• Tidak ada hasil yang ditemukan

PersonalSistem Norma

METODOLOGI PENELITIAN

D. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian kualitatif, peneliti merupakan instrumen utama yang menjadi kunci pokok keberhasilan penelitian. Sebagai instrumen utama dalam penelitian ini, peneliti sangat terbantu dan diuntungkan dengan status peneliti

sebagai staf pengajar di lingkungan setting penelitian. Kondisi ini tentu sangat membantu peneliti terutama dalam proses inventarisasi data-data administratif akan menjadi lebih cepat dan mudah. Dalam setting penelitian tersebut, peneliti berperan sebagai non-partisipant oberserver. Itu artinya peneliti hanya bertindak mengamati dan berinteraksi namun tidak masuk terlalu jauh dalam kehidupan informan. Identitas sebagai peneliti diungkapkan secara terbuka kepada seluruh informan untuk kepentingan penelitian ini.

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini, merupakan data-data yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan penelitian sebagaimana dijabarkan pada bagian terdahulu. Data yang dikumpulkan berupa data tentang:

1. Implementasi norma akademik di Prodi PAI FITK UIN Sumatera Utara dalam membentuk pendidik profesional.

2. Implementasi aktivitas akademik Prodi PAI FITK UIN Sumatera Utara yang terejawantah dalam kegiatan pembelajaran di dalam kelas, kegiatan pengembangan akademik di luar kelas serta kegiatan pengembangan akademik di luar kampus.

3. Implementasi produk akademik mahasiswa Prodi PAI FITK UIN Sumatera Utara.

Berdasarkan jenis data yang dikumpulkan di atas, maka teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi wawancara dengan menggunakan instrumen pedoman wawancara, observasi dengan menggunakan instrumen pedoman observasi serta studi dokumentasi dengan menggunakan instrumen lembar periksa kelengkapan arsip.

Selanjutnya, wawancara dilakukan secara terbuka atau opened dengan cara mengadakan wawancara dengan informan yang dianggap tepat, guna mendapatkan data yang valid dan dilakukan berkali-kali sesuai dengan keperluan hingga pada akhirnya data menunjukkan kecenderungan ‘jenuh’. Wawancara yang dilakukan guna keperluan inventarisasi data menggunakan instrumen berupa pedoman wawancara yang berisi daftar-daftar pertanyaan yang telah peneliti siapkan sebelumnya. Proses wawancara dilakukan dalam lima tahap:

2. Mempersiapkan berbagai keperluan wawancara mulai dari daftar pertanyaan, alat bantu, menyesuaikan waktu dan tempat dan membuat janji pertemuan dengan informan.

3. Melakukan proses wawancara sesuai dengan daftar pertanyaan yang telah disusun sebelumnya.

4. Mencatat atau merekam informasi hasil wawancara yang diutarakan oleh informan.

5. Menutup wawancara.

Observasi dilakukan dengan melakukan pengamatan secara langsung dalam setting penelitian, dimulai dengan rentang pengamatan yang bersifat umum dan luas sampai kemudian terfokus pada pengamatan terhadap kemungkinan ditemukannya data yang diperlukan dalam penelitian ini. Teknik observasi yang digunakan adalah observasi non-partisipan. Dengan teknik observasi ini, peneliti diharuskan mengikuti kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa yang berkaitan dengan budaya akademik sebagai fokus penelitian. Kegiatan yang dilakukan mahasiswa tersebut selanjutnya peneliti amati untuk kemudian dicatat guna mendapatkan data-data yang diperlukan.

Studi dokumentasi dilakukan dengan mengumpulkan arsip dan dokumen. Dokumen dan arsip yang dikumpulkan hanyalah yang berkaitan dengan masalah yang diangkat dalam penelitian ini. Setelah dokumen dan arsip dikumpulkan maka kemudian dilakukan ekspose laporan yang menyajikan data dan informasi empiris yang berkaitan dengan subjek penelitian dengan merujuk kepada tujuan dan rumusan masalah penelitian.

