• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknologi Perusahaan 110 Sumber Daya Manusia

Dalam dokumen ANNUAL REPORT SDRA (Halaman 67-72)

Laporan Tahunan 2012 | PT Bank Himpunan Saudara 1906, Tbk

Analisa dan Pembahasan Manajemen

Atas Kinerja Perusahaan

Indonesia

Perkembangan Ekonomi Makro 2012

E

konomi dan keuangan global masih terus melemah seiring masih berlarutnya krisis di Eropa. Hal ini berdampak pada menurunnya kinerja ekspor negara-negara berkembang. Sementara itu, pasar keuangan global masih bergejolak dengan berlarutnya penyelesaian krisis di Eropa sehingga likuiditas di pasar keuangan masih cenderung ketat dengan risiko yang meningkat. Di sisi harga, tekanan inlasi global cenderung menurun seiring dengan tren penurunan harga komoditas internasional.

Perekonomian Indonesia mengalami dampak krisis global. Pertumbuhan ekonomi turun dari 6.4% pada tahun 2011 menjadi 6.23% pada 2012. Perdagangan luar negeri mengalami kontraksi sebesar 2,01%. Namun demikian, konsumsi domestik dapat bertahan untuk tetap tumbuh di 5.28%, terutama karena masih terjaganya daya beli masyarakat akibat inlasi yang masih terkendali. Kinerja ini cukup bagus mengingat negara-negara lain umumnya mengalami kontraksi.

Daya tahan ekonomi Indonesia terhadap krisis cukup tinggi. Hal ini disebabkan relatif rendahnya keterkaitan dengan luar negeri. Sebagai suatu ukuran, rasio Ekspor Indonesia terhadap GDP tahun 2012 tidak lebih besar dari 25%. Fundamental ekonomi lainnya juga cukup solid, rasio utang luar negeri terhadap GDP tahun 2012 hanya sebesar 30% sedangkan rasio deisit iskal adalah konservatif disekitar 1,7%. Indikator ekonomi yang sangat baik ini memberikan keyakinan bagi para investor.

Penguatan Nilai Tukar Rupiah

S

epanjang tahun 2012 terdapat deisit pada neraca perdagangan yang menyebabkan tekanan pada nilai tukar. Rupiah sempat diperdagangkan pada kisaran Rp8.700/USD pada pertengahan tahun 2011, posisi terkuat dalam 7 tahun. Sejalan dengan belum pulihnya perekonomian global, sejak kuartal kedua tahun 2012 deisit neraca perdagangan terus membesar dan menyebabkan Rupiah terus melemah hingga di kisaran Rp9.700/USD pada akhir tahun 2012.

Menguatnya permintaan impor yang tidak diikuti oleh kinerja ekspor telah menyebabkan neraca perdagangan mengalami deisit. Pada tahun 2012, deisit neraca perdagangan tercatat sekitar sebesar USD 13 milyar. Namun demikian, aliran dana di portfollio efek justru mengalami peningkatan yang mengakibatkan surplus pada neraca modal sebesar USD15 Milyar dan meningkatkan cadangan devisa yang mencapai USD 112 Milyar di tahun 2012 dari USD 110 Milyar di tahun 2011. Surplus neraca pembayaran diperkirakan akan bertahan hingga tahun 2013, mengingat instrumen investasi Indonesia masih memiliki daya tarik.

Tekanan Inlasi Masih Terkendali

S

ejalan dengan melemahnya daya beli di pasar global akibat krisis, maka tekanan harga dari sisi barang impor juga menurun. Tingkat inlasi tahun 2012 mencapai 4.30% lebih tinggi dari

inlasi tahun 2011 yang mencapai 3,79%. Namun demikian, tingkat inlasi ini masih berada sesuai dengan kisaran ekspektasi dan target BI yakni 4,5% +/- 1%. Selain dampak resesi ekonomi dunia, masih terkendalinya tingkat inlasi di tahun 2012 juga bersumber dari (1) turunnya harga komoditas, (2) tidak berubahnya harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dan (3) harga pangan yang stabil.

