• Tidak ada hasil yang ditemukan

C. Lokasi Penelitian

4. Teknik Pengumpulan Data

Menurut Biklen dan Bogdan terdapat tiga teknik pengumpulan data dalam penelitian kualitatif yakni wawancara mendalam (in depth interview); observasi partisipan (partisipan observation); dan studi dokumentasi (study documents).12

Adapun uraian teknik pengumpulan data tersebut sebagai berikut:

12

a. Wawancara mendalam

Selain melalui observasi partisipatif, peneliti dapat mengumpulkan data melalui wawancara mendalam, yaitu suatu kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan informasi secara langsung dengan mengajukan pertanyaan antara pewawancara dengan yang diwawancarai. Bahkan keduanya dapat dilakukan bersamaan, di mana wawancara dapat digunakan untuk menggali lebih dalam lagi data yang didapat dari observasi. Seperti yang dikemukakan Sugiyono13 yang mengatakan bahwa dalam penelitian kualitatif, sering menggabungkan teknik observasi partisipatif dengan wawancara mendalam. Selama melakukan observasi, peneliti juga melakukan wawancara kepada orang-orang yang ada di dalamnya.

Ada beberapa jenis wawancara yang dapat digunakan, menurut Sudarwin14 berdasarkan strukturnya, pada penelitian kualitatif ada dua jenis wawancara yaitu; (1) wawancara relatif tertutup, di mana pertanyaan difokuskan pada topik khusus dan umum dan dibantu oleh panduan wawancara yang dibuat cukup rinci;(2) wawancara terbuka, di mana peneliti memberikan kebebasan diri untuk berbicara secara luas dan mendalam.

Kedua jenis wawancara ini dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan. wawancara relatif tertutup digunakan jika peneliti telah

13

Sugiyono,Op.Cit., h. 25.

14

Sudarwin Danim, Menjadi Peneliti Kualitatif; Ancangan Metodologi, Presentasi dan Publikasi Hasil Penelitian Untuk Mahasiswa dan Peneliti Pemula Bidang Ilmu-ilmu Sosial, Pendidikan dan Humaniora,(Bandung: Pustaka Setia, 2002), h. 73-74.

memperkirakan tentang informasi yang akan didapatkan. Sedangkan wawancara terbuka digunakan dalam penelitian pendahuluan untuk mendapatkan informasi awal tentang permasalahan yang ada. Wawancara terbuka juga digunakan untuk mendapatkan informasi lebih dalam lagi. Pada awalnya yang dibicarakan hanya masalah yang sepele yang tidak berkaitan dengan masalah penelitian, namun perlahan tapi pasti, mulai menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan masalah penelitian sampai tuntas. Menurut Moleong15 ada dua jenis pertanyaan yaitu pertanyaan luaran dan pertanyaan pendalaman. Pertanyaan luaran adalah pertanyaan yang bersifat umum dan tidak menggali informasi secara mendalam, sedangkan pertanyaan pendalaman digunakan untuk menggali informasi secara mendalam sampai ke makna yang terkandung dalam kasus yang diteliti.

Dalam penelitian kualitatif untuk mendapatkan data yang penuh makna, sebaiknya digunakan wawancara terbuka atau wawancara tak terstruktur yang dapat secara leluasa menggali data selengkap mungkin dan sedalam mungkin sehingga pemahaman peneliti terhadap fenomena yang ada sesuai dengan pemahaman para pelaku itu sendiri.

Disinilah peran peneliti sebagai instrumen utama yang tidak selalu terpancang pada panduan wawancara. Keberhasilan wawancara sangat tergantung pada keterampilan yang dimilikipeneliti dalam mendapat kepercayaan orang yang diwawancarai. keterampilan itu

15

Moleong, L. Y.,Metodologi Penelitian Kualitatif,(Ed. Revisi; Bandung: Remaja Rosda Karya, 2005), h. 23-24.

antara lain, cara mengajukan pertanyaan seperti sensitifitas pertanyaan dan urutan pertanyaan, cara mendengarkan dengan serius, cara berekspresi secaraverbal seperti intonasi dan kecepatan suara, maupun berekpresi secara nonverbal seperti kontak mata, sabar dan perhatian dalam mengikuti jawaban serta mengkondisikan situasi yang nyaman.

