BAB III METODOLOGI PENELITIAN
D. Teknik Pengumpulan Data
Observasi adalah pengamatan terhadap suatu objek yang diteliti baik secara langsung maupun tidak langsung dengan melibatkan semua indera (penglihatan, pendengaran, penciuman, pembau, perasa) untuk memperoleh data yang harus dikumpulkan dalam penelitian.37 Dalam penelitian ini, pengamatan yang di lakukan dengan cara langsung tentang bagaimana pelaksanaan produk Arrum Haji menurut perspektif ekonomi islam di PT.
Pegadaian Syariah Unit Simpang Benteng Payakumbuh.
b. Wawancara
Wawancara adalah pertemuan antara dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu.38Dalam penelitian ini wawancara dilakukan dengan mewawancarai karyawan di PT. Pegadaian Syariah Unit Simpang Benteng.
37 Danu Eko Agustinova, Memahami Metode Penelitian Kualitatif, (Yogyakarta:Calpulis,2015), hal.36
38 Danu Eko Agustinova, Memahami Metode Penelitian Kualitatif, (Yogyakarta:Calpulis,2015), hal.33
c. Studi Pustaka
Teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara membaca, mempelajari, dan menganalisa buku-buku, peraturan-peraturan, dan surat kabar yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.
d. Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah untuk mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan-catatan, transkip, buku, agenda, dan sebagainya. Metode ini digunakan sebagai pelengkap guna memperoleh data sebagai bahan informasi yang berupa latar belakang kantor, tugas pokok dan tata kerja, strutur organisasi, presentasi serta data lain yang mendukung.39
E. Teknik Analisa Data
Analisis data adalah proses mencari menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan bahan-bahan lain sehingga dapat mudah dipahami dan temuannya dapat diinformasikan pada orang lain. Analisis data dilakukan dengan mengorganisasikan data, menjabarkannya kedalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola memilih mana yang penting dan akan
39 Burhan Bungin, Penelitian Kualitatif, (Jakarta: Kencana, 2007), hal. 10
dipelajari dan membuat kesimpulan yang dapat diceritakan kepada orang lain.40
Sifat analisis dalam penelitian kualitatif adalah penguraian apa adanya fenomena yang terjadi (deskriptif). Dalam penelitian ini peneliti melakukan analisis interpretif dengan mengandalkan daya imajinasi, intuisi, dan daya kreasi peneliti dalam proses yang disebut reflektif dalam menangkap makna dari objek penelitian. Tujuan dari penelitian tersebut adalah untuk menemukan makna peristiwa yang ada pada objek penelitian dan menginterpretasikan makna dari hal yang diteliti.41 Data-data yang diperoleh akan dianalisis dengan beraturan yang terdiri :
1. Reduksi data
Yaitu proses berfikir sensitive yang memerlukan kecerdasan, keluasan, dan kedalaman wawasan yang tinggi, mereduksi data sama dengan merangkum, memelih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting dan dicari tema serta , polanya dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah peneliti mengumpulkan data selanjutnya.42
40 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan, ( Bandung: Alfabeta,2009),hal. 334
40.Andi Mappiare AT, Dasar-Dasar Metodologi Riset Kualitatif untuk Ilmu Sosial dan Profesi, (Malang: Jenggala Pustaka Utama, 2009) hal. 80
42 Sugiyono , Memahami Penelitian Kualitatif, (Bandung: Alfabeta2008), hal.93
2. Penyajian Data
Setelah data direduksi maka langkah selanjutnya adalah menyajikan data dan bentuk data yang disajikan nantinya akan berupa teks naratif.
