• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI

3.3 TELAAHAN RENSTRA K/L DAN RENSTRA PROVINSI

Telaahan Renstra Kementerian Perindustrian Republik Indonesia

Visi Pembangunan Industri Nasional Jangka Panjang (2025)

adalah Membawa Indonesia pada tahun 2025 untuk menjadi Negara

Industri Tangguh Dunia yang bercirikan :

1. Industri kelas dunia;

2. PDB sektor Industri yang seimbang antara Pulau Jawa dan Luar

Jawa;

3. Teknologi menjadi ujung tombak pengembangan produk dan

penciptaan pasar.

Untuk menuju Visi tersebut, dirumuskan Visi tahun 2020 yakni Tercapainya Negara Industri Maju Barusesuai dengan Deklarasi Bogor tahun 1995 antar para kepala Negara APEC. Sebagai Negara Industri Maju Baru, Indonesia harus mampu memenuhi beberapa kriteria dasar antara lain:

1. Kemampuan tinggi untuk bersaing dengan Negara industri lainnya;

2. Peranan dan kontribusi sektor industri tinggi bagi perekonomian

nasional;

3. Kemampuan seimbang antara Industri Kecil Menengah dengan

Industri Besar;

4. Struktur industri yang kuat (pohon industri dalam dan lengkap, hulu

dan hilir kuat, keterkaitan antar skala usaha industri kuat);

Renstra DKUKMPerindag Kabupaten Bogor Tahun 2013-2018 62

Berdasarkan Visi tahun 2020, kemampuan Industri Nasional diharapkan mendapat pengakuan dunia internasional, dan mampu menjadi basis kekuatan ekonomi modern secara struktural, sekaligus wahana tumbuh-suburnya ekonomi yang berciri kerakyatan. Dalam mewujudkan Visi Kementerian Perindustrian tahun 2020, diperlukan upaya-upaya sistemik yang dijabarkan ke dalam peta strategi yang mengakomodasi perspektif pemangku kepentingan berupa pencapaian strategis (Strategic Outcomes) yaitu :

1. Meningkatnya nilai tambah industri;

2. Meningkatnya penguasaan pasar dalam dan luar negeri;

3. Meningkatnya kemampuan SDM Industri, R&D dan kewirausahaan;

4. Meningkatnya penguasaan teknologi industri yang hemat energi dan

ramah lingkungan;

5. Lengkap dan menguatnya struktur industri;

6. Tersebarnya pembangunan industri;

7. Meningkatnya peran IKM terhadap PDB.

Visi tersebut di atas kemudian dijabarkan dalam visi lima tahun sampai dengan 2014 yakni Pemantapan daya saing basis industri manufaktur yang berkelanjutan serta terbangunnya pilar industri andalan masa depan.

Dalam rangka mewujudkan visi 2025 di atas, Kementerian Perindustrian sebagai institusi pembina Industri Nasional mengemban misi sebagai berikut:

1. Menjadi wahana pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat;

2. Menjadi dinamisator pertumbuhan ekonomi nasional;

3. Menjadi pengganda kegiatan usaha produktif di sektor riil bagi

masyarakat;

4. Menjadi wahana (medium) untuk memajukan kemampuan teknologi

nasional;

5. Menjadi wahana penggerak bagi upaya modernisasi kehidupan dan

wawasan budaya masyarakat;

6. Menjadi salah satu pilar penopang penting bagi pertahanan negara

dan penciptaan rasa aman masyarakat;

7. Menjadi andalan pembangunan industri yang berkelanjutan melalui

Renstra DKUKMPerindag Kabupaten Bogor Tahun 2013-2018 63

pengelolaan lingkungan yang baik, serta memiliki rasa tanggung jawab sosial yang tinggi.

