BAB III. METODOLOGI PENELITIAN
3.4. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam rangka mencapai tujuan penelitian. Dalam mengumpulkan data, peneliti menggunakan metode tertentu sesuai dengan tujuan. Metode yang dipilih berdasarkan pada berbagai faktor terutama jenis data dan ciri informan. Metode pengumpulan data tergantung karakteristik data, maka
metode yang digunakan tidak selalu sama untuk setiap informan (Gulo, 2002:110-115).
Untuk mendapatkan data, maka penulis memakai teknis pengumpulan data melalui :
Field Research (Penelitian Lapangan)
Yaitu cara mengumpulkan data yang dilakukan di lapangan. Dalam hal ini, pengumpulan data yang dilakukan di Gedung Medan Plaza lantai enam (6). Adapun teknik pengumpulan data dengan cara :
Observasi Partisipan
Adalah suatu bentuk observasi khusus, dimana peneliti tidak hanya menjadi pengamat yang pasif, melainkan juga mengambil peran dalam situasi tertentu dan berpartisipasi dalam peristiwa-peristiwa yang akan diteliti (Yin,2003:113). Dalam hal ini peneliti mengamati aktifitas para jemaat ketika sedang beribadah dan ikut beribadah di gereja karismatik tersebut.
Wawancara Mendalam
Bertujuan untuk mengumpulkan keterangan-keterangan dari proses tanya jawab langsung. Untuk melengkapi wawancara ini, maka digunakan daftar pertanyaan yang telah disusun tersebut dinamakan pedoman wawancara (Interview Guide).
Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah metode yang digunakan untuk menelusuri data historis, sebagian data yang tersedia adalah berbentuk surat-surat, catatan harian, laporan, memorial, dokumen dan foto. Dalam penelitian ini data yang dimaksud disediakan adalah foto-foto atau gambar yang diambil dari lapangan seperti, foto gedung tempat beribadah, foto Ibadah Raya atau Ibadah Minggu, foto kebaktian-kebaktian lainnya dan kegiatan organisasi-organisasi yang ada dan sebagainya.
Library Research (Telaah Kepustakaan)
Yaitu cara memperoleh data yang dilakukan melalui studi kepustakaan. Dalam hal ini kajian pustaka dilakukan untuk mendapatkan data yang bersifat teoritis, asas-asas, konsepsi, pandangan, tema melalui buku, dokumen, artikel, jurnal, tulisan dan catatan lainnya yang berhubungan dengan topik penelitian.
3.5. Interpretasi Data
Bogdan dan Biklei menjelaskan bahwa analisis data adalah upaya yang dilakukan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari dan memutuskan apa yang diceritakan pada orang lain (Moleong, 2005:248).
Data-data yang diperoleh dari lapangan akan diatur, diurutkan, dikelompokkan ke dalam kategori, pola atau uraian tertentu. Di sini penelit i akan mengelompokkan data-data yang diperoleh dari hasil wawancara, observasi dan sebagainya yang selanjutnya akan dipelajari dan ditelaah secara seksama. Diinterpretasikan/analisis sesuai dengan teori yang digunakan dalam penelitian agar diperoleh hasil atau kesimpulan yang baik.
3.6. Jadwal Kegiatan
No KEGIATAN
B U L A N
Mei Juni Juli Agustus Septembre Oktober
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1. Penyusunan Prop. Penelitian √ √
2. Seminar Prop. Penelitian √
3. Revisi Prop. Penelitian √ √ √ √ √
4. Turun Lapangan √ √ √ √
5. Bimbingan √ √ √
6. Penulisan Laporan Akhir √ √ √ √
3.7. Keterbatasan Peneliti
Sebagai mahasiswi yang baru menyusun skripsi untuk pertama kalinya, maka sebagai peneliti yang belum berpengalaman mengalami masalah yang harus dihadapi sehingga hal tersebut menjadi suatu keterbatasan dala m penelitian ini. Dalam mewawancarai informan kunci dan informan biasa, penulis merasa kesulitan untuk mendapatkan informasi karena para informan biasa merasa takut dan curiga sehingga penulis tidak dapat mendapatkan informasi yang lebih mendalam dari para informan biasa atau jemaat. Kesulitan lainnya adalah bahwa pihak gereja tidak menyetujui judul awal dari skripsi ini yang isinya “Strategi Gereja Karismatik Dalam Merekrut Jemaat” pihak gereja merasa judul ini terlalu sensitif dan khawatir akan menimbulkan masalah dan mengatakan bahwa kata merekrut adalah suatu pengertian untuk sebuah perusahaan yang ingin memperoleh keuntungan.
