerah di Indonesia. pendidik (edukator) memfasilitasi dan membantu mereka untuk belajar hidup damai dan toleran, aktif menyuarakan perdamaian, berteman dengan siapa saja dan mampu mengilhami nilai-nilai budaya Indonesia. Mereka tidak memandang
172
lagi perbedaan suku, ras dan agama, yang ada dalam benak mereka hanya Indonesia.
3. Nilai-nilai pendidikan multikultural yang di terapkan di PEHI terlihat dari visi, misi, dan motto pesantren, kepemimpinan pondok pesantren, pembelajaran, kegitan pengembangan diri santri, dan aturan pondok pesantren. Nilai-nilai tersebut meliputi nilai demokrasi, nilai toleransi, nilai humanism dan HAM, dan nilai inklusif dengan berbagai sisinya seperti kedalam toleransi, musyawarah, kerjasama, penghargaan, gotongroyong, persaudraan (ukhuwah), kebebasan berkerasi santri, perdamaian dan sebagainya.
B. Saran
Untuk mendukung pelaksanan pendidikan yang berlangsung, maka beberapa sebagai saran maupun rekomendasi perlu dilakukan:
1. Pondok pesantren perlumengembangkan pemikirian yang inklusif, moderat dan bersikap toleran pada perbedaan.
2. Perlu dikembangkan pembelajaran yang mampu mengakomodasi potensi dan kemampuan santri yang beragam dan unik
3. Pondok pesantren perlu melakukan peningkatan kulitas SDM para personalia secara berkala yang berkaitan dengan pembelajaran, mamagemen dana dministrasi, pengelolaan asset pondok pesantren dan sebagainya.
4. Menjalin kerjasama dengan pemerintah dan lembaga pendidikan dalam mengembangkan profesionalitas penyelenggaraan pondok pesantren baik yang menyangkut administrasi manajemen, pembelajaran, peningkatan fasilitas, dan sebagainya.
173
5. Memelihara kehidupan dan lingkungan pondok pesantren yang berwawasan multicultural dengan tetap mempertimbangkan semangat persatuan.
6. Dukungan pemerintah, Kementrian Agama, sangatlah diperlukan dalam mendorong pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam yang terbuka, toleran dan inklusif, namun tetap memelihara tradisi keislaman yang meliputi cirri khasnya.
174