Sesuai dengan Visi tahun 2014 di atas, misi tersebut dijabarkan dalam misi lima tahun sampai dengan 2014 sebagai berikut:

1. Mendorong peningkatan nilai tambah industri;

2. Mendorong peningkatan penguasaan pasar domestik dan

internasional;

3. Mendorong peningkatan industri jasa pendukung;

4. Memfasilitasi penguasaan teknologi industri;

5. Memfasilitasi penguatan struktur industri;

6. Mendorong penyebaran pembangunan industri ke luar pulau Jawa;

7. Mendorong peningkatan peran IKM terhadap PDB.

Kondisi yang harus dicapai pada tahun 2014 sebagai berikut:

1. Terselesaikannya permasalahan yang menghambat, dan rampungnya

program revitalisasi, konsolidasi, dan restrukturisasi industri yang terkena dampak krisis;

2. Tumbuhnya industri yang mampu menciptakan lapangan kerja yang

besar;

3. Terolahnya potensi sumber daya alam daerah menjadi

produk-produk olahan;

4. Semakin meningkatnya daya saing industri berorientasi ekspor;

5. Tumbuhnya industri-industri potensial yang akan menjadi kekuatan

penggerak pertumbuhan industri di masa depan;

6. Tumbuh berkembangnya IKM, khususnya industri menengah sekitar

dua kali lebih cepat daripada industri kecil.

Keluaran jangka menengah yang diharapkan adalah :

1. Besarnya kemampuan sektor industri untuk menyediakan lapangan

kerja baru,

2. Pulihnya industri yang terpuruk akibat krisis,

3. Meningkatnya kemampuan daerah menghasilkan produk olahan,

4. Menguatnya struktur industri, seiring dengan tumbuhnya industri

penunjang, komponen dan bahan baku industri,

5. Meningkatnya ekspor secara signifikan,

Renstra DKUKMPerindag Kabupaten Bogor Tahun 2013-2018 64

7. Semakin kuatnya keterkaitan antar skala-industri, dan seimbangnya

sumbangan nilai tambah antara industri besar dan IKM.

Telaahan Renstra Kementerian Perdagangan Republik Indonesia

VISI Kementerian Perdagangan adalah ” Perdagangan Sebagai Sektor Penggerak Pertumbuhan dan Daya Saing Ekonomi serta Pencipta Kemakmuran Rakyat Yang Berkeadilan” yang dapat diwujudkan melalui peningkatan kinerja ekspor nonmigas secara berkualitas, penguatan pasar dalam negeri dan stabilisasi ketersediaan bahan pokok dan penguatan jaringan distribusi nasional.

Dalam rangka mewujudkan Visi tersebut, maka misi Kementerian Perdagangan adalah :

1. Meningkatkan kinerja ekspor nonmigas secara berkualitas.

2. Menguatkan pasar dalam negeri.

3. Menjaga ketersediaan bahan pokok dan penguatan jaringan

distribusi nasional.

Sedangkan tujuan pembangunan perdagangan periode 2010-2014 yang ingin dicapai yaitu:

1. Peningkatan akses pasar ekspor dan fasilitasi perdagangan luar

negeri untuk mengurangi ketergantungan pasar tujuan ekspor ke negara-negara tertentu dan meningkatkan kelancaran arus barang ekspor dan impor.

2. Perbaikan iklim usaha perdagangan luar negeri yang berorientasi

pada pelayanan publik yang optimal.

3. Peningkatan daya saing ekspor melalui peningkatan kualitas produk

ekspor dan peningkatan citra produk ekspor Indonesia di pasar global.

4. Peningkatan peran dan kemampuan diplomasi perdagangan

internasional untuk memperjuangkan kepentingan nasional

Indonesia dalam forum multilateral, regional, bilateral yang penuh tantangan dan kompleksitas.

5. Perbaikan iklim usaha perdagangan dalam negeri dengan melakukan

reformasi birokrasi dan harmonisasi kebijakan perdagangan dalam negeri di pusat dan di daerah.

6. Peningkatan kinerja sektor perdagangan dan ekonomi kreatif melalui

fasilitasi promosi dan penciptaan kebijakan perdagangan yang sesuai.

Renstra DKUKMPerindag Kabupaten Bogor Tahun 2013-2018 65

7. Peningkatan perlindungan konsumen dan pengamanan pasar dalam

negeri sehingga masyarakat terhindar dari produk-produk yang menyebabkan kerugian, membahayakan kesehatan, keamanan dan keselamat an konsumen serta produsen dalam negeri terhindar dari praktek perdagangan tidak sehat.

8. Stabilisasi dan penurunan disparitas harga bahan pokok di

Indonesia, sehingga daya beli masyarakat terhadap bahan pokok dapat terjaga.

9. Penciptaan jaringan distribusi yang efisien melalui penciptaan

sarana dan kebijakan distribusi serta layanan logistik yang mendukung dan sinergis.

