• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

G. Teknik Penjaminan Keabsahan Data

Sugiyono mengemukakan teknik triangulasi sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada. Pengumpulan data dengan triangulasi, maka sebenarnya peneliti mengumpulkan data yang sekaligus menguji kredibilitas data, yaitu mengecek kredibilitas data mengabungkan, data dan berbagai sumber data.

Triangulasi berarti peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatkan data dari sumber yang sama. Peneliti menggunakan observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dukumentasi untuk sumber data yang sama secara serempak. Pengecekan keabsahan data (triangulasi) dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu. Tujuannya untuk meyakinkan validitas (ketepatan) data dan reliabilitas (ketetapan) data yang diperoleh. Uji keabsahan data dilakukan dengan cara :

1. Triangulasi sumber. Cara ini dilakukan dengan mengecek keabsahan data melalui berbagai sumber. Data dianggap absah jika berbagai sumber tersebut jawabannya bersifat reliabel, artinya tidak ada perbedaan antara sumber yang satu dengan sumber yang lain.

35

2. Triangulasi teknik. Cara ini dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Misalnya, data yang diperoleh dengan wawancara lalu dicek dengan observasi atau dokumentasi. Bila hasilnya data berbeda-beda, maka peneliti melakukan diskusi lebih lanjut kepada sumber data yang bersangkutan atau subjek lain untuk menentukan data yang benar, atau mungkin semuanya benar karena menggunakan perspektif yang berbeda.

3. Triangulasi waktu. Cara ini dilakukan dengan mengecek keabsahan data dengan wawancara, observasi, atau teknik lain dalam waktu atau situasi yang berbeda, dilakukan berulang-ulang untuk menentukan kepastian data.

36 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Temuan Umum Penelitian

1. Letak Geografis MDA Masjid Baiturrahim Koto Kabupaten Tanah Datar

Secara geografis MDA Masjid Baiturrahim Koto terletak di jalan Rangkayo Bungsu dalam kawasan yang lingkungannya cukup baik untuk satu lembaga pendidikan, sebab situasi dan kondisi sekitarnya sangat nyaman dan tenang untuk berlangsungnya proses belajar mengajar. Dengan kata lain letak MDA ini sangat mendukung bagi anak-anak yang ingin mempelajari ilmu Al-Qur’an serta ilmu agama lainnya. Karena dengan kondisi yang nyaman ini membuat para santri akan mudah menerima pelajaran serta ilmu yang diberikan oleh guru.

2. Sejarah Berdirinya MDA Masjid Baiturrahim Koto

Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) Masjid Baiturrahim Koto adalah lembaga non formal yang berdiri pada tahun 2000. Awalnya MDA Masjid Baiturrahim Koto bernama TPA/TPSA Masjid Baiturrahim Koto. Di TPA/TPSA santri mempelajari cara membaca Al-Qur’an. Jumlah santri pada saat itu belum begitu banyak dengan jumlah tenaga pengajar 2 orang.

Seiring perkembangan zaman jumlah santri semakin hari semakin bertambah. Melihat perkembangan yang terjadi pada santri maka dari pihak pengurus TPA/TPSA membuat rencana mengenai perubahan nama dari TPA/TPSA menjadi MDA. Dimana perubahan tidak hanya akan dilakukan terhadap nama saja tetapi terhadap fokus pembelajarannya juga direvisi kembali. Fokus pembelajaran tidak hanya sebatas membaca Al-Qur’an saja akan tetapi santri juga perlu belajar hal-hal lain yang terkait dengan Agama Islam. Metode dalam pembelajaran Al-Qur’annya diganti menjadi metode Qiro’ati.

37

Maka pada tahun 2000 tersebut terjadilah pergantian nama dari TPA/TPSA Masjid Baiturrahim Koto menjadi MDA Masjid Baiturrahim Koto, dimana MDA ini juga langsung menjadi salah satu MDA percontohan penerapan metode Qiro’ati di Kecamatan Tanjung Emas. SK MDA Masjid Baiturrahim Koto keluar pada tahun 2005. Keberadaan MDA Masjid Baiturrahim Koto khususnya di kawasan komplek perumahan RSUD Hanafiah batusangkar membawa peran penting dalam membentuk karakter dan kepribadian anak-anak, mengingat jumlah penduduk dan potensi generasi mudanya sangat banyak terutama anak-anak sekolah dasar.

