BAB III. METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
Pendekatan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dalam bahasa Inggris diartikan Classroom Action Research (CAR) yaitu penelitian yang dilakukan oleh guru di kelas atau di sekolah tempat mengajar, dengan penekanan pada penyempurnaan atau peningkatan praktik dan proses dalam pembelajaran (Susilo, 2007: 16). Penelitian dilaksanakan di kelas III Tunagrahita SLB ABCD Tunas Pembangunan I Nogosari Boyolali pada pembelajaran mata pelajaran Bahasa Indonesia pada semester II tahun pelajaran 2011/2012, dengan alasan bahwa hasil belajar memahami isi bacaan siswa kelas III masih rendah.
2. Jadwal Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dirancang selama empat bulan dengan rincian kegiatan sebagai berikut:
commit to user B. Subjek Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini subyek penelitian adalah siswa tunagrahita kelas III SLB ABCD Tunas Pembangunan I Nogosari Kabupaten Boyolali berjumlah 4 siswa terdiri dari 3 siswa laki-laki dan 1 perempuan.
Tabel 2. Daftar Siswa Tunagrahita Kelas III SLB ABCD Tunas Pembangunan I Nogosari sebagai Subyek Penelitian.
Data diperoleh dari dokumentasi, tes, dan observasi. Sumber data penelitian tindakan kelas ini berasal dari siswa tunagrahita kelas III SLB ABCD Tunas Pembangunan I Nogosari Boyolali sebagai subjek penelitian. Data yang berupa nilai kemampuan memahami isi membaca dalam bentuk angka diperoleh dengan menggunakan tes setelah dalam proses pembelajaran menerapkan pembelajaran membaca cerdas.
D. Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan hal yang sangat penting dan harus diperhatikan oleh peneliti dalam melaksanakan penelitian, karena hal ini merupakan sesuatu yang paling mendasar guna keberhasilan suatu penelitian dapat tercapai. Penelitian, di samping perlu menggunakan metode yang tepat, juga perlu memilih teknik dan alat pengumpulan data yang relevan. Penggunaan teknik dan alat pengumpul data yang tepat memungkinkan diperolehnya data yang objektif. Di bawah ini akan diuraikan teknik penelitian yang digunakan dalam penelitian sebagai cara yang ditempuh untuk mengumpulkan data yang dilakukan secara terencana dan sistematis untuk pemecahan masalah.
commit to user
Berorientasi pada judul penelitian maka metode yang akan digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini dengan metode dokumentasi, tes, dan observasi.
1. Dokumentasi a. Pengertian Dokumentasi
Dokumentasi memiliki beberapa pengertian yang berbeda antara satu dengan yang lain, yang pada dasarnya memiliki prinsip yang sama. Dari beberapa literatur diperoleh penjelasan sebagai berikut:
Menurut Suharsimi Arikunto (2006: 200) “dokumentasi yaitu data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, notulen, legger, agenda, dsb”. Menurut Margono (2009: 161), “dokumentasi adalah cara pengumpulan data melalui peninggalan tertulis seperti arsip-arsip dan termasuk juga buku-buku pentang pendapat, teori, dalil, atau hukum-hukum dan lain-lain yang berhubungan dengan masalah penelitian.”
Berdasarkan kedua pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa dokumentasi adalah cara pengumpulan data mengenai hal-hal atau variabel melalui peninggalan tertulis seperti arsip-arsip dan termasuk juga buku-buku tentang pendapat, teori, dalil, catatan, notuler, legger, agenda, atau hukum-hukum dan lain-lain yang berhubungan dengan masalah penelitian
b. Dokumentasi yang digunakan
Dalam penelitian ini, metode dokumentasi digunakan untuk memperoleh data tentang kemampuan awal memahami isi bacaan yang diambil dari nilai ulangan siswa tunagrahita kelas III SLB ABCD Tunas Pembangunan I Nogosari yang berupa nilai.
