BAB II LANDASAN TEORI
2.2 Teknologi Jaringan Wireless
2.2.1Referensi Model OSI
Model ini disebut OSI (Open System Interconnection) Reference Model, Karena model ini ditujukan untuk pengkoneksian open system, yang dikembangkan oleh International for Standardization (ISO) pada tahun 1984. OSI menggambarkan bagaimana informasi dari suatu software aplikasi pada sebuah
komputer berpindah melewati sebuah media jaringan ke suatu software aplikasi di komputer lain. OSI secara konseptual terbagi terbagi ke dalam 7 lapisan dimana masing-masing memiliki fungsi jaringan yang spesifik. (Syafrizal , 2005 : 74-89)
Gambar 2.1 Model Referensi OSI (Syafrizal, 2005:75)
a. Physical Layer bertanggung jawab untuk mengaktifkan dan mengatur physical interface jaringan komputer. Pada lapisan ini, hubungan antar interface-interface dari perangkat keras diatur seperti hubungan antara DTE dan DCE. Interface yang di definisikan pada lapisan ini antara lain 10BaseT, 100BaseTX, V35, X.21 dan High Serial Interface (HSSI)
b. Data Link Layer Mengatur topologi jaringan, Error notification dan Flow Control. Tugas utamanya adalah sebagai fasilitas transmisi raw data dan mentransformasi data tersebut ke saluran yang bebas dari kesalahan transmisi
c. Network Layer berfungsi untuk mengendalikan operasi subnet dengan meneruskan paket-paket dari satu node ke node lain dalam
jaringan. Masalah desain yang penting adalah bagaimana cara menentukan route pengiriman paket dari sumber ke tujuannya. d. Transport Layer berfungsi Menerima data dari session layer,
memecah data menjadi bagian-bagian yang lebih kecil bila perlu, meneruskan data ke network layer, dan menjamin bahwa semua potongan data tersebut bisa tiba di sisi lainnya dengan benar. e. Session Layer berfungsi untuk mengijinkan para pengguna untuk
menetapkan session dengan pengguna lainnya. Layer ini membuka, mengatur, dan menutup suatu session antara aplikasi-aplikasi.
f. Presentation Layer berfungsi untuk melakukan fungsi-dungsi tertentu yang diminta untuk menjamin penemuan sebuah penyelesaian umum bagi masalah tertentu. Selain memberikan sarana-sarana pelayanan untuk konversi, format dan enkripsi data. g. Application Layer berfungsi untuk memberikan sarana pelayanan langsung ke user, yang berupa aplikasi-aplikasi dan mengadakan komunikasi dari program ke program.
2.2.2Pengertian TCP/IP
TCP/IP adalah sekumpulan protocol yang terdapat di dalam jaringan komputer (network) yang digunakan untuk berkomunikasi atau bertukar data antar komputer. TCP/IP merupakan protokol standar pada jaringan internet yang menghubungkan banyak
komputer yang berbeda jenis mesin maupun sisten operasi agar dapat berinteraksi satu sama lain. (Syafrizal, 2005 : 96)
2.2.3Kelebihan Wireless
Terdapat beberapa keuntungan yang di dapat dari penggunaan WLAN, diantaranya : (Hantoro, 2009 : 5-7)
a. Mobilitas Tinggi
WLAN memungkinkan klien untuk mengakses informasi secara real-time dimanapun dalam jangkauan WLAN sehingga meningkatkan kualitas layanan dan produktifitas yang tidak mungkin dapat diberikan oleh jaringan LAN bisa. Pengguna dimanapun dia berada baik di area kantor bahkan di area publik (hotspot) akan selalu dapat tersambung ke internet. Dengan demikian akan mendukung komunikasi suara, data dan informasi yang lebih cepat guna.