Ditambah lagi dengan keadaan akhlak dan moral yang dirasa masih jauh dari tingkah laku syari’ah. Dengan berdirinya MDA Masjid Baiturrahim Koto di wilayah tersebut diharapkan akan membawa perubahan signifikan.

Dalam mendirikan MDA Masjid Baiturrahim Koto ini bukanlah satu hal yang mudah untuk merealisasikan itu semua, sehingga dibutuhkan usaha yang sungguh-sungguh, kesabaran, ketelatenan dan manajemen yang optimal, dan bukan satu hal yang ringan pula mempertahankan dan bahkan meningkatkan kemajuan yang telah dicapai untuk dapat mewujudkan suatu MDA yang ideal. Untuk itu merasa penting adanya suatu wadah yang mengatur, merencanakan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan MDA Masjid Baiturrahim Koto sesuai dengan visi, misi dan tujuan MDA, wadah tersebut kemudian disepakati dan diwujudkan dalam bentuk organisasi MDA Masjid Baiturrahim Koto.

3. Visi, Misi dan Tujuan MDA Masjid Baiturrahim Koto Kabupaten Tanah Datar

e. Visi dan misi

Visi MDA Masjid Baiturrahim Koto “Menjadikan Santri yang Berakhlak Mulia dengan Menerapkan Nilai-nilai Al-Qur’an”. Sedangkan misinya yaitu diantaranaya:

1) Menumbuhkan rasa cinta terhadap Allah SWT dan Rasul-Nya 2) Mampu melaksanakan kegiatan ibadah sesuai Al-Qur’an dan Sunnah

f. Tujuan

1) Menjadikan santri mampu membaca Al-qur’an dan ibadah lainnya 2) Terbetuknya santri yang memiliki sikap akhlakul Karimah

4. Struktur Organisasi Kepengurusan MDA Masjid Baiturrahim Koto Kabupaten Tanah Datar

Setiap organisasi baik lembaga formal maupun non formal pasti memiliki struktur yang jelas sebab dalam struktur tersebut merupakan penempatan lembaga antara orang-orang dalam kewajiban-kewajiban hak dan tanggung jawab masing-masing dalam sruktur yang telah ditentukan.

Penentuan struktur serta tugas dan tanggung jawab dimaksudkan agar tersusunlah pola kegiatan yang tertuju kepada tercapainya tujuan-tujuan bersama dalam kelompok, begitu juga dalam lembaga pendidikan. Lembaga MDA Masjid Baiturrahim Koto merupakan lembaga yang peneliti gunakan sebagai objek penelitian. Adapun struktur organisasi MDA Masjid Baiturrahim Koto dapat dilihat pada Lampiran IV.

5. Keadaan MDA Masjid Baiturrahim Koto Kabupaten Tanah Datar a. Guru

Guru merupakan salah satu komponen pendidikan yang sangat penting dalam proses belajar mengajar, karena keberadaannya sangat mempengaruhi hal tersebut dan sekaligus merupakan faktor penentu menuju tercapainya tujuan pembelajaran. Jumlah guru di MDA Masjid Baiturrahim Koto 7 orang seperti Tabel 4.1:

Tabel 4. 1 Guru MDA Masjid Baiturrahim Koto

No Nama L/P Ijazah Mulai mengajar Jabatan

1 Melia Desrina, S.Sos.I P S1 1-8-2005 Kepala

2 Rika Kurniawan, S.Pd.I P S1 1-7-2015 Guru kelas IV

3 Lydia Novita R, Amd P D3 1-7-2015 Guru kelas III

4 Delwi Liana, S.Pd P S1 1-7-2015 Guru kelas II

5 Netri Yetni, S.Ag P S1 1-1-2000 Guru kelas I

6 Deni Syafrika, S.Pd.I P S1 4-8-2014 Guru Iqro’

7 Nofrianto, S.Pd L S1 1-7-2013 Guru DdS

39

Dalam proses penggunaan metode Qiro’ati dalam pembelajaran Al-Qur’an yang harus dimiliki oleh guru agar menjadi tenaga yang profesional dibidang pembelajran Al-Qur’an adalah:

1) Sudah pernah mengaji kepada guru Al-Qur’an

2) Harus mampu membaca Al-Qur’an dengan tartil sesuai dengan kaidah ilmu tajwid

3) Faham dengan tanda baca yang terdapat dalam Al-Qur’an b. Santri

Santri merupakan komponen terpenting dalam pengajaran, selain guru.