Wawancara dapat dimulai dengan pertanyaan yang mudah sebagai pendahuluan atau pemanasan, baru mulai masuk ke pertanyaan informasi dan fakta, hindari pertanyaan bermakna ganda, hindari pertanyaan masalah privacy, ulang kembali jawaban untuk klarifikasi, berikan kesan positif, dan kontrol emosi negatif, perdalam pertanyaan ke topik yang lebih spesifik, kemudian diakhiri dengan pertanyaan penutup. Masalah yang mungkin muncul dalam wawancara; adalah orang yang diwawancarai tidak konsentrasi, tidak kooperatif, menolak berbicara atau tidak suka berbicara dan masalah teknis (alat perekam, catatan). Secara garis besar ada dua macam pedoman wawancara, yaitu: 1) Pedoman wawancara tidak terstruktur, yaitu pedoman wawancara yang hanya memuat garis besar yang akan ditanyakan. Dalam hal ini perlu adanya kreativitas pewawancara sangat diperlukan, bahkan pedoman wawancara model ini sangat tergantung pada pewawancara.

2) Pedoman pewawancara terstruktur, yaitu pedoman wawancara yang disusun secara terperinci sehingga menyerupai chek-list. Pewawancara hanya tinggal memberi tanda√ (check).

Dalam pelaksanaan penelitian dilapangan, biasanya wawancara dilaksanakan dalam bentuk ”semi structured”. Dimana interviwer

menanyakan serentetan pertanyaan yang sudah terstruktur, kemudian satu persatu diperdalam dalam menggali keterangan lebih lanjut. Dengan model wawancara seperti ini, maka semua variabel yang ingin digali dalam penelitian akan dapat diperoleh secara lengkap dan mendalam.

Dalam pelaksanaan wawancara, sering kita temukan dilapangan adanya perbedaan persepsi pandangan tentang hal-hal tertentu yang berkaitan dengan masalah penelitian, antara peneliti dengan orang yang diwawancarai.Berdasar hal tersebut, yang perlu diketahui bahwa dalam penelitian kualitatif naturalistik, ada dua istilah yaitu informasi emic dan etic. Informasi emic adalah informasi yang berkaitan dengan bagaimana pandangan responden terhadap dunia luar berdasar perspektifnya sendiri, sedangkan yang berdasar perspektif peneliti disebutinformasi etic.16

Sejalan dengan beberapa pendapat di atas, Sugiono17, membagi wawancara dalam tiga macam, yaitu:

1) Wawancara terstruktur

Wawancara ini digunakan sebagai teknik pengumpulan data, bila peneliti atau pengumpul data telah mengetahui dengan pasti tentang informasi apa yang akan diperoleh. Oleh karena itu dalam

16

Bambang Rustanto,Teknik Pengumpulan Data Kualitatif, diakses dari http://bambang-rustanto.blogspot.co.id/2014/11/, pada tanggal 3 Oktober 2015 pukul 19.30 WIB.

17

melakukan wawancara, pengumpul data telah menyiapkan penelitian berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis yang alternative jawabannya pun telah disiapkan.

2) Wawancara semi terstruktur

Jenis wawancara ini sudah termsuk dalam kategori in depth interview, dimana dalam pelaksanaannya lebih bebas bila dibandingkan dengan wawancara terstrktur. Tujuan dari wawancara ini adalah untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka, dimana pihak yang diajak wawancara diminta pendapat, dan ide-idenya. Dalam melakukan wawancara peneliti perlu mendengarkan secara teliti dan mencatat apa yang dikemukakan informan.

3) Wawancara tak berstruktur

Wawancara tidak terstruktur merupakan wawancara yang bebas dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya. Pedoman wawancara yang digunakan hanya berupa garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan.