2. Tes a) Pengertian Tes
Data kemampuan memahami isi bacaan diperlukan tes, agar peneliti dapat pengetahui kemampuan memahami bacaan yang diperoleh siswa pada siklus I dan siklus II setelah dalam pembelajaran melalui pembelajaran membaca cerdas.
commit to user
“Tes adalah sekumpulan pertanyaan yang harus dijawab dan/atau tugas yang harus dikerjakan” (Saifuddin Azwar, 2001: 2). Menurut Suharsimi Arikunto (2006:138) tes adalah “Serentetan pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki individu atau kelompok”.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tes adalah suatu alat yang dipergunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat, berujud pertanyaan yang harus dijawab oleh siswa baik secara individu atau kelompok.
b) Macam-macam Tes
Tes terdiri dari bermacam-macam. Macam-macam tes antara lain sebagai berikut: 1) Tes benar salah, 2) Tes pilihan ganda, 3) Tes menjodohkan, 4) Tes isian atau melengkapi, 5) Tes jawaban singkat (Suharsimi Arikunto, 2006:139).
c) Tes yang Digunakan
Materi tes kemampuan memahami isi bacaan meliputi: kemampuan siswa dalam menyebutkan beberapa kata sesuai dengan soal tes yang diberikan guru yang diperoleh dari bahan bacaan dalam pembelajaran bahasa Indonesia.
Kemampuan memahami isi bacaan membaca siswa diukur melalui tes.
Setelah dilaksanakan tindakan, siswa dites dengan menggunakan soal isian yang menitikberatkan pada segi penerapan pada akhir pembelajaran setiap siklus.
3. Observasi a. Pengertian Observasi
Observasi memiliki beberapa pengertian yang berbeda antara satu dengan yang lain, yang pada dasarnya memiliki prinsip yang sama. Dari beberapa literatur diperoleh penjelasan sebagai berikut:
“Metode observasi adalah metode pengumpulan data dengan pengamatan secara langsung mengenal fenomena-fenomena dan gejala psikis maupun psikologi dengan pencatatan. Format yang disusun berisi item-item
commit to user
tentang kejadian atau tingkah laku yang digambarkan akan terjadi” (Suharsimi Arikunto, 2006: 229). Menurut Supardi (2008: 127), “observasi adalah kegiatan pengamatan (pengambilan data) untuk memotret seberapa jauh efek tindakan telah mencapai sasaran.”
Kedua pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa observasi adalah kegiatan pengamatan (pengambilan data) secara langsung mengenal fenomena-fenomena dan gejala psikis maupun psikologi dengan pencatatan untuk memotret seberapa jauh efek tindakan telah mencapai sasaran.
b. Macam-macam Observasi
Observasi ini dilakukan untuk mengamati secara langsung proses dan dampak pembelajaran yang diperlukan untuk menata langkah-langkah perbaikan agar lebih efektif dan efisien. Dalam melakukan observasi proses, menurut Retno Winarni (2009: 84-85) ada 4 metode observasi yaitu: a) observasi terbuka, b) observasi terfokus, c) observasi terstruktur, dan d) observasi sistematik.
1) Observasi Terbuka
Pengamat tidak menggunakan lembar observasi, melainkan hanya menggunakan kertas kosong merekam pelajaran yang diamati.
2) Observasi Terfokus
Ditujukan untuk mengamati aspek-aspek tertentu dari pembelajaran.
Misalnya: yang diamati kesempatan bagi siswa untuk berpartisipasi.
3) Observasi Terstruktur
Observasi menggunakan instrumen yang terstruktur dan siap pakai, sehingga pengamat hanya tinggal membubuhkan tanda (√) pada tempat yang disediakan.