Sasaran yang ingin dicapai dalam peningkatan akses pasar ekspor dan fasilitasi ekspor adalah:

1. Meningkatnya pertumbuhan ekspor nonmigas, sebagai salah satu

sumber utama pertumbuhan ekonomi nasional;

2. Diversifikasi pasar tujuan ekspor yang semakin baik, sebagai

indikasi berkurangnya ketergantungan ekspor pada suatu negara tertentu, sehingga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi semakin baik; dan

3. Diversifikasi produk ekspor nonmigas yang semakin baik, sehingga

ketergantungan pada produk ekspor tertentu menjadi berkurang. Sasaran yang ingin dicapai dalam melakukan perbaikan iklim usaha perdagangan luar negeri agar menjadi lebih kondusif adalah membaiknya layanan perizinan dan non-perizinan sektor perdagangan luar negeri, Indikator yang digunakan untuk mengukur kinerja perbaikan layanan perizinan perdagangan luar negeri ini adalah:

1. Jumlah perizinan perdagangan luar negeri yang dapat dilayani secara

online; dan

2. Waktu pelayanan dari masing-masing jenis perizinan tersebut.

Upaya perbaikan iklim usaha perdagangan luar negeri ini tentunya juga akan mendukung kinerja ekspor nonmigas.

Sasaran yang ingin dicapai dalam melakukan peningkatan daya saing ekspor adalah:

1. Meningkatnya keunggulan komparatif produk ekspor Indonesia di

pasar global, yang menunjukkan semakin banyaknya produk-produk dalam negeri yang mampu bersaing di pasar global; dan

Renstra DKUKMPerindag Kabupaten Bogor Tahun 2013-2018 66

2. Perbaikan citra produk ekspor Indonesia di pasar global, yang pada

akhirnya akan mendukung kontinuitas dan pertumbuhan ekspor. Sasaran yang ingin dicapai dalam melakukan Peningkatan Peran dan Kemampuan Kementerian Perdagangan Dalam Diplomasi Perdagangan Internasional adalah meningkatnya intensitas dan kualitas keikutsertaan Indonesia diberbagai forum internasional dan meningkatnya hasil perundingan yang dihasilkan di berbagai forum internasional, yang mampu memberi nilai tambah bagi kepentingan nasional.

Sasaran yang ingin dicapai dalam perbaikan Iklim Usaha Pedagangan Dalam Negeri adalah membaiknya layanan perizinan dan non-perizinan sektor perdagangan dalam negeri, baik dalam hal jumlah perizinan online maupun dalam hal minimasi waktu layanan. Perbaikan layanan perizinan Sektor Perdagangan dalam negeri merupakan upaya mendukung penciptaan iklim investasi dan iklim usaha yang kondusif yang akhirnya dapat menguatkan pasar domestik.

Sasaran yang ingin dicapai dalam peningkatan kinerja sektor perdagangan besar dan eceran, serta ekonomi kreatif adalah:

1. Meningkatnya output sektor perdagangan yang senantiasa tumbuh

semakin positif setiap tahunnya, dan

2. Meningkatnya kontribusi PDB Industri Kreatif terhadap PDB

nasional, sebagai salah satu alternatif baru penggerak ekonomi nasional.

Sasaran yang ingin dicapai dalam upaya perlindungan konsumen adalah meningkatkan kesadaran konsumen akan hak dan kewajibannya, menumbuhkan kesadaran pelaku usaha akan pentingnya perlindungan konsumen, meningkatkan kualitas barang dan/atau jasa di pasar dalam negeri serta menciptakan perlindungan konsumen.

Sasaran yang ingin dicapai dalam penciptaan jaringan distribusi perdagangan yang efisien adalah peningkatan kinerja logistik Indonesia. Indikator yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja logistik

Indonesia adalah Skor Logistic Performance Index Indonesia yang

dipublikasikan oleh Bank Dunia, dengan mempertimbangkan enam area kunci logistik yaitu :

1. Efisiensi dan efektivitas proses kepabeanan oleh pihak Bea Cukai dan

organisasi pengelola perbatasan lainnya.

Renstra DKUKMPerindag Kabupaten Bogor Tahun 2013-2018 67

3. Kemudahan dan keterjangkauan biaya pengaturan pengiriman

muatan.