Tingkat Bunga Acuan Berada Pada Level Yang Rendah

U

paya untuk menanggulangi dampak krisis juga dilakukan

melalui kebijakan moneter. Sejak November 2012, BI terus mempertahankan suku bunga acuan (BI rate) terendah hingga mencapai 5.75% sampai dengan saat ini. Bank Indonesia menempuh kebijakan longgar karena tingkat inlasi yang terkendali dan guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Disamping itu, sikap kebijakan moneter negara maju yang juga longgar turut memberikan ruang bagi BI untuk menahan suku bunga pada tingkat yang rendah. Kinerja Perbankan Indonesia

P

ada tahun 2011, kredit masih tumbuh sebesar 24.5% YoY sedangkan pada tahun 2012 hanya tumbuh sebesar 23.1%. Rendahnya pertumbuhan realisasi kredit ini disebabkan faktor permintaan. Sebagai respon krisis, dunia usaha memperlambat ekspansi usahanya sehingga kredit yang disalurkan perbankan juga melambat. Pada akhir tahun 2012, posisi kredit mencapai Rp2.707 Triliun dibanding Rp2.200 Triliun pada tahun 2011 dengan kredit modal kerja tumbuh 23,2%, kredit investasi dan kredit konsumsi tumbuh masing-masing sebesar 20% dan 27,4%.

Perlambatan pertumbuhan kredit belum berdampak pada indikator perbankan lainnya. Loan to Deposit Ratio (LDR) masih tercatat tinggi. Pada akhir tahun 2011, posisi LDR perbankan nasional berada pada 79% sedangkan di akhir tahun 2012 indikator ini naik ke 84%. Perbankan mulai terlihat mengurangi kencederungan pengurangan eksposure kredit valuta asing khususnya terlihat pada kategori bank swasta devisa nasional dan bank asing (foreign dan joint venture). Sepanjang tahun 2012, perbankan dapat mempertahankan kualitas kredit. Non Performing Loan (NPL) gross dapat dijaga pada kisaran 1,9%. Dengan tingkat kualitas kredit yang tinggi maka perbankan Indonesia dapat menjaga modalnya secara memadai. Capital Adequacy Ratio (CAR) perbankan nasional perDesember 2012 masih berada di 17.3% jauh diatas tingkat yang disyaratkan BI, yakni 8%. CAR yang tinggi memberikan kemampuan kepada bank untuk melakukan ekspansi kredit.

Perkiraan Kinerja Makro Ekonomi Indonesia di 2013

P

ertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi akan berlanjut di tahun 2013. Perekonomian diperkirakan mengalami ekspansi sebesar 6.5%-6.8% ditopang oleh kenaikan konsumsi dan investasi swasta. Tahun 2013, konsumsi diperkirakan tumbuh dikisaran 6% membaik dari 5.8% tahun 2012. Sedangkan investasi swasta (gross ixed capital formation) dapat tumbuh sebesar 12% meningkat dibandingkan angka tahun 2012 sebesar 9,8% sedangkan

69

Laporan Tahunan 2012 | PT Bank Himpunan Saudara 1906, Tbk

Analisa dan Pembahasan Manajemen

Atas Kinerja Perusahaan

belanja negara diprediksi meningkat pada level 4.0% (dari 1.25%). Tahun 2013, ekspor diperkirakan tumbuh sebesar 4.2% membaik dari kondisi kontraksi sebesar 2.01% tahun 2012. Naiknya ekspor disebabkan oleh mulai pulihnya perekonomian negara tujuan ekspor seperti Cina.

