• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teks Osong-osong Anak Boru diterima Suhut

4.3 Uraian Teks Tradisi Marosong-osong Adat Angkola

4.3.2 Teks Osong-osong Anak Boru diterima Suhut

Kata ois, oisleh, tutu, on nai, tai, dabo, da merupakan kata penanda yang menjadi ciri khas dalam bahasa Angkola. di sini jelas terlihat bahwa yang menciptakan syair ini adalah etnik Angkola. Kata-kata yang digunakan dalam syair ini, pada umumnya sama dengan kata-kata yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun demikian, penciptanya sadar bahwa penggunaan dan penempatan kata-kata dalam tersebut dilakukan secara hati-hati dan teliti. Kata yang dipiiih mampu

mengemban fungsi yang dilharapkan oeh pendengar. Penggunaan kata-kata seperti: oih..oih, oih..oih tarboti mada // si boru ni tulang pala iboto ni tunggane, Oih.. anak ni parkouman, nangge cocok, uma, tutu mada on anak boru nai, tai on dabo, Takkas dison ro anak boru nai, molo hai amang hurang takkas dope hai rasa, tai boti mada, alla le, ois da, akke, dehe, alla le, ois ama baya da, tung, dan bettak. Setiap kata pada bahasa daerah mempunyai hubungan dengan sifat dan ciri-ciri daerah Angkola (Mandailing) yang erat kaitannya dengan masyarakat Angkola.

Gambar 9. Si dara doli memberikan sirih (burangir) kepada si dara bujing pada tradisi marosong-osong adat Angkola

Formula pada teks pantun dan syair yang dianalisis yang meliputi tiga puluh lima buah teks pantun, dan sepuluh buah syair, menunjukkan dalam pantun yang ada kesemuanya terdiri dari formula empat larik, dua klausa, dan dua frasa. Sedangakan analisis formula pada bentuk larik pantun menunjukkan adanya repetisi bunyi sampiran pada bait pertama dan terakhir. Hal ini juga menunjukkan terjadinya variasi dalam pantun.

Data tradisi marosong-osong yang telah dipaparkan di atas memiliki isi dan makna yang disampaikan oleh tokoh adat , begitu pula bahan-bahan yang akan dijadikan osong-osong. Osong-osong yang diangkat dan dibawa anak boru yang kemudian diletakkan di depan gelanggang. Apa makna yang terkandung pada bahan osong-osong, makna apa yang dilambangkan dari bahan osong-osong.

Berdasarkan paparan data marosong-osong, data kedua, anak boru diterima di rumah suhut setelah suhut mengenal keluarga anak boru serta silsilah keluarga. Pada saat ini anak boru menyampaikan maksud dan tujuannya berkunjung ke rumah mora. Sehingga, mora menerima seluruh bantuan yang diberikan anak boru beserta rombongannya, lihat teks berikut:

Tabel 5

Deskripsi Teks Marosong-osong

Ompung: oloda.... anggo songoni ibana mada on, tai nangge uboto bage na anak nise on, tai jelas ma on sora ni anak boru do hubege on parmarga siregar, manyato ma i.

Iyalah..ini sudah benar, tapi aku tak tahu anak siapa ini, Cuma jelas sudah kalau ini adalah suaranya anak menantu bermarga siregar, ini sudah jelas...

Makna kakek membenarkan rombongan adalah anak boru

Pada teks marosong-osong di atas bahwa rombongan itu merupakan menantu mereka yang bermarga siregar hal itu sebutkan dengan kalimat osong-osong: “Jelas ma

on sora ni anak boru do hubege on parmarga siregar, manyato ma i.” yang artinya:

“Cuma jelas sudah kalau ini adalah suaranya anak menantu bermarga siregar, ini sudah jelas…” penjelasan mora yang menyatakan bahwa menantu mereka yang bermarga siregar tetapi tidak tahu persisnya anak siapa. Hal itu menunjukan mereka sudah diterima di rumah mora. Anak menantu ayah ini sudah jelas, ku siapkan sirih dan soda

sekaligus bertegur sapa sudah boleh, kalian yang datang dari rumah orang kaya (menantu yang tinggal di kampung itu, anak menantu di rumah ini, sipenghalang agar tak jatuh penopang agar tak merunduk, karena kalianlah yang tahu apa yang kurang dan apa yang lebih, masih adakah yang mau kalian sampaikan duhai anak namboru, anak menantunya ayah.

