• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Pengadaan bibit secara vegetatif

1. Teknik perakaran stek

- Letakkan pada tempat yang teduh.

- Setelah satu minggu, pindahkan ke bedeng semai yang telah disiapkan dengan naungan 50 %. - Setelah berumur 3-4 bulan di persemaian bibit siap

ditanam.

B. Pengadaan bibit secara vegetatif

Teknik pengadaan bibit secara vegetatif umumnya digunakan untuk memperbanyak tanaman yang sulit berbuah, musim buah tidak menentu, dan klon-klon unggul hasil pemuliaan maupun seleksi alam. Teknik perbanyakan vegetatif meliputi: stek, okulasi, penyambungan, cangkok dan kultur jaringan.

1. Teknik perakaran stek

Stek merupakan teknik pembiakan vegatatif dengan cara perlakuan pemotongan pada bagian vegatatif untuk ditumbuhkan menjadi tanaman dewasa secara mandiri dan terlepas dari tanaman induknya. Penggolongan stek berdasarkan bahan tanaman terdiri dari: stek pucuk, stek batang, dan stek akar. Faktor yang mempengaruhi perbanyakan stek diantaranya:

19 a. Sumber bahan stek

- Asal bahan stek

Bahan stek yang masih juvenil (muda secara fisiologis) memiliki kemampuan berakar yang lebih baik dari pada biakan stek yang telah tua ). Bahan tanaman yang berasal dari bagian tanaman dekat dengan akar lebih juvenil dari pada bahan tanaman yang berada pada tajuk yang lebih tinggi. Hartman et al (1990)

- Tipe tunas dari bahan stek .

Bahan stek berasal dari batang atau tunas orthotrop dari pohon donor yang berkualitas baik sehingga bibit stek dapat tumbuh tegak dan cepat di lapang. Biakan stek yang berasal dari tunas plagiothrop (tumbuh menyamping) ketika ditumbuhkan di lapang tumbuhnya juga menyamping.

- Kebun pangkas

Untuk menghasilkan bahan stek yang juveni dengan jumlah banyak dan berkesinambungan diperlukan kebun pangkas yang dikelola dengan teknik tertentu (Irsyal & Smits, 1988). Lokasi kebun pangkas

20

sebaiknya dekat atau dalam areal persemaian. Untuk jenis Dipterocarpaceae diusahakan dipilih lahan yang kondisi tanahnya mengandung mikoriza atau dibawah tegakan yang tajuknya terbuka (intensitas cahaya 50%) (Tolkamp & Leppe, 2002). Untuk jenis-jenis pioner seperti Benuang (Octomeles sumatrana) kebun pangkas memerlukan lahan yang terbuka. Bahan tanaman untuk kebun pangkas dapat berupa biji/buah atau cabutan dari alam yang induknya teridentifikasi atau okulasi dimana entrisnya berasal dari pohon plus (Pramono, 2003).

b. Media - Media padat.

Syarat utama media pengakaran harus porus, drainase dan aerasi baik, serta steril. Media pengakaran stek dapat menggunakan pasir, cocopeat, vermikulit (Hartmann at al. 1990)

- Media cair.

Pembiakan stek juga dapat dilakukan dengan

menggunakan media air, yang dikenal dengan sistem water rooting. Sistem ini dikembangkan oleh

21

Wanariset I Samboja (Balai Penelitian Kehutanan Samarinda), Kalimantan Timur untuk jenis-jenis Dipterocarpaceae. Untuk memberikan oksigen yang diperlukan dalam proses pembentukan akar ke dalam air digunakan kompresor sebagai sistem aerasinya. Sedangkan bak airnya dapat digunakan bak yang terbuat dari semen. Tempat untuk menyimpan stek (standar) digunakan ijuk yang disusun sedemikian rupa (susunan ijuk dapat dibuka dan tutup) sehingga stek dapat dengan mudah dikeluarkan tanpa menggangu sistem perakarannya. Suhu air selama pengakaran berkisar 27 - 30 C. Untuk sistem ini diperlukan air yang semi steril agar stek tidak terganggu oleh serangan jamur atau bakteri. Untuk itu air perlu diganti setiap 2 minggu sekali. Selang-selang yang digunakan perlu disterilkan dengan cara membuka selang tersebut dan kemudian di jemur dibawah sinar matahari.