4) Observasi Sistematik
Observasi sistematik lebih rinci dalam kategori yang diamati. Misalnya dalam pemberian penguatan, data dikategorikan menjadi penguatan verbal dan nonverbal.
commit to user c. Observasi yang Digunakan
Dalam penelitian in digunakan observasi terstruktur, dimana observasi menggunakan instrumen yang terstruktur dan siap pakai, sehingga pengamat hanya tinggal membubuhkan tanda () pada tempat yang disediakan pada lembar pengamatan aktivitas guru dan aktivitas siswa dalam pembelajaran memahami isi bacaan melalui pembelajaran membaca cerdas. Alasan digunakan observasi terstruktur adalah untuk mempermudah observer melakukan pengamatan dan observasi tertruktur sesuai dengan masalah yang diteliti.
E. Uji Validitas Data
Teknik yang digunakan untuk memeriksa validitas data antara lain adalah triangulasi. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan validitas data dengan memanfaatkan sarana di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau pembandingan data itu (Moelong dalam Sarwiji Suwandi, 2008: 69).
Validitas data yang digunakan antara lain dengan triangulasi sumber data dan triangulasi metode pengumpulan data. Dalam penelitian ini teknik triangulasi untuk mengetahui kemampuan memahami isi membaca dan faktor penyebabnya.
Untuk itu peneliti membandingkan data dari hasil penelitian. Triangulasi data dilakukan dengan cara :
1. Cross checking, peneliti melakukan pengecekan (checking) antara hasil metode pengumpulan data yang diperoleh melalui tes, observasi dan dokumentasi dengan memadukan hasil ketiganya. Dalam hal ini bertujuan memperoleh informasi yang benar dan meyakinkan.
2. Cek ricek, yaitu pengulangan kembali data yang diperoleh melalui berbagai sumber data, waktu, maupun metode dan informasi serta tempat memperoleh data (setting).
Berdasarkan dengan hal tersebut di atas maka dapat dirumuskan langkah-langkah yang dilakukan peneliti untuk memperoleh data yang terpercaya melalui:
1. Pengamatan secara terus menerus. Kegiatan ini dimaksudkan bahwa peneliti berusaha untuk selalu mengamati melalui pembelajaran membaca cerdas
commit to user
dalam meningkatkan kemampuan memahami isi bacaan siswa tunagrahita sedang kelas III semester II di SLB ABCD Tunas Pembangunan I Nogosari tahun pelajaran 2011/2012. Dengan demikian, peneliti dapat memperhatikan segala kegiatan yang terjadi dengan lebih cermat, aktual, terinci dan mendalam. Di samping itu, peneliti mengumpulkan hal-hal yang bermakna untuk lebih memahami gejala yang terjadi. Pengamatan secara terus-menerus ini dilakukan selain untuk menemukan hal-hal yang konsisten, juga dilakukan sebagai upaya untuk memenuhi kriteria reliabilitas data yang diperoleh.
2. Trianggulasi data. Teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data yang diperoleh melalui pengamatan, untuk mencari atau memperoleh standar kepercayaan data yang diperoleh dengan jalan melakukan pengecekan data, cek ulang dan cek silang pada dua atau lebih informasi. Setelah mengadakan pengamatan, peneliti mengadakan penelitian kembali, mencocokkan data yang diberikan oleh informan satu dengan informan yang lainnya. Peneliti meminta kembali penjelasan, atau informasi baru dari informan yang sama dan pertanyaan yang sama tetapi dengan waktu dan situasi yang berbeda.
Adapun validitas instrumen dalam penelitian ini menggunakan content validity yaitu validitas isi.
Validitas isi menunjukkan sejauh mana item-item dalam tes mencakup keseluruhan kawasan isi yang hendak diukur oleh tes itu. Pengertian mencakup keseluruhan kawasan isi tidak saja berarti tes itu harus komprehensif akan tetapi isinya harus pula tetap relevan dan tidak keluar dari batasan tujuan pengukuran (Saifuddin Azwar, 2001: 175).
Pengujian validitasi isi tidak melalui analisis statistik tetapi menggunakan analisis rasional. Salah satu cara yang praktis untuk melihat apakah validitas isi telah terpenuhi adalah dengan melihat apakah item-item dalam tes telah ditulis sesuai dengan blue-printnya yaitu telah sesuai dengan batasan domain ukur yang telah ditetapkan semula dan memeriksa apakah masing-masing item
commit to user
telah sesuai dengan indikator perilaku yang hendak diungkapnya. Uji validitas dalam penelitian disusun kisi-kisi soal.