Gambar 10. Barisan mora (si dara bujing) sedang duduk pada tradisi marosong-osong. Selanjutnya setelah mereka diterima di rumah mora (suhut sihabolonan) maka adat di luhak Angkola setiap adat selalu mmemberikan sirih sebagai penghormatan adat disebut dengan kalimat marosong-osong berikut: Mora: “anak ni namboru anak babere ni damang madung takkas hu tiktik jo burangir dongan ni soda parkapuron sareto disukkun disapai madung denggan dipartuturon,” Yang artinya: Anaknya namboru, anak menantunya ayah ini sudah jelas, ku siapkan sirih dan soda sekaligus bertegur sapa sudah boleh, kalian yang datang dari rumah orang kaya (menantu yang

tinggal di kampung itu. Penghormatan adat Angkola dengan memberikan sirih (burangir) karena tatakrama adat yang sudah baik sehingga kehadirannya cukup terhormat agar tidak malu menatap para tamu dan undangan yang hadir.

Tetapi sebaliknya pihak mora telah mengetahui kehadiran anak boru di rumah mora sesuai dengan filosofis adat dalihan natolu yaitu anak boru sebagai penambah na urang (menambahi yang kurang) maka tanpa sungkan mora menyampaikan dengan kalimat marosong-osong seperti: , hamu naro sian bagas ni orang kaya, anak boru ni bagas godang sipakkalang ulang ma gulang, situkkol ulang marebe, baen hamuma pangalapan ni na hurang panaruan ni na lobi, adong dope nguas dohot male munu di hai anak ni namboru anak babere ni damang? Yang bermakna: anak menantu di rumah ini, sipenghalang agar tak jatuh penopang agar tak merunduk, karena kalianlah yang tahu apa yang kurang dan apa yang lebih, masih adakah yang mau kalian sampaikan duhai anak namboru, anak menantunya ayah? Jadi, pemahaman adat yang diletakkan sesuai dengan filosofis dalihan natolu menggambarkan begitu santunnya penggunaan bahasa adat, sehingga tatanan adat berjalan dengan harmonis, lihat kalimat marosong-osong di bawah ini.

Mora: anak ni namboru anak babere ni damang madung takkas hu tiktik

jo burangir dongan ni soda parkapuron sareto disukkun disapai madung denggan dipartuturon, hamu naro sian bagas ni orang kaya, anak boru ni bagas godang sipakkalang ulang ma gulang, situkkol ulang marebe, baen hamuma pangalapan ni na hurang panaruan ni na lobi, adong dope nguas dohot male munu di hai anak ni namboru anak babere ni damang?

Anaknya namboru, anak menantunya ayah ini sudah jelas, ku siapkan sirih dan soda sekaligus bertegur sapa sudah boleh, kalian yang datang dari rumah orang kaya (menantu yang tinggal di kampung itu, anak menantu di rumah ini, sipenghalang agar tak jatuh penopang agar tak merunduk, karena kalianlah yang tahu apa yang kurang dan apa yang lebih, masih adakah yang

mau kalian sampaikan duhai anak namboru anak menantunya ayah?

Makna Menerima kedatangan anak boru dan sudah boleh bertegur sapa

Begitu pula rombongan anak boru yang telah mempersiapkan sirih sebagai pertanda adat, untuk diserahkan kepada pihak mora, hal itu disampaikan pada kalimat osong-osong: “…bettak saida di kobulkon tuhan ben na adong indon burangir, ima burangir na opat ganjil lima gonop bia he so lek dapot artina disurduhon ima burangir nami, burangir ni anak boru on tarboti ma da siboru ni tulang iboto ni tunggane. Yang bermakna: “…kalaulah boleh dan dikabulkan Tuhan, karena kami membawa sirih, sirih yang kalau empat ganjil, lima genap bagaimana caranya agar sirih ini dapat kami serahkan duhai anak gadisnya tulang.” Hal dengan disebutkan sebagai penghormatan anak boru kepada mora dengan memberikan sirihnya anak boru. Lihat teks marosong-osong berikut.

Anak Boru: Siboru ni tulang pala iboto ni tunggane, attong anggo bolas pangidoan, bettak saida di kobulkon tuhan ben na adong indon burangir, ima burangir na opat ganjil lima gonop bia he so lek dapot artina disurduhon ima burangir nami, burangir ni anak boru on tarboti ma da siboru ni tulang iboto ni tunggane anak gadisnya tulang dan saudara perempuannya ipar kalaulah boleh dan dikabulkan Tuhan,kebetulan kami membawa sirih, sirih yang kalau empat ganjil, lima genap bagaimana caranya agar sirih ini dapat kami serahkan duhai anak gadisnya tulang, saudara perempuannya ipar?

