BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data penelitian kualitatif membutuhkan teknik-teknik kualitatif. Pada umumnya dalam penelitian kualitatif, peneliti dapat memimilih beberapa teknik
pengumpulan data antara lain, seperti observasi, wawancara, life history, anlisis dokumen, catatan harian peneliti, dan analisis isi media. Karena penelitian kualitatif lebih banyak dilaksanakan dilapangan, serta masalah-masalah yang diteliti menyangkut hal-hal yang sulit diungkapkan, membutuhkan pendekatan sosial langsung dengan informan serta berhubungan dengan masalah-masalah pemaknaan. Oleh karena itu dalam penelitian ini peniliti melaksanakan pengumpulan data melalui penelitian lapangan (field research), dengan teknik pengumpulan data, yaitu observasi dan wawancara. Karena metode ini mendukung peneliti untuk memperoleh data dari informan mengenai masalah yang akan diteliti.
3.5.1 Penelitian Lapangan (Field Research)
Penelitian lapangan adalah pengumpulan data dilapangan yang meliputi kegiatan pengumpulan data di lokasi penelitian. pengumpulan data dalam penelitian ini melalui wawancara dan observasi.
3.5.1.1Observasi
Karl Weick (dalam Seltiz, Wrightsman, dan Cook 1976: 253) mendefenisikan observasi sebagai pemilihan, pengubahan, pencatatan, dan pengodean serangkaian perilaku dan suasana yang berkenaan dengan organisme in situ, sesuai dengan tujuan-tujuan empiris (Rakhmat, 2004: 83). Sebagaimana alat pengumpul data ilmu sosial lainnya, maka observasi juga menuntut penguasaan keahlian-keahlian (skills) tertentu jika ingin digunakan secara efektif, dan seperti metode-metode lainnya, ketentuan keahlian yang diperlukan peneliti-peneliti dalam studi observasi merupakan hal yang khas dalam penelitian.
Untuk melihat suatu observasi lebih jelas, perlu dibedakan antara observasi yang dibuat sebagai hasil yang disebabkan oleh penelitian dan observasi yang digunakan sebagai dasar alat pengumpulan data. Observasi memiliki arti yang lebih sempit lagi, yaitu observasi adalah mengamati (watching) dan mendengar (listening) perilaku seseorang selama beberapa waktu tanpa melakukan manipulasi atau pengendalian, serta mencatat penemuan yang memungkinkan atau memenuhi syarat
untuk digunakan ke dalam tingkat penafsiran analisis. Observasi juga merupakan rancangan alamiah untuk menggambarkan realitas sebagai kerangka yang diamati. Observasi mempunyai peran penting sebagai salah satu teknik pengumpulan data yang digunakan. Fungsi-fungsi dari observasi adalah deskripsi, mengisi data, dan memberikan data yang lebih dapat digeneralisasikan. Observasi sebagai deskripsi memiliki arti bahwa observasi berguna untuk menjelaskan, memberikan, dan merinci gejala yang terjadi. Kedua, Observasi sebagai alat untuk mengisi data adalah observasi digunakan untuk memeperoleh data yang dapat diperoleh dengan teknik-teknik penelitian lainnya.
Selain mempunyai fungsi, observasi juga mempunyai tujuan. Tujuan utama observasi adalah untuk mengamati tingkah laku manusia sebagai peristiwa aktual, yang memungkinkan kita memandang tingkah laku sebagai proses. Bagaimana cara orang menanggapi suatu angket atau wawancara, tampaknya sedikit menceritakan bagaimana mereka merasakan dalam suatu kesempatan tertentu pada suatu waktu. Tujuan pokok kedua observasi adalah untuk menyajikan kembali gambaran-gambaran kehidupan sosial, kemudian dapat diperoleh cara-cara lain. Dalam hal ini sering digunakan secara berdampingan data lain untuk mendapatkan kualitas kehidupan atau realitas penemuan-penemuan penelitian secara keseluruhan dari seorang peneliti.
Berdasarkan dari beberapa pengertian, fungsi, dan tujuan observasi tidak jauh dari kata mengamati. Keberadaan observasi dalam sebuah penelitian merupakan hal utama dalam sebuah penelitian. Peneliti terlebih dahulu melakukan observasi untuk mengamati sebuah kejadian atau peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sosial yang layak untuk diteliti. Observasi dianggap sebagai teknik pengumpulan data yang dapat membantu peneliti dalam melaksanakan sebuah penelitian. dengan menggunakan observasi maka peneliti tau ada atau tidaknya masalah yang terjadi dalam sebuah fenomena. Sebuah observasi harus dilaksanakan dengan tepat jika ingin mendapatkan hasil yang tepat. Dan sebuah observasi dapat dikatakan tepat pelaksanaannya bila memenuhi ciri-ciri sebagai berikut:
1. Dapat menangkap keadaan (konteks) sosial alamiah tempat terjadinya perilaku.
2. Dapat menangkap peristiwa yang berarti atau kejadian-kejadian yang mempengaruhi relasi sosial para partisipan.
3. Mampu menentukan realitas serta peraturan yang berasal dari falsafah atau pandangan masyarakat yang diamati.
4. Mampu mengidentifikasi keteraturan dan gejala-gejala yang berulang dalam kehidupan sosial dengan membandingkan dan melihat perbedaan dari data yang diperoleh dalam suatu studi dengan data studi dari keadaan (setting) lingkungan lainnya.