4. Kompetensi industri logistik lokal (operator transportasi, broker bea

cukai, dan sebagainya).

5. Kemampuan untuk melacak barang yang dikirim.

6. Waktu yang dibutuhkan barang yang dikirim sampai ke tujuan.

Sasaran stabilisasi dan penurunan disparitas harga bahan pokok yang ingin dicapai adalah:

1. Stabilitas harga bahan pokok yang terkendali, sehingga harga tetap

terjangkau sesuai kondisi daya beli masyarakat, dan

2. Penurunan disparitas harga bahan pokok antar provinsi, sehingga

kelangkaan dan penimbunan bahan pokok dapat diminimasi.

Arah kebijakan pembangunan Perdagangan Nasional ke depan secara konsisten akan mengacu kepada arah pembangunan dalam RPJMN 2010-2014. Arah ini merupakan pedoman dalam menyusun langkah-langkah strategis ke depan untuk mencapai sasaran yang diinginkan. Arah kebijakan perdagangan dapat dijabarkan menjadi lima pokok pikiran, yaitu :

1. Mengembangkan kebijakan dan diplomasi perdagangan di fora

internasional dengan senantiasa menjaga kepentingan nasional, intgritas wilayah, dan pengamanan kekayaan SDA nasional.

2. Menjaga pertumbuhan ekonomi yang berkualitas.

3. Menurunnya kesenjangan kesejahteraan antar kelompok masyarakat

dan antar daerah.

4. Memantapkan nilai-nilai baru yang positif dan produktif dalam

rangka memantapkan budaya dan karakter bangsa.

5. Menata kelembagaan perdagangan yang mendorong prakarsa

masyarakat dalam kegiatan perekonomian.

Berdasarkan lima pokok pikiran tersebut di atas, Kementerian Perdagangan menetapkan beberapa langkah strategis, yaitu :

1. Pengembangan kebijakan dan diplomasi perdagangan dengan

senantiasa menjaga kepentingan nasional, integritas wilayah dan pengamanan kekayaan SDA nasional dilakukan melalui :

a. Peningkatan partisipasi dan kepemimpinan dalam forum

Renstra DKUKMPerindag Kabupaten Bogor Tahun 2013-2018 68

b. Peningkatan kemitraan ekonomi dan perdagangan bilateral yang

strategis.

c. Peningkatan dan pengamanan akses pasar luar negeri.

d. Pengamanan kebijakan perdagangan dan kebijakan terkait

lainnya.

2. Peningkatan Pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dilakukan

melalui :

a. Peningkatan konsumsi produk dalam negeri.

b. Peningkatan dan pengembangan ekspor.

c. Pengelolaan impor dengan baik.

d. Penciptaan iklim investasi dan perdagangan yang lebih kondusif.

e. Optimalisasi belanja pemerintah.

f. Pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) atau kawasan

perdagangan bebas seperti kawasan perdagangan bebas Batam, Bintan, dan Karimun.

g. Peningkatan perlindungan konsumen dalam negeri serta

pengamanan pasar domestik

3. Pemerataan hasil -hasil pembangunan sehingga dapat menurunkan

kesenjangan antar kelompok masyarakat dan antar daerah dilakukan melalui :

a. Penciptaan sistem logistik yang efisien untuk menjaga kelancaran

distribusi bahan pokok dan meminimasi disparitas harga antar daerah.

b. Fasilitasi Usaha Mikro Kecil, dan Menengah (UMKM), antara lain

melalui : revitalisasi pasar tradisional, pendidikan dan pelatihan ekspor bagi UMKM, fasilitasi produk UMKM untuk masuk dalam distribusi pasar ritel modern, fasilitasi desain, branding dan kemasan, dan promosi.

4. Pemantapan nilai-nilai baru yang positif dan produktif dalam rangka

memantapkan budaya dan karakter bangsa dilakukan melalui:

a. Aktivasi secara intensif gerakan Aku Cinta Indonesia yang akan

memacu rasa percaya diri bangsa untuk berkarya serta meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap produk dalam negeri dengan mengkonsumsi produk-produk dalam negeri.

b. Pencitraan Indonesia baik ke dalam maupun ke luar negeri.

c. Pengembangan Ekonomi Kreatif yang mendukung penciptaan

Renstra DKUKMPerindag Kabupaten Bogor Tahun 2013-2018 69

pengembangan jasa kreatif yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia.