Makna Menyerahkan sirih tanda perkenalan

Akhir dari kalimat osong-osong adalah dengan adanya kesepakatan antara pihak anak boru (si dara doli) dengan pihak mora (sidara bujing), bentuk berbalas pantun adat Angkola, yaitu si dara doli yang mencoba merayu dengan memberikan sirih anak boru dan sidara bujing mencoba mengulurnya dengan meminta kepada si dara doli agar

menyertakan uang pada sebagai beserta sirih, tetapi karena hal itu bahagian dari adat pihak si dara doli sudah mempersiapkan uang dengan anplopnya, disebut pada kalimat osong-osong: mora: ..muda kehe tu sigalangan dalan-dalan tu si Hepeng muda giot baen on marsijalangan tahan ma lakna on marlapik hepeng. Yang bermakna: ..Kalau kita pergi ke Sigalangan Jalan menuju ke Sihepeng Kalau mau bersalaman sanggupkah kalian berlapis duit. Kemudian dipertegas dengan kalimat berbalas pantun osong-osong: Anak Boru: Muda ke hita tu Sigalangan, bope ta palalu tu Sihepeng Asal lalu marsijalangan, bope na marlapik hepeng dung siap do I tarsongoni mada siboru ni tulang iboto ni tunggane. Yang bermakna: Kalau kita pergi ke daerah Sigalangan, dan kita lanjutkan ke daerah Sihepeng Asalkanlah jadi bersalaman, kalaupun berlapis duit kami sudah siap begitulah harapan kami duhai anak gadisnya tulang saudara perempuan ipar (penyerahan duit dari anak namboru, satu amplop untuk satu orang). Lihat teks tradisi osong-osong berikut.

Mora: kolip ni situmudu maronding-onding di situalang, mangida

parlamot-lamot munu on do da dungke tahan do halai on dak-danak on attong muda kehe tu sigalangan dalan-dalan tu si Hepeng muda giot baen on marsijalangan tahan ma lakna on marlapik hepeng

Berlindung di balik jari telunjuk dan jari tengah mengingat kecil-kecilnya kalian atau sudah sanggupkah anak-anak iniKalau kita pergi ke Sigalangan Jalan menuju ke Sihepeng Kalau mau bersalaman sanggupkah kalian berlapis duit Makna Menerima asalkan salamnya berlapis duit

Anak Boru:

Muda ke hita tu Sigalangan, ta palalu tu Sihepeng

Asal lalu marsijalangan, bope na marlapik hepeng dung siap do I tarsongoni mada siboru ni tulang iboto ni tunggane Kalau kita pergi ke Sigalangan, kita lanjutkan ke Sihepeng Asalkanlah jadi bersalaman, kalaupun berlapis duit kami sudah siap begitulah harapan kami duhai anak gadisnya tulang saudara perempuan ipar (penyerahan duit dari anak namboru, kemudian dilanjutkan dengan manortor)

Makna Anak boru menerima tantangan boru tulangnya

Setelah pihak anak boru diterima kehadirannya di rumah mora performansi selanjutnya adalah dengan melakukan tradisi manortor muda-mudi. Setelah terjadi kesepakatan antara rombongan anak boru dengan mora dengan manortor, hal itu sebagai pertanda kehadiran anak boru telah diterima di rumah mora. Selanjutnya pihak anak boru menyerahkan bantuannya kepada pihak mora dengan segala jenis bantuan yang telah dipersiapkan.

Anak Boru:

Situmbur ni dulang parurat ni barebe, Siboru ni tulang pala iboto ni tunggane anggo taringot do artina di tor-tor na

mangaligi oppak tangan si amun songoni dohot oppak tangan si ambirang madung sonang da di ate-ate siboru ni tulang

pala iboto ni tunggane, tai molo hai da attong barisan anak ni namboru munu na dor do da attong adong nguas nai, bia ta palalu na manyoda ninna mada di bagasan roha, tar bia de he siboru ni tulang pala iboto ni tunggane

Duhai yang tumbuh seperti jarak dan berurat seperti perdu, Anak gadisnya tulang dan saudara perempuannya ipar, senang rasanya teringat akan tarian (tor-tor) yang sudah melihat telapak tangan kanan dan tangan kiri, namun kami dari

barisan anak boru ada saja yang ingin kami sampaikan, bagaimana kalau kita lanjutkan dengan acara penutup (menyudahi) duhai anak gadisnya tulang dan saudara perempuan ipar?