b. Kemudahan dan Kecepatan Instalasi
Instalasi WLAN sangat mudah dan cepat tanpa harus menarik dan memasang kabel melalui dinding atau atap. Kabel digunakan hanya untuk menghubungkan AP ( Akses Point) ke jaringan (HUB/Switch/Router). Sedangkan koneksi dari station (komputer) pelanggan terhubung ke jaringan via radio (wirelessly). Lain halnya bila menggunakan wired LAN maka
tiap station (komputer) yang akan tersambung ke jaringan LAN diperlukan penarikan kabel satu per satu ke HUB/Switch.
c. Fleksibel
Teknologi WLAN memungkinkan untuk membangun jaringan pada area yang tidak mungkin atau sulit untuk dijangkau oleh kabel. Seperti di kota-kota besar, di tempat-tempat yang tidak tersedia infrastruktur kabel, WLAN dapat digunakan untuk menggantikan teknologi Leased-Line.
d. Menurunkan Biaya Kepemilikan
Biaya investasi awal untuk perangkat keras WLAN lebih mahal dari pada LAN konvesional, tapi biaya instalasi dan perawatan jaringan WLAN lebih murah, sehingga secara total dapat menurunkan besar biaya kepemilikan. Disamping itu sangat cocok untuk lingkungan dinamis di mana sering terjadi perpindahan, penambahan atau perubahan posisi kerja.
e. Scalable
WLAN dapat di gunakan dengan berbagai topologi jaringan sesuai dengan kebutuhan instalasi atau spesifikasi, mulai dari jaringan independent yang hanya terdiri dari beberapa klien saja, sampai jaringan infrastuktur yang terdiri dari ribuan klien
f. Produktifitas
Kapabilitas dalam hal komputasi merupakan syarat mutlak untuk suatu korporasi agar produktifitas karyawan dapat diandalkan. Dengan dukungan teknologi WLAN maka karyawan (workers) dapat selalu tersambung ke internet dalam keadaan mobile.
Teknologi jaringan wireless memungkinkan kita untuk mempertahankan keindahan dan kenyamanan ruangan tanpa harus terganggu banyaknya instalasi kabel jaringan, untuk membangun sebuah jaringan wireless access point sederhana maka dibutuhkan beberapa fitur utama diantaranya : (Ahmad Saefudin Surapermana, http://blog.sivitas.lipi.go.id)
a. Mendukung IEEE802.11g, IEEE802.11b, IEEE802.3, IEEE802.3u standards
b. Mengadopsi teknologi transmisi wireless LAN 2x to 3x extended Range dan 108M Super G .
c. Mendukung kecepatan transfer wireless LAN data 108/54/48/36/24/18/12/9/6Mbps or 11/5.5/3/2/1Mbps wireless LAN.
d. Menyediakan fasilitas sekuriti ekripsi WEPs 64/128/152-bit WEP
e. Menyediakan fasilitas keamanan WPA/WPA2 dan WPA-PSK/WPA2-PSK autotentikasi dan enkripsi TKIP/AES
f. Built-in DHCP server yang mendukung distribusi alamat IP dinamis.
g. Mendukung filtering alamat MAC.
h. Mendukung multi mode operasional wireless (Access Point, Client, Repeater, Point to Point, Point to Multi-point)
i. Mendukung TCP/IP, DHCP, SNMP j. Mendukung statistik trafik.
k. Mendukung upgrade firmware.
l. Mendukung Remote dan Web manajemen
2.2.4Standarisasi Wireless LAN
Wireless LAN mengirim menggunakan frekuensi radio, wireless LAN diatur oleh jenis hukum yang sama dan digunakan untuk mengatur hal-hal seperti AM/FM radio. Federal Communications Commission ( FCC) mengatur penggunaan alat dari wireless LAN. Dalam pemasaran wireless LAN sekarang, menerima beberapa standard operasional dan syarat dalam Amerika Serikat yang diciptakan dan dirawat oleh Institute of Electrical Electronic Engineers (IEEE). Beberapa Standar wireless LAN :
a. IEEE 802.11 : standar asli wireless LAN menetapkan tingkat perpindahan data yang paling lambat dalam teknologi transmisi light-based dan RF.
b. IEEE 802.11b : menggambarkan tentang beberapa transfer data yang lebih cepat dan lebih bersifat terbatas dalam lingkup teknologi transmisi.
c. IEEE 802.11a : gambaran tentang pengiriman data lebih cepat dibandingkan (tetapi kurang sesuai dengan) IEEE 802.11b, dan menggunakan 5 GHZ frekuensi band UNII
d. IEEE 802.11g : syarat yang paling terbaru berdasar pada 802.11 standard yang menguraikan transfer data sama dengan cepatnya seperti IEEE 802.11a, dan sesuai dengan 802.11b yang memungkinkan untuk lebih murah.