Keadaan santri MDA Masjid Baiturrahim Koto berjumlah 168 orang, untuk detailnya dapat dilihat pada Tabel 4.2:

Tabel 4. 2 Jumlah Santri MDA Masjid Baiturrahim Koto No Kelas Jumlah Santri

Sarana dan prasarana merupakan suatu alat atau media yang menunjang keberhasilan dalam suatu lembaga. Demikian pula pada lembaga pendidikan selain menjadi daya tarik suatu sekolah, sara dan prasarana juga menjadi motivasi untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Adapun sarana dan prasarana di MDA Masjid Baiturrahim Koto adalah sebagai berikut:

1) Gedung atau tempat belajar 2) Sarana prasarana mengajar

a) Papan tulis dan perlengkapannya b) Alat peraga

c) Buku penunjang belajar d) Meja dan kursi Guru e) Meja dan kursi santri

f) Spidol g) Speaker aktif

h) Huruf hijaiyah yang di cetak pada kertas karton 3) Sarana administrasi

a) Buku agenda surat menyurat 4) Administrasi keuangan

a) Kartu pembayaran syahriyah (SPP) b) Buku data donatur

c) Buku keuangan 5) Administrasi mengajar

a) Buku atau daftar absensi santri b) Buku atau daftar absensi guru c) Kartu prestasi

d) Buku kontrol hafalan santri B. Temuan Khusus Penelitian

1. Tujuan dan Target pelaksanaan pembelajaran Al-Qur’an dengan Metode Qiro’ati di MDA Masjid Baiturrahim Koto Kabupaten Tanah Datar

Penerapan suatu metode dalam pembelajaran memiliki suatu tujuan yang harus dicapai. Keberhasilan penggunaan metode tersebut dapat diukur dari seberapa jauh tujuannya dapat tercapai. Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan Informan I (18 Oktober 2019) Kepala MDA menyampaikan bahwa tujuan pertama diterapkan metode Qiro’ati yaitu (1) untuk menghindari kesalahan membaca saat santri membaca Al-Qur’an. (2) agar santri mampu membaca Al-Qur’an sesuai kaidah ilmu tajwid.

Tujuan pertama agar santri mampu menjaga kesucian dan kemurnian Al-Qur’an dari segi bacaan yang sesuai dengan kaidah ilmu tajwid, menyebarluaskan ilmu bacaan Al-Qur’an. Maksudnya yaitu setelah santri mengetahui dan memahami ilmu tajwid, santri juga diharapkan mampu mengajarkannya kepada orang lain. Meningkatkan kualitas pendidikan

Al-41

Qur’an, maksudnya yaitu santri senantiasa untuk mencari ilmu yang lain berkaitan dengan Qur’an guna untuk menambah pengetahuan tentang Al-Qur’an. Sejalan dengan tujuan utama metode Qiro’ati yaitu metode Qiro’ati bukan hanya semata-mata menjaga kesucian dan kemurnian Al-Qur’an, santri juga diharapkan untuk mengetahui ilmu-ilmu lain tentang Al-Qur’an serta mengajarkannya kembali ilmu yang telah diperoleh kepada orang lain.

Sedangkan target dari pelaksanaan pembelajaran Al-Qur’an dengan metode Qiro’ati yaitu menjadikan santri yang mampu membaca Al-Qur’an dengan tartil serta dengan ilmu tajwid yang baik sebelum santri melaksanakan khatam Al-Qur’an. Khatam Al-Qur’an ini dilaksanakan oleh MDA Masjid Baiturrahim Koto 1 kali dalam satu tahun dimana untuk mengetahui sejauh mana kemampuan santri dalam menguasai kaidah ilmu tajwid serta untuk menguji hafalan Al-Qur’an santri dalam bentuk juz 30.

Maka dengan target ini santri akan lebih termotivasi dalam mempelajari ilmu tajwid sekaligus berlomba-lomba dalam menghafal Al-Qur’an. Selain menghafal Al-Qur’an santri juga dapat memahami kandungan yang terdapat pada ayat tersebut, sehingga dengan pemahaman ini santri akan dapat berperilaku sesuai dengan ajaran Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Sejalan dengan yang disampaikan oleh Informan II (22 Oktober 2019) Guru mengatakan bahwa tujuan pembelajaran dengan metode Qiro’ati ini adalah santri mampu menjaga kesucian dan kemurnian Al-Qur’an, yaitu dengan cara membaca serta mempelajari ilmu Al-Qur’an. Sedangkan target pembelajaran Al-Qur’an dengan metode Qiro’ati adalah santri mampu membaca Al-Qur’an sesuai dengan makhraj dan tajwid dengan benar.

