BAB III. METODOLOGI PENELITIAN
3.4. Teknik Pengumpulan data
Pada umumnya dalam penelitian kuantitatif pengumpulan data dapat dilakukan dengan tiga cara, diataranya adalah dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik pengumpulan data yang dapat digunakan oleh peneliti diantaranya adalah: observasi, wawancara, dan dokumentasi. Semua teknik pengumpulan data ini dapat digunakan untuk memperkaya data yang dikumpulkan selama penelitian berlangsung (Edy Suwono, 2016:88).
Teknik pengumpulan data adalah metode atau cara-cara yang dapat digunakan peneliti untuk mengumpulkan data. Teknik pengumpulan data penelitian kuantitatif biasanya melalui obeservasi, kuesioner, wawancara, dan dokumentasi (Ardianto.E, 2011:162). Jenis data yang dikumpulkan adalah data primer dan data skunder.
3.4.1. Data Primer
Data primer diperoleh langsung dari Penyuluh Pertanian Kabupaten Aceh Singkil melalui observasi (pengamatan langsung), wawancara langsung dan dengan menggunakan daftar pertanyaan atau kuesioner yang telah dipersiapkan sebelumnya oleh peneliti.
3.4.1.1. Kuesioner dan Wawancara
Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan menyebarkan kepada setiap sampel penelitian seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis untuk dijawab oleh penyuluh (Siswanto & Suyanto, 2018).
Kuesioner merupakan teknik atau cara pengumpulan data dimana semua penyuluh yang dijadikan sebagai sampel penelitian mengisi semua pertanyaan atau pernyataan lalu mengembalikan kepada peneliti. (Sugiono, 2019:216)
Kuesioner merupakan instrumen utama yang digunakan dalam penelitian ini yang berisi beberapa pertanyaan dalam bentuk pernyataan terbuka dan tertutup mengenai pemanfaatan cyber extension oleh penyuluh pertanian dalam meningkatakan kompetensi dan kinerja penyuluh pertanian di kabupaten Aceh Singkil.
Kuesioner yang memuat pertanyaan dalam bentuk pernyataan terdiri atas beberapa bagian antara lain:
1) Bagian pembuka mengenai identitas dan data penyuluh pertanian meliputi nama penyuluh, jenis kelamin, wilayah kerja.
2) Bagian pertama mengenai karakteristik penyuluh pertanian meliputi: umur, pendidikan formal, pendidikan non formal, tingkat kepemilikan TIK, jumlah mengikuti pelatihan, status penyuluh (PNS, THL, atau Swadaya).
3) Bagian kedua mengenai faktor lingkungan sebagai pendukung pemanfaatan Cyber Extension oleh penyuluh pertanian.
4) Bagian ke tiga mengenai motivasi sebagai pendukung pemanfaatan Cyber Extensionoleh penyuluh pertanian.
5) Bagian keempat mengenai pemanfaatan Cyber Extension oleh penyuluh pertanian.
6) Bagian kelima mengenai kompetensi penyuluh pertanian.
7) Bagian keenam mengenai kinerja penyuluh pertanian.
Kuesioner yang digunakan oleh peneliti telah disusun secara terstruktur sehingga dapat diketahui informasi dari variabel-variabel penelitian. Responden akan mengisi kuesioner secara mandiri sambil didampingi oleh peneliti bilamana ada poin pertanyaan yang kurang dipahami, kemudian dilakukan wawancara menggunakan alat komunikasi pada beberapa penyuluh. Wawancara dengan koordinator penyuluh atau Kepala Dinas TPHP tingkat kabupaten juga dilakukan untuk menambah data kualitatif. Semua populasi yang berjumlah 80 orang tenaga penyuluh pertanian kabupaten Aceh Singkil dijadikan sebagai sampel penelitian yang mengisi semua kuesioner yang diantarkan langsung oleh peneliti sekaligus mewancarai seputar pemanfaatan Cyber Extension, tingkat kompetensi dan kinerja penyuluh pertanian. Jika ada penyuluh yang tidak dapat dijumpai secara langsung maka peneliti melalukan wawancara melalui Telephone Seluler.
Sugyiono mengatakan bahwa jika penelitian dilaksanakan pada lingkup yang tidak terlalu luas maka kuesioner dapat diantarkan langsung dalam waktu tidak tidak terlalu lama, maka pengiriman angket kepada penyuluh tidak perlu melalui pos atau internet sebab dengan adanya kontak langsung antara penyuluh dengan peneliti akan memberikan kondisi yang jauh lebih baik sehingga penyuluh dapat memberikan data yang objektif dan lebih cepat bahkan dapat dilanjutkan dengan sedikit wawancara untuk melengkapi hasil penelitian (Sugyiono, 2019:217)
3.4.1.2. Observasi
Observasi adalah sebuah proses pengamatan menggunakan panca indra peneliti dengan demikian peneliti dapat melihat konsdisi masyarakat sebagai sasaran penelitian (Martono,2016:86). Balnaves dan Caputi (Ajari, 2015:96) menyatakan bahwa observasi atau pengamatan adalah sebuah kunci untuk penelitian kuantitatif.
Observasi adalah pengamatan yang telah dirancang secara sistematis tentang apa yang akan diteliti, waktunya kapan dan dimana tempatnya. Observasi dilakukan apabila peneliti telah tahu dengan pasti variabel apa saja yang akan diamati dan diteliti. Dalam melakukan observasi atau pengamatan, peneliti menggunakan instrumen penelitian yang telah diuji validitas dan reabilitasnya.
Disamping itu angket atau kuesioner juga dapat dijadikan pedoman dalam melakukan observasi (Sugiono, 2019:215).
Observasi yang dilakukan oleh peneliti adalah dengan melakukan pengamatan terhadap kondisi lapangan seperti bagaimana perkembangan jaringan
internet diwilayah yang akan diteliti, dalam hal ini adalah Kabupaten Aceh Singkil, mengamati jumlah TIK yang dimiliki penyuluh pertanian dalam mengakses internet seperti Smartphone dan Komputer, mengamati bagaimana keaktifan penyuluh pertanian dalam mengakses internet dalam menggali informasi dan pengetahuan khususnya berhubungan dengan materi penyuluhan pertanian, bagaimana pengenalan penyuluh pertanian terhadap Cyber Extension dan pemanfaatannya,apa yang menjadi motivasi penyuluh pertanian dalam mengakses internet khususnya Cyber Extension, bagaimana tingkat kompetensi atau kemampuan dalam membina kelompok tani dan kinerja dilapangan, dan lainnya yang dianggap penting dalam melengkapi penelitian ini.
3.4.1.3. Dokumentasi
Dokumentasi adalah sebuah metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengumpulkan berbagai dokumen yang berhubungan dengan masalah penelitian, apakah berupa dokumen pemerintah, hasil penelitian terdahulu, foto-foto atau gambar, undang-undang, dan sebagainya, dimana dokumen tersebut dapat sebagai sumber data pokok atau penunjang dalam mengeksplorasi masalah penelitian (Martono, 2016:87). Dengan adanya dokumentasi maka dapat melengkapi penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti sehingga mempermudah peneliti dalam mencapai tujuan penelitian.
3.4.2. Data Skunder.
Data sekunder yang dikumpulkan dalam penelitian ini berkaitan dengan keadaan umum, data pendukung atau potensi aktual mengenai kondisi geografis
yang dapat diperoleh dari pihak-pihak atau lembaga terkait seperti Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura Dan Peternakan (TPHP) Kabupaten Aceh Singkil berupa data penyuluh PNS, THL dan Swadaya, kondisi penyuluh pertanian. Data sekunder juga dikumpulkan dari setiap UPTB-BPP Kecamatan se-Kabupaten Aceh Singkil seperti data monografi wilayah, data penyuluh pertanian dalam angka tahun 2019 yang telah di update pada website Simluhtan dan data lainnya yang relevan dengan penelitian ini.