2.2.5KomponenWireless LAN
Dalam membentuk suatu jaringan WiFi, maka diperlukan beberapa perangkat agar komunikasi antara station dapat dilakukan. Secara umum komponen wireless LAN itu terdiri atas perangkat diantaranya : (Hantoro, 2009 : 19)
a. Accesss Point (AP)
Pada wireless LAN, device transceiver disebut sebagai Access Point, dan terhubung dengan jaringan (LAN) melalui kabel (bisaanya berupa UTP). Fungsi Access Point adalah mengirim dan menerima data, serta berfungsi sebagai buffer data antara Wireless LAN dengan wired LAN. Satu akses point dapat melayani sejumlah user (beberapa literature menyatakan bahwa
satu access point manksimal menangani 30 user). Karena dengan semakin banyaknya user terhubung ke AP maka kecepatan yang diperoleh tiap user juga akan semakin berkurang
Gambar 2.2 Access Point yang Terhubung ke Jaringan (Hantoro, 2009:19)
b. Extension Point
Untuk mengatasi berbagai masalah khusus dalam topologi jaringan desaigner dapat menambahkan extension point untuk menambah cakupan jaringan. Extension point hanya berfungsi layaknya repeater untuk client di tempat lebih jauh. Syarat AP yang digunakan sebagai extension point ini adalah terkait dengan channel frekuensi yang digunakan. Anatar AP induk (yang
terhubung langsung dengan LAN backbone) dan AP repeater -nya harus memiliki frekuensi yang sama.
Gambar 2.3 Penggunaan Extension Point (Hantoro, 2009:21)
c. Antena
Terdapat beberapa tipe antenna yang dapat mendukung dalam implementasi wireless LAN, ada yang tipenya omni, sectorized serta directional. Khusus antenna directional umumnya digunakan jika diinginkan jaringan antar-2 gedung yang bersebelahan ( konfigurasi point to point).
d. Wireless LAN Card
Wireless LAN Card dapat berupa PCMCIA, ISA Card. USB card atau Ethernet card dan sekarang banyak dijumpai sudah embedded di terminal (notebook maupun HP). Bisaanya PCMCIA digunakan untuk notebook sedangkan yang lain digunakan untuk computer desktop. Wireless LAN card ini
berfungsi sebagai interface antara sistem operasi jaringan client dengan format interface udara ke AP.
2.2.6Media Transmisi Wireless LAN
WLAN menggunakan standar protocol open system interconnection (OSI). OSI memiliki tujuh lapisan dimana lapisan pertama adalah lapisan fisik. Lapisan pertama ini mengatur segala hal yang berhubungan dengan media transmisi termasuk di dalamnya spesifikasi besarnya frekuensi, redaman, besarnya tegangan, daya interface, media penghubung antar-terminal dan lain-lain. Media transmisi data yang digunakan oleh WLAN adalah : (Hantoro, 2009 : 25)
a. Infra Red (IR)
Infrared banyak digunakan pada komunikasi jarak dekat, contohnya remote control untuk televisi. Gelombang IR mudah dibuat, harganya murah dan lebih bersifat directional. WLAN menggunakan IR sebagai media transmisi karena dapat menawarkan data rate tinggi ( 00-an Mbps), komsumsi dayanya kecil dan harganya murah
b. Radio Frekuensi (RF)
Radio frekuensi lebih popular untuk jarak jauh, bandwidth yang lebih tinggi, dan cakupan yang lebih luas. Sebagian besar WLAN
saat ini menggunakan pita frekuensi 2.4 Gigahertz (GHz). Jangkauannya jauh, dapat menembus tembok, mendukung teknik handoff, mobilitas yang tinggi dan meng-cover daerah yang berjarak jauh.
