LANDASAN TEORI
2.1 Kajian Teori .1 Kurikulum 2013
2.1.3 Tematik Integratif
Pembelajaran tematik integratif merupakan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai kompetensi dari berbagai mata pelajaran ke dalam berbagai tema. Pengintegrasian terwujud dalam dua hal, yakni: (1) integrasi sikap, keterampilan, dan pengetahuan dalam proses pembelajaran; dan (2) integrasi
20
berbagai konsep dasar yang terkait. Tema merajut makna berbagai konsep dasar sehingga siswa tidak belajar konsep dasar secara parsial.Dengan demikian pembelajarannya memberikan makna yang utuh kepada siswa seperti tercermin pada berbagai tema yang tersedia.
Dalam pembelajaran tematik terpadu (integratif), tema yang dipilih berkenaan dengan alam dan kehidupan manusia. Untuk kelas I, II, dan III keduanya (alam dan kehidupan manusia) merupakan pemberi makna yang substansial terhadap mata pelajaran PPKn, Bahasa Indonesia, Matematika, serta Seni Budaya dan Prakarya.
Kurikulum SD/MI menggunakan pendekatan pembelajaran tematik integratif dari kelas I sampai kelas VI. Pembelajaran tematik integratif merupakan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai kompetensi dari berbagai mata pelajaran ke dalam berbagai tema. Pengintegrasian tersebut dilakukan dalam dua hal, yaitu integrasi sikap, keterampilan dan pengetahuan dalam proses pembela jaran dan integrasi berbagai konsep dasar yang berkaitan. Tema merajut makna berbagai konsep dasar sehingga siswa tidak belajar konsep dasar secara satu per satu.Dengan demikian pembelajarannya memberikan makna yang utuh kepada siswa seperti tercermin pada berbagai tema.Dalam pembelajaran tematik integratif, tema yang dipilih berkenaan dengan alam dan kehidupan manusia. Untuk kelas I, II, dan III, keduanya merupakan pemberi makna yang substansial terhadap mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika, serta Seni-Budaya dan
21
Prakarya.. Di sinilah Kompetensi Dasar dari Ilmu Pengetahuan Alam dan Ilmu Pengetahuan Sosial yang diorganisasikan ke mata pelajaran lain memiliki peran penting sebagai pengikat dan pengembang Kompetensi Dasar mata pelajaran lainnya. Dari sudut pandang psikologis, siswa belum mampu berpikir abstrak untuk memahami konten mata pelajaran yang terpisah kecuali kelas IV, V, dan VI sudah mulai mampu berpikir abstrak.Pandangan psikologi perkembangan dan Gestalt memberi dasar yang kuat untuk integrasi Kompetensi Dasar yang diorganisasikan dalam pembelajaran tematik.
Sejalan dengan pendekatan yang dianutnya, isi kurikulum 2013 untuk Sekolah Dasar (SD) menggunakan tema sebagai perekat berbagai bidang studi (Sudayana, 2014: 26). Pembelajaran tematik merupakan bagian dari pembelajaran terpadu.Keduanya menggabungkan beberapa mata pelajaran dalam satu tema tertentu.Membenarkan hal tersebut, Trianto (2010: 154) mendefinisikan pembelajaran terpadu sebagai suatu model pembelajaran yang memadukan beberapa materi pembelajaran dari berbagai standar kompetensi dan kompetensi dasar dari satu atau beberapa mata pelajaran. Pembelajaran terpadu tidak menyajikan mata pelajaran secara terpisah, melainkan mengemas beberapa pelajaran ke dalam satu topik atau tema tertentu yang berkaitan dengan pengalaman siswa.
Majid (2014: 119) menjelaskan pembelajaran terpadu sebagai suatu konsep, atau pendekatan pembelajaran yang melibatkan beberapa bidang studi, sehingga memberikan pengalaman langsung bagi siswa secara
22
bermakna.Pengalaman tersebut dikatakan bermakna karena siswa dapat menghubungkan pembelajarandengan pengalaman siswa sehari-hari.
