BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Perparkiran di Kota Makassar
1. Perusahaan Daerah Parkir Makassar Raya
Perusahaan Daerah Parkir Makassar Raya merupakan instansi yang didirikan untuk melaksanakan tugas menangani perparkiran yang ada di Kota Makassar.
Perusahaan daerah parkir maksssar raya didirikan pada tahun 1999 hal ini berdasarkan pada Peraturan Daerah Kota Makassar Nomor 5 tahun 1999 tentang pendirian Perusahaan Daerah Parkir Makassar Raya Kotamadya Tingkat II Ujungpandang. Namun seiring berjalannya waktu terjadi perubahan menjadi Peraturan Daerah Kota Makassar Nomor 16 tahun 2006 tentang perubahan atas Peraturan Daerah Kota Makassar Nomor 5 tahun 1999 tentang pendirian Perusahaan Daerah Parkir Makassar Raya Kotamadya Tingkat II Ujungpandang. Perubahan ini mengacu pada Undang-undang Nomor 29 tahun 1959 tentang pembentukkan daerah Tingkat II di Sulawesi, Undang-Undang Tahun 1962 tentang Perusahaan Daerah, undang nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Undang-Undang nomor 10 tahun 2004, Peraturan Pemeintah nomor 51 tentang Perubahan Batas-batas Daerah Kotamadya Makassar dan Kabupaten Gowa, Maros dan
32 Pangkajene, Peraturan Pemerintah nomor 86 tahun 1999 tentang perubahan nama Kota Ujung Pandang menjadi Kota Makassar dalam wilayah Provinsi Sulawesi Selatan, Peraturan Daerah Kota Makassar nomor 10 tahun 2000 tentang ketentuan-ketentuan pokok Badan Pengawas Direksi, dan kepegawaian Perusahaan Daerah Parkir Makassar Raya Kota Makassar.
PD Parkir Makassar Raya merupakan badan usaha yang dikelola oleh daerah yang bertujuan untuk menjalankan fugsi sarana pengelolaan parkir di Kota Makassar.
Tugas pokok terbentuknya PD Parkir Makassar Raya guna untuk mengelola system perparkiran di Kota Makassar serta dapat memelihara perparkiran di Kota Makassar untuk meningkatkanan pendapatan asli daerah (PAD).
2. Visi Dan Misi Perusahaan Daerah Parkir Makassar Raya
Visi merupakan cita-cita suatu perusahaan atau organisai dalam jangka panjang untuk mencapai tujuan masa depan. Visi sangat diperlukan dalam membangun suatu perusahaan ataupun organisasi agar kedepannya mereka mengetahui proses yang harus mereka lewati untuk mengembangkan usaha mereka. Begitun dengan PD Parkir Makassar Raya memiliki visi untuk menjadikan Perusahaan Daerah Parkir Kota Makassar sebagai perusahaan daerah terbaik dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat dan terbesar dalam memberikan kontribusi terhadap pendapatan anggaran daerah Kota Makassar.
33 Adapun misi merupakan implementasi dari visi tersebut. Misi merupakan cara agar suatu instansi dapat mewujudkan visi yang telah mereka rancangkan. Adapun visi dari PD Parkir Makassar Raya sebagai berikut:
1. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia (pegawai) di lingkungan PD. Parkir Kota Makassar pada semua tingkatan dan jabatan.
2. Meningkatkan kuantitas dan kualitas sarana dan prasarana perparkiran guna menunjang kinerja perusahan.
3. Menggali areal kawasan perparkiran baru yang potensial secara terus menerus, seiring dengan arah perkembangan Kota Makassar menuju Kota maritim dan Perdagangan dunia.
4. Meningkatkan kesejahteraan karyawan Perusahaan Daerah Parkir Kota Makassar sebagai stimulan dalam rangka meningkatkan motivasi, Loyalitas, kreativitas, dan responsibilitas karyawan terhadap perusahaan.