Tingkat inlasi di tahun 2013 diprediksi cukup terkendali pada kisaran 5%. Diperkirakan inlasi akan berada pada batas atas dari ekspektasi. Hal ini terjadi karena pemerintah tengah mengusulkan kenaikan tarif dasar listrik (TDL) dan upah minimum provinsi (UMP). Jika diterapkan maka akan meningkatkan tekanan terhadap tingkat harga. Disamping itu, nilai tukar yang diperkirakan masih akan mengalami tekanan akan juga menyumbang besaran inlasi, khususnya dari sisi supply. Dengan prospek tingkat inlasi yang lebih tinggi, maka Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan meningkatkan suku bunga acuan. Kedepan, dengan tingkat inlasi yang cenderung meningkat dan juga sejalan dengan siklus pemulihan global maka BI diperkirakan akan melakukan pengetatan moneter. Kenaikan BI rate diperkirakan terjadi pada akhir kuartal kedua hingga kuartal ketiga, serta berlangsung secara terukur hingga mencapai 6.25% diakhir tahun 2013. Nilai tukar juga diperkirakan masih mengalami perlemahan, supply USD akan relatif lebih sedikit dari pada demandnya seiring masih tingginya permintaan barang impor. Namun demikian, perlemahan nilai tukar yang lebih dalam lagi masih dapat terhindari dengan aliran modal masuk. Indonesia sebagai wilayah dengan prospek ekonomi positif diperkirakan akan banyak menarik dana-dana asing. Hal ini membantu posisi Rupiah sedikit lebih baik. Walaupun masih mengalami tekanan pada tahun 2013, rupiah diprediksi dapat mengalami apresiasi hingga Rp9.300/USD di akhir tahun.

Kondisi perbankan Indonesia saat ini berbeda dengan kebanyakan kondisi perbankan negara maju yang mengalami kenaikan NPL dan penurunan modal. Kondisi perbankan yang relatif kuat ini memberikan kemampuan untuk melakukan ekspansi di tahun 2013. Pertumbuhan kredit 2013 diperkirakan meningkat menjadi 24-28% terutama dipicu oleh pemulihan optimisme pelaku bisnis. Perbankan Indonesia mampu mengakomodasi pertumbuhan kredit ini karena rendahnya beban penghapusan kredit dan relatif tingginya permodalan.

Produk Pendanaan

P

ada tahun 2012 penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp6,23 triliun tumbuh sebesar 52,32% dibandingkan dengan tahun 2011 yang besarnya Rp4,09 triliun. Komposisi DPK Bank Saudara sampai dengan posisi 31 Desember 2012 masih didominasi oleh deposito sebesar Rp5,16 triliun atau 82,91% dari total DPK Rp6,23 triliun, disusul dengan giro sebesar Rp580,84 milyar (9,33%) dan tabungan sebesar Rp483,17 milyar (7,76%).

Tabel Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga 2011-2012

Des-12 Des-11 Growth (YoY)

Giro 580.84 306.04 89.79%

Tabungan 483.17 367.13 31.61%

Deposito 5,164.56 3,414.82 51.18%

Total DPK 6,228.57 4,087.99 52.32%

dalam milyar rupiah Graik Komposisi DPK 2012 Graik Komposisi DPK 2011 Graik Pertumbuhan DPK 2011-2012

Pembahasan Manajemen

dan Analisis

6.228.57 5.164.56 483.17 580.84 4.087.99 9.33% Giro 7.49% 7.76% Tabungan 8.98% 82.91% Deposito 83.53% 3.414.82 367.13 306.04 Des ‘12 Des ‘11

Giro Tabungan Deposito Total DPK

Giro

Tabungan

Deposito

(Dalam Milyar)

Laporan Tahunan 2012 | PT Bank Himpunan Saudara 1906, Tbk

Analisa dan Pembahasan Manajemen

Atas Kinerja Perusahaan

Giro

B

ank Saudara memiliki dua jenis produk Giro yang ditawarkan, yaitu Giro Rupiah dan Giro Valuta Asing (Valas). Giro mengalami pertumbuhan sebesar 89.79% menjadi Rp580,84 Milyar pada tahun 2012 dimana untuk pertumbuhan giro rupiah sebesar 17.40% dan pertumbuhan giro valas sebesar 322.35%.