Wawancara kualitatif adalah wawancara yang dilakukan oleh peneliti baik secara langsung (face to face), telepon atau media lainnya, maupun terlibat langsung dalam suatu kelompok tertentu yang terdiri dari enam sampai delapan responden. Pertanyaan yang diberikan dalam wawancara kualitatif umumnya bersifat tidak terstruktur (unstructured) dan bersifat terbuka (openended) yang dengan sengaja diciptakan untuk

memunculkan padangan maupun opini dari para responden wawancara18

Adapun langkah-langkah dalam melakukan wawancara menurut Sugiono19, diantaranya adalah:

1) Menetapkan kepada siapa wawancara itu dilakukan

2) Menyiapkan pokok-pokok masalah yang akan menjadi bahan pembicaraan

3) Mengawali atau membuka alur wawancara 4) Melangsungkan wawancara

5) Mengkonfirmasikan ikhtisar hasil wawancara dan mengakhirinya 6) Mengidentifikasi tindak lanjut hasil wawancara yang telah diperoleh

Dalam penelitian ini materi wawancara disesuaikan dengan fokus penelitian, melalui langkah-langkah yang akan dilakukan sebagai berikut: (1) menetapkan orang yang akan diwawancarai; (2) menyiapkan bahan-bahan pertanyaan yang akan menjadi bahan pembicaraan; (3) mengawali dan membuka arah pembicaraan; (4) melakukan wawancara; (5) merekam atau mencatat hasil wawancara; (6) mengkomunikasikan hasil wawancara; (7) menyalin hasil wawancara ke dalam catatan dengan melakukan pemilahan.

b. Observasi Partisipan

Observasi berasal dari kata observation yang berarti pengamatan. Metode observasi dilakukan dengan cara mengamati

18

Creswell, J. W.,Research Design: Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixes,(Ed. Ketiga; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), h. 267.

19

perilaku, kejadian atau kegiatan orang atau sekelompok orang yang diteliti. kemudian mencatat hasil pengamatan tersebut untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Dengan pengamatan peneliti dapat melihat kejadian sebagaimana subyek yang diamati mengalaminya, menangkap, merasakan fenomena sesuai pengertian subyek dan obyek yang diteliti.

Menurut Spradley20 tujuan observasi adalah memahami pola, norma dan makna dari perilaku yang diamati, serta peneliti belajar dari informan dan orang-orang yang diamati. Selanjutnya Spradley mengemukakan bahwa yang diamati adalah situasi sosial yang terdiri dari tempat, pelaku dan aktivitas. Tempat adalah di mana observasi dilakukan, dapat di rumah, lingkungan, sekolah, kelas, bengkel dll. Pelaku adalah orang-orang yang berperan dalam masalah yang diteliti, seperti, guru, pengawas, siswa, orang tua siswa, petani, buruh, masyarakat dll. Aktivitas adalah kegiatan yang dilakukan oleh pelaku yang sedang diteliti, seperti, kegiatan belajar mengajar, belajar, bekerja dan kegiatan lainya yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.

Untuk dapat melakukan observasi dengan baik, peneliti harus memahami bentuk atau jenis observasi, sehingga mendapatkan data yang akurat sesuai apa yang sebenarnya terjadi di lapangan. Ada beberapa bentuk observasi yang dapat digunakan. Bungin21

20

Spradley James. P., The Ethnographic Interview, (New York: Holt Renehart and Winston, 1980), h. 122.

21

Bungin. Burhan, Analisis Data Penelitian Kualitatif, Pemahaman Filosofis dan Metodologis ke Arah Penguasaan Model Aplikasi,(Jakarta: Raja Grafindo Perkasa, 2006), h. 33.

mengemukakan beberapa bentuk observasi yang dapat digunakan dalam penelitian kualitatif, yaitu observasi partisipasi, observasi tidak terstruktur, dan observasi kelompok tidak terstruktur. Menurut Susan dalam Sugiyono22 dalam observasi partisipatif peneliti mengamati apa yang dikerjakan orang, mendengarkan apa yang mereka ucapkan, dan berpartisipasi dalam aktifitas mereka. Jadi Observasi partisipasi merupakan metode pengumpulan data yang digunakan untuk mendapatkan data penelitian melalui pengamatan dan pengindraan dimana observer atau peneliti benar-benar berada dalam keseharian pelaku yang diteliti atau informan, keberadaan peneliti dapat terlibat secara aktif maupun tidak aktif.

Spradley23 membagi partisipasi atau keterlibatan peneliti menjadi empat yaitu; (1) partisipasi pasif, di mana peneliti datang mengamati tetapi tidak ikut terlibat kegiatan yang diamati; (2) partisipasi moderat, di mana peneliti kadang ikut aktif terlibat kegiatan kadang tidak aktif; (3) partisipasi aktif, di mana peneliti terlibat aktif dalam kegiatan yang diteliti; (4) partisipasi lengkap, di mana peneliti sudah sepenuhnya terlibat sebagai orang dalam, sehingga tidak kelihatan sedang melakukan penelitian. Untuk mendapatkan data yang akurat sebaiknya menggunakan observasi dengan partisipasi lengkap, karena sebagai orang dalam peneliti leluasa mengamati dan mendapatkan makna sesungguhnya dari apa yang diamati.