3. Implementasi Peraturan Daerah No 17 tahun 2006
Perkembangan Kota Makassar dari tahun ke tahun mengalami perkembangan yang sangta pesat baik dalam bidang ekonomi, pendidikan maupun kebudayaan.
Keinginan masyarakat untuk memiliki kendaraan membuat jumlah kendaraan di Kota Makassar semakin meningkat, hal ini pun tidak diimbangi oleh lahan parkir yang memadai.
Pembangunan yang semakin meningkat seperti toko, restoran, dan tempat umum yang tidak disertai dengan pembangunan jangka panjang untuk menyediakan lahan parkir membuat masyarakat memilih untuk parkir ditepi jalan umum. Hal inilah yang
34 membuat kemacetan yang terjadi di Kota Makassar. Seharusnya pihak manajemen tempat umum tersebut menyediakan lahan yang memadai agar masyarakat dapat menggunakan lahan parkir tersebut dengan baik.
Kemacetan yang dikarenakan oleh banyaknya kendaraan yang diparkir sembarangan pun sering terjadi karena kurangnya kesadaran masyarakat untuk dapat memarkir kendaraannya ditempat yang telah disediakan, contohnya saja di Mall Panakukang. Pihak manajemen Mall telah menyediakan lahan parkir namun masih banyak saja masyarakat yang tidak mematuhi aturan dan memilih untuk memarkir kendaraannya di tepi jalan umum. Karena maraknya masyarakat yang memarkir kendaraannya dengan sembarangan, aksi kejahatan pun tak terhindari. Banyak masyarakat yang mengeluh motor bahkan barangnya rusak atupun hilang saat mereka memarkir dengan sembarangan.
Dalam hal ini instansi yang terkait pihak PD Parkir Makaassar Raya mereka mengatakan bahwa selama ini mereka sudah menjalankan tugas sesuai prosedur. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara langsung dengan Bapak Ir. Asrarudin Mamonto selaku Kabag Umum PD Parkir Makassar Raya beliau mengatakan bahwa:
“Pihak kami selama ini sudah sering memantau kinerja petugas parkir sesuai prosedur yang telah ada, sesuai dengan perda No 17 tahun 2006.”
Pihak PD Parkir Makassar Raya selama ini selalu memantau kinerja dari tiap petugas parkir. Direksi PD Parkir Makassar Raya Kota Makassar telah menetapkan beberapa kebijakan sesuai dengan yang tercantum di dalam Peraturan Daerah Nomor
35 17 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Perkir Tepi Jalan Umum Dalam Daerah Kota Makassar pasal 3 ayat 2 yang menyatakan bahwa Direksi berwenang menetapkan:
a. Titik / tempat-tempat parkir b. Pembagaian tempat parkir
c. Pengelompokan jenis kendaraan pengguna tempat dan jasa parkir d. Pengguna areal / pelataran parkir
e. Tanda / garis tempat parkir
f. Struktur tarif jasa penggunaan / pemanfaatan fasilitas parkir g. Perbaikan / rehabilitasi sarana dan prasarana parkir
h. Pemasangan dan pemanfaatan fasilitas parkir
Merujuk pada aturan diatas, dalam hal ini Perusahaan Daerah Makassar Raya pun mengakui telah melaksanakan tugas dan tanggungjawab dengan semestinya. Hal tersebut juga sesuai dengan hasil wawancara langsung dengan Bapak Ir. Asrarudin Mamonto selaku Kabag Umum PD Parkir Makassar Raya beliau mengatakan bahwa:
“Dalam menentukkan titik parkir kami selaku PD Parkir selalu melihat terlebih dahulu, apakah tempat parkir tersebut tidak melanggar peraturan walikota, karena dalam perwali ada 5 ruas jalan yang dilarang untuk ditempati parkir yaitu Jalan Ratulangi, Sultan Alaudin, Urip Sumoharjo, Pettarani dan Ahmad Yani. Namun diluar dari jalan ini kami juga melihat apakah tempat parkir tersebut nantinya tidak menggangu aktifitas jalan seperti di Lampu Merah”
Berdasarkan hasil wawancara diatas yang mana pihak Perusahaan Daerah Parkir Makassar Raya dalam menentukkan titik parkir selalu melihat dari Peraturan Walikota No 64 tahun 2011 tentang kawasan bebas parkir di lima ruas bahu jalan
36 Kota Makassar, pada pasal 1 ayat 1 yang mengatakan bahwa penetapan bahu jalan A.P Pettarani, Jl. Sultan Alauddin, Jl. Jenderal Urip Sumoharjo, Jl. DR. Sam Ratulangi dan Jl. Jenderal Ahmad yani sebagai kawasan bebas parkir kota Makassar.