Tabel Pertumbuhan Giro 2011-2012

Des-12 Des-11 Growth (YoY)

Rupiah 274,00 233,39 17.40%

Valas 306,84 72,65 322.35%

Total Giro 580,84 306,04 89.79%

dalam milyar rupiah Tahun 2012 Bank Saudara berhasil memperoleh 259 giran baru yang 230 diantaranya adalah giran perusahaan dan 29 sisanya adalah giran perorangan.

Tabel Perolehan Giran Baru 2012

Jumlah Giran Baru 259

Outstanding 25,70 milyar

Penambahan jumlah nasabah baru seiring dengan pencapaian target giro secara nominal yaitu mencapai 133.77%.

Tabungan

T

abungan masih merupakan salah satu sumber dana murah yang terus ditingkatkan komposisinya terhadap total DPK. Komposisi tabungan terhadap DPK menurun dari tahun 2011 sebesar 8,98% menjadi 7,76% pada tahun 2012, namun demikian terjadi peningkatan saldo tabungan yang cukup signiikan yaitu sebesar 31,61% dibandingkan dengan posisi tahun 2011 yang besarnya Rp367,13 milyar. Produk TabunganKu dan Tabungan Pensiunan Saudara (TAPENSA) masih memiliki kinerja yang sangat baik. Masing-masing tabungan tersebut mengalami pertumbuhan sebesar 84,41% dan 114,56%.

Total Produk Tabungan Bank Saudara sampai akhir Desember 2012 adalah Rp483,17 milyar. Pertumbuhan produk ini mencapai 31,61% dibandingkan posisi tahun 2011 sebesar Rp367,13 milyar, dengan kinerja mencapai 97,37% terhadap target 2012 sebesar Rp496,22 milyar.

Diantara enam jenis produk tabungan Bank Saudara, jenis Tabungan Harian menempati posisi saldo yang terbesar yaitu sebesar 41,42%, lalu diikuti oleh produk Tabungan Saudara sebesar 26,28% dan Tabungan Pensiunan Saudara sebesar 22,67%. Besarnya dominasi ketiga produk pada portofolio Tabungan Bank Saudara disebabkan oleh kemudahan persyaratan pembukaan rekening dan promosi yang dilakukan Bank Saudara melalui Program Kilau Bintang Bank Saudara yang berlangsung dari April 2012 sampai Desember 2012.

Kinerja Produk-Produk Tabungan

Tabungan Harian

D

ana masyarakat yang terkumpul melalui produk Tabungan Harian selama tahun 2012 sebesar Rp200,14 milyar. Jumlah tersebut meningkat 14,42% dibandingkan pencapaian tahun 2011, yang tercatat sebesar Rp174,92 milyar.

Peningkatan yang terjadi pada produk ini disebabkan oleh pengaruh pertumbuhan kredit konsumer

dan produk Tabungan Taska yang mengharuskan nasabah untuk memiliki rekening tabungan di Bank

Saudara. Salah satu keunggulan produk Tabungan Harian ini adalah biaya administrasi yang lebih rendah dibandingkan Tabungan Saudara.

Jumlah rekening Tabungan Harian pada 31 Desember 2012 adalah 111.850 rekening, menurun 316 (0,28%) rekening jika dibandingkan dengan posisi yang sama tahun 2011 sebesar 112.166 rekening.

Tabungan Saudara

T

abungan Saudara merupakan salah satu produk simpanan unggulan yang dimiliki oleh Bank Saudara, produk ini memiliki itur-itur suku bunga yang kompetitif. Pada tahun 2012 dengan saldo Rp126,98 milyar, produk tabungan ini meningkat sebesar 24,05% dibandingkan posisi yang sama tahun 2011 sebesar Rp102,36 milyar. meningkatnya saldo tabungan ini secara cukup signiikan sangat dipengaruhi oleh promosi yang gencar dilakukan khususnya dalam program Kilau Bintang Bank Saudara yang berlangsung sejak April 2012 sampai Desember 2012.