Tabel 2.1 Tabel Pita ISM (Hantoro, 2009:27) Frekuensi
Spesifikasi
915 MHz 2.4 GHz 5.8 GHz
Frekuensi 902-928 MHz 2400-2483.5 MHz 5725-5850MHz
Bandwidth 25 MHz 83.5 MHz 125 MHz
Jangkauan Transmisi Paling Jauh 5% < 915 MHz 205 < 915 MHz
Pemakaian Sangat Ramai Sepi Sangat Sepi
Delay Besar Sedang Kecil
Sumber Interferensi Banyak Sedang Sedikit
2.2.7Metode Akses Spread Spectrum Technology
Wireless LAN mentransfer data melalui udara dengan memancarkan gelombang elektromagnetik yang menggunakan teknologi Spread-Sprectrum Technology (SST). Teknologi ini terus mengubah-ubah secara kontinu cara pengiriman datanya baik itu mengubah frekuensi carrier-nya atau mengubah data pattern-nya. SST merupakan salah satu pengembangan dari teknologi Code Division Multiple Access (CDMA), Dengan urutan kode (code sequence) yang unik. Data ditransfer ke udara dan diterima oleh tujuan yang berhak dengan kode tersebut.
Channel
encoder Modulator Channel De-Modulator De-encoderChannel
Pseudonoise generator Pseudonoise generator Input Data Spreading Code Spreading Code Output Data
Gambar 2.4 Model Umum dari Spread Spectrum Technology (Hantoro, 2009:31) 2.2.8Prinsip Antenna RF (radio frekuensi)
Antenna RF adalah peralatan yang digunakan untuk menkonversikan sinyal frekuensi tinggi(RF) pada garis transmisi (kabel atau waveguide) ke gelombang siaran di udara. Medan elektrik dipancarkan dari antenna yang disebut beams atau lobes. Dibawah ini adalah 3 kategori umum dari antenna RF, yaitu : 1. Omni – directional
2. Semi – directional 3. Highly – directional
Tiap kategori mempunyai bermacam-macam tipe antenna, masing-masing mempunyai karakteristik RF yang berbeda dan penggunaan yang tepat. Ketika penambahan antenna meningkat, lingkup area menyempit sehingga antenna high-gain menawarkan lingkup area lebih luas daripada antenna low-gain pada level masukan (input) yang sama. Setelah mempelajari bagian ini, Anda akan mengerti antenna mana dan berapa jumlah yang terbaik sesuai kebutuhan anda dan kenapa (Sukaridhoto Sritrusta,2007: 79-86).
2.2.9Antenna Omni – directional (Dipole)
Antenna wireless Lan yang paling umum adalah antenna dipole. Sederhana dalam design, antenna dipole merupakan peralatan standar pada kebanyakan access point. Dipole adalah antenna omni-directional, karena ia memancarkan energinya secara bersamaan pada semua arah sekitar porosnya. Antenna directional memusatkan
energinya dalam bentuk kerucut, dikenal dengan “beam”. Dipole mempunyai element pemancaran hanya 1 inchi panjangnya yang
melakukan fungsi yang sama dengan antenna “rabbit ears” pada
seperangkat televise. Antenna dipole yang digunakan dengan wireless LAN lebih kecil karena 80 frekuensi wireless LAN dalam 2,4 GHz spectrum microwave sebagai ganti dari 100 Mhz spectrum TV. Bila frekuensinya meninggi, wavelength dan antennanya menjadi kecil.
Gambar 2.5 Energi Radiasi Dipole (Sukaridhoto Sritrusta,2007: 78).
Gambar 2.5 menunjukkan bahwa energi radiasi dipole di pusatkan pada daerah yang tampak seperti sebuah donat, dengan dipole secara vertical melalui “lubang” dari “donat”.