F. Analisis Data
Analisis hasil pembelajaran meliputi hasil penelitian dari tes yang diperoleh pada penelitian tindakan kelas. Data berupa hasil tes kemampuan memahami isi membaca berupa skor tingkat kemampuan siswa dalam memahami isi membaca. Data berupa hasil tes klasifikasikan sebagai data kuantitatif. Data tersebut dianalisis secara diskriptif komparatif, yang dianalisis adalah hasil nilai tes siswa pra siklus dibandingkan dengan siklus I dan II setelah menerapkan pembelajaran membaca cerdas sehingga hasilnya dapat mencapai batas keberhasilan yang ditetapkan.
G. Indikator Kinerja Penelitian
Indikator pencapaian dalam penelitian ini adalah apabila kemampuan memahami isi bacaan siswa mendapat nilai 60 atau lebih sebagai batas tuntas pembelajaran memahami isi membaca. Penetapan indikator pencapaian ini disesuaikan dengan kondisi sekolah, seperti batas minimal nilai yang dicapai dan ketuntasan belajar tergantung pada guru kelas yang secara empiris tahu betul keadaan murid-murid di kelasnya (sesuai dengan KTSP ).
H. Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian tindakan kelas ini terdiri dari 2 siklus. Tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang ingin dicapai, seperti yang telah didesain dalam variabel yang diteliti. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan model yang dilakukan oleh Kemmis dan Mc Taggart yang merupakan pengembangan dari model Kurt Lewin. Suharsimi Arikunto (2007: 16) mengemukakan model yang didasarkan atas konsep pokok bahwa penelitian tindakan terdiri dari empat komponen pokok yang juga menunjukkan langkah, yaitu:
commit to user 1. Perencanaan atau planning
Menggambarkan secara rinci hal-hal yang perlu dilakukan sebelum pelaksanaan tindakan (penyiapan perangkat pembelajaran, skenario pembelajaran membaca cerdas, observasi, dan evaluasi) yang dapat dirinci sebagai berikut:
a. Merencanakan pembelajaran membaca cerdas b. Menentukan pokok bahasan.
c. Mengembangkan skenario pembelajaran.
d. Menyiapkan sumber belajar.
e. Mengembangkan faktor evaluasi.
f. Mengembangkan faktor observasi.
2. Tindakan atau acting
Berisi uraian tahapan-tahapn tindakan yang akan dilakukan oleh peneliti maupun siswa dalam pembelajaran. Menerapkan tindakan mengacu pada skenario pembelajaran, meliputi:
1. Kegiatan Awal
a. Menyampaikan tujuan dan motivasi siswa.
b. Guru mengajak siswa berdoa sesuai dengan keyakinan masing-masing.
c. Guru menginformasikan tujuan pembelajaran.
2. Kegiatan Inti a. Eksplorasi b. Elaborasi c. Konfirmasi 3. Kegiatan Penutup 3. Pengamatan atau observing
Dilakukan dengan mengamati proses pembelajaran (aktivitas guru dan siswa). Observasi diarahkan pada poin-poin dalam pedoman yang telah disiapkan peneliti, sebagai berikut:
a. Pengamatan aktivitas guru, meliputi:
1) Menyiapkan RPP
2) Menyediakan materi dan sumber belajar
commit to user 3) Pengolahan waktu dan penguasaan materi 4) Menanggapi usulan siswa
5) Membuat kesimpulan 6) Melaksanakan evaluasi
b. Pengamatan aktivitas siswa, meliputi:
1) Memperhatikan penjelasan guru 2) Membeca suku kata dan kata 3) Bertanya pada guru
4) Membaca dengan lesan 5) Mengerjakan LKS 4. Refleksi atau reflecting
Dilakukan dengan cara menganalisis hasil pekerjaan siswa dan hasil observasi. Berdasarkan hasil analisis akan diperoleh kesimpulan bagian fase mana yang perlu diperbaiki atau disempurnakan dan fase mana yang telah memenuhi target. Kualitas proses pembelajaran dinyatakan mengalami perbaikan apabila capaian pada indikator keberhasilan yang telah ditetapkan sesuai target atau bahkan melebihnya.