22

Sugiyono, Op.Cit.,h. 81.

23

Sementara observasi tidak berstruktur adalah observasi di mana peneliti belum tahu secara pasti apa yang akan diamati, sehingga pengamatan dilakukan tanpa menggunakan instrument baku, tetapi hanya berupa rambu-rambu pengamatan, oleh karena itu peneliti atau pengamat harus mampu mengembangkan daya pengamatannya dalam mengamati fenomena atau dinamika pelaku yang diteliti. Sedangkan observasi kelompok adalah observasi yang dilakukan secara berkelompok terhadap suatu atau beberapa fenomena atau event sekaligus.

Dalam melakukan observasi, peneliti harus dapat memusatkan perhatian dan akhirnya memilih hal-hal yang secara khas menemukan gambaran sesuatu yang bermakna. Pada permulaan observasi peneliti mengamati secara menyeluruh dan dengan ruang lingkup yang luas, kemudian memusatkan diri pada hal-hal yang menjadi fokus penelitianya dan akhirnya memilih hal-hal yang khas dan yang paling relevan untuk diamati dengan lebih cermat. Hal ini seperti yang dikemukakan Spradley (1980) bahwa tahapan observasi ada tiga yaitu; (1) observasi deskriptif, di mana peneliti mengamati semua yang ada secara menyeluruh, mendeskripsikan semua yang diamati, observasi ini disebut juga sebagai grand tour observation; (2) observasi terfokus, di mana pengamatan difokuskan pada aspek tertentu yang menjadi fokus penelitian, observasi ini disebut juga sebagai mini tour observation.

dan; (3) observasi terseleksi, di mana peneliti menyeleksi fokus yang ditemukan secara lebih rinci lagi.

Selanjutnya Spradley24mengatakan, ketika melakukan observasi peneliti dapat mulai melakukan analisis. Pada observasi deskriptif peneliti dapat mulai menarik kesimpulan sementara, dengan analisis domain, sehingga dapat mendeskripsikan semua yang diobservasi. Pada observasi terfokus, peneliti melakukan analisis taksonomi sehingga dapat menemukan fokus yang sebenarnya. Pada observasi terseleksi, peneliti melakukan analisis komponensial, sehingga dapat menemukan karakteristik, persamaan, perbedaan, hubungan dari yang diteliti sehingga mudah ditarik kesimpulan dan ditemukan makna sebenarnya dari apa yang diteliti setelah kemudian menggunakan analisis tema. Jika analisisnya menggunakan analisis interaktif, maka pada setiap tahapan observasi di atas peneliti dapat melakukan reduksi data, tabulasi data dan verifikasi atau penarikan kesimpulan.

Observasi atau pengamatan dapat dilaksanakan dengan bantuan alat pengamatan yang berupa, daftar cek, tabel sosiometri, catatan lapangan, jurnal harian, alat perekam elektronik dan format lainnya. Pemilihan alat bantu menjadi sangat penting untuk mendapatkan data kualitatif yang penuh makna. misalnya perilaku, aktifitas, dan proses kegiatan lainnya. Catatan lapangan menjadi pilihan utama, karena memungkinkan peneliti memahami makna yang terkandung di lapang

24

yang diamati kemudian mencatatnya, sementara format lainnya seperti daftar cek hanya sebagai pelengkap, karena daftar cek sering tidak dapat memuat semua apa yang diamati. Catatan lapangan terdiri dari catatan deskriptif yang berisi gambaran tempat, orang dan kegiatannya (termasuk pembicaraan dan ekspresinya). Dan catatan reflektif yang berisi pendapat, gagasan dan kesimpulan sementara peneliti serta rencana berikutnya. Seperti yang dikemukakan Moleong25 catatan lapangan adalah catatan tertulis tentang apa yang didengar, dilihat, dialami dan dipikirkan dalam rangka pengumpulan data dan refleksi terhadap data dalam penelitian kualiatatif.

