• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknik Pengumpulan Data

Dalam dokumen SKRIPSI. Disusun Oleh : SAUPA LESTARI NIM (Halaman 74-82)

BAB III METODOLOGI PENELTIAN

3.5. Teknik Pengumpulan Data

Data penelitian adalah data primer dan data sekunder, data primer diperoleh dari petani melalui wawancara langsung dengan menggunakan daftar pertanyaan yang telah dipersiapkan terlebih dahulu. Sedangkan data-data sekunder diperoleh dari dinas

perkebunan dan dari dinas-dinas terkait berkaitan dengan produktivitas dan jumlah populasi petani kopi. Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan yaitu:

1. Wawancara

Wawancara ialah proses komunikasi atau interaksi untuk mengumpulkan informasi dengan cara tanya jawab antara peneliti dengan informan atau subjek penelitian (Emzir, 2015).

Wawancara bisa dilakukan dalam berbagai teknik, yaitu: a. Wawancara langsung (direct interview), yaitu dimana

pada wawancara berlangsung, pewawancara mengontrol secara terus menerus jalanya wawancara, dengan menggunakan daftar wawancara yang telah dibuat sebelumnya. Semua narasumber mendapatkan pertanyaan yang sama, walaupun diantara mereka terdapat perbedaan-perbedaan, misalnya kemampuan, pengalaman, umur, dan lainnya.

b. Wawancara tidak langsung (indirect interview), dalam wawancara tidak langsung, pewawancara memberikan rangsangan atau umpan kepada pelamar untuk berbicara. Dengan demikian pewawancara memberikan pertanyaan yang berbeda untuk orang yang berbeda. c. Wawancara berpola (patterned interview),merupakan

kombinasi dari wawancara langsung dan tidak langsung. Dimana teknik ini paling sering digunakan

57

dan paling efektif dalam mendapatkan respon yang jujur dari seorang pelamar.

Adapun tahapan dari proses wawancara adalah sebagai berikut:

a) Perencanaan

Fase perencanaan sebenarnya tidak termasuk bagian dari wawancara, karena dilakukan sebelum wawancara dilaksanakan. Walaupun demikian penting untuk dimasukkan, karena perencanaan dapat menjamin keberhasilan wawancara. Di bawah ini adalah hal-hal yang harus dilakukan saat merencanakan wawancara :

⮚ Menetapkan tujuan.

⮚ Mempelajari hal-hal mengenai pelamar dan subyek atau pekerjaan yang ditawarkan. ⮚ Menetapkan spesifikasi pekerjaan yang akan

ditawarkan dan berdasarkan hal tersebut mengembangkan pertanyaan-pertanyaan yang penting.

⮚ Mengidentifikasikan jawaban-jawaban yang diinginkan.

⮚ Memilih tempat yang tepat dan memberitahukannya kepada pelamar.

d. Menciptakan Hubungan

Bagi sebagian orang, wawancara merupakan suatu peristiwa yang bisa menciptakan ketegangan. Untuk mengurangi ketegangan dan memudahkan jalannya pertukaran informasi, di awal wawancara, pewawancara harus menciptakan hubungan dengan pelamar.

e. Menetapkan Tujuan

Seorang pewawancara harus menjelaskan tujuan utama wawancara tersebut.Berikan pengertian pada pelamar tentang keinginan anda, karena seringkali masalah timbul disebabkan pewawancara mengasumsikan bahwa tujuan-tujuan yang diharapkannya sudah jelas bagi pelamar.Untuk menghindari hal ini maka jelaskan tujuan-tujuan tersebut pada saat wawancara

f. Tahap Tanya Jawab

Setelah tahap di atas, maka dimulai pembicaraan mengenai subyek yang ingin diketahui dari pelamar.Skema yang baik harus mengikuti sebuah kronologi yang tepat yaitu dimulai dengan latar belakang pendidikan dan aktivitas pelamar, dilanjutkan dengan pengalaman pekerjaan (jika ada) dan diakhiri dengan aktivitas pekerjaan. Dalam merangkum hal-hal tersebut, pewawancara harus memeriksa kualifikasi teknis (kemampuan untuk melakukan pekerjaan)

59

dorongan dan aspirasi (kemauan untuk melakukan pekerjaan), hubungan sosial dan keseimbangan emosi (hubungan dengan sesama teman dan diri sendiri), karakter (sifat yang dapat dipercaya), dan faktor lain yang dibutuhkan untuk mengukur keberhasilan suatu pekerjaan. Faktor tersebut mungkin berhubungan dengan kekuatan fisik, sikap dari suami/istri terhadap pekerjaan dan stabilitas keuangan.

g. Tahap Meringkas

Pada saat wawancara, terjadi pertukaran informasi antara pewawancara dengan pelamar, kemungkinan saja informasi yang didapat relevan dengan tujuan, tetapi mungkin pula sama sekali tidak relevan. Informasi yang tidak relevan akan mengakibatkan kesimpulan yang kabu atau tidak jelas. Untuk menghindari hal tersebut, pewawancara harus meringkas hasil wawancara pada saat akhir.Bila hal itu tidak dilakukan, akibatnya kedua pihak tidak menyadari adanya perbedaan-perbedaan yang terjadi. Seorang pelamar tidak akan sadar bahwa wawancara telah berakhir, sampai ia melihat tanda-tanda yang ditunjukkan oleh pewawancara. Karena itu harus terdapat suatu kesepakatan tentang kesimpulan wawancara tersebut sebelum wawancara berakhir. Ringkasan ini juga harus dicatat dan disimpan sebagai

suatu arsip, sehingga akan memudahkan bila sewaktu-waktu dibutuhkan.

