BAB III PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS TEKS BERITA
B. ANALISIS TEKS BERITA
7. Teks Berita “Nazaruddin Coba Suap Polisi”
”Nazaruddin Coba Suap Polisi”
“Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin sempat berniat menyogok polisi khusus yang menangkapnya di Cartagena, Kolombia. Niat itu dia katakan kepada Duta Besar Republik Indonesia di Kolombia Michael Menufandu yang kemudian menasihati untuk tidak mewujudkan niat tersebut.”(lead)
Berita “Nazaruddin Coba Suap Polisi” tampil di headline Kompas pada tanggal 10 Agustus 2011. Teks ini secara umum menguraikan tentang upaya penangkapan dan penyelidikan identitas seorang pria yang diduga adalah Nazaruddin.
a. Tematik
Tema utama yang dikembangkan melalui teks ini adalah upaya pemerintah dalam penangkapan dan penyelidikan identitas seseorang yang diduga adalah Nazaruddin. Kemudian penyelidikan identitas lelaki tersebut terus berlangsung karena ia mengaku dirinya bernama Syarifuddin dengan memperlihatkan paspornya yang beratasnama Syarifuddin.
b. Skematik
Wacana dalam satu teks umumnya didukung dengan penceritaan (skematik) tertentu, yakni bagaimana satu fakta maupun opini dirangkai dengan fakta/opini lain dalam suatu teks. Dalam konteks penyajian berita, secara hipotetik memiliki dua kategori skema besar. Pertama, summary yang
commit to user
ditandai dengan dua elemen yaitu judul dan lead. Kedua, story yaitu isi berita secara keseluruhan.
Judul yang digunakan adalah ”Nazaruddin Coba Suap Polisi” mengantarkan pembaca untuk mulai memahami apa yang ada pada isi keseluruhan. Hal tersebut dikuatkan oleh kalimat pada lead sebagai bagian pengantar yang menujukkan tema utama dan wacana utama yang ingin disampaikan penulis.
Pada bagian isi teks,secara berurutan dibahas mengenai penangkapan sosok lelaki yang berhasil diringkus di Cartagena yang diyakini adalah benar Nazaruddin. Seperti dijelaskan pada paragraf-paragraf berikut:
“Michael juga menegaskan, Nazaruddin, yang memakai paspor atas nama M Syarifuddin, tidak ditangkap polisi khusus Kolombia bersama dengan istrinya, Neneng Sriwahyuni. Ia diamankan sendiri. ”Saya menasihati, polisi di sini profesional dan menghargai profesinya. Mereka tidak akan mau disogok,” ungkapnya.” (par. 2)
“Michael menambahkan, sepulang dari Cartagena, ia menjenguk Syarifuddin yang diduga Nazaruddin itu. Polisi Kolombia juga meyakini, Syarifuddin adalah Nazaruddin. Orang yang diduga Nazaruddin itu juga sudah diserahkan oleh polisi setempat kepada Kejaksaan Agung.” (par. 3)
Isi teks selanjutnya membahas tentang pemeriksaan Syarifuddin dan paspor atas nama yang dibawa pria yang diduga Nazaruddin . Kompas menunjukkan bahwa paspor palsu yang digunakan Naaruddin itu harus mendapat penjelasan lebih, seakan ingin mengatakan bahwa pihak lain juga ikut bertanggung jawab sampai bisa terjadi penggunaan paspor palsu ini. (lihat paragfra 5, 7, 11, dan 14)
commit to user
c. Semantik
Semantik dalam skema van Dijk dikategorikan sebagai makna lokal, yaitu makna yang muncul dari hubungan antar kalimat, hubungan antar proposisi yang membangun makna tertentu dalam suatu bangunan teks. Makna yang ingin ditekankan dalam sebuah teks dapat dilihat dari elemen latar, detail, maksud, pengandaian, dan nominalisasi.