Observasi dapat dilakukan dengan berbagai macam bentuk, baik bentuk yang kuno (primitif) maupun bentuknya yang lebih modern, mencakup juga kegiatan dilaboratorium. Teknik-teknik dalam melakukan observasi ini banyak ragamnya sehingga pengamat hendaknya mampu mencari teknik yang cocok untuk observasi penelitian. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metoder observasi langsung.
1.3.1.1.1 Observasi Langsung
Yang dimaksud dengan observasi langsung adalah pengamatan yang dilakukan secara langsung pada objek yang diobservasi, dalam arti bahwa pengamatan tidak menggunaka media-media transparan. Hal ini dimaksud bahwa peneliti secara langsung melihat atau mengamati apa yang terjadi pada objek penelitian. observasi langsung ini dibagi dalam beberapa bentuk yaitu (Bungin, 2001: 143-147) Observasi Berstruktur.
Observasi berstruktur biasanya disebut juga dengan pengamatan sistematik, dimana peneliti secara lebih leluasa dapat menentukan perilaku apa yang akan diamati pada awal kegiatan pengamatan, agar permasalahan dapat dipecahkan. Karena observasi berstruktur ini adalah pengamatan yanng sistematik, ini berarti isi pengamatan telah dipersiapkan oleh peneliti.
a. Observasi Tidak Berstruktur
Dimaksud dengan observasi tidak berstruktur, observasi dilakukan tanpa menggunakan guide observasi. Dengan demikian pada observasi ini, pengamat harus mampu secara pribadi mengembangkan daya pengamatannya dalam mengamati suatu objek. Pada observasi ini yang
terpenting adalah pengamat harus menguasai “ilmu” tentang objek secara umum dari apa yang hendak diamati. Dengan demikian, akan membantu lebih banyak pekerjaanya dalam mengamati objek yang baru.
b. Observasi Partisipasi
Observasi partisipasi ini bermmula dari penelitian-penelitian antropologi sosial. Observasi partisipasi kemudian berkembang luas diberbagai ilmu sosial. Observasi partisipasi yang dimaksud adalah pengumpulan data melalui observasi terhadap objek pengamat dengan langsung hidup bersama, merasakan serta berada dalam sirkulasi kehidupan objek pengamat. Dalam melakukan observasi ini, pengamat harus selalu ingat dan memahami betul apa yang hendak direkam.
c. Observasi kelompok.
Bentuk obsercasi lain yang sering digunakan pula adalah observasi kelompok. Observasi ini dilakukan secara berkelompok terhadap sesuatu atau beberapa objek sekaligus. Misalnya suatu tim peneliti yang sedang mengamati gejolak perubahan harga pasar sekaligus.
3.5.1.2 Wawancara
Wawancara adalah teknik penelitian yang sosiologis dari semua teknik-teknik penelitian sosial. Ini karena bentuknya berasal dari interaksi verbal antara peneliti dan respondens. Banyak yang mengatakan bahwa cara yang paling baik untuk menentukan mengapa sesorang bertingkah laku, dengan menanyakan secara langsung. Ciri khas dari wawancara adalah wawancara merupakan suatu kegiatan komunikasi verbal dengan tujuan mendapatkan informasi yang penting (Black dan Champion, 2001: 305-306). Teknik wawancara merupakan salah satu cara pengumpulan data dalam suatu penelitian. karena menyangkut data , maka wawancara merupakan salah satu element penting dalam proses penelitian. Wawancara dalam perkembangannya tidak harus dilakukan secara langsung melainkan dengan perkembangan zaman dan teknologi, wawancara dapat dilakukan melalui sarana komunikasi, seperti telepon dan internet.
Wawancara sering disebut sebagai suatu proses komunikasi dan interaksi. Sebagai suatu proses komunikasi karena antara pewawancara dan informan mensyaratkan adanya penggunaan simbol-simbol tertentu (semisal bahasa) yang saling dapat mengerti kedua belah pihak. Interaksi serta komunikasi menjadi mudah jika waktu, tempat, serta sikap masyarakat menunjang situasi. Ciri-ciri sosial, sikap, kesehatan,
latar belakang dari responden atau informan, juga merupakan sifat-sifat yang mempengaruhi interaksi.
Didalam sebuah wawancara harus ada sebuah materi yang dipersiapkan oleh peneliti dalam melaksanakan wawancara. Materi wawancara adalah persoalan yang ditanyakan kepada informan, berkisar antara masalah atau tujuan penelitian. Materi wawancara yang baik memiliki; pembukaan, isi, dan penutup (Bungin, 2001: 133). Isi wawancara juga mempengaruhi situasi wawancara, pewawancara dan responden sendiri. Isi wawancara yang tidak sesuai dengan minat responden sangat mempengaruhi situasi wawancara. Hal ini memerlukan ketrampilan pewawancara dan dapat menggugah kemampuan responden dalam berwawancara. Suatu keserasian antara pewawancara, responden serta situasi wawancara yang perlu dipelihara supaya terdapat suatu komunikasi yang lancar dalam wawancara (Nazir,1988: 237).