Maka hal ini merupakan suatu strategi dari pihak PD Parkir dalam mengatur titik parkir tersebut. Namun dalam penerapannya masih banyak hal-hal yang telah dilanggar termasuk salah satunya Peraturan Daerah Nomor 17 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Perkir Tepi Jalan Umum Dalam Daerah Kota Makassar pasal 3 ayat 2 poin a tentang Titik / tempat-tempat parkir.
1. Komunikasi
Sebagaimana yang diketahui bersama komunikasi adalah salah satu aspek yang penting dalam menjalankan tugas dan tanggungjawab dalam pekerjaan. Tak bisa dipungkiri tidak adanya komunikasi yang baik dapat mengambat proses kinerja yang lainnya. Komunikasi sangat diperlukan terutama dalam proses Kerjasama antar sesama birokrasi.
Hal ini pun yang telah dilakukan oleh pihak Perusahaan Daerah Makassar Raya, komunikasi yang mereka jalankan dari petugas parkir ke kolektor begitupun kolektor ke direksi. Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Ir. Asrarudin Mamonto selaku Kabag Umum PD Parkir Makassar Raya beliau mengatakan bahwa:
“Komunikasi yang saya lakukan kepada staf-staf saya selama ini sudah berjalan dengan baik, kami dipihak PD Parkir sudah mejalankan tugas sesuai tupoksinya masing-masing, ketika ada hambatan kami dapat menyelesaikannya secara bersama-sama. Kami juga selama ini sudah memberikan informasi yang baik dan
37 benar kepada para petugas-petugas parkir bahwasannya mereka harus menjalankan tugas sebagaimana mestinya, namum memang dalam pelaksanaanya banyak kami dapatkan aduan dari masyarakat jika masih banyak saja tukang parkir liar yang berkeliaran ditempat parkir yang menjadi area PD Parkir Makassar Raya.”
Pihak PD Parkir dalam menjalankan komunikasi yang mereka lakukan sebenarnya sudah sesuai dengan prosedur yang ada selama ini, sesuai dengan tugas Direktur Operasional Perusahaan Daerah Parkir Makassar Raya pada poin kedua yang mengatakan bahwa mereka bertugas untuk merencanakan serta melaksanakan sistem pengelolaan parkir pada unit-unit parkir dan pelataran parkir yang dikelola oleh swasta dan pada poin yang ketiga mengatakan bahwa mereka mengatur proses pelayanan parkir bagi pengguna tempat parkir dan Menyusun kegiatan pembinaan untuk operasional perparkiran. Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Ir.
Asrarudin Mamonto selaku Kabag Umum PD Parkir Makassar Raya beliau mengatakan bahwa:
“Pihak Perusahaan Daerah Parkir Makassar Raya telah menjalankan tugas sesuai dengan prosedur yang berlaku, namun tak bisa dihindari masih banyaknya petugas parkir yang melanggar aturan sampai terjadinya premanisme membuat hal ini sebagai salah satu hambatan yang harus kami lalui.”