Latar merupakan bagian yang dapat mempengaruhi semantik (arti) yang ingin ditampilkan. Latar umumnya ditampilkan di awal, sebelum pendapat penulis muncul. Latar yang dipilih dapat menjadi alasan pembenar gagasan yang diajukan dalam suatu teks. Pada teks ini, latar yang digunakan adalah tentang penangkapan Nazaruddin yang sudah dipastikan oleh pihak kepolisian Kolumbia dan juga Duta Besar Indonesia di Kolumbia. Seperti dalam kalimat berikut: ” Polisi Kolombia juga meyakini, Syarifuddin adalah Nazaruddin. Orang yang diduga Nazaruddin itu juga sudah diserahkan oleh polisi setempat kepada Kejaksaan Agung.” (par. 3)
Elemen detail berhubungan dengan kontrol informasi oleh seorang komunikator. Detail umumnya dimaksudkan sebagai strategi bagaimana wartawan mengekspresikan sikapnya dengan cara yang implisit terhadap keseluruhan dimensi peristiwa. Detail tulisan banyak menyampaikan tentang langkah pemerintah untuk memastikan identitas Nazaruddin terkait pemalsuan paspor atas nama Syarifuddin. Seperti pada paragraf 15 dan 16.
commit to user
Elemen maksud dalam analisis wacana memiliki tujuan akhir untuk menyajikan informasi secara eksplisit, serta menyembunyikan informasi atau fakta secara implisit. Maksud yang dapat ditangkap dari teks ini adalah mengenai tujuan melakukan serangkaian penyelidikan tersebut yaitu untuk memastikan keselamatan Nazaruddin terjaga. Seperti terdapat pada kalimat berikut: “Mantan Ketua DPR Akbar Tandjung juga meminta agar Nazaruddin mendapatkan perlindungan hukum.” (par. 22)
d. Sintaksis
Sintaksis merupakan elemen analisis yang umumnya digunakan untuk menampilkan diri secara positif dengan menggunakan kalimat. Terdapat tiga strategi pada level sintaksis, yaitu dengan koherensi, bentuk kalimat dan kata ganti. Strategi ini dapat dilihat dari penggunaan kata hubung (konjungsi) yang dipakai untuk menghubungkan fakta/proposisi.
Koherensi Kondisianal diantaranya ditandai dengan pemakian anak kalimat sebagai penjelas. Di sini ada dua kalimat,di mana kalimat kedua adalah penjelas atau keterangan dari proposisi pertama. Kalimat kedua fungsinya hanya sebagai penjelas (anak kalimat), sehingga ada atau tidak anak kalimat itu,tidak akan mengurangi arti kalimat. Koherensi kondisional dapat dilihat dari kalimat –kalimat dalam paragraf 2, 3, 5, dan 21.
Dalam koherensi kondisional anak kalimat itu menjadi cermin kepentingam komunikator karena ia dapat memberi keterangan yang
commit to user
baik/buruk terhadap suatu pertanyaan. Keempat kalimat itu menggunakan kata penghubung konjungsi ”yang” dengan fungsi yang sama. Pada paragraf ke 2 misalnya, penggunaan kata ”yang” dalam anak kalimat penjelas ”yang memakai paspor atas nama M Syarifuddin” berfungsi sebagai penjelas atau penambah informasi saja tanpa memperburuk atau memberi kesan baik. Kompas bersikap netral pada keempat kalimat di atas.