Oleh karena itu, atas seizin dari dosen pembimbing maka penulis merubah judul skripsi ini menjadi “Strategi Pertumbuhan Gereja”. Sebagai peneliti dan sebagai anggota jemaat dari gereja ini, maka penulis mengalami kesulitan dalam bersikap dalam penulisan skripsi ini. Penulis sadar akan posisi sebagai peneliti sosial yang harus dituntut untuk dapat bersikap netral dan mampu mengungkapkan kebenaran dalam pelaksanaan berdasarkan metode penelitian.
Untuk mewawancarai Pemimpin gereja inipun penulis mendapat kesulitan, karena para pegawai gereja ini mengatakan bahwa akan sulit untuk menemui Pemimpin tersebut. Butuh waktu yang cukup lama untuk dapat
menemui Pemimpin gereja ini. Untuk mendapatkan profil pihak-pihak yang memegang peranan sebagai wakil Gembala atau wakil Pemimpin juga sulit, karena ini menyangkut kehidupan pribadi.
Akhirnya wawancara ini dialihkan kepada yang dapat memberikan informasi yang akurat yang tentunya berkaitan dengan permasalahan penelitian penulis, yaitu Koordinator Misi dan Penginjilan karena beliau merupakan jemaat mula-mula yaitu jemaat yang telah bergabung dengan gereja ini mulai dari berdirinya gereja, sehingga beliau mengetahui perkembangan gereja ini dari awal sampai saat ini.
BAB IV
INTERPRETASI DATA LAPANGAN
4.1. INTERPRETASI DATA LAPANGAN
4.1.1. Sejarah Pendirian GBI (Gereja Bethel Indonesia) Di Indonesia
Gereja Bethel Indonesia yang disingkat GBI adalah salah satu sinode Gereja di Indonesia yang bernaung di bawah Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI). Selain PGI, GBI juga merupakan anggota dari Dewan Pentakosta Indonesia (DPI) dan Persekutuan Injili Indonesia (PII).
Pada 6 Oktober 1970, di Sukabumi, Jawa Barat, Pdt. H.L. Senduk (yang juga dikenal sebagai Oom Hoo) dan rekan-rekannya membentuk sebuah organisasi gereja baru bernama Gereja Bethel Indonesia (GBI). Gereja ini diakui oleh Pemerintah secara resmi melalui Surat Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 41 tanggal 9 Desember 1972.
Pada tahun 1922, Pendeta W.H. Offiler dari Bethel Pentecostal Temple
Inc., Seattle, Washington, Amerika Serikat, mengutus dua orang
misionarisnya ke Indonesia, Pdt. Van Klaveren dan Groesbeek, orang Amerika keturunan Belanda. Pada mulanya mereka memberitakan Injil di Bali, tetapi kemudian pindah ke Cepu, Jawa Tengah. Di sini mereka bertemu dengan F.G. Van Gessel, seorang Kristen Injili yang bekerja pada Perusahaan Minyak Belanda Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM). Van Gessel pada tahun sebelumnya telah bertobat dan menerima hidup baru dalam kebaktian Vrije Evangelisatie Bond yang dipimpin oleh Pdt. C.H. Hoekendijk
(ayah dari Karel Hpekendjik). Groosbeek kemudian menetap di Cepu dan mengadakan kebaktian bersama-sama dengan Van Gessel. Sementara itu, Van Klaveren pindah ke Lawang, Jawa Timur.