Berdasarkan pernyataan diatas memperlihatkan bahwa selama ini pihak PD Parkir Makassar Raya tidak menjalankan tugasnya dengan efektif sesuai dengan undang-undang yang berlaku dalam Peraturan Daerah No 17 tahun 2006 Bab IV pasal 8 ayat 2 yang mengatakan bahwa: Direksi berhak mengambil alih tempat parkir bilamana juru parkir dan atau pengguna tempat parkir tidak memenuhi ketentuan
38 Pasal 7. Pasal 7 yang dimaksud adalah Ketentuan jenis pungutan, Tarif dan klasifikasi pemakaian tempat parkir dimaksud pasal 5, serta tata cara penagihannya ditetapkan oleh Direksi. Dalam hal menjalankan komunikasi kepada sesama pihak yang berwenang, PD Parkir Makassar Raya menganggap pihaknya telah menjalankan tugas dan tanggungjawab sesuai dengan prosedur. Namun karena adanya ketidaktegasan dari pihak PD Parkir Makassar Raya membuat lahan parkir dan petugas parkir menjadi liar. Kejadian seperti ini bisa kita lihat sehari-hari, yang mana petugas parkir banyak yang menujukkan sikap premanismenya ketika apa yang mereka dapatkan tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Misalnya tarif parkir yang tinggi dan tidak sesuai dengan aturan yang berlaku, masyarakat terkadang hanyak membayar seadanya namun ketika hal itu tidak sesuai dengan keinginan petugas parkir mereka biasanya memakai tindak kekerasan.
2. Sumber Daya
Faktor selanjutnya yang mempengaruhi pelaksanaan kebijakan perparkiran di Kota Makassar adalah faktor sumber daya. Menurut Edward sumber daya merupakan salah satu hal yang sangat penting dalam menerapkan implementasi kebijakan. Hal ini dikarenakan sumber daya dapat bertanggungjawab dengan kebijakan yang ada.
Jika suatu organisasi telah memiliki aturan yang jelas serta komunikasi yang sangat akurat dan baik namun jika sumber dayanya kurang ataupun tidak berjalan dengan baik tentunya mereka tidak dapat melakukan kebijakan dengan baik.
39 Sumber daya sangat penting dalam menentukan kebijakan. Hal ini menjadi salah satu aspek agar kebijakan berjalan dengan baik. Begitupun yang harusnya dilakukan oleh pihak Perusahaan Daerah Makassar Raya, jumlah staff serta fasilitas yang tersedia harus memadai. Sumber daya yang memadai akan mempengaruhi suatu kinerja dapat berjalan dengan baik.
Namun dalam implementasinya sumber daya yang ada tidak begitu maksimal, hal ini dibuktikan dengan adanya jumlah petugas kolektor yang bertugas melaksanakan pemungutan jasa retribusi parkir di kawasan perparkiran kota Makassar berjumlah 17 orang kolektor, ini menunjukkan ketidakseimbangan dengan juru parkir yang berjumlah 1000an lebih orang. Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Ir. Asrarudin Mamonto selaku Kabag Umum PD Parkir Makassar Raya beliau mengatakan bahwa:
“Kami saat ini memiliki sekitar 17 oramg kolektor yang bertugas untuk melakukan pemungutan jasa retribusi dari tiap petugas parkir serta kami telah mepekerjakan kira-kira 1000an lebih petugas parkir.”
Hal ini dapat membuktikan bahwa salah satu hal yang menghambat kurang efektifnya Perusahaan Daerah Parkir Makassar Raya untuk menjalankan tugasnya mengatasi parkir liar di Kota Makassar ini karna sumber daya manusia yang kurang.
Pernyataan diatas membuktikan bahwasannya ada banyak petugas parkir yang tersebar namun tidak sebanding dengan jumlah kolektor yang ada. Tak hanya itu banyaknya Sumber Daya yang belum terlatih juga membuat PD Parkir Makassar Raya harus benar-benar memperhatikan tingkat ketertiban parkir di tempat umum.
