• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODOLOGI PENELITIAN

D. Teknik Pengumpulan Data

Terdapat beberapa teknik pengumpulan data dalam penelitian ini antara lain: angket, observasi kelas, wawancara dan kuesioner, analisis dokumen, serta instrumen sikap dan tes hasil belajar.

1. Angkat

Intrumen angket digunakan sebagai salah satu alat untuk mengumpulkan data (Frankel dan Wallen, 1993:101), dalam hal ini tentang sikap siswa, guru dan pembelajaran PAI-SD yang selama ini dilaksanakan di kawasan Pantura kabupaten Karawang. Ada dua asfek yang dikembangkan dalam penelitian ini, yakni: a) angket untuk guru tentang pelaksanaan pembelajaran yang selama ini dilaksanakan oleh guru, dan b) insturmen angket bagi siswa SD untuk menjaring data tentang kebutuhan siswa yang berkaitan dengan pembelajaran PAI.

2. Observasi Kelas

Observasi kelas, digunakan untuk mengukur tingkah laku individu maupun proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati baik dalam situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan (Sudjana & Ibrahim, 1989 :109). Dalam konteks penelitian ini, observasi dilakukan pada setiap tahapan penelitian, baik pada tahap pra-survey, tahap pengembangan maupun pada tahap uji coba yang lebih luas. Pada tahap pra-survey observasi digunakan untuk mengumpulkan data tentang pola pembelajaran yang selama ini dilakukan oleh guru dan siswa di dalam kelas, serta fasilitas termasuk media pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) yang tersedia dan penggunaannya dalam pembelajaran. Untuk memudahkan dalam pelaksanaan observasi dalam pengumpulan data,

dipersiapkan instrumen observasi dalam bentuk cheklist dan isian terbuka. Pada tahap uji coba, baik terbatas maupun lebih luas, observasi digunakan untuk mengumpulkan data mengenai perkembanga pembelajaran PAI yang dilakukan guru dan siswa, serta kemajuan perkembangan sikap kerjasama, toleransi dan saling menghormati. Pada tahap observasi ini, proses pengumpulan dibantu dengan alat observasi dalam proses pembelajaran PAI dan sikap kerjasama, toleransi dan saling menghormati sebagai salah satu tujuan proses pembelajaran PAI-SD sebagai fokus dalam penelitian ini.

Penggunaan alat observasi pada tahap pengembangan model pembelajaran ini dilakukan dengan pertimbangan (1) pengelaman langsung merupakan instrumen ampuh guna men-tes suatu kebenaran berdasarakan kenyataan yang sebenaranya. (2) memungkinkan diperolehnya data secara obyektif, (3) terekamnya peristiwa atau kejadian penting yang bermanfaat bagi perbaikan proses pembelajaran, dan (4) memberikan pemahaman yang baik bagi peneliti mengenai situasi yang rumit dan kompleks.

3. Wawancara dan Kuesioner

Wawancara dan kuesioner dalam penelitian bertujuan “untuk mendapatkan informasi yang berkenaan dengan pendapat, apresiasi, harapan, persepsi, keinginan, keyakinan dan lain-lain dari individu/responden melalui pernyataan yang sengaja diajukan oleh peneliti” (Nana Sujana dan Ibrahim,1989:102). Penelitian ini menggunakan wawancara dan kueseioner pada tahap pra-survei, pengembangan model dan uji coba.

mendapatkan informasi kondisi obyektif proses pembelajaran PAI pada saat sebelum penelitian dilaksanakan. Informasi ini berkenaan dengan persepsi guru mengenai hakekat pembelajaran PAI, pola guru mengajar, pola belajar siswa, ketersediaan fasilitas, mapun kondisi psikologis sekolah serta berbagai pihak mengenai pengembangan model pembelajaran PAI multikulturalisme untuk menanamkan sikap kerjasama, toleransi dan saling menghormati bagi siswa Sekolah Dasar. Pada tahap pengembangan dan uji coba model, wawancara dan kuesioner digunakan untuk mendapatkan informasi dalam upaya perbaikan dan penyempurnaan model pembelajran yang sengan dikembangkan. Wawancara pada tahap ini, adalah wawancara tidak berstruktur dengan harapan sumber data dapat mengemukakan pandangan dan pendapatnya secara kebih bebas sesuai dengan kondisi aoa yang dialami dan yang diinginkannya. Sedangankan kuesioner disusun secara berpariasi dengan maksud agar responden memiliki kebebasan dalam menjawab pertanyaan sesuai dengan pendapatnya sendiri, dengan memilih beberapa alternatif jawaban yang disediakan serta opsi agar responden dapat mengemukakan pendapat yang dianggap lebih sesuai dengan keinginan responden.