Januari 1923, Nyonya Van Gessel sebagai wanita yang pertama di Indonesia menerima Baptisan Roh Kudus dan demikian pula dengan suaminya beberapa bulan setelahnya. Tanggal 30 Maret 1923, pada hari raya Jumat Agung, Groesbeek mengundang Pdt. J. Thiessen dan Weenink Van Loon dari Bandung dalam rangka pelayanan babtisan air pertama kalinya di Jemaat Cepu ini. Pada hari itu, lima belas jiwa baru dibabtiskan.
Dalam kebaktian-kebaktian berikutnya, bertambah-tambah lagi jemaat yang menerima Baptisan Roh Kudus, banyak orang sakit mengalami kesembuhan secara mujizat. Karunia-karunia Roh Kudus dinyatakan dengan ajaib di tengah-tengah jemaat itu.
Inilah permulaan dari gerakan Pentakosta di Indoneia. Berempat, Van Klaveren, Groesbeek, Van Gessel dan Pdt. J. Thiessen, berempat merupakan pionir dari “Gerakan Pentakosta” di Indonesia. Kemudian Groesbeek pindah ke Surabaya dan Van Gessel telah menjadi Evangelis yang meneruskan memimpin Jemaat Cepu.
April 1926, Groesbeek dan Van Klaveren berpindah lagi ke Batavia (Jakarta). Sementara Van Gessel meletakkan jabatannya sebagai Pegawai Tinggi di BPM dan pindah ke Surabaya untuk memimpin Jemaat Surabaya. Jemaat yang dipimpin Van Gessel itu bertumbuh dan berkembang pesat dengan membuka cabang-cabang di mana-mana, sehingga mendapat
pengakuan Pemerintah Hindia Belanda dengan nama “De Pinksterkerk in Indonesia” (sekarang Gereja Pentakosta di Indonesia).
Pada 1932, Jemaat di Surabaya ini membangun gedung gereja dengan kapasitas 1.000 tempat duduk (Gereja terbesar di Surabaya pada waktu itu). Tahun 1935, Van Gessel mulai meluaskan pelajaran Alkitab yang disebutnya “Studi Tabernakel”. Gereja Bethel Pentecostal Templ, Seattle, kemudian
mengurus beberapa misionaris lagi. Satu diantaranya yaitu, W.W. Patterson membuka Sekolah Alkitab di Surabaya (NIBI: Netherlands Indies Bible Institute). Sesudah Perang Dunia II, para misionaris itu membuka Sekolah Alkitab di berbagai tempat.
Sesudah pecah perang, maka kepimpinan gereja harus diserahkan kepada orang Indonesia. H.N. Rungkat terpilih sebagai ketua Gereja Pentakosta di Indonesia untuk menggantikan Van Gessel. Jemaat gereja yang seharusnya menjaga jarak dari sikap politik yang terpecah belah terjebak dalam nasionalisme yang tengah berkobar-kobar pada saat itu. Akibatnya roh nasionalisme meliputi suasana kebaktian dalam Gereja-gereja Pentakosta. Van Gessel menyadari bahwa ia tidak bisa lagi bertindak sebagai pemimpin.
Kondisi rohani Gereja Pentakosta di saat itu menyebabkan ketidakpuasan di sebagian kalangan pendeta-pendeta gereja tersebut. Ketidakpuasan ini juga ditambah lagi dengan kekuasaan otoriter dari Pengurus Pusat Gereja. Akibatnya, sekelompok pendeta yang terdiri dari 22 orang, memisahkan diri dari Organisasi Gereja Pentakosta, diantaranya adalah Pdt. H.L. Senduk. Pada tanggal 21 Januari 1952, di kota Surabaya,
mereka kemudian membentuk suatu organisasi gereja yang baru yang bernama Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS).
Van Gessel dipilih menjadi “Pemimpin Rohani” dan H.L Senduk ditunjuk menjadi “Pemimpin Organisasi” (Ketua Badan Penghubung). Senduk berperan sebagai pendeta dari jemaatnya di Jakarta, sedangkan Van Gessel memimpin jemaatnya di Jakarta dan Surabaya. Pada tahun 1954, Van Gessel meninggalkan Indonesia dan pindah ke Irian Jaya (waktu itu di bawah Pemerintahan Belanda). Jemaat Surabaya diserahkannya kepada menantunya, Pdt. C. Totays.