Berdasarkan wawancara yang penulis lakukan dapat disimpulkan bahwa tujuan pelaksanaan pembelajaran Al-Qur’an dengan metode Qiro’ati adalah santri mampu menjaga kesucian dan kemurnian Al-Qur’an serta mampu mempelajari ilmu yag berkaitan dengan Al-Qur’an dan mengajarkan kembali ilmu yang telah diperoleh kepada orang lain. Sedangkan target dari pelaksanaan pembelajaran Al-Qur’an dengan metode Qiro’ati adalah santri mampu membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar berdasarkan makhraj

dan ilmu tajwid serta mampu menghafalkan Al-Qur’an dalam bentuk juz ke 30.

2. Pelaksanaan pembelajaran Al-Qur’an dengan metode Qiro’ati di MDA Masjid Baiturrahim Koto Kabupaten Tanah Datar

2.1 Proses kegiatan pembelajaran Al-Qur’an dengan metode Qiro’ati di MDA Masjid Baiturrahim Koto Kabupaten Tanah Datar

a. Persiapan sebelum Pelaksanaan Pembelajaran

Sebelum pembelajaran dimulai ada beberapa hal yang harus dipersiapkan oleh seorang guru, seperti media pembelajaran sampai ke batas pelajaran. Media yang dipersiapkan akan digunakan untuk memudahkan guru dalam menjelaskan pelajaran serta untuk menunjang tercapainya tujuan pembelajaran. Sebagaimana sekolah pada umumnya memiliki rancangan pembelajaran sebelum mengajar, guru mempersiapkan langkah-langkah yang akan dilakukan dalam bentuk RPP (Rancangan Persiapan Pembelajaran)

Berdasarkan wawancara dengan Informan I (18 Oktober 2019) Kepala MDA menyampaikan bahwa tidak adanya rancangan apapun yang disiapkan oleh guru dalam memulai proses pembelajaran. Sebelum memulai pembelajaran guru hanya mempersiapkan beberapa alat peraga atau media yang sesuai dengan materi yang akan dipelajari berdasarkan jadwal dalam pembelajaran, selain itu guru juga mempersiapkan batas pelajaran sebagai pedoman pembelajaran. Jika pada hari tersebut akan diadakan evaluasi maka guru mempersiapkan buku penilaian untuk masing-masing tingkat.

Sejalan dengan yang disampaikan oleh Informan II (22 Oktober 2019) Guru mengatakan bahwa sebelum pembelajaran dimulai, guru hanya mempersiapkan batas pelajaran yang akan dipelajari serta alat peraga atau media yang akan digunakan dalam pembelajaran sesuai dengan materi yang akan diajarkan, dan tidak

43

ada persiapan khusus apapun yang disiapkan terkait dengan pembelajaran.

Dari wawancara yang penulis lakukan, dapat disimpulkan bahwa tidak adanya persiapan khusus yang dilakukan guru sebelum melaksanakan pembelajaran di kelas. Seperti sekolah umum lainnya sebelum guru melaksanakan pembelajaran, guru mempersiapkan RPP sebagai pedoman dalam mengajar. Namun guru di MDA Masjid Baiturrahim Koto hanya mempersiapkan alat peraga sebagai media untuk membantu dalam proses pembelajaran serta batas pelajaran

b. Pelaksanaan Pembelajaran Al-Qur’an

`Terkait dengan pelaksanaan pembelajaran, penulis melakukan wawancara dengan Informan I (18 Oktober 2019) Kepala MDA mengatakan bahwa proses pelaksanaan pembelajaran Al-Qur’an dengan metode Qiro’ati berlaku untuk seluruh tingkat, namun untuk kelas Iqro’ santri di intruksikan untuk duduk sesuai tingkat iqro’nya. Pelaksanaan pembelajaran Al-Qur’an dengan metode Qiro’ati di MDA Masjid Baiturrahim Koto antara kelima kelas tidak begitu berbeda hanya saja antara kelas Iqro’ dan kelas I sampai kelas IV sedikit berbeda. Hal ini dikarenakan pada kelas Iqro’ terdapat perbedaaan tingkat jilidnya, sedangkan pada kelas I sampai kelas IV mereka sama-sama sudah Al-Qur’an tetapi berbeda tingkat kelancaran dan kemampuan membacanya.