Makna Perkenalan selesai

Setelah acara manortor muda-mudi (tortor naposo dan nauli bulung) lebih lanjut disampaikan oleh anakboru dengan melanjutkan tradisi dengan memberikan bantuan anak boru kepada mora dengan kalimat osong-osong yang santun dengan menggunakan kalimat manyoda: anggo taringot do artina di tor-tor na mangaligi oppak tangan si amun songoni dohot oppak tangan si ambirang madung sonang da di ate-ate siboru ni tulang. pala iboto ni tunggane, tai molo hai da attong barisan anak

ni namboru munu na dor do da attong adong nguas nai, bia ta palalu na manyoda ninna mada di bagasan roha. Yang bermakna: senang rasanya teringat akan tarian (tor-tor) yang sudah melihat telapak tangan kanan dan tangan kiri, namun kami dari barisan anak menantu ada saja yang ingin kami sampaikan, bagaimana kalau kita lanjutkan dengan acara bersirih di rumah mora untuk penutup menyudahi tarian tortor, agar dapat menyerahkan bantuan disebut dengan kalimat osong-osong: Di namanyorahon tuppak dohot tolong anak ni namboru anak babere ni damang. Yang bermakna: Saatnya penyerahan bantuan dari anak namboru atau anak menantu ayah, lihat teks osong-osong berikut.

Mora: Di namanyorahon tuppak dohot tolong anak ni namboru

anak babere ni damang, amang pargual pargucci baen bo jolo gondang nai anso ditata on di togu-togu lalu tu bagasan, boti mada pargondang nami

Saatnya penyerahan bantuan dari anak namboru atau anak menantu ayah wahai bapak tukang tabuh, mainkanlah gendangnya, Agar sidara bujing dan rombongan anak namboru dibawa masuk ke dalam rumah.

Makna Pargondang agar mengiringi rombongan dengan musik gondang saat masuk ke rumah suhut

Akhir tradisi diterimanya anak boru dengan melakukan tarian tortor dan selanjutnya menyerahkan bantuan dengan dari anak boru agar dapat meringankan beban mora yang lagi mengadakan upacara perkawinan disampaikan dengan kalimat osong- osong: “Di namanyorahon tuppak dohot tolong anak ni namboru anak babere ni damang, amang pargual pargucci baen bo jolo gondang nai anso ditata on di togu-togu lalu tu bagasan, boti mada pargondang name.” Yang bermakna: Saatnya penyerahan bantuan dari anak namboru atau anak menantu ayah, wahai bapak tukang tabuh,

mainkanlah gendangnya. Agar sidara bujing dan rombongan anak namboru dibawa masuk ke dalam rumah.

Dengan masukknya rombongan anak boru ke dalam rumah suhut sihabolonan, yang diikuti oleh mora prosesi selanjutnya adalah menyerahkan bantuan yang telah dipersiapkan kepada mora, dengan menggunakan tradisi tuturan marosong-osong. 4.3.3 Tortor Anak Boru (Si dara doli) dan Mora (Si Dara Bujing)

Tarian tradisional adat di daerah Angkola disebut dengan tortor, tarian tortor diiringi dengan alunan musik yang disebut dengan uning-uningan dan musik adat gondang. Perangkat uning-uningan terdiri atas: gondang, momongan, gong, doal, sasayak/ tali sayak, suling, salempong, dan gombang. Setiap penampilan gondang disertai dengan tortor-nya kecuali gondang mula-mula (pembukaan) dan gondang susur (penutup). Dalam penampilan gondang dan tortor ini pun mempunyai aturan tertentu serta urutan yang tertentu.

Manortor bagi masyarakat adat di Angkola dan Sipirok dilakukan di di luar rumah (di galanggang), tetapi di Mandailing, Padang Bolak, dan Barumun manortor dilakukan di luar rumah. Sebagai salah satu rangkaiannya upacara perkawinan dilakukan upacara manortor. Upacara manortor diiringi dengan syair yang disebut onang-onang yang hanya dipakai dalam konteks upacara adat sehingga disebut juga gondang maradat.

Istilah umum terhadap musik ini disebut juga gondang. Kata gondang mempunyai tiga macam pengertian. Pertama, gondang berarti instrument, yaitu gendang (membranofon) yang terdiri dari gondang inang atau gondang siayakon dan gondang pangayakan. Kedua, gondang juga bisa berarti “lagu,” yang juga

pemakaiannya sesuai dengan adat seperti lagu untuk suhut sihabolonan disebut Gondang Suhut Sihabolonan; lagu untuk mora disebut gondang mora. Ketiga, gondang

juga dapat berarti “ansambel musik,” yaitu intrumen-instrumen yang tergabung dalam satu unit.