40 Banyaknya petugas parkir illegal, belum terlatih membuat banyak masyarakat yang takut untuk menggunakan jasa mereka. Kurangnya jumlah petugas yang turun ke lapangan mengontrol kinerja petugas parkir, membuat parkir yang seharusnya pada tempat yang telah sediakan tidak berjalan dengan baik efisien. Banyaknya petugas parkir illegal yang memanfaatkan bahu jalan bahkan jalan umum demi mendapatkan keuntungan membuat tidak kondusifnya perparkiran yang ada di Kota Makassar.
Kurangnya ketegasan dari pihak PD Parkir Makssar Raya dalam menegur dan memberi pembinaan kepada mereka yang menjadikan masalah ini terlus berlarut.
Seharusnya dalam hal menertibkan parkir liar yang ada di Kota Makassar pihak PD Parkir harusnya memberikan pembinaan secara meneyeluruh kepada petugas-petugas parkir yang akan dipekerjakan dan melihat banyaknya petugas parkir illegal pihak PD Parkir Makassar Raya harus tegas menegur dan mengamankan mereka. Agar kedepannya masyarakat pun merasa aman jika ingin memarkirkan kendaraanya.
3. Disposisi
Dalam sistem implementasi kebijakan perparkiran di tepi jalan umum di Kota Makassar, salah satu hal yang paling berpengaruh adalah faktor disposisi. Pihak yang membuat kebijakan harusnya memberikan perintah sesuai dengan situasi yang terjadi.
Ada banyak kebijakan yang dibuat namun tidak dijalankan dengan baik karna banyaknya perbedaan pendapat dan pandangan dalam melaksnakannya. Sikap pimpinan dalam hal ini diperlukan agar para jajaran dan semua yang terlibat dalam ketertiban perparkiran di Kota Makassr dapat menjalankan tugas dengan baik.
Disposisi merupakan perilaku atau karakteristik yang harus dimiliki oleh
41 implementor. Jika para pelaksana ingin kebijakan dapat berjalan dengan baik sesuai dengan keputusan yang telah disepakati bersama maka para pelaksana tidak hanya harus mengetahui apa yang harus mereka lakukan tetapi mereka juga harus memiliki kemampuan dalam menjalankan program tersebut
Dari sikap direksi yang berwewenang yaitu Perusahaan Daerah Parkir Makassar Raya belum melaksanakan tugasnya sebagaimana mestinya. Hal ini bisa diperhatikan dari banyaknya elemen yang harusnya bersama-sama bertanggungjawab malah menjadi tidak peduli. Petugas parkir yang harusnya mendaftarkan diri mereka secara resmi di PD Parkir Makassar Raya agar mengetahui tata kelola parkir yang baik, tidak melakukannya. Karena bagi mereka menjadi petugas parkir tidak resmi itu sendiri pun bisa mendapatkan keuntungan lebih banyak daripada harus membaginya ke pihak yang berwenang. Begitupun dengan masyarakat yang harusnya sadar akan aturan yang telah berlaku dan memarkir kendaraan mereka ditempat yang telah disediakan malahan lebih memilih jalan yang lebih mudah walaupun harus melanggar aturan tersebut.
Fakta lain yang dihadapi dunia perparkiran di Kota Makassar ini adalah juru parkir yang telah terdaftar di PD Parkir Makassar Raya dan telah mendapatkan pembinaan justru mereka yang mempekerjakan orang baru alias juru parkir tidak resmi. Bapak Ir. Asrarudin Mamonto selaku Kabag Umum PD Parkir Makassar Raya beliau mengatakan bahwa:
42
“Masalah petugas parkir sendiri kami sudah memberikan tugas dan amanah kepada mereka yang mendaftar namun untuk memperkerjakan petugas parkir lain memang banyak yang melakukan hal tersebut tapi itu bukan masalah bagi kami karena mereka tetap menyetor.”