5. Penataan dan peningkatan peranan kelembagaan perdagangan

dilakukan melalui penataan waralaba, kemitraan usaha, distributor, keagenan, ritel, trading house, eksportir, dan lembaga perlindungan konsumen agar masyarakat dapat terlibat secara luas dalam aktivitas perekonomian perdagangan.

Telaahan Renstra Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Republik Indonesia

Kementerian Koperasi dan UKM telah menetapkan visi, yaitu: “Menjadi Kementerian yang Kredibel Guna Mewujudkan Koperasi dan UMKM yang

Tangguh dan Mandiri sebagai Soko Guru Perekonomian Nasional”, Untuk

mencapai visi di atas berikut dijabarkan misi Kementerian Koperasi dan UKM :

1. Mengimplementasikan good governance (tata kelola pemerintahan

yang baik),

2. Menumbuhkan dan mengembangkan kewirausahaan Koperasi dan

UMKM,

3. Meningkatkan daya saing Koperasi dan UMKM,

4. Mengembangkan pembiayaan dan penjaminan bagi Koperasi dan

UMKM,

5. Meningkatkan kualitas kelembagaan koperasi dan kesadaran

berkoperasi.

Tujuan dari Kementerian Koperasi dan UKMadalah :

a) Peningkatan jumlah dan peran Koperasi dan UMKM dalam

perekonomian Nasional melalui :

a.Meningkatkan jumlah Koperasi yang sehat, kuat dan dipercaya,

b.Meningkatkan peran dan kontribusi Koperasi dan UMKM dalam

perekonomian Nasional;

b) Peningkatan Pemberdayaan Koperasi dan UMKM melalui :

a.Mengembangkan kebijakan dan program-program pemberdayaan

Koperasi dan UMKM berdasarkan hasil kajian,

b.Meningkatkan kualitas pengelolaan dan keterampilan 5DM

Koperasi dan UMKM;

c) Peningkatan Daya Saing Produk Koperasi dan UKM melalui

Meningkatkan kemampuan Koperasi dan UKM dalam

mengembangkan produk-produk kreatif, inovatif, berkualitas dan berdaya saing;

Renstra DKUKMPerindag Kabupaten Bogor Tahun 2013-2018 70

d) Peningkatan Pemasaran Produk Koperasi dan UKM melalui

Meningkatkan kelembagaan dan jaringan pemasaran serta pangsa pasar produk Koperasi dan UKM;

e) Meningkatkan Akses Pembiayaan dan Penjaminan Koperasi dan

UMKM melalui Penyediaan skema dan memperluas akses pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan Koperasi dan UMKM;

f) Pengembangan Wirausaha Koperasi dan UMKM baru melalui :

a.Menumbuhkan wirausaha baru yang inovatif,

b.Meningkatkan kesadaran berwirausaha sebagai budaya dan

mengembangkan kewirausahaan dikalangan masyarakat;

g) Perbaikan Iklim Usaha yang lebih Berpihak kepada Koperasi dan

UMKM melalui :

a.Meningkatkan kuatitas Layanan publik yang transparan,

akuntabel dan kredibel,

b.Menyediakan peraturan perundang-udangan yang Lebih berpihak

pada Koperasi dan UKM.

Sasaran yang ingin dicapai oleh kementerian Koperasi dan UKM adalah :

a) Peningkatan jumlah dan peran Koperasi dan UMKM dalam

perekonomian Nasional melalui :

a.Meningkatkan Koperasi berkualitas (10%) dan tumbuhnya (5%)

jumlah Koperasi aktif secara Nasional,

b.Meningkatnya jumlah Koperasi aktif (55%) yang melaksanakan

RAT,

c. Meningkatnya produktifitas UMKM (5%) per tahun,

d.Meningkatnya sumbangan UMKM dalam pembentukan PDB (6%)

pertahun,

e. Meningkatnya rata-rata jumlah penyerapan tenaga kerja Koperasi

dan UMKM sebesar (5%) per tahun,

f. Meningkatnya rata-rata nilai investasi Koperasi dan UMKM sebesar

10% per tahun,

g. Meningkatnya nilai ekspor produk UMKM (15%) per tahun;