Di Hollandia (sekarang Jayapura). Van Gessel membentuk suatu organisasi baru yang bernama Bethel Pinkesterkerk (sekarang Bethel
Pentakosta). Van Gessel kemudian meninggal dunia pada tahun 1957 dan kepemimpinan Jemaat Bethel Pinkesterkerk diteruskan oleh Pdt. C. Totays. Tahun 1962, sesudah Irian Jaya diserahkan kembali kepada Pemerintah Indonesia, maka semua warga Negara Kerajaan Belanda harus kembali ke negerinya. Jemaat berbahasa Belanda di Hollandia ditutup, tetapi jemaat-jemaat berbahasa Indonesia berjalan terus di bawah pimpinan pendeta-pendeta Indonesia.
Roda sejarah berputar terus dan GBIS di bawah pimpinan H.L. Senduk berkembang dengan pesat. Bermacam-macam kesulitan dan tantangan yang harus dihadapi organisasi ini. Namun semakin besarnya organisasi, begitu banyak kepentingan yang harus diakomodasi. Pada tahun 1968-1969, kepemimpinan Senduk di GBIS diambil alih oleh pihak-pihak lain yang
disokong suatu keputusan Menteri Agama. Senduk dan pendukungnya memisahkan diri dari organisasi GBIS. 6 Oktober 1970, H.L. Senduk dan rekan-rekannya membentuk sebuah organisasi gereja baru bernama Gereja Bethel Indonesia (GBI) dan diakui Pemerintah secara sah pada tahun 1972 sebagai suatu Kerkgenootschap yang berhasil hidup dan berkembang di bumi
Indonesia.
Pdt. H.L. Senduk melayani GBI Jemaat Petamburan dibantu oleh istrinya Pdt. Helen Theska Senduk, Pdt. Thio Tjong Koan dan Pdt. Harun Sutanto. Pada tahun 1972, Pdt. H.L. Senduk memanggil anak rohaninya, Pdt. S.J. Mesach untuk membantu pelayanan di GBI Jemaat Petamburan. Saat itu, Pdt. S.J. Mesach telah menjadi Gembala Sidang GBI Sukabumi, yang telah dilayaninya sejak 1963.
4.1.2. Sejarah Berdirinya dan Perkembangan Gereja GBI Medan Plaza Di Medan
Gereja yang berakar pada aras Gerakan Karismatik di bawah naungan GBI Surabaya yang dipimpin oleh Pdt. Alex Tanusaputra ini bertumbuh dan berkembang bukan hanya di bagian Timur Pulau Jawa. Perkembangannya juga nyata terlihat di wilayah barat Pulau Jawa di bawah naungan Pdt. Ir. Niko Njotoraharjo.
Pada perkembangannya gereja ini mengutus seorang Hamba Tuhan yang diurapi untuk melayani di wilayah Sumatera Utara, yaitu Pdt. R. Bambang Jonan yang membuka Gereja Bethany Indonesia sejak tahun 1993,
yang terletak di Uniland selama beberapa waktu lamanya. Dikarenakan beberapa hal GBI pindah ke tempat lain, Hotel Tiara dan Hotel-hotel ataupun tempat lainnya juga sudah pernah menjadi tempat beribadah untuk jemaat GBI, tetapi dikarenakan di Tiara sudah ada GKPB (Gereja Kristen Perjanjian Baru), maka GBI pindah lagi ke tempat lain.
Setelah mendapat tempat yang pasti yaitu di Hotel Danau Toba Internasional dan melalui pergumulan-pergumulan mereka, maka dibentuklah nama Kemah Daud di belakang dari GBI tersebut. Setelah sekian lama kebaktian berjalan di Hotel Danau Toba Internasional, maka dibentuklah jemaat baru (tempat ibadah yang baru) ke Hotel Asean dan membuat jemaat baru dengan sekretariat berada di jalan Teuku Umar. Setelah berada di Hotel Asean beberapa waktu dan melihat pertambahan atau pertumbuhan jemaat yang begitu pesat sehingga tempat tersebut tidak lagi mencukupi untuk menampung banyak jemaat yang hadir untuk beribadah. Oleh karena itu mereka mencari tempat yang lebih luas yang dapat menampung jemaat yang banyak. Akhirnya mereka menemukan Medan Plaza sebagai tempat untuk mengadakan kebaktian yang baru pengganti dari Hotel Asean.