Gondang adat selalu diikuti dengan tarian tortor adat, begitu pula sebaliknya setiap penampilan tortor selalu diikuti oleh gondang, kecuali gondang mula-mula (pembukaan) dan gondang susur (penutup). Performansi gondang dan tortor ini pun mempunyai aturan tertentu serta urutan yang tertentu. Begitu pula manortor sebagai bagian upacara perkawinan adat dan pada tradisi marosong-osong, mata ni karejo manortor artinya puncak upacara dalam pelaksanaan upacara adat perkawinan. Begitu pula saat anak boru mengantarkan bantuan kepada mora, ada tradisi yang disebut marosong-osong sebagai bentuk diterimanya anak boru di rumah mora mereka melakukan tortor muda-mudi.

Setelah melalui proses penerimaan kehadiran anak boru di rumah mora dalam tradisi marosong-osong, kemudian dilakukan tradisi manortor muda-mudi. Pada upacara manortor muda-mudi (tortor naposo dan nauli bulung), anak boru dengan mora melakukan tarian tortor si dara bujing manortor dan si dara doli berhadap- hadapan, ada perbedaan antara tradisi marosong-osong dengan tradisi manortor yaitu pada tradisi manortor ada proses mangayapi3 yaitu pangayapi (laki-laki) berada di posisi belakang penari perempuan. Tarian tortor ini hanya dilakukan oleh tortor si dara bujing manortor dan si dara doli saja, sedangkan rombongan parosong-osong yang lain hanya sebagai penonton saja, hingga tarian akhir ditutup panortor muda-mudi.

Gambar 12. Si dara doli dan si dara bujing manortor pada tradisi marosong-osong adat Angkola

3 Mangayapi

sikap tarian tortor, seorang laki-laki berada di posisi belakang penari tortor perempuan. Pada tarian ini posisi tangan penari tortor perempuan tepat di depan ulu hati dengan posisi tangan terbuka dengan jari-jari rapat dengan posisi telapak tangan menghadap ke dalam, posisi penotor laki- laki tangan setinggi bahu dengan posisi tangan rapat terbuka dengan telapak tangan mengahadap ke depan.

lanjutkan tradisi dengan memberikan bantuan anak boru kepada mora dengan kalimat osong-osong yang santun dengan menggunakan kalimat manyoda: anggo taringot do artina di tor-tor na mangaligi oppak tangan si amun songoni dohot oppak tangan si ambirang madung sonang da di ate-ate siboru ni tulang. Yang bermakna: senang rasanya teringat akan tarian tortor yang sudah melihat telapak tangan kanan dan tangan kiri, namun kami dari barisan anak menantu, untuk penutup menyudahi tarian tortor, agar dapat menyerahkan bantuan disebut dengan kalimat osong-osong: Di namanyorahon tuppak dohot tolong anak ni namboru anak babere ni damang. Yang bermakna: Saatnya penyerahan bantuan dari anak namboru atau anak menantu ayah.

Gambar 13. Rombongan Anak Boru (Si dara doli) Menunggu di depan Rumah (gelanggang)

Setelah berkenalan dan bersalaman, anak boru (si dara doli) kembali mengajukan permintaan untuk mengajak mora (si dara bujing) manortor dan disambut

dengan gembira oleh sidara bujing, sehingga keakraban yang selama ini mulai renggang terjalin kembali, hal ini disampaikan pada teks: Duhai yang tumbuh seperti jarak dan berurat seperti perdu, anak gadisnya tulang dan saudara perempuannya ipar, senang rasanya teringat akan tarian (tor-tor)namun kami dari barisan anak menantu ada saja yang ingin kami sampaikan, bagaimana kalau kita lanjutkan dengan acara penutup menyudahi) duhai anak gadisnya tulang dan saudara perempuan ipar. Ujar anak boru menyudahi tarian tortor tersebut, sehingga tradisi selanjutnya menyerahkan bantuan anak boru kepada mora tu pattar tonga.

Gambar 14. Bantuan anak boru kepada mora dalam bentuk uang yang disusun seperti bendera yang diletakkan di depan barisan mora

Pada tradisi marosong-osong anak boru bertugas sesuai dengan fungsinya pada dalihan natolu yaitu si tamba nahurang dan sihorus nalobi artinya anak boru bertugas menambahi yang kurang, tetapi karena pada setiap tradisii adat tidak pernah

pula ada yang lebih sehingga tugas itulah yang diemban oleh anak boru. Anak boru pada tradisi marosong-osong telah mempersiapkan bahan yang akan diberikan kepada pihak mora sebagi bentuk bantuan yang tidak disampaikan terlebih dahulu kepada mora. Sehingga fungsi anak boru dalam adat cukup penting dalam meletakkan dan menjaga tatanan adat sehingga semua tradisi adat marosong-osong masih berlangsung hingga kini.