Jumlah rekening Tabungan Saudara pada 31 Desember 2012 adalah 19.202 rekening, meningkat 6.704 rekening (%) jika dibandingkan dengan posisi yang sama tahun 2011 sebesar 12.498 rekening.

Tabungan Pensiunan Saudara (TAPENSA)

T

abungan Pensiunan Saudara pada tahun 2012 tumbuh sebesar Rp58,47 milyar (114.56%) dari posisi tahun 2011 sebesar Rp51.04 Milyar menjadi Rp109.51 Milyar di tahun 2012. Angka pertumbuhan tersebut merupakan pertumbuhan paling besar dibandingkan dengan pertumbuhan produk tabungan lainnya. Peningkatan ini sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan Kredit Pensiunan, dimana untuk Kredit Pensiunan ada kewajiban untuk membuka Tabungan Pensiunan Saudara.

Jumlah rekening Tabungan Pensiunan Saudara mengalami peningkatan sebanyak 14,182 rekening atau naik sebesar 78.76% dari posisi tahun 2011 sebanyak 18,006 rekening menjadi 32,188 rekening pada tahun 2012.

Keberhasilan Tapensa untuk tumbuh besar sangat didukung pula oleh karakteristik produk yang unggul yaitu antara lain bebas biaya administrasi bulanan, tidak ada saldo minimum dan tingkat bunga yang kompetitif.

71

Laporan Tahunan 2012 | PT Bank Himpunan Saudara 1906, Tbk

Analisa dan Pembahasan Manajemen

Atas Kinerja Perusahaan

Tabungan Berjangka (TASKA)

B

ank Saudara merancang Tabungan Berjangka untuk membantu masyarakat dalam merencanakan keuangan mereka di masa depan. Tabungan ini memiliki skema yang mewajibkan nasabah melakukan setoran rutin selama jangka waktu penyimpanan yang telah sepakati. Jumlah setoran bulanan mulai dari Rp25.000 dan jangka waktu penyimpanan mulai dari 6 bulan. Dengan demikian, nasabah dapat bebas memilih target dana dengan jangka waktu penyimpanan, setoran minimum yang leksibel, serta persyaratan yang mudah. Selain itu, nasabah Tabungan Berjangka juga mendapat perlindungan asuransi dan suku bunga simpanan yang kompetitif.

Pada tahun 2012, Tabungan Berjangka tumbuh sebesar Rp6,09 milyar (16,91%) dari tahun 2011 yang tercatat sebesar Rp36,07 milyar menjadi Rp42,16 milyar pada tahun 2012. Berdasarkan jumlah rekening, Tabungan Berjangka mengalami pertambahan rekening sebanyak 1.100 rekening atau meningkat 6,38% dari 17.241 rekening pada tahun 2011 menjadi 18.341 rekening pada tahun 2012. Pertumbuhan Tabungan Berjangka tahun 2012 mengalami peningkatan - dari segi nominal maupun jumlah rekening – dibandingkan dengan tahun 2011, dimana saldo hanya tumbuh Rp1,51 milyar (4,35%) sedangkan jumlah rekening tumbuh 709 rekening (4,29%). Peningkatan pertumbuhan ini tidak terlepas dari keberhasilan program Kilau Bintang Bank Saudara yang dipromosikan sepanjang tahun 2012 baik melalui media above the line maupun below the line.

Deposito

P

roduk Deposito Bank Saudara merupakan simpanan berjangka yang dirancang dengan berbagai keistimewaan dibandingkan dengan produk simpanan lain. Keistimewaan tersebut antara lain suku bunga yang kompetitif, penjaminan maksimum, layanan penjemputan uang tunai yang akan disetor untuk nasabah dengan nominal tertentu, dan jangka waktu simpanan yang bervariasi, yaitu 3, 6, 12, dan 24 bulan.