Dalam penelitian ini, kuesioner digunakan untuk menjaring data, antara lain: (1) Analisis tentang sikap multikutur dalam KTSM memiliki relevansi dengan PAI (2) kemampuan dan aktivitas belajar siswa, (3) kemampuan dan kinerja guru, (4) kondisi dan pemanfaatan sarana pembelajaran, fasilitas dan lingkungan belajar.

4. Analisis Dokumen

Analisis dokumen digunakan untuk memperoleh berbagai informasi khususnya untuk melengkapi data dalam rangka studi pendahuluan, yaitu untuk menjawab pertanyaan penelitian yang berhubungan dengan perencanaan dan pelaksanaan kurikulum Pendidikan Agama Islam. Untuk itu analisis dokumen dilakukan dengan cara mempelajari dokumen atau catatan-catatan yang berkenaan dengan pokok masalah yang diteliti, antara lain: (1) Dokumen kurikulum PAI yang selama ini dijadikan rujukan, mencakup silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP); (2) Buku sumber yang digunakan dalam pembelajaran PAI-SD; (3) Buku pegangan siswa; (4) Dokumen berhubungan dengan keanekaragaman suku, adat, ras dan agama sekitar sekitar pantura; dan (5) program pembelajaran yang telah dibuat oleh guru yang dipilih sebagai subjek penelitian. Dari beberapa dokumen yang terkumpul sebagai informasi kemudian dianalisis sebagai dasar praktis draf awal model pembelajaran PAI-SD yang akan dikembangkan.

5. Instrumen Sikap dan Tes

Instrumen digunakan mengukur sikap multikultur yang diukur melalui sikap kerjasama, toleransi dan sikap saling menghormati (KTSM) digunakan untuk mengukur tingkat efektivitas hasil implementasi model pembelajaran yang telah dikembangkan dengan model pembelajaran yang selama ini digunakan oleh guru dalam pembelajaran PAI-SD. Oleh karena itu, tujuan instrumen ini akan digunakan pada tahap uji validasi model. Begitu juga, instrumen tes hasil belajar siswa dalam pembelajaran PAI-SD yang akan digunakan pada tahap uji coba

model yang lebih luas dan uji validasi model. Pada uji-coba model luas, instrumen tes hasil belajar ini akan digunakan untuk melihat apakah model pembelajaran yang dikembangkan selain efektif untuk menanamkan sikap KTSM, juga berdampak positif dan efektif untuk meningkatkan penguasaan materi PAI bila dibandingkan dengan model pembelajaran yang selama ini digunakan oleh guru.

Instrumen pengukur yang digunakan dalam penelitian ini, baik instrumen sikap maupun tes hasil belajar, bukanlah instrumen buku atau standar. Namun instrumen yang sengaja disusun sendiri oleh peneliti dengan bantuan pertimbangan ahli untuk intrumen sikap siswa, serta kerjasama guru untuk tes hasil belajar. Hal ini berdasarakan pada pertimbangan bahwa instrumen yang disusun senditi sesuai dengan tujuan penelitian, akan lebih dapat diungkapkan keberhasilan model pembelajaran, menurut Nana Sujana dan Ibrahim (1998:101) menemukakan bahwa dalam penelitian pendidikan, penyusunan tes prestasi belajar buatan peneliti sebagai alat pengumpulan data jauh lebih baik dari pada tes baku atau sekedar pengumpulan data sekunder dari dokumen hasil belajar yang telah ada, sebab instrumen yang dihasilkan dapat dipandang sebagai hasil penelitian itu sendiri.

E.Analisis Data 1. Prasurvey

Untuk memperoleh profil proses pembelajaran PAI-SD yang sedang dilaksanakan pada saat ini, data yang diperoleh dianalisis dengan teknik analisis profil yakni melihat kecenderungan sehingga diperoleh kecenderungan sehingga

diperoleh gambaran bagaimana guru mengembangkan perencanaan dan implementasi pembelajaran PAI pada saat ini, bagaimana kemampuan dan kinerja Guru, dan siswa serta bagaimana pemanfaatan fasilitas dan lingkungan