3. Menarik Kesimpulan
Langkah terakhir adalah penarikan kesimpulan, kesimpulan yang ditarik masih bersifat sementara, kesimpulan ini diperoleh dari reduksi dan penyajian data. Kesimpulan dalam penelitian kualitatif adalah temuan-temuan baru yang belum pernah ada, temuan ini berupa deskripsi yang sebelumnya masih remang-remang sehingga nantinya akan lebih jelas.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Profil PT.Pegadaian Syariah Unit Simpang Benteng Payakumbuh 1. Sejarah Berdirinya Pegadaian Syariah Unit Simpang Benteng
Cikal bakal Pegadaian Syariah terjadi pada tanggal 1 April 1901 di Sukabumi dimana pada saat itu didirikannya Pegadaian Negara Pertama di Sukabumi Jawa Barat. Setelah itu terjadi lagi perubahan dimana Pegadaian Negara Pertama di ganti menjadi Lembaga Resmi Jawatan. Beberapa tahun kemudian tepatnya pada tahun 1961 terjadi lagi perubahan bentuk pegadaian dari Lembaga Resmi Jawatan berubah menjadi Perusahaan Negara.
Perkembangan teknologi juga membawa pegadaian berkembang mengganti bentuk dari Perusahaa Negara menjadi Perusahaan Jawatan (Perjan), ini semua tidak luput bagian dari Direkyorat Jenderal Moneter Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Tahun demi tahun pegadaian berganti bentuk perusahaan, semua ini tidak terlepas dari usaha yang dilakukan untuk memberikan kenyamanan bagi nasabah, dan itu semua juga disesuaikan dengan perkembangan zaman. Tepat pada tahun 1990 Pegadaian berganti menjadi Perusahaan Umum (PERUM). Dimana sifat dari PERUM ini antara Perusahaan Jawatan dan Perseroan Terbatas (PT).
Dan dalam bentuk ini juga pegadaian melayani kepentingan masyarakat dan sudah dibolehkan mencari keuntungan. Lalu pada tahun 2012
pegadaian berganti menjadi Perseroan Terbatan (Persero), dimana pegadaian diberi target mengejar keuntungan yang disetorkan kepada Pemilik (Pemerintah) tanpa melupakan kepentingan dan pelayanan kepada masyarakat. Dan hingga saat ini pegadaian masih berbentuk persero.
2. Visi dan Misi Pegadaian Syariah Unit Simpang Benteng a. Visi
Menjadi The Most Valuable Financial Company di Indonesia dan Sebagai Agen Inklusi Keuangan Pilihan Utama Masyarakat.
b. Misi
1. Memberikan manfaat dan keuntungan optimal bagi seluruh pemangku kepentingan dengan mengembangkan bisnis inti.
2. Membangun bisnis yang lebih beragam dengan mengembangkan bisnis baru untuk menambah proposisi nilai ke nasabah dan pemangku kepentingan.
3. Memberikan service excelence dengan focus nasabah melalui : a. Bisnis proses yang lebih sederhana dan digital.
b. Teknologi informasi yang handal dan mutakhir.
c. Praktek manajemen risiko yang kokoh.
d. Sumber Daya Manusia yang profesional berbudaya kinerja baik.
3. Profil Pegadaian Syariah Unit Simpang Benteng Profil Perusahaan
Nama : Pegadaian Syari’ah Unit Simpang Benteng
Alamat : Jl. Sudirman No. 35 Petak V Simpang Benteng Kota Payakumbuh
Telepon : 0811-7097-996 Jumlah Karyawan : 4 orang
4. Struktur Organisasi Pegadaian Syariah Unit Simpang Benteng
Setiap perusahaan harus memiliki manajemen dalam menentukan suatu posisi dan pekerjaan yang harus dilakukan sesuai dengan posisi masing-masing. Maka dari itu setiap perusahaan memerlukan struktur organisasi yang mengelompokkan karyawan sesuai dengan posisinya dan bidang pekerjaannya.
Hal tersebut juga memberikan kemudahan bagi setiap karyawan dalam pendelegasian wewenang didalam perusahaan itu agar jelas dan tidak tumpang tindih yang bisa mengacaukan jalannya poses operasional perusahaan tersebut. Berikut ini merupakan struktur organisasi dari Pegadaian Syari’ah Unit Simpang Benteng kota Payakumbuh.