Sebelum pembelajaran dimulai santri di intruksikan untuk duduk dengan rapi dan dilanjutkan dengan membaca do’a bersama yang dipimpin oleh ketua kelas, setelah selesai membaca do’a santri mengulang kembali bacaan sebelumnya agar dapat memahaminya kembali. Setelah semua santri selesai membaca kemudian guru memanggil satu per satu santri yang akan membaca, kemudian guru membacakan bacaan yang ada dalam buku Iqro’ sesuai dengan tajwid dan lafaz yang benar sedangkan santri menyimak bacaan dari

gurunya. Setelah guru selesai membacakan santri diintruksikan untuk membaca atau mengulang kembali bacaan sampai santri tersebut fasih dalam mengucapkan lafaz bacaan yang benar. Saat santri mengulang kembali bacaan guru menyimak bacaan tersebut, apabila terdengar ada kesalahan bacaan atau tajwid maka guru akan langsung mengoreksi bacaan santri dengan kembali mengulang bacaan dengan bacaan yang tepat dan benar sampai semua santri bisa melafazkan bacaan tersebut sesuai tajwid dan makhrajnya barulah bacaan bisa dilanjutkan ke ayat atau halaman selanjutnya. Target membaca minimal biasanya satu halaman Iqro’ untuk tiap tingkatan, akan tetapi hal ini juga disesuaikan dengan jumlah santri yang hadir karena mempertimbangkan alokasi waktu yang dimiliki untuk pelaksanaan pembelajaran

Sedangkan untuk kelas I sampai kelas IV secara umum pelaksanaannya dimulai dengan guru membacakan terlebih dahulu ayat Al-Qur’an dengan bacaan tartil sesuai tajwid yang benar, lalu santri menyimak bacaan yang dibaca oleh guru sampai selesai.

Setelah guru selesai membacakan ayat lalu santri di intruksikan untuk mengulang kembali bacaan yang telah dibacakan guru tersebut. Di saat santri membaca ayat Al-Qur’an guru menyimak kembali bacaan dari santri. Untuk santri yang masih ditemukan bacaan yang salah saat membaca maka guru akan langsung memberikan koreksi terhadap bacaannya, dengan cara membacakan bacaan tersebut dengan bacaan yang benar. Apabila sudah benar maka akan dilanjutkan kepada santri lain untuk membacanya. Jika semua santri telah mendapatkan kesempatan membaca dan bacaannya sudah benar sesuai dengan tajwid maka bacaan dapat dilanjutkan ke ayat berikutnya. Namun jika masih terdapat kesalahan dalam membaca oleh sabtri setelah diulang beberapa kali, maka guru belum memperbolehkan santri untuk melanjutkan ke ayat berikutnya.

45

Sejalan dengan yang disampaikan oleh Informan II (22 Oktober 2019) Guru mengatakan bahwa untuk tingkat iqra’ santri dipersilahkan duduk di kelompok masing-masing, setelah itu guru memanggil santri satu per satu kedepan untuk membaca kajian masing-masing, kemudian santri yang lainnya diintruksikan memperhatikan huruf serta cara membaca huruf tersebut sebagaimana yang akan dicontohkan oleh guru nantinya. Sedangkan untuk kelas I sampai IV santri belajar dan membaca Al-Qur’an bersama guru masing-masing. Guru membacakan ayat Al-Qur’an terlebih dahulu dengan makhraj dan tajwid yang benar, kemudian santri dipersilahkan untuk mengulang kembali bacaan tersebut sesuai dengan makhraj dan tajwid yang dicontohkan guru.

Hal ini sejalan dengan yang disampaikan oleh Informan III (25 Oktober 2019) Guru mengatakan bahwa untuk kelas Iqro’ santri duduk dalam kelompok sesuai dengan tingkatan Iqro’nya. Untuk setiap tingkatan Iqro’ dimulai dengan guru membacakan terlebih dahulu bacaan dengan langsung memasukkan bacaaan tajwid sementara santri mengikuti bacaan dari guru setelah guru selesai membacanya. Santri akan diintruksikan untuk mengulang bacaan sampai mereka benar-benar sudah lancar dalam membaca dan memasukkan tajwid yang benar kedalam bacaannya. Sedangkan untuk kelas I sampai kelas IV guru membacakan ayat Al-Qur’an terlebih dahulu dengan bacaan tartil dan memasukkan tajwid langsung kedalam bacaan, sedangkan santri mendengarkan bacaan dari guru. Setelah guru selesai membacakan santri diintruksikan untuk membaca secara bergiliran. Jika santri yang pertama telah bisa membaca dengan benar, maka akan dilanjutkan dengan santri yang selanjutnya. Akan tetapi apabila belum benar maka akan dilakukan perbaikan terhadap bacaannya terlebih dahulu. Jika semua santri telah bisa membaca dengan benar maka akan dilanjutkan dengan ayat selanjutnya.