Berdasarkan uraian di atas,dapat disimpulkan bahwa pembelajaran tematik itegratif adalah suatu pendekatan belajar yang memadukan/ mengaitkan antar bidang studi dalam satu tema tertentu tanpa memperlihatkan adanya penggabungan antar mata pelajaran, serta mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari siswa, sehingga memberikan kebermaknaan dalam diri siswa setelah melakukan kegiatan pembelajaran.
2.1.3.1 Saintifik
Pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran Kurikulum 2013 adalah untuk penguatan sikap (tahu mengapa), keterampilan (tahu bagaimana), dan pengetahuan (tahu apa) yang terintegrasi, yaitu dengan pendekatan saintifik. Kurikulum 2013 menekankan penerapan pendekatan saintifik (meliputi: mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan mengasosiasikan untuk semua mata pelajaran) (Sudarwan, 2013).
Komponen-komponen penting dalam mengajar menggunakan pendekatan scientific (Mc Collum: 2009), yaitu:
a) Menyajikan pembelajaran yang dapat meningkatkan rasa keingintahuan (foster a sense of wonder),
b) Meningkatkan keterampilan mengamati (encourage observation), c) Melakukan analisis ( push for analysis) dan
23
2.1.3.2 Model Pembelajaran Tematik yang Digunakan pada Kurikulum 2013
a) Model Hubungan/terkait (Connected model)
Pada model pembelajaran ini ciri utamanya adalah adanya upaya untuk menghubungkan beberapa materi (bahan kajian) ke dalam satu disiplin ilmu. Sebuah model penyajian yang menghubungkan materi satu dengan materi yang lain. Menghubungkan tugas/keterampilan yang satu dengan tugas/ketrampilan yang lain. Keunggulan model ini, siswa memperoleh gambaran yang menyeluruh tentang sebuah konsep, sehingga transfer pengetahuan lebih mudah dilakukan karena konsep pokok dikembangkan secara terus menerus.
b)Model Jaring laba-laba (Webbed model)
Model pembelajaran ini diawali dengan pemilihan tema. Setelah tema ditentukan dilanjutkan dengan pemilihan sub-sub tema dengan memperhatikan keterkaitannya antar mata pelajaran. Aktivitas belajar siswa direncanakan berdasarkan sub-sub tema yang sudah ditentukan. Keuntungan model pembelajaran ini bagi siswa adalah diperolehnya pandangan secara utuh tentang kegiatan dari ilmu yang berbeda-beda.
c) Model Terpadu (Integrated model)
Model pembelajaran ini menggunakan pendekatan antar mata pelajaran yang dipadukan.Beberapa mata pelajaran dicari konsep, sikap, dan ketrampilan
24
yang tumpang tindih dipadukan menjadi satu. Kegiatan guru pertama menyeleksi konsep, nilai-nilai dan ketrampilan yang memiliki keterkaitan erat satu sama lain dari berbagai mata pelajaran. Keuntungan model pembelajaran ini bagi siswaadalah lebih mudah mengaitkan materi pembelajaran dari berbagai mata pelajaran.Model inilah yang dikembangkan sebagai pembelajaran tematik terpadu di Kurikulum 2013.
2.1.3.2 Prinsip-prinsip Dalam Tematik Integratif
Prinsip dalam pelaksanaan pembelajaran tematik integratif adalah :
a) Guru tidak bersikap otoriter dan berperan sebagai single actor yang mendominasi proses pembelajaran.
b)Pemberian tanggungjawab terhadap individu dan kelompok harus jelas dan mempertimbangkan kerja sama kelompok.
c) Guru bersikap akomodatif terhadap ide-ide yang muncul saat proses pembelajaran yang di luar perencanaan.
d)Memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan evaluasi diri disamping penilaian lain. Penilaian yang digunakan adalah penilaian autentik yang meliputi lima domain yaitu: konsep, proses, aplikasi, kreativitas, dan sikap.
25 2.1.4 Pendekatan Kontekstual
Menurut Nurhadi (2005:5) pendekatan kontekstual adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari dengan melibatkan ketujuh komponen utama pembelajaran efektif yaitu kontruktivisme, bertanya, menemukan, masyarakat belajar, permodelan, dan penilaian sebenarnya. Suherman (2003:3) menyatakan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual adalah pembelajaran yang mengambil (menstimulasikan, menceritakan berdialog, atau tanya jawab) kejadian pada dunia nyata kehidupan sehari-hari yang dialami siswa kemudian diangkat kedalam konsep yang dibahas.