22 c. Kondisi lingkungan

Keberhasilan pembibitan secara vegetatif salah satunya ditentukan oleh kondisi lingkungan / iklim mikro tempat pengakaran stek. Untuk itu pengakaran stek dilakukan pada ruangan (rumah tumbuh atau ruang pengakaran) yang dapat menjaga kondisi lingkungan agar tetap optimal. Ruang pengakaran stek yang secara operasional sudah digunakan oleh beberapa perusahaan dan lembaga penelitian antara lain adalah Rumah Tumbuh ADH-1, Sistem KOFFCO, MS ( Model Sungkup ).

1) Rumah Tumbuh ADH-1

Rumah tumbuh ini dikembangkan oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Perbenihan (BP2TP) di Kebun Percobaan Nagrak. Model ini

merupakan ruang pengakaran stek sistem penyinaran matahari. Model ini dibagun menggunakan atap permanen dari genteng tanah merah yang dikombinasi dengan genteng kaca. Genteng kaca ini dapat dipindah-pindahkan sesuai dengan fungsinya yaitu mengatur pencahayaan sinar matahari pagi maupun

23

sore yang masuk sesuai dengan kebutuhan. Di bawah atap ini terdapat bak-bak tumbuh yang dibuat dari batako dan dilapisi semen berukuran ( 1,5 m x 1 m x 60 cm ) dengan alas lantai semen. Di dalam bak-bak tersebut dapat terdapat pengakaran yang dapat dimodifikasi kondisinya, seperti dapat diberi kerikil atau air ( sesuai dengan sifat dari bahan stek ) di dasar bak-bak tersebut kemudian ditutup dengan fiberglass transparan. Rumah Tumbuh ADH-1 memiliki kondisi pada siang hari (jam 08.00 – 16.00) suhu 25 oC – 30

o

C, kelembaban nisbi udara 85%-90% dan intensitas cahaya 300 – 10.000 lux (Pramono et.al. 1999). 2) Sistem KOFFCO

Sistem ini dikembangkan oleh Pusat Litbang Hutan dan Konservasi, terutama digunakan untuk pembibitan jenis-jenis Dipterocarpaceae. Sistem ini memanfaatkan rumah kaca yang dilengkapi dengan sensor pengatur suhu. Pada saat suhu tidak sesuai dengan keadaan yang diinginkan maka akan terjadi pengkabutan secara otomatis. Pengkabutan ini terjadi dengan cara penyemprotan air melalui

nozel-24

nozel yang mempunyai lubang-lubang yang sangat halus. Sistem KOFFCO memiliki suhu < 30 oC , kelembaban > 95% dan intensitas cahaya 5.000 – 20.000 lux (Shakai, et al. 1995). Dalam sistem ini bahan stek ditanam di polypot kemudian dimasukkan ke dalam sungkup plastik transparan dan dibawahnya diberi batu-batu kerikil. Hal ini dimaksudkan untuk menstabilkan kelembaban maupun suhu di dalam sungkup.

25

(Foto : Danu, 2009)

Gambar 7. Rumah Tumbuh Sistim KOFCO Model Sungkup

Model Sungkup (MS) ini dikembangkan oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Tanaman Hutan Palembang. Untuk pembuatan MS ini diperlukan plastik transparan sebagai sungkup, yang dapat dibuka dan ditutup. Bak tempat media atau polibag ditempatkan dalam wadah terbuat dari papan dan diberi batu kerikil

26

yang diberi air. Untuk menopang sungkup digunakan rangka kayu atau besi berbentuk persegi setinggi 100 cm (Longman, 1993), atau berbentuk setengah lingkaran setinggi 60 cm (Djam’an et al , 2003).

27

(Foto : Rina ,2009)

Gambar 9. Ruang Pengakaran Stek Model Sungkup Zat pengatur tumbuh

Untuk menstimulir pertumbuhan akar dan tunas, bagian pangkal stek diberi zat pengatur tumbuh dari kelompok auxin (IBA, IAA, NAA) dan yang banyak digunakan untuk pembuatan stek atau cangkok yang dikenal dengan nama dagang Rootone-F maupun Atonik, sedang dari kelompok sitokinin terutama Kinetin, Adenin, zeatin.

28

Cara pemberian Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) dapat mengunakan cara oles, celup, dan perendaman.

Dokumen terkait