2. Pengembangan Model

Dalam penelitian dan pengembangan dilakukan analisis data sebagai berikut:

a. Hasil observasi data dianalisis dengan pendekatan kualitatif untuk kemudian dilakukan revisi dan ujicoba berkelanjutan;

b. Hasil kuesioner kepada para ahli, dianalisis dan dirancang menjadi model pembelajaran yang valid dan dapat diimplementasikan. Analisis yang digunakan dengan menggunakan analisis kualitatif

c. Untuk menghasilkan model pembelajaran yang solid, dilakukan tes setelah uji coba dilaksanakan. Hasil test dianalisis dan yang digunakan adalah analisis kuantitatif terhadap hasil belajar yang dicapai oleh siswa melalui statistik uji-t yakni membandingkan rata-rata hasil belajar antara tiap ujicoba yakni membandingkan hasil uji 1 dengan hasil test ujicoba 2, membandingkan hasil ujicoba 2 dengan test ujicoba 3, membandingkan hasil test ujicoba 3 dengan test ujicoba 4 dan membandingkan hasil test ujicoba 4 dengan test ujicoba 5. Data yang dibandingkan diambil dari nilai uji-t, nilai rerata dan gain masing-masing ujicoba.

3. Tahap penelitian uji validasi

Dalam penelitian dan pengembangan ini, dimaksudkan untuk menghasilkan suatu produk model pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam persfektif multikultural untuk menanamkan dikap KTSM bagi peserta didik SD. Desain model pembelajaran Pendidikan Agama Islam sesuai dengan kondisi lapangan, sehingga dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Pendidikan Agama Islam bagi peserta didik Sekolah Dasar. Sejalan dengan tujuan tersebut, maka penelitian ini terdapat dua jenis data, yaitu data kualitatif dan kuantitatif.

Data kualitatif dihasilkan dari studi pendahuluan atau kegiatan pra-survey baik dalam studi literatur maupun studi lapangan, serta proses pengembangan dan penemuan model itu sendiri baik melalui uji coba terbatas maupun uji coba yang lebih luas, khususnya dalam upaya melihat dampak dari model yang dikembangkan untuk menanamkan sikap kerjasama, toleransi dan saling menghormati dalam pembelajaran PAI bagi siswa Sekolah Dasar. Analisis data kualitatif dilakukan melalui penafsiran secara langsung untuk menyusun kesimpulan, sebagaimana dikemukakan Sanjaya (2002:119) bahwa, “peneliti tidak perlu melakukan pengolahan data melalui perhitungan secara matematis sebab data telah memiliki makna apa adanya”. Oleh karen itu, data kualitatif dapat disusun dan langsung ditafsirkan guna penyusunan kesimpulan penelitian melalui katagorisasi data kualitatif berdasarkan masalah dan tujuan penelitian. Data kuantitatif, digunakan dalam proses uji coba dan uji validasi model. Dalam proses uji coba, analisis data kuantitatif digunakan untuk melihat dampak penggunaan

model pembelajaran yang sedang dikembangkan terhadap penguasaan materi pelajaran PAI-SD.

Hal ini dilakukan ini dilakukan untuk mencari selisih (gains) antara hasil pre dan postest. Sedangkan pada uji validasi model, data kuantitatif digunakan untuk menguji efektifitas model pembelajaran PAI multiklultur untuk menanamkan sikap kerjasama, toleransi, dan saling menghormati (KTSM) yang selanjutnya dibandingkan dengan model pembelajaran PAI yang selama ini dilaksanakan oleh guru.

BAB V P E N U T U P

Pada Bab V (lima) desertasi ini, merupakan bagian penutup dari keseluruhan pembahasan yang telah dipaparkan. Pada bagian ini, akan dikemukakan tiga hal penting sebagai akhir dalam penelitian ini, yakni: simpulan, implikasi, dan rekomendasi.

A.Simpulan

Berdasarkan kajian hasil dan pembahasan penelitian tentang pengembangan model pembelajaran PAI multikultur untuk menanamkan sikap KTSM bagi siswa SD, maka di sini dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

Pertama: Pembelajaran PAI di Sekolah Dasar (SD) di kawasan pantura Kabupaten Karawang, selama ini dilaksanakan dengan pemberian materi pelajaran yang sebanyak-banyaknya, di mana guru mendominasi hampir pada semua kegiatan belajar, disajian melalui pembelejaran yang lebih bersifat dogmatis sehingga mendorong pemahaman panatisme bahwa yang berbeda sebagai lawan yang cenderung melahirkan sikap dan pemahaman siswa yang berujung pada tindak kekerasan. Selama ini pembelajaran PAI di SD tidak memberikan pemahaman tentang makna multikultur untuk menanamkan sikap kerjasama, toleransi dan saling menghormati (KTSM) dibelajarkan kepada siswa sejak masuk pada bangku Sekolah Dasar (SD). Kawasan Pantura Kabupaten Karawang sebagai masyarakat yang memiliki keberagaman sosial, budaya maupun agama. Begitu juga keberagaman agama pada masyarakat