Model Kurt Lewin yang terdiri dari empat komponen tersebut kemudian dikembangkan oleh Kemmis dan Mc Taggart. Kedua ahli ini memandang komponen sebagai langkah dalam siklus, sehingga mereka menyatukan dua komponen yang kedua dan ketiga, yaitu tindakan dan pengamatan sebagai suatu kesatuan. Hasil dari pengamatan ini kemudian dijadikan dasar sebagai langkah berikutnya, yaitu refleksi kemudian disusun sebuah modifikasi yang diaktualisasikan dalam bentuk rangkaian tindakan dan pengamatan lagi, begitu seharusnya.
Langkah-langkah tindakan kelas tersebut di atas dapat diilustrasikan dalam bagan 2 berikut:
commit to user
Bagan 2. Alur Penelitian Tindakan Kelas (Suharsimi Arikunto, 2007: 16)
Perencanaan
Refleksi SIKLUS I Pelaksanaan
Pengamatan
Perencanaan
Refleksi SIKLUS II Pelaksanaan
Pengamatan
?
commit to user BAB IV
HASIL TINDAKAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Pratindakan
Pembelajaran bahasa Indonesia materi meningkatkan kemampuan memahami isi bacaan anak tunagrahita sedang kelas III SLB ABCD Tunas Pembangunan I Nogosari pada kondisi awal dikemas oleh guru dengan alokasi waktu 2 x 30 menit. Guru mengawali pembelajaran dengan mengkondisikan kelas, mengabsen terlebih dan melaksanakan apersepsi guna menggali pengetahuan awal siswa. Guru menyampaikan materi pembelajaran dengan metode ceramah yang yang biasa digunakan guru. Pada akhir pembelajaran, guru memberikan tugas kepada siswa untuk membaca materi yang berkaitan dengan kemampuan memahami isi bacaan. Pembelajaran diakhiri tanpa diberikan penguatan atau umpan balik dari proses pembelajaran yang telah dilaksanakan.
Berdasarkan pelaksanaan pembelajaran memahami isi bacaan sebelum melalui membaca cerdas pada kondisi awal, berikut ini dapat disajikan kemampuan memahami isi bacaan yang diperoleh siswa.
Tabel 3. Kemampuan Memahami Isi Bacaan Siswa Tunagrahita Kelas III SLB ABCD Tunas Pembangunan I Nogosari Boyolali pada Kondisi Awal.
No. Urut Nama Subyek Nilai Keterangan*)
1 AS 60 Sudah tuntas
Ketuntasan Klasikal 25 % Belum tuntas
*) Batas tuntas (KKM) = 60
Sumber data: Lampiran 6 halaman 72.
Kemampuan memahami isi bacaan siswa tunagrahita kelas III SLB ABCD Tunas Pembangunan I Nogosari Boyolali pada kondisi awal dapat digambarkan dalam bentuk grafik sebagai berikut:
37
commit to user
0 10 20 30 40 50 60 70
AS M K AD NF
Kemampuan Awal
Grafik 1. Kemampuan Memahami Isi Bacaan pada Kondisi Awal.
Nilai siswa yang disajikan pada tabel di atas menunjukkan sebanyak 3 siswa memperoleh nilai di bawah 60 dan hanya 1 siswa yang mendapat nilai 60, nilai rata-rata 50,00 dan ketuntasan klasikal mencapai 25%. Data ini menunjukkan bahwa pembelajaran memahami isi bacaan bagi anak tunagrahita kelas III SLB ABCD Tunas Pembangunan I Nogosari Boyolali belum memenuhi batas tuntas yang ditetapkan. Dengan demikian, pada kondisi awal ini pembelajaran memahami isi bacaan dapat dikatakan belum mencapai tujuan yang diharapkan.