Istiqomah (2009:30) menyampaikan pembelajaran kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengkaitkan antara materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata siswa, dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan pendekatan konsektual memberikan penekanan pada penggunaan berpikir tingkat tinggi, transfer pengetahuan, permodelan, informasi dan data dari berbagai sumber.
Pembelajaran menggunakan pendekatan kontekstual dapat dikatakan sebagai sebuah pendekatan pembelajaran yang mengakui dan menunjukkan kondisi alamiah pengetahuan. Melalui hubungan di dalam dan di luar ruang kelas, suatu pendekatan pembelajaran kontekstual menjadikan pengalaman lebih relevan
26
dan berarti bagi siswa dalam membangun pengetahuan yang akan mereka terapkan dalam pembelajaran seumur hidup. Pembelajaran dalam kontekstual menyajikan suatu konsep yang mengaitkan materi pelajaran yang dipelajari siswadengan konteks materi tersebut digunakan, serta hubungan bagaimana seseorang belajar atau cara siswa belajar.
Dengan demikian, dalam kegiatan pembelajaran perlu adanya upaya membuat belajar lebih mudah, sederhana, bermakna dan menyenangkan agar siswa mudah menerima ide, gagasan, mudah memahami permasalahan dan pengetahuan serta dapat mengkonstruksi sendiri pengetahuan barunya secara aktif, kreatif dan produktif.Untuk mencapai usaha tersebut segala komponen pembelajaran harus dipertimbangkan termasuk pendekatan kontekstual.
Dalam kaitan dengan evaluasi, pembelajaran dengan kontekstual lebih menekankan pada authentic assesmen yang diperoleh dari berbagai kegiatan. Alwasih (2002:289) berpendapat bahwa keuntungan penilaian autentik bagi siswa antara lain: (1) mengungkapkan secara total seberapa baik pemahaman materi akademik mereka; (2) mengungkapkan dan memperkuat penguasaan kompetensi mereka seperti mengumpulkan informasi, menggunakan sumber daya, mengani teknologi, dan berfikir secara sistematis; (3) menghubungkan pembelajaran dengan pengalaman mereka sendiri, dunia mereka, dan masyarakat luas; (4) mempertajam keahlian berfikir dalam tingkatan yang lebih tinggi saat mereka menganalisis, memadukan, mengidentifikasi masalah, menciptakan solusi, dan menghubungkan sebab akibat; (5) menerima tanggung jawab dan membuat pilihan; (6) berhubungan dan bekerja sama dengan orang lain dalam mengerjakan
27
tugas; dan (7) belajar mengevaluasi tingkat prestasi sendiri. Jenis penilaian autentik yaitu portofolio, pengukuran kinerja, proyek, dan jawaban tertulis secara lengkap.
Berdasarkan pemaparan di atas, peneliti menyimpulkan bahwapendekatan kontekstual ini merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari sebagai anggota keluarga dan masyarakat.Tugas guru dalam pendekatan kontekstual adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi.
Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja sama untuk menemukan suatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Pendekatan kontekstual ini perlu diterapkan mengingat bahwa selama ini pendidikan masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihapalkan.Dalam hal ini fungsi dan peranan guru masih dominan sehingga siswa menjadi pasif dan tidak kreatif. Melalui pendekatan kontekstual ini siswa diharapkan belajar dengan cara mengalami sendiri bukan menghafal.
2.1.4.1Komponen Pendekatan Kontekstual
Komponen pendekatan kontekstual di Sekolah Dasar, pada prinsipnya menerapkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif (Nurhadi, 2009: 9). Ketujuh komponen tersebut :
28 a) Kontruktivisme (Contructivision)
Kontruktivisme (contructivism) merupakan landasan berpikir atau filosofi model pembelajaran kontekstual, yaitu pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas atau sempit dan tidak secara tiba-tiba.Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang sipa untuk diambil dan diingat. Tetapi manusia harus mengkonstruksi pengatahuan itu dan member makna melalui pengalaman nyata. Siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide yaitu siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri. Esensi dari teori kontruktivisme adalah ide bahwa siswa harus menemukan dan mentransformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain, dan apabila dikehendaki informasi ini menjadi milik mereka sendiri. Berdasarkan hal ini, maka pembelajaran harus dikemas menjadi proses mengkonstruksi bukan menerima pengetahuan.