Untuk melayani kebutuhan investasi nasabah, Bank Saudara menawarkan dua jenis deposito, yaitu Deposito Rupiah dan Deposito Valas. Kedua jenis deposito itu memiliki kategori jangka waktu penyimpanan yang sama dengan suku bunga yang kompetitif. Pada tahun 2012, Produk Deposito Bank Saudara mengalami pertumbuhan yang cukup signiikan yaitu 51,18% (Rp1,75 triliun) dibandingkan periode yang sama tahun 2011 sebesar Rp3,41 triliun. Bila dirinci lebih lanjut, Deposito Rupiah berjumlah Rp4,89 triliun atau mengalami pertumbuhan sebesar 48,83% dari tahun 2011 sebesar Rp3,28 triliun. Sedangkan Deposito Valas tercatat sebesar Rp278,45 milyar atau tumbuh 111,42% dari tahun 2011 sebesar Rp131,71 milyar.

Pada tahun 2012 terjadi penurunan persentase Deposito Corporate dari 52,26% di tahun 2011 menjadi 50.89% di tahun 2012, dengan sebelumnya 47,74% menjadi 49,11%.

Tabel Prosentase Komposisi Deposito 2011-2012 Berdasarkan Jenis Nasabah

% Komposisi Des-12 Des-11

Corporate 50.89% 52.26%

Perorangan 49.11% 47.74%

Graik Komposisi Deposito 2012

Graik Komposisi DPK 2011 Perorangan 49.11% Perorangan 47.74% Corporate 50.89% Corporate 52.26% Desember 2012 Desember 2011

Laporan Tahunan 2012 | PT Bank Himpunan Saudara 1906, Tbk

Analisa dan Pembahasan Manajemen

Atas Kinerja Perusahaan

Meskipun secara persentase peningkatan deposito perorangan relatif kecil, namun secara nominal outstanding perubahan tersebut sangat signiikan, ini terlihat dari tabel perkembangan deposito corporate dan perorangan berikut dibawah:

Tabel Komposisi Deposito 2011-2012 Berdasarkan Jenis Nasabah

Nominal Des-12 Des-11 Growth

Corporate 2,628.08 1,784.53 47.27%

Perorangan 2,536.48 1,630.29 55.58%

Total 5,162.7 3,414.82 51.24%

dalam milyar rupiah

Pada tahun 2012 Bank Saudara berhasil menurunkan persentase deposan inti terhadap dana pihak ketiga, dimana pada tahun 2011 persentase deposan inti terhadap DPK sebesar 42,00% sedangkan tahun 2012 angka ini berhasil turun menjadi 41,03%.

Tabel Prosentase 25 Deposan Inti 2011-2012

Des-12 Des-11

25 Deposan inti 2,555.30 1,716.94

Total DPK 6,226.71 4,087.99

Prosentase 41.03% 42.00%

dalam milyar rupiah Pada tahun 2012 jumlah deposan baru Bank Saudara bertambah sebanyak 1.436 orang dengan outstanding per Desember 2012 sebesar Rp1.3 Trilyun (± 25% dari total outstanding deposito). Tabel Perolehan Deposan Baru 2012

Jumlah Deposan Baru 1,436

Outstanding 1,308.82 Milyar

Tabel Pertumbuhan Kredit 2011 - 2012

Berdasarkan Struktur Kredit

Struktur PYD Realisasi

Des’12 Realisasi Des’11 (%) Growth KUPEG 1,470 1,045 40.68% KUPEN 2,146 1,528 40.50% UMKM KOMERSIL 843 556 51.61% WHOLESALE 629 66 855.29% Kredit Lainnya 75 67 10.37% TOTAL NASIONAL 5,261 3,342 57.42%

Dalam Milyar Rupiah

Dalam dokumen ANNUAL REPORT SDRA (Halaman 67-72)