Alasan mereka pindah dari Hotel Asean ke Medan Plaza dikarenakan ruangan yang kecil tidak cukup untuk menampung semua anggota jemaat dan simpatisan yang beribadah di GBI. Beliau memulai ibadah dengan anggota jemaat berjumlah 119 orang dan terus berkembang sampai dengan saat ini mencapai sekira 35.000 jiwa termasuk seluruh cabang yang ada di dalam kota dan luar kota, sedangkan jemaat Medan Plaza sendiri berjumlah 14.000 jiwa.
Perkembangan Gereja ini bisa dikatakan cepat mengingat banyaknya gerakan-gerakan Pantekostal yang telah mengalami titik jenuh dalam pelayanan jemaatnya setelah sebelumnya gerakan ini merupakan salah satu gerakan awal bagi revival (kebangunan rohani) di Indonesia. Dan sebagian
yang mengikuti perkembangan kebangunan rohani masih terus bertahan dan berkembang hingga saat ini.
Kemudian Pdt. Niko Njotorahardjo menurunkan nama Kemah Daud dari belakang nama GBI, karena nama Kemah Daud sudah sangat terkenal, sehingga beliau tidak ingin nama gereja yang diagung-agungkan bukan Tuhan Yesus. Oleh karena itu nama gereja yang digunakan hanya GBI dan disesuaikan dengan letak gereja itu berada.
Gereja Karismatik ini memiliki visi-visi mulai dari tahun 1993 sejak awal di bukanya gereja ini sampai saat ini tahun 2007.
Adapun jumlah cabang yang telah berdiri saat ini ialah, Medan Pusat: HDTI, Medan Plaza, Selecta dan Ria. Cabang Medan: Novotel, Sun Plaza, Setia Budi, Pardede Hall, Delitua, Helvetia, Simpang kantor, Menteng, Simalingkar, Padang Bulan, Medan Timur, Adam Malik, Sunggal, Simpang Pemda dan Pinang Baris. Luar Kota: Binjai Mandarin, Tanjung Langkat, Binjai Langkat, Pematang Siantar, Tebing Tinggi, Lubuk Pakam, Kabanjahe, Tanjung Balai, Padang Sidempuan, Rantau Prapat, Porsea, Tarutung, Sibolga, Gunung Sitoli, Galang, Pulau Tello, Sidikalang, Lintong, Tiga Binanga, Langsa, Berastagi dan Pulau Baluta.
Namun demikian kegiatan gereja tidak terbatas pada ibadah-ibadah yang diselenggarakan tiap-tiap Minggunya saja, karena Gembala (Pemimpin Gereja) secara khusus memiliki ikatan yang kuat dengan Gereja Induk di Jakarta yang telah membelah dengan Gereja Pusatnya di Surabaya GBI (Gereja Bethany Indonesia).
4.1.3. Kegiatan Selain Ibadah Raya Minggu Dan Kegiatan Kemanusiaan GBI Medan Plaza
Selain Ibadah Raya, Gereja GBI Medan Plaza ini memiliki kegiata-kegiatan setiap minggunya. Dimulai pada hari Rabu malam diadakan KTM (Kebaktian Tengah Minggu), dalam kebaktian ini diutamakan untuk melayani orang-orang sakit baik fisik maupun jiwanya diakhir ibadahnya. Karena pada hari Minggu tidak memiliki kesempatan untuk waktu yang panjang. Pada hari Kamis pagi diadakan WBI (Wanita Bethel Indonesia), ini ditujukan bagi kaum wanita agar dapat berfungsi dengan baik di rumah tangga, masyarakat dan gereja. Karena wanita memiliki multiperan, sehingga memerlukan dorongan semangat dan motivasi. Kemudian hari Sabtu sore diadakan kebaktian pemuda, karena pemuda dianggap generasi penerus kepemimpinan, oleh karena itu harus dipersiapkan dengan baik mulai dari pendidikannya sampai masalah kerohanian mereka. Sehingga para pemuda dapat menjadi penerus yang berpendidikan dan jujur.