b) Menemukan (Inquiry)
Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan model pembelajaran kontekstual.Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Guru harus selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan, apapun materi yang diajarkannya. Siklus inquiry adalah (1) Observasi (Observation), (2) Bertanya (Questioning), (3) Mengajukan dugaan (Hipothesis), (4) Pengumpulan data (Data gathering), (5) Penyimpulan
29
(Conclusion). Adapun langkah-langkah kegiatan menemukan sendiri adalah : (1) merumuskan masalah, (2) melakukan observasi, (3) menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel, dan karya lainnya, dan (4) mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru atau audien lainnya.
c) Bertanya (Questioning)
Pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang, selalu bermula dari bertanya, karena bertanya merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis kontekstual. Dalam sebuah pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya berguna untuk (1) menggali informasi, baik administrasi maupun akademik, (2) mengecek pemahan siswa, (3) membangkitkan respon kepada siswa, (4) mengetahui sejauh mana keingin tahuan siswa, (5) mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa, (6) memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru, (7) untuk membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa, (8) untuk menyegarkan kembali pengetahuan siswa.
d) Masyarakat Belajar (Learning Community)
Konsep masyarakat belajar menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh melalui sharing antar teman, antar kelompok, dan antar yang tahu kepada yang belum tahu. Di ruang ini, di kelas ini, di sekitar sini, juga orang-orang yang ada di luar sana, semuanya adalah anggota masyarakat belajar.
30 e) Pemodelan (Modeling)
Komponen model pembelajaran selanjutnya adalah pemodelan.Dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bias ditiru. Model itu memberi peluang besar bagi guru untuk memberi contoh cara mengerjakan sesuatu, dengan begitu guru memberi model tentang bagaimana cara belajar. Sebagian guru memberi contoh tentang cara bekerja sesuatu, sebelum siswa melaksanakan tugas, misalnya cara menemukan kata kunci dalam bacaan. Dalam pembelajaran tersebut guru mendemonstrasikan cara menemukan kata kunci dalam bacaan dengan cara menelusuri bacaan secara cepat, dengan memanfaatkan gerak mata (scanning). Secara sederhana, kegiatan ini disebut pemodelan. Guru berperan sebagai model yang bias ditiru dan diamati siswa, sebelum mereka berlatih menemukan kata kunci.
f) Refleksi (Reflection)
Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir tentang apa-apa yang sudah kita lakukan dalam hal belajar di masa yang lalu. Siswa mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan baru, yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas atau pengetahuan yang baru diterima.Pada akhir pelajaran, refleksi dapat dilakukan melalui pernyataan langsung tentang apa-apa yang diperoleh hari itu, catatan atau jurnal di buku siswa, diskusi, kesan, dan saran siswa menganai pembelajaran hari itu. Melalui refleksi, siswa merasa memperoleh sesuatu yang berguna bagi dirinya tentang apa yang baru dipelajarinya, serta berfungsi sebagai umpan balik.
31
g) Penilaian sebenarnya (Authentic Assesment)
Penilaian sebenarnya merupakan proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Apabila data yang dikumpulkan oleh guru mengidentifikasikan bahwa siswa mengetahui keterlambatan dalam belajar, maka guru perlu segera bias mengambil tindakan yang tepat agar siswa terbebas dari permasalahan. Karena gambaran tentang kemajuan belajar itu diperlukan disepanjang proses pembelajaran, maka penilaian tidak dilakukan di akhir periode pembelajaran atau akhir semester, seperti UAN atau UAS, tetapi dilakukan bersama secara terintegrasi dalam kegiatan pembelajaran. Berdasarkan pendekatan kontekstual, sebuah proses pembelajaran seharusnya (Blanchard, 2001) :
a) Menekankan pada pemecahan masalah (berbasis inquri),
b) Menyadari kebutuhan akan pengajaran dan pembelajaran yang terjadi dalam berbagai kontek seperti di rumah, masyarakat dan pekerjaan, c) Mengarahkan siswa agar dapat memonitor dan mengarahkan pembelajaran
mereka sendiri sehingga menjadi pembelajaran mandiri,
d) Mengaitkan pengajaran pada kontek kehidupan siswa yang berbeda-beda, e) Mendorong siswa untuk belajar dari sesame teman dan belajar bersama, f) Menerapkan penilaian autentik.