Penelitian ini menggunakan prosedur wawancara, observasi dan dokumentasi sebagai metode pokok untuk menginventarisasi data. Namun, pada bagian tertentu dalam penelitian yakni dalam mengumpulkan data pada beberapa aspek aktivitas akademik penulis menggunakan metode tambahan dalam menginventarisasi data. Dalam aspek aktivitas akademik terdapat sub-aspek budaya/minat membaca mahasiswa dan aktivitas/minat diskusi mahasiswa yang tidak dapat diungkap dengan prosedur wawancara atau observasi belaka. Oleh karena itu penulis menggunakan metode tambahan yang dikhususkan untuk mengumpulkan data pada dua sub-aspek aktivitas akademik tersebut. Instrumen

yang digunakan untuk mendapatkan data tentang dua sub-aspek aktivitas akademik tersebut adalah skala.

Skala yang digunakan adalah skala minat (interest scale). Skala minat yang digunakan adalah Five Point Rating Scale yang konsepnya mirip dengan Skala Likert. Sebagaimana sebutannya, skala minat ini disusun dengan memberikan 5 pilihan jawaban (yang memiliki rating poin 1-5) yang dapat dipilih oleh responden, dalam hal ini mahasiswa. Terdapat 30 butir penyataan harus dijawab oleh mahasiswa yang terdiri dari 15 pernyataan positif (favorable) dan 15 pernyataan negatif (unfavorable). Mahasiswa akan mendapat skor maksimal (5) jika menjawab pernyataan positif dengan jawaban yang positif, sebaliknya mahasiswa akan mendapat skor minimal (1) jika menjawab pernyataan positif dengan pilihan jawaban negatif. Jika mahasiswa menjawab pernyataan negatif dengan jawaban positif maka akan diberi skor minimal, sebaliknya, skor maksimal akan diberikan jika mahasiswa menjawab pernyataan negatif dengan jawaban negatif.

Adapun untuk mengumpulkan data pada sub-aspek aktivitas akademik yang lain, yakni aktivitas diskusi informal maka penulis menggunakan skala organisasi dengan basis Skala Likert. Terdapat 24 butir pernyataan yang harus dijawab oleh mahasiswa sesuai dengan kondisi mereka yang sebenarnya. Sebanyak 12 pernyataan merupakan pernyataan positif dan sisanya 12 pernyataan negatif. Sama seperti skala minat, skala untuk mengukur aktivitas diskusi informal mahasiswa juga menggunakan 5 alternatif jawaban.

Kedua skala tersebut kemudian penulis sebarkan kepada 30 orang mahasiswa Prodi PAI dengan pertimbangan; 1) Proporsionalitas. Skala disebar dengan mempertimbangkan proporsi mahasiswa Prodi PAI pada setiap jenjang semester. 2) Karakteristik mahasiswa. Selain pertimbangan proporsionalitas, skala juga disebarkan dengan turut mempertimbangkan aspek karakteristik mahasiswa. Karakteristik yang dimaksud bahwa skala penelitian tidak disebarkan kepada dua karakteristik akademik mahasiswa yakni mahasiswa berprestasi dan mahasiswa yang tidak memiliki prestasi akademik yang unggul.

Pertanyaan pokok yang harus terjawab oleh skala tersebut adalah;

Kedua, apakah mahasiswa Prodi PAI memiliki kecenderungan untuk melakukan

diskusi informal atau tidak. Untuk menjawab pertanyaan tersebut maka skor skala yang telah diisi oleh mahasiswa kemudian dianalisis dan dikonversi dalam bentuk persentase (%). Hasil analisis terhadap skor skala tersebut kemudian diuji dengan prosedur wawancara dan observasi untuk bisa mendapatkan kesimpulan yang benar-benar valid dan ajeg.

Kedua skala tersebut telah diuji derajat validitas dan reliabilitasnya sebagai instrumen penelitian. Uji validitas sendiri merupakan indeks yang menunjukkan alat ukur itu (dalam hal ini skala) benar-benar mengukur. Uji coba dilakukan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman responden terhadap pertanyaan-pertanyaan dan validitas pertanyaan dari skala yang telah dibuat. Untuk mengetahui apakah skala yang telah disusun tersebut mampu mengukur yang mau diukur, maka perlu diuji dengan uji korelasi antara skor (nilai) tiap-tiap item (pertanyaan) dengan skor total skala tersebut. Standar yang digunakan untuk menentukan valid dan tidaknnya suatu instrument penelitian umumnya adalah perbandingan antara nilai r hitung dengan r tabel pada taraf kepercayaan 95% atau tingkat signifikan 5%.