Observasi kualitatif menurut Creswell26 adalah observasi yang dilakukan oleh peneliti dengan cara turun langsung ke lokasi untuk mengamati segala perilaku dan aktivitas yang ingin diteliti. Peneliti mencatat dan atau merekam proses observasi berupa aktivitas-aktivitas dalam lokasi peneliian baik terstruktur maupun semistruktur yaitu dengan mengajukan sejumlah pertanyaan kepada responden sebagai proses pengumpulan data. Peneliti kualitatif dapat terjun langsung menjadi partisipan untuk mengumpulkan data, atau hanya menjadi non-partisipan (pengamat).

Opsi-opsi, kelebihan dan kekurangan metode observasi dibandingkan dengan metode pengumpulan data yang lain menurut

25

Moleong, L. Y., Op.Cit.,h. 26.

26

Creswell27 yaitu:

1) Ketika peneliti ikut serta menjadi partisipan dan menyembunyikan perannya sebagai observer, maka peneliti dapat menemukan pengalaman baru dari turun langsung menjadi partisipan. Namun, keberadaan peneliti sebagai partisipan di sini dapat dianggap ataupun tampak sebagai pengganggu jalannya observasi.

2) Ketika peneliti ikut serta menjadi partisipan dan menampakkan perannya sebagai observer, maka peneliti dengan leluasa dapat melakukan perekapan perilaku atau aktivitas selama proses observasi berlangsung ketika informasi yang dibutuhkan muncul. Namun, peneliti bisa saja melaporkan hasil observasi yang bersifat privat/pribadi yang tidak dikehendaki dari responden.

3) Ketika partisipan yang ikut serta dalam aktivitas pengamatan menjadi observer sekunder, maka segala aspek-aspek yang dganjil, tidak biasa dan aneh yang tidak ditemukan oleh observer primer (peneliti) dapat diungkapkan oleh observer sekunder (partisipan). Namun, dengan adanya observer sekunder, peneliti akan dianggap sebagai individu yang tidak memiliki skill yang baik dalam mengobservasi.

4) Ketika peneliti melakukan observasi secara pribadi tanpa menggunakan bantuan dari partisipan, maka peneliti dapat mengeksplorasi topik-topik yang tidak menyenangkan bagi peneliti

27

untuk dijadikan bahan bahasan. Namun, partisipan dalam penelitian ini kerapkali mendatangkan masalah selama proses penelitian berlangsung (dalam hal ini biasanya siswa).

Menurut Sugiono28terdapat bermacam-macam observasi, yaitu: 1) Observasi Partisipatif

Dalam observasi ini peneliti terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian. Sambil melakukan pengamatan, peneliti ikut melakukan apa yang dikerjakan oleeh sumber data, dan ikut merasakan suka dukanya. Observasi ini dibagi lagi menjadi empat, diantaranya: a) Partisipasi aktif: Dalam hal ini peneliti dating di tempat kegiatan

orang yang diamati, tetapi tidak ikut terlibat dalam kegiatan tersebut.

b) Partisipasi moderat: Peneliti dalam mengumpulkan data ikut observasi partisipatif dalam beberapa kegiatan tetapi tidak semuanya.

c) Partisipasi aktif: Peneliti ikut melakukan apa yang dilakukan oleh narasumber tetapi belum sepenuhnya lengkap.

d) Partisipasi lengkap: Peneliti sudah terlibat sepenuhnya terhadap apa yang dilakukan sumber data.

2) Observasi Terus Terang atau Tersamar

Peneliti melakukan pengumpulan data menyatakan terus terang

28

kepada sumber data, bahwa ia sedang melakukan penelitian. Jadi mereka yang diteliti mengetahui semua kegiatan dari peneliti. Tetapi dalam suatu saat peneliti juga tidak harus terus terang atau tersamar dalam observasi, hal ini untuk menghindari kalau suatu data yang dicari merupakan data yang masih dirahasiakan.

3) Observasi Tak Berstruktur

Observasi dalam penelitian kualitatif dilakukan dengan tidak berstruktur karena fokus penelitian belum jelas. Fokus observasi akan berkembang selama kegiatan observasi berlangsung. Kalau masalah penelitian sudah jelas seperti dalam penelitian kuantitatif, maka observasi dapat dilakukan secara terstruktur dengan menggunakan pedoman observasi. Dalam melakukan pengamatan peneliti tidak menggunakan instrumen yang telah baku, tetapi hanya berupa rambu-rambu pengamatan.