Berdasarkan kemampuan memahami isi bacaan yang masih rendah, maka guru berusaha melakukan inovasi pembelajaran agar kemampuan memahami isi bacaan dapat ditingkatkan. Inisiatif yang diambil guru serta didukung oleh kepala sekolah dan dibantu teman guru kolaborasi, dilakukan inovasi pembelajaran melalui pembelajaran membaca cerdas dengan tujuan meningkatkan aktivitas belajar dan kemampuan memahami isi bacaan bagi siswa tunagrahita sedang, serta aktivitas guru dalam melaksanakan pembelajaran bahasa Indonesia.
B. Deskripsi Hasil Tindakan Tiap Siklus 1. Pelaksanaan Tindakan Siklus I a. Perencanaan
Perencanaan penelitian tindakan kelas pada siklus I meliputi kegiatan-kegiatan:
commit to user
1) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Dalam rangka implementasi tindakan perbaikan, pembelajaran bahasa Indonesia siklus I ini dirancang dengan dua kali pertemuan. Alokasi waktu pertemuan adalah 2 x 30 menit setiap pertemuan. RPP mencakup ketentuan: standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, kemampuan awal, tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, metode pembelajaran, langkah-langkah kegiatan, sumber belajar, dan evaluasi. (Lampiran 4 halaman 61).
2) Mempersiapkan Fasilitas dan Sarana Pendukung
Fasilitas yang perlu dipersiapkan untuk pelaksanaan pembelajaran adalah: (1) Ruang kelas. Ruang kelas yang digunakan adalah kelas yang biasa digunakan setiap hari. Kelas tidak didesain secara khusus, untuk pelaksanaan pembelajaran, kursi diatur sedemikian rupa (membentuk lingkaran) sehingga guru dapat melaksanakan inovasi pembelajaran melalui pembelajaran membaca cerdas dengan baik; (2) Mempersiapkan bahan bacaan sesuai dengan materi pembelajaran.
3) Menyiapkan Lembar Observasi
Lembar observasi digunakan untuk mencatat segala aktivitas selama pelaksanaan pembelajaran berisi daftar isian mencakup kegiatan siswa dan juga kegiatan guru. Lembar pengamatan yang digunakan untuk siswa meliputi bagaimana aktivitas siswa dalam pembelajaran yang meliputi: memperhatikan penjelasan guru, membaca suku kata dan kata, pertanyaan pada guru, untuk kerja di depan kelas, dan mengerjakan LKS.
Lembar pengamatan yang digunakan untuk guru meliputi bagaimana guru mengajar, yang meliputi: menyiapkan RPP, pengkondisian kelas, menyediakan materi dan sumber belajar, melakukan informasi pendahuluan, pengolahan waktu dan penguasaan materi, menanggapi usulan siswa, membuat kesimpulan, dan melaksanakan evaluasi.
b. Pelaksanaan Tindakan 1) Kegiatan Awal (10 menit)
a. Menyampaikan tujuan dan motivasi siswa.
b. Guru mengajak siswa berdoa sesuai dengan keyakinan masing-masing.
c. Guru menginformasikan tujuan pembelajaran.
commit to user 2) Kegiatan Inti (40 menit)
a. Eksplorasi
(1) Dengan bantuan guru siswa menyebutkan benda di sekitar kelas.
(2) Siswa menyebutkan benda yang ada di sekitar kelas.
(3) Dengan bantuan guru, siswa menyebutkan bagian-bagian anggota meja, kursi, gitar.
(4) Dengan bantuan guru, siswa menyebutkan kegunaan bagian-bagian anggota meja, kursi, dan gitar.
b. Elaborasi
(1) Siswa menyebutkan benda di sekitar kelas.
(2) Siswa menyebutkan bagian-bagian anggota meja, kursi, gitar.