Pantura terbukti adanya agama-agama besar di Indonesia tumbuh dan berkembang sudah sejak lama di kawasan Pantura kabupaten Karawang. Sehingga sistem dari peneyelenggaraan pendidikan, kawasan Pantura Kabupaten Karawang dapat dijadikan sebagai salah satu miniantur peneyelenggaraan Pendidikan Agama multikultur yang ada di Indonesia.

Kedua: Model pembelajaran PAI multikultur untuk menanamkan sikap KTSM bagi peserta didik SD, yakni:

1. Desain model Pembelajaran PAI Multikultur untuk menanamkan sikap KTSM bagi peserta didik SD di kawasan Pantura Kabupaten Karawang. Tujuannya adalah untuk memfasilitasi peserta didik untuk memiliki kemampuan PAI yang berwawasan multikultur untuk menanamkan sikap KTSM sesuai dengan sikap budaya masyarakat Pantura yang relevan dan fungsional dalam kehidupan sehari-hari di masyarkat. Oleh karen itu, kegiatan pembelajaran dikembangkan melalui tiga tahap, yaitu: tahap pendahuluan, merupakan tahap pengkonsolidasian yang bertujuan untuk menciptakan kondisi awal dalam proses pembelajaran PAI yang berwawasan multikultur untuk menanamkan sikap KTSM yang relevan dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. Sehingga mampu mendorong peserta didik untuk memahami bahwa pembelajaran PAI bukan hanya mengajarkan tentang masalah ibadah tentang hubungan masnusia dengan Khaliq-Nya, tetapi peserta didik memaknai pembelajaran PAI sebagai pembelajaran yang bersinergi dengan relitas kehidupan sehari-hari. Tahap ini terdiri beberapa tahap, yaitu: a) simulasi sikap budaya Pantura dengan

bermain peran tertentu yang berhubungan dengan materi pelajaran, b) apresiasi terhdap sikap budaya untuk menggali pengetahuan awal peserta didik tentang pelajaran yang lalu dikatikan dengan tema budaya dan topik pelajaran PAI yang baru, c) langkah sosialisasi dan prosedur model pembelajaran PAI berwawasan multikultur untuk menanamkan sikap KTSM. Kemudian pada tahap inti sebagai tahap penciptaan makna, pada tahap ini menekankan pada proses penciptaan makana baru terhdap peserta didik yang didasarkan pada pengalaman budaya masyarakat sehari-hari. Proses ini dilakukan bersarakan pada pengalaman budaya yang dikaitkan dengan materi pembelajaran PAI baru dan diakhiri tugas. Selanjutnya diikuti dengan kegiatan interaksi peserta didik dengan sumber, diskusi dan pendalam konsep serta pengembangan dan aplikasi yang bersifat kontektual. Tahap penutup (konsolidasi) merupakan langkah untuk mengkonsolidasikan hasil belajar melalui kegiatan peyimpulan bersama terhadap hasil belajar serta tindak lanjut dari hasil belajar. Kegiatan pembelajaran didukung dengan sumber, alat, dan media buku pembelajaran PAI, buku sumber supplement pembelajaran PAI multikultur untuk menanamkan sikap KTSM dalam bentuk budaya masyarakat yang relevan dan masih fungsional dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. Adapun penilaian pembelajaran lebih menekankan pada bentuk penilaian dalam proses dan hasil belajar. Adapun penilaian dilakukan melalui proses dan hasil belajar berupa observasi, baik observasi terhadap sikap budaya masyarakat Pantura maupun observasi terhadap aktivitas peserta didik dalam proses pembelajaran. Penilaian

terhadap hasil belajar dilakukan melalui laparan LKS hasil diskusi kelompok. LKS hasil tugas pemgembangan dan aplikasi konstektual, maupun hasil test penguasaan materi pembelajaran PAI.