b) Peningkatan Pemberdayaan Koperasi dan UMKM melalui :

a.Meningkatnya jumlah SDM Koperasi dan UMKM yang mengikuti

Renstra DKUKMPerindag Kabupaten Bogor Tahun 2013-2018 71

b.Terselenggaranya diklat kewirausahaan bagi para sarjana calon

wirausaha,

c. Meningkatnya jumlah tempat praktek keterampilan usaha pada

lembaga pendidikan pedesaan,

d.Tumbuh dan berkembangnya Lembaga diklat bagi Koperasi dan

UMKM,

e. Tersedianya model-model praktek terbaik (best practices)

internasional bagi pemberdayaan Koperasi,

f. Berkembangnya Koperasi dan UMKM dalam penerapan Informasi

Teknologi dan teknologi tepat guna,

g. Pengembangan kemitraan Koperasi dan UMKM dengan pelaku

usaha melalui Meningkatnya jumlah dan kualitas kemitraan usaha;

c) Peningkatan daya saing produk Koperasi dan UMKM melalui :

a.Meningkatnya penggunaan produk Koperasi dan UMKM dalam

negeri,

b.Menjaga 65% pangsa pasar Koperasi dan UMKM di bidang bisnis

retail,

c. Meningkatnya ekspor non migas UMKM sehingga pangsa terhadap

ekspor non migas nasional minimal sebesar 20% pertahun;

d) Peningkatan pemasaran produk Koperasi dan UMKM melalui :

a.Tumbuh dan berkembanganya trading house di seturuh Provinsi,

b.Meningkatnya kualitas sarana dan prasarana produksi dan

pemasaran,

c. Meningkatnya promosi produk Koperasi dan UMKM,

d.Meningkatnya jumlah dan kualitas warung retail modern milik

Koperasi dan UMKM,

e. Memperkuat pemasaran produk Koperasi dan UMKM di

sentra-sentra termasuk daerah tertinggal, terisolir dan perbatasan,

f. Mewujudkan Smesco UKM menjadi Icon Industri Kreatif dan

pemberdayaan Koperasi dan UMKM Nasional;

e) Penyediaan akses pembiayaan dan penjaminan bagi Koperasi dan

UMKM melalui :

a.Tersedianya SKIM pembiayaan yang mudah, terjangkau dan cepat,

Renstra DKUKMPerindag Kabupaten Bogor Tahun 2013-2018 72

b.Meningkatnya jumlah dan kualitas KSP/USP dan Lembaga

pembiayaan lainnya,

c. Meningkatnya penyelenggaraan, pengembangan dan pengawasan

KSP/USP,

d.Memperkuat permodalan bagi produk Koperasi dan UMKM di

sentra-sentra termasuk daerah tertinggal, terisolir dan perbatasan;

f) Perbaikan iklim usaha yang lebih berpihak pada Koperasi dan UMKM

melalui :

a.Terselenggaranya penataan birokrasi dan tata ketota pemerintahan

yang efektif, efisien dan bertanggung jawab,

b.Tersedia dan terlaksananya peraturan perundang-undangan dan

kebijakan yang berpihak pada pemberdayaan Koperasi dan UMKM,

c. Terciptanya keselarasan program dan kegiatan dalam

pemberdayaan Koperasi dan UKM melalui koordinasi lintas sektoral di tingkat pusat, Provinsi, Kabupaten dan Kota,

d.Tersedianya kajian dasar, kebijakan dan terapan yang prospektif

dalam pemberdayaan Koperasi dan UMKM;

g) Pengembangan wirausaha Koperasi dan UKM baru melalui :

a.Terciptanya 5.000 wirausaha baru dan kalangan sarjana,

b.Tersedianya modul-modul untuk meningkatkan kesadaran

berwira-usaha.

Dengan mempertimbangkan kondisi internal maupun eksternal, Kementerian Koperasi dan UKM telah menetapkan 5 (Lima) arah kebijakan prioritas bidang pemberdayaan Koperasi dan UMKM yang akan ditempuh dalam periode lima tahun mendatang, yaitu :

1. Peningkatan iklim usaha yang kondusif bagi Koperasi dan UMKM.

Arah kebijakan ini ditujukan untuk mewujudkan pemberdayaan Koperasi dan UMKM yang lebih koordinatif dan partisipatif, didukung peningkatan peran Lembaga-Lembaga swasta dan masyarakat; menyediakan regulasi/ kebijakan nasional dan daerah yang mendukung pemberdayaan Koperasi dan UMKM; serta menurunkan pungutan yang menghambat perkembangan usaha Koperasi.