(3) Siswa menyebutkan kegunaan bagian anggota meja, kursi, dan gitar.
c. Konfirmasi
(1) Guru menanyakan kembali tentang benda yang ada di sekitar kelas.
(2) Guru menanyakan kepada siswa tentang bagian-bagian anggota meja, kursi, maupun gitar.
(3) Guru menanyakan kepada siswa tentang kegunaan bagian-bagian anggota meja, kursi, maupun gitar.
3) Kegiatan Penutup (10 menit)
a. Guru menyarankan siswa supaya belajar dengan rajin.
b. Guru mengajak semua siswa berdoa mengakhiri pelajaran.
Kemampuan memahami isi bacaan melalui pembelajaran membaca cerdas pada Siklus I disajikan dalam tabel berikut:
Tabel 4. Kemampuan Memahami Isi Bacaan Siswa Tunagrahita Kelas III SLB ABCD Tunas Pembangunan I Nogosari Boyolali pada Siklus I.
No. Urut Nama Subyek Nilai Keterangan*)
1 AS 70 Sudah tuntas
Ketuntasan Klasikal 75 % Belum tuntas
*) Batas tuntas (KKM) = 60
Sumber data: Lampiran 7 halaman 73.
commit to user
Kemampuan memahami isi bacaan pada siklus I dapat digambarkan dalam bentuk grafik sebagai berikut:
0 20 40 60 80
AS MK AD NF
Nilai Siswa
Grafik 2. Kemampuan Memahami Isi Bacaan pada Siklus I.
c. Pengamatan
Hasil observasi terhadap pelaksanaan tindakan dapat dideskripsikan bahwa siswa belum dapat memanfaatkan waktu dengan baik. Hal ini terlihat pada saat guru memberikan penjelasan melalui pembelajaran membaca cerdas, tidak semua siswa memperhatikan, masih terdapat siswa yang kurang memperhatikan pembelajaran dari guru, ada pandangan siswa yang diarahkan ke luar kelas dan memikirkan yang lain, bahkan masih ada siswa yang kurang paham terhadap pembelajaran membaca cerdas yang ditunjukkan guru tentang teknik mempelajari kemampuan memahami isi bacaan. Hal ini terjadi karena siswa tidak memikirkan betapa terbatasnya alokasi waktu yang tersedia sehingga mereka kurang bisa memanfaatkan waktu yang baik.
Pada saat melakukan pengamatan, masih terlihat kekurangsiapan pada diri siswa. Masih ada di antara mereka yang hanya sekedar membaca sepintas materi bacaan pada saat guru memberikan pelajaran melalui pembelajaran membaca cerdas, siswa tanpa banyak melakukan aktivitas membaca untuk memahami isi bacaan. Mereka tidak memperhatikan apa yang disampaikan guru dalam pembelajaran kemampuan memahami isi bacaan melalui pembelajaran membaca cerdas.
commit to user
Pada saat mendengarkan penjelasan dari guru, siswa belum melakukannya dengan segera teknik pembelajaran membaca cerdas yang praktis sehingga waktu kurang efektif. Siswa juga masih pasif dalam bertanya, belum banyak memberikan komentar terhadap materi yang dibahas. Hal ini disebabkan karena siswa belum terbiasa melakukan tanya jawab dalam diskusi kelas. Siswa belum biasa mengeluarkan pendapat di hadapan teman-temannya.
Hasil lembar pengamatan aktivitas guru (lampiran 9 hal. 75) masih rendah, karena aktivitas guru mengajar materi memahami isi bacaan melalui pembelajaran cerdas penguasaan guru baru mencapai 70,00%, sehingga pada siklus berikutnya diharapkan ada peningkatan aktivitas guru, yaitu dengan melakukan perbaikan terhadap aktivitas yang masih kurang, yaitu dengan melakukan pembenahan terhadap aktivitas yang masih rendah.
Hasil lembar pengamatan aktivitas siswa (lampiran 11 halaman 77)
Hasil lembar pengamatan aktivitas siswa (lampiran 11 halaman 77)