Ketiga: Efetivitas model Pembelajaran PAI multikultur untuk menanamkan sikap KTSM bagi peserta didik SD, adalah sebagai berikut: 1. Model pembelajaran PAI multikultur bagi peserta didik SD secara efektif

mampu meningkatkan sikap KTSM sesuai dengan tradisi budaya Pantura pada masyarakat Pantura kabupaten Karawang jika dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional yang selama ini dilaksanakan oleh guru mata pelajaran PAI. Hal ini dibuktikan dengan adanya perbedaan selisih skor rata-rata pada waktu sebelum maupun sesudah mengikuti kegiatan pebelajaran PAI multikultur dengan model pembelajaran PAI yang dilaksanakan secara konvensional. Berarti bahwa model pembelajaran PAI multikultur secara efektif mampu menanamkan sikap KTSM bagi peserta didik SD di kawasan Pantura kabupaten Karawang. Dan hal ini dapat dimengerti, mengingat model pembelajaran PAI berwawasan multikultur tercipta suasana belajar kondusip dan lebih bergairah sehingga mampu mendorong peserta didik disamping memiliki pengetahuan tentang pembelajaran PAI, namun juga peserta didik memiliki sikap kerjasama, toleransi dan saling menghormati (KTSM) yang relevan dengan budaya masyarakat pantura kabupaten Karawang.

2. Meningkatnya hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran PAI. Berdasarkan multikultur disamping efektif mampu menanamkan sikp

KTSM, namun juga memiliki dampat positif adanya peningkatan penguasaan peserta didik terhadap materi pembelajaran PAI-SD di kawasan Pantura kabupaten Karawang. Hal ini ditunjukan dengan adanya perbedaan hasil belajar antara skor rata-rata test peserta didik pada waktu sebelum maupun sesudah mengikuti kegiatan pembelajaran PAI multikultur bila dibanding dengan model pembelajaran konvensional yang selama ini dilaksanakan oleh guru PAI. Hasil belajar PAI peserta didik SD meningkat dengan menggunakan pembelajaran PAI multikultur lebih meningkat jika dibandingkan dengan modep pembelajaran PAI yang konvensional. Efektivitas model pembelajaran PAI mampu meningkatkan sikap KTSM dapat dimengerti, karena pembelajaran PAI multikultur merupakan model yanglebih sesuai dengan dengan karterisitik peserta didik SD cenderung belajar lebih bergairah karena pembelajaran PAI multikultur mampu menanamkan sikap KTSM yang sesuai dan relevan dengan sikap budaya masyarakat sehingga pembelajaran PAI sebagai sebuah realitas yang berguna dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. Sementara, pembelajaran PAI konvensional yang selama ini dilaksakan oeh guru lebih mendorong peserta didik untuk menghapal.

3. Pembelajaran PAI berwawasan multikultur mampu mendorong peserta didik terciptanya makna baru sebagai upaya dalam memperoleh pemahaman terpadu antara konsep pembelajaran PAI dengan tradisi budaya Pantura. Pengembangan model pembelajaran PAI multikultur untuk menanamkan sikap KTSM dengan memanfaatkan kontek sikap budaya

masyarakat sehari-hari yang sudah ada pada diri peserta didik itu sendiri sebagai pengetahuan awal dalam pembelajaran PAI. Pengalalaman dan latar belakang budaya Sunda pada masyarakat Karawang selanjutnya dikaitkan dengan konsep materi pembelajaran PAI yang relevan. Sehingga pembelajaran PAI multikultur mampu menanamkan sikap KTSM sesuai dengan budaya serta pada waktu yang bersamaan peserta didik juga menguasai materi pembelajaran PAI.

Keempat: Faktor pendukung. Terdapat beberapa faktor yang mendukung dalam mengembangkan model pembelajaran PAI berwawasan multikultur, yaitu: (a) adanya kemauan dan motovasi guru untuk mengubah terhadap cara pandang dan cara konvensional yang selama ini dilaksanakan oleh guru PAI pada Sekolah Dasar; (b) terciptanya suasana yang kondusip (mendukung, memberi dan menerima serta adanya keterbukaan dari semua guru) dalam proses pembelajaan PAI dengan menenempatkan peserta didik sebagai isu sentral; (c) dukungan kepala sekolah dalam bentuk kebijakan-kebijakan sehingga dapat menciptakan suasana yang kondusip terhadap guru dalam pelaksanan pengembangan model pembelajaran PAI berwawasan multikulur; (d) adanya antusias dari peserta didik yang sangat tinggi mengingat model pembeljaran PAI multikultur dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik Sekolah Dasar; (e) tersedianya sarana dan prasarana baik dari sumber, alat maupun media yang ada relevansinya terhadap pembelajaran PAI sehingga dapat melahirkan sebuah supplement pembelajaran PAI yang berwawasan multikultur; (f) adanya respon yang positif dari pihak pemerintah daerah,

Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) kabupaten Karawang serta para kepada UPTD terutama yang berada di kawasan Pantura kabupaten Karawang.