Setiap sebulan sekali diadakan Ibadah Doa Pengerja untuk mengadakan Ibadah Bersama dari seluruh Gereja Cabang dan Pos PI seputar
wilayah Medan dan sekitarnya. Ini ditujukan untuk memberitahukan visi yang harus dicapai dan dilaksanakan oleh setiap Gereja-gereja Cabang. Ibadah Doa Malam juga diselenggarakan sebulan sekali dalam rangka menjawab panggilan untuk berdoa bagi visi dan misi gereja yang didukung oleh seluruh pengerja baik di Pusat dan Cabang. Tiap-tiap hari gereja mengadakan doa di menara doa dan rumah doa untuk meninggikan Tuhan, sehingga api di Mezbah tidak pernah padam dinaikkan melalui GerejaNya (Im 6:13).
Namun demikian kegiatan gereja tidak terbatas pada Ibadah-ibadah yang diselenggarakan tiap-tiap minggunya saja, karena Gembala (Pemimpin Gereja) secara khusus memiliki ikatan yang kuat dengan Gereja Induk di Jakarta yang telah membelah dengan Gereja Pusatnya di Surabaya GBI (Gereja Bethany Indonesia).
Gembala Gereja yang bertahan pada GBI (Gereja Bethel Indonesia) di bawah pimpinan Pdt. Ir. Niko Njotoraharjo menjalin hubungan yang baik dengan Hamba-hamba Tuhan dan gereja-gereja yang berada di Luar Negeri seperti Amerika dan Eropa. Melalui tuntunan Tuhan, Gembala yang memiliki hubungan baik dengan gereja-gereja aras Internasional ini menuai banyak kepercayaan yang secara individu maupun kelompok telah mendapatkan visi dan misi untuk membantu baik gereja maupun sarana-sarana umum seperti Sekolah dan Rumah-rumah Sakit di wilayah Asia, termasuk Indonesia.
Pada masa VOC pelayanan kepada orang miskin diserahkan
sepenuhnya kepada gereja. Gereja dengan sendirinya mempercayakan tugas itu kepada para diaken. Di samping persembahan-persembahan, pemasukan
diakoni itu terdiri dari sumbangan-sumbangan, hibah-hibah dan denda-denda yang dikenakan oleh Kompeni kepada pegawai-pegawainya karena alas an-alasan tertentu (Locher, 1997:35).
Begitu pula pada Gereja Karismatik GBI Medan Plaza ini, yaitu melakukan berbagai pelayanan kemasyarakatan atau organisasi. Gereja ini melakukan kegiatan-kegiatan kemanusiaan seperti; mengadakan kegiatan medis di Desa Muara. Jumlah pasien yang dilayani sebanyak 250 orang yang terdiri dari orangtua dan anak-anak. Tim medis yang melayani sebanyak 4 orang terdiri dari 2 orang dokter dan 2 orang suster, juga dibantu oleh tim dari Medan. Gereja ini juga mengelola sebuah rumah singgah yang kini terdapat 20 anak usia pra remaja yang ditampung. Selain disekolahkan, anak-anak ini juga diajar untuk bersosialisasi dengan benar. Kemudian memberikan bantuan medis gratis kepada korban-korban gempa di Jogjakarta.