Sinyal dari antenna omni-directional memancar dalam 360 derajat horizontal beam. Bila antenna memancar pada semua arah secara bersamaan (membentuk sebuah bulatan), ini disebut radiator isotropic. Matahari adalah contoh yang bagus dari radiator isotropic. Kita tidak bisa membuat isotropic radiator, yang mana secara teori merujuk pada antenna, meski demikian, prakteknya antenna semua mempunyai beberapa tipe gain over dari isotropic radiator. Semakin tinggi nilai gain-nya (penambahan), semakin keras kita menekan donat menjadi datar hingga ia mulai kelihatan seperti pancake, yang pada kasus dengan antenna yang mempunyai nilai gain sangat
tinggi. Pancaran dipole secara bersamaan pada semua arah mengelilingi porosnya, tapi tidak memancar bersama dengan panjang kabelnya, layaknya pola donat. Perhatikan tampak samping dari pancaran dipole ketika ia memancarkan gelombang pada gambar 2.5. gambar ini juga mengilustrasikan bahwa antenna dipole membentuk pola pancaran bila dilihat dari atas disamping antenna vertical.
Gambar 2.6 Pola pancaran dari Antenna Vertikal (Sukaridhoto Sritrusta,2007: 79).
Bila antenna dipole ditempatkan di tengah-tengah satu lantai dari banyak bangunan, kebanyakan energinya akan di pancarkan terus pada lantai tersebut, dengan beberapa bagian penting kecil yang dikirim ke lantai atas dan bawah access point. Gambar 2.6 menunjukkan contoh dari beberapa tipe yang berbeda dari antenna
omni-directional. Gambar 2.6 menunjukkan contoh dua-dimensi dari tampak atas dan tampak samping antenna dipol
Gambar 2.7 Tipe dari Antenna Omni-Directional (Sukaridhoto Sritrusta,2007: 80).
Gambar 2.8 Lingkup Area Antenna Omni-Directional (Sukaridhoto Sritrusta,2007: 80).
Antenna high-gain omni-directional menawarkan jangkauan yang lebih horizontal, namun jangkauan yang vertical dikurangi, seperti tampak pada gambar 2.8. karakteristik ini bisa
menjadi pertimbangan penting ketika memasang antenna omni high-gain dalam ruangan pada langit-langit. Bila langit-langitnya terlalu tinggi, jangkauannya bisa tidak mencapai lantai, dimana user berada. Antenna omni-directional digunakan ketika melingkupi semua arah sekitar poros horizontal dari antenna dibutuhkan. Antenna omni-directional sangat efektif dimana jangkauan besar dibutuhkan disekitar titik pusat. Sebagai contohnya, menempatkan antenna omni-directional di tengan-tengah sebuah ruangan terbuka dan besar akan melengkapi lingkupan yang bagus. Antenna omni-directional umumnya digunakan untuk design point-to-multipoint dengan bentuk bintang (Lihat gambar 2.8). Penggunaan di luar ruangan, antenna omni-directional harus diletakkan di atas dari struktur (misalnya bangunan) pada pertengaha lingkup area. Contohnya, pada sebuah kampus, antenna bisa saja ditempatkan di pusat kampus untuk lingkup area yang terbesar. Ketika digunakan di dalam ruangan, antenna harus ditempatkan di tengah bangunan atau lingkup area yang diinginkan, dekat dengan langit-langit, untuk jangkauan yang optimum. Antenna omnidirectional memancarkan jangkauan area yang besar pada pola lingkaran dan
cocok untuk warehouse atau tradeshows dimana lingkupnya biasanya dari satu sudut bangunan ke sudut bangunan lain.
Gambar 2.9 Sambungan point-to-multipoint (Sukaridhoto Sritrusta,2007: 82).