Struktur Organisasi Peadaian Syariah Unit Simpang Benteng
Sumber : Pegadaian Syariah Unit Simpang Benteng
5. Produk – Produk Pegadaian Syariah Simpang Benteng 1. Rahn
Pembiayaan rahn dari pegadaian syariah yaitu solusi tepat kebutuhan dana cepat yang sesuai syariah. Cepat prosesnya, aman penyimpanannya, emas batangan, berlian, smarthphone, laptop, barang elektronik lainnya, sepeda motor, mobil atau barang bergerak lainnya.
SECURITY Heri Naldo
Chandra
PENGELOLA UNIT Kurnia Sari Devita, SE
KASIR Erman Nasution
PEMASARAN Muhammad
Ikhwan
2. Arrum BPKB
Arrum BPKB yaitu pembiayaan Syariah untuk pengembangan untuk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dengan jaminan BPKB Kendaraan Bermotor.
3. Amanah
Amanah yaitu pemberian pinjaman berprinsip syariah pengusaha mikro/kecil., karyawan internal dan ekternal serta professional, guna pembelian kendaraan bermotor
4. Arrum Emas
Arrum emas yaitu produk pegadaian untuk memberikan pinjaman dana tunai dengan jaminan perhiasan (emas dan berlian).
Pinjaman dapat diangsur melalui proses yang mudah dan seusai syariah
5. Arrum Haji
Arrum haji yaitu pembiayaan untuk mendapatkan porsi ibadah haji secara syariah dengan proses mudah, cepat dan aman.
6. Rahn Tasjily Tanah
Pembiayaan Rahn tasjily tanah yaitu pembiayaan berbasis syariah yang diberikan kepada masyarakat berpenghasilan tetap/rutin, pengusaha mikro/kecil dan petani dengan jaminan sertifkat tanah dan HGB
7. Tabungan Emas Pegadaian
Tabungan emas pegadaian yaitu layanan penjualan dan pembelian emas dengan fasilitas titipan.
B. Analisis Pelaksanaan Produk Arrum Haji Menurut Perspektif Ekonomi Islam dan Dampaknya Dalam Meningkatkan Jumlah Nasabah
a. Pelaksanaan Pembiayaan Arrum Haji Menurut Perspektif Ekonomi Islam di Pegadaian Syariah Unit Simpang Benteng
Pegadaian syariah merupakan salah satu lembaga keuangan yang juga berfungsi untuk menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan dana untuk masyarakat. Pegadaian syariah dalam menjalankan operasionalnya berpegang kepada prinsip syariah. Pada dasarnya, produk-produk berbasis syariah memiliki karakteristik seperti, tidak memungut bunga dalam berbagai bentuk karena riba.43. Pegadaian syariah sekarang ini juga memiliki beberapa produk yang berguna untuk memecahkan permasalahan yang ada dalam masyarakat. Salah satu produknya yaitu Arrum Haji.
43Andri Soemitra, Bank dan Lembaga Keungan Syariah,(Jakarta:Prenadamedia Group,2009),hal.388
Berdasarkan hasil wawancara yang penulis lakukan dengan Kurnia Sari Devita selaku Pengelola Pegadaian Syariah Unit Simpang Benteng Payakumbuh pada tanggal 22 Mei 2020. Pada tahun 2016, Lembaga Keuangan Syariah non-Bank yaitu Pegadaian Syariah menerbitkan produk yang bertujuan untuk membantu umat muslim agar mendapatkan nomor porsi haji dengan menggunakan sistem gadai emas. Calon jamaah haji bisa mendapatkan nomor porsi haji dengan cara menggadaikan emas seberat 3,5 gram atau setara dengan Rp. 3.000.000 setelah itu Pegadaian Syariah akan memberikan pembiayaan sebanyak Rp. 25.000.000 untuk membayar setoran awal Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (Sesuai dengan ketentuan Kementerian Agama Republik Indonesia). Pembiayaan tersebut dapat diangsur oleh calon jamaah haji selama jangka waktu yang telah ditentukan diantaranya 12, 24, 36, 48, dan 60 bulan.44 Namun, dalam hal ini yang menjadi permasalahan adalah Arrum Haji di Pegadaian Syariah dianggap sama dengan Dana Talangan Haji. Berikut Perbedaan Dana Talangan Haji dan Arrum Haji.