Hal ini juga sejalan dengan yang disampaikan oleh Informan IV (26 Oktober 2019) santri mengatakan bahwa untuk kelas Iqro’

kami duduk dalam kelompok menurut tingkatan iqra’ masing-masing, kemudian guru membacakan terlebih dahulu bacaan yang ada pada buku Iqro’ dengan makhraj dan tajwid, setelah guru selesai kami mengulang kembali bacaan seperti yang dibacakan guru. Jika dalam bacaan kami masih salah maka guru akan menegur sampai kami bisa membaca dengan benar. Sedangkan untuk kelas I sampai kelas IV sebelum kami mulai membaca dalam pembelajaran, guru membacakan terlebih dahulu bacaannya dengan bacaan tartil beserta tajwidnya. Jika sudah selesai maka kami akan mengikuti bacannya secara bergiliran sampai kami bisa membaca dengan benar dan lancar. Guru langsung menegur kami jika ada bacaan yang salah kemudian memperbaiki kembali bacaan sampai tepat. Jika bacaan kami sudah benar maka bacaan akan dilanjutkan ke ayat berikutnya.

Dari hasil wawancara penulis lakukan dapat diketahui bahwa, dalam pelaksanaan pembelajaran Al-Qur’an yang dilakukan yaitu pada kelas iqra’ guru mengelompokkan santri menjadi beberapa kelompok berdasarkan tingkat iqra’ yang sama, sedangkan kelas I sampai IV guru memanggil satu per satu santri kedepan kemudian teman yang lain diintruksikan untuk menyimak apa yang akan dibaca oleh santri tersebut. Setelah itu guru membacakan terlebih dahulu bacaan yang akan dibaca oleh santri dan kemudian diikuti oleh santri, apabila ada kesalahan dalam bacaan santri, guru langsung menegur dan memperbaiki kembali bacaan santri. Hal ini juga sesuai dengan penulis dapati bahwa melihat guru yang sedang membimbing santri dalam membaca Al-Qur’an, yaitu dengan cara membacakan terlebih dahulu ayat Al-Qur’an yang akan dibaca oleh santri dengan makhraj dan tajwid yang benar, setelah itu santri dipersilahkan membaca kembali ayat sesuai dengan makhraj dan tajwid yang telah di contohkan. Apabila santri telah mampu membaca dengan benar,

47

guru akan mempersilahkan santri untuk melanjutkan bacaan ke ayat berikutnya.

Dalam Proses pelaksanaan pembelajaran Al-Qur’an dengan metode Qiro’ati di MDA Masjid Baiturrahim Koto antara kelas Iqro’

dan kelas I sampai kelas IV hampir sama. Guru menjadi pokok utama dari terlaksananya pembelajaran. Saat santri mengulang kembali bacaan dari guru, guru menyimak bacaan santri dengan ketentuan jika santri mampu membaca dengan benar maka bisa lanjut ke ayat berikutnya akan tetapi jika belum benar maka akan diulang sampai semuannya bisa membaca dengan tartil berdasarkan kaidah ilmu tajwid yang benar.

2.2 Waktu yang diperlukan dalam pelaksanaan pembelajaran Al-Qur’an dengan metode Qiro’ati di MDA Masjid Baiturrahim Koto Kabupaten Tanah Datar

Terkait dengan waktu yang dibutuhkan untuk selama pembelajaran Al-Qur’an dengan metode Qiro’ati, penulis melakukan wawancara dengan Informan I (18 Oktober 2019) Kepala MDA mengatakan bahwa waktu yang digunakan hanya 60 menit dalam satu kali pembelajaran Al-Qur’an, kemudian dilanjutkan dengan sholat ashar berjama’ah dan istirahat, setelah

Terkait dengan waktu yang dibutuhkan untuk selama pembelajaran Al-Qur’an dengan metode Qiro’ati, penulis melakukan wawancara dengan Informan I (18 Oktober 2019) Kepala MDA mengatakan bahwa waktu yang digunakan hanya 60 menit dalam satu kali pembelajaran Al-Qur’an, kemudian dilanjutkan dengan sholat ashar berjama’ah dan istirahat, setelah

Dokumen terkait