Kelima: Faktor penghambat pengembangan model pembelajaran PAI multikultur. Terdapat beberapa faktor yang akan mengurangi terhadap optimalisasi pengembangan model pembelajaran PAI multikultur, yaitu: (a) guru cenderung membutuhkan waktu untuk beradabtasi dalam melaksanakan model pembelajaran PAI multikultur agar berhasil lebih optimal, maka diperlukan persiapan, pelatihan, pembekalan serta peru adanya penyamaan persepsi terhadap model yang dikembangkan; (b) penegakan disiplin yang lebih ketat supaya tidak mengganggu dalam proses pembelajaran; (c) masalah keterbatasan waktu belajar, hal ini terjadi karena adanya kekurangketatan guru dalam mengelola waktu yang tesedia, sehingga implementasi model pembelajaran yang dikembangkan kurang optimal.

B.Implikasi

Temuan hasil penelitian ini menunjukan bahwa pengembangan model pembelajaran PAI Multikultur dapat mempasilitasi peserta didik dalam menguasai materi ajar PAI sebagai upaya untuk menanamkan sikap KTSM dikaitkan dengan budaya masyarakat Pantura. Sehingga memiliki sejumlah implikasi sebagai berikut:

1. Adanya perubahan peran guru PAI bagi peserta didik SD dalam proses pembelajaran. Guru lebih berperan sebagai pemandu dalam mempasilitasi pembelajaran PAI di SD untuk menanamkan sikap KTSM dikaitkan dengan budaya masyarakat Pantura yang sesuai (relevan dan fungsional) dalam kehidupan sehari-hari pada masyarakat Pantura kabupaten Karawang. 2. Dalam proses pembelajaran, guru PAI-SD memerlukan pembekalan awal.

Pembalajaran PAI multikultur sesuai dengan budaya Pantura merupakan model pembelajaran hasil pengembangan dari inovasi baru bagi guru PAI-SD. Oleh karena itu, proses pembelajaran memerlukan intervensi dari guru dalam bentuk pembekalan bagi guru untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya dalam perencanaan, pelaksanaan serta penilaian PAI-SD yang dihubungkan dengan budaya Pantura.

3. Optimalisasi pemanfaatan alat, media dan sumber belajar yang ada di sekolah diarahkan untuk meningkatkan keberhasilan pembelajaran PAI multikultur untuk menanamkan sikap KTSM diintegrasikan dengan budaya masyarakat, ditentukan antara lain dengan memanfaatkan secara optimal terhadap nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat dijadikan sebagai alat, media dan atau sumber belajar PAI-SD untuk menanamkan sikap KTSM dikaitkan dengan budaya masyarakat Pantura dijadikan sebagai sumplement pembelajaran dengan tanpa merubah kurikulum yang sudah ada. Sehingga membawa Konsekwensi adanya keterlibatan tokoh masyarakat (seniman, budayawan, akademisi dan tokoh profsional

setempat), ulama, dan umaro setempat dijadikan sebagai alat, media dan sumber belajar bagi peserta didik SD.

4. Administratur, Komite sekolah dan stakehoder sekolah lainnya membutuhkan orentasi untuk memahami dan mampu memberikan dukungan secara berkesinambungan terhadap proses pembelajaran PAI multikultur untuk menanamkan sikap KTSM yang diingtegrasikan dengan budaya Pantura bagi peserta didik SD di kawasan Pantura kabupaten Karawang.

5. Komunikasi dan sosialisasi dengan orang tua peserta didik maupun kepada masyarakat tentang proses pembelajaran PAI multikultur bagi peserta didik Sekolah Dasar (SD), senantiasa dijalin serta diberi pengertian tentang pentingnya sikap KTSM dikaitkan dengan nilai-nilai budaya Pantura. Hal ini sangat penting agar orang tua dan masyarakat sekitar sekolah memiliki pemahaman dan persefsi yang sama tentang pentingnya pengembangan model pembelajaran PAI di SD yang sedang dan akan dikembangkan.

C. Rekomendasi

Berdasarkan hasil penelitian dan pengembangan, ada tiga hal penting yang dapat direkomendasikan, yakni:

Pertama, bagi guru. Pengembangan model pembelajaran ini dapat

Dokumen terkait