32 2.1.5 Karakteristik Siswa Kelas II SD
Tingkatan kelas di sekolah dasar dapat dibagi menjadi dua, yaitu kelas rendah dan kelas tinggi. Kelas rendah terdiri dari kelas satu, dua, dan tiga, sedangkan kelas-kelas tinggi terdiri dari kelas empat, lima, dan enam (Supandi, 1992: 44). Di Indonesia, rentang usia siswa SD, yaitu antara 6 atau 7 tahun sampai 12 tahun. Usia siswa pada kelompok kelas rendah, yaitu 6 atau 7 sampai 8 atau 9 tahun. Siswa yang berada pada kelompok ini termasuk dalam rentangan anak usia dini. Masa usia dini ini merupakan masayang pendek tetapi sangat penting bagi kehidupan seseorang. Oleh karena itu, pada masa ini sluruh potensi yang dimiliki anak perlu didorong sehingga akan berkembang secara optimal.
Mendukung pernyataan tersebut, Yusuf dan Sughandi (2001: 59) memaparkan bahwa pada usia SD anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang meliputi aspek fisik-motorik, bahasa, sosial, emosi dan intelektual. Berkaitan dengan hal tersebut, ada beberapa tugas perkembangan siswa Sekolah Dasar (Makmun, 1995:68), diantaranya: (a) mengembangkan konsep-konsep yang perlu bagi kehidupan sehari-hari; (b) mengembangkan kata hati,moralitas, dan suatu skala, nilai-nilai; (c) mencapai kebebasan pribadi; (d) mengembangkan sikap-sikap terhadapkelompok-kelompok dan institusi-institusi sosial. Keterampilan yang dicapai diantaranya, yaitu social-help, skills dan play skill.
Social-help skills berguna untuk membantu orang lain di rumah, di sekolah, dan di tempat bermain seperti membersihkan halaman dan merapikan meja kursi. Keterampilan ini akan menambah perasaan harga diri dan
33
menjadikannya sebagai anak yang berguna, sehingga anak suka bekerja sama (bersifat kooperatif). Dengan keterampilan ini pula, anak telah dapat menunjukkan keakuannya tentang jenis kelamin, mulai berkompetisi dengan teman sebaya, mempunyai sahabat, mampu berbagi, dan mandiri.Sementara itu, play skill terkait dengan kemampuan motorik seperti melempar, menangkap, berlari, keseimbangan.Anak yang terampil dapat membuat penyesuaian-penyesuaian yang lebih baik di sekolah dan di masyarakat. Anak telah dapat melompat dengan kaki secara bergantian, dapat mengendarai sepeda roda dua, dapat menangkap bola dan telah berkembang koordinasitangan dan mata untuk dapat memegang pensil maupun memegang gunting(Soesilowindradini, 2004:116-119).
Usia kelas dua berada dalam tahap operasional konkret Piaget (dalam Suparno, 2001: 69-86). Piaget menjelaskan bahwa tahap ini dicirikan dengan adanya perkembangan sistem pemikiran yang didasarkan pada aturan-aturan tertentu yang logis dan anak sudah mulai mengerti proses transformasi (perubahan), sehingga anak mulai mampu dalam menalar suatu hal. Piaget meyakini bahwa perkembangan kognitif seseorang terjadi dalamempat tahapan, yakni sensorimotor, pra-operasional,operasi konkret dan operasi formal. Tiap-tiap tahap berkaitan dengan usia dan tersusun dari jalan pikiran yang berbeda-beda. Menurut Piaget semakin banyak informasi tidak membuat pikiran anak lebihmaju.Kualitas kemajuannya berbeda-beda.Sedangkan karakteristik siswa kelas II itu sendiri antara lain senang bermain, senang bergerak, senang bekerja dalam kelompok, senang merasakan atau melakukan sesuatu secara langsung.
34