Artinya dalam hal ini ada temuan dimana satu orang juru parkir yang mengelola satu tempat parkir itu justru membagi lagi dalam beberapa atau berbagai tempat parkir. Padahal dalam Peraturan Daerah No 17 tahun 2006 pada Bab V pasal 9 ayat 3 mengakatan bahwa Dilarang melakukan kegiatan lain selain kegiatan perparkiran pada tempat parkir kecuali mendapat izin Direksi. Dalam Peraturan Daerah ini jelas diatur bahwa tidak diijinkan melakukan kegiatan lain sebelum mendapat izin dari pihak PD Parkir Makassar Raya namun pada realita yang terjadi banyak Petugas Parkir yang menfaatkan hal ini. Banyak juru parkir yang seharusnya dapat bekerja sama dengan pihak terkait justru memanfaatkan situasi yang ada. Dengan kata lain tidak sedikit darijuru parkir resmi yang mencari keuntungan untuk dirinya sendiri dengan cara mempekerjakan juru parkir yang tidak tercatat resmi di pihak PD Parkir Makassar Raya. Hal ini ternyata menjadi masalah besar yang menimbulkan kemacetan dikarenakan cara parkir mereka yang mengambil bahu jalan. Belum lagi tindakan mereka dalam menghadapi pengguna parkir yang belum terlatih yang biasa menyebabkan kekacauan seperti adanya sikap premanisme. Adanya perluasan jalan di Kota Makassar banyak disalah gunakan oleh segelintir orang. Seharusnya perluasan jalan dipakai untuk pengguna jalan umum, malah kebalikannya. Petugas parkir memanfaatkan lahan tersebut untuk dijadikan area mencari keuntungan. Bukan hanya jalan umum, bahkan beberapa trotoar sudah tidak dapat dilewati oleh pejalan kaki
43 karena digunakan untuk memarkir kendaraan. Hal ini juga seharusnya menjadi evaluasi bagi masyarakat yang ingin membuka usaha. Banyaknya usaha yang dilakukan dipinngir jalan membuat masyarakat bingung untu memarkirkan kendaraanya alhasil jalan umum yang harusnya digunakan dijadikan tempat parkir.
4. Struktur Birokrasi
Struktur birokrasi dalam suatu organisasi sangat diperlukan guna memperlancar kinerja organisasi tersebut. Adanya sturuktur birokrasi dapat menjadikan pekerja bekerja sesuai tugas dan tanggung jawabnya masing-masing. Hal itupun diatur dalam standar operation procedur (SOP) masing-masing implementor. Sama halnya dengan yang terjadi di PD Parkir Makassar Raya adanya tugas dan tanggung jawab masing-masing yang telah ditetapkan sesuai SOP harusnya dapat menjadi pedoman bagi setiap implementor agar dapat melaksanakan tugasnya dengan efektif dan efisien.
Birokrasi merupakan struktur tatanan organisasi, bagan, pembagian kerja dan hierarki yang terdapat pada sebuah lembaga yang penting untuk menjalankan tugas-tugas agar lebih teratur, seperti contohnya pada pemerintahan, rumah sakit, sekolah, militer dll. Birokrasi ini dimaksudkan sebagai suatu sistem otoritas yang ditetapkan secara rasional oleh berbagai macam peraturan untuk mengorganisir pekerjaan yang dilakukan oleh banyak orang. Dalam pelaksanaanya, birokrasi memiliki prosedur atau aturan yang bersifat tetap, dan rantai komando yang berupa hirarki kewenangannya mengalir dari “atas” ke “bawah”.
44 Dalam Peraturan Daerah Kota Makassar Nomor 17 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Parkir Tepi Jalan Umum Dalam Daerah Kota Makassar BAB IV pasal 11 dikatakan bahwa direksi berkewajiban melakukan pembinaan kepada pengguna tempat parkir dan juru parkir. Bapak Ir. Asrarudin Mamonto selaku Kabag Umum PD Parkir Makassar Raya beliau mengatakan bahwa:
“kami selama ini selalu memberikan pembinaan kepada petugas parkir sebelum mereka bekerja atau yang sudah lebih dulu bekerja kami juga memberikan pembinaan dalam penyuluhan maupun seminar.”