2.2.10 Antenna semi-directional
Antenna semi-directional terdiri dari bermacam-macam bentuk dan jenis. Beberapa tipe antenna semi-directional yang sering digunakan bersama wireless LAN adalah antenna
Patch, Panel dan Yagi (dibaca “YAH-gee”). Semua antenna
tersebut umumnya berbentuk datar dan dirancang untuk dinding gunung. Tiap tipe mempunyai karekteristik jangkauan yang berbeda. Gambar 2.10 menunjukkan beberapa contoh dari antenna semi-directional.
Gambar 2.10 Contoh antenna semi-directional (Sukaridhoto Sritrusta,2007:83 ).
Antenna tersebut merubah energi dari pemancar lebih ke satu arah khusus daripada kearah yang sama., pola lingkaran yang umum dengan antenna omnidirectional. Antenna semi-directional sering memancarkan pada bentuk hemispherical atau pola lingkup silinder seperti bisa dilihat pada gambar 2.11.
Gambar 2.10 Jangkauan Antenna Semi-Directional “Directional Patch
Antena” (Sukaridhoto Sritrusta,2007: 84).
Gambar 2.11 Jangkauan Antenna Semi-Directional “Directional Yagi Antena” (Sukaridhoto Sritrusta,2007: 84).
Antenna semi-directional idealnya cocok untuk jembatan dengan jarak pendek atau rata-rata. Sebagai contoh, dua bangunan kantor yang bersebrangan jalan satu sama lain dan perlu membagi koneksi jaringan akan menjadi scenario yang bagus untuk mengimplementasikan antenna semi-directional. Pada ruang tertutup yang luas, bila pemancar harus diletakkan di sudut atau pada bagian belakang bangunan, koridor, atau ruangan besar, antenna semi-directional akan menjadi pilihan yang baik untuk menyediakan jangkauan yang tepat. Gambar 3.2 menggambarkan hubungan antara dua bangunan yang menggunakan antenna semi-directional.
Gambar 2.12 Hubungan Point-to-Point Menggunakan Antenna Semi-Directional ( Sukaridhoto Sritrusta,2007: 86 ).
Seringkali, sebelum penelitian di tempat tertutup, para insinyur akan secara terus-menerus berpikir pada bagaimana cara terbaik untuk meletakkan antenna omni-directional. Pada beberapa kasus,
antenna semi-directional menyediakan jangkauan yang amat sangat luas sehingga mereka bisa menyingkirkan kebutuhan pada multiple access point dalam bangunan. Sebagai contoh, pada gang yang panjang, beberapa access point dengan antenna omni-directional mungkin digunakan atau mungkin hanya satu atau dua accecc point dengan penempatan antenna semi-directional yang sepantasnya –
menghemat sejumlah uang
pelanggan secara signifikan. Pada beberapa kasus, antenna semi-directional mempunyai bagian belakang dan samping yang berbentuk bola yang, bila digunakan secara efektif, akan mengurangi kebutuhan akan penambahan access point lebih jauh. Secara spesifik, antenna Yagi sangat cocok untuk sinyal yang menjangkaun jalan kecil atau jalur di tempat duduk pada warehouse, palang jalan, toko retail atau fasilitas manufaktur.
2.2.11 Antenna highly-directional
Dari namanya sudah bisa ditebak, antenna highly-directiona memancarkan sinyal sinyal terbatas dari tipe antenna apapun dan mempunyai gain terbesar dari ketiga group antenna. Antenna highly-directional secara khusus berbentuk cekung, peralatan berbentuk piringan, seperti bisa dilihat pada gambar 2.13 dan 2.14 antenna ini cocok untuk jarak jauh, hubungan wireless poin-to-point. Beberapa model ditujukan pada parabolic dishes karena
mereka menyerupai piringan satelit kecil. Yang lainnya disebut antenna grid karena design mereka yang bolong untuk pengisian angin.
Gambar 2.13 Contoh Antenna Highly-Directional Berbentuk Parabola (Sukaridhoto Sritrusta,2007: 87).
Gambar 2.14 Contoh Antenna Highly-Directional Berbentuk Grid (Sukaridhoto Sritrusta,2007: 88).
Gambar 2.15 Pola Radiasi Antenna Highly-Directional (Sukaridhoto Sritrusta,2007: 89).