Selanjutnya, penulis juga melakukan uji reliabilitas terhadap kedua skala tersebut. Reliabilitas itu sendiri merupakan indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya dan dapat diandalkan. Alat ukur yang digunakan harus akurat dan tidak menyebabkan kesalahan dalam suatu pengukuran. Untuk menguji reliabilitas pada kedua skala tersebut penulis menggunakan metode Alpha Cronbach. Standar yang digunakan dalam menentukan reliabel atau tidaknya suatu instrumen adalah perbandingan antara nilai r hitung diwakili dengan nilai alpha dengan r tabel pada taraf kepercayaan 95% atau tingkat signifikan 5%. Tingkat reliabilitas dengan metode Alpha Cronbach diukur berdasarkan skala alpha 0 sampai dengan 1. Dengan demikian skala yang digunakan dalam penelitian ini benar-benar merupakan skala yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya sebagai alat ukur dalam mengumpulkan data.

Penelitian kualitatif lazimnya bertumpu pada figur peneliti dengan memanfaatkan wawancara dan observasi sebagai key instrument, namun menurut

Sugiyono, penggunaan secondary instrument seperti angket atau skala bisa saja dilakukan dengan mempertimbangkan keperluan penelitian.3 Sama halnya seperti penelitian kuantitatif yang bisa saja memanfaatkan wawancara dan observasi sebagai secondary instrument di samping skala atau kuesioner sebagai instrumen utama. Jadi, penulis ingin menegaskan bahwa ketika skala dijadikan sebagai instrumen pendukung dalam penelitian ini maka tidak serta merta membuat penelitian ini beralih menjadi penelitian kuantitatif atau mix method. Sejauh penelusuran penulis terhadap buku-buku metodologi penelitian belum ada penulis temukan buku yang melarang penggunaan skala sebagai secondary instrument pada penelitian kualitatif. Jadi penggunaan skala atau kuesioner sebagai instrumen pendukung dalam penelitian kualitatif bukanlah hal aneh. Bahkan ada banyak penelitian-penelitian kualitatif memanfaatkan kuesioner atau skala sebagai instrumen pendukung dalam inventarisasi data. Satu contoh yang bisa penulis kutip sebagai perbandingan, misalnya, disertasi Arkanuddin Budiyanto yang berjudul “Strategi Komunikasi Deradekalisasi Agama dan Sikap Masyarakat

Pesantren di Kabupaten Sukoharjo Jawa Tengah”. Disertasi Program Doktoral

Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan Pascasarjana UGM ini merupakan penelitian yang menggunakan metode kualitatif namun menggunakan angket atau skala sebagai instrumen non-primer, sama seperti disertasi penulis.4

Penelitian ini bukanlah penelitian yang menggunakan pendekatan mix

method, melainkan murni penelitian kualitatif. Semua prosedur dan

langkah-langkah yang ditempuh dalam penelitian ini hampir semuanya menggunakan prosedur kualitatif. Adapun skala dan analisisnya yang menggunakan prosedur statistik merupakan pelengkap belaka. Tanpa didukung oleh skala sekalipun penelitian ini tetap bisa diselesaikan sebagaimana mestinya. Jadi skala dalam penelitian ini digunakan sebagai instrumen pendukung untuk melengkapi dan memperkuat temuan-temuan yang diperoleh melalui wawancara, observasi maupun studi terhadap dokumen. Data-data yang diperoleh melalui skala nantinya

3 Sugiyono, Metodologi Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan

R&D (Bandung: Alfabeta, 2015), h.305

4 Arkanuddin Budiyanto, “Strategi Komunikasi Deradekalisasi Agama dan Sikap

Masyarakat Pesantren di Kabupaten Sukoharjo Jawa Tengah”. Berkas tersedia pada

digunakan sebagai data pendukung di samping data-data primer yang diperoleh dari wawancara, observasi dan studi dokumen itu sendiri.