44 Kurnia Sari DevitA, Pengelola Unit, wawancara langsung, Jumat 22 Juni 2020, Pukul 10.35 WIB
Tabel 4.1
Perbedaan Dana Talangan dan Arrum Haji
Produk Pengertian Akad Fatwa Lembaga
Dana
gadai emas Pendaftran pergi haji, dan Buku
tabungan.
Sumber: Wawancara dengan Pengelola Pegadaian Syariah Unit Simpang Benteng Payakumbuh
Berdasarkan hasil wawancara penulis, menurut penulis antara Arrum Haji dengan Dana Talangan Haji itu memiliki tujuan yang sama yaitu sama-sama memberikan pembiayaan kepada calon jamaah haji untuk mendapatkan nomor porsi haji dengan cara berhutang. Walaupun dari segi akadnya berbeda namun dari segi tujuannya sama.
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin telah menetapkan peraturan menteri Agama No. 24 Tahun 2016 tentang perubahan atas Peraturan Menteri Agama No. 30 Tahun 2013 tentang Bank Penerima Setoran Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji. Dalam pasal 6A dijelaskan bahwa BPS BPIH (Bank Penerima Setoran Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji) dilarang memberikan Dana Talangan Haji baik secara langsung maupun tidak langsung. Dijelaskan pula dalam pasal 12 ayat 1 Dana Talangan Haji yang telah diberikan oleh BPS BPIH sebelum berlakunya Peraturan ini, harus diselesaikan oleh BPS BPIH dengan jamaah haji.45 Dan hasil wawancara dengan Kurnia Sari Devita ia mengatakan bahwa Pegadaian syariah tidak
45 Peraturan Menteri Agama Nomor 24 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Agama Nomor 30 Tahun 2013 tentang Bank Penerima Setoran Biaya Penyelenggara Ibadah Haji.
terikat langsung terkait dengan pelarangan dana talangan haji oleh Kementerian Agama, karena pegadaian syariah hanya sebagai penyedia dana bagi yang ingin menunaikan Ibadah haji ke tanah suci. Yang terkait dengan pelarangan Dana Talangan Haji tersebut yaitu Bank Syariah yang ditunjuk oleh Kementerian Agama untuk penerima Setoran Awal Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji.46
Berdasarkan hal tersebut penulis mengambil kesimpulan, bahwa pegadaian syariah tidak ada hubungannya dengan Pelarangan Dana Talangan Haji oleh Kemenag, karena pegadaian syariah tidak memiliki akses untuk Sistem Komunikasi Haji Terpadu (SISKOHAT) dan Pegadaian Syariah hanya bertindak sebagai perantara untuk memberikan kekurangan dana untuk mendapatkan porsi haji. Yang dimana pegadaian syariah hanya bekerja sama dengan Bank Mitra Syariah yaitu Bank BNI Syariah. Walaupun Tujuannya sama yaitu sama-sama memberikan pembiayaan agar mendapatkan nomor porsi haji dengan cara berhutang dulu. Yang dilarang oleh Kemenag adalah Bank Syariah. Maka dari itu, Pegadaian Syariah tidak melanggar peraturan yang di tetapkan oleh Kemenag RI.
Tentang permasalahan naik haji berhutang, Wabah Al Zuhaili dalam kitab Al-fiqhu al- Islamy Wa Adillatullah menafsirkan bahwa Menurut
46 Kurnia Sari DevitA, Pengelola Unit, wawancara langsung, Jumat 22 Juni 2020, Pukul 10.35 WIB
pendapat Mazhab Maliki “tidak wajib haji dengan cara berhutang meskipun utang kepada anaknya sendiri, jika dia tidak punya harapan untuk dapat melunasi utangnya juga tidak wajib haji dengan harta pemberian orang lain”.