Antenna high-gain tidak mempunyai jangkauan area yang peralatan klien bisa digunakan. Antenna ini digunakan untuk hubungan komunikasi point-to-point dan bisa memancarkan pada jarak hingga 25mil (42km). Kemampuan antenna
highly-directional adalah bisa menghubungkan dua bangunana yang tepisah beberapa mil satu sama lain dan tidak punya hambatan jarak penglihatan diantara mereka. Ditambah pula, antenna ini bisa ditujukan secara langsung satu sama lain melalui
bangunan dengan tujuan untuk “meledak” melalui sebuah
hambatan. Susunan ini bisa digunakan dengan tujuan untuk mendapatkan sambungan jaringan ke tempat yang tdak bisa dilewati kabel dan dimana jaringan wireless normal tidak bisa bekerja.
Note : antenna higly-directional mempunyai beamwidth yang sangat terbatas dan harus ditujukan secara akurat satu sama lain. Prinsip antenna yang secara langsung berhubungan penggunaan
Wireless LAN. Tidak penting bagi Wairless LAN untuk secara detail untuk memahami desain antenna untuk mengadmintrasi network. Sepasang point utama yang penting untuk dimengerti untuk antenna adalah:
1. Antenna menkonversi energi listrik gelombang ke gelombang RF. Dalam kasus antenna pentramisi, atau gelombang RF ke energi elektik dalam kasus antenna penerima.
2. Dimensi fisik antenna seperti panjangnya berhubungan langsung dengan frekuensi dimana antennanya dapat menghambat gelombang atau menerima gelomang terhambat. Beberapa point penting dalam memahami pengadmintrasian werless LAN bebas lisensi adalah garis panjang, efek zona fresnel (baca : fra-nel) dan penapaian antenna, dalam melalui beamwidth terfokus. Point ini akan didiskusikan dalam bagian ini.
Dengan cahaya tampak, visual LOSD (yang lebih sederhana dikenal sebagai LOS) didefinisikan sebagai garis lurus dalam objek dalam pandangan (transmiter) kemata pengamat. LOS merupakan garis lurus karena gelombang cahaya bisa berubah-ubah karena refraksi, defraksi, dan refleksi dengan cara yang sama dengan RF refreksi. Gambar berikut mengilustrasikan LOS. RF bekerja mirip dengan cahaya tampak pada wireless LAN dengan satu pengecualian: RF LOS dapat juga dipengaruhi oleh pengeblokkan
zona Fresnel. Bayangkan jika anda melihat kearah sebuah pipa sepanjang dua kaki kemudian obstruksi mengeblok dalam pipa. Ilustrasi sederhana ini menunjukkan bagaimana RF bekerja ketika benda mengeblok zona Fresnel, kecuali bahwa dengan pipa itu anda dapat melihat ujung lainnya pada beberapa derajat. Dengan RF kemampuan yang sama terbatasnya untuk melihat translasi kekoneksi yang korup atau yang rusak, RF LOS penting karena RF tidak sama seperti cahaya tampak berkerja.
2.2.12 Daerah Fresnel (Fresnel Zone)
Sebuah keputusan ketika merencanakan atau memperbaiki RF LAN adalah zona Fresnel. Zona Fresnel menepati beberapa seri dari area berbentuk elips konsentrik disekitar jalan LOS seperti terlihat Gambar 2.10. Zona Fresnel penting dalam entergritas RF link karena dapat memperbaiki area disekeliling LOS yang dapat memngenali interferensi sinyal RF jika terblok. Objek dalam zona Fesnel seperti pohon, bukit, dan bangunan dapat menyebarkan atau dapat memantulakn sinyal utama keluar dari penerima, mengubah RF LOS. Objek-objek ini juga dapat menyerap atau menyebarkan sinyal RF utama menyebabkan degradasi atau kehilangan sinyal.
Gambar 2.16 Frensel Zone(Sukaridhoto Sritrusta,2007: 90 ). Radius fresnel zone dari titik terluarnya dapat dihitung dengan