Tidak hanya kepada petugas parkir, pihak PD parkir Makassar Raya juga selalu mengadakan pembinaan kepada semua elemen yang bertanggungjawab dalam menjaga ketertiban parkir yang ada di Kota Makassar. Namun dalam realita yang terjadi tak bisa dipungkiri bahwa kebijakan yang telah dibuat tidak begitu diindahkan oleh petugas parkir maupun masyarakat yang menggunakan tempat parkir tersebut.
Bapak Ir. Asrarudin Mamonto selaku Kabag Umum PD Parkir Makassar Raya beliau mengatakan bahwa:
“pihak kami sebisa mungkin mengupayakan adanya pembinaan yang dapat meningkatkan kinerja serta tanggungjawab dari tiap elemen yang bersangkutan, namun pada dasarnya pihak-pihak yang kami berikan wewenang kurang bertanggungjawab dan mengakibatkan banyak masyarakat yang resah akan perbuatan petugas parkir di lapangan”
Kurangnya kordinasi antara pihak PD Parkir Makassar Raya kepada masyarakat juga menjadi salah satu kendala dalam menertibkan parkir liar yang terjadi di Kota Makassar. Masyarakat harusnya memahami tentang kebijakan ini, ternyata belum sepenuhnya memahami SOP yang berlaku. Tidak hanya itu kurangnya pengawasan
45 kepada para petugas parkir liar juga menjadi kendala parkir yang kurang efektif selama ini. Pihak PD Parkir Makassar Raya belum sepenuhnya tegas kepada para petugas parkir dan akhirnya mereka terus menerus menimbulkan kekacauan dalam perparkiran Kota Makassar. Bapak Ir. Asrarudin Mamonto selaku Kabag Umum PD Parkir Makassar Raya beliau mengatakan bahwa:
“PD Parkir Makassar Raya selalu mengusahakan yang terbaik untuk masyarakat, kami telah membagi-bagi tugas dan wewenang kami. Namun pada dasarnya masih banyak juga masyarakat yang tidak paham untuk memarkirkan motornya ditempat yang telah disediakan”
Hal ini menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh masyarakat itu sendiri, banyaknya masyarakat yang paham namun tak mengindahkan aturan tersebut juga menghambat kinerja dari PD Parkir Makassar Raya. Ketika masyarakat pun sadar untuk memarkirkan kendaraannya ditempat yang telah disediakn pasti lebih mudah mengatur petugas parkir illegal.
46 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah diatur dalam Peraturan Daerah No 17 tahun 2006 tentang pengelolaan parkir tepi jalan umum dalam daerah Kota Makassar telah diperoleh hasil dan dapat disimpulkan beberapa faktor yang berhubungan dengan hasil penelitian sebagai berikut:
1. Komunikasi:
Komunikasi yang dilakukan oleh pihak pihak terkait kepada semua elemen yang bertanggungjawab atas ketertiban perparkiran di Kota Makassar hampir berjalan dengan baik. Mereka menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sesuai dengan prosedur yang ada namun ada beberapa hal yang membuat komunikasi kurang berjalan dengan baik seperti komunikasi yang telah dilakukan pihak direksi kepada petugas parkir yang kurang tegas karena masih banyaknya petugas parkir yang tidak mengindahkan penyampain yang dilakukan pihak Perusahaan Daerah Parkir Makassar Raya tentang perparkiran yang efisien dan efektif sesuai dengan aturan yang berlaku dalam Peraturan Daerah No 17 tahun 2006 tentang Pengeloaan Parkir Tepi Jalan Umum dalam Daerah Kota Makassar. Kurangnya ketegasan dari pihak PD Parkir dalam hal menegur atau memberi sanksi kepada petugas parkir illegal, menjadikan petugas parkir illegal semakin banyak membuka lahan parkir dan menutup akses jalan umum.