Memberikan bantuan sembako kepada 100 kepala keluarga korban bencana banjir di Babura dan kepada 70 kepala keluarga korban-korban kebakaran di Belawan. Gereja ini juga menyalurkan bantuan kepada para korban bencana gempa di Muara Sipongi – Mandailing Natal berupa selimut dan mie instant, serta pengobatan gratis kepada 45 korban (pasien). Pada saat perayaan natal tahun lalu gereja ini memberikan 5000 bingkisan natal untuk anak-anak Desa Muara, Tapanuli Utara dan pelayanan kesehatan gratis. Pada bencana banjir di Besitang, Langkat, Sumatera Utara, gereja memberikan barang-barang bantuan berupa makanan, pakaian, keperluan mandi, obat-obatan, dll. Pada tsunami di Aceh, GBI membawa dokter dari
Singapura, kain-kain penutup mayat, minuman, indomie dan masih banyak lagi yang merupakan kebutuhan untuk bencana alam di Aceh tersebut.
Gambar 1.
Gambar 2.
Bantuan kepada bencana banjir di Besitang, Langkat, Sumatera Utara
Kemudian kegiatan kemanusiaan yang rutin dilakukan adalah kegiatan donor darah yang diadakan tiga kali dalam setahun dan gratis. Kegiatan ini bertempat di ruang Poliklinik GBI Medan Plaza yang disediakan secara gratis bagi semua orang. Kegiatan ini dilakukan melalui kerjasama dengan Palang Merah Indonesia. Gereja ini juga telah mendirikan sebuah Sekolah Kristen yang bernama Sekolah Kristen SD Mulia yang terdapat di Sitinjo, Dairi. Sekolah ini terdiri dari 12 kelas (Playgroup, TK & SD) dan juga terdapat di dalamnya sarana untuk olahraga dan tentunya dengan pembayaran uang sekolah yang murah.
Bukan hanya Sekolah dengan pembayaran yang murah yang telah didirikan oleh gereja ini, tetapi juga sebuah Rumah Sakit yang diberi nama Rumah Sakit Tello yang terdapat di Kecamatan Pulau Pulau Batu, Nias Selatan. Rumah Sakit adalah hasil kerjasama dengan sebuah badan sosial
bernama MAP International (Medical Assistance Program dari Amerika) dan para agen minyak goreng Sania. Dibangun di atas tanah seluas 4.500m2, dengan luas bangunan 1150m2. Rumah Sakit ini terdiri dari Poliklinik Umum, Gigi, Ruang Gawat Darurat, Ruang Bersalin, Apotik, Ruang Rapat, Ruang Dokter dan juga Ruang Pengolahan Limbah dan lain sebagainya. Yang terlibat dalam pembangunan Rumah Sakit Tello ini adalah para donator, GBI Medan Plaza, Pemda setempat.
BAGAN I
STRUKTUR ORGANISASI GBI MEDAN PLAZA
Sumber: GBI Medan Plaza, 2007.
GEMBALA SIDANG SEKRETARIAT KEUANGAN DEWAN PENASEHAT TIM AHLI PELAYANAN KEMASYARAKATAN SOSIAL KESEHATAN PENDIDIKAN PELAYANAN KEROHANIAN PI MISI PENDIDIKAN PASTORAL PELAYANAN KEMATIAN DEPARTEMEN ANAK FAMILY ALTAR PELAYANAN PERNIKAHAN PELAYANAN KONSELING PELAYANAN BAPTISAN DEPARTEMEN DOA DEPARTEMEN MUSIK DEPARTEMEN KUNJUNGAN PEMUDA WBI KOM
BAGAN II
STRUKTUR MISI & PENGINJILAN
MISI & PENGINJILAN
Market Place Gereja & Pos PI Suku Terabaikan
Sekolah Kantor Kampus
Bidang Keuangan Bidang Penjadwalan Bidang Administrasi Bidang Pengajaran
4.2. PROFIL INFORMAN 4.2.1. Profil Informan Kunci
Adapun yang menjadi informan kunci dalam penelitian ini adalah Koordinator Misi dan Penginjilan, dimana seorang Koordinator ini memiliki pemahaman yang mendalam mengenai nilai-nilai ajaran agama dalam gereja karismatik dan mengetahui perkembangannya dari awal sampai saat ini.
Koordinator Misi dan Penginjilan yaitu Pdp. Erni Simatupang (40 tahun) adalah jemaat mula-mula, maksudnya telah menjadi jemaat gereja karismatik ini mulai dari awal berdirinya gereja ini pada tahun 1993 di Pekan