Adapun objek yang diteliti menurut Spradley 29terdiri atas tiga komponen yaitu

1) Place, tempat dimana interaksi dalam situasi social sedang berlangsung.

2) Actor, pelaku atau orang-orang yang sedang memainkan peran tertentu misalnya guru, kepala sekolah, pengawas.

3) Activity, kegiatan yang dilakukan oleh actor dalam situasi yang sedang berlangsung seperti kegiatan belajar mengajar.

29

Sedangkan tahapan observasi meliputi : 1) Observasi deskriptif

Observasi deskriptif dilakukan peneliti pada saat memasuki situasi social tertentu sebagai objek penelitian. Pada tahap ini peneliti belum membawa masalah yang akan diteliti, maka peneliti melakukan penjelajah umum, an menyeluruh, melakukan deskripsi terhadap semua yang dilihat, didengar dan dirasakan.

2) Observasi terfokus

Pada tahap ini peneliti sudah melakukanmini tour observation, yaitu pada suatu observasi yang telah dipersempit untuk difokuskan pada aspek tertentu. Peneliti melakukan analisis taksonomi sehingga dapat menemukan fokus.

3) Observasi terseleksi

Pada tahap ini peneliti menguraikan fokus yang ditemukan sehingga datanya lebih rinci.

c. Studi Dokumentasi

Dokumen diartikan sebagai suatu catatan tertulis / gambar yang tersimpan tentang sesuatu yang sudah terjadi. Dokumen merupakan fakta dan data tersimpan dalam berbagai bahan yang berbentuk dokumentasi. Sebagian besar data yang tersedia adalah berbentuk surat-surat, laporan, peraturan, catatan harian, biografi, simbol, artefak, foto, sketsa dan data lainya yang tersimpan. Dokumen tak terbatas pada ruang dan waktu sehingga memberi peluang kepada peneliti untuk

mengetahui hal-hal yang pernah terjadi untuk penguat data observasi dan wawancara dalam memeriksa keabsahan data, membuat interprestasi dan penarikan kesimpulan.

Kajian dokumen dilakukan dengan cara menyelidiki data yang didapat dari dokumen, catatan, file, dan hal-hal lain yang sudah didokumentasikan. Metode ini relatif mudah dilaksanakan dan apabila ada kekeliruan mudah diganti karena sumber datanya tetap. Dengan membuat panduan / pedoman dokumentasi yang memuat garis-garis besar data yang akan dicari akan mempermudah kerja di lapangan dalam melacak data dari dokumen satu ke dokumen berikutnya.

Menurut Sugiono30, dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar atau karya-karya monumental dari seseorang. Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah kehidupan, cerita, biografi, peraturan, kebijakan. Hasil penelitian dari observasi atau wawancara akan lebih kredibel/dapat dipercaya kalau didukung oleh sejarah pribadi kehidupan di masa kecil, di sekolah, di tempat kerja, di masyarakat dan autobiografi.

Sugiyono31, berpendapat bahwa teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Ada tiga teknik pengumpulan data yang akan dilakukan dalam penelitian ini,

30

Sugiyono,Op.Cit.,h. 85.

31

a. Teknik Wawancara,menurut Esterberg sebagaimana dikutif Sugiono, bahwa wawancara merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikontruksikan makna dalam suatu topik tertentu. Adapun pedoman wawancara pada penelitian ini selengkapnya terlampir padaLampiran 1.

b. Teknik Pengamatan/Observasi, menurut Sutrisno Hadi sebagaimana dikutif Sugiono, bahwa, observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikhologis. Dua di antara yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan. Adapun pedoman observasi selengkapnya terlampir padaLampiran 5.

c. Teknik Dokumentasi,merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seorang. Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah kehidupan (life histories), ceritera, biografi, peraturan, kebijakan. Dokumen yang berbentuk gambar misalnya foto, gambar hidup, sketsa dan lain-lain. Dokumen yang berbentuk karya misalnya karya seni, yang dapat berupa gambar, patung, film dan lain-lain. Studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif. Adapun data-data/ Informasi yang akan dikumpulkan melalui metode dokumen selengkapnya terlampir padaLampiran 6.