2. Peningkatan akses kepada sumber daya produktif. Arah kebijakan ini

ditujukan untuk peningkatan akses Koperasi dan UMKM kepada sumber daya produktif terutama berkaitan dengan jangkauan dan jenis sumber pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan usaha Koperasi dan UMKM, khususnya melalui KUR

Renstra DKUKMPerindag Kabupaten Bogor Tahun 2013-2018 73

sebagai bagian penting untuk meningkatkan usaha masyarakat yang dapat menurunkan tingkat kemiskinan. Sumber daya produktif dimaksud juga berkaitan dengan peningkatan akses teknologi, akses pasar dan pemasaran bagi koperasi dan UMKM.

3. Pengembangan produk dan pemasaran bagi Koperasi dan UMKM.

Arah kebijakan ini ditujukan untuk pengembangan produk Koperasi dan UMKM yang berkualitas, inovatif dan kreatif yang bersaing baik di pasar domestik maupun mancanegara.

4. Peningkatan Daya Saing SDM Koperasi dan UMKM. Arah kebijakan

ini ditujukan untuk peningkatan kapasitas dan produktivitas Koperasi dan UMKM, yang didukung pengusaha, pengelola dan pekerja yang memiliki kompetensi yang tinggi dan wirausaha handal serta meningkatan jumlah wirausaha baru yang didukung pola pengembangan kewirausahaan yang tersistem. Dilaksanakan juga

revitalisasi sistem pendidikan pelatihan dan penyuluhan

perkoperasian.

5. Penguatan kelembagaan Koperasi. Arah kebijakan ini ditujukan

untuk pengembangan praktek berkoperasi yang sesuai nilai, jati diri, prinsip dan asas Koperasi serta peningkatan peran Koperasi dalam memfasilitasi perkembangan usaha anggota dan peningkatan kesejahteraan anggota.

Telaahan Renstra Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Propinsi Jawa Barat

Dalam Renstra Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Barat, dan Rancangan Renstra Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat diuraikan bahwa dinamika lingkungan strategis, baik nasional maupun global, permasalahan dan tantangan yang dihadapi Bangsa Indonesia semakin kompleks. Arus besar globalisasi membawa keleluasaan informasi, fleksibilitas distribusi barang dan jasa yang berdampak pada munculnya isu-isu yang berdimensi lintas bidang. Dalam konteks ketatanegaraan, arus globalisasi juga mendorong akselerasi proses demokratisasi dan desentralisasi yang melahirkan

situasi paradoksal, antara semakin membaiknya kebebasan sipil (civil

liberty) dengan terbatasnya kapasitas kelembagaan politik dan kapasitas

tata kelola pemerintahan (governance) sehingga akuntabilitas layanan

Renstra DKUKMPerindag Kabupaten Bogor Tahun 2013-2018 74

dan modal juga berdampak pada meningkatnya pemanfaatan berbagai

sumber daya alam yang memunculkan isu perubahan iklim (climate

change), ketegangan lintas-batas antarnegara, percepatan penyebaran

wabah penyakit, dan terorisme, serta masalah tenaga kerja Indonesia di luar negeri.

Berbagai masalah tersebut juga mencerminkan rumitnya tantangan yang harus dihadapi bangsa dan negara Indonesia. Hal ini menuntut peningkatan peran dan kapasitas seluruh instansi pemerintah. Pembangunan di Jawa Barat pada tahap kedua RPJP Daerah atau RPJM Daerah Tahun 2013-2018 menuntut perhatian lebih, tidak hanya untuk menghadapi permasalahan yang belum terselesaikan, namun juga untuk mengantisipasi perubahan yang muncul di masa yang akan datang. Posisi Jawa Barat yang strategis dan berdekatan dengan ibukota negara,

mendorong Jawa Barat berperan sebagai agent of development (agen

pembangunan) bagi pertumbuhan nasional.

Berbagai isu global dan nasional yang perlu dipertimbangkan dalam menyelesaikan isu yang bersifat lokal dan berimplikasi pada

Dokumen terkait