h. Tahap Evaluasi

Tahap ini dilakukan setelah wawancara berakhir.Semua informasi yang telah didapatkan dari orang yang diwawancarai, harus dirangkum secara keseluruhan tanpa ditambah ataupun dikurangi. Dalam wawancara kerja, informasi tersebut dapat dilengkapi dengan fakta dari sumber lain yang dapat digunakan sebagai indikator untuk menilai jalan pikiran pelamar. Indikator tersebut dapat berguna untuk bahan evaluasi.Setelah wawancara perlu dibuat laporan tertulis mengenai hal-hal yang berhubungan dengan wawancara.Pada akhir laporan tersebut diberikan kesimpulan, yang memberikan gambaran mengenai penilaian secara keseluruhan.

Dengan kemajuan teknologi informasi seperti saat ini, wawancara bisa saja dilakukan tanpa tatap muka, yakni melalui media telekomunikasi. Pada hakikatnya wawancara merupakan kegiatan untuk memperoleh informasi secara mendalam tentang sebuah isu atau tema yang diangkat dalam penelitian. Atau, merupakan proses pembuktian terhadap informasi atau keterangan yang telah diperoleh lewat teknik yang lain sebelumnya. Dalam pengumpulan data melalui wawancara peneliti menyusun daftar pertanyaan dengan memperhatikan kelengkapan isi (5W+ 1H),

61

menentukan informan, menggunakan bahasa yang baik dan benar, dan menyimpan hasil wawancara dari informan yang dijadikan sebagai hasil dari penelitian untuk menjawab dari permasalahan dalam penelitian ini. Berikut nama-nama informan yang diwawancarai:

Tabel 3.1 Daftar Pertanyaan Untuk Informan

Informan Pertanyaan

Pemilik Kebun Kopi

1. Apa yang dilakukan pemilik kebun kopi terhadap pekerja?

2. Bagaimana bentuk pembayaran hasil kerja kebun kopi pekerja?

3. Bagaimana bentuk kesepakatan pembagian hasil kebun kopi yang dilakukan pemilik kebun kepada pekerja?

4. Berapa pekerja yang di pekerjakan setiap panen?

5. Apa saja mata pencaharian selain petani kopi?

Pengelola Kebun Kopi

1. Bagaimana Pembagian hasil yang terjadi antara pemilik kebun kepada pengelola? 2. Apa terjadi kecurangan dalam pembagian

hasil kepada pekerja?

3. Sudah berapa lama mengelola kebun kopi? 4. Berapa pendapatan yang diperoleh oleh

pekerja?

5. Apa Kendala dalam mengelola kebun kopi? 6. Apakah puas dengan pendapatan yang di

terima?

7. Apakah upah yang diberikan pemilik kebun tepat waktu?

8. Apakah Cukup dengan pendapatan yang di terima sebagai pengelola kebun kopi? 9. Apakah ada mata pencarian lain selain

sebagai pengelola kebun kopi?

10. Apakah dengan diberikan kesempatan sebagai pengelola kebun kopi tersebut dapat

membantu masyarakat lainnya yang tidak punya penghasilan?

2. Observasi

Selain wawancara, observasi juga merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang sangat lazim dalam metode penelitian kualitatif. Observasi hakikatnya merupakan kegiatan dengan menggunakan pancaindra, bisa penglihatan, penciuman, pendengaran, untuk memperoleh informasi yang diperlukan untuk menjawab masalah penelitian. Hasil observasi berupa aktivitas, kejadian, peristiwa, objek, kondisi atau suasana tertentu, dan perasaan emosi seseorang. Observasi dilakukan untuk memperoleh gambaran riil suatu peristiwa atau kejadian untuk menjawab pertanyaan penelitian (Bungin 2015).

Berikut adalah bentuk-bentuk observasi yaitu: a. Observasi partisipasi

Observasi partisipasi (participant observation) adalah metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian melalui pengamatan dan pengindraan di mana peneliti terlibat dalam keseharian informan.

b. Observasi tidak terstruktur

Pengamatan yang dilakukan tanpa menggunakan pedoman observasi, sehingga peneliti mengembangkan

63

pengamatannya berdasarkan perkembangan yang terjadi di lapangan.

c. Observasi kelompok

Pengamatan yang dilakukan oleh sekelompok tim peneliti terhadap sebuah isu yang diangkat menjadi objek penelitian.

3. Dokumen

Selain melalui wawancara dan observasi, informasi juga bisa diperoleh lewat fakta yang tersimpan dalam bentuk surat, catatan harian, arsip foto, hasil rapat, cenderamata, jurnal kegiatan dan sebagainya. Data berupa dokumen seperti ini bisa dipakai untuk menggali informasi yang terjadi di masa silam. Peneliti perlu memiliki kepekaan teoretis untuk memaknai semua dokumen tersebut sehingga tidak sekadar barang yang tidak bermakna (Bungin, 2016)

Dalam dokumen SKRIPSI. Disusun Oleh : SAUPA LESTARI NIM (Halaman 74-82)

Dokumen terkait