Elemen wacana pengingkaran adalah bentuk praktik wacana yang menggambarkan bagai mana wartawan menyembunyikan apa yang anggin diekpresikan secara implisit. Seperti pada kalimat di bawah:
” Syarifuddin adalah dosen di sebuah perguruan tinggi swasta di Medan. Kanwil Hukum dan HAM Sumut telah memanggil Syarifuddin untuk dimintai keterangan. Namun, Polda Sumut bergerak lebih cepat. Hingga Selasa sekitar pukul 22.00, mereka masih memeriksa Syarifuddin. Syarifuddin adalah saudara sepupu Nazaruddin.” (par. 12) Pengingkaran ini menunjukkan seolah wartawan menyetujuin sesuatu, pahal ia tidak setuju dengan memberikan argumentasia atau fakta yang menyangkal persetujuannya tersebut. Dengan konjungsi ”namun” pada kalimat tersebut menjelaskan Polda Sumut telah bertindak lebih cepat menindak Syarifuddin walaupun Kanwil Hukum dan HAM Sumut sudah memanggilnya terlebih dulu.
Elemen sintaksis lain yang terdapat pada teks berita ini adalah koherensi sebab-akibat yang terdapat pada paragraf:
commit to user
” Ia menerangkan, 12 titik sidik jari yang dicocokkan dengan Nazaruddin sudah akurat sehingga bisa dipastikan orang yang menggunakan paspor Syarifuddin adalah Nazaruddin.” (par. 16)
Koherensi sebab-akibat adalah pertalian atau jalinan antarakata, atau kalimat dalam teks, Dua buah kalimat yang menggambarkan fakta yang berbeda dapat dihubungkan sehingga tampak koheren yaitu bahwa pangguna paspor atas nama syarifuddin diyakini adalah Nazaruddin dengan alasan kecocokan 12 sidik jari yang akurat.
e. Stilistik
Elemen stilistik berkaitan dengan cara untuk menyatakan maksud, menggunakan leksikon atau pemilihan kata maupun frase. Pilihan kata yang dipakai tidak semata hanya karena kebetulan, tetapi juga secara ideologis menunjukan bagaiaman pemaknaan seseorang terhadap fakta/realitas.
Leksikon menandakan bagaimana seseorang melakukan pemilihan kata dari berbagai kemungkinan kata yang tersedia. Leksikon dalam teks ini antara lain dapat dilihat dari pemilihan kata ”menyogok” yang terdapat pada kalimat berikut: “Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin sempat berniat menyogok polisi khusus yang menangkapnya di Cartagena, Kolombia.”(lead.) Kata ”menyogok” memiliki arti yang sama dengan menyuap. Hanya saja pemakaian kata menyogok terkesan lebih sarkas.
commit to user
Elemen retoris terkait fungsi persuasif dengan menggunakan gaya bahasa, interaksi, ekspresi, metafora, dan grafis. Penggunaan retoris dapat diamati dari judul hingga isi dalam teks.
Penggunaan gaya bahasa personifikasi pada teks ini seperti terlihat pada kalimat berikut: ” Pencabutan paspor yang dikeluarkan Kantor Imigrasi Polonia, Medan, juga sudah diinformasikan ke Pemerintah Kolombia.” (par. 5). Ungkapan “pencabutan paspor” biasanya digunakan untuk tanaman dan kali ini digunakan untuk melakukan tindakan pennon-aktifan terdadap paspor illegal.
Gaya bahasa lain juga terdapat pada kalimat “Paspor hijau itu dibuat di Kantor Imigrasi Polonia, 15 Juli 2008.” (par. 11) Majas yang terbentuk adalah majas metafora, yang berarti membentuk istilah baru. Paspor memang berwarna hijau, jadi pemberian keterangan hijau untuk penggunaan kata paspor hanya berupa penjelas saja.
Penggunaan elemen grafis dalam berita ini berupa dua rangkuman. Rangkuman yang pertama berisi proses pengambilan keputusan pemerintah untuk menangkap Nazaruddin di Cartagena, Kolumbia, pada tanggal 7 dan 8 Agustus 2011 yang berjudul “Seputar penangkapan Nazaruddin”. Dan rangkuman kedua berjudul “Celah Memulangkan Nazaruddin” yang berisi cara yang dapat ditempuh pemerintah untuk memulangkan Nazaruddin yaitu dengan ekstradisi terselubung atau deportasi.
commit to user