Dan pendapat Mazhab Syafi’i dan Hambali sepakat “Seseorang tidaklah wajib haji disebabkan pemberian orang lain, karena dengan itu ia belum berarti sanggup, baik si pemberi itu merupakan keluarga yang dekat maupun orang lain. Juga tidak peduli apakah yang diberi orang itu berupa bekal dan kendaraan ataukah uang untuk pembelinya, bahwa ia tidak wajib menerimanya, karena dalam menerima itu ia terpaksa memikul tanggung jawab sedang baginya sulit untuk melaksanakannya”.47
Berdasarkan pendapat para ahli diatas, menurut penulis bahwa tidak wajib haji bagi seseorang yang berhutang dan tidak wajib haji bagi seseorang disebabkan atas pemberian orang lain, meskipun pemberian itu dari keluarganya sendiri. Jadi dalam hal ini tidak wajib haji bagi orang yang belum mampu dengan dibiayakan oleh siapapun termasuk diberikan pembiayaan oleh Pegadaian Syariah
Hal ini dibenarkan oleh Kurnia Sari Devita selaku Pengelola unit Pegadaian Syariah berdasarkan hasil wawancara ia mengatakan bahwa pelaksanaan produk Arrum Haji sudah sesuai dengan Fatwa DSN Nomor
47Wahbah Al-Zuhaili, Al-Fiqhu al-Islamy Wa Adilllatuh,(Jakarta: Gema Isani,2011), hal 385.
92/DSN-MUI/IV/2014 tentang Pembiayaan yang disertai Rahn. Dan sebelum berangkat haji, nasabah harus melunasi biaya yang di berikan oleh Pegadaian Syariah untuk mengambil nomor porsi haji sebelum berangkat ke tanah suci.48
Berdasarkan hasil wawancara, menurut penulis calon jamaah pembiayaan Arrum Haji sudah layak berangkat haji, karena calon jamaah haji harus sudah melunasi pembiayaannya sebelum berangkat haji oleh karena itu calon jamaah saat menunaikan ibadah haji tidak mempunyai tanggungan atau beban yang ditanggung. Jadi calon jamaah sudah wajib haji karena sudah bebas dari hutang-hutangnya sebelum berangkat ke Tanah suci.
Pembiayaan Arrum Haji ini menggunakan akad qardh (Pinjaman) yang disertai Rahn (Gadai). Nasabah akan menerima pembiayaan sebesar Rp. 25.000.000 untuk mendapatkan nomor porsi haji dengan menggadaikan 3,5gram senilai dengan Rp. 3.000.000 dan jika nomor porsi haji itu sudah dapat maka nomor porsi haji itu juga akan digadaikan sebagai jaminan juga, jadi jaminan itu setara dengan pembiayaan yang diberikan.49 Hal ini tidak bertentangan dengan syariat islam seperti dalam Surah Al Baqarah ayat 283:
48Kurnia Sari DevitA, Pengelola Unit, wawancara langsung, Jumat 22 Juni 2020, Pukul 10.35 WIB
49Kurnia Sari DevitA, Pengelola Unit, wawancara langsung, Jumat 22 Juni 2020, Pukul 10.35 WIB
“Jika kamu dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (utangnya) hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan, barang siapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
Menggadaikan barang kepada orang yang berpiutang itu dibolehkan. Tujuannya untuk menyakinkan orang yang berpiutang untuk memberikan pinjaman kepada orang yang akan diberikan utang. Produk Arrum Haji di Pegadaian Syariah dibolehkan karena sudah memiliki landasan hukum syariat yaitu fatwa DSN Nomor 92/DSN-MUI/IV/2014 tentang Pembiayaan yang disertai Rahn. Berdasarkan penjelasan tersebut Arrum Haji di Pegadaian Syariah hukumnya boleh karena dalam ketentuan akad Rahn (Gadai) berdasarkan akad Qard (Pinjaman). Yang terdapat pada bagian kelima pasal 1 yaitu “pada prinsipnya akad rahn dibolehkan hanya atas utang piutang (al-dain) yang antara lain timbul karena akad qard, jual bei (al-ba‟i) yang tidak tunai, akad sewa menyewa (ijarah) yang pembayaran ujrahnya tidak tunai.
Dan mekanisme dalam pelaksanaan pembiayaan produk Arrum haji yaitu melalui prosedur seperti berikut:
Sumber: Brosur Arrum Haji Pegadaian Syariah Unit Simpang Benteng Payakumbuh
Dari skema prosedur pembiayaan Arrum Haji di atas dapat diketahui bahwa jika ingin menjadi calon nasabah pembiayaan Arrum Haji yaitu pada tahap awal calon nasabah mendatangi kantor Pegadaian Syariah Unit Benteng Payakumbuh dengan membawa syarat dan ketentuan yang telah ditentukan, yaitu:
Tabel 4.2:
Sumber: Brosur Arrum Haji Pegadaian Syariah Unit Simpang Benteng Payakumbuh
Setelah menyerahkan persyaratan dan berkas-berkas administrasi tersebut nasabah mengisi formulir dan menyerahkan jaminan emas senilai 3,5 gram kemudian petugas akan menaksir emas yang dititipkan, lalu nasabah melakukan akad dengan pihak Pegadaian Syariah untuk mendapatkan pembiayaan sebesar Rp.25.000.000. Selanjutnya setelah akad di pegadaian nasabah langsung daftar ke bank untuk memperoleh SABPIH, setelah nasabah ke bank nasabah pergi ke Kementerian Agama untuk memperoleh nomor
porsi/SPPH, nomor porsi yang diberikan Kementerian Agama di berikan ke pegadaian dan disimpan oleh pegadaian.50
Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa mekanisme pembiyaan arrum haji dalam melakukan prosedur syarat dan ketentuan sudah dilaksanakan dengan baik. Hal ini terbukti saat penulis mewawancarai Pengelola Pegadaian Syariah Unit Simpang Benteng Payakumbuh, Pegadaian Syariah telah mengeluarkan Standar Operasional Prosedur (SOP) mengenai pembiayaan arrum haji ini dan SOP tersebut telah dilaksanakan dengan baik sesuai dengan panduan yang ada.
Hasil wawancara dengan Kurnia Sari Devita ia mengatakan bahwa untuk Adm pada pembiayaan arrum haji telah ditetapkan sebesar 270.000, lalu ada biaya asuransi kredit tergantung jangka waktunya. Dan ada juga biaya pembukaan buku tabungan ke bank 500.000 yang dibayar sendiri oleh nasabah. Apabila nasabah meninggal dunia otomatis nasabah berarti tidak sanggup, maka akan dilakukan pembatalan dulu ke Kementerian Agama dan nanti pihak Kementerian Agama yang akan mengganti sejumlah uang ke pihak bank, setelah itu Pegadaian Syariah akan melihat total pelunasannya berapa. Dalam hal ini Pegadaian Syariah menetapkan denda (Ta‟zir). Denda ini tujuannya supaya nasabah disiplin membayar angsuran bulanan, denda ini bukan untuk keuntungan perusahaan. Denda itu akan disalurkan kembali oleh
50 Kurnia Sari DevitA, Pengelola Unit, wawancara langsung, Jumat 22 Juni 2020, Pukul 10.35 WIB
pegadaian untuk dana sosial. Denda itu besarnya 4% maksimal sebulan dari nilai angsuran nasabah. Dan Kurnia juga mengatakan Pegadaian syariah dapat keuntungan dari jasa pemeliharaan barang jaminan (Mu‟nah) dari pembiayaan yang diberikan kepada nasabah produk pembiayaan Arrum Haji. Keuntungan diambil dari mu‟nah nya yaitu biaya penyimpanannya, sebesar 0,85% dari taksiran barang jaminan. Mu’nah bisa berubah tergantung taksiran barang jaminan tetapi biasanya berubahnya itu hanya sedikit.51
Berdasarkan hasil wawancara dapat disimpulkan dalam Pegadaian syariah penetapan ini telah sesuai dengan Fatwa DSN MUI Nomo 92 pada bagian keempat pasal 5a yaitu bahwa Lembaga Keuangan Syariah (LKS) diperbolehkan mengenakan ta‟widh dan ta‟zir dalam hal Rahin melanggar perjanjian atau terlambat menunaikan kewajibannya. Tentang keuntungan yang diambil dari mu‟nah juga telah sesuai dengan Fatwa DSN MUI Nomo 92 pada bagian keenam pasal 3 yaitu dalam hal Rahn (dain/marhun bih) terjadi karena peminjaman uang (akad qardh), maka pemdapatan murtahin hanya dari mu‟nah (jasa pemeliharaan/ penjagaan atas marhun yang besarnya harus ditetapkan pada saat akad sebagaimana ujrah pada akad ijarah. Ini menujukan bahwa pembiayaan Arrum Haji telah sesuai dengan Fatwa DSN MUI Nomor 92/DSN-MUI/IV/2014 pada bagian keenam pasal 3.
51Kurnia Sari DevitA, Pengelola Unit, wawancara langsung, Jumat 22 Juni 2020, Pukul 10.35 WIB
Pelaksanaan pembiayaan Arrum Haji menurut perspektif ekonomi Islam merupakan cara pandang yang berlandaskan sesuai dengan prinsip syariat Islam. Menurut Kurnia Sari Devita selaku pengelola Pegadaian Syariah menyatakan bahwa prinsip-prinsip yang digunakan dalam pegadaian syariah yaitu:
1. Prinsip Tauhid
Yaitu prinsip dasar dalam pegadaian syariah yang menjadi salah satu poin utama yang wajib dipahami dikarenakan berrhubungan dengan kepercayaan yang kita percayai.
2. Prinsip keadilan
Yaitu dimana nasabah dan pihak perusahaan Pegadaian Syariah bersikap adil satu sama lain artinya tidak ada yang dirugikan antara kedua belah pihak.
3. Tolong Menolong
Yaitu prinsip yang menjadi salah satu poin penting dalam pegadaian syariah. Sesama kita memang diwajibkan saling tolong menolong antara satu dengan yang lainnya
4. Prinsip Amanah
Pegadaian syariah juga dilandasi prinsip amanah dalam menyimpan barang yang digadaikan nasabah dan hal yang sama juga berlaku bagi para nasabah pegadaian syariah. Dalam hal ini, kedua belah pihak harus bersikap jujur dan dapat dipercaya.
5. Prinsip menghindari riba
Dalam pegadaian syariah tidak anda unsur riba. Artinya keharusan menggunakan prinsip hukum islam dalam kegiatan pegadaian syariah contohnya seperti pegadaian syariah tidak boleh ada unsur riba gharar dan maysir.52
Berdasarkan hasil wawancara yang penulis lakukan dapat disimpulkan bahwa pegadaian syariah sudah menggunakan prinsip syariah dan juga sudah sesuai dengan ekonomi Islam yaitu sudah berdasarkan Al-quran dan Sunnah. Pegadaian syariah tidak ada mengenal unsur riba gharar , dan maysir. Dalam pelaksanaan Arrum haji ini prinsipnya yang digunakan yaitu tolong menolong, prinsip keadilan, prinsip amanah yaitu pegadaian syariah membantu masyarakat untuk melaksanakan Ibadah haji. dan sama-sama tidak ada pihak yang dirugikan. Pembiayaan Arrum haji juga tidak mengenal namanya riba, sebab pegadaian mengambil keuntungan yaitu diambil dari Mu‟nah atau
Berdasarkan hasil wawancara yang penulis lakukan dapat disimpulkan bahwa pegadaian syariah sudah menggunakan prinsip syariah dan juga sudah sesuai dengan ekonomi Islam yaitu sudah berdasarkan Al-quran dan Sunnah. Pegadaian syariah tidak ada mengenal unsur riba gharar , dan maysir. Dalam pelaksanaan Arrum haji ini prinsipnya yang digunakan yaitu tolong menolong, prinsip keadilan, prinsip amanah yaitu pegadaian syariah membantu masyarakat untuk melaksanakan Ibadah haji. dan sama-sama tidak ada pihak yang dirugikan. Pembiayaan Arrum haji juga tidak mengenal namanya riba, sebab pegadaian mengambil keuntungan